Indonesia
NovelToon NovelToon

Balas Dendam Pengantin Pengganti

Bab 1

Malam itu, rumah besar keluarga Pradipta terasa lebih dingin dari biasanya.

Langkah kaki berat menggema di sepanjang tangga marmer saat Arga menyeret Yura turun dari lantai dua. Tangannya mencengkeram pergelangan Yura begitu kuat hingga rasa perih menjalar sampai ke tulang. Tubuh Yura terhuyung, kakinya terseret di anak tangga, beberapa kali lututnya membentur sudut keras tanpa sempat menahan diri.

“Mas … tolong…” Suara Yura pecah, lirih, hampir tak berbentuk kata. Namun, Arga tak melambatkan langkahnya.

Empat tahun Yura hidup di rumah ini sebagai seorang istri yang tak pernah benar-benar diakui. Dia mengenakan status istri sah, tetapi tak pernah diperlakukan seperti manusia. Tatapan Arga padanya selalu sama, dingin, sinis, seolah keberadaannya adalah noda yang tak bisa dihapus.

“Kak, hentikan!” suara Sheli terdengar panik dari lantai atas. Gadis itu berlari menuruni tangga, wajahnya pucat melihat pemandangan di depannya. “Kak, jangan seperti ini. Kak Yura—”

“Kau diam, Sheli!” bentak Arga tanpa menoleh.

Sheli terhenti di anak tangga terakhir. Matanya berkaca-kaca melihat tubuh Yura yang nyaris terjatuh, rambutnya berantakan, napasnya tersengal. Namun, ia tak berani mendekat. Amarah kakaknya malam itu terlalu mengerikan.

Setibanya di lantai dasar, Arga menghempaskan Yura ke lantai begitu saja. Punggung Yura membentur dingin marmer, membuat dadanya sesak. Dia terbatuk pelan, tangannya bergetar menopang tubuhnya sendiri.

“A-aku minta maaf…” ucap Yura terbata, berusaha bangkit.

“Aku benar-benar tidak sengaja…”

Permohonan itu lenyap di udara. Arga berdiri di hadapannya, napasnya memburu, rahangnya mengeras. Di tangannya, tali pinggang telah dilepas, kulit hitam itu melingkar seperti ancaman.

“Kau tahu apa yang kau lakukan?” suara Arga rendah, bergetar oleh amarah yang ditahan. “Kau tahu apa yang kau hancurkan?”

Yura menggeleng lemah, air mata mulai menggenang. Cambukan pertama menghantam punggungnya. Yura menjerit, tubuhnya refleks melengkung menahan sakit. Rasa panas menjalar cepat, menusuk hingga ke tulang.

Cambukan berikutnya datang tanpa jeda. Yura terjatuh kembali ke lantai, tangannya mencengkeram ujung gaun, tubuhnya gemetar hebat.

“Itu bingkisan dari Shasmita!” Arga berteriak. “Wanita yang seharusnya ada di posisimu!”

Setiap kata terasa lebih menyakitkan daripada cambukan itu sendiri.

“Hidupmu bahkan tidak sebanding dengan satu benda darinya!” lanjut Arga kejam. “Kalau bingkisan itu hancur, maka kau pantas menerima hukuman yang setimpal!”

Yura menangis, bukan meraung, melainkan terisak pelan, tangis seorang wanita yang sudah terlalu lama memendam luka. Dia mengangkat wajahnya, menatap Arga dengan mata basah, tatapan penuh permohonan terakhir.

Namun, pria itu tetap tak luluh, tak ada empati dan tak ada rasa bersalah. Arga kembali menarik lengan Yura dan menyeretnya keluar rumah. Pintu terbuka, dan seketika hujan turun deras seolah langit ikut menumpahkan amarahnya.

“Berlutut di sini,” perintah Arga dingin.

Yura menggeleng pelan. Tubuhnya sudah hampir runtuh, napasnya tersengal menahan perih.

“Mas … aku mohon…”

“Hukumanmu belum selesai.”

Akhirnya, Yura berjongkok di depan teras. Hujan mengguyur tubuhnya tanpa ampun, membasahi rambut, wajah, dan luka-luka di punggungnya. Setiap tetes air terasa seperti pisau kecil yang mengiris kulitnya.

Pintu tertutup dengan bantingan keras. Suara itu memutus sisa harapan Yura. Ia menunduk, bahunya bergetar hebat. Tangisnya larut bersama hujan, seolah dunia memang tak pernah berniat memberinya keadilan. Tubuhnya sakit, hatinya lebih hancur.

Namun, perlahan, di balik isak itu, sesuatu berubah. Yura mengangkat wajahnya. Air hujan bercampur air mata mengalir di pipinya, tetapi sorot matanya tak lagi sama. Kesedihan perlahan tergantikan oleh sesuatu yang lebih dingin. Kedua tangannya terkepal kuat hingga kuku menancap ke telapak.

'Aku harus bertahan,' batinnya berbisik.

'Beberapa bulan lagi, demi uang itu, demi ayah.' Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan hujan membasuh wajahnya.

'Setelah hari itu tiba ... aku akan membuatmu menyesal, Mas Arga.'

Hujan baru berhenti menjelang fajar. Sepanjang malam itu, Yura tak sekali pun diizinkan masuk ke dalam rumah. Ia tetap berjongkok di depan teras, tubuhnya menggigil, pakaian menempel dingin di kulit. Beberapa kali ia mencoba berdiri, namun rasa perih di punggung dan lututnya memaksanya kembali terjatuh.

Ia tak berani melanggar. Empat tahun hidup bersama Arga telah mengajarkannya satu aturan paling kejam, ia hanya boleh bergerak jika diperintahkan.

Langit mulai memucat ketika tubuh Yura akhirnya menyerah. Kepalanya bersandar lemah ke pilar teras, matanya terpejam perlahan. Napasnya tersengal, bibirnya membiru. Ia tertidur dalam kondisi setengah sadar, menggigil hebat.

Pagi itu, Sheli terbangun dengan perasaan gelisah yang tak bisa ia jelaskan. Ada sesuatu yang terasa salah. Tanpa sempat berganti pakaian, ia melangkah cepat menuruni tangga menuju lantai dasar.

Langkahnya terhenti di ambang pintu.

“Kak … Yura…” gumamnya pelan.

Tubuh Yura terkulai di depan teras. Rambutnya basah, wajahnya pucat, dan bibirnya bergetar halus. Sheli berlari mendekat dan berjongkok di hadapannya, tangannya menyentuh bahu kakak iparnya itu.

“Dingin sekali…” bisiknya panik.

Sheli menggigit bibir, menahan emosi yang berkecamuk di dadanya. Ia tahu persis penyebab semua ini. Namun, ia juga tahu sekeras apa pun ia membela Yura, kakaknya tak akan mendengar.

“Bibi!” Sheli memanggil salah satu pelayan dengan suara bergetar. “Tolong, bantu aku. Kita bawa Kak Yura ke kamar.”

Para pelayan saling pandang, ragu. Mereka menunggu perintah Arga seperti biasa.

“Aku yang bertanggung jawab,” tegas Sheli. “Sekarang.”

Akhirnya, mereka bergerak. Dengan hati-hati, tubuh Yura diangkat dan dibawa masuk. Sheli mengikuti di belakang, dadanya terasa sesak melihat luka-luka samar di punggung dan lengan Yura yang tak tertutup sempurna.

Setibanya, di kamar, Sheli menyelimuti Yura dan segera menghubungi dokter keluarga. Setelah itu, ia berdiri sejenak di depan ranjang, menatap wajah pucat kakak iparnya yang terlelap.

“Maafkan aku,” bisiknya lirih. “Aku tak bisa melindungimu.”

Sheli menghela napas panjang sebelum akhirnya melangkah keluar kamar. Ada satu orang yang harus ia hadapi dan itu bukanlah hal yang mudah.

Arga sudah berada di ruang kerjanya sejak pagi. Ia berdiri di depan jendela besar, jasnya rapi, ekspresinya dingin seperti biasa. Seolah kejadian semalam tak pernah terjadi.

Pintu diketuk pelan.

“Apa lagi, Sheli?” suara Arga terdengar datar tanpa menoleh.

Sheli masuk dan menutup pintu di belakangnya. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras menahan emosi.

“Kak Yura sakit,” ucapnya langsung. “Dia menggigil hebat. Aku sudah memanggil dokter.”

Arga akhirnya menoleh, tatapannya kosong, nyaris tak tertarik.

“Aku tak ingin membahas dia,” katanya singkat. “Apa yang ia terima sudah pantas.”

Sheli terdiam beberapa detik, lalu suaranya meninggi tanpa ia sadari.

“Pantas menurut siapa, Kak? Menurutmu?”

Arga mengernyit. “Jaga ucapanmu.”

“Kau tahu, selama empat tahun ini aku diam,” lanjut Sheli dengan mata berkaca-kaca. “Tapi sampai kapan? Kalau kau tak pernah mencintainya, untuk apa kau menikah?”

Kalimat itu menghantam Arga seperti tamparan.

“Apa katamu?” suaranya berubah tajam.

“Aku bertanya,” Sheli menahan gemetar. “Kalau Kakak tak pernah menganggap Kak Yura istri, kenapa kau menghancurkan hidupnya seperti ini?”

“Cukup!” Arga membentak, membuat Sheli tersentak. “Kau tak tahu apa-apa tentang urusanku.”

“Justru aku tahu,” balas Sheli, kali ini dengan berani. “Kau menikah hanya karena wajahnya mirip Shasmita. Dan sekarang kau menyiksanya karena ia bukan wanita itu.”

Wajah Arga menegang, dia melangkah mendekat, sorot matanya dingin dan mengancam.

“Jangan ikut campur,” katanya pelan namun menusuk. “Ini masalahku, setelah lima tahun, kontrak itu akan berakhir. Shasmita akan kembali, dan Yura akan keluar dari hidupku.”

Sheli menatap kakaknya lama. Ada kecewa yang begitu dalam di matanya.

“Dan kalau dia mati sebelum itu?” tanyanya lirih.

Arga terdiam sesaat, hanya sesaat, lalu berpaling kembali ke jendela.

“Dia tak akan mati,” jawabnya dingin. “Dia lebih kuat dari yang kau kira.”

Sheli tersenyum pahit.

'Tidak, Kak,' batinnya.

'Dia memang kuat … tapi bukan untukmu.'

Dengan langkah berat, Sheli keluar dari ruang kerja itu. Sementara di kamar atas, Yura terbaring demam, tanpa tahu bahwa hari itu di antara sakit dan luka takdirnya perlahan mulai bergerak ke arah yang sama sekali berbeda.

Bab 2

Kesadaran Yura kembali perlahan, seperti seseorang yang ditarik paksa dari dasar laut. Kelopak matanya terasa berat saat ia membukanya. Pandangannya buram, kepalanya berdenyut, dan tenggorokannya kering. Aroma obat dan antiseptik memenuhi inderanya. Beberapa detik berlalu sebelum ia menyadari bahwa dirinya telah berada di kamar, terbaring rapi di atas ranjang, tubuhnya diselimuti hangat.

“Kak Yura?” suara itu terdengar pelan, penuh kelegaan.

Yura menggeser pandangannya. Sheli duduk di sisi ranjang, matanya sembap, namun wajahnya jelas menyimpan rasa lega saat melihat Yura membuka mata.

“Kau akhirnya sadar,” ujar Sheli lirih. “Dokter baru saja selesai memeriksamu.”

Yura mencoba bergerak, namun rasa nyeri di punggung membuatnya mengerang pelan. Sheli sigap menahan bahunya agar ia tetap berbaring.

“Jangan bergerak dulu,” kata Sheli cepat. “Kau demam tinggi. Dokter bilang tubuhmu drop karena kehujanan dan kelelahan.”

Yura menelan ludah, lalu mengangguk lemah. Di sudut kamar, dokter tengah menuliskan sesuatu di atas kertas resep. Setelah selesai memberi beberapa pesan singkat pada Sheli, pria itu beranjak pergi.

Sheli berdiri. “Bibi, tolong antar dokter sampai keluar,” pintanya pada pelayan yang menunggu di ambang pintu.

Begitu pintu tertutup dan kamar kembali sunyi, Sheli duduk lagi di sisi ranjang. Ia menatap Yura lama, seolah ingin mengatakan banyak hal, tetapi tak tahu harus memulai dari mana.

“Aku minta maaf,” ucapnya akhirnya. Suaranya bergetar. “Aku … aku tak bisa menolongmu lebih banyak.”

Yura tersenyum tipis, senyum yang terlihat rapuh, namun entah bagaimana terasa tenang.

“Tak apa,” jawabnya lembut. “Aku baik-baik saja.”

Kata-kata itu keluar begitu mudah, seolah ia benar-benar tak terluka. Namun, di dalam hatinya, makian paling kejam mengalir deras.

'Kau iblis! Kau pengecut! Kau pria busuk yang hanya berani menyiksa wanita yang tak bisa melawan. Suatu hari nanti, Mas Arga … aku akan menghitung satu per satu semua lukamu.' Batin Yura terus memaki sosok pria yang tak ada di depannya.

Sheli menunduk, jarinya saling meremas. “Tak ada yang bisa melawan Kak Arga di rumah ini. Bahkan aku pun—”

“Jangan,” potong Yura pelan.

Sheli mengangkat wajahnya. Yura tetap tersenyum, wajahnya tampak lugu dan lembut, seperti wanita yang selalu mereka anggap tak berdaya. Dengan suara halus, ia berkata, “Jangan menentang kakakmu. Aku tak ingin kau bermasalah karena aku.”

“Tapi Kak—”

“Yang salah aku,” lanjut Yura cepat, masih dengan nada yang sama. “Bukan kakakmu.”

Sheli terdiam, dia menatap Yura dengan mata berkaca-kaca, jelas tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Kau terlalu baik,” bisik Sheli lirih. “Terlalu baik untuk berada di sini.”

Yura hanya tersenyum kecil.

'Bukan baik,' batinnya dingin.

'Aku hanya sedang bersabar.'

Saat itu juga, pintu kamar terbuka. Aura dingin langsung memenuhi ruangan. Arga berdiri di ambang pintu dengan rahang mengeras, tatapannya tajam mengarah ke ranjang. Ia memandangi Yura tanpa ekspresi dan tak ada rasa bersalah, tak ada kekhawatiran. Hanya tatapan kosong yang sulit diterjemahkan.

Sheli langsung berdiri.

“Kak, aku harus ke kampus,” ucapnya cepat, jelas tak ingin berada di antara ketegangan itu. Dia menoleh ke Yura dan menggenggam tangannya sebentar.

“Istirahatlah.”

Yura mengangguk pelan. “Hati-hati.”

Sheli melirik kakaknya sekilas, lalu keluar dari kamar. Pintu tertutup kembali, menyisakan keheningan yang mencekam.

Yura tetap berbaring, menatap langit-langit, seolah tak menyadari keberadaan Arga. Namun, di balik kelopak matanya yang setengah terpejam, pikirannya bergerak cepat.

Lima tahun, ia menghitung dalam hati. Tinggal beberapa bulan lagi. Dan kali ini, ia berjanji pada dirinya sendiri, ia tak akan keluar dari pernikahan itu sebagai wanita yang sama.

Langkah kaki Arga terdengar mendekat setelah pintu kamar tertutup sempurna. Udara di ruangan itu seketika berubah, lebih berat, lebih menekan. Yura masih berbaring, namun tubuhnya menegang tanpa sadar.

Arga berhenti di sisi ranjang.

“Shasmita akan kembali sore ini,” ucapnya datar.

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa nada, tanpa empati. Namun, bagi Yura, kata-kata itu terasa seperti palu yang menghantam dadanya. Kedua matanya melebar. Jantungnya berdegup lebih cepat.

Sore ini, itu berarti waktunya hampir habis. Perannya akan segera berakhir. Ia akan kembali menjadi tidak berarti atau lebih tepatnya, memang sejak awal ia tak pernah berarti.

Bibir Yura melengkung tipis, senyum getir yang nyaris tak terlihat.

'Peranku akan digantikan oleh orang lain,' batinnya pahit. 'Padahal sejak awal … aku memang hanya pengganti.'

Dia menarik napas pelan, menahan rasa sesak yang mendadak memenuhi dadanya. Lalu, dengan suara lemah dan wajah yang tetap terlihat patuh, Yura membuka mulut.

“Mas…” panggilnya lirih.

Arga menatapnya sekilas, ekspresinya tetap dingin.

“Selama kontrak kita belum selesai,” lanjut Yura pelan, “apa aku boleh tetap berada di sini?”

Tangannya mencengkeram selimut, jemarinya bergetar. Ia menoleh, menatap Arga dengan mata nanar, tatapan seorang wanita yang benar-benar berada di ujung jurang.

“Ayahku masih butuh perawatan,” ucapnya, suaranya nyaris berbisik. “Belum ada ginjal yang cocok. Aku mohon…”

Itu bukan sepenuhnya sandiwara. Rasa takutnya nyata. Ayahnya benar-benar bertaruh nyawa. Namun, di balik permohonan itu, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya, kesabaran seorang wanita yang tengah menghitung waktu.

Arga menatapnya lama. Wajahnya tak menunjukkan perubahan apa pun. Seolah permohonan itu hanyalah suara latar yang tak penting.

Di dalam hatinya, Yura kembali memaki.

'Kau bahkan tak punya sisa kemanusiaan,' sumpahnya dingin.

"Tak apa, bertahanlah sedikit lagi, Yura. Setelah semuanya selesai … aku akan meninggalkan pria ini dengan luka yang tak pernah ia bayangkan. Uangnya terlalu berarti untuk ayahku saat ini,'

“Aku sudah bilang,” ujar Arga akhirnya, suaranya tenang namun menusuk. “Kau hanya pengganti.”

Kalimat itu membuat dada Yura berdenyut nyeri, namun wajahnya tetap menunduk patuh.

“Dan mulai sekarang,” lanjut Arga tanpa emosi, “di depan Shasmita, bersikaplah seperti seorang pelayan yang berhadapan dengan majikannya.”

Yura mengangkat wajahnya perlahan.

“Jangan pernah memberitahunya,” Arga menegaskan, “tentang hubungan yang kita jalani selama empat tahun ini. Aku tak ingin Shasmita salah paham.”

Empat tahun penderitaan, luka, dan penghinaan harus dihapus begitu saja. Seolah semuanya tak pernah terjadi. Yura menelan ludah. Senyum lembut kembali terbit di wajahnya, senyum yang selama ini membuat Arga percaya bahwa ia benar-benar lemah.

“Baik, Mas,” jawabnya patuh. “Aku mengerti.”

Namun, di dalam hatinya, senyum itu runtuh menjadi kebencian yang dingin dan terukur.

'Tenanglah, Mas Arga,' bisiknya dalam batin.

'Aku akan menjadi pelayan terbaikmu. Dan kau … akan menjadi korban paling sempurna.'

Arga berbalik dan melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup pelan, meninggalkan Yura sendirian bersama detak jam dan pikirannya sendiri.

Bab 3

Sore itu, bandara internasional dipenuhi hiruk-pikuk kepulangan dan perpisahan. Namun, bagi Arga Lingga Pradipta, dunia seakan mengecil hanya pada satu titik, pintu kedatangan internasional.

Dia berdiri tegak dengan setelan jas gelap, sebuah buket mawar merah segar di tangannya. Mawar pilihan, seperti yang selalu Shasmita sukai. Wanita itu adalah satu-satunya alasan Arga bersedia menunda segalanya, termasuk urusan penting perusahaan, termasuk hidupnya sendiri.

Tak lama kemudian, sosok itu muncul.

Shasmita Alexander melangkah anggun keluar dari pintu kedatangan. Mantel bulu tebal membungkus tubuh rampingnya, rambut panjangnya terurai rapi. Kacamata hitam besar menutupi sebagian wajahnya, membuat auranya tampak dingin dan eksklusif. Setiap langkahnya mantap, penuh percaya diri, seperti seseorang yang tahu dunia sedang memperhatikannya.

Arga menahan napas, empat tahun berlalu, dan wanita itu tetap sama, bahkan lebih memikat. Ketika Shasmita berhenti tepat di hadapannya, Arga tersenyum dan mengulurkan buket mawar itu.

“Selamat datang kembali di Indonesia,” ucapnya lembut. Shasmita, melepas kacamata hitamnya perlahan. Sepasang mata indah menatap Arga, namun bukan dengan kehangatan yang ia harapkan. Shasmita menerima buket itu, lalu bibirnya melengkung membentuk senyum tipis.

Senyum sinis, bukan senyum bahagia. Bukan senyum rindu, jantung Arga berdegup aneh.

'Ada yang salah,' batinnya.

'Apa aku menyambutnya terlalu biasa? Atau…'

“Terima kasih,” jawab Shasmita singkat.

Nada suaranya datar, terdengar cukup dingin. Arga hendak mengatakan sesuatu lagi ketika tiba-tiba sebuah suara lantang terdengar dari arah belakang.

“Arga!”

Arga menoleh refleks, seorang pria tinggi dengan jas abu-abu muda melangkah mendekat, wajahnya penuh senyum percaya diri. Tatapan matanya tajam, penuh perhitungan, tatapan khas seorang pebisnis yang terbiasa mengendalikan ruang.

“Calon adik iparku yang terkenal itu, ya?” ujar pria itu sambil tertawa kecil.

Arga terdiam sejenak.

“Sky Alexander,” pria itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. “Kakaknya Shasmita.” Sky, tetap memperkenalkan diri meskipun keduanya sebelum bertemu kerap berbicara melalui telepon.

Arga menatap tangan yang terulur itu dengan raut terkejut yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. Dia tak menyangka Sky akan ikut kembali ke Indonesia. Nama itu bukan nama asing, CEO muda yang memiliki cabang perusahaan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Dengan sedikit ragu, Arga akhirnya menjabat tangan Sky.

“Arga Lingga Pradipta,” jawabnya formal.

Shasmita melirik mereka sekilas, lalu berkata ringan, “Kakakku ikut pulang karena ada urusan bisnis. Sepertinya cukup lama.”

Nada itu terdengar santai, namun entah mengapa Arga merasakan tekanan halus di baliknya.

Sky tersenyum lebar. “Aku dengar keluarga Pradipta sedang berkembang pesat,” katanya, menatap Arga dengan sorot mata yang sulit ditebak.

“Siapa tahu, kita bisa bekerja sama.”

Arga membalas senyum itu, meski dadanya terasa tak nyaman.

“Tentu,” jawabnya singkat.

Namun, dalam benaknya, satu perasaan asing mulai muncul perasaan bahwa kepulangan ini bukan sekadar reuni biasa. Ada sesuatu yang bergerak. Sesuatu yang belum bisa ia lihat, tetapi jelas mengintai.

Di sisi lain, Shasmita berdiri tenang, menggenggam buket mawar itu tanpa benar-benar memeluknya. Tatapannya melayang jauh, seolah pikirannya berada di tempat lain.

Entah mengapa, sejak bertahun-tahun, Arga merasa kehilangan kendali. Dan di rumah Pradipta, seorang wanita lain yang wajahnya nyaris sama, namun jiwanya jauh berbeda tengah menunggu waktu dengan kesabaran paling berbahaya.

Arga membawa Shasmita dan Sky ke sebuah restoran mewah di pusat kota. Lampu kristal menggantung anggun di langit-langit, memantulkan cahaya hangat ke setiap sudut ruangan. Tempat itu dipenuhi para pebisnis, figur publik, dan nama-nama besar dunia mode.

Begitu Shasmita melangkah masuk, perhatian langsung tertuju padanya.

Beberapa tamu saling berbisik, sebagian mengenalinya sebagai desainer muda berbakat yang namanya mulai bersinar di Eropa. Mantel bulu yang dikenakannya menambah kesan eksklusif, sementara sikapnya tetap tenang, seolah sorotan itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Mereka duduk di meja yang telah dipesan. Pelayan datang mengambil pesanan, lalu pergi dengan langkah terlatih.

Saat menunggu hidangan, Shasmita meletakkan sendoknya dan berkata santai, “Rumah keluarga Alexander masih dalam tahap renovasi. Sepertinya butuh waktu sekitar setengah tahun sampai selesai.”

Arga mengangguk pelan. “Oh?”

“Iya,” lanjut Shasmita. “Jadi untuk sementara aku dan Kak Sky berencana menyewa apartemen. Tidak mungkin kami terus berpindah-pindah hotel.”

Nada bicaranya ringan, hampir seperti obrolan biasa. Namun, Sky menangkap kilatan singkat di mata adiknya, sebuah tanda bahwa topik itu bukan muncul tanpa perhitungan.

Tanpa berpikir panjang, Arga langsung berkata, “Kalian tidak perlu menyewa apartemen.”

Shasmita menoleh.

“Villa keluarga Pradipta kosong,” lanjut Arga. “Letaknya dekat dengan rumah utama. Hanya beda halaman saja. Privasi tetap terjaga, kalian bisa tinggal di sana.”

Shasmita melirik Sky sekilas, tatapan singkat itu cukup untuk menyampaikan satu pesan, inilah yang kita inginkan.

Sky menyandarkan tubuhnya dengan santai. “Kalau Arga tidak keberatan,” katanya, “aku rasa itu akan jauh lebih praktis.”

Shasmita kembali menatap Arga, ekspresinya berubah seolah ragu.

“Apa tidak apa-apa? Kami tidak ingin merepotkan, mu?”

Arga tersenyum tipis. “Tidak masalah. Anggap saja rumah sendiri.”

Beberapa detik berlalu sebelum Shasmita akhirnya mengangguk. “Baiklah,” katanya pelan.

“Kalau begitu, kami terima.”

Nada suaranya terdengar netral, tetapi kepuasan kecil bersembunyi di balik senyum yang nyaris sempurna.

Tak lama kemudian, hidangan diantar. Percakapan berlanjut tentang bisnis, rencana ke depan, dan dunia desain. Arga tampak semakin yakin bahwa keputusannya tepat, bahwa membawa Shasmita kembali ke lingkaran hidupnya adalah awal dari segalanya yang pernah ia tunggu.

Malam itu, villa keluarga Pradipta kembali hidup.

Arga telah memberi perintah singkat, tanpa penjelasan, tanpa nada yang bisa ditawar. Yura diminta membersihkan villa, memastikan setiap sudutnya rapi, dan menyiapkan kamar terbaik untuk tamu istimewa.

Kekasihnya, begitu Arga menyebut Shasmita. Dan calon kakak iparnya.

Yura mengerjakannya tanpa protes. Ia menyapu, mengelap, mengganti seprai, memastikan bunga segar terpasang di vas, dan lampu-lampu menyala dengan pencahayaan sempurna. Tangannya masih terasa nyeri, tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tetapi wajahnya tetap tenang, seperti biasa.

Menjelang malam, suara mesin mobil terdengar memasuki halaman villa.

Yura berhenti sejenak, langkahnya terhenti di dekat jendela lantai bawah. Dengan gerakan pelan, ia mengintip ke luar.

Mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu masuk. Pintu terbuka lebih dulu, dan seorang wanita turun dengan langkah anggun.

Shasmita, bahkan dari jarak itu, Yura bisa melihat auranya, tenang, percaya diri, dan penuh kendali. Mantel yang dikenakannya jatuh sempurna di tubuh rampingnya. Rambutnya tertata rapi, wajahnya cantik tanpa usaha berlebihan.

'Pantas,' batin Yura datar.

'Orang-orang memujanya. Dunia memang selalu menyukai wanita seperti dia.'

Tak lama kemudian, pintu mobil di sisi lain terbuka. Seorang pria turun, mengenakan jas gelap dan kacamata hitam meski malam telah larut. Posturnya tegap, langkahnya santai, tetapi sorot matanya, meski tersembunyi, memberi kesan tajam dan penuh perhitungan.

Yura menatapnya lebih lama dari yang ia sadari. Sky Alexander, pikirnya. Ia teringat percakapan Sheli beberapa waktu lalu tentang kakak Shasmita yang sering disebut-sebut Arga. Seorang pria berpengaruh, pebisnis besar, dan sosok yang selalu dibicarakan Sheli dengan nada penasaran.

"Mungkin ini pria yang dimaksud Sheli," gumam Yura.

Sky melepas kacamata hitamnya sesaat, menoleh ke sekeliling halaman villa, seolah mengamati tempat itu dengan seksama. Untuk sepersekian detik, pandangannya hampir bertemu dengan Yura di balik jendela.

Yura refleks mundur setengah langkah. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ada sesuatu dari pria itu yang membuatnya waspada, bukan ancaman yang jelas, melainkan insting halus yang selama ini menyelamatkannya.

Arga turun terakhir dari mobil. Ia berdiri di sisi Shasmita, sikapnya jelas berbeda. Lebih lembut. Lebih berhati-hati. Seperti pria yang akhirnya mendapatkan kembali sesuatu yang lama hilang.

Yura menarik napas dalam-dalam. Ia merapikan wajahnya, menyingkirkan ekspresi apa pun yang tersisa, lalu melangkah menjauh dari jendela. Saat pintu villa akan dibuka, topengnya sudah kembali terpasang dengan sempurna.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!