"Pasti Jane senang,"
Reyvan tersenyum kecil, tak sabar membayangkan reaksi istrinya saat melihat hadiah ini. Ia menutup kotak merah beludru yang berisi kalung berlian putih—hasil kerja kerasnya selama empat bulan terakhir.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi oleh bayangan Jane melonjak kegirangan, memeluknya erat sambil menangis terharu.
“Jane!! Mas pulang!!” serunya riang dari halaman rumah, padahal langkahnya belum sampai ke pintu.
“Mas bawa kejutan buat kamu!” tambahnya.
Setelah memarkirkan motor tuanya di sisi rumah kecil peninggalan kakeknya, Reyvan segera masuk. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sunyi.
“Jane!?” panggilnya lagi, lebih keras.
Tak ada sahutan.
"Kemana dia?" gumamnya pelan.
Beberapa saat kemudian, suara deru mesin mobil mewah berhenti di depan rumah itu.
Seorang wanita muda turun dari kursi penumpang. Jane Nathania—istrinya, ia menatap rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka.
“Kamu beneran mau ikut aku?” tanya pria yang ada di sampingnya.
“Hum, keputusanku udah bulat. Aku udah nggak tahan tinggal sama pria miskin kayak dia.” jawab Jane tanpa ragu.
Pria di sampingnya—berpakaian nyentrik dengan celana jeans robek-robek, kaus ketat, dan jaket kulit yang terlihat mahal—tersenyum puas.
“Baiklah, baby. Aku bantu kamu buat melepaskan dia.”
Reyvan yang masih mondar-mandir mencari keberadaan istrinya terhenti saat melihat keluar. Pandangannya tertumbuk pada sosok Jane dan pria asing itu yang kini berdiri di ambang pintu.
“Jane!!” serunya, lalu berlari menghampiri istrinya.
“Kamu kemana aja? Aku cari-cari kamu dari tadi...” ucapnya dengan nada bingung dan cemas.
Tatapannya kemudian beralih pada pria yang berdiri dengan angkuh di samping Jane.
“Si... siapa dia, Jane?” tanyanya.
“Minggir.” sahut Jane datar, lalu mendorong Reyvan.
“Jane...” panggil Reyvan, mengikuti langkah istrinya yang tergesa-gesa masuk ke kamar mereka.
"Kamu kenapa?" kata Reyvan. Matanya melebar saat melihat Jane mengambil tas besar lalu membuka lemari.
"Jane... apa yang kamu lakukan?" kata Reyvan lagi.
Jane tidak menghiraukannya. Ia mulai meletakkan baju-bajunya ke dalam tas itu.
"Kamu mau ke mana, Jane!?" kata Reyvan. Seketika jantungnya berdetak kencang, takut jika Jane benar-benar akan meninggalkannya.
Tangannya berusaha menghentikan Jane yang sibuk berkemas.
"Lepas!" bentak Jane.
"Jangan halangi aku!" katanya lagi.
"Aku mau pergi dari rumah ini!" katanya lantang.
Hati Reyvan mencelos mendengar itu.
"A..apa pergi?" katanya lirih.
"Ya! Aku udah nggak tahan hidup sama pria miskin ya nggak bisa bahagiain istrinya kayak kamu!"
"Kamu pikir selama ini aku bahagia, hah!? Bullshit banget! Yang ada aku tertekan hidup sama kamu!" kata Jane lagi.
"Aku nggak butuh cinta dari kamu! Aku butuhnya kemewahan dan kamu nggak bisa ngasih itu ke aku!" katanya tajam.
Mata Reyvan berkaca-kaca. "Ja... Jane, maafin aku. Jane, jangan tinggalin aku... a..aku minta maaf kalau aku belum bisa ngasih kamu kemewahan. Tapi... tapi aku selalu berusaha selama ini agar kamu nggak kekurangan... Aku selalu kasih kamu uang buat shopping, buat nongkrong sama teman-teman kamu, buat semua hal yang kamu suka!"
Jane bersedekap dada. "Kamu tetap nggak bisa menuhi apa yang aku mau!" katanya lagi.
"Jadi... mulai sekarang, kita nggak ada hubungan apa-apa lagi. Aku bakalan cabut dari rumah ini!" katanya tegas.
Reyvan menggeleng. "Kamu nggak boleh pergi!"
"Aku nggak peduli," kata Jane.
Wanita itu mengambil tas besarnya dan berjalan keluar kamar.
"Jane! Jangan pergi! Jane! A...aku janji akan berusaha lagi biar kita bisa hidup enak! Aku janji akan kerja siang malam demi kamu!" katanya sambil menahan lengan Jane.
"Lepas, ih!" kata Jane menepis kasar tangan Reyvan.
"Udah, Yang?" kata pria tadi.
"Yang?" bego Reyvan saat pria itu memanggil istrinya seperti itu.
"Ya, dia pacarku. Aku jauh lebih bahagia saat bersamanya," kata Jane.
"Kamu... selingkuh dari aku...?" kata Reyvan kaget.
Entah kenapa, tangannya kini mengepal erat.
"Ya! Kami sudah berpacaran selama tiga bulan! Dia bisa ngasih aku uang lebih banyak dari kamu, ngajak aku shopping, jalan-jalan, dan beliin aku barang-barang mahal yang nggak pernah bisa kamu kasih!"
Napas Reyvan memburu hingga—
Bugh!
Satu pukulan mendarat di rahang pria itu.
"Tyas!!" teriak Jane saat pacarnya dipukul tiba-tiba.
Jane lekas membantu pria itu bangkit. Wajahnya penuh kekhawatiran, terlebih ketika melihat sudut bibir pria itu mengeluarkan darah. Tatapannya lalu beralih ke Reyvan yang berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah karena amarah.
"Keterlaluan kamu, Jane!" teriak Reyvan dengan suara bergetar. "Aku kerja dari pagi sampai sore, banting tulang cuma buat nyenengin kamu, biar bisa penuhi semua ekspektasi kamu! Tapi ini... ini balasan kamu ke aku!?"
"Aku nggak pernah nyakitin kamu, Jane... Nggak pernah! Apalagi sampai mukul kamu. Aku selalu berusaha jadi suami yang baik buat kamu, nahan emosi, mengalah, dan tetap sayang sama kamu meskipun kamu sering acuh. Tapi kamu... kamu malah kayak gini ke aku!"
Jane memutar bola matanya dan tertawa getir.
"Maaf ya, Mas...Reyvan. Aku terima lamaran kamu dulu karena terpaksa! Padahal aku tahu kamu waktu itu cuma punya rumah reyot ini buat tempat tinggal!"
Jane melangkah mendekat, wajahnya dingin.
"Dan sekarang, cukup sudah sabarku. Aku muak! Aku mau cari laki-laki yang lebih baik dan tentu saja lebih kaya!"
"Sekarang juga aku minta kamu talak aku! Urusan suami istri kita selesai sampai di sini!"
"Jane!!" teriak Reyvan saat wanita itu melangkah keluar rumah tanpa menoleh sedikit pun.
Reyvan sontak mengejar, tangannya menarik lengan Jane.
"Apa kamu yakin pacarmu itu orang baik-baik!?" katanya dengan napas tersengal karena emosi.
"Tentu saja!" jawab Jane cepat.
"Ayo, Tyas. Kita pergi dari sini,"
"Jane... kasih aku kesempatan, Jane... Aku... aku akan..." Reyvan mencoba meraih tangannya lagi saat Jane membuka pintu mobil milik Tyas.
"Lepas!" bentak Jane sambil mendorong tubuh Reyvan dengan kasar.
"Jane!!! Jane!!!" teriak Reyvan sambil mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil.
"Jane...aku sumpahin kamu menyesal meninggalkan aku..."
Tapi Jane hanya melirik sekilas. “Aku nggak akan nyesel. Sama sekali.”
“Kamu bebas setelah ini. Mau ke mana, kek... Mau cari cewek lain juga, aku nggak peduli,” katanya lagi.
“Ayo jalan, Tyas,” ucap Jane pada pria di sampingnya.
"Jane!!!" teriak Reyvan sekuat tenaga saat mobil itu meluncur meninggalkan pekarangan rumah.
Air mata perlahan jatuh membasahi pipinya. Dia berdiri mematung, memandangi mobil yang makin lama makin mengecil di kejauhan. Waktu terasa berhenti.
Tubuh Reyvan limbung. Dia jatuh berlutut ke tanah.
"Nggak mungkin... Ini pasti cuma mimpi..." gumamnya lirih.
Reyvan menangis terisak. Tak bisa mempercayai kenyataan bahwa wanita yang selama ini ia banggakan, cintai sepenuh hati, justru tega menghancurkan semuanya dalam sekejap mata.
Reyvan mengambil kotak kecil yang berisi kalung di sakunya dengan tangan gemetar dia membukanya.
"Kamu jahat, Jane... Kamu pergi, padahal kamu udah janji untuk hidup bersamaku, baik suka maupun duka..." Kata Reyvan lirih.
Reyvan memejamkan matanya erat-erat. Air mata terus turun, membasahi kotak kecil berisi kalung yang masih ia genggam erat di tangannya.
Tiba-tiba suara deru mesin mobil memecah keheningan. Reyvan membuka matanya pelan-pelan, lalu mendongak saat sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumahnya.
Dengan cepat, ia mengusap air matanya kasar, mencoba menegakkan tubuh. Alisnya bertaut bingung saat melihat pintu mobil terbuka dan seorang pria turun. Sepatu pantofel hitam mengkilat menjejak tanah.
Reyvan menatap sosok pria paruh baya yang berdiri tegak di hadapannya. Tubuhnya tinggi, tegap meski usianya tak lagi muda. Jas yang rapi dan jam mahal di pergelangan tangannya menunjukkan bahwa dia bukan orang sembarangan.
Sorot matanya sendu. Bola matanya tampak berkaca-kaca.
"Reyvan..." ucap pria itu, suaranya bergetar. "...putraku."
Ps: Selamat datang di cerita kesekian saya!
Maaf kalau cerita saya ngeselin
Padahal judul awalnya pengen Dosenku, Mantan Suamiku. Tapi liat ah nanti mau di ganti atau nggak.
Beberapa tahun kemudian....
“Ck, ganteng banget sih dia, badannya juga kekar banget...” gumamnya dengan nada kagum, sambil menggigit ujung kukunya.
“Alamak... dulu nggak se-berotot gini...” lanjutnya.
“Duh... ngiler banget gue...”
Wanita yang sedang duduk di atas sofa kecil berwarna krem itu terus menggeser layar ponselnya, matanya tak lepas dari serangkaian foto seorang pria tampan yang jelas tak asing baginya.
"...kok bisa dia kaya raya sekarang..." ucapnya lirih, seakan tak percaya dengan perubahan drastis yang dilihatnya.
Semakin ia menggulir ke bawah, semakin terpukau dirinya dibuat oleh foto-foto mantan suaminya itu. Potret Reyvan mengenakan jas hitam elegan, duduk di kursi VIP di acara gala, liburannya ke luar negeri, hingga foto close-up wajahnya yang terlihat semakin dewasa dan karismatik—semua membuat jantungnya berdetak tak karuan.
“Aaaa... Mama! Pengen dia lagi!!” teriaknya histeris, mengguling ke sofa seperti remaja yang baru naksir gebetannya.
“Ck! Nyesel banget gue ninggalin dia...” Katanya, wajahnya menengadah menatap langit-langit, penuh penyesalan.
“Duh, Jane... lo bodoh banget sih dulu...” katanya lagi sambil memukul pelan kepalanya sendiri.
Ya, Jane. Wanita yang dulu pernah meninggalkan suaminya dan pergi dengan selingkuhannya. Jane memang baru mengetahui akun Ig baru Reyvan. Di sana, Reyvan terlihat sudah berubah total. Bukan lagi lelaki sederhana dengan pakaian lusuh, tapi pria sukses dengan gaya hidup kelas atas.
Jane bahkan menahan napas saat melihat salah satu foto Reyvan tengah duduk di kursi pengemudi sebuah mobil sport hitam mengilap, dengan interior kulit dan jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya.
Belum lagi saat Jane membuka kolom komentar—penuh dengan emoji api, hati, dan rayuan dari perempuan-perempuan cantik.
“Omggg, ganteng banget, bang!”
“Fix, idaman semua wanita!”
“Single nggak, bang? Aku siap jadi pelengkap hidupmu”
"Aku siap mengangkang untukmu~"
Komentar-komentar itu membuat Jane geram saja.
“Heh! Rasain! Kena karma kan lo sekarang!”
Suara tawa mengejek terdengar tiba-tiba. Seorang pria berkaos hitam baru saja keluar dari kamarnya.
“Diem lo!” semprot Jane, membuang muka.
“Udah bagus dulu suami lo itu bang Rey, walau miskin dia baik... setia, spek kayak gitu lo tinggalin. Gue tahu lo dulu kesiksa gara-gara dia nggak punya apa-apa. Tapi sekarang dia udah sukses, lo baru nyesel!” lanjut pria itu, dengan nada sinis.
"Lo di sini sengsara, dan sekarang giliran dia yang bahagia," kata Arjuna tajam, menyandarkan tubuh ke dinding dengan tangan menyilang di dada.
Jane cemberut, menatap kesal ke arah adiknya itu. Saat ini mereka tinggal di rumah peninggalan kedua orang tua mereka—rumah tua dengan cat yang mulai mengelupas, perabot sederhana. Hidup mereka jauh dari kata mewah.
Setelah pergi dari rumah Reyvan beberapa tahun lalu dan ikut bersama Tyas, hidup Jane justru makin terpuruk. Bukannya bahagia, dia malah diselingkuhi. Parahnya lagi, Tyas yang dulu terlihat meyakinkan, ternyata tukang utang. Mobilnya mobil rental, barang-barangnya hasil pinjaman. Kalung dan cincin satu-satunya milik Jane juga habis dijual diam-diam oleh pria itu.
Kurang ajar emang! Tyas awalnya doang baik!
“Mau nggak ya kalau gue ngajak Reyvan balikan lagi? Secara kan dulu dia cinta banget sama gue,” kata Jane dengan nada percaya diri.
“Hahaha!!” suara tawa Arjuna meledak begitu keras, memenuhi ruangan sempit itu. “Bangun, woi! Mimpi lo ketinggian!”
“Lo buang dia seenaknya, terus sekarang lo mau nyodorin diri lo buat balikan sama dia!?”
Arjuna menatap kakaknya dari atas ke bawah. “Ngaca dulu, Neng! Lo pikir masih punya nilai di mata dia? Dulu dia tulus cinta sama lo, tapi lo lebih milih cowok yang modal gombalan doang.”
“Lagi pula nih ya,” lanjutnya, “cowok seganteng dan sekeren Bang Rey sekarang, pasti udah banyak yang ngantri buat jadi pendamping dia. Nggak susah buat dia dapetin cewek yang cantik, cerdas, sukses, dan—yang paling penting—nggak ninggalin dia pas lagi jatuh.”
“Jadi, simpen aja khayalan lo itu, Tuan Putri. Dunia ini nggak berputar buat lo doang.”
Jane makin kesal diejek seperti itu oleh adiknya. “Harusnya lo dukung gue balikan sama dia!” serunya.
“Nggak,” jawab Arjuna tegas, kali ini nadanya berubah menjadi serius. “Udah bagus Bang Rey jauh-jauh dari cewek kayak lo. Dia pantas dapat yang jauh lebih baik. Lo udah bikin abang ipar kesayangan gue sakit hati, dan lo nggak pantas dapetin dia lagi.”
“Nikmati penyesalan lo, Kak Jane…” kata Arjuna sebelum berbalik dan melenggang pergi begitu saja.
“Argh!!” Jane berteriak kencang. Ia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, gemas dan geram dengan semua kenyataan yang menamparnya satu per satu.
Jane sadar diri, tentu saja. Mana mungkin Reyvan mau balikan dengan dia sekarang? Yang ada, malah dia yang bakal ditendang mentah-mentah, mungkin juga dihina-hina habis-habisan oleh pria itu.
“Tapi… g–gue beneran mau balikan sama dia. Gimana dong…” lirihnya. Matanya kembali melirik layar ponsel.
Jarinya menggulir layar Instagram milik Reyvan. Ia memperhatikan setiap unggahan dengan detail. “Di IG-nya nggak ada foto cewek... apa iya dia masih jomlo?”
“Ck, kesannya gue tuh pengen hartanya doang...” gumam Jane, “tapi selain itu… ya ampun, dia juga makin ganteng, putih banget... makin glowing gitu kulitnya. Gimana nggak klepek-klepek gue coba?”
Jane terus scroll, sampai akhirnya matanya berhenti di sebuah unggahan. Reyvan tampak gagah mengenakan jas hitam, berdiri dengan percaya diri di depan sebuah gedung besar nan modern. Di belakangnya tertulis jelas: Universitas Adimarga Utama.
Matanya menelusuri caption yang tertulis di bawah foto:
“Pendaftaran mahasiswa baru Universitas Adimarga Utama dibuka mulai 19 Juni – 20 Juli. Ayo daftarkan diri kalian sekarang!”
Jane tercekat. OMG. Ini kampus yang viral itu…
Seketika, kenangan lama menyeruak dalam ingatannya.
“Aku pengen banget jadi dosen, itu cita-cita aku dari dulu…”
“Nggak yakin aku cita-cita kamu tercapai,” jawab Jane, dengan nada sinis dan meremehkan.
“Nggak ada yang tahu masa depan seseorang, Jane. Kalau semesta berkehendak, semua bisa terjadi dalam sekejap…”
Jane tersenyum miris. Dulu, dia memang terlalu meremehkan Reyvan. Tapi ternyata, sekarang semuanya terbalik. Reyvan kaya raya dan sukses, sementara dia...
“Nggak guna gue nyesel… Nggak bakal bikin dia mau sama gue lagi,” gumamnya pelan. Matanya mulai terasa panas, tapi air matanya enggan jatuh.
Jane menutup ponselnya dan menyandarkan kepalanya ke sofa yang mulai usang itu. Matanya menatap langit-langit.
“Masa… iya gue mesti kuliah di usia gini…” gumamnya.
“Terus… uangnya dari mana? Kampus itu kan mahal…”
“Nggak mungkin gue minta sama Arjuna… yang ada malah diejek-ejek lagi.”
“Kasihan juga dia kalau harus biayain gue kuliah… hidupnya aja udah berat.”
Jane menghela napas kasar. “Boro-boro kuliah… makan sehari-hari aja harus muter otak…”
Jane hanya bekerja sebagai penjual kerupuk rumahan, itu pun kalau ada yang pesan. Kalau sepi, ya dia cuma bisa guling-guling dan duduk di sofa.
Sementara Arjuna, adik satu-satunya, hanya bekerja sebagai office boy di sebuah perusahaan. Gajinya sebagian besar habis untuk nyicil kredit motor yang dia pakai.
Namun tiba-tiba, mata Jane membelalak. Sebuah ide seolah menyambar benaknya, membuat senyum perlahan merekah di wajahnya muram.
“Semoga dia mau bantu…” katanya dengan nada yakin. “Pokoknya gue pengen ketemu Reyvan. Dan gue harus dapetin dia lagi... gimana pun caranya.”
“Kalaupun dia udah nggak cinta lagi sama gue…”
“...Gue harus bikin dia jatuh cinta lagi. Ya, harus!”
Tap! Tap! Tap!
Suara sepatu pantofel hitam beradu dengan lantai keramik putih mengisi lorong Fakultas Ekonomi dan Bisnis sore itu.
Tampak seorang pria berpostur tegap dengan tinggi sekitar 190 cm melangkah mantap. Setelan kemeja putih yang dibalut jas hitam, serta rambutnya yang disisir rapi ke belakang, membuatnya tampak semakin tampan. Tatapan matanya tajam, wajahnya bersih dan tegas.
“Sore, Pak...”
“Pak Rey makin ganteng aja, deh...”
Beberapa mahasiswi menyapa dengan senyum genit, tapi pria itu hanya melirik sekilas. Tak ada raut ekspresi yang berubah di wajahnya. Datar. Dingin. Seperti biasa.
“Woi! Pak Rey masuk!”
Seketika suasana kelas yang semula riuh langsung sunyi. Mahasiswa buru-buru kembali ke tempat duduk masing-masing. Hanya suara langkah Reyvan yang terdengar mendekati podium kelas besar itu.
“Selamat sore!” ucapnya lantang saat sudah tiba di kelas.
“Sore, Pak!” sahut seluruh mahasiswa serempak.
Reyvan tidak langsung duduk. Matanya menyapu satu per satu wajah mahasiswanya. Sudut bibirnya sedikit terangkat begitu pandangannya berhenti pada sosok gadis yang duduk di baris belakang, pojok dekat jendela.
“Beruntung banget lo, Bel... Bisa deket sama Pak Rey, gimana caranya sih? Lo pake pelet apa?” bisik seorang mahasiswi berambut pendek yang duduk di dekat gadis itu.
“Syut! Diam, nanti kedengaran orang...” jawab Bella pelan, sambil mengalihkan pandangannya ke buku catatan.
Reyvan lalu melangkah duduk, membuka laptop berlogo apel yang diletakkannya di atas meja.
“Baik, kita mulai perkuliahan sore ini. Materi kita hari ini adalah ‘Manajemen Strategi dalam Dunia Bisnis Modern’. Saya sudah kirimkan bahan bacaan melalui Edlink tadi malam, namun akan saya jelaskan poin-poin pentingnya secara langsung di kelas.”
Ia mulai memasang kabel di laptop-nya, lalu materi langsung muncul di layar proyektor.
“Manajemen strategi adalah proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi keputusan yang memungkinkan organisasi mencapai tujuannya. Dalam dunia bisnis yang kompetitif, perencanaan strategi yang matang.......”
Para mahasiswa mulai mencatat. Beberapa sibuk mengetik di laptop, sebagian lagi merekam penjelasan Reyvan dengan ponsel.
Sesekali, tatapan Reyvan kembali melirik ke arah Bella. Gadis itu terlihat berusaha fokus, tapi jelas wajahnya memerah saat menyadari dirinya diperhatikan. Ia menunduk, kembali mencatat materinya.
Pria itu kembali berdiri dan menjelaskan lagi. Hingga...
“Bella.”
Gadis itu tersentak, buru-buru menatap ke depan.
“Apa kamu tahu apa itu analisis SWOT?” tanya Reyvan tanpa basa-basi.
Bella menarik napas, mencoba tetap tenang.
“Analisis SWOT adalah teknik strategis yang digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu organisasi atau proyek, Pak.” jawabnya lancar.
Reyvan mengangguk, “Bagus. Jawaban kamu selalu sempurna.”
Tidak salah dia mengagumi dan mencintai gadis itu, cantik dan cerdas. Paket lengkap!
Dan Reyvan kembali menjelaskan dia tidak ingin terlalu menonjolkan Bella. Jangan sampai perasaan pribadi mengacaukan profesionalisme-nya di ruang kelas.
•••••
Jam perkuliahan berakhir setelah dua jam.
Reyvan keluar dari kelas sambil menunduk, matanya fokus pada layar ponselnya. Jemarinya dengan cekatan mengetik pesan.
"Temui aku di ruanganku,"
Setelah menekan tombol kirim, seulas senyum tipis menghiasi wajah dinginnya. Ponsel kembali dimasukkan ke saku jas hitamnya.
“Ganteng banget, hot duda kita satu ini…” bisik salah satu mahasiswi pada temannya yang duduk di bangku panjang lorong.
“Hum, ngenes nggak sih mantan istrinya? Pasti nyesel banget udah buang berlian kayak Pak Rey.”
“Duh, kalau aku sih... bakal nyesel seumur hidup!”
Langkah Reyvan seketika berhenti. Matanya menyipit, pendengarannya tajam menangkap kalimat tadi.
Ia menoleh, menatap dua mahasiswi itu dengan tatapan menusuk.
“Jangan suka membicarakan orang kalau kalian nggak mau saya tendang dari kelas saya,” katanya datar.
“Ma... maaf, Pak,” kata salah satu dari mereka, buru-buru menunduk malu.
Tanpa menambahkan sepatah kata pun, Reyvan kembali berjalan menuju ruangannya yang berada di ujung koridor. Begitu sampai, ia membuka pintu dan masuk, lalu melemparkan tubuhnya ke sofa panjang setelah meletakkan laptop dan buku-bukunya di atas meja.
Pria itu terkekeh sinis, Mantan istri?
Jangan sampai ada yang menyebut nama wanita itu di depannya. Nama yang sangat dia benci beberapa tahun terakhir ini.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pelan terdengar.
“Masuk!” serunya dari dalam.
Pintu terbuka pelan. Seorang gadis melangkah masuk dengan kepala sedikit tertunduk, tangannya meremas tote bag yang digantungkan di bahunya.
Saat matanya menangkap wajah gadis itu, senyum Reyvan langsung muncul—senyum yang hanya ia berikan untuk satu orang.
Bella.
“Sini...” panggilnya lembut, menepuk sofa di sampingnya.
Bella mendongak pelan, lalu tersenyum kecil dan melangkah ke arah Reyvan. Ia duduk perlahan, mencoba menjaga jarak meski detak jantungnya sudah tak karuan.
“Hampir aja aku ketahuan...” gumam Bella.
“Nggak apa-apa. Emang seharusnya begitu, kan? Biar semua orang tahu aku udah punya pawangnya.”
Bella manyun.
“Ish… Tapi nanti aku yang kena bully! Fans-fans kamu itu yang menyeramkan itu.”
“Tapi kamu seneng aku digodain sama mahasiswi lain?”
Bella menggeleng cepat.
“Ya nggak dong… Kamu kan… pacarku...” ucapnya pelan, sedikit menunduk saat menyebut kata terakhir.
Reyvan mendekat, lalu merangkul bahu Bella. Ia menunduk, kemudian mengecup pucuk kepala gadis itu beberapa kali.
“Malam ini kita dinner, ya?”
Bella mendongak sedikit. “Kemana?”
Reyvan tersenyum misterius. “Ada deh… Pokoknya nanti malam aku jemput kamu. Dan… tunggu, malam ini aku juga bakal kasih kejutan buat kamu.”
Bella tersenyum lebar. "Can't wait for the surprise"
Dia balas merangkul pinggang Reyvan dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Dia bisa mendengar detak jantung Reyvan.
“Nggak nyangka ya… dulu aku yang ngejar-ngejar kamu, sekarang kita udah kayak gini aja… pelukan.” ucap Bella pelan.
“Dulu, waktu pertama kali aku masuk universitas ini… semua orang ngomongin kamu. Kamu ganteng, tapi serem. Muka kamu tuh, killer abis!” Bella tertawa pelan mengingat masa lalu.
"Tapi meskipun begitu aku banyak disukai sama mahasiswi di sini,"
Bella cemberut.
"Kamu nggak usah cemburu, karena kamu udah jadi pemenangnya,"
"Usaha kamu nggak sia-sia mencintai aku ugal-ugalan," katanya lagi, terkekeh.
“Aku juga tahu loh, modus kamu tiap aku masuk kelas kamu.” Reyvan menatapnya sambil menggoda. “Kamu pura-pura nggak bisa jawab pertanyaan, biar aku hukum bersihin ruanganku, padahal itu niat kamu biar ketemu sama aku kan?”
Bella menutup wajahnya dengan telapak tangan, malu. “Tapi berhasil kan? Sekarang dosennya yang klepek-klepek sama mahasiswinya sendiri.”
Reyvan tertawa pelan, lalu menggenggam kedua tangan Bella dengan lembut.
Tatapannya berubah serius, ada sorot dalam di sana—bukan sekadar cinta biasa.
“Kamu tahu, Bel… Kamu berhasil menyembuhkan luka lama aku. Kamu buat aku percaya lagi sama cinta.” suaranya pelan.
“Setelah cerai dari mantan istriku… aku pikir aku nggak bakal bisa jalanin hubungan lagi. Aku trauma. Hancur. Aku ngerasa… udah cukup sampai di situ hidupku soal cinta. Tapi kamu...merubah segalanya kamu membuat hidup aku berwarna lagi.”
Bella terdiam. Matanya berkaca-kaca.
“Kamu buat aku ngerasa dihargai… bukan sebagai Reyvan si dosen ganteng dan kaya raya, bukan juga si duda keren yang dilirik semua orang… tapi...kamu benar-benar tulus cinta sama aku, terlepas dari status aku yang sekarang,"
Bella tak bisa menahan air matanya. Tapi itu air mata bahagia.
"Makasih Bella, aku harap hubungan kita akan terus bertahan lama,"
Reyvan mengusap air mata di pipi mulus gadis itu. Lalu mendekatkan wajahnya perlahan. Bella refleks memejam. Jarak wajah mereka makin tipis. Hingga hidung mereka bersentuhan.
“Aku mencintaimu, Bella.”
Bella membuka mata, menatap tepat ke mata Reyvan. “Aku juga mencintaimu.” bisiknya.
Tanpa kata lagi, Reyvan memiringkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh bibir Bella.
Ciumannya lembut.
Bella membalas ciuman itu dengan penuh perasaan.
Setelah dirasa cukup, Reyvan perlahan melepaskan ciuman itu, namun tak menjauh.
Keningnya bersandar di kening Bella, dengan napas mereka yang menyatu.
“Terima kasih untuk segalanya, Bella..."
“Terima kasih udah datang di hidup aku….”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!