“Kecelakaan di Pacific Coast Highway, dekat Malibu. Mobil sedan keluar jalur, menabrak pagar pembatas. Nona Lily Campbell dan kekasihnya, Brandon ... tidak selamat, Tuan Jones. Tapi bayi ... bayinya berhasil diselamatkan melalui operasi caesar darurat di Malibu Medical Center."
Suara salah satu pengawalnya, George, begitu tegang. Suara itu menggema di ruang kerjanya yang luas.
BRAK!!
Jasper menggebrak meja besarnya karena kemarahan yang besar.
Lily Campbell. Nama itu tidak membangkitkan rasa kesedihan, tapi rasa jengkel yang dalam. Dia tidak mengenal wanita itu. Dia hanyalah sebuah tanda tangan di atas dokumen legal untuk menjadi surrogate mother untuk calon bayinya.
Seharusnya Lily patuh pada semua perjanjian mereka. Tapi wanita itu justru berbuat semaunya sendiri.
"Dia seharusnya sudah berada di rumah sakit sejak lima hari yang lalu untuk persiapan melahirkan," gumam Jasper, suaranya dingin dan datar. “Bagaimana bisa dia lari dari tanggung jawabnya yang penting?” geram Jasper.
"Maaf, Tuan. Kami … kurang mengawasinya,” sahut George.
Jasper menekan jari-jarinya yang dingin ke pelipisnya. Emosi yang mendidih bukanlah duka, melainkan kemarahan yang dalam.
Lily Campbell telah melanggar kontrak. Dia telah membahayakan asetnya yang paling berharga, yaitu bayinya.
"Kondisi bayi?" tanyanya lagi.
"Sekarang di NICU. Tim dokter specialis dari UCLA dan dokter pribadi anda sudah diarahkan ke lokasi."
"Siapkan helikopter. Aku akan ke Malibu dalam tiga puluh menit," perintahnya dengan tegas.
"Baik, Tuan."
Sambungan telepon terputus. Kembali hening. Pandangan Jasper tertuju pada bingkai digital di mejanya, berganti-ganti antara grafik saham dan satu-satunya gambar pribadi, sebuah hasil USG 4D milik bayinya.
Itu semua adalah tentang warisan, tentang meneruskan nama Jones di dinasti bisnis Amerika.
Bukan tentang cinta. Cinta adalah hal kacau baginya, sebuah rasa emosional yang pasti merusak logikanya sempurna.
Dan sekarang …
Sekarang, ada seorang bayi di sebuah rumah sakit pinggir pantai. Seorang bayi tanpa sumber nutrisi yang optimal.
ASI donor adalah hal yang tak diinginkan oleh Jasper. Ada banyak risiko yang sudah dijelaskan oleh dokter.
Pikirannya langsung bekerja. Dia harus mencari ibu asi pengganti, segera. Kriterianya juga harus sempurna.
Usia 25-35, pola hidup bersih, tes narkoba dan genetika lengkap, psikologis harus stabil, tanpa ada emosi yang berlebihan. Dan baginya, itu adalah transaksi baru. Dia akan membayar angka yang membuat siapa pun terdiam dan patuh pada aturannya.
"Lily Campbell, kau membuat semua ini menjadi rumit!” desisnya, kini nama itu identik dengan kegagalan, ketidak patuhan.
Dia tak akan membiarkan bayinya, Jonas, nama yang dipilih dari garis keturunan kakeknya, terkontaminasi bahkan oleh ingatan tentang ketidakprofesionalan Lily dalam menjaganya.
*
*
Penerbangan dengan helikopter ke Malibu terasa singkat. Nyonya Sterling, asistennya yang sudah bekerja sejak lama dengan ayahnya, sudah menyiapkan daftar kontrak aturan untuk ibu susu pengganti.
Jasper fokus membacanya dengan mata yang tajam.
"Tambahkan larangan mutlak membangun ikatan di luar kerja profesional. Mereka akan tinggal di guest house di Bel Air dengan pengawasan 24/7. Semua asupan makanan melalui ahli gizi kita," instruksinya, tanpa mengalihkan pandangan dari tablet.
"Baik, Tuan.”
Jasper mengangguk. Pikirannya terbelah. Dia membayangkan inkubator, ventilator, dan tubuh mungil Jonas.
“Apakah dia akan baik-baik saja?” gumam Jasper.
“Kondisinya mulai stabil, Tuan,” jawab Nyonya Sterling.
“Kuharap begitu. Aku ingin secepatnya mendapatkan ibu susu pengganti. Paling lambat dalam dua hari.”
“Baik, Tuan.”
Jasper melangkah masuk ke NICU Malibu Medical Center yang sudah disterilkan dan dikosongkan dari orang lain.
Di balik dinding kaca akrilik tebal, terbaring makhluk yang begitu kecil sehingga hampir tak nyata.
Kulitnya transparan kemerahan. Sebuah CPAP mask mini menutupi sebagian wajahnya, monitor di sampingnya memantau garis hijau, kuning, dan merah yang berdetak. Kaki-kakinya, tidak lebih besar dari jempol Jasper, terlihat rapuh.
Ini adalah putranya. Penerus Jones.
Dokter Edy, salah satu doktee terkemuka, memberikan penjelasan dengan nada tenang. "Kondisi stabil, Tuan Jones. Paru-parunya masih butuh bantuan karena benturan pada perut ibunya. Masalah terbesar adalah nutrisi dan pertahanan terhadap infeksi. Colostrum, ASI pertama, adalah cairan emas bagi bayi anda saat ini. Tak ada formula yang bisa meniru sepenuhnya."
"Bank Donor Susu?" tanya Jasper, matanya terpaku pada gerakan naik turun dada kecil Jonas.
"Kami infuskan sedikit. Tapi untuk jangka panjang, dia butuh sumber yang konsisten. Seorang ibu susu pengganti yang tepat tidak hanya menyediakan nutrisi, tapi juga suhu dari kontak kulit, detak jantung, dan perkembangan otaknya."
Kontak kulit. Ikatan. Hal yang emosional lagi. Jasper ingin menjerit. Dia tak butuh hal sentimental, tapi bayinya membutuhkan itu.
Jasper mendekati kotak pelindung di mana Jonas berada, tubuhnya terasa kaku. Dia melihat Jonas menggeliat. Tanpa pikir panjang, tangan Jasper bergerak.
Dengan sangat hati-hati, dia memasukkan ujung jari telunjuknya melalui lubang samping kotak isolasi. Kulitnya yang hangat menyentuh punggung tangan Jonas yang rapuh dan halus.
Kemudian, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Tangan mungil yang sedang bergerak itu, dengan refleks menutup dan menggenggam erat ujung jari Jasper.
Genggamannya sangat lemah, namun terasa seperti listrik yang langsung mengalir melalui lengannya, menyentak jantungnya yang dingin.
Dalam satu momen itu, Jonas berhenti menjadi sekadar penerus atau aset baginya. Dia adalah seorang bayi. Anaknya, darah dagingnya.
"Ibu penggantimu melanggar kontrak," bisiknya kepada Jonas, suaranya serak dan berbisik. "Dia memilih jalan bodoh, dan dia meninggalkanmu seperti ini. Tapi aku di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan menyediakan yang terbaik. Semua yang kau butuhkan, My Son."
Janji itu diucapkan dengan begitu tulus.
"Aku tidak akan gagal kali ini," gumamnya. "Kau akan mendapatkan yang ibu susu pengganti yang terbaik. Pengasuh terbaik, nutrisi yang terbaik. emuanya akan terkontrol olehku sendiri. Tidak akan ada lagi ... ada penyimpangan dan kegagalan seperti sebelumnya."
Jasper kemudian menarik napas, menarik jarinya perlahan. Jonas mengeluarkan suara rengekan kecil.
"Sssshhh," desisnya, sebuah suara lembut yang tidak pernah ia keluarkan dari mulutnya. "Daddy's here. Segera Daddy akan menemukan seseorang. Seseorang yang lebih sesuai dengan spesifikasi. Seseorang yang akan mematuhi setiap perjanjian dalam kontrak."
Jasper kemudian berbalik, meninggalkan NICU dengan langkah panjang dan tegas. Mencari pengganti secepatnya, itu yang akan dia lakukan sekarang.
Kematian Lily Campbell bukan tragedi baginya, itu adalah kesalahan pada perjanjian yang mengakibatkan kegagalan.
Dan Jonas, anaknya, harus segera diperbaiki.
Perburuan untuk seorang ibu susu pengganti yang sempurna, yang akan mengikuti aturan, resmi dimulai. Jasper Jones yakin dia bisa menemukannya. Dia selalu bisa mencari solusi terbaik.
“Bagaimana dengan Keluarga Lily dan pacarnya?” tanya Jasper pada Nyonya Sterling sembari berjalan melalui lorong rumah sakit.
“Mereka … tak bisa dihubungi. Seperti yang anda tahu bahwa mereka sama-sama lari dari keluarga mereka sejak remaja.”
Jasper menggelengkan kepalanya. “Jika saja dia tak ber-IQ tinggi, aku tak akan berurusan dengannya.”
Ya, sedingin itu hati Jasper hingga dia tak terlalu peduli dengan nasib Lily yang telah mengandung anaknya.
Tapi Jasper merasa sudah memberikan semua hak Lily yaitu imbalan yang sangat besar karena Lily ingin memulai hidup baru dengan kekasihnya di luar negeri.
Chloe Miller berdiri di depan kanvas besar di studionya yang menghadap jembatan Brooklyn, kuas di tangan kanannya, palet di kiri.
Teleponnya berdering pertama kali pukul 06.17. Chloe mengabaikannya, tenggelam dalam kegiatan melukisnya.
Dering kedua, ketiga. Baru pada dering keempat, dengan kesal dia meletakkan kuas dan melihat layar, Mia. Suara Mia di ujung telepon tercekat, seperti sinyal buruk.
"Chloe ... Chloe, kau harus datang. Lily ... Lily meninggal."
Dunia Chloe yang penuh warna mendadak gelap. "Dia kecelakaan bersama Brandon ... bayinya selamat ... tapi Lily ..." Kata-kata berikutnya tenggelam dalam isakan tangis Mia.
Kaki Chloe yang biasanya tegak selama berjam-jam melukis, mendadak lemas. Warna-warna di kanvasnya kini terasa buram.
”A-apa??”
“Dia ada di rumah sakit Malibu. Cepat kemari!” lanjut Mia.
”I-iya.” Chloe masih terpaku lama. Lalu dia memukul pipinya, memastikan ini bukan mimpi.
Segera setelahnya, Chloe langsung beranjak pergi.
*
*
Chloe berlari memasuki rumah sakit yang terasa dingin. Dia segera menuju ruang jenazah.
Mia duduk di kursi plastik di depan ruang jenazah, kakinya tampak bergerak-gerak karena masih shock.
“Mia!” panggil Chloe.
Mia menoleh dan segera beranjak lalu memeluknya. “Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah seharusnya dia ada di rumah sakit untuk persiapan melahirkan?”
“M-maaf, Chloe. Aku … aku tak mengikuti perintahmu. Dia merengek ingin ke pantai bersama Brandon. Dan aku mengizinkannya.”
Chloe hanya bisa terdiam. Air matanya kembali menetes. Dia saling berpelukan dengan Mia. Mereka bertiga bersahabat baik dan memiliki nasib yang sama dalam hal keluarga.
Chloe meletakkan tangan di punggung Mia, merasakan getaran isakannya melalui jaketnya. "Bayinya?" tanyanya lembut.
"Di NICU. Tapi stabil." Mia menarik napas dalam. "Aku belum melihatnya karena dijaga ketat oleh pengawal pria itu."
“Aku akan melihatnya nanti. Kau pulangkah, aku akan menunggu di sini sampai keluarga Lily datang.”
“Mereka tak akan datang. Aku tak bisa menghubungi nomer rumah Lily yang dulu. Dan kita tak mengenal keluarga Brandon.” Mia masih terisak.
“Lalu? Bagaimana dengan pria itu?” tanya Chloe lagi.
“Aku tak tahu. Kita bahkan tak mengenal pria itu. Bahkan Lily saja tak pernah tahu.”
“Aku akan bertanya pada Dokter,” sahut Chloe dan berbalik pergi.
“Aku akan menunggu di sini, Chloe.”
“Ya.” Chloe sudah berlari pergi, tak menoleh pada Mia.
*
Ingatan Chloe tentang Lily menguar ketika dia berlari menuju ruangan administrasi rumah sakit.
Lily, sahabat Chloe sejak kuliah di jurusan seni, bersama Mia juga. Lily adalah Jenius yang bisa memilih jalur apa pun, berasal dari keluarga ilmuwan terpandang yang memiliki laboratorium penelitian bergengsi.
Orang tuanya, kedua profesor ternama, telah mengatur hidup Lily sejak kecil untuk menjadi seorang profesor juga, peneliti biomedis, mengambil alih warisan keluarga nantinya.
Tapi Lily mencintai senu seperti Chloe. Lily berani kabur meskipun orang tuanya mengancam akan mencoret Lily dan warisan keluarga.
Lily menumpang hidup pada Chloe hingga akhirnya bertemu Brandon, seorang pria penyabar yang menyukai Lily apa adanya.
Persahabatan mereka lahir dari pemberontakan yang sejalan, Chloe melawan ayahnya yang juga mencoba merenggut mimpinya, Lily melawan kemewahan yang mencoba membelenggunya.
*
Chloe mengingat bulan-bulan terakhir. Lily hamil, tapi bukan kehamilan biasa. Ini adalah transaksi kontrak surrogate mother dengan imbalan besar yang akan menjamin masa depan Lily dan Brandon. Meskipun Chloe tak setuju awalnya, tapi bagi Chloe, Lily tetaplah sahabatnya yang perlu dijaga.
Chloe sangat memperhatikan Lily. Dia yang memastikan Lily makan makanan bergizi dari uang yang dikirim oleh sang pemilik benih.
Chloe yang mengingatkan Lily untuk beristirahat, meskipun semangat Lily kadang menggebu ingin menyelesaikan lukisan terbarunya.
Chloe yang menemani Lily ke beberapa pemeriksaan ketika Brandon harus bekerja lembur.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!