Seorang wanita bercadar baru saja turun dari taksi online. Setelah membayar ongkos, ia gegas membawa langkahnya memasuki lobi sebuah gedung pencakar langit di kawasan pusat kota. Gedung megah itu bertuliskan nama sebuah perusahaan besar: PT Al-Malik Group.
Dengan langkah penuh harapan, tangannya menggenggam erat sebuah paper bag berisi kue buatannya sendiri. Aroma vanila dan manis menguar, aroma yang seharusnya menenangkan, namun kini terasa pahit seperti empedu. Ia berniat memperbaiki rumah tangganya dengan Farhan, pria yang berstatus suaminya sejak satu tahun yang lalu.
Rumah tangga yang seharusnya penuh canda dan tawa, kini hanya ditinggalkan oleh dua jiwa yang saling asing, berusaha bertahan di dalam atap yang sama tapi tanpa ada nyawa cinta yang menghidupkannya. Setiap malam, Nafiza selalu bertanya pada dirinya sendiri, “Apa yang salah denganku?”
Cadar yang menutupi sebagian wajahnya berkibar lembut mengikuti langkahnya yang tergesa. Kali ini ia mengenakan gamis berwarna maroon dengan warna cadar yang sama. Ia berharap, setidaknya kali ini Farhan sudi meliriknya, melihatnya sebagai seorang wanita, bukan hanya sebagai beban. Senyum getir terukir di bibirnya saat membayangkan penolakan yang mungkin akan diterimanya nanti. Ia sudah terbiasa, tapi tetap saja sakit.
Nafiza Azzahra dikenal sebagai wanita yang sabar, lembut, dan salehah. Semua orang memuji kesabarannya, tapi tidak ada yang tahu betapa hancurnya ia di dalam.
Ini kali pertama Nafiza mengunjugi sang suami ke tempat kerjanya. Setelah bertanya pada resepsionis di mana ruang suaminya, Nafiza gegas menghampiri. Sesampainya di depan pintu ruang kerja Farhan, ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, menetralkan degup jantungnya yang tak menentu.
Ternyata pintu ruangan itu tidak tertutup rapat. Dari celah kecil, suara tawa centil seorang wanita mengusik ketenangannya. Jantung Nafiza semakin berdebar tak karuan, kali ini bukan karena harapan, tapi karena kecemasan yang mencekam. Ia mencoba menepis pikiran buruk, namun bayangan Farhan dan wanita itu terus berputar di benaknya seperti roller coaster yang rusak.
Dengan keberanian yang tersisa, Nafiza mendorong pintu hingga terbuka lebar. Pemandangan yang menyambutnya membuatnya terhenyak kaget hingga refleks ia mundur selangkah. Harapan yang tadinya sempat tumbuh layu seketika, bagai bunga yang disiram air keras. Farhan dan Riana, sang sekretaris, sedang bermesraan, dengan Riana berada di atas pangkuan Farhan. Tangan mereka saling bertautan mesra, seolah dunia milik mereka berdua.
Paper bag yang ia genggam erat sejak tadi jatuh dengan sendirinya, menghantam lantai dengan suara berdebam. Kue buatannya berhamburan di lantai, menjadi saksi bisu kehancuran hatinya. Aroma manis vanila kini bercampur dengan aroma pengkhianatan yang memuakkan.
Kedua sejoli itu tersentak kaget, wajah Farhan memucat seperti mayat hidup. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia khawatir, reputasinya sebagai Manager akan tercoreng jika masalah pribadinya diketahui oleh para karyawan, apa lagi jika tahu kalau ia punya istri dengan penampilan yang menurutnya kampungan. Sedangkan Riana menyeringai sinis, seolah menikmati drama di hadapannya. Matanya berbinar-binar penuh kemenangan.
"Nafiza? Ngapain kamu ke sini?!" tanya Farhan dingin, berusaha menguasai diri. Ia menatap Nafiza dengan tatapan jijik, seolah melihat sampah yang mengotori ruangannya.
"Aku ... aku ingin mengantarkan kue untuk kamu," jawab Nafiza lirih, matanya berkaca-kaca, menahan air mata yang siap tumpah. Ia berusaha tegar, tidak ingin menunjukkan kelemahannya di depan dua manusia tak tahu malu itu. Harga dirinya sudah cukup terinjak-injak, ia tidak ingin memperburuk keadaan.
Riana bangkit, mendekati Nafiza dengan langkah angkuh seperti seorang ratu yang sedang menghampiri rakyat jelatanya. "Oh, ini istri solehah kamu Mas? Penampilannya cupu banget sih!" sindirnya, suaranya penuh dengan nada merendahkan. Ia menatap Nafiza dari atas sampai bawah, seolah sedang menilai kualitas sebuah barang.
"Pantas saja Mas Farhan nggak betah sama kamu," lanjut Riana dengan tatapan merendahkan. "Farhan itu butuh wanita yang modis dan modern, bukan emak-emak kampungan. Lagipula, dia itu Manager di sini, butuh pendamping yang bisa menunjang karirnya, bukan malah bikin malu!" cibirnya angkuh, bibirnya tertarik membentuk seringai kemenangan.
Nafiza hanya diam, menahan sakit di hatinya seperti menahan bom waktu yang siap meledak kapan saja. Ia memang tidak semodis Riana, ia memang mengenakan cadar, tapi apakah ia pantas diperlakukan seperti ini? Ingin rasanya ia berteriak, memaki, meluapkan semua emosi yang selama ini ia pendam, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
Sedangkan Farhan tetap diam di tempat seperti patung, tanpa ada niat sedikit pun untuk membela Nafiza. Ia justru tampak menikmati pemandangan itu, merasa senang melihat Nafiza dipermalukan.
Farhan merasa inilah saat yang tepat untuk mengakhiri pernikahan yang tidak diinginkannya. Ia sudah lama merasa tertekan dengan pernikahan yang dipaksakan oleh orang tuanya. Ia ingin bebas, dan Riana adalah tiketnya. “Akhirnya, gue bisa bebas dari neraka ini,” batinnya penuh kemenangan.
"Mas Farhan, kenapa kamu diam saja?" lirih Nafiza dengan suara bergetar, menatap lelaki yang berstatus suami itu dengan tatapan terluka, penuh dengan kekecewaan. “Kenapa kamu tega melakukan ini padaku?”
Farhan menghela napas, berdiri dari kursinya, menatap wanita rapuh itu dengan tatapan dingin, tanpa setitik pun kelembutan. "Nafiza, aku yakin kamu tahu jawabannya. Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Kamu bukanlah levelku! Dari awal! Lihatlah dirimu! Dan lihat Riana," ucapnya tegas, menunjuk Riana dengan tatapan kagum.
"Tapi Mas ...," balas Nafiza, dengan sekuat tenaga menahan getaran dalam suaranya. "Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik. Apa itu tidak cukup? Aku sudah melakukan semua yang kamu inginkan."
Farhan menggeleng. "Nafiza, aku tidak bisa memaksakan perasaanku. Aku mencintai Riana, dan aku ingin bersamanya," tegas Farhan, tanpa perasaan, lalu merangkul Riana, menunjukkan kemesraan mereka di hadapan Nafiza, seolah ingin menusuk hatinya dengan pisau berkarat.
Nafiza memalingkan wajahnya, muak melihat pemandangan dua manusia tak tahu malu itu. Tangannya mencengkeram kuat sisi gamisnya. Nafasnya memburu, dadanya sesak. Meskipun ia juga tak mengharapkan pernikahan ini, tapi ia wanita yang paham agama, ia tidak akan mempermainkan sebuah pernikahan, sebagai seorang istri yang sah ia terus berusaha membuka hati untuk mencintai suaminya. Ia yakin, seiring waktu cinta akan tumbuh dengan sendirinya.
Tapi sekarang apa yang terjadi? Di saat ia berjuang keras untuk bertahan, Farhan malah menghancurkannya dengan pengkhianatan. Ia hancur, terluka, dan dipermalukan di saat yang sama. Ia merasa seperti boneka yang dipermainkan.
Keributan di ruangan sang manager itu menarik perhatian para karyawan lain. Mereka mulai berkerumun di depan ruang kerja Farhan, berbisik-bisik seperti segerombolan lebah yang baru saja menemukan sumber madu. Mereka mulai berbisik-bisik, seolah Nafiza-lah pelakunya dan Riana korbannya.
Nafiza merasa terhina dan malu. Reputasinya sebagai istri seorang Project Manager yang seharusnya disegani, kini hancur berkeping-keping menjadi debu. Ia merasa seperti sedang berada di panggung sandiwara, dan semua orang menertawakannya.
Riana yang menyaksikan itu menyeringai licik, lalu berbisik manja pada Farhan. "Sayang, kayaknya ini saat yang tepat buat ngasih pelajaran buat istri cupu kamu ini!"
Bersambung ....
Farhan mengangguk, lalu menatap Nafiza dengan tatapan meremehkan. "Karena kamu sudah di sini, Nafiza Azzahra, sekalian saja aku beritahu di depan semua orang," ucap Farhan Al-Fayyad dengan lantang, sengaja membuat Nafiza malu di depan para karyawan yang semakin berkerumun di depan pintu. Ia merasa seperti seorang raja yang sedang mengumumkan keputusannya kepada rakyatnya. "Nafiza Azzahra, mulai detik ini aku talak tiga kamu! Dan kita selesai!"
Nafiza membeku di tempat seperti patung es. Jantungnya berhenti berdetak. Ia tak menyangka Farhan setega ini padanya, mengucapkan talak di depan banyak orang, mempermalukannya di hadapan khalayak ramai. Kata-kata itu menghantamnya seperti palu godam, menghancurkan semua sisa harapan yang masih ada.
Hatinya porak poranda, kehancurannya dipertontonkan di depan khalayak ramai. Selama ini, ia berusaha menjaga nama baik suaminya, namun Farhan justru menghancurkan segalanya dalam sekejap mata. Ia merasa seperti sedang ditelanjangi di depan umum.
Seolah belum puas, Riana dengan senyum penuh kemenangan melangkah maju dengan penuh percaya diri ke hadapan Nafiza seperti seorang pemenang yang sedang menerima piala. Lalu dengan gerakan cepat seperti kilat, ia menarik cadar yang menutupi wajah Nafiza.
Ia ingin mempermalukan Nafiza lebih jauh lagi, menunjukkan kepada semua orang betapa tidak menariknya istri Farhan. Riana merasa, dengan menyingkirkan Nafiza, posisinya sebagai kekasih Farhan akan semakin kuat, dan ia bisa menjadi istri sang manager. Ia ingin membuktikan kepada semua orang bahwa dirinyalah yang pantas mendampingi Farhan.
Nafiza yang mendapat serangan tiba-tiba refleks berusaha menahan tangan Riana, namun cengkeraman Riana terlalu kuat seperti cengkeraman seekor burung elang yang sedang mencengkeram mangsanya. Ia tidak ingin wajahnya dilihat oleh orang banyak, apa lagi di sini tak hanya karyawan wanita tapi juga ada karyawan laki-laki. Ia merasa harga dirinya sudah diinjak-injak, dan ia tidak ingin kehilangan martabatnya.
Sedetik kemudian pintu lift di ujung lorong terbuka. Seorang pria tampan dengan aura berwibawa, keluar ditemani sang asisten yang tak kalah tampan di sisinya kanannya. Pria itu adalah Zayn Al-Malik, CEO baru dari perusahaan PT Al-Malik Group. Kehadirannya sontak membuat semua orang ketar-ketir seperti daun yang tertiup angin.
Mereka tahu, Zayn adalah anak yang punya perusahaan raksasa ini dan kabarnya ia akan mengambil alih tugas sang ayah yang memilih pensiun. Meskipun masih sangat muda, sosoknya yang tegas dan berkarisma selalu membuat orang segan padanya. Ia seperti singa muda yang siap menerkam siapa saja yang berani mengganggu ketenangannya.
Namun, perhatian Zayn langsung tertuju pada seorang wanita bercadar di tengah kerumunan. Alisnya terangkat, merasa ada yang tak beres dengan situasi di hadapannya saat ini.
kening Zayn semakin berkerut merasa tidak senang dengan pemandangan itu. Ia benci melihat wanita diperlakukan tidak hormat, apalagi di perusahaannya. Ia selalu menjunjung tinggi kesetaraan dan menghormati wanita.
Tepat saat itu, Riana berhasil menarik cadar Nafiza, memperlihatkan wajah cantik Nafiza Azzahra yang selama ini tersembunyi. Zayn berseru dengan nada tegas seperti petir yang menyambar, "Hentikan!"
Semua orang sontak terdiam, namun tatapan mereka tak lepas pada wajah Nafiza yang kini tanpa cadar lagi. Kecantikan alami Nafiza terpancar, mempesona setiap mata yang memandangnya. Kulitnya seputih susu, matanya besar dan teduh, dengan bulu mata lentik yang membingkai wajahnya dengan sempurna. Bibir merah alami, dan hidungnya yang mancung.
Wajahnya memancarkan aura polos dan lembut, namun juga menyimpan kekuatan dan ketegaran, sesuai dengan namanya. Bahkan, beberapa karyawan wanita yang tadinya sinis terhadap Nafiza, kini terdiam kagum tanpa kata.
Farhan melotot tak percaya. Selama setahun menikah, ia enggak pernah sekalipun melihat wajah asli sang istri. Karena di rumah, Nafiza selalu mengenakan cadar, dan bodohnya lagi Farhan tak pernah berniat menyuruhnya untuk membuka cadarnya. Setelah menikah Farhan yang memang sangat terpaksa menikah dengan Nafiza, ia langsung membatasi diri dan sama sekali tak menganggap Nafiza ada, bahkan mereka tidur di kamar yang terpisah.
Perlahan kini penyesalan itu merayapi hatinya, namun terlambat. Ia baru menyadari, betapa bodohnya ia telah menyia-nyiakan wanita secantik dan sebaik Nafiza, dan ia kehilangan kesempatan itu beberapa menit yang lalu.
Riana juga gak kalah tercengang ia tak bisa mengabaikan kenyataan jika di balik penampilan Nafiza yang kampungan itu, menyimpan kecantikan yang alami. Namun rasa kagum itu buru-buru ia tepis, dalam hati ia akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan Farhan, ia tak akan melepaskan farhan yang kini sudah ada di dalam genggamannya.
Zayn melangkah maju, mendekati Nafiza dan Riana. Ia menatap Riana dengan tatapan dingin, membuatnya si empuh gemetar di tempat.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Zayn dengan suara berat, dan tatapannya yang tajam.
Riana hanya membeku di tempat matanya berbinar tak percaya saat melihat secara langsung CEO barunya. "Ternyata sangat tampan lebih tampan dan pastinya berkuasa dari Farhan!" bisik batin Raina penuh kagum.
Farhan berusaha menguasai diri, meskipun hatinya berdebar kencang. Ia tahu, karirnya sebagai Manager juga dipertaruhkan. "Tidak ada apa-apa, Pak Zayn. Ini hanya ... masalah pribadi," jelasnya gugup.
Zayn menatap Farhan dengan tatapan tajamnya "Masalah pribadi yang dipertontonkan di depan umum? Sungguh memalukan," sinis Zayn.
"Terutama, mengingat posisi kamu sebagai Manager di perusahaan ini. Kamu seharusnya memberikan contoh yang baik, bukan malah membuat keributan."
Kemudian, Zayn mengalihkan pandangannya pada Nafiza yang sedang menunduk sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Namun Ia masih bisa melihat kerapuhan wanita di depannya, tubuh Nafiza terlihat sedikit bergetar. Dan entah kenapa Zayn merasa hatinya sakit. Ia membungkuk sedikit, mengambil cadar yang tergeletak di lantai, dan mengulurkannya pada Nafiza.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Zayn dengan nada prihatin, matanya menatap lembut pada Nafiza. Ini adalah pertama kalinya Zayn terpesona pada lawan jenisnya, bukan hanya karena kecantikannya tapi juga ketegaran yang ditunjukan Nafiza. Menurut Zayn ada sesuatu dalam diri Nafiza yang membuatnya merasa ingin melindungi gadis itu.
Nafiza menerima cadar itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa sangat malu saat ini.
"Kamu nggak pantas diperlakukan seperti ini," ucap Zayn lagi, menatap Nafiza dengan tatapan tulus. Ia merasakan ada kekuatan dan kebaikan di balik mata Nafiza yang berkaca-kaca.
Nafiza yang sudah tak tahan lagi, gegas berlari kecil keluar dari ruangan itu tanpa permisi. Zayn hanya menatap punggung Nafiza perlahan menghilang di balik pintu lift.
Kemudian, Zayn berbalik menghadap Farhan dan Riana, tatapannya berubah dingin dan tajam. "Kalian berdua, ikut saya ke ruangan sekarang!" perintah Zayn Al-Malik tegas, lalu berbalik dan melangkah menuju ruangannya. Aura kepemimpinannya terpancar kuat, membuat Farhan dan Riana tidak berani membantah.
Bersambung...
Malam harinya, di kamarnya yang luas dan mewah, Zayn pria dengan kharisma yang mampu membius setiap mata yang memandang, justru terjebak dalam labirin pikirannya sendiri. Sosok wanita bercadar di kantornya tempo hari. Bayangan wajahnya yang hanya tertangkap sekilas, terus menari-nari di benaknya.
Zayn berusaha keras mengusir perasaan asing yang menyeruak dalam hatinya. "Enggak mungkin!" bisiknya pada diri sendiri, menggelengkan kepala seolah ingin menghapus figur Nafiza dari benaknya. "Sadar Zayn, dia masih istri orang?"gumamnya frustasi.
Di usianya yang ke-26, Zayn Al-Malik atau Zayn seperti yang orang-orang kenal adalah seorang workaholic sejati. Dunia bisnis adalah dunianya, dan kesuksesan adalah obsesinya. Urusan asmara? Jauh dari prioritasnya. Bahkan, orang tuanya sudah lelah menjodohkannya. Baginya, belum ada wanita yang mampu menarik perhatiannya lebih dari setumpuk proposal bisnis dengan keuntungan deretan angka miliaran.
Namun, Nafiza berbeda. Ada sesuatu dalam tatapan matanya, dalam caranya membawa diri, yang membuat Zayn merasa tertarik. Rasa penasaran yang kuat tiba-tiba muncul, mendorongnya untuk ingin tahu lebih banyak tentang wanita itu.
"Huff!" Zayn menghela napas berat, bangkit dari tempat tidurnya, dan berjalan menuju balkon kamarnya. Langit malam bertaburan bintang seolah mengejek kegelisahannya. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan harapan yang selama ini terkubur dalam kesibukannya.
"Mungkinkah dia orang yang selama ini gue cari?" bisik Zayn lirih, matanya terpaku pada bintang yang bersinar paling terang di langit. Ia bertekad untuk mencari tahu siapa wanita itu. Statusnya sebagai seorang istri orang? Itu urusan nanti. Yang penting sekarang adalah memenuhi rasa penasarannya.
________&& _______
Di taman yang mulai sepi, Nafiza masih terduduk lesu. Langit malam menjadi saksi bisu air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah dengan sendirinya. Rumah mewah Farhan, yang selama ini menjadi tempat berlindungnya, kini terasa seperti penjara baginya. Ia bukan lagi istrinya, lalu ke mana ia harus pergi?
Derdering ponsel di dalam tas jinjing di pangkuan membuyarkan lamunannya. Dengan ragu ia mengeceknya, ternyata nama Uminya tertera di layar. Dengan jantung berdebar, ia menjawab panggilan itu.
"Assalamualaikum, Umi," sapa Nafiza, berusaha menyembunyikan getaran dalam suaranya. Ia tak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa dan khawatir padanya.
"Walaikumsalam, Naf. Kamu baik-baik saja, Nak? Dari tadi perasaan Umi tidak tenang," tutur Uminya dengan nada khawatir yang kentara.
Nafiza terdiam, menelan ludah dengan susah payah. "Naf, di taman, Umi. Naf ... sudah ditalak Mas Farhan, Umi," akhirnya ia mengakui kenyataan pahit itu.
Terdengar suara terkejut dari seberang telepon. "Apa!? Ditalak!? Bagaimana bisa, Nak? Ceritakan pada Umi." desaknya dengan cemas.
Dengan suara bergetar, Nafiza akhirnya menceritakan semuanya: perselingkuhan Farhan dengan sekretarisnya, hinaan yang ia terima, dan talak yang diucapkan farhan. Ia menceritakan dengan jujur apa adanya.
Uminya terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada menenangkan, "Ya Allah, Nak ... sudah, jangan bersedih lagi ya. Kamu tidak bersalah. Farhan yang tidak pantas untukmu. Sekarang kamu di mana? Biar Abi yang menjemputmu."
Nafiza terharu mendengar kata-kata Uminya. Ia merasa sedikit lega karena keluarganya masih menerimanya, padahal ia sebelumnya sudah menyiapkan mental nya menerima kekecewaan orang tuanya. "Naf, di taman dekat kantor Farhan, Umi. Naf, tidak mau pulang ke rumah itu lagi. Naf bukan istrinya lagi," jawab Nafiza dengan suara yang lebih tenang dan enggan menyebut kata Mas lagi untuk Farhan ia masih menyimpan dendam pada pria itu.
"Iya, Nak. Umi mengerti. Jangan khawatir. Biar Abi menjemputmu di taman, ya. Tetap di sana jangang kemana-mana, nanti pulang ke rumah saja."
"Baik Umi."
Setelah menutup telepon, Nafiza menghela napas panjang. Air matanya masih mengalir, tetapi hatinya sudah sedikit lebih tenang. Ia tahu, ia tidak sendirian. Ia memiliki keluarga yang akan selalu ada untuknya.
Nafiza bangkit dari bangku taman, menunggu kedatangan Abinya. Ia menatap langit malam, berharap badai ini segera berlalu dan pelangi akan menghiasi hidupnya kembali. Ia percaya, Allah tidak akan memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuannya. "Mungkin inilah cobaan yang harus aku cobain!" ocehnya lalu terkekeh pelan mencoba menghibur suasana hatinya yang porak poranda.
Tak lama kemudian, sebuah mobil pribadi bewarna putih berhenti di depan gerbang taman. Nafiza melihat Abinya keluar dari mobil dengan wajah lelah dan khawatir. Gegas ia berlari menghampiri Abinya dan memeluknya erat.
"Abi," panggil Nafiza lirih, air matanya kembali tumpah.
"Sudah, Nak. Jangan menangis lagi. Abi di sini," ucapnya lembut, mengusap punggung sang putri dengan penuh kasih sayang.
Nafiza melepaskan pelukannya, menatap wajah cinta pertamanya dengan tatapan penuh terima kasih. "Terima kasih, Abi," ujarnya tulus.
Abi-nya tersenyum, mengangguk kecil. "Ayo, kita pulang," ajaknya, menggandeng tangan sang putri dengan lembut. Begitulah kasih seorang ayah meskipun putrinya sudah dewasa, tapi baginya tetaplah putri kecilnya yang menggemaskan.
Nafiza dan Abinya berjalan beriringan menuju mobil, meninggalkan taman yang sepi itu. Nafiza tahu, ia harus meninggalkan masa lalunya dan bersiap untuk memulai babak yang baru dengan status yang berbeda kedepannya.
_______&&_______
Sementara itu, di kediaman Farhan Al-fayyad. Farhan mondar-mandir di dalam kamarnya. Penyesalan mulai menghantuinya. Ia tahu, ia telah menyakiti Nafiza, wanita yang selalu sabar dan setia mendampinginya selama setahun ini.
"Apa yang telah kamu lakukan Farhan, kau benar-benar bodoh menyia-nyiakan wanita secantik itu selama ini. Dan sekarang kau bahkan tak punya kesempatan lagi untuk memperbaikinya, semua sudah selesai!" keluhnya pada diri sendiri sambil menjambak rambutnya frustasi.
Namun, bayangan Riana, dengan segala pesona dan kenangan indah yang telah mereka lewati kembali hadir dalam benaknya mengambil alih isi sisi sesalnya. Ia merasa tidak bisa hidup tanpa wanita itu. Ia mencintai Riana, dan ia ingin bersamanya. Tapi di satu sisi ia juga merasa ada yang kurang dalam dirinya.
"Huff!" Farhan menghela napas panjang, bangkit dari kursinya, dan berjalan menuju jendela kamarnya. Langit malam yang gelap mencerminkan kekalutan hatinya. Ia merasa bimbang, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Tiba-tiba ponsel berdering nyaring di atas kasur. Gegas Ia melihat nama ibunya tertera di layar. Dengan enggan, ia menjawab panggilan itu.
"Assalamualaikum, Bu," sapa Farhan dengan nada dingin.
"Walaikumsalam, Farhan. Apa benar kamu sudah menalak istrimu, Nafiza?" tanya ibunya tapa basa basi dengan nada kecewa.
Farhan terdiam sejenak, lalu menjawab dengan jujur, "Iya, Bu. Farhan sudah menalak Nafiza."
"Astaghfirullah, Farhan! Kenapa kamu melakukan itu? Kamu tahu betapa baiknya Nafiza padamu? Kamu sudah menyia-nyiakan wanita sebaik dia!" bentak ibunya dengan nada geram dengan tingkah anak pertamanya itu.
Farhan menghela napas panjang, berusaha membela diri, "Farhan tidak bisa, Bu. Farhan tidak mencintai Nafiza. Farhan mencintai Riana. Ibu tahu itu."
"Riana? Sekretarismu itu? Kamu gila, Farhan! Kamu lebih memilih wanita murahan seperti dia daripada Nafiza istri sah kamu?" bentak ibunya lagi semakin geram.
Farhan terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Ia tahu, ibunya tidak akan pernah menyetujui hubungannya dengan Riana.
"Ibu tidak mau tahu, Farhan. Kamu harus rujuk dengan Nafiza! Kamu harus meminta maaf padanya, dan memperbaiki semuanya! Sebelum kamu menyesal!" perintah ibunya dengan nada tinggi, lalu mematikan telepon secara sepihak.
Farhan menghela napas kasar, melempar ponselnya ke atas kasur. Ia merasa tertekan dengan tuntutan ibunya. Ia ingin bebas, dan ia ingin memilih pendampingnya sendiri.
Namun, jauh di lubuk hatinya, keraguan mulai menghantuinya.
Bersambung ....
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!