Indonesia
NovelToon NovelToon

Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

BAB 1 : Kesempatan Kedua

... Tahun 2025...

Safira menyeka keringat yang merusak riasan tebal di wajahnya, Gaun yang ia kenakan terasa menyesakkan. Di tangannya, tergenggam map berisi kontrak kerja sama dengan Wijaya Group—sebuah pencapaian mustahil yang ia perjuangkan mati-matian demi mendapatkan pengakuan dari ayahnya.

"Papa pasti bangga. Kali ini, Papa pasti akan memelukku," gumam Safira riang saat melangkah masuk ke rumah mewah keluarga Maheswara.

Namun, langkahnya terhenti tepat di ambang ruang keluarga. Suara gelak tawa yang hangat mendadak berubah menjadi belati yang menghujam jantungnya saat sebuah nama disebut.

"Pa, kenapa sih Papa nggak usir Safira saja? Dia itu pembawa sial. Gara-gara dia, Mama meninggal," ucap Bima, abang keduanya, dengan nada jijik yang kental.

Safira membeku. Map di tangannya bergetar.

"Sabar, Papa akan segera mengusirnya setelah dia berhasil mendapatkan kontrak dari perusahaan Wijaya. Dia masih berguna sebagai 'alat' negosiasi kita," balas Raga, sang ayah, tanpa beban sedikit pun.

Hancur. Harapan yang Safira bangun bertahun-tahun runtuh dalam satu kalimat. Safira Kirana Maheswara hanyalah sebuah alat. Anak ketiga dari lima bersaudara itu tidak lebih dari bayang-bayang di rumahnya sendiri.

"Sudah, daripada membahas anak sial itu, lebih baik kita bicarakan ulang tahun adikmu yang manis ini," lanjut Raga sambil mengelus rambut Maya, anak tirinya.

"Aku mau pesta yang mewah ya, Pa! Abang juga harus siapkan kado yang paling bagus buat Maya!" seru Maya manja.

"Tentu saja, Tuan Putri," sahut Bima penuh kasih sayang—kasih sayang yang tidak pernah sekalipun Safira rasakan.

"Pa, jangan lupa motor baru buat Vian, ya. Bosan pakai yang lama," timpal Vian, si bungsu, yang langsung diiyakan oleh Raga dengan tawa renyah.

Di balik tembok, Safira terisak tanpa suara. Apa aku memang se-tidak berharga itu? batinnya pilu. Kehadirannya di rumah ini hanyalah sebuah anomali yang tidak diinginkan.

Dengan perasaan hancur, Safira berlari keluar rumah. Ia menerjang hujan deras yang tiba-tiba turun, seolah langit pun ikut menangis untuknya.

Selama 22 tahun ia mengemis kasih sayang, rela menjadi pelayan bagi saudara-saudaranya, namun yang ia dapatkan hanyalah kutukan.

"Ma... kenapa Papa dan Abang membenciku? Apa salahku lahir ke dunia ini? Apa benar aku ini pembawa sial?" jeritnya di tengah deru hujan.

Pandangannya mengabur oleh air mata dan air hujan. Ia terus berjalan tanpa arah, hingga kakinya berdiri di tengah jalan raya yang sepi. Cahaya silau dari sebuah truk besar tiba-tiba muncul dari arah depan. Safira tidak lari. Ia justru berdiri diam dengan tatapan kosong. Baginya, kematian mungkin adalah satu-satunya pelarian dari rasa sakit ini.

BRAKKKK!

Tubuh mungil itu terpental. Darah segar mengalir, tersapu air hujan. Di sisa kesadarannya yang kian menipis, Safira membisikkan janji terakhirnya.

"Jika ada kesempatan kedua... aku tidak akan pernah mengemis kasih sayang kalian lagi..."

...Tahun 2020...

"Uhuk! Uhuk!"

Safira tersentak bangun. Paru-parunya terasa penuh dengan air. Ia mengerjapkan mata, menatap langit-langit kamar yang terasa asing namun familiar.

"Aku... belum mati?" gumamnya sambil memegang kepalanya yang berdenyut hebat.

Ia segera meraih ponsel di meja nakas. Matanya membelalak. Tanggal yang tertera adalah lima tahun yang lalu. Ini adalah hari di mana ia jatuh ke kolam renang karena didorong oleh Maya, namun seluruh keluarganya justru menuduhnya sedang mencari perhatian.

Flashback

"Seharusnya lo mati aja, sialan!" desis Maya sebelum mendorong Safira ke kolam yang dalam.

Maya pergi dengan seringai di wajahnya setelah memastikan tidak ada orang yang melihat.

Safira yang tidak siap kesulitan untuk berenang terus meronta. "Tolong... to...long..."

Ia akhirnya diselamatkan oleh seorang tukang kebun. Saat itu, abang-abangnya ada di sana, melihat tubuh Safira yang pucat pasi ditaruh di pinggir kolam.

"Tuan Muda, Nona Fira pingsan. Haruskah saya membawanya ke rumah sakit?" tanya tukang kebun itu ketakutan.

Bima hanya melirik sekilas dengan tatapan dingin. "Nggak usah. Paling dia cuma akting biar dikasihani. Taruh saja di kamarnya, nanti juga bangun sendiri."

Flashback End

Safira tertawa getir di dalam kamarnya yang sepi. Tawa yang terdengar sangat dingin. Mengingat betapa bodohnya dia di masa lalu yang terus mengejar orang-orang yang bahkan tidak peduli jika dia mati.

Ia bangkit, berjalan menuju cermin, dan menghapus sisa air mata di wajahnya. Matanya kini tidak lagi memancarkan binar memohon, melainkan ketajaman yang membeku.

"Jika kalian tidak menginginkanku, maka aku juga tidak menginginkan kalian," ujarnya tegas pada bayangannya di cermin.

"Aku tidak akan membuang tenagaku untuk balas dendam sekarang karena kalian sudah memberiku makan selama ini. Tapi..." Safira menyeringai tipis, "jika kalian yang mulai mencari masalah denganku, aku pastikan kalian akan menyesal telah membiarkanku hidup."

...****************...

Guyssss jangan lupa like nya ya ,kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti,biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas

BAB 2 Identitas yang Tersembunyi

Setelah kilasan ingatan masa depan itu menghantamnya, Safira terdiam cukup lama di sudut kamar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—wajah yang tertutup riasan tebal dan pakaian minim yang sebenarnya tidak pernah ia sukai. Itu semua saran Maya, katanya agar terlihat "menarik ,padahal tujuannya hanya untuk membuat Safira terlihat seperti badut di mata orang lain.

"Cukup," bisik Safira pada dirinya sendiri. "Mulai detik ini, tidak akan ada lagi Safira yang mengemis perhatian, tidak ada lagi Safira yang haus kasih sayang. Jika kalian menganggapku tidak ada, maka aku akan menganggap kalian mati."

Saat ia sedang menyusun rencana untuk mengamankan aset-asetnya sebelum benar-benar keluar dari rumah itu, ponselnya bergetar. Nama 'Kak Andi' tertera di layar.

Telepon

"Halo, Kak Andi? Ada apa?" tanya Safira langsung.

"Halo, Fira. Syukurlah kamu angkat. Apa kabar?" suara di seberang sana terdengar sedikit cemas.

"Aku baik, Kak. Apa ada masalah di sana?"

"Begitulah. Ada sedikit kendala operasional di cabang baru. Kapan kamu punya waktu untuk mampir ke kantor pusat?"

Safira melirik kalender di meja belajarnya. "Besok sore aku ke sana. Pastikan semua laporan sudah siap di meja."

"Siap, Bos. Kakak tunggu besok. Terima kasih, Fira."

Telepon Berakhir

Tidak ada satu pun anggota keluarga Maheswara yang tahu bahwa Safira adalah pemilik dari jaringan kafe dan restoran mewah yang sedang naik daun. Bisnis itu ia rintis sejak usia 15 tahun menggunakan uang saku pemberian kakek dan neneknya dari pihak ibu.

Selama tinggal di Kota B bersama kakek-neneknya, Safira adalah cucu kesayangan yang bergelimang harta. Namun, karena merindukan ayahnya, ia memutuskan pindah ke kota J. Ia pikir dengan memberikan kasih sayang, ia akan mendapatkan hal yang sama. Ternyata, ia hanya memberikan hatinya untuk diinjak-injak.

Di Meja Makan

Suasana ruang makan keluarga Maheswara tampak hangat seperti biasa—bagi mereka, bukan bagi Safira.

"Pa, Kak Fira mana? Kok dia nggak ikut makan malam?" tanya Maya dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, padahal matanya berkilat senang.

"Sudahlah, biarkan saja. Paling sedang bersembunyi di kamar, menunggu kita menjemputnya. Cari perhatian seperti biasa," dengus Bima sambil memotong steak-nya.

"Tapi kan kasihan, Pa. Kalau Kak Fira lapar gimana? Nanti dia sakit," ujar Maya lagi, memasang wajah memelas yang palsu.

Raga, yang mulai merasa terganggu, memanggil kepala pelayan. "Bi Asih! Panggil anak itu ke sini sekarang!"

Bi Asih segera berlari menuju kamar Safira. Namun, saat pintu diketuk, jawaban yang ia terima sungguh mengejutkan.

"Bi, bilang pada Papa, aku tidak akan ikut makan malam. Kepalaku pusing. Tolong bawakan saja makanan ke kamar," ucap Safira dari balik pintu dengan nada datar yang dingin.

Bi Asih kembali ke ruang makan dengan wajah pucat. "Maaf, Tuan... Nona Safira bilang dia kurang enak badan dan ingin makan di kamar saja."

Bima tertawa mengejek. "Tuh, kan! Baru juga diomongin langsung keluar jurus pura-pura sakitnya."

"Ya sudah, biarkan dia membusuk di kamar. Kamu kembali ke dapur, Bi," perintah Raga tanpa rasa khawatir sedikit pun. Mereka lanjut makan dengan riang, seolah-olah tidak ada satu anggota keluarga pun yang tengah menderita di atas sana.

Keesokan Harinya

Sore itu, Safira memutuskan untuk berubah total. Ia mengenakan hoodie hitam oversize dan hot pants yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Rambut panjangnya yang sering berantakan ia kuncir kuda dengan rapi. Tidak ada lagi mekap tebal yang menjijikkan; hanya wajah polos yang sebenarnya sangat cantik dan elegan.

Saat menuruni tangga menuju pintu keluar, ia mendapati Bima dan teman-temannya sedang berkumpul di ruang tengah. Di sana juga ada Nathan, pria yang selama ini dikejar-kejar Safira hingga harga dirinya jatuh ke titik terendah.

Dulu, Safira pasti akan langsung menghampiri mereka, menggelayuti lengan Nathan, dan memohon perhatian. Namun sekarang, Safira berjalan lurus melewati mereka seolah-olah mereka tak ada di sana.

Bagas, salah satu teman Bima, sampai tersedak minumannya. "Wah, ada apa nih, Bim? Nggak biasanya adik lo nggak nempel ke Nathan."

"Iya, eh... lihat tuh penampilannya. Tumben nggak kayak tante-tante atau badut pasar malam," timpal Mufti dengan nada heran.

Bima mendengus, meski dalam hati ia juga merasa aneh dengan perubahan sikap Safira yang tiba-tiba acuh. "Halah, paling itu trik baru buat narik perhatian. Dan inget ya, dia bukan adik gue."

Sementara itu, Nathan tetap diam. Matanya tidak lepas dari punggung Safira yang menghilang di balik pintu. Ada sesuatu yang berbeda. Tatapan Safira tadi saat tak sengaja beradu dengannya tidak ada lagi binar cinta yang dia liat dari mata itu. Hal itu secara aneh membuat hati Nathan merasa tidak nyaman.

...****************...

Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas😘😘

BAB 3 Senja yang Menawan namun Dingin

Sesampainya di mall, Safira melangkah dengan tujuan pasti. Tidak ada lagi keraguan. Ia segera memasuki butik-butik kelas atas untuk membuang identitas lamanya. Pakaian-pakaian yang dulu dipilihkan Maya—yang terlalu terbuka dan mencolok—akan segera ia musnahkan.

Kini, pilihan Safira jatuh pada warna-warna monokrom: hitam, putih, dan abu-abu.

"Saya mau yang ini, ini, dan ini. Ukurannya sesuaikan," ujar Safira kepada pelayan toko dengan nada datar.

Pelayan itu tersenyum lebar, membayangkan bonus besar yang akan didapatnya. "Baik, Nona. Pembayarannya ingin melalui cash atau debit?"

Tanpa sepatah kata pun, Safira mengeluarkan kartu debit hitam miliknya. Kartu itu adalah bukti dari kerja kerasnya membangun bisnis sendiri, bukan dari belas kasihan keluarga Maheswara.

Tujuan selanjutnya adalah salon. Safira ingin membuang semua beban, termasuk rambut panjang yang dulu ia pelihara hanya karena Bima pernah bilang menyukai gadis berambut panjang.

"Selamat siang, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" sambut penata rambut profesional di sana.

"Potong model Short Bob with Wispy Bangs. Warnanya medium brown," perintah Safira sambil menunjukkan referensi di ponselnya.

Tiga jam berlalu. Saat cermin dihadapkan padanya, Safira hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Potongan bob pendek itu membingkai wajah tirusnya dengan sempurna, sementara poni tipis di dahinya memberikan kesan imut dan segar, kontras dengan tatapan matanya yang dingin dan dewasa.

Ia kini tampak seperti gadis yang mandiri dan berani dalam diam. Tenang seperti senja, namun sekuat malam yang tidak pernah takut pada kegelapan. Setelah memberikan tip yang cukup besar, ia pergi meninggalkan salon dengan kepala tegak.

DI CAFE

Safira kemudian memesan kendaraan menuju sebuah kafe fancy di sudut kota—salah satu aset miliknya yang dikelola oleh Andi. Andi adalah orang kepercayaan Safira yang ia selamatkan saat pria itu terpuruk karena biaya pengobatan adiknya.

"Sore, Fira," sapa Andi hangat. Ia adalah satu dari sedikit orang yang diperbolehkan memanggil Safira tanpa embel-embel 'Nona'.

"Sore, Kak. Bagaimana laporan minggu ini?" tanya Safira sambil duduk.

"Pengunjung makin membeludak di restoran dan kafe cabang utama. Aku rasa kita perlu tambah karyawan untuk menjaga kualitas layanan," jelas Andi serius.

Safira mengangguk, jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme yang tenang. "Rekrut dua atau tiga orang untuk shift ramai. Tapi pastikan mereka paham SOP kita. Aku ingin ekspansi ini stabil, jangan sampai ada celah untuk kesalahan."

"Siap, Bos. Akan segera diproses," jawab Andi kagum pada ketegasan gadis di depannya.

"Terima kasih, Kak. Kabari aku jika ada masalah mendesak," Safira bangkit dan memakai kembali hoodie besarnya, menyembunyikan transformasi barunya di balik kain tebal itu.

Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, seseorang mengamati dengan mata penuh kebencian. Maya. Ia memotret kebersamaan Safira dan Andi dengan senyum licik. "Lihat saja, Papa dan Abang akan makin membencimu. Hanya aku yang boleh dicintai di rumah itu," batinnya penuh dendam sebelum bergegas pergi.

Sampai di rumah

Saat menginjakkan kaki di ruang tamu rumah Maheswara, Safira disambut oleh atmosfer yang mencekam. Raga, ayahnya, duduk dengan wajah merah padam.

"Dari mana saja kamu?!" bentak Raga seketika.

Safira berhenti melangkah, namun ia tidak menunduk. "Apa urusannya dengan Anda, Tuan?"

Suasana mendadak hening. Raka, abang pertamanya yang baru pulang, berdiri dengan emosi. "Sopan sedikit kalau bicara dengan orang tua, Safira! Apa itu hasil didikan Kakek dan Nenekmu?"

Maya, yang sudah duduk manis di sofa, mulai menjalankan aktingnya. "Sudah, bang Raka, Papa... jangan marah-marah. Mungkin Kak Fira cuma lagi capek atau ada masalah di luar."

Safira hanya melirik Maya dengan tatapan meremehkan. Ia tahu foto yang diambil Maya tadi pasti akan segera dijadikan senjata. Tanpa niat meladeni drama picisan itu, Safira melanjutkan langkahnya menuju tangga.

"Mau ke mana kamu?! Papa belum selesai bicara!" teriak Raga.

Safira tidak berhenti, bahkan tidak menoleh sedikit pun.

"Sudahlah, Pa. Paling itu cuma trik barunya biar kita mengejarnya. Biarkan saja dia berakting sampai bosan," celetuk Bima acuh sambil fokus pada ponselnya.

Mereka kembali bercanda, menganggap Safira tidak ada. Mereka tidak tahu, di balik hoodie besar itu, Safira kini memiliki penampilan yang jauh lebih cantik dan berkelas. Dan yang terpenting, ia bukan lagi gadis lemah yang bisa mereka sakiti sesuka hati.

...****************...

Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!