Indonesia
NovelToon NovelToon

Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Mendadak Jadi Ibu Tiri Jahat

Jenara berjalan cepat menyusuri lorong laboratorium, langkah sepatunya bergaung di lantai mengilap. Di jam sepagi ini, gedung riset masih lengang, hanya ada beberapa petugas kebersihan yang berlalu-lalang.

Di sampingnya, sang asisten, Raline, terlihat tidak fokus. Tatapannya terpaku pada layar ponsel, jari-jarinya gemetar kecil.

“Bu Jenara,” ucap Raline akhirnya, suaranya bergetar menahan antusias.

“Ibu sedang dibicarakan di siaran langsung.”

Jenara mengerling sekilas. “Siaran apa?”

“Berita penelitian Ibu.”

Di layar ponsel, seorang presenter dengan ekspresi antusias sedang berdiri di depan background gambar daun hijau sederhana. Itu adalah tanaman yang selama ini dianggap liar dan tak bernilai.

"Daun kelor, yang selama ini hanya dianggap tanaman pagar, ternyata mengandung protein nabati tinggi, kalsium, zat besi, serta asam amino esensial yang sangat baik untuk pertumbuhan anak."

Grafis berganti. Tampak foto hidangan modern berupa jus, roti kukus, dan sup krim berbasis daun kelor.

"Tim peneliti yang dipimpin oleh Jenara Rahadi berhasil membuktikan bahwa daun kelor dapat diolah menjadi makanan lezat, ramah anak, dan bernilai gizi tinggi. Penemuan ini telah diakui oleh para ahli nutrisi internasional."

Asistennya menelan ludah. “Bu Jenara, sekarang Ibu benar-benar terkenal.”

Jenara berhenti melangkah.

Ia menatap layar itu lama. Tidak ada sorot puas di matanya. Hanya ketenangan seseorang yang telah berdamai dengan tujuannya.

“Terkenal itu bukan prioritas utama,” katanya pelan.

“Kalau penemuan ini bisa membantu satu anak tumbuh lebih sehat, itu sudah cukup untukku."

Ia melanjutkan langkah.

“Kali ini, aku mau mengekstraksi enzim alami dari nanas madu dan kultur probiotik dari susu kambing," ujar Jenara sambil membuka pintu laboratorium utama.

"Kita akan buat yoghurt buah yang lembut, rendah laktosa, dan aman untuk pencernaan anak.”

“Yoghurt semangka,” timpal Raline tersenyum kagum. “Kedengarannya mahal.”

“Seharusnya justru terjangkau,” jawab Jenara.

Namun dari balik lorong servis yang remang, seseorang berdiri diam. Perempuan itu menyilangkan tangan, bibirnya melengkung tajam. Tatapannya mengikuti punggung Jenara dengan penuh kebencian.

“Jenara, kesombonganmu akan berakhir hari ini.”” gumamnya dingin.

Dia adalah Sita, saingan abadi Jenara sejak di bangku kuliah. Dia bukan hanya iri pada kemampuan Jenara yang selalu lebih unggul darinya, tetapi juga membenci perempuan itu begitu dalam.

Sementara, Jenara sudah bersiap di depan meja eksperimen.

Masker menutup wajahnya. Sarung tangan membalut jemari terampilnya. Dan, kacamata pelindung terpasang rapi.

Sebagai seorang peneliti pangan sekaligus chef yang handal, ia memiliki ketenangan yang nyaris sempurna. Seolah tak ada dunia lain di luar tabung-tabung kaca ini.

Raline mencatat suhu dan waktu fermentasi.

“Kalau ini selesai,” ujar Jenara sambil menyalakan mesin ekstraksi, “aku akan istirahat sebentar. Menyelesaikan novel yang sedang kubaca.”

Raline mengangguk. “Semoga kali ini Ibu benar-benar istirahat.”

Mesin berdengung halus. Cairan merah muda mulai berputar perlahan di dalam tabung.

Semuanya tampak normal. Lalu, tiba-tiba ada bau menyengat.

Logam panas. Gas.

Jenara menoleh. “Raline, ada yang—”

Belum selesai ia bicara, api meledak dari panel samping.

Alarm berbunyi nyaring. Lampu berkedip kacau.

“Bu Jenara!” teriak Raline panik.

Jenara berlari ke panel darurat. Tangannya hampir menyentuh tombol. Namun, percikan api membuatnya terlonjak kaget.

DUARRR!!!

Ledakan dahsyat mengguncang ruangan.

Kaca pecah. Api menyambar. Tubuh Jenara terlempar keras. Dunia berubah putih, lalu gelap, seperti ditelan malam tanpa bintang.

Tak ada suara. Tak ada cahaya. Hanya kehampaan yang berdenyut sakit di kepalanya.

Namun di tengah kegelapan pekat, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara kecil menyusup masuk.

Bergetar. Ketakutan.

“Giri, kalau Ibu mati, kita harus bagaimana? A-aku takut...."

Kepala Jenara terasa berat dan sakit, seakan pikirannya diperas.

Siapa anak ini? Dan, Ibu siapa yang dimaksud?"

Ia belum sempat membuka mata ketika#uara itu kembali terdengar. Lebih dekat. Lebih jelas.

“Aku juga tidak tahu,” suara anak lelaki itu terdengar gugup, sedikit terengah.

“Aku cuma memukulnya sedikit. Mungkin dia hanya pingsan.”

Ada jeda. Suara napas tertahan.

“Sekarang kita bebaskan Gatra saja,” lanjutnya cepat, seperti sedang meyakinkan diri sendiri.

Kata "memukul" menghantam kesadaran Jenara seperti palu. Kepalanya terasa berat, bagai ada kabut tebal yang menekan dari dalam.

Ia memaksa mengerjapkan mata, sekali… dua kali… hingga akhirnya cahaya remang menyelinap masuk. Pandangan Jenara masih buram, tetapi dua sosok kecil perlahan terbentuk di hadapannya.

Seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan. Usia mereka sekitar tujuh tahun, dan wajah mereka bak pinang dibelah dua.

Bentuk mata, hidung kecil, bahkan lengkung bibirnya sama persis. Namun ekspresi mereka jauh dari kemiripan yang menenangkan. Wajah itu dipenuhi ketakutan.

Kulit mereka kusam, ada noda debu dan bekas tanah di pipi dan dahi. Pakaian mereka lusuh.

Anak perempuan itu mengenakan baju dari kain kasar berwarna pudar, mungkin dulunya cokelat muda, kini hampir tak jelas warnanya. Ujung lengannya robek, jahitannya terurai. Roknya panjang terlalu besar, dilipat asal di pinggang dengan tali tipis.

Anak lelaki itu tak lebih baik. Bajunya longgar dan tambal-sulam, noda lumpur mengering di bagian dada. Celananya terlalu pendek, memperlihatkan betis kecil yang penuh goresan. Mereka tampak seperti anak-anak tak terurus yang terlalu sering bersembunyi.

Jenara terbelalak. Setelah menarik napas panjang, barulah ia menyadari sekelilingnya.

Ia tidak berada di rumah sakit, bukan pula di laboratorium. Namun, ia berada di ruang tengah sebuah rumah desa yang sederhana.

Dindingnya terbuat dari papan kayu tua dan anyaman bambu. Cahaya matahari masuk dari celah-celah kecil, menciptakan garis tipis di lantai tanah yang dipadatkan. Tidak ada sofa. Hanya tikar yang sudah usang, sebuah meja kayu dengan sudut terkelupas, dan bau kayu lembap bercampur asap dapur.

Jenara refleks bangkit, tetapi tubuhnya sempoyongan.

“Agh—!”

Rasa sakit menjalar tajam dari punggungnya. Sensasinya bukan luka sayat, melainkan nyeri otot akibat dibenturkan keras atau dipukul sesuatu. Terpaksa, Jenara menopang tubuhnya dengan satu tangan.

Dan saat itulah matanya menangkap sesuatu. Sebuah tongkat kayu masih tergenggam di tangan anak lelaki itu.

“Kau yang memukulku?" tanya Jenara, suaranya serak hampir tidak keluar.

Anak lelaki itu tersentak. Tongkat kayu langsung terlepas dari tangannya, jatuh ke lantai dengan bunyi keras. Ia spontan menarik tangan saudara perempuannya.

“Lari!” bisiknya panik.

Mereka hendak kabur meninggalkan Jenara, tetapi langkah anak perempuan itu tersandung. Kakinya menginjak ujung rok yang terlalu panjang, hingga tubuh kecilnya terjerembap ke lantai tanah.

“Giri!" panggilnya panik.

Dengan mengabaikan rasa sakit di punggungnya, Jenara berusaha bergerak lebih cepat. Ia melangkah tertatih dan berlutut, tangannya refleks meraih tangan kecil anak perempuan itu.

Hangat, nyata.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya tanpa sadar.

Anak perempuan itu gemetar hebat. Tangannya dingin dan matanya berkaca-kaca.

Jenara menahan napas, mencoba bertanya dengan lembut. “Siapa kamu? Ini di mana?"

Tak ada jawaban. Namun, tiba-tiba dorongan keras menghantam bahu Jenara. Membuatnya terhuyung ke belakang.

Anak lelaki itu berdiri di depan Jenara. Sikapnya protektif, bagaikan perisai di depan saudara perempuannya.

“Ibu, jangan sakiti Gita!” teriaknya dengan suara bergetar.

Jenara membeku. “Ibu?”

“Aku yang memukul Ibu,” lanjut anak itu cepat, matanya merah, napasnya tersengal.

“Jangan marahi Gita. Hukum saja aku."

Nama itu bergaung di kepala Jenara. Mendadak, potongan ingatan menyambar.

Gita adalah nama anak perempuan dalam novel yang sedang ia baca. Salah satu dari anak kembar tiga yang teraniaya oleh ibu tiri jahat. Sedangkan anak lelaki pemberani ini adalah Giri.

Jantung Jenara berdegup kencang. Tidak mungkin.

Mungkinkah tokoh antagonis di novel tersebut adalah dirinya sendiri? Seorang wanita yang suka menyiksa anak-anak, hobi berjudi dan menghamburkan uang, lalu akan diceraikan suami.

Dengan panik, Jenara menatap kedua tangannya sendiri, lalu menatap wajah-wajah kecil yang ketakutan di hadapannya.

Apakah dia sedang bermimpi? Atau dia berhalusinasi karena ledakan itu?

Sebuah pikiran mengerikan perlahan terbentuk di benaknya. Benarkah dia sudah mati lalu berpindah ke dalam dunia novel sebagai Jenara, Sang Ibu Tiri Jahat?

Mengubah Kekejaman Menjadi Kelembutan

Jenara masih berdiri terpaku, pikirannya kacau oleh kenyataan yang baru saja menampar kesadarannya, ketika sebuah tangan kecil terulur ke arahnya.

Telapak tangan itu gemetar.

“Ibu boleh pukul aku sekarang.” Suara anak lelaki itu terdengar tertahan, seperti menelan tangis.

Jenara menoleh.

Giri berdiri di depannya, punggungnya tegak. Rahang anak lelaki itu mengeras, seolah sedang bersiap menerima sesuatu yang sangat ia takuti.

“Tapi… tolong bebaskan Gita dan Gatra,” lanjutnya cepat.

“Gatra pasti sudah kelaparan di dalam kandang ayam, Bu.”

Kandang ayam?

Kalimat itu membuat napas Jenara tercekat. Jantungnya berdegup kencang.

Ingatan terakhir dari novel yang ia baca muncul jelas di benaknya. Terlalu jelas hingga membuat tengkuknya meremang.

Jenara, sang ibu tiri jahat, mengurung Gatra di gudang dingin bersama ayam-ayam milik suaminya.

Sudah dua bulan pria itu pergi ke kota untuk menjual sapi. Namun, hingga saat ini ia belum juga kembali. Tidak ada kabar, seolah dia lenyap ditelan bumi. Dan selama itu pula, rumah telah menjadi neraka kecil bagi anak-anak.

Jenara menarik napas dalam-dalam. Punggungnya masih berdenyut nyeri setiap kali ia bergerak. Namun, rasa sakit itu kalah oleh sesuatu yang lebih menusuk. Rasa bersalah yang bukan miliknya, dan kini harus ia tanggung.

“Di mana… di mana kandang ayamnya?" tanya Jenara terdengar serak, napasnya tersengal.

Giri terbelalak. “Ibu mau ke sana?”

“Iya,” jawab Jenara mantap. “Ibu akan bebaskan Gatra.”

Sejenak, Giri dan Gita saling berpandangan. Di mata mereka ada ketakutan sekaligus kebingungan atas sikap aneh sang ibu tiri. Namun, tubuh mereka bergerak lebih cepat dari pikiran mereka.

Mereka berlari lebih dulu. Sementara Jenara mengikuti di belakang. Langkahnya tertatih, tangannya beberapa kali menahan punggungnya yang terasa seperti tertarik paksa.

Mereka melewati lorong sempit di samping rumah yang tanahnya becek. Rumput liar tumbuh tak terurus di mana-mana.

Akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah bangunan kecil. Pintu kayu itu tebal, kusam, dan berpalang batang kayu kasar yang diselipkan menyilang. Engselnya berkarat. Permukaannya penuh bekas goresan dan noda gelap.

Tanpa pikir panjang, Jenara maju dan mendorongnya. Namun, benda itu tak bergerak.

Yakin bahwa pintu ini terkunci, Jenara menoleh pada Giri dan Gita.

“Kuncinya di mana?” tanyanya cepat.

Giri dan Gita saling memandang lagi, semakin heran. Tatapan mereka seperti sedang melihat orang asing yang mengenakan wajah ibu tiri mereka.

Gita akhirnya berbisik, ragu-ragu. "Biasanya Ibu sembunyikan di baju Ibu.”

Jenara menunduk.

Ia mengenakan pakaian dari kain halus berwarna biru. Potongannya rapi, panjang hingga mata kaki, dengan sulaman sederhana di bagian dada. Jelas pakaian ini milik seseorang yang hidup nyaman daripada anak-anak di hadapannya.

Dengan tangan gemetar, Jenara merogoh lipatan dalam bajunya. Di balik lapisan kain dekat pinggangn, ia menemukan sebuah kunci besi kasar, berat dan dingin di telapak tangan.

Ketika berhasil menariknya keluar, Jenara melihat sebuah kunci kuno yang berbentuk batang melengkung tanpa gerigi. Berfungsi mengait palang dari dalam.

Dengan sedikit usaha, Jenara memasukkan kunci itu ke celah pintu dan menariknya. Terdengar bunyi kayu bergeser pelan, lalu palang itu terlepas.

Krek.

Palang kayu diangkat. Begitu pintu berat itu didorong, bau lembap langsung menyeruak.

Jenara terperanjat.

Di dalam, kandang ayam itu tampak gelap dan sempit. Lantainya tanah basah bercampur jerami kotor.

Bulu ayam berserakan. Di sudut, hanya tersisa tiga ekor ayam kurus yang saling merapat, berkokok lemah. Dan, di antara mereka, seorang anak lelaki kecil meringkuk.

Tubuh anak itu gemetaran dan bajunya sangat kotor. Lututnya ditarik ke dada, lengannya melingkar erat untuk memeluk dirinya sendiri. Rambutnya kusut, pipinya pucat, dan matanya cekung oleh rasa lapar.

“Gatra,” bisik Jenara.

Dadanya terasa sesak melihat pemandangan yang menyayat hati. Tak disangka, pemilik asli tubuh ini tega menyiksa seorang anak yang tidak berdaya.

Tanpa peduli kakinya yang menginjak tanah basah, Jenara segera melangkah maju.

Namun, Gatra justru mundur. Tubuhnya menempel ke dinding bambu, matanya membelalak ketakutan.

“Tidak apa-apa,” ujar Jenara lembut, suaranya bergetar.

“Ayo, ikut Ibu. Kita keluar dari sini.”

Gatra menggeleng keras. Tangis kecil tertahan keluar dari tenggorokannya, hingga membuat Jenara menelan ludah.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjongkok, lalu menggendong tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.

Tubuh Gatra ringan, terlalu ringan untuk anak seusianya. Ia menggigil hebat.

Giri dan Gita yang berdiri di ambang pintu terdiam. Mata mereka membulat heran. Untuk pertama mereka melihat Jenara yang kejam telah memeluk Gatra, bukan mengurung dan menghukumnya.

Ingatan asing itu tiba-tiba menyeruak di kepala Jenara, bak serpihan mimpi buruk yang menempel di jiwanya.

Alasan mengapa tubuh ini mengurung Gatra.

Dua hari lalu, bocah ini tak sengaja memecahkan piring keramik kesayangannya. Satu-satunya barang mahal di rumah ini, yang dibeli oleh sang suami saat ke kota.

Tatkala Gatra disuruh mencuci piring di belakang rumah, tangannya yang kecil membuat piring itu terlepas. Alhasil benda itu pecah berkeping-keping di tanah.

Jeritan Jenara yang seperti kerasukan, masih terngiang jelas. Ia menampar, menyeret, lalu mengurung bocah tujuh tahun itu di kandang ayam. Tanpa makanan, tanpa selimut, tanpa belas kasihan.

Sungguh kejam. Hanya karena sebuah piring, ia mengurung Gatra dua hari dua malam.

Dada Jenara terasa sesak. Tangannya yang menggendong Gatra refleks mengerat, seakan ingin menebus kesalahan yang tidak ia lakukan.

Walau sedikit tertatih, Jenara melangkah masuk ke rumah kayu itu. Membawa Gatra dalam pelukannya.

Giri dan Gita mengikuti dari belakang, langkah mereka pelan, mata mereka waspada. Tatapan itu bukan tatapan anak-anak, melainkan tatapan korban yang sudah terlalu sering disakiti.

Jenara mendudukkan Gatra di bangku kayu rendah. Tubuh bocah itu masih lemas dan kepalanya terkulai.

Tanpa menunda, Jenara bergegas ke dapur di sudut rumah. Ia mengambil kendi air tanah, lalu menuangkannya ke dalam cangkir tanah liat.

Dengan cekatan, Jenara mengambil sejumput gula aren, sejumput kecil garam kasar, kemudian mencampurnya perlahan hingga larut.

Cairan elektrolit sederhana—air, gula, dan garam. Cukup untuk mengembalikan tenaga anak yang dehidrasi dan kelaparan.

Jenara berbalik, hendak menyodorkan minuman itu pada Gatra. Namun, mendadak dua lengan kecil terentang di hadapannya.

“Jangan!” teriak Giri, berdiri di depan saudaranya. “Ibu mau meracuni Gatra, ya?!”

Jenara tertegun. Tuduhan ini tidak membuatnya marah, karena ia sangat memahami bagaimana derita yang harus ditanggung oleh Si Kembar Tiga.

Ia menurunkan cangkir itu perlahan. Lalu, tanpa ragu, Jenara mengangkat cangkir itu ke bibirnya sendiri dan meminum setengah isinya.

Giri dan Gita ternganga.

“Lihat. Ibu tidak apa-apa. Malah tubuh Ibu terasa lebih segar," ujar Jenara tersenyum kecil.

Kemudian, Jenara mengambil cangkir lain, membuat campuran baru dan kali ini mengulurkannya ke arah Gatra. Giri dan Gita ragu sesaat, sebelum perlahan bergeser dan memberi jalan.

Jenara berlutut, menopang kepala Gatra dengan lembut.

“Minum pelan-pelan, ya.”

Awalnya, Gatra menolak. Bibirnya mengatup rapat. Namun setelah mencicipi seteguk dan seteguk lagi, keajaiban kecil pun terjadi.

Gemetar di tubuh bocah itu mereda. Warna pucat di wajahnya perlahan berkurang.

Saat cangkir itu tandas, Gatra menatap Jenara dengan ekspresi bingung bercampur takut.

Jenara merasa lega lantas menoleh pada Giri dan Gita.

“Kalian juga boleh minum. Ambil sendiri, ya. Sekarang, Ibu akan masak. Kalian pasti belum makan.”

Kedua anak itu kembali bertukar pandang antara bingung, curiga, dan tak percaya.

Masak? Benarkah wanita pemarah yang suka bermalas-malasan ini bersedia memasak untuk mereka?

Ruang Wiji

Jenara melangkah kembali ke dapur untuk memasak. Punggungnya masih terasa nyeri, tetapi rasa itu ia abaikan. Perut tiga anak kecil yang menunggunya jauh lebih penting saat ini.

Ia membuka tempayan beras yang terletak di sudut dapur. Tutupnya terbuat dari anyaman bambu, sudah kusam dan retak di beberapa sisi. Saat tempayan itu dibuka, hati Jenara mencelos.

Berasnya hampir habis.

Ia meraupnya dengan kedua tangan, menghitung kasar. Paling banyak hanya satu canting, jumlah yang bahkan tidak cukup untuk membuat satu panci bubur.

Jenara menghembuskan napas panjang, dadanya terasa berat.

“Astaga, aku tidak bisa masak nasi. Mereka pasti akan kelaparan,” gumamnya lirih.

Ia menutup kembali tempayan itu dengan putus asa. Pikirannya berputar cepat. Jika tidak ada beras, ia harus mencari bahan makanan lain yang mengandung karbohidrat.

“Mungkin, aku bisa mencari di kebun,” bisik Jenara pada diri sendiri.

Dalam ingatan samar milik pemilik tubuh ini, suaminya memang suka menanam. Ia bukan petani, tetapi setidaknya halaman belakang rumah ini tak pernah benar-benar kosong.

Dengan secercah harapan, Jenara berjalan keluar menuju halaman belakang. Namun, begitu kakinya menjejak tanah lembap di belakang rumah, langkahnya terhenti.

Mulut Jenara ternganga melihat kebun itu hancur.

Batang-batang sayuran rebah mengering, daunnya cokelat dan keriting seperti terbakar matahari. Beberapa tanaman tercabut paksa, akarnya terpapar udara, dibiarkan begitu saja di atas tanah.

Ada bekas lubang-lubang kasar, tanda seseorang mencabut tanaman sebelum waktunya. Kemungkinan besar untuk dijual murah atau sekadar dilepas amarah.

Rempah-rempah yang seharusnya harum kini tinggal batang kosong. Jahe muda patah, serai tercabut setengah, dan tanaman umbi yang seharusnya tertimbun rapi justru teronggok tak bernyawa.

Jenara menggeleng pelan, matanya terasa panas.

“Keterlaluan sekali! Wanita ini tidak hanya menyengsarakan anak-anak, tapi juga menghancurkan satu-satunya sumber pangan rumah ini," rutuk Jenara.

Lalu, apa yang harus ia lakukan sekarang?

Jenara berdiri di tengah kebun itu dengan perasaan bingung dan nyaris putus asa. Ia tak peduli dengan hembusan angin sore, yang membawa debu tanah ke rambutnya.

Tanpa sadar, tangan Jenara terangkat, mengusap telinganya. Ini adalah kebiasaan lamanya setiap kali pikirannya kusut. Namun, jemarinya justru menyentuh sesuatu yang dingin dan keras.

Jenara tersentak.

“Anting?"

Ia memegang anting itu perlahan. Batu jadeit hijau pucat, yang berkilau lembut di bawah cahaya matahari.

Mendadak, Jenara teringat bahwa ia memang mengenakan anting ini saat terjadi ledakan di laboratorium. Anting yang merupakan warisan turun-temurun dari keluarga ibunya.

“Kau ikut denganku ke sini?” gumam Jenara tak percaya. Ia tak menyangka antingnya akan ikut bersamanya ke dunia novel.

Belum sempat keterkejutannya mereda, tiba-tiba anting itu terasa hangat. Bukan panas menyakitkan, melainkan hangat seperti telapak tangan seseorang yang menggenggam dengan lembut.

Refleks, Jenara mengusap anting itu, dan detik berikutnya kilatan hijau terang memancar keluar. Cahaya itu berpendar memantul ke depan, membentuk garis, lalu perlahan melebar menjadi kotak persegi panjang. Sementara di bagian depan ada sebuah pintu yang berdiri tegak.

Angin berhenti. Suara serangga lenyap.

Cahaya itu membesar dari segala sisi, hingga mengelilingi tubuh Jenara sepenuhnya.

“Ah—!”

Kepala Jenara mendadak pusing. Tanah di bawah kakinya seakan bergoyang-goyang. Dunia berputar spiral dan berangsur gelap.

Saat pandangannya kembali jernih, Jenara mendapati dirinya berdiri di sebuah ruang asing berwarna hijau.

Dindingnya berkilau seperti warna daun muda bercampur embun pagi. Anehnya, udara di ruangan ini terasa segar, bagaikan dikelilingi tanaman dan pohon-pohon rimbun.

Ketika Jenara sedang berusaha memahami apa yang terjadi, di hadapannya, berdiri seorang lelaki tua berwajah teduh. Lelaki itu mengenakan jubah hijau panjang, rambut dan janggutnya sudah memutih.

“Jenara, jangan takut." Suaranya bergema penuh wibawa, seperti berasal dari dimensi lain.

Jenara mundur setapak, jantungnya berdegup kencang.

“A-apa ini? Di mana aku?”

“Ini adalah Ruang Wiji. Ruang kehidupan. Ruang benih," jawab pria itu.

Pria tua itu kemudian mengangkat tangannya, dan di sekeliling mereka tampak rak-rak kayu yang tersusun rapi.

“Di sini kau bisa menyimpan bahan makanan dan menanam apa pun. Semua yang kau tanam akan tumbuh dalam waktu cepat. Lihat, di sebelah sana ada lahan yang sangat subur," tunjuk pria tua itu ke arah halaman.

Jenara menelan ludah. Di luar pintu, ia bisa melihat lahan siap pakai yang entah dari mana asalnya.

“K-kakek siapa?” tanya Jenara tergagap.

“Aku bernama Po Wija Nandar, ”jawabnya. “Seorang ahli tanaman dan pangan yang dahulu menjadi kepercayaan raja di zamanku.”

Mata Jenara membesar.

“Kau adalah keturunanku dalam garis ketujuh,” lanjut Po Wija Nandar dengan suara tenang. “Dan kau, Jenara, adalah yang terpilih untuk meneruskan tugas ini.”

“Tidak! Ini mustahil,” bisik Jenara, menggeleng cepat. “Aku pasti bermimpi. Aku tidak—”

“Bukankah saat ini kau sedang membutuhkan bahan makanan?” potong sang kakek lembut.

Jenara terdiam.

Po Wija menunjuk ke salah satu rak. “Ada dua bahan yang tersedia di awal. Selebihnya, kau harus menanam sendiri.”

Dengan langkah ragu, Jenara pun berjalan mendekat. Di rak kayu tersebut terletak umbi ganyong segar yang berkulit cokelat, serta beberapa lobak putih yang masih berembun. Keduanya seakan baru dicabut dari tanah subur.

Mata Jenara berbinar. Tangannya gemetar saat menyentuh dua bahan makanan itu.

“Bolehkah saya membawanya pergi, Kakek?"

“Tentu saja,” jawab Po Wija sambil tersenyum.

"Pakailah untuk memberi makan anak-anak. Jika kau ingin keluar dari Ruang Wiji, usap salah satu antingmu dua kali.”

“Jadi, ruangan ini bisa muncul dan hilang sendiri?” tanya Jenara cepat.

“Benar. Saat kau membutuhkannya, usap lagi dua kali. Kau bisa menanam apa pun dengan hanya menyebutkan nama tanamannya. Tapi, ingat rawat baik-baik dan pergunakan untuk menolong orang."

Meski belum terlalu memahami penjelasan sang kakek, Jenara menggenggam umbi dan lobak itu erat. Dadanya hangat oleh rasa haru.

“Terima kasih, Kek. Anak-anak sudah menungguku.”

Po Wija mengangguk pelan. “Semoga kau berhasil, Jenara.”

Sosok itu memudar perlahan.

Setelah Po Wija menghilang, Jenara mengusap antingnya dua kali. Dan tiba-tiba, ia sudah kembali berdiri di kebun belakang rumah. Tidak ada lagi ruang berwarna hijau yang membuatnya takut sekaligus penasaran.

"Apa aku benar-benar mendapatkan ruang ajaib dari Kakek Moyangku?" gumam Jenara masih tak percaya

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!