Indonesia
NovelToon NovelToon

Jerat Cinta Lama Sang Billionaire

Di Usir (Revisi)

Sebuah mobil masuk ke dalam halaman sebuah mansion mewah di area elit di pusat kota.

Terlihat seorang wanita paruh baya keluar dari dalam mobil bersama seorang perempuan dan seorang bocah berusia 10 tahun.

"Malam nyonya.."wanita paruh baya itu menyapa seorang perempuan yang sedang sibuk dengan ponselnya sembari duduk di ruang tamu.

Perempuan itu menatap wanita paruh baya yang baru saja masuk ke dalam kediamannya. Lalu pandangannya dia arahkan pada sosok perempuan asing yang berdiri di samping perempuan paruh baya itu yang merupakan salah satu asisten rumah tangga di rumah besar itu.

" Malam bi, ini...

Perempuan itu menunjuk ke arah perempuan asing dan anak perempuan yang datang bersama pembantu nya tersebut.

Tatapan intens sang majikan di arahkan ke bocah 10 tahun yang memeluk tubuh sang ibu dengan wajah terlihat takut.

Bi Marni mencoba untuk menjelaskan kenapa dia tiba-tiba bawa orang asing ke rumah besar itu. "Maaf nyonya, ini Utari dan ini putrinya Sofia. Saya bertemu mereka di terminal . Tari tadi habis kecopetan,makanya saya bawa dia kesini. Jika nyonya mengijinkan, untuk malam ini mereka untuk tinggal disini. Mereka akan keluar besok pagi-pagi buat cari tempat tinggal."

Hanum, majikan dari bi Marni perlahan beranjak dari tempat duduknya. Dia terlihat mendekati Tari dan anaknya.

Terlihat dia menatap lekat anak perempuan yang semakin erat memeluk tubuh sang ibu. "Maaf nyonya, jika memang nyonya tidak mengijinkan.. biar...

Belum juga bi Marni menyelesaikan ucapannya, Hanum tiba-tiba berkata " Antar mereka ke paviliun. Malam ini mereka bisa tidur di kamar bekas Wulan." Bi Marni, mendengar ucapan Hanum langsung tersenyum dan mengangguk . Rasanya dia bisa bernafas lega saat majikannya mengijinkan Tari dan putrinya untuk menginap di paviliun di belakang kediaman nya.

"Te_terimakasih nyonya, kami tidak akan lupa kebaikan nyonya." tiba-tiba saja perempuan bernama Utari itu buka suara dan berterimakasih karena Hanum karena sudah mengijinkan Tari dan putrinya tinggal semalam di rumah itu.

"Hemmm.." Hanum terlihat hanya menanggapinya dengan singkat.

"Ayo, biar bibi antar ke kamar kalian." Utari menganggukan kepalanya dan kemudian mengikuti langkah bi Marni ke rumah yang ada di belakang mansion yang di khususkan untuk para pekerja di mansion besar itu.

Setelah Utari dan anaknya di bawa pergi oleh bi Marni, Hanum duduk dan terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Hanum merasa saat menatap wajah Sofia, Hanum merasa wajah bocah itu begitu familiar. Tapi, dia lupa entah dimana bertemu dengan wajah mirip dengan anak itu.

Karena merasa mengganjal di hati, Hanum pun memanggil salah satu pekerja yang kebetulan melintas di depannya. "Pak Tomo, tolong panggil Bi Marni kesini." tak lama Hanum pun meminta salah satu pekerja disana untuk memanggil bi Marni.

"Baik nyonya." laki-laki bernama Tomo langsung berjalan ke arah paviliun.

Tak begitu lama, bi Marni pun datang dan terlihat mendekati Hanum. "Nyonya panggil saya?" Hanum mengangguk mengiyakan.

"Duduk bi, ada yang saya ingin tanyakan." bi Marni mengangguk dan duduk di salah satu kursi. "Saya ingin tanya soal Utari.' bi Marni menatap bingung ke arah Hanum.

"Maaf nya, nyonya mau tanya apa?"

Hanum menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.

"Sebenarnya apa yang terjadi sama mereka, sepertinya anaknya kelihatan ketakutan."

Bi Marni mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Sebenarnya, saya bertemu dengan mereka di terminal. Saat itu, Tari habis kecopetan , saat saya akan masuk ke dalam mobil dan kebetulan melihat Sofia menangis ketakutan. Utari dan anaknya baru saja di usir oleh suaminya. Utari menolak di madu, makanya suaminya mengusir Tari dan Sofia. Bahkan hanya berbekal sisa uang belanja yang sengaja Tari kumpulkan setiap harinya.

Mendengar cerita bi Marni, hati Hanum pun terenyuh. Dia tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya hati Tari saat orang yang seharusnya menjadi pelindung untuk anak dan istrinya, malah berperilaku kejam sampai mengusir anak dan istrinya. Binatang saja masih peduli dengan darah dagingnya, tapi manusia lebih tega mengusir istri dan anaknya demi wanita lain.

"Bi, sementara ini belum ada pengganti Wulan. Jadi, jika Tari mau dia bisa bekerja disini. Besok pagi setelah sarapan, bibi ajak dia menemui saya."'

Bi Marni dengan cepat menganggukan kepalanya. "Terimakasih nyonya, terimakasih sudah baik mau mempekerjakan Tari disini. Besok pagi saya akan sampaikan pada Tari dan langsung saya ajak Tari menemui nyonya."

Bi Marni begitu senang mendapat kabar yang baik itu. Bahkan Bi Marni nggak tega lihat Sofia harus merasakan susahnya mencari tempat tinggal.

"Baiklah, kalau begitu..bibi bisa istirahat." Marni mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya

"Baik nyonya, saya permisi.." Hanum hanya menganggukan kepalanya kemudian Marni melangkah meninggalkan teman itu.

...----------------...

Di pagi hari bi Marni sudah mengetuk pintu kamar yang di tempati Utari dan putrinya.

Tak lama kemudian pintu kamar itu terlihat terbuka. "Bi, bisa tunggu sebentar, Sofia sedang mandi."

" Tari, sebenarnya bibi mau tawarkan pekerjaan buat kamu." Tari yang mendengar ucapan Marni tentu saja terkejut karena tak percaya secepat itu bi Marni mendapatkan tawaran kerja untuk dirinya.

"Tawaran pekerjaan?" Marni menganggukan kepalanya.

"Iya. Semalam nyonya Hanum menawarkan pekerjaan sebagai Asisten Rumah Tangga untuk kamu. Tapi, jika kamu tidak berminat __

"Tari mau bi.." Tari memotong ucapan Marni dan langsung menjawab dengan penuh semangat untuk menerima pekerjaan yang Hanum tawarkan.

"Sebagai Art nggak apa-apa?" Marni menatap ragu.

"Nggak apa-apa, lagi pula kalau Tari cari kerja diluar pun belum tentu sehari dapat bi. Tari bahkan sangat bersyukur sudah di pertemukan dengan bibi lalu dengan nyonya Hanum. Tapi, soal Sofia__

"Kamu tenang saja, nanti bibi akan bantu ngomong sama nyonya. Sekarang, kamu tetap disini. Setelah sarapan, kamu akan bibi bawa menghadap nyonya Hanum."

"Baik bi, terimakasih sekali lagi bi, terimakasih.." bi Marni tersenyum dan menepuk bahu Tari pelan.

"Jangan sungkan Tari, semua sudah di atur Allah. Bibi tunggal dulu, bibi akan mulai kerja dulu. Nanti bibi akan kesini lagi." Tari mengangguk dan bi Marni pun meninggalkan kamar yang di tempati Tari dan putrinya.

"Bunda, apa kita akan tinggal disini? rumah nya besar banget. Kalau Fia punya rumah sebesar ini pastinya Fia seneng.." bocah sepuluh tahun itu terlihat menatap hamparan rumput hijau di belakang mansion.

"Amiin.. walaupun kita tidak punya rumah sebesar ini, yang terpenting buat bunda akan selalu bahagia jika bisa terus sama kamu sayang.." Sofia menatap sang bunda yang terlihat murung.

"Bun, kenapa ayah Wisnu jahat sama kita? Kenapa ayah lebih milih tante jahat itu dari pada sama kita?" dengan wajah sedihnya bocah itu dengan polosnya bertanya soal sikap ayah sambungnya yang telah mengusir dirinya dan sang bunda demi perempuan yang menurutnya lebih baik.

"Sayang, dengar bunda. Mulai sekarang, cukup hanya kita berdua. Selama Sofia di sisi bunda, buat bunda nggak masalah. Sofia harus tetap ingat untuk jadi anak baik dan harus terus belajar supaya pintar. Jika nanti bunda bekerja di sini, Sofia harus baik dengan siapa pun di rumah ini, jangan lupa untuk selalu sopan sama siapapun. Mengerti?" Sofia mengangguk dan memeluk tubuh Tari dengan erat.

Anak dan ibu itu pun akhirnya diminta tinggal di paviliun dan Tari mulai bekerja di kediaman Nugraha sebagai asisten rumah tangga. Sementara itu, Hanum pun memasukkan Sofia di Sekolah milik yayasan keluarga Nugraha.

Tari begitu bersyukur sudah bertemu dengan orang-orang baik setelah keluar dari rumah di mana dia di buang seperti sampah oleh mantan suaminya. Kini dia mulai belajar berdamai dengan keadaan dan bertekad untuk menjalani hidup dengan baik dengan sang putri.

Bersambung.

Reksa Arya Nugraha ( Revisi)

"Buset, muka kusut banget kayak cucian nggak di setrika, kenapa Lo keliatan BT banget!" seorang laki-laki terlihat menegur sahabatnya yang baru saja datang ke club miliknya dengan mood yang berantakan.

Laki-laki itu menatap sekilas ke arah sang sahabat lalu duduk di depan meja bar. "Gue minta kayak biasa." mendengar ucapan sang sahabat, laki-laki bernama Adrian pun langsung memberikan isyarat pada seorang bartender untuk membuatkan pesanan sang sahabat.

Adrian menatap sang sahabat bernama Reksa itu dengan tatapan bingung. " Lo ada masalah apa Sa, soal nyokap lo lagi?" Adrian pun menebak apa yang menjadi masalah sahabatnya akhir-akhir ini.

Reksa Arya Nugraha laki-laki yang sudah hampir menginjak usia 35 tahun. Pewaris dari Anugrah Abadi Group dengan kesuksesan yang diraih raih beberapa tahun ini. Laki-laki yang terbilang dingin dengan lawan jenis. Bahkan sampai banyak rumor yang beredar mengenai dirinya yang tidak menyukai wanita alias gay. Ada pula kabar jika Reksa laki-laki imp*ten.

Entah rumor-rumor itu dari mana asalnya. Reksa benar-benar tak ambil pusing tentang rumor tentang dirinya di luar sana.

"Gue rasa ada benarnya juga nyokap lo nyuruh lo balik Indonesia. Bahkan dalam waktu sepuluh tahun ini lo nggak pernah punya minat buat balik ke Indonesia walaupun sebentar." Reksa tersenyum miring mendengar penuturan sang sahabat.

"Bos..!" seorang bartender menyodorkan segelas minuman ke depan Reksa. Terlihat Reksa hanya menganggukkan kepalanya.

"Lo masih cari Utari?" Reksa yang baru saja mengangkat gelas minuman nya langsung melirik kearah Adrian dan kemudian menenggak habis wine yang ada di dalam gelas yang dia pegang.

" Lima tahun lalu gue sudah berhenti buat cari dia. Mungkin benar kata temen-temen kita kalau dia sudah nikah. Mungkin malah sudah punya anak." Reksa menggenggam gelas di tangannya dengan erat.

Mengingat bagaimana dulu dia kebingungan mencari keberadaan perempuan yang saat itu masih menjadi kekasihnya. Utari, kekasih nya yang tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak.

Reksa masih ingat saat kejadian sehari sebelum acara wisuda gadis yang masih berstatus menjadi kekasihnya itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Bahkan Reksa sampai membayar orang untuk mencari hingga ke kampung halaman Utari. Tapi, kenyataanya gadis itu tidak pernah kembali ke sana.

"Gue yakin ada hal yang buat dia pergi ninggalin lo Sa, apa dia sudah tahu soal taruhan itu?"

Reksa menggelengkan kepalanya. "Nggak mungkin. Bahkan kita nggak pernah bahas soal taruhan itu bukan?" Adrian terlihat mengingat-ingat sesuatu.

"Sa, bukan nya sehari sebelum kita wisuda kita pernah bahas soal ini? Apa mungkin dia tahu atau dengar dari seseorang." Reksa menghela nafas berat.

"Kalau memang Tari dengar, pastinya dia akan bilang sama gue. Tapi, ini nggak kan? Bahkan sahabatnya sendiri pun nggak tahu kemana dia pergi."

Pembicaraan mereka pun terus bergulir.Cerita tentang masa-masa di bangku kuliah mereka. Tentang sebuah hubungan yang terjadi layaknya sebuah kompetisi.

"Terus apa Lo akan tetap tinggal di sini Sa?" Reksa masih tidak bereaksi. " Gue rasa omongan bokap lo ada benernya juga soal perusahaan keluarga lo yang harusnya sudah lo pegang dari dulu. Bokap lo yang semakin tua pasti sangat butuh bantuan lo buat pegang perusahaan." Adrian menepuk pelan pundak Reksa.

" Itu pasti, tapi bukan sekarang." Seorang Reksa memang sudah lama menetap di luar negeri. Namun dalam hati yang paling dalam pastinya dia merindukan keluarga nya yang ada di Indonesia.

Selama ini kedua orang tuanya yang selalu menyempatkan diri untuk mengunjunginya di London. Sudah berulang kali Hanum sang ibu memintanya untuk kembali ke Indonesia.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara itu di Indonesia, Tari dan putrinya kini tinggal di rumah keluarga Nugraha.

Sofia sudah mulai sekolah Yayasan Nugraha.

"Bunda," terlihat bocah sepuluh tahun memanggil sang bunda dan mendekat ke arah Tari.

Tari yang sedang ada di dapur menoleh ke arah pintu penghubung mansion dan paviliun dengan senyum lebarnya melihat malaikat kecilnya mendekati nya. "Ada apa sayang? " dengan lembut Tari merespon sang putri.

"Bun. Lusa kan hari ayah, apa bisa minta ayah Wisnu buat datang ke sekolah Fia sebentar?" gadis cilik yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu dengan ragu mengutarakan keinginannya pada sang bunda.

Tari yang sedang memotong bawang pun menghentikan kegiatan nya dan kemudian menatap sang putri. " Biar bunda yang datang ke sekolah kamu. Nggak perlu ayah juga."

" Tapi kan__

" Sofia, dengar kata bunda kan?" Sofia pun mengangguk dengan lemah.

"Kalau gitu, Fia berangkat dulu bun. " Sofia mengulurkan tangannya tangan Tari dengan takzim "Assalamu'alaikum.." dengan mengucapkan salam, Sofia melangkah keluar lewat pintu belakang untuk menuju halaman depan.

"Wa'alaikum salam.." Tari pun menjawab salam dari Sofia.

"Tar, kenapa kamu nggak coba untuk minta mantan suami kamu ke sekolah Sofia, kasihan dia." Tari sejenak diam mendengarkan ucapan bi Marni.

"Mas Wahyu nggak akan mau bi. Sebenarnya, Sofia bukan anak kandung mas Wahyu dan aku." bi Marni mendengar pengakuan Tari tentu saja terkejut.

Bukan apa, Tari hanya menceritakan tentang perceraian nya dengan mantan suaminya Wahyu yang ternyata lebih memilih untuk bersama selingkuhan nya.

" Lalu Sofia__

"Nanti aku ceritakan bi." bi Marni mengangguk mengiyakan perkataan Tari.

Di saat makan siang, sesuai dengan janji Tari yang ingin menceritakan tentang apa yang sebenarnya yang terjadi pada pernikahan Tari dan mantan suaminya itu.

"Jadi, apa sebenarnya terjadi Tari? Kenapa kamu bilang kalau Sofia bukan anak kandung mantan suami kamu?" Tari menarik nafas panjang sebelum dia menceritakan tentang kisah hidupnya yang sebenarnya.

"Sebenarnya, sebelas tahun lalu.. Tari sudah melakukan kesalahan yang mengakibatkan adanya Sofia." bi Marni mengerti dan paham apa yang di maksud Tari.

"Kenapa kamu nggak minta tanggung jawab laki-laki itu?" Tari menggelengkan kepalanya.

"Saat itu Tari sudah terlanjur kecewa dengan laki-laki baji*gan itu bi, ternyata dia sudah bohong sama Tari. Dia dan beberapa sahabatnya, menjadikan Tari taruhan..hiks hiks hiks.." bi Marni melebarkan matanya mendengar pengakuan Tari.

"Taruhan, astaghfirullah.. maksudnya bagaimana Tari!" bi Marni benar-benar tak menyangka ada orang sejahat itu pada Tari.

" Sahabat pria breng*ek itu memberikan tantangan untuk membuat Tari pacaran dengan pria breng*ek itu. Sampai hampir satu tahun kami bersama-sama dan saat dua bulan sebelum wisuda, kesalahan fatal itu terjadi. Saat Tari ingin kasih tahu tentang kehamilan Tari ke dia, Tari nggak sengaja dengar kalau sebenarnya Tari di jadikan bahan taruhan mereka. Laki-laki itu, dia bahkan tidak sedikit pun merasa bersalah.." mengingat kejadian itu, mata Tari terlihat berkaca-kaca.

" Jadi, laki-laki itu nggak tahu kalau kamu hamil?" Tari menggelengkan kepalanya.

Marni mengusap punggung Tari, berusaha untuk menenangkan wanita yang bernasib malang itu.

Bersambung

Opa Pram..(Revisi)

Tari mengingat acara sekolah Sofia besok. Dia ingin mencoba untuk meminta bantuan pada Wisnu. Walaupun memang dia ragu kalau Wisnu mau membantunya kali ini.

"Hallo.." Tari membuka suara saat panggilan telepon nya di angkat oleh orang di seberang sana.

"Ya, ada apa kamu telpon?" dengan suara terdengar dingin langsung to the point.

"Mas Wisnu, apa aku bisa minta tolong?" terdengar suara hembusan nafas yang terdengar kasar dari seberang sana.

"Tolong apa, sebulan ini kamu bahkan sudah menghilang, kenapa sekarang tiba-tiba telpon?" dengan suara yang terdengar kesal Wisnu bicara.

"Soal surat cerai kita kamu bisa langsung kirim ke alamat ku nanti. Aku cuma minta tolong sebelum surat cerai itu keluar, bisa nggak sekali saja kamu temui Sofia di sekolah. Besok Father days aku minta___

"Hehh...Tari ! kamu itu sudah di ceraikan sama mas Wisnu, jadi nggak perlu lagi minta-minta buat ketemu anak har*m kamu itu! Ingat itu!!"

"Eeehhh....

Tuttt...tuttt..tuuttt..

Panggilan itu pun terputus secara sepihak. Tari menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan menatap ke arah bi Marni.

"Gimana kalau bibi minta tolong mang Tomo?"

"Nggak perlu bi, biar nanti Tari yang minta ijin sama nyonya Hanum buat hadir di acara Sofia." Tari tak enak hati kalau menyusahkan orang lain.

"Yakin?" Tari mengangguk dan tersenyum tipis.

Di rumah Wisnu terlihat Sella istri baru Wisnu sedang marah-marah pada laki-laki itu.

"Kamu benar-benar mas, aku bilang jangan pernah berani-beraninya kamu ketemu sama mantan istri kamu itu!" dengan nafas memburu, Sella marah pada Wisnu soal Tari. "Ingat, kalian sudah nggak ada hubungan apapun. Aku sudah blok nomer dia. Sampai kamu berani buka dan komunikasi sama dia atau sama anak har*m nya itu, awas kamu mas !!" Sella mengancam Wisnu untuk tidak lagi berkomunikasi atau bahkan bertemu dengan Tari juga Sofia.

"Sel, dia cuma minta tolong buat Sofia saja." Wisnu masih mencoba bicara baik-baik pada istrinya itu.

"Halahhh...itu hanya alasan saja. Ujung-ujungnya dia akan minta uang dari kamu. Belum lagi dia akan godain kamu. Jangan-jangan kamu masih mau sama janda kamu itu, hah!!"

"Cukup Sella!! Ingat, aku sudah milih kamu. Bahkan aku sudah turuti semua kemauan kamu. Dari usir dia tanpa sepeserpun uang. Aku pun sudah masukin gugatan cerai juga. Masih kurang puas!" Wisnu beranjak dari tempat duduknya dan memilih pergi meninggalkan Sella karena malas berdebat.

Wisnu terlihat keluar rumah dan berjalan ke sebuah warung untuk membeli sebungkus rokok.

"Pak Wisnu, ini rokoknya. Ini kembaliannya. Oh iya, sekarang mba Tari sama Sofia tinggal dimana pak? maaf, bukan mau ikut campur. Saya nggak pernah lihat pak Wisnu cekcok sama mba Tari, bahkan kami ibu-ibu di komplek sini kagum sama mba Tari yang kelihatan sederhana dan baik." Wisnu yang mendengar penuturan si ibu warung pun hanya tersenyum kecil.

"Dia pulang kampung bu, saya pulang dulu Bu, permisi.."

Wisnu terlihat meninggalkan warung kelontong itu. Tapi telinganya masih mendengar para ibu-ibu yang kebetulan sedang belanja di warung itu terdengar jika mereka berteman dengan Tari.

"Sayang sekali ya, kenapa harus istri sah yang di cerai. Benar-benar laki-laki nggak bersyukur tuh pak Wisnu.." ucapan salah satu ibu yang terdengar di telinga Wisnu.

"Yah biasa bu, kalau laki-laki baru punya duit banyak, lupa daratan."

"Tapi, kenapa dia lebih milih pelakor sih, udah begitu...istri nya sekarang itu..ihhhh...judesnya amit-amit deh.."

"Sudah ibu-ibu, mungkin ini jalan terbaik buat mba Tari lepas dari laki-laki yang nggak pandai bersyukur."

Pembahasan soal Tari jelas terdengar di telinga Wisnu yang kebetulan duduk di pos ronda di dekat warung itu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hari di mana Sofia harus mengikutsertakan sang ayah pada kegiatan sekolah nya.

"Bun, Fia nggak usah sekolah saja ya? " Tari yang sedang mengelap piring di dapur menghentikan pergerakan nya. Lalu dia menoleh ke arah Sofia.

"Mau ngapain nggak masuk sekolah hemm? Fia, ingat kata bunda. Apapun yang Fia dengar, cuekin saja.Ngerti? Nanti bunda ke sekolah Fia, bunda coba minta ijin sama nyonya Hanum buat ikut di acara sekolah kamu." Fia mengangguk dengan wajah yang terlihat tak bersemangat.

"Mau sama pak Tomo saja Fia?" tiba-tiba saja pak Tomo dan bi Marni muncul dan pak Tomo menawarkan untuk dia datang ke sekolah Fia.

"Nggak usah pak Tomo, biar bunda saja. Bun, Fia berangkat dulu ya.. Assalamualaikum.."

"Wa'alaikum salam.." ketiga orang dewasa itu pun menatap kepergian Sofia dengan tatapan kasihan..

"Tari, apa kamu yakin mau ke sekolah Fia?" Tari mengangguk mendengar pertanyaan dari bi Marni.

"Iya bi, Tari mau coba ijin sama nyonya Hanum." bi Marni hanya mengangguk.

Di sekolah , Sofia menatap sekitarnya yang terlihat ramai dari biasanya. Para murid lainnya terlihat sibuk menyambut kedatangan ayah mereka atau anggota keluarga mereka.

"Sofia, papa kamu nggak datang?" salah satu teman satu kelas Sofia tiba-tiba saja bertanya pada Sofia.

"Ayah aku kerja." Sofia dengan wajah sedihnya menjawab pertanyaan temannya.

"Kakek atau om kamu juga nggak datang?" Sofia hanya dia tak berniat menjawab. "Terus, kamu nggak ikut lomba dong?" Sofia hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah.

" Wah..kamu kasihan banget sih Fia, kamu mau di kelas saja, ayo kita keluar...nggak apa-apa kok nggak ikut lomba." beberapa teman Sofia menarik tangan Sofia untuk keluar dari kelas.

Walaupun berat Sofia pun keluar dari kelasnya. Terlihat lapangan sekolah sudah ramai penuh sesak. Terdengar sorak sorai di area lapangan yang sedang mengadakan acara lomba untuk memperingati Father days.

Di keramaian sekolah Sofia, beberapa guru terlihat mendampingi ketua yayasan untuk berkeliling melihat keadaan sekolah.

Terlihat salah satu guru yang merupakan kepala sekolah di mana Sofia bersekolah terlihat bicara dan menjelaskan apa saja yang sedang para murid dan orang tua yang ada di sekolah itu lakukan.

Pramana Adi Nugraha terlihat mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan kepala sekolah. Namun matanya menangkap sosok bocah kecil yang duduk sendiri di lorong kelas. Tatapan matanya yang terlihat sendu menatap kebersamaan murid-murid lain bersama ayah atau keluarga mereka di lapangan sekolah membuat laki-laki paruh baya itu merasa sedih.

Kaki Pram melangkah mendekat ke arah bocah itu dan membuat kepala sekolah dan beberapa guru terlihat saling pandang.

"Sofia.." Pram memanggil nama bocah berseragam putih merah itu sedang duduk termenung.

Sofia yang sedari tadi duduk termenung, sontak menoleh ke sumber suara.

Mata Sofia seketika melebar saat melihat sosok laki-laki paruh baya yang merupakan majikan sang bunda.

"Tua...

"Kamu kenapa disini sendirian, maaf ya , Opa Pram telat.." Sofia menatap bingung mendengar ucapan Pramana saat mengatakan kalimat manis itu.

Pram mendekatkan dirinya ke arah Sofia dan membungkuk kan badannya lalu membisikkan sesuatu pada Sofia.

"Mulai sekarang, panggilnya Opa Pram yaa.." Sofia mengangguk lemah tanpa berkomentar apapun.

Sedangkan Pram melihat anggukan dari bocah di hadapannya tersenyum tipis dan menepuk pelan kepala bocah itu. Kedua nya tersenyum manis dan seolah siap memerankan peran mereka. Wajah yang tadi terlihat murung kini terlihat berseri manis saat sebuah cahaya kecil yang di berikan oleh orang yang tak dia sangka-sangka.

Bersambung

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!