"Sayang, ayo kita pulang. Sebentar lagi akan turun hujan!" Arvin menyentuh pundak Risa dengan lembut.
Risa terus memandangi tanah pemakaman sang ayah yang masih basah. Makan itu di taburi oleh berbagai macam bunga berwarna warni.
"Kenapa ayah meninggal kan ku secepat ini?" Bisik wanita itu lirih sambil mengusap pusara sang ayah.
Di papan yang tertancap di ujung kepala makam itu tertulis nama orang yang baru saja di baring kan di sana, Darwanan bin M Saleh, nama ayah nya Risa
Selain Risa dan suami nya, di tempat itu juga ada ibu dan anak dengan pakaian glamor nya lengkap dengan kacamata berwarna hitam. Mereka adalah Mama Lia dan Wulan, ibu dan adik tiri Risa.
"Sudah mati saja masih di tangisi, dasar lebay!" Umpat Wulan dengan setengah berbisik pada sang Mama.
"Mas, kami pulang duluan ya!" Wulan berkata pada Arvin.
"Iya, duluan saja. Biar nanti aku pulang sama Risa!" Jawab Arvin pada sang adik ipar.
Ibu dan anak itu berjalan menuju mobil yang ada di luar area pemakaian, ibu dan anak itu masuk ke dalam mobil tanpa ada perasan sedih sedikit pun.
Hujan mulai turun rintik- rintik membasahi tanah pemakaman, seakan turut sedih atas kepergian pak Darmawan ayah nya Risa.
"Ayo sayang, kita pulang!" Arvin membimbing tangan sang istri.
Dengan langkah lunglai, Risa berjalan meninggal kan pemakaman di mana ayah nya barusan di makam kan.Sesekali dia masih melihat lagi ke belakang di mana ayah nya terbaring.
"Ayah, ibu kenapa secepat ini kalian meninggal kan aku!' Batin Risa sambil memejam kan mata nya.
Dia bersandar di sandaran kursi mobil nya, perlahan mobil yang kendarai oleh sang suami menjauh dari area TPU itu. Risa tidak menyangka bahwa sang ayah akan pergi secepat itu, pasal nya 2 hari yang lalu dia baru saja bertemu dengan ayah nya dan dia masih dalam keadaan sehat - sehat saja.
Tapi tadi pagi dia mendapat telepon bahwa ayah nya di larikan kerumah sakit karena serangan jantung dan di dalam perjalanan dia ke rumah sakit pak Darmawan meninggal dunia.
"Sayang, kamu kenapa melamun?" Tanya Arvin seketika membuat lamunan Risa tentang ayah nya menjadi pudar.
"Gak papa mas, aku cuma masih kepikiran sama Ayah. 2 hari yang lalu aku bertemu beliau dan dia masih baik - baik saja, tapi kenapa tiba - tiba tadi pagi ayah mendadak kena serangan jantung. Apa yang membuat nya begitu terkejut!" Risa masih memikirkan sesuatu yang membuat ayah nya shock berat.
"Kok kamu bisa kepikiran gitu dek? Itu hal yang biasa terjadi pada orang yang punya riwayat penyakit jantung!" Arvin memberikan alasan yang masuk akal.
Tanpa Risa sadari, raut muka Arvin seketika menjadi tegang setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut istri nya. Tapi sebisa mungkin Arvin menyembunyikan nya agar terlihat biasa saja.
'Untung saja si tua itu langsung mati setelah terkena serangan jantung mendadak sebelum dia ketemu sama Risa, bisa ketahuan aku jika dia bertemu dengan Risa sebelum menghembus kan nafas nya yang terakhir!' Batin Arvin sambil tersenyum.
Sementara itu di tempat lain, Mama Lia dan Wulan sudah tiba di rumah.
"Akhir nya si tua Bangka itu mampus juga, senang banget ma rumah ini akhir nya menjadi milik kita!" Wulan pun menjatuhkan bokong nya di atas sofa ruang tamu.
"Setidak nya sekarang tidak ada lagi yang merepotkan kita, kamu sih gimana bisa ketahuan sama dia!" Mama Lia mengomeli anak nya.
"Ya aku kan refleks saja memeluk mas Arvin karena dia udah kasih kejutan buat aku pagi - pagi. Aku gak tahu kalau ayah ada di belakang ku dan melihat semua nya!" Wulan membela diri nya di depan sang Mama.
"Untung saja dia langsung mampus sebelum ketemu sama Risa, coba kalau dia ketemu Risa sebelum dia mati. Kau dan Arvin bakal ketahuan!" Ujar Mama Lia pada anak nya.
"Aku seneng banget ma, sekarang aku dan mas Arvin udah gak mau sembunyi- sembunyi lagi. Biarin aja jika si Risa tahu hubungan aku sama suami nya, aku gak perduli!" Wulan berkata sambil memainkan ponsel nya.
Wulan berkirim pesan pada sang kekasih nya sekaligus kakak ipar nya, Arvin.
[Mas, makasih ya hadiah nya. Maaf tadi pagi aku belum sempat ucapin terima kasih sama mas karena keburu ayah melihat kita!] Send.
Arvin yang batu saja tiba di rumah langsung melihat ponsel nya dan membaca pesan dari Wulan.
[Jangan hubungi mas dulu, mas lagi sama Risa sekarang, nanti mas hubungi kamu] send.
Arvin mengirim kan pesan balasan pada sang kekasih gelap nya sekaligus memberi tahu jika dia tidak bisa berbalas pesan pada Wulan.
Wulan tampak kesal melihat pesan balasan dari Arvin, dia membanting ponsel nya di atas sofa.
"Mas Arvin nyebelin banget sih, biar aja jika Risa tahu. Kan lebih baik dengan begitu kita gak perlu lagi sembunyi- sembunyi!" Dengus Wulan dengan kesal.
"Sabar aja, akan ada waktu nya kita menendang Risa dari kehidupan Arvin. Kita bermain - main dulu dengan nya!" Mama Lia berkata pada anak nya di sertai senyum licik nya.
Di rumah nya, Risa sedang sholat magrib. Wanita itu tidak pernah meninggal kan sholat 5 waktu nya sejak kecil. Ibu nya meninggal dalam suatu kecelakaan mobil bersama diri nya saat usia nya baru 7 tahun. Risa selamat dari kecelakaan itu, sedang kan sang ibu tidak, dia meninggal di tempat itu juga.
Risa dan Arvin menikah 2 tahun yang lalu. Tapi hingga sekarang mereka belum di karuniai keturunan. Mama nya Arvin adalah sahabat baik almarhumah ibu nya Risa ketika dia masih hidup dulu.
"Sayang, kita makan dulu, sejak siang tadi kamu belum makan!" Arvin meraih tangan istri nya setelah dia selesai sholat.
"Aku gak laper mas!" Risa menolak dengan halus.
"Gak, pokoknya kamu harus makan. Biar mas yang masakin apa yang kamu mau!" Arvin menggandeng tangan istri nya untuk turun ke bawah.
Hal itu lah yang membuat Risa jatuh cinta pada suami nya, Arvin sangat tahu cara memberi perhatian pada diri nya saat dia sedang bersedih. Risa sangat bersyukur memiliki suami seperti Arvin, walaupun dia tidak memilik orang tua lagi, tapi perhatian dari suami nya membuat nya sedikit terhibur.
"Terima kasih banyak mas!" Ujar Risa sambil memaksakan diri nya untuk tersenyum pada sang suami di balik semua kesedihan nya.
"Kamu duduk di sini, biar mas masakin sup ayam buat kamu!" Arvin menarik sebuah kursi untuk istri nya.
"Biar bibi aja yang masak pak!" Bi Ina muncul karena dia merasa tidak enak melihat majikan nya memasak sendiri untuk makan malam.
Bi Ina memang sudah memasak tadi, tapi karena Risa tidak bernafsu untuk makan, akhir nya Arvin berinisiatif untuk memasak sendiri makanan untuk istri tercinta nya.
"Gak papa bi, bibi istirahat saja. Biar aku yang masak buat ibu!" Arvin menolak bantuan dari asisten rumah tangga nya.
Setelah makan makanan masakan dari Arvin, Risa merasa sangat mengantuk.
"Mas, aku ngantuk banget. Aku ke kamar duluan ya!" Risa berkata sambil menguap.
"Iya sayang, ayo mas antar ke kamar!" Arvin membimbing tangan Risa dan membawa nya ke kamar.
Begitu tiba di kamar nya, Risa langsung merebah kan badan nya di atas kasur yang empuk. Mata nya terasa begitu berat, hingga dia langsung terpejam begitu saja.
"Bagus, obat itu bekerja dengan baik. Aku bisa bertemu dengan Wulan malam ini!" Arvin berguman sambil tersenyum puas memandangi sang istri yang sudah tertidur pulas.
Arvin segera berganti pakaian, dia ingin melepas kam rindu pada adik ipar nya sekaligus selingkuhan nya. Sudah seminggu ini Arvin berada di luar kota dan dia baru saja tiba di kota ini malam kemarin.
Arvin yang tidak bisa menahan kerinduan nya pada sang kekasih, akhir nya nekat menemui Wulan di rumah nya. Tanpa mereka sadari jika pertemuan mereka lah yang membuat pak Darmawan meregang nyawa.
Secara tidak sengaja pak Darmawan melihat perselingkuhan antara menantu nya dan juga anak tiri nya, sehingga dia mendadak terkejut dan terkena serang jantung. Hingga akhir nya dia kehilangan nyawa nya.
"Hai sayang, aku kangen banget loh sama kamu!" Wulan menyambut kedatangan Arvin dengan sangat bahagia.
Mereka berdua pun berpelukan selayaknya suami istri, Mama Lia pun sangat senang karena malam ini Arvin menemui anak nya.
"Aku juga kangen banget sama kamu sayang!" Arvin membalas pelukan Wulan dan tidak lupa mencium pipi nya.
"Emang nya Risa kemana Vin? Kok kamu bisa datang ke sini?" Mama Lia bertanya pada Arvin.
"Mama tenang aja, Risa udah aku urus dan dia gak bakalan bisa gangguin kita!" Arvin menampakkan senyuman licik nya.
"Bagus sekali Arvin, saran Mama sebaik nya cerai kan saja Risa, biar kalian bisa hidup bersama!" Mama Lia memberi saran pada Arvin.
"Ma, aku gak bisa cerein Risa sekarang, Ibu ku bisa ngamuk jika aku mencerai kan nya. Risa adalah menantu kesayangan Ibu!" Arvin memberikan alasan pada Mama Lia.
"Mas, kapan kita nikah nya jika mas gak cerein Risa, aku mau jadi istri kamu satu - satu nya!" Wulan tampak merajuk pada Arvin.
"Tunggu dulu lah sayang, kan Risa baru saja kehilangan ayah nya. Tunggu sebentar lagi!" Arvin membujuk Risa.
Malam ini Arvin menghabis kan malam nya bersama Wulan hingga lewat tengah malam.
Sementara itu di rumah nya, Risa terbangun setelah lewat tengah malam. Risa menyadari bahwa suami nya tidak ada di samping nya.
"Kemana Mas Arvin?" Guman Risa sambil duduk di atas tempat tidur.
"Mas, kamu di mana mas?" Panggil Risa dan dia pun menuju kamar mandi.
Kosong, di dalam nya tidak ada Arvin. Sambil menahan kantuk nya, Risa turun ke bawah. Dia mencari Arvin di ruang kerja nya, tapi tetap saja dia tidak menemukan keberadan suami nya.
"Kemana Mas Arvin pergi tengah malam begini?" Risa bertanya pada diri nya sendiri.
Risa kembali ke kamar nya, karena mata nya masih terasa sangat mengantuk akhir nya Risa kembali tertidur. Padahal niat awal nya tadi dia ingin menelepon sang suami dan menanyakan keberadaan nya.
******
Risa terbangun saat memasuki waktu subuh dan dia melihat sang suami tertidur dengan nyenyak di samping nya. Risa heran, tadi malam dia tidak menemukan nya. Tapi sekarang dia sudah ada di sini.
Risa bergegas bangun dan melaksanakan sholat subuh dan setelah itu dia turun ke bawah. Dia membuat sarapan untuk sang suami. Untuk semua keperluan Arvin, Risa menyiap kan semua nya sendiri tanpa bantuan dari asisten rumah tangga nya.
Dulu sebelum menikah dengan Arvin, Risa bekerja sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan besar. Tapi setelah menikah, Arvin meminta nya berhenti bekerja dan Risa menjadi ibu rumah tangga sentuh nya.
Setelah selesai membuat sarapan, Risa kembali ke kamar nya dan dia menyiapkan pakaian kerja untuk Arvin. Saat ini Arvin sedang mandi, Risa menunggu Arvin hingga dia selesai mandi. Rusa ingin bertanya tentang pergi nya Arvin semalam.
"Hai, sayang. Kok kamu bengong gitu?" Sapa Arvin pada sang istri yang sedang duduk di sisi tempat tidur.
"Gak papa mas, aku mau nanya sesuatu sama kamu!" Risa berdiri dan dia mengancing kan satu persatu kemeja suami nya.
"Tentang apa sayang?" Tanya Arvin lagi.
"Tadi malam aku bangun dan mas kok gak ada, aku udah cari ke ruang kerja kok gak ada, mas kemana ya?" Tanya Risa pada suami nya.
"Mas gak kemana - mana kok sayang, mas tidur di sini sama kamu!" Arvin menjelaskan dengan penuh keyakinan.
"Kok semalam aku gak lihat mas ya!" Risa merasa heran mendengar penjelasan suami nya, karena saat dia terbangun Arvin tidak ada di sana.
"Mungkin kamu bermimpi sayang melihat mas tidak ada, mas ada di sini loh. Mas ikut tidur bersama mu sejak awal kau tidur dan mas baru saja bangun!" Arvin tampak mengarang cerita yang lebih meyakin kan.
"Mungkin aku terlalu stres karena kepergian ayah, dan aku juga takut kehilangan mas, hingga aku terbawa mimpi!" Risa pun merasa mungkin saja memang dia yang salah lihat atau memang dia sedang bermimpi.
"Mas tidak akan meninggalkan kamu sayang, kamu adalah satu - satu nya wanita yang mas cintai!" Arvin memeluk tubuh Risa dengan erat.
Risa merasa sangat bahagia mendapat kan suami sebaik Arvin, kesedihan nya karena kepergian sang ayah membuat nya sedikit terhibur dengan kasih sayang sang suami.
"Sarapan dulu mas, aku udah buatin sarapan buat mas!" Risa mengajak suami nya untuk sarapan bersama.
"Ayo sayang!" Kedua nya pun turun ke bawak ke ruang makan dan mulai sarapan bersama.
Arvin tersenyum puas, karena Risa percaya begitu saja dengan cerita karangan nya. Padahal semalam Risa tidak bermimpi, memang Arvin tidak ada di rumah dan dia berada di rumah ayah nya Risa bersama Wulan.
Arvin pulang ke rumah menjelang dini hari dan langsung tidur di sebelah sang istri.
"Mas berangkat dulu sayang!" Arvin pamit pada sang istri.
Risa mengantar kan sang suami hingga ke depan pintu, tidak lupa dia mencium tangan suami nya dengan takzim. Begitu pun dengan Arvin yang tidak melewat kan kesempatan untuk mencium kening istri nya sebelum berangkat bekerja.
"Dah sayang!"
"Dah!"
Arvin segera pergi ke kantor dan Risa kembali ke kamar nya, dia ingin memberes kan koper Arvin yang dia bawa dari luar malam kemarin. Kemarin Pagi ketika dia baru saja ingin memberes kan koper itu, Risa mendapat telepon bahwa ayah nya terkena serangan jantung mendadak hingga membuat dia harus menyusul ayah nya ke rumah sakit.
Risa membongkar koper milik suami nya yang beluk sempat dia bereskan kemarin, dia membawa semua pakaian kotor suami nya itu ke ruangan khusus untuk mencuci.
Risa memisahkan satu persatu pakaian yang berwarna dan pakaian putih, untuk urusan suami nya Risa selalu mengerjakan nya sendiri tanpa bantuan dari asisten rumah tangga nya.
"Apa ini?" Risa berguman setelah dia menemukan secarik kertas dari dalam saku celana suami nya.
Risa membuat kertas yang tampak kusut karena sudah berlipat itu, dia membaca dengan teliti apa yang tertulis di sana.
"Mas Arvin beli perhiasan, tapi kok aku tidak lihat perhiasan nya!" Guman Risa dengan heran.
"Apa jangan- jangan mas Arvin mau ngasih kejutan buat aku? Mungkin masih menunggu momen yang tepat aja!" Tebak Risa sambil tersenyum membayangkan keromantisan sang suami.
Risa kembali melanjutkan pekerjaan nya memasuk kan satu persatu pakaian milik suami nya ke dalam mesin cuci, lalu mencuci nya hingga bersih.
Baru saja Risa menyelesaikan pekerjaan mencuci pakaian milik suami nya, Bi Ina menemui Risa di lantai atas.
"Bu, di depan ada nyonya bersama nona Wulan!" Bi Ina memberi tahu sang majikan.
"Mama sama Wulan, ada apa ya?" Risa bertanya pada diri nya sendiri.
"Bibi gak tahu bu, tapi seperti nya mereka bawa beberapa koper kemari!" Lapor Bi Ina lagi.
"Ya udah bi, biar aku temui mereka. Bibi siap kan saja minuman!" Ujar Risa sambil berlalu dan dia menemui sang Mama dan juga adik nya.
"Mama, Wulan. Tumben pagi - pagi udah datang kemari!" Risa langsung menyambut kedua nya.
"Bebas dong kapan pun Mama mau datang ke rumah ini, ini kan rumah milik anak dan menantu Mama!" Jawab Mama Lia dengan ketus.
"Bukan begitu Ma maksud Risa, selama ini kan Mama jarang - jarang loh mau datang ke sini!" Risa berkata sambil tersenyum ramah pada Mama Lia dan juga Wulan.
"Mulai hari ini Mama sama Wulan mau tinggal di rumah ini!" Mama Lia berkata dengan angkuh nya.
"Tinggal di sini? Memang nya rumah kita kenapa ma?" Tanya Risa sambil menautkan kedua alis nya.
"Rumah itu sudah di jual Risa, untuk menutupi hutang- hutang ayah mu!" Mama Lia berkata lagi.
"Hutang? Hutang apa Ma? Setahun Risa selama ini Ayah tidak pernah punya hutang!" Risa terkejut mendengar penjelasan dari ibu tiri nya tersebut.
"Risa, kamu tidak tahu bahwa selama ini Ayah mu punya banyak hutang. Kau tidak tinggal bersama nya, jadi kau mana tahu jika Ayah mu punya banyak hutang!" Ujar Mama Lia lagi.
"Tapi Ma, selama ini Ayah selalu menceritakan semua pada Risa dan Ayah tidak pernah cerita bahwa dia punya hutang!" Risa masih merasa bahwa apa yang di katakan oleh Mama Lia terasa janggal.
"Risa, Ayah mu itu orang yang penyakitan dan selama ini dia tidak mau membebani mu, maka nya dia berhutang secara diam - diam. Sekarang setelah dia tiada orang yang memberi nya hutang dulu minta supaya hutang nya segera di lunasi. Mama tidak punya uang untuk membayar nya, jdi Mama jual saja rumah kita untuk menutupi hutang Ayah mu!" Mama Risa menjelaskan dengan panjang lebar pada Risa.
Sementara itu Wulan tampak tidak perduli dengan apa yang di bicarakan oleh ibu nya dan juga Risa, sejak tadi dia hanya fokus pada ponsel nya sambil tersenyum - senyum sendiri.
"Berapa jumlah hutang Ayah, Ma?" Tanya Risa lagi.
"Udah lah Risa, kamu tidak perlu tahu. Yang terpenting kan semua hutang Ayah mu sudah lunas dan kami tidak membebani mu untuk membayar nya!" Ujar Mama Lia lagi.
Risa menarik nafas panjang dan Risa masih tidak percaya dengan apa yang di ucap kan oleh Mama Lia.
"Risa, bawa koper - koper kami ke dalam kamar, kami mau istirahat!" Mama Lia memberi perintah pada Risa seolah - olah dia adalah pemilik rumah ini.
"Mama dan Wulan bisa istirahat dulu di kamar tamu, aku mau bicarakan dulu semua ini sama mas Arvin!" Ujar Risa pada Mama Lia dan juga Wulan.
"Tidak perlu bicara sama mas Arvin mbak, dia pasti tidak keberatan jika aku dan Mama tinggal di sini!" Setelah diam sejak tadi, kini Wulan pun mulai bicara.
"Iya Risa, benar sekali apa yang di katakan oleh Wulan, Arvin pasti setuju kami tinggal di sini!" Mama Lia berkata lagi.
"Iya Ma, tapi setidaknya aku harus sampai kan dulu sama mas Arvin!" Jawab Risa sambil tersenyum.
"Mbak, aku dan Mama tidak mau tinggal dalam satu kamar. Aku dan Mama mau kamar masing- masing!" Wulan berkata pada kakak nya.
"Silah kan kalian istirahat di sini, ini kamar nya!" Risa menunjuk kan 2 kamar tamu yang berada saling berdampingan.
"Jangan lupa kamu bawa semua koper - koper kami ke dalam kamar!" Perintah Mama Lia lagi sambil berjalan menuju ke kamar tamu.
Risa segera menghubungi sang suami lewat sambungan telepon, biar bagai mana pun semua nya harus di bicarakan sama Arvin. Risa tidak mau mengambil keputusan secara sepihak, apapun yang akan di lakukan nya harus dengan persetujuan dari Arvin.
"Hallo mas, mas lagi sibuk gak? Ada hal penting mengenai Mama dan Wulan yang mau aku bicarakan sama mas!" Risa berbicara lewat sambungan telepon pada Arvin.
"Ada apa sayang? Kata kan saja, aku lagi gak terlalu sibuk kok!" Jawab Arvin di seberang sana.
"Mas, Mama dan Wulan minta tinggal di rumah kita. Kata nya rumah Ayah udah di jual!" Risa berkata pada sang suami.
"Gak papa sayang mereka tinggal di rumah kita. Rumah kita kan luas dan kamar nya juga banyak, biarin aja. Lagian kan mereka berdua adalah keluarga mu dan tentu saja juga keluarga ku!" Ujar Arvin di seberang sana.
Seketika Risa menjadi lega setelah mendengar langsung kata - kata yang keluar dari mulut suami nya, bagi Risa izin dari suami itu penting agar rumah tangga nya lebih barokah. Risa sendiri tidak mau menjadi istri yang pembangkang karena melakukan sesuatu tanpa izin dari sang suami.
"Makasih ya mas udah mengizin kan Mama dan Wulan tinggal di sini, ya udah deh mas lanjut kan lagi pekerjaan mas. Aku tutup dulu ya mas!" Risa segera menutup sambungan telepon nya dengan sang suami.
Risa segera pergi ke belakang mencari bi Ina, dia ingin meminta bantuan pada bi Ina untuk memindahkan koper - koper milik Mama Lia dan juga Wulan ke dalam kamar tamu.
"Bi, tolong bantuin aku memindahkan koper - koper Mama dan Wulan ke kamar tamu!" Risa meminta tolong pada bi Ina.
"Baik bu!" Jawab Bi Ina sambil mengangguk kan kepala nya.
Dengan di bantu oleh bi Ina, Risa memindahkan koper - koper itu dan membawa nya ke kamar tamu di mana Mama Lia dan Wulan sedang beristirahat.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!