Salma Tanudjaja mengerjapkan matanya berkali-kali, menatap kalender di atas meja belajarnya dengan tatapan kosong. Di sana tertera tanggal yang begitu jelas: 3 Januari 2025.
Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia benar-benar kembali! Ia kembali ke masa saat usianya masih lima belas tahun!
Saat itu, Manda Tanudjaja belum berhasil membunuhnya. Wanita ular itu belum sempat mencuri identitasnya untuk masuk ke Universitas Indonesia lewat jalur gelap. Di masa ini, keluarga Tanudjaja masih utuh.
Kejayaan mereka belum dirampas oleh Riko dan Manda. Kakek, Nenek, Papa, dan Mama masih ada di sini. Mereka belum diusir dari rumah sendiri, belum dipaksa menggelandang di jalanan, apalagi sampai berakhir tragis dengan bunuh diri tanpa ada yang mengurus jenazah mereka.
Semua belum terlambat.
Tanudjaja masih milik mereka, dan Salma masihlah Salma yang asli!
Salma menghapus air matanya dengan kasar, lalu berdiri dan melangkah turun. Jika Tuhan memberinya kesempatan kedua, ia bersumpah akan menjaga semua yang menjadi haknya. Ia akan memastikan Riko dan Manda membayar setiap tetes darah dan air mata yang pernah tumpah di kehidupan sebelumnya.
"Salma, kamu sudah mendingan? Sudah tidak pusing lagi?"
Begitu Salma sampai di lantai bawah, Manda langsung berdiri dan menghampirinya. Senyumnya tampak begitu tulus, tapi Salma bisa melihat binar kepuasan yang tersembunyi jauh di balik matanya. Sebuah ejekan yang dulu tak pernah Salma sadari.
"Cuma sakit kecil, tidak akan bikin mati," jawab Salma dingin. Ia melangkah melewati Manda begitu saja menuju dapur.
Salma merutuki dirinya sendiri. Di kehidupan lalu, ia pasti sudah buta karena menganggap Manda benar-benar tulus menyayanginya.
Manda tertegun sejenak. Ia merasa ada yang berbeda dari Salma, tapi tidak bisa menjelaskan apa itu. Namun, ia segera menepis pikiran tersebut.
Baginya, Salma hanyalah gadis bodoh yang emosional. Mana mungkin Salma tahu rencana-rencananya?
Manda kembali memasang wajah penuh perhatian yang memuakkan. "Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa. Kakak sampai ketakutan setengah mati semalam."
Salma yang memunggungi Manda menyeringai sinis. Ketakutan? Mungkin Manda justru sedang berpesta di dalam kepalanya, merencanakan cara baru untuk menyingkirkannya.
Kemarin, Salma demam tinggi setelah kehujanan di bawah badai. Penyebabnya sepele namun menyakitkan: Manda memecahkan guci keramik biru-putih favorit Papanya, lalu menangis tersedu-sedu, mengaku takut akan diusir dari keluarga Tanudjaja.
Salma yang bodoh langsung pasang badan dan mengaku bahwa dialah yang memecahkannya. Setelah dimarahi habis-habisan oleh Papanya, karena kesal ia lari keluar rumah, berdiri ditengah hujan badai dan jatuh sakit.
Dulu, ia sama sekali tidak tahu bahwa semua itu adalah skenario yang disusun rapi oleh Manda. Sekarang, setelah semua rahasia terbuka, ia menyadari betapa tololnya dirinya saat itu.
"Oh iya, Salma. Ini Kakak tadi pagi bantu Bi Surti bikin pancake pisang. Cobain, yuk," kata Manda sambil mengeluarkan piring berisi dua potong pancake dari kulkas dan menyodorkannya ke hadapan Salma.
Melihat makanan itu, mata Salma berkilat dingin. Seluruh keluarga Tanudjaja tahu bahwa ia memiliki alergi parah terhadap pisang. Menyentuhnya sedikit saja bisa membuatnya sesak napas.
Tapi Manda justru menyuruhnya makan? Apa tujuannya?
Ah, ia ingat! Besok adalah hari ulang tahun Manda.
Di kehidupan sebelumnya, Salma memakan pancake ini karena ingin menghargai "kebaikan" kakaknya. Hasilnya? Wajahnya bengkak, ia jadi bahan tertawaan teman-teman sekolah selama satu semester, dan hubungannya dengan orang tuanya semakin renggang.
Karena mereka menganggap Salma sengaja mencari perhatian di hari penting kakaknya.
Manda, dulu aku memang bodoh. Tapi sekarang, jangan harap aku mau jadi pajangan di pestamu!
Salma berbalik dan tersenyum manis. "Kakak baik banget sih sama aku."
"Kamu kan adikku satu-satunya. Kalau bukan Kakak yang baik sama kamu, siapa lagi?" Manda mencubit pipi Salma dengan gemas.
Salma menahan dorongan untuk menepis tangan itu. Ia menerima piring tersebut. "Kelihatannya enak banget."
Ia membawa piring itu ke ruang tengah. Kebetulan, Seno Tanudjaja, Papanya, baru saja turun dari lantai atas. Bi Surti juga sedang sibuk membersihkan lemari pajangan di sana.
Begitu Papanya melihat ke arahnya, Salma langsung mengambil satu sendok kecil pancake dan memasukkannya ke mulut. "Bi Surti, Kak Manda, masakan kalian juara! Aku belum pernah makan pancake pisang seenak ini!"
Mendengar kata "pisang", wajah Seno dan Bi Surti langsung pucat pasi.
Bi Surti menjatuhkan lap kainnya dan berlari kencang merebut piring dari tangan Salma. "Non! Non tidak boleh makan pisang! Cepat muntahkan!"
Salma memasang wajah terkejut yang dibuat-buat, lalu merengek manja. "Bi, aku mau makan! Ini kan Kak Manda dan Bibi yang sudah capek-capek bikin buat aku tadi pagi..."
Masa aku tidak boleh makan? Aku mau!"
Seno sudah berdiri di depan Salma dengan wajah merah padam. "Siapa yang menyuruhmu makan pisang?!"
Salma tampak gemetar ketakutan. "Kak Manda bilang... ini dibuat khusus untukku sebagai hadiah karena aku baru sembuh..."
Seno meledak dalam amarah. "Manda! Sini kamu!"
Manda yang masih di dapur tersentak. Berdasarkan sifat asli Salma, bukankah seharusnya gadis itu tetap nekat makan dan memilih bungkam daripada mengadu?
Kenapa sekarang dia malah menyebut namanya?
Manda sangat takut pada Seno, Papa angkatnya. Ia melangkah keluar dengan kaki gemetar. "Papa... ada apa?"
"Apa benar kamu yang memberikan pancake ini pada Salma?" suara Seno sedikit melunak saat menatap Manda yang tampak lugu, tapi kemarahan masih tersisa di matanya.
Manda menunduk, matanya berkilat kebencian. Sialan, Salma benar-benar mengkhianatinya! Namun otaknya bekerja cepat.
Ia mendongak dengan wajah memelas. "Salma kan sakit seharian, aku cuma takut dia kelaparan, jadi aku..."
"Bi Surti, bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah Kakek sudah berpesan jangan pernah ada pisang di rumah ini?" tanya Seno dengan nada menginterogasi.
Sebelum Bi Surti membela diri, Salma segera memeluk lengan Seno. "Papa, jangan marah. Mungkin Kakak lupa kalau aku alergi."
Ini salahku juga karena terlalu senang diberi makanan oleh Kakak sampai lupa diri. Papa jangan marah lagi ya, pliss?"
Seno terpaku. Biasanya, Salma hanya tahu cara membantah dan membuatnya naik pitam. Ia tidak pernah bersikap lembut dan manja seperti ini.
"Papa... soal guci kemarin, aku benar-benar minta maaf. Aku salah, Papa maafkan aku ya?" Salma menatap Papanya dengan mata bulat yang berkaca-kaca.
Sebagai anak kandung satu-satunya, Salma sebenarnya adalah permata di hati Seno. Begitu melihat putrinya meminta maaf dengan tulus, kemarahannya langsung luruh.
"Ya sudah, yang penting kamu tahu salahmu. Jangan diulangi lagi," kata Seno, mencoba terdengar tegas meski hatinya berbunga-bunga.
"Siap, Bos!" Salma melakukan hormat gerak ala tentara.
Melihat kerutan di wajah Papanya yang mulai menua, hati Salma berdenyut perih. Betapa jahatnya ia dulu karena terus-menerus menyakiti hati orang tua yang begitu mencintainya.
Di kehidupan ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh keluarganya!
Di sudut ruangan, Manda merasa merinding. Mengapa tatapan Salma barusan terasa begitu penuh kebencian? Tidak, itu tidak mungkin.
Salma terlalu bodoh untuk menyadari apa pun, pikirnya menenangkan diri.
Tiba-tiba, reaksi alergi mulai muncul. Salma segera berlari ke kamar mandi, memuntahkan semua isi perutnya. Memang terasa menyakitkan, tapi ini adalah harga kecil yang harus ia bayar untuk mulai menghancurkan reputasi Manda.
Seno panik bukan main. "Cepat panggil Dokter Heru!" teriaknya pada pelayan, lalu ia beralih ke Manda dengan nada keras.
"Semua orang di rumah ini tahu Salma alergi pisang! Bagaimana mungkin kamu bisa seceroboh itu?!"
Mendengar Manda dimarahi, Salma tersenyum di balik pintu kamar mandi. Manda, rasakan itu.
Dokter Heru Pramono, dokter kepercayaan keluarga, tiba saat Salma sudah terbaring lemas di tempat tidur. Ruam merah mulai muncul di leher dan lengannya.
"Duh, Salma... sudah tahu nggak bisa makan pisang kok ya nekat? Cari penyakit namanya," omel Dokter Heru sambil memeriksa kondisi Salma dengan prihatin.
Salma memasang wajah paling menyedihkan. "Kak Manda bilang dia bikin khusus buat aku, Om. Aku nggak enak nolak kebaikan Kakak. Lagian aku bingung, bukannya Papa udah ngelarang ada pisang di rumah ya..."
Alis Dokter Heru bertaut. "Sudah, nanti Om kasih obat. Diminum ya. Ingat, jangan sentuh pisang lagi. Bahaya."
"Iya, Om. Salma janji."
Begitu Dokter Heru keluar kamar, ekspresi menyedihkan di wajah Salma lenyap seketika.
Dokter Heru adalah sahabat Seno sejak kecil. Dia sudah seperti paman sendiri bagi Salma. Mengadu padanya jauh lebih efektif daripada mengadu langsung ke Papa. Ucapan Dokter Heru akan lebih didengar oleh Seno dan akan menanamkan benih keraguan tentang "ketulusan" Manda di benak Papanya.
Benar saja, begitu keluar kamar, Dokter Heru langsung menemui Seno. Salma tersenyum puas di balik selimut. Misi pertama: Sukses.
Keesokan harinya, pesta ulang tahun Manda dirayakan dengan sangat mewah di taman kediaman Tanudjaja.
Salma turun ke taman dengan gaun sederhana berwarna pastel. Wajahnya masih sedikit pucat akibat alergi kemarin, tapi justru memberinya kesan kecantikan yang rapuh dan murni, seperti porselen.
Melly Gunawan, sahabat sekaligus pengikut setia Manda, langsung menghampiri Salma dengan nada sinis. "Eh, Salma. Hari ini Manda ulang tahun, kamu telat datang malah pakai baju pucat begitu."
Mau bikin malu Manda ya? Dasar, mentang-mentang anak kedua."
Melly sengaja menekankan kata "anak kedua" untuk mengingatkan orang-orang bahwa Manda-lah sang kakak yang lebih berkuasa.
Salma menatap Melly dengan remeh. "Kemarin Kakak tidak sengaja memberiku pisang sampai aku alergi parah. Apa maksud ucapanmu barusan?"
Mau memprovokasi agar aku menyalahkan Kakakku sendiri?"
Seketika, perhatian orang-orang tertuju pada mereka.
Melly gugap. "Kamu bohong! Kamu kan memang suka cari perhatian."
"Untuk apa aku cari perhatian dengan membuat wajahku bengkak karena alergi? Melly, jangan sok tahu urusan keluarga kami kalau kamu tidak mau dianggap tidak berpendidikan," balas Salma telak.
Manda yang melihat situasi mulai tidak terkendali segera menghampiri. Ia merangkul Salma dengan gaya kakak yang penyayang. "Salma, kamu sudah baikan? Maaf ya soal kemarin, aku benar-benar tidak sengaja."
Salma menekan rasa mualnya dirangkul Manda. "Tidak apa-apa, Kak. Aku tahu Kakak tidak mungkin sengaja ingin mencelakaiku, kan?"
Manda terdiam, senyumnya terasa kaku.
Di tengah keramaian itu, Salma merasakan seseorang menatapnya. Ia menoleh dan seketika dunianya seolah berhenti berputar.
Seorang pemuda berdiri tak jauh darinya. Rambutnya agak gondrong menutupi dahi, memakai kacamata bingkai hitam tebal, dan pakaian yang terlihat sangat kuno untuk ukuran pesta elit.
Dia terlihat seperti kutu buku yang culun.
Tapi Salma mengenalinya. Sangat mengenalnya.
Dia adalah Aksa Abhimana.
Di kehidupan sebelumnya, saat orang tua Salma bunuh diri, saat Riko dan Manda menolak mengurus jenazah mereka, Aksa-lah orang yang secara diam-diam mengurus pemakaman orang tuanya dengan layak.
"Wajah kamu pucat banget. Kamu sakit?" tanya Aksa dengan suara bariton yang lembut.
Salma tak kuasa menahan air matanya. Air mata itu jatuh begitu saja. Aksa panik, ia segera menyodorkan sapu tangan.
"Eh, kenapa kamu nangis? Aku salah ngomong ya?"
Salma tertawa di balik tangisnya. "Iya, kamu salah ngomong! Sebagai gantinya, kamj harus traktir aku makan!"
Aksa tertegun, lalu seulas senyum tipis muncul di wajahnya. "Ya udah."
Melly yang melihat kedekatan mereka segera berbisik pada Manda. Manda pun tersenyum licik. Ia merasa Salma memang cocok dengan pemuda culun seperti Aksa.
Untuk mempermalukan Salma, Melly naik ke panggung dan mengumumkan permainan dansa. "Ayo semuanya, kita main! Silakan berdansa sama orang yang berdiri paling dekat sama kalian sekarang!"
Melly sengaja melakukan ini karena ia merasa Aksa tidak mungkin bisa berdansa. Ia ingin melihat Salma dipermalukan di depan umum.
Aksa menatap Salma. "Kamu takut?"
Salma tersenyum penuh arti. Ia tahu, di balik penampilan culun ini, Aksa adalah sosok yang luar biasa hebat. "Aku justru takut kaki kamu bengkak gara-gara keinjek Aku."
"Gampang, nanti Aku kompres pakai es batu," balas Aksa santai.
Salma melangkah mantap bersama Aksa menuju tengah lantai dansa, mengabaikan tatapan meremehkan dari para tamu yang menunggu tontonan memalukan.
Musik mulai mengalun. Dengan gerakan yang sangat sopan dan elegan, Aksa mengulurkan tangannya, mengundang Salma untuk berdansa.
Salma menyambutnya dengan senyum tipis.
Begitu tangan mereka bertaut, keduanya berputar dengan ritme yang begitu pas, seolah-olah mereka sudah berlatih ribuan kali.
Di antara empat pasangan lainnya, Salma dan Aksa yang awalnya dianggap paling "asing" justru terlihat seperti sepasang angsa di antara kerumunan bebek.
Gerakan mereka begitu mengalir, indah, dan penuh penjiwaan.
Orang-orang yang tadinya berniat mengejek perlahan-lahan terdiam, mata mereka membelalak tidak percaya.
Sosok Aksa yang berpakaian kuno dan Salma yang tampak pucat mendadak terlihat seperti pangeran dan putri yang sedang menari di sebuah pesta kerajaan.
Begitu musik berakhir, tepuk tangan meriah membahana di seluruh taman.
Manda dan Melly Gunawan terpaku. Kepalan tangan Manda mengeras hingga kuku-kukunya memutih.
Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa si pecundang Aksa dan si pemberontak Salma menari seindah itu?
Rasa iri membakar hati Manda saat mendengar bisikan-bisikan pujian dari teman-teman sekolah mereka.
"Gila, chemistry Salma sama Aksa keren banget!"
"Ternyata Aksa kalau lagi dansa kelihatan ganteng ya?"
"Salma cantik banget malam ini, auranya beda."
Salma menangkap ekspresi kesal yang berusaha disembunyikan Manda. Ia merasa sangat puas.
Saat Manda datang mendekat untuk memeluknya dengan sandiwara "kakak yang bangga", Salma berbisik tepat di telinganya dengan nada mengejek.
"Kak, makasih ya sudah kasih aku panggung di acara ulang tahunmu sendiri. Aku senang banget."
Wajah Manda menegang, tapi karena Papa Seno ada di dekat mereka, ia hanya bisa memaksakan senyum manis meski hatinya meradang.
"Ayah, Salma dan Aksa serasi sekali ya? Sepertinya hubungan mereka di sekolah memang sangat dekat," pancing Manda, mencoba menggiring opini ayahnya ke arah isu pacaran di bawah umur.
Salma langsung menggelayut manja di lengan Papa Seno sebelum ayahnya sempat mengerutkan kening.
"Pa, tadi aku takut banget bakal nginjek kakinya Aksa. Makanya aku sempat ragu mau dansa, tapi nggak enak kalau nolak di acara Kak Manda. Untung aja dia jago."
Papa Seno tertawa kecil, rasa curiganya menguap begitu saja melihat tingkah manja putri kandungnya.
"Kamu ini, bisa saja. Sejak kapan kamu belajar dansa sehebat itu? Katanya nggak suka?"
"Hehe, itu kejutan buat ulang tahun Papa nanti, tapi malah ketahuan duluan di sini karena disuruh Kak Manda," jawab Salma berbohong kecil.
Tidak mungkin ia bilang bahwa ia belajar semua itu saat menjadi roh yang gentayangan di kehidupan sebelumnya.
Setelah merasa cukup membuat Manda kepanasan, Salma pamit untuk beristirahat di kamar dengan alasan masih pusing akibat alergi kemarin.
Ia menolak tawaran Manda yang ingin mengantarnya, karena ia ingat betul di kehidupan lalu, Manda sengaja membuatnya terjatuh di tangga dan menyalahkannya di depan semua orang.
Dua hari kemudian, Salma kembali menginjakkan kaki di Citra Bangsa Global High School.
Suasana sekolah masih sama, tapi ada yang berbeda dari penampilannya. Salma kini mengenakan seragam dengan rapi, rambutnya tertata, tak lagi bergaya ala preman sekolah seperti biasanya.
"Eh, itu Salma? Dia pakai seragam beneran?"
"Katanya sih dia beneran jadian sama si kutu buku Aksa, makanya jadi tobat."
Salma hanya tersenyum dingin mendengar gosip itu. Begitu melihat dua siswi yang asyik berbisik-bisik sambil menunjuknya, Salma berhenti tepat di depan mereka.
"Permisi, teman-teman," suara Salma terdengar lembut namun menusuk.
"Aku cuma mau tanya, sejak kapan kalian jadi peramal? Aku sendiri saja belum tahu kalau aku pacaran, kok kalian sudah tahu?"
Tatapan Salma mendadak menjadi tajam dan dingin, membuat kedua siswi itu bergidik ngeri.
"Lain kali, sebelum bicara, pastikan lidah kalian tidak membawa masalah.
Aku tidak segan membuat kalian keluar dari sekolah ini kalau masih hobi menyebar fitnah."
Salma melenggang pergi, meninggalkan mereka yang mematung ketakutan.
Masuk ke kelas XI-7, suasana yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap. Salma duduk di bangkunya, membuka buku pelajaran dengan tenang.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Bagas, siswa yang duduk di belakangnya, mulai memprovokasi.
"Wuih, Salma sekarang akting jadi anak rajin? Capek nggak sih pura-pura? Mending jadi anak mami kayak Manda atau tetap jadi preman?" ejek Bagas, disambut tawa teman-temannya.
"Atau memang benar ini karena selera kamu sekarang cuma sekelas Aksa si cupu?"
Aksa, yang duduk tak jauh dari sana, tiba-tiba berdiri. Tubuhnya gemetar, tapi ia menatap Bagas dengan penuh keberanian.
"K-kalian... tidak pantas bicara begitu tentang Salma!"
"Wah, pahlawan kesiangan datang! Berani lo sama gue, cupu?" Bagas berdiri, menantang dengan kepalan tangan terangkat.
Sebelum kepalan tangan Bagas mengenai Aksa, Salma sudah lebih dulu melompat berdiri.
Dengan kecepatan yang mengejutkan, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Bagas.
Cengkeramannya begitu kuat hingga Bagas meringis kesakitan.
"Bagas, sepertinya kamu lupa gosok gigi pagi ini. Bau mulutmu... ah tidak, bau sampah dari kata-katamu ini benar-benar bikin mual," sindir Salma pedas.
Seluruh kelas melongo. Bagas yang badannya jauh lebih besar tidak bisa bergerak sedikit pun.
Salma kemudian menyeret Bagas keluar menuju koridor, di mana banyak siswa kelas lain sedang berkumpul sebelum bel masuk.
"Minta maaf," tuntut Salma dingin.
"Nggak mau! Lepasin gue, gila!" teriak Bagas malu karena ditonton banyak orang.
Tepat saat itu, Manda muncul dengan "pasukan pelindungnya".
Ia melangkah mendekat dengan wajah penuh keprihatinan yang dibuat-buat.
"Salma, astaga! Lepasin Bagas. Ini sekolah, jangan bikin keributan lagi. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik," ujar Manda lembut, mencoba mengambil peran sebagai penengah yang bijak.
Salma tidak melepaskan Bagas, melainkan justru membiarkan air matanya jatuh, akting yang sempurna.
"Kak, kenapa Kakak selalu menyalahkanku tanpa tanya dulu? Bagas menghinaku dan Aksa di depan semua orang dengan kata-kata kasar.
Aku cuma minta dia minta maaf karena aku merasa sangat terluka. Apa salah kalau aku membela harga diriku?"
Manda tertegun. Ia tidak menyangka Salma akan membalasnya dengan cara yang sama, bermain peran sebagai korban.
Aksa pun maju memberikan kesaksian, diikuti beberapa siswa lain yang memang tidak suka dengan sifat sombong Bagas.
"B-benar, Bagas yang m-mulai duluan," bela Aksa.
Manda terpojok. Ia harus menjaga citranya di depan umum.
Akhirnya, ia berbalik menatap Bagas dengan tegas yang dipaksakan. "Bagas, kalau memang kamu salah bicara, sebaiknya minta maaf pada adikku."
Bagas yang ketakutan melihat sorot mata Salma yang sebenarnya sangat dingin di balik air mata itu, akhirnya menunduk.
"Oke, gue minta maaf, Sal. Gue tadi cuma bercanda."
"Minta maaf itu harus tulus, bukan karena terpaksa," potong Salma sambil menyeka air mata, suaranya kembali tegar.
Ia menatap kerumunan siswa. "Aku tidak akan mentoleransi siapapun yang mencoba menginjak-injakku lagi.
Dan kalian," ia menunjuk Melly dan pengikut Manda lainnya, "jangan jadi 'anjing penjaga' yang cuma bisa menggonggong tanpa tahu masalah aslinya."
Mendengar itu Melly spontan meradang. "Salma, jaga bicaramu! Manda itu sayang banget sama kamu, jangan kurang ajar!"
Salma tersenyum manis pada Manda. "Aku tahu Kak Manda sayang aku. Makanya, Kakak nggak akan keberatan kan kalau aku bilang ke orang-orang kalau teman-teman Kakak ini justru yang sering mengadu domba kita? Mereka sering bilang Kakak benci aku di belakangku."
Wajah Manda menjadi pucat pasi. Ia terpaksa memeluk Salma dan berkata, "Tentu saja, Sayang. Mereka hanya salah paham."
Dalam hati, Manda ingin sekali mencekik Salma saat itu juga.
Salma kemudian berbalik pada Aksa, "Aksa, nanti pulang sekolah tunggu aku ya. Kita ada janji makan, kan?"
Aksa mengangguk pelan dengan rona merah di pipinya.
Mata Aksa berbinar sesaat, sebuah kilatan emosi yang nyaris tak tertangkap mata sebelum akhirnya kembali ke ekspresi datarnya yang biasa.
"Oke," jawabnya singkat.
Salma memutar tubuhnya, kembali menatap Manda yang masih berdiri di sana dengan wajah penuh keprihatinan palsu.
"Kak, aku cuma berharap Kakak bisa lebih percaya sama aku daripada sekadar dengerin gosip di luar sana. Aku cuma punya Kakak sebagai saudara perempuan di dunia ini. Kalau Kakak sendiri juga salah paham sama aku... rasanya hidupku jadi gelap banget."
Kalimat itu diucapkan dengan nada menggantung, penuh makna tersirat. Orang-orang di sekitar mulai berbisik, mengaitkan kata-katanya dengan status keluarga mereka.
Mereka semakin yakin bahwa Manda hanyalah anak angkat, sementara Salma adalah putri kandung tunggal Keluarga Tanudjaja yang sebenarnya.
Manda merasakan gelombang kemarahan yang meluap di dadanya karena sindiran halus Salma.
Namun, ia hanya bisa menelan kekesalan itu bulat-bulat. Ia tahu betul posisi Salma di mata Papa Seno.
Di rumah itu, sejatinya hanya Salma yang merupakan darah daging Tanudjaja.
Manda merasa setiap hari ia harus berjalan di atas kulit telur demi menyenangkan Salma, sebuah kenyataan yang membuatnya muak.
Karena itulah, ia selalu menggunakan tangan orang lain untuk membuat hidup Salma menderita.
"Salma, kamu salah paham," Manda kembali memasang wajah melow yang sanggup mengundang simpati siapapun yang melihatnya.
"Aku cuma panik karena nggak mau kamu kenapa-napa. Makanya aku buru-buru pengen nyelesain masalah ini, bukan karena dengerin gosip. Kalau kamu nggak suka, ke depannya aku nggak akan ikut campur lagi. Jangan marah ya?"
Lihatlah! Mulai lagi aktingnya, batin Salma mencibir.
Manda benar-benar pantas mendapatkan piala Oscar atas kemampuan aktingnya yang bisa berubah dalam sekejap.
Jika bukan karena sudah pernah mati sekali, Salma tak akan pernah menyangka betapa busuk hati yang tersembunyi di balik wajah malaikat itu.
"Aku nggak marah, Kak. Aku cuma sedih. Aku nggak akan pernah bisa marah sama Kakak karena Kakak saudaraku, tapi pas Kakak nggak percaya sama omonganku, rasanya hatiku kayak diiris-iris. Aku peduli banget sama pendapat Kakak tentang aku," balas Salma. Akting jadi orang tertindas? Siapa takut?
Manda terpaku, tak tahu harus menjawab apa.
Biasanya Salma akan meledak-ledak karena harga dirinya yang tinggi dan tak pernah sudi menjelaskan apa pun.
Namun, sekarang? Salma terasa begitu asing. Sifat manja dan angkuhnya seolah lenyap, berganti dengan sosok yang tenang namun sulit ditebak.
Bel masuk berbunyi nyaring, memutus ketegangan di koridor.
Manda menghela napas lega; entah kenapa ia mulai merasa sedikit ngeri menghadapi Salma yang sekarang. "Ya sudah, yuk masuk kelas. Sisanya kita obrolin lagi pas pulang sekolah nanti, ya?"
Salma mengangguk kecil dan melangkah masuk ke kelas XI-7. Aksa mengikuti dari belakang. Di balik kacamata tebalnya, tatapan Aksa sempat melembut saat menatap punggung Salma.
Namun, seketika berubah menjadi sedingin es saat melirik Manda dan kelompok pemujanya.
Di dalam kelas, Melly Gunawan yang melihat Manda tampak murung segera berbisik menghasut, "Manda, tenang aja. Nanti biar aku yang kasih dia pelajaran. Berani-beraninya dia nyudutin kamu kayak tadi? Padahal dia yang salah, eh malah kamu yang minta maaf. Benar-benar nggak tahu diri."
"Melly, sudahlah. Jangan ganggu dia lagi," sahut Manda dengan senyum dipaksakan. "Sebagai kakak, aku emang harus banyak ngalah. Lagipula tadi aku emang salah karena langsung nuduh dia tanpa nanya dulu."
"Kamu itu terlalu baik! Kalau bukan karena dia tukang cari gara-gara, mana mungkin Bagas dan yang lain mau nyerang dia? Aku baru sadar ternyata Salma punya sisi licik juga ya, pakai nangis segala biar kelihatan lemah. Najis banget lihatnya," gerutu Melly.
Salma yang duduk dua baris dari mereka tiba-tiba tersentak.
Ia bisa mendengar setiap kata, bahkan bisikan paling pelan dari Melly dan Manda, seolah-olah mereka berbicara tepat di telinganya. Kenapa pendengaranku jadi setajam ini? Apakah ini efek samping dari reinkarnasi?
Salma memutuskan untuk tidak ambil pusing dulu.
Kekuatan baru ini justru akan menjadi senjatanya untuk menghancurkan Manda secara perlahan.
Ia ingin Manda kehilangan semuanya, termasuk persahabatan palsu yang ia bangun di sekolah ini.
Jam istirahat siang tiba.
Kelas XI-7 mulai sepi saat para siswa berhamburan menuju kantin sekolah yang mewah.
Salma tetap di bangkunya, fokus menyelesaikan soal matematika sulit yang tadi sempat tertunda.
"Salma, yuk ke kantin. Hari ini ada menu favoritmu, nanti keburu habis lho," suara Manda terdengar.
Salma mendongak, matanya berkilat mengejek namun bibirnya tersenyum tipis.
"Kakak duluan aja, aku mau selesein soal ini dulu."
"Barengan aja yuk, belajarnya kan bisa nanti. Makan itu lebih penting, nanti kamu sakit maag," Manda mencoba menarik tangan Salma.
Ia tak suka melihat Salma rajin; baginya, Salma harus tetap menjadi siswi peringkat bawah agar ia tetap terlihat sebagai si jenius di keluarga Tanudjaja.
"Udahlah Manda, palingan cuma akting biar kelihatan pinter. Padahal IQ-nya kan emang jongkok, mau belajar sampai botak pun nggak akan bisa nandingin kamu," celetuk Melly Gunawan yang berdiri di samping Manda.
Salma menutup bukunya dan berdiri perlahan, menatap Melly tepat di matanya.
"Aku heran, Melly. Kita ini nggak ada masalah apa-apa, kan? Kenapa mulutmu selalu pedas kalau ngomongin aku? Apa karena hidupku terlalu sempurna sampai kamu merasa rendah diri? Atau karena wajahku terlalu cantik sampai kamu iri?"
Salma maju selangkah, menekan tensi. "Ada orang bijak bilang, wajah iri itu adalah wajah paling buruk di dunia. Melly, kamu udah ngaca belum hari ini?"
Wajah Melly merah padam.
"Kurang ajar!" teriaknya sambil mengayunkan tangan hendak menampar Salma.
Manda berpura-pura panik dan mencoba melerai.
Namun ia justru sengaja membiarkan dirinya "terdorong" mundur agar bisa menonton Salma dipukuli.
Namun, kenyataannya justru terbalik. Sebelum telapak tangan Melly mendarat di pipinya, Salma dengan sigap menangkap pergelangan tangan Melly.
Cengkeraman Salma begitu kuat. Melly memekik kesakitan, merasa tulang pergelangan tangannya seperti akan remuk. "Aduh! Sakit! Lepasin, Salma!"
"Sakit? Wah, pinter banget ya kamu fitnah orang. Cewek lemah kayak aku mana mungkin bisa nyakitin kamu?" Salma memasang wajah polos. "Melly, selain jago menghasut, ternyata kamu jago juga ya akting jadi korban."
Salma menoleh ke arah Manda dengan mata berkaca-kaca. "Kak, lihat tuh temen Kakak. Dia yang mau mukul aku duluan, pas aku tangkis malah dia yang teriak-teriak nuding aku."
Manda tercengang.
Ia tahu Melly tidak berbohong soal rasa sakitnya, tapi ia tak mengerti darimana Salma mendapatkan kekuatan sebesar itu.
"Salma, lepasin dulu. Mungkin kamu nggak sengaja nariknya terlalu kencang."
Salma melepaskan tangan Melly dengan santai, lalu cemberut seperti anak kecil.
"Kakak selalu aja belain orang lain. Udahlah, aku males!"
Salma menyambar tempat makannya dan berjalan keluar kelas dengan langkah menghentak, meninggalkan Manda dan Melly yang masih syok.
Salma tidak pergi ke kantin.
Ia tahu di sana pasti penuh dengan pemuja Manda yang siap mencibirnya.
Ia lebih memilih pergi ke taman belakang sekolah yang sepi. Ada satu bagian tembok yang agak rendah di sana, tempat ia biasanya membolos dulu.
Namun, saat sampai di sana, ia justru menemukan sosok yang sangat ia kenali sedang bersandar di bawah pohon rindang.
Aksa Abhimana.
"Lho, Aksa? Kok kamu di sini?" tanya Salma heran.
Aksa tampak agak kikuk.
"A-aku tadi lihat kamu jalan ke sini, jadi aku ikutin... takut kamu kenapa-napa."
Salma curiga. Jalannya tadi benar-benar memutar untuk menghindari orang, bagaimana mungkin Aksa bisa tahu? Namun, ia segera menepis pikiran itu. Ia sangat mempercayai Aksa.
"Ini," Aksa menyodorkan sebuah kotak bekal dengan motif kartun lucu di atasnya.
"K-kamu belum makan siang kan? Aku tadi sempet beli di kantin buat kamu."
Salma tertegun melihat menu di dalamnya, semuanya adalah makanan kesukaannya. "Makasih ya, Aksa."
Mereka duduk berdua di bawah pohon. Salma makan dengan lahap, sementara Aksa memperhatikannya dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh kasih.
Sesuatu yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain.
"Hahaha, oke deh Aksa. Pokoknya kalau ada yang berani ganggu kamu lagi, bilang aku ya."
"Aku yang bakal lindungin kamu!" seru Salma penuh semangat.
"Iya, makasih ya," sahut Aksa.
Dalam hati, ia berjanji sebaliknya. Kamu boleh tetap polos, Salma.
Biar aku yang menjadi pedangmu di kegelapan. Siapapun yang menyakitimu, akan kubalas sepuluh kali lipat.
Saat mereka asyik mengobrol, Salma tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang mengintai.
Benar saja, di balik semak-semak tak jauh dari sana, ia melihat Melly Gunawan sedang merekam mereka dengan ponselnya.
Salma tersenyum dingin.
Ia berpamitan pada Aksa dan sengaja berjalan ke arah tempat persembunyian Melly.
Melly yang panik mencoba melarikan diri, namun Salma sudah lebih dulu muncul di depannya bak hantu.
"Keluarin ponselnya," tuntut Salma tanpa ekspresi.
"Maksudmu apa? Jangan mentang-mentang kamu anak Tanudjaja, kamu bisa seenaknya ya!" Melly mencoba menggertak.
Salma langsung menyambar ponsel Melly dari tangannya.
Dengan kekuatannya yang luar biasa, Melly tak berkutik.
Salma membuka galeri dan memutar video rekamannya dengan Aksa tadi.
"Wah, jadi kamu punya hobi jadi pengintip ya, Melly?"
"Menurutmu, kalau video ini dan laporan tentang kamu yang suka menguntit privasi orang sampai ke meja Kepala Sekolah, apa yang bakal terjadi sama reputasi keluarga Gunawan?"
Melly gemetar hebat.
Ia tahu posisi keluarga Tanudjaja di sekolah ini sangat kuat. "Salma, aku... aku cuma bercanda. Tolong jangan laporin aku, aku mohon!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!