Indonesia
NovelToon NovelToon

PRESDIR GILA Itu AYAH ANAK-KU

BAB 1. Tawaran Gila

"AAAAAAALEEEEXAAAA!"

Pekikan melengking itu menggema di sepanjang koridor luas kediaman keluarga Robertho Rich.

Alexa berlari menyusuri lorong panjang, langkahnya bergema di atas lantai pualam dingin. Napasnya tersengal, bukan hanya karena jarak, tapi juga karena firasat buruk yang selalu datang setiap kali namanya dipanggil dengan nada seperti itu.

Brak!

Pintu kayu bercat putih terhempas. Alexa berhenti di ambang pintu, dadanya naik turun.

“Ada apa, Nona Kattie?”

“Lamban sekali, sih? Kalau dipanggil itu langsung lari ke sini, bukan jalan kayak siput. Paham!?”

Alexa menunduk menahan diri untuk tidak membalas. Rumah ini terlalu besar, dan kesalahannya selalu dianggap mutlak.

“Ma-maaf, Nona. Lain kali saya akan usahakan lebih cepat. Jadi… untuk apa Nona panggil saya?”

Kattie mengambil sisir perak dari laci dan menyodorkannya.

“Seperti biasa… Sisir rambutku. Yang benar!”

Alexa melangkah ke belakang Kattie. Jemarinya bergerak hati-hati. Ia tahu, satu tarikan saja bisa berujung hukuman.

“Awww… sakit bodoh! Jangan ditarik!”

“Saya tidak menariknya, saya hanya menyisirnya dengan hati-hati.”

Kattie bangkit mendadak. Sisir direbut kasar, hampir mengenai wajah Alexa.

“Kamu sengaja, kan? Kamu mau merusak rambut saya, kan?”

“Tidak kok, saya sudah berusaha hati-hati.”

“Alasan! Dalam hatimu, kau lagi senang kan lihat rambuku yang ikal dan jelek begini, nggak kayak punyamu yang lurus dan panjang! Ngaku saja deh!”

Alexa membisu. Tuduhan itu sudah terlalu sering. Ia tahu, membela diri hanya akan memperpanjang penderitaan.

“Sana keluar! Dasar tidak berguna!”

Alexa berbalik dan melangkah pergi. Baru tiga langkah, sebuah tangan menariknya kasar ke dalam kamar sebelah.

Tubuhnya menegang seketika.

“Hei, babu, kamu dari mana?”

Alexa menoleh. Pisau kecil di tangan Jessy berkilat, cukup dekat untuk membuat tenggorokannya mengering.

“Da-dari kamar Nona Kattie, Non.”

“Sana berdiri! Taruh apel ini di atas kepalamu!”

Alexa menelan ludah. Tubuhnya kaku saat apel diletakkan di atas kepalanya. Ia tahu Jessy tidak pernah benar-benar bercanda.

Cetaass!

“Aaa.. kucing monyet kawin!”

Tawa Jessy meledak, sementara jantung Alexa hampir meloncat keluar dari dadanya.

Pisau menancap di foto di dinding, tepat di samping kepalanya. Rahang Alexa mengeras, menahan kesal. Matanya lalu terpaku pada pisau yang kini menancap dalam di sebuah foto besar yang dipajang di dinding, tepat di sisi kepalanya. Foto itu menampilkan seorang pria berwajah tampan dengan tatapan mata sedingin es—Nicholas Robertho Rich.

Nicholas adalah pewaris tunggal Robertho Rich. Alexa tahu betul sejarah kelam pria itu. Dua tahun yang lalu, Nicholas hancur saat mendapati kekasih tercintanya tewas bunuh diri. Dilalap duka yang gila, Nicholas nekat terjun ke arena balap liar untuk mencari maut. Namun, maut hanya memberinya koma panjang yang menyiksa hingga hari ini.

“Kenapa? Kamu naksir adikku yang jadi mayat hidup itu?”

Alexa menunduk. Bukan karena malu, melainkan ia sadar hidupnya kini berada di tangan keluarga yang sama sekali tak berperikemanusiaan.

"Jangan mimpi. Dia tidak akan bangun. Dan kalaupun bangun, dia hanya akan mencintai gadis yang sudah mati itu,” kata Jessy kesal.

“Padahal banyak gadis yang lebih cantik dari kekasihnya, tapi dia sangat bodoh sampai harus melukai dirinya sendiri, cih,” decak Jessy kembali berdiri di tempatnya semula dan siap menembak lagi.

Alexa hanya diam. Ia tak peduli Nicholas mencintai siapa atau apakah pria itu akan bangun. Baginya, Nicholas hanyalah objek dari tawaran gila Nenek Evelyn. Sebuah tawaran yang akan membawanya ke dalam bahaya namun juga ini satu-satunya jalan untuk membebaskan diri dari kemiskinan secara instan. Daripada itu, kini nyawa Alexa kembali terancam karena Jessy seperti serius ingin melemparkan pisaunya ke wajah Alexa.

Tapi sebelum Jessy beraksi, tiga ketukan pintu di samping mereka berhasil menghentikannya.

Tok Tok Tok…

“Permisi, Nona. Saya diperintahkan membawa Alexa ke kamar Nyonya Evelyn." Pelayan itu melirik Alexa yang tampak berkaca-kaca dengan kedatangannya. 

“Cih, bikin mood rusak saja! Sana pergi kalian berdua!” usir Jessy lalu Alexa bergegas pergi bersama pelayan itu.

“Fiuhhh… selamat juga… makasih ya, Mona, untung ada kamu,” hela Alexa menuruni tangga bersama Mona yang mengangguk kecil.

“Oh ya, mengapa Nyonya memanggilku? Apa ada urusan lain?” tanya Alexa. Seingatnya, tugasnya hari ini sudah selesai semua.

“Nyonya mau ke rumah sakit, mau melihat cucunya.”

“Maksudnya, aku diminta ikut bersama Nyonya?” Tunjuk Alexa pada dirinya sendiri. Lalu tiba-tiba seseorang menyahut di belakang mereka.

“Benar, Alexa.” Itu, Evelyn yang sudah bersiap pergi. Wanita tua yang duduk di kursi roda elektrik.

“Kemarilah, temani saya ke sana,” ajak Evelyn.

Waduh, perasaan ku mulai nggak enak, nih? Jangan-jangan ini cuma alasan biar Nyonya bisa menanamkan benih cucunya ke rahimku sekarang? 

Alexa bergidik ngeri, ia masih ingat beberapa hari lalu wanita itu meminta hal konyol darinya. Tawarannya agak ekstrim, tapi ini adalah kesempatan brilian untuk Alexa. Bisa punya suami setampan Nicholas dan menjadi Nyonya besar berikutnya. Siapa sih yang nggak mau posisi itu?

Kini Alexa dan Evelyn berdiri di sisi tempat tidur Nicholas. Kesedihan Evelyn tampak jelas tercetak di wajah tuanya. Tatapannya terlihat redup, tak tega melihat cucu kesayangannya tersiksa di tempat itu selama dua tahun. Melihat Evelyn terpuruk, Alexa mulai merasa kasihan.

“Alexa,” ucap Evelyn lirih, suaranya bergetar.

“Ya, Nyonya?” tanya Alexa gugup.

“Apa kau sungguh tidak mau tawaran saya ini? Apa kau sudah yakin?” tanya Evelyn menatap Alexa yang bimbang.

“Nyonya… saya ini hanya orang luar. Rasanya tidak pantas saya mengandung keturunan Anda,” kata Alexa.

“Sebenarnya saya mau-mau aja sih, Nek. Tapi masa saya harus nikah dan punya anak dari cucu Anda yang lagi koma?” pikir Alexa bingung.

Evelyn meraih jemari Alexa, menggenggamnya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tatapan wanita tua itu melunak, memancarkan kesungguhan yang jarang terlihat di kediaman Robertho yang dingin.

"Alexa," ucapnya lirih. "Aku tidak peduli dari mana asalmu atau apa statusmu. Aku tahu kau gadis yang baik dan jujur. Jauh berbeda dengan Kattie dan Jessy yang hanya mewarisi keangkuhan dan kekejaman di darah mereka."

Air mata mulai menggenangi pelupuk mata Evelyn yang keriput. "Apa kau tidak kasihan pada wanita tua yang tinggal menunggu waktu untuk dijemput ajal ini? Keinginan terakhirku hanya satu... aku ingin melihat keluarga ini memiliki penerus baru. Aku takut Nicholas yang kita tunggu-tunggu tak akan pernah membuka matanya lagi."

Alexa tertegun. Isak tangis Evelyn terasa menghujam nuraninya. Jika dipikir-pikir, wanita tua ini benar-benar dalam posisi yang sulit. Jika harta kekayaan keluarga Robertho yang tak berseri itu jatuh ke tangan Kattie atau Jessy, bisa dipastikan uang itu hanya akan habis untuk foya-foya dan kesenangan egois mereka.

Jika anakku kelak yang mewarisi kekayaan ini, aku bisa menggunakannya untuk hal yang jauh lebih berarti. Aku bisa membantu panti asuhan tempatku tumbuh, dan menyelamatkan banyak orang.

"Alexa… saya mohon," pinta Evelyn sekali lagi, suaranya parau penuh harap, membuat pertahanan Alexa mulai goyah.

Masalahnya… gimana cara bikin bayinya?

Apa aku harus melakukannya sendiri?

Orang koma emang ‘itu’nya bisa berdiri?

BAB 2. Mau Muntah

“Alexa, setelah Nicholas bangun nanti, saat itu juga kalian akan menikah secara sah. Kau tak perlu cemas soal masa depanmu. Aku menjamin hidupmu akan bergelimang kemewahan,” bujuk Evelyn dengan mata berkilat penuh keyakinan.

Alexa terdiam cukup lama.

Tapi bagaimana kalau dia meninggal sebelum kami sempat menikah? Aku bisa rugi besar!

Namun Alexa segera menggeleng pelan dan mengusir pikiran buruk itu. 

Jangan menyerah dulu, Alexa. Siapa tahu Tuan Nicholas masih punya umur panjang. Lagipula... 

Ia melirik wajah tampan Nicholas yang tenang seperti pangeran dalam dongeng tidur. 

Kalau aku menjadi istrinya, aku punya kuasa untuk membalas semua perlakuan kejam Kattie dan Jessy. Aku akan membuat mereka berlutut di kakiku.

Senyum tipis hampir terukir di bibir Alexa. Dipikir-pikir, tawaran ini bukan sekadar bertahan hidup tapi sebuah peluang emas.

“Alexa? Bagaimana? Kamu mau?” Evelyn lantas mengguncang pelan tangan Alexa yang sempat melamun.

“Baiklah, Nyonya. Saya setuju,” jawab Alexa mantap.

Mendengar itu, Evelyn mengembuskan napas panjang. Beban berat yang menghimpit pundaknya selama ini seolah terangkat seketika.

“Tapi... bagaimana caranya saya bisa hamil, Nyonya? Cucu Anda bahkan tidak bisa membuka mata,” tanya Alexa dengan dahi berkerut dalam.

Evelyn tak menjawab dengan kata-kata. Ia merogoh laci nakas dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah sering dibaca. 

“Ini surat yang ditulis Nicholas... tepat sebelum malam kecelakaan balap liar itu terjadi," ucap Evelyn dengan suara serak menahan kesedihan.

Alexa menerima kertas itu dengan rasa penasaran. Ia menelusuri tiap baris kalimat yang tertulis dengan rapi dan indah. Namun semakin ia membaca, semakin lebar matanya membelalak.

Di dalam surat itu, Nicholas menuliskan wasiat gila, ia telah menyimpan spermanya di bank sperma rumah sakit terbaik. Ia meminta Evelyn mencari wanita yang layak untuk mengandung darah dagingnya sebagai ahli waris kekayaan Robertho, seolah ia sudah tahu bahwa maut tengah mengintainya malam itu.

Ternyata dia sama gilanya dengan saudara-saudara tirinya.

Batin Alexa tak percaya. Ini bukan sekadar ide Nenek Evelyn, ini adalah rencana Nicholas sendiri.

Alexa mengalihkan pandangannya dari surat itu ke arah Evelyn yang tampak sangat rapuh. Ada rasa iba yang menyelinap di hatinya. "Kasihan Nyonya Evelyn, beliau pasti sangat kelelahan menghadapi kegilaan cucu-cucunya," gumam Alexa lirih.

Semoga aku nggak ikutan gila nanti.

____

Beberapa minggu kemudian, prosedur yang telah direncanakan pun dimulai. Alexa dibawa ke sebuah klinik yang dijaga sangat ketat. Di sana, ia menjalani serangkaian pemeriksaan sebelum embrio tertanam ke rahimnya.

Saat Alexa sedang berada di ruang pemulihan untuk persiapan akhir, Nenek Evelyn duduk di ruang kerja dokter spesialis. Di hadapannya, Dokter menaruh dua tabung kecil dengan label khusus yang diambil dari penyimpanan beku.

"Nyonya Evelyn, ada sesuatu yang mengejutkan dari catatan penyimpanan Tuan Nicholas," ujar Dokter dengan nada serius.

"Ternyata, Tuan Nicholas tak hanya menyimpan satu, melainkan dua sampel sperma yang berbeda waktu pengambilannya. Dua-duanya memiliki kualitas yang sangat unggul."

Evelyn tertegun, matanya yang mulai kabur menatap kedua tabung itu dengan penuh gairah. "Dua?"

"Benar. Biasanya, kita hanya akan menanamkan satu embrio terbaik untuk meminimalisir risiko. Namun, mengingat kondisi Tuan Nicholas yang masih koma dan keinginan Anda untuk memastikan adanya sang pewaris..." ucap Dokter menjeda kalimatnya sejenak, menatap Evelyn dengan tajam. 

"Apakah Anda ingin saya menanamkan keduanya sekaligus ke rahim Gadis itu? Peluang untuk hamil akan jauh lebih besar, meski ada risiko kehamilan kembar."

Evelyn terdiam. Pikirannya melayang pada wajah Kattie dan Jessy yang rakus, lalu pada Nicholas yang masih terbaring kaku. Jika ia menanamkan keduanya, ia tidak hanya memberikan satu pewaris, tapi sebuah benteng pertahanan bagi kekayaan Robertho.

"Lakukan," jawab Evelyn tanpa ragu. Suaranya dingin dan tegas.

"Apakah kita perlu memberitahu Nona Alexa soal ini? Dia hanya tahu bahwa ini adalah prosedur standar satu janin," tanya Dokter memastikan.

Evelyn menyandarkan punggungnya di kursi roda, senyum tipis yang penuh rahasia muncul di wajahnya.

"Tak perlu. Biarkan dia tahu saat waktunya tiba. Yang terpenting sekarang adalah bibit-bibit cucuku tumbuh dengan kuat."

Tanpa sepengetahuan Alexa, di dalam ruang operasi yang steril, rahimnya kini menjadi tempat bagi rencana rahasia Evelyn. 

Satu bulan berlalu, Alexa menatap cermin di kamar mandinya. Ia menyadari sesuatu yang aneh.

“Baru sebulan, kenapa perutku sudah membuncit? Dan rasanya sangat berat,” bisik Alexa pada dirinya sendiri sambil mengelus perutnya.

“Apa janinnya sudah tumbuh dengan baik?”

Alexa segera keluar untuk memberitahu hal itu pada Evelyn. Tapi begitu hendak ke kamar, ia tak sengaja berpapasan dengan Kattie.

“Hai, kutu jelek, mau kemana buru-buru begitu?” Tanya Kattie tak lupa dengan hinaannya.

“Padahal dia yang kutuan, malah aku yang dipanggil kutu!” gerutu Alexa dalam hati. Saat Alexa hendak menjawab, tiba-tiba perasaannya tidak enak. Alexa spontan menutup mulutnya, membuat Kattie kesal mengira mulutnya bau.

“Kau ini… lama-lama semakin menyebalkan…” Kattie ingin menarik rambut Alexa, tapi Alexa dengan cepat menepisnya dan…

Hueekkk…

Kattie terperanjat hebat melihat Alexa bergegas pergi ke arah dapur.

Apa segitu baunya mulutku sampai rasanya mau muntah?

___

___

Jangan lupa like dan subscribe, terima kasih~

BAB 3. ABORSI?

“Alexa, kau kenapa? Sakit?” Mona menghampiri Alexa yang kelihatan pucat pasi.

“Hanya sedikit mual saja, Mon,” jawab Alexa pelan. Ia menyapu sisa air di pinggir bibirnya setelah berkumur. Rasanya seluruh isi perutnya baru saja diaduk-aduk.

“Kalau lagi nggak enak badan, istirahat saja dulu di kamar. Nyonya Evelyn, biar aku yang tangani,” ucap Mona dengan nada khawatir.

Alexa hanya bisa mengangguk lemah. Kepalanya terasa berputar dan aroma pengharum ruangan di lorong itu terasa seperti racun bagi penciumannya.

“Sini, aku bantu kamu ke kamar,” ajak Mona sambil merangkul pundak Alexa yang limbung.

Namun, tepat saat mereka baru mencapai kaki tangga di lantai satu, langkah mereka seketika terhenti. Suara lengkingan tinggi yang sudah sangat akrab di telinga memecah keheningan mansion itu. Siapa lagi kalau bukan pertengkaran antara Kattie dan Jessy.

“Diam kau, Jessy!” bentak Kattie murka. Wajahnya merah padam, menunjuk Jessy yang terbahak-bahak.

Alexa mendesah dalam hati.

Duh, mereka kenapa? Rebutan cowok lagi?

“Haha… pantas saja nggak ada laki-laki yang mau sama kau, Kat. Mulutmu bau sih. Kau pasti lupa sikat gigi gara-gara keseringan mabuk, kan?” cecar Jessy tanpa ampun.

“Cih, mending kamu ngaca, Jessy! Memangnya ada laki-laki yang mau sama lemak sapi sepertimu?” balas Kattie dengan senyum sinis yang menyakitkan.

“Kerjaanmu hanya makan dan tidur. Lama-lama badanmu nggak ada bedanya sama gentong. Kalau aku jadi kamu, aku pasti malu keluar rumah.”

Alexa yang menyandarkan tubuhnya pada Mona hanya bisa menggelengkan kepala. Di saat rahimnya sedang berjuang membawa beban keluarga Robertho, kedua wanita ini justru sibuk saling menghina fisik dan saling menjambak rambut sama lain. Dari luar, mereka keluarga yang dihormati, tapi aslinya toxic parah.

Tak berselang lama, Evelyn membuka perlahan kelopak matanya. Ia ingin buang air besar. Lalu mendengar seseorang merapikan meja di sampingnya, Evelyn pun memanggilnya tanpa menoleh.

“Alexa, bantu saya ke kamar mandi.”

Ia kira itu perawat pribadinya, namun itu adalah Mona.

“Mari, Nyonya saya bawa ke kamar mandi.”

“Lho, Mona? Kenapa kamu yang ada di sini? Mana Alexa?” Evelyn kaget lalu mencari-cari keberadaan perawatnya.

“Alexa lagi istirahat di kamarnya, dia kelihatan pucat, mual-mual juga, Nyonya,” jawab Mona jujur.

“Mual-mual?”

“Mona, bawa saya ke Alexa,” titah Evelyn beranjak duduk.

Tanpa bertanya lagi, Mona membantu Evelyn pindah ke kursi roda. Sebelum pergi ke Alexa, ia menghubungi Dokter pribadinya untuk segera datang.

Kedatangan Dokter pun membuat dua bersaudara yang masih berselisih itu merasa heran. “Siapa yang sakit?” Penasaran, Kattie dan Jessy cepat-cepat mengikuti sang Dokter.

“Selamat, Nyonya. Dia berhasil mengandung cucu Anda. Ibu dan Anak sehat. Dia hanya kelelahan, hal yang sangat wajar bagi Ibu hamil,” kata Dokter wanita itu setelah Alexa diperiksa.

Evelyn merasa bersyukur, sedangkan Alexa tampak seakan tak percaya bibit Nicholas kini telah tumbuh di dalam perutnya. Berbanding terbalik dengan Kattie dan Jessy yang melongo di ambang pintu.

“Nenek, siapa cucu yang Dokter maksud barusan?” tanya mereka masuk setelah Dokter pergi.

“Cicit kandung saya, anak dari adik kalian, Nicholas.”

Jedaar!

Bagaikan sambaran petir di siang bolong.

“Apaa? Babu ini hamil anak Nicholas?” ucap mereka menunjuk Alexa yang merasa gugup.

“Kattie, Jessy, jaga mulut kalian. Dari awal, Alexa kerja di sini sebagai perawat, bukan pembantu kalian. Dia telaten, rajin, baik dan juga cekatan. Nenek tidak masalah dia hamil keturunan Robertho,” tutur Evelyn panjang lebar.

“Tapi, Nek… bagaimana bisa dia hamil anak Nicholas? Nicholas saja masih koma sampai sekarang. Anak itu pasti milik orang lain. Nenek jangan sampai ditipu olehnya,” pungkas Kattie dan Jessy mengangguk setuju.

Tanpa harus membalas ucapan mereka, Evelyn menyodorkan surat Nicholas yang masih ia simpan dalam saku roknya.

“Apa ini, Nek?” tanya mereka membolak-balikkan amplop itu.

“Jangan-jangan surat warisan untuk kita?” gumam mereka berdebar-debar.

Warisan? Kalian berdua hanya anak tiri Robertho, anak dari istri keduanya. Memangnya kalian berhak mendapatkan warisan putra saya? Mimpi! batin Evelyn.

“Buka dan baca saja baik-baik,” kata Evelyn dingin.

Setelah dibuka, raut wajah Kattie dan Jessy yang tadi ceria, berubah seketika. Mereka baru tahu Nicholas rupanya sudah menyiapkan sang penerus.

“Nenek sendiri yang membawa Alexa melakukan proses bayi tabung, jadi… Nenek tegaskan sekarang, mulai hari ini kalian berdua harus perlakukan Alexa dengan baik karena dia telah menjadi bagian keluarga ini. Paham?”

“Tapi… Nek—”

“Sudah, nggak ada tapi-tapian, kalian berdua keluar dan jangan pernah ganggu Alexa lagi!” usir Evelyn menunjuk pintu kamar Alexa.

Kattie dan Jessy memandangi Alexa yang tersenyum sumringah.

“Kak Ipar, tolong kerjasamanya ya,” ucap Alexa.

“Ck, meskipun kau hamil anak Nicholas, bagi kami kau tetap saja hanyalah seorang babu,” caci maki mereka kompak dengan tatapan sinis.

“Kattie, Jessy!” bentak Evelyn marah. Tapi dua wanita itu bukannya minta maaf, malah melenggang pergi dengan angkuh.

Kattie dan Jessy duduk di sofa ruang tamu. Kedua tangannya bersedekap di dada dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Kattie, kita nggak bisa diam saja. Kita harus lakukan sesuatu pada gadis itu. Jika dia berhasil melahirkan anak Nicholas maka otomatis, kekayaan keluarga ini semuanya jatuh pada anak itu. Kau nggak mau kan ditendang keluar dari rumah ini?” ucap Jessy gelisah.

“Ya sudah, kita paksa saja dia gugurkan kandungannya sekarang juga,” usul Kattie menjentikkan jari jempol dan telunjuknya.

“Caranya?” tanya Jessy bingung sebab Evelyn selalu di sisi Alexa. Ia merasa akan sulit mendekati Alexa karena Evelyn begitu ketat menjaga dan melindungi perawat itu.

Kattie hanya tersenyum miring, ia punya rencana sendiri.

Sore harinya, saat Alexa sedang memetik bunga di taman, sebuah bayangan panjang menutupi langkahnya. Kattie datang dengan tatapan penuh kebencian.

“Hai, kutu jelek!”

Alexa hanya menoleh sekilas, tetap tenang memotong tangkai mawar. Hal itu membuat Kattie semakin geram. Ia mengeluarkan selembar kertas dan melemparkannya ke dalam keranjang bunga Alexa.

“Ambil itu. Cek senilai 500 juta. Gratis untukmu,” ucap Kattie tersenyum tipis. “Tapi syaratnya gugurkan janin itu!”

Alexa tertegun sejenak. Ia mengambil cek itu, menatap angka yang tertera di sana, lalu beralih menatap Kattie yang tampak sombong.

Katanya gratis, tapi kok ada syaratnya?

“Anda menyuruh saya aborsi?” tanya Alexa datar.

“Ya, bodoh! Kau nggak pantas melahirkan keponakan kami. Darah Robertho nggak boleh tercampur dengan darah rakyat jelata sepertimu. Tahu diri sedikit dong!”

Alexa mencengkram ujung gaunnya. Dengan gerakan pelan namun tegas, ia merobek cek itu menjadi potongan-potongan kecil di depan mata Kattie.

“Nona Kattie,” ucap Alexa dengan nada dingin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. “Saya hanya patuh pada perintah Nyonya Evelyn. Bukan pada Anda. Permisi.”

Alexa berlalu pergi, meninggalkan Kattie yang berteriak histeris karena harga dirinya baru saja diinjak-injak oleh wanita yang ia anggap “babu”.

Sialan, dari mana sih dia dapat keberanian itu?

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!