Indonesia
NovelToon NovelToon

Hidup Kembali Untuk Anakku

Obsesi Rose

"Marcus, besok kita liburan ya mumpung Sophia sudah libur." seorang wanita membuntuti langkah kaki suaminya yang baru saja pulang dari kerja.

Marcus, Suami dari Rose , terlihat tidak mood, dia enggan menanggapi ocehan wanita itu.

"Berhenti meminta hal-hal yang tidak penting itu padaku, sudah kubilang aku tidak sudi memberikan waktuku untuk mu dan juga anak mu."

Deg....

Langkah wanita itu terhenti, Rose terdiam, dia menatap kepergian suaminya dengan wajah penuh kecewa, seharusnya sejak awal dia tidak terlalu berharap banyak pada pria itu.

Pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih sepuluh tahun, tapi dia masih gagal mendapatkan hati pria itu.

"Nyonya ada tamu." ucap seorang pelayan tiba-tiba datang menghampiri Rose yang masih diam ditempatnya.

"Siapa bi?" tanya Rose yang heran karena ada yang datang bertamu sore-sore begini. Tapi pelayan itu menggelengkan kepalanya.

karena penasaran, dia bergegas pergi menuju pintu depan.

klek....

"Ck lama sekali." gerutu seorang pria yang langsung nyelonong masuk sambil menyeret kopernya. diikuti oleh seorang wanita yang merupakan kekasih dari pria itu.

"Mana kak Marcus?" tanya Jesper yang merupakan adik dari suaminya, pria itu dengan lancang duduk di sofa lalu mengangkat kakinya di atas meja tamu seolah ini rumahnya sendiri.

Tidak sopan sekali.

"Mau apa kau kesini?" Rose menatap sinis adik iparnya itu, tingkahnya selalu kurang ajar.

Jesper tersenyum miring. "Aku di suruh ibu untuk tinggal disini, iya kan sayang." ucapnya santai sambil melirik ke arah kekasihnya, Emma.

"Kenapa?" tanya Rose tidak senang.

"Ini rumah kakakku, ya suka-suka kami lah." jawab pria itu nyolot.

Malas berdebat, Rose memilih meninggalkan dua orang itu didepan, dia harus pergi ke kamar suaminya, menanyakan tentang hal ini pada pria itu.

Ah iya, dari awal mereka menikah, baik Marcus dan Rose sepakat tidur terpisah. Walaupun begitu, Rose tetap senang karena bisa serumah dengan pria yang paling dia cintai.

Tok... Tok....

Rose mengetuk pintu kamar suaminya dengan pelan. dan tidak lama..

klek....

Pintu terbuka, Marcus berdiri dengan tatapan tajam yang terarah pada istrinya. Dia baru selesai mandi dan belum sempat memakai bajunya.

"Apa?"

Rose diam-diam menelan ludahnya, matanya terfokuskan pada tubuh kekar pria itu, Marcus belum memakai bajunya dan hanya memakai handuk kecil yang melekat di pinggang.

"Ada apa?" Marcus mengulangi pertanyaannya, yang membuat Rose langsung tersadar. "Ehm, ada adikmu dibawah."

Marcus mengangguk, tanpa bicara apapun dia kembali menutup pintu kamarnya, membuat Rose tersentak kaget.

Biasa.

Rose sekarang beralih pergi ke kamar anaknya.

Klek....

"Mama."

Grep....

Dengan girang, Sophia langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat.

"Sudah mandi belum?" Rose bertanya sambil menuntun tubuh anaknya duduk ke sofa yang ada kamar mereka.

Anak itu mengangguk. "Sudah mama, dan sekarang aku lapar." jawab Sophia sambil mengelus perut ratanya. Lucu sekali.

"Ayo turun, sudah waktunya makan." Rose langsung menggandeng tangan anak itu dan membawanya turun ke ruang makan.

.....

Ruang makan.

"Mama mau itu, jangan sayur!" pekik Sophia yang protes saat mamanya mengambilkan nya satu sendok sayur dan meletakkannya di atas piring. Dia tidak suka sayur.

"Ck berisik, apa kau tidak diajari tata krama di meja makan." kesal Jesper yang merasa terganggu dengan ocehan anak itu.

Mata Rose menajam, "Jika kau tidak suka, pergi dari sini." usirnya.

Marcus meletakkan sendoknya dengan keras diatas piringnya. "Kau tidak memiliki hak untuk mengusir adikku."

Jesper merasa menang saat kakaknya memilih membelanya di bandingkan istrinya.

Rose bungkam, hatinya terasa nyeri, suaminya memang seperti itu, seharusnya dia sudah biasa, tapi melihat wajah kecewa anaknya membuat hatinya hancur.

"Kenapa papa selalu memarahi mama?, yang salah itu om Jesper pa." protes Sophia yang membuat mata Jesper melotot.

Anak itu benar-benar.

"Kau diam, aku tidak suka ada suara berisik saat makan." Marcus menujuk wajah Sophia yang matanya sudah berkaca-kaca. Rose langsung memeluk anaknya.

"Kau membela adikmu dibandingkan anakmu sendiri?, papa macam apa kau!" Rose tidak terima jika anaknya di marahi pria itu, dia yang melahirkan Sophia tidak pernah mengeluarkan nada tinggi pada anak itu.

"Jika kau tidak senang, pergi saja dari sini, pintu keluar terbuka lebar untuk mu." sahut Marcus enteng.

Rose merasa tidak ada gunanya berdebat dengan suaminya, sejak awal pria itu memang tidak menyukainya. Dia jadi menyesal karena sudah memaksa kehendaknya hingga menjebak pria itu. Tapi rasa cintanya pada Marcus sangat besar.

"Mama aku mau tidur." cicit Sophia yang tidak mau jika mamanya kembali di marahi sang papa.

Jadi dengan cepat Rose membawa anaknya kembali ke kamar mereka.

Dalam diam, Emma menatap puas kepergian wanita itu.

.....

Semua ini berawal dari obsesi Rose pada Marcus, dulu mereka teman sekelas saat kuliah, entah awalnya bagaimana, tapi Rose sedih saat Marcus membawa seorang wanita cantik yang bernama Mia, dan memperkenalkan wanita itu sebagai tunangannya.

Jelas saja, Rose merasa hancur, pikirannya kacau dan dia tidak bisa berpikir jernih. sampai dirinya tidak masuk kuliah selama dua Minggu. Orangtuanya sudah tahu apa masalah yang sedang dialami sang anak, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena Marcus sendiri adalah anak dari teman bisnis mereka.

Di usianya yang baru dua puluh tahun, Rose berencana menjebak Marcus di hari perayaan ulangtahun pria itu.

"Aku akan mendapatkan mu Marcus, bagaimanapun caranya." dan sedikit nekat dia membeli obat per4ngsang yang akan dia masukkan ke dalam minuman pria itu.

Hingga akhirnya hari itu datang juga.

Seperti biasa, dia berjalan dengan keluarganya, ikut mengobrol dengan beberapa temannya yang hadir, dia melirik sinis Mia yang bergelayut manja pada Marcus. Si4lan dia ingin mematahkan tangan wanita itu.

Marcus hanya miliknya dan tidak seorangpun bisa mendapatkannya.

Semakin malam, pesta ulang tahun itu semakin seru, saat Marcus mulai lengah, dia langsung memasukkan obat per4ngsang yang dia beli sebelumnya ke dalam minuman pria itu dan Marcus langsung meminumnya tanpa curiga.

Dan entah bagaimana caranya, Rose berhasil membawa Marcus ke dalam sebuah kamar, sesuai rencananya,p pria itu menidurinya hingga keluar berkali-kali didalam tubuhnya.

Sayangnya belum sampai pagi, kamar itu didobrak keras dan semua orang termasuk orangtuanya terkejut saat melihat keadaan dirinya dan juga Marcus yang saat itu masih telanjang bulat, untung saja kegiatan mereka sudah selesai.

"MARCUS KAU HARUS TANGGUNG JAWAB." teriak Daniel ayah dari Rose, yang tidak terima anaknya di tiduri oleh Marcus.

Rose tersenyum miring, dia menatap puas Mia yang menangis keras karena tunangannya yang sudah tidur dengan wanita lain.

Tidak ada penyesalan di wajah Rose, yang ada senyum puas karena dia sudah berhasil merebut Marcus dari Mia.

.....

Jangan lupa like....

Tidak Di Anggap

Rose sadar bahwa selama ini dia bodoh karena terlalu mencintai suaminya. Sejak kejadian itu orangtuanya bahkan tidak mau mengakuinya sebagai anak lagi. Begitupun dengan mertuanya.

"Muak sekali ibu melihatnya." ucap Catherine sambil melirik sinis Rose yang sedang menyuapi Sophia makan. Sophia memandang neneknya itu tidak suka.

"Nah selesai, kita mandi ya." ajak Rose yang langsung diangguki oleh anaknya. Keduanya berjalan melewati Jesper dan juga Catherine yang sibuk mengobrol dengan Emma di ruang tengah.

"Ibu tidak suka dengan dia, mau dibandingkan dengan Mia pun tetap beda." sindir Catherine yang terdengar sangat jelas di telinga Rose. Tapi wanita itu tetap diam lewat sambil menggandeng Sophia.

Catherine sangat menyayangkan tragedi waktu itu, Anaknya sengaja dijebak oleh wanita licik macam Rose. Hingga masa depannya hancur.

Emma mengangguk setuju. "Padahal kakak sangat mencintai kak Marcus, sayangnya ayah sudah terlanjur kecewa Bu." dia masih ingat saat ayahnya tahu jika Marcus sudah meniduri wanita lain, jadi ayahnya langsung membatalkan hubungan antara kak Mia dengan kak Marcus hari itu juga.

Dan kakaknya sekarang sedang memilih melanjutkan bisnisnya di luar negeri.

"Bagaimana kabar kakakmu, ibu merindukannya?" tanya Catherine ramah. Ah andai Mia yang menjadi menantunya pasti dia dan Marcus selalu bahagia.

semenjak Marcus menikahi Rose, anak itu berubah menjadi dingin dan wajahnya terlihat suram seolah kehilangan cahayanya.

"Kakak baik Bu, katanya Minggu depan mau pulang sekaligus mengenalkan pasangannya." raut wajah Catherine berubah sendu. Dia ingin sekali menjadikan Mia sebagai menantunya tapi ternyata wanita itu sudah memiliki kekasih.

"Padahal ibu masih menginginkannya menjadi menantu ibu."

Emma mengelus pundak calon mertuanya pelan. "Nanti aku ajak ibu menemui kakak jika mau." mendengar itu, Catherine pun kembali bersemangat.

.....

"Mama, kenapa nenek tidak menyukai kita?" tanya Sophia dengan ekspresi polos. Lagi-lagi Rose merasa bersalah, karena keegoisan nya, anaknya jadi korban, Sophia bahkan tidak pernah mendapatkan kasih sayang kakek neneknya baik orangtuanya maupun orangtuanya Marcus.

Saat ini dia tengah memandikan sang anak dengan air hangat di bathtub. Rose menyabuni tubuh anaknya dengan lembut. "Kata siapa nenek tidak menyukai kita, nenek menyukai kita hanya saja tidak seperti nenek orang lain." ucapnya menahan sedih.

Mau dilihat dari sudut manapun, Catherine dan juga Robert tidak menyukai dirinya dan juga Sophia. Karena dia sudah dicap sebagai perebut tunangan orang. Seharusnya yang menikah dengan Marcus adalah Mia, hanya saja dia jahat karena merebut pria itu dari tunangannya.

Sophia mengangguk kecil, sebenarnya dia tahu jika mama nya tengah berbohong, dia juga tahu jika semua orang yang ada disini membenci mamanya, bahkan papanya sekalipun.

Jujur dia iri dengan teman-temannya yang sering diantar jemput oleh ayahnya, hanya dirinya yang selalu di antar mama. Awalnya dia marah hingga nekat menemui papanya yang saat itu bekerja di ruang kerja tanpa sepengetahuan mamanya.

Tapi yang dia dapat malah....

"kau itu anak pembawa sial, kau dan ibumu benar-benar sudah menghancurkan mimpi dan masa depanku juga kebahagiaan ku, jadi jangan menuntut kasih sayang dariku karena hanya Mia yang boleh mendapatkannya, aku bahkan lebih senang jika kalian mati." ucapan kasar Marcus malam itu membuat Sophia sadar bahwa selama ini dia dan mamanya tidak pernah diinginkan oleh siapapun di rumah ini.

Dan juga, Mia, nama yang papanya ucapkan itu membuatnya bertanya-tanya. Siapa wanita itu?, hingga dia dengan nekat mendatangi om nya yang sedang bermain game di lantai satu bersama kekasihnya.

"Apa?" ucap sinis Jesper saat Sophia berdiri didepannya.

"Om, Mia itu siapa?" tanya anak itu penasaran.

Jesper langsung terdiam, begitupun dengan Emma.

"Darimana kau tahu nama Mia?" sekarang Emma yang bertanya.

Sambil menahan tangisnya. "Em papa bilang dia tidak akan menyayangi ku dan juga mama, kata papa dia hanya menyayangi Mia, siapa dia om, kenapa papa lebih memilih dia dari pada aku dan mama?"

Emma spontan mendorong tubuh kecil itu hingga Sophia terpental dan jatuh diatas lantai.

"Tanya sama mamamu, kenapa mengambil papamu dari Mia. Mia itu orang yang dicintai papa mu, tapi ibumu sangat jahat karena sudah merebut papa mu dari Mia." ucap wanita itu berapi-api, Jesper langsung menarik tubuh kekasihnya dan memeluknya erat.

"Tenangkan dirimu sayang, dia masih anak-anak." Jesper mencoba meredam emosi kekasihnya.

"Tapi gara-gara dia hidup kak Mia hancur, seharusnya kak Mia dan kak Marcus sudah menikah dan bahagia, tapi gara-gara Rose yang merebut kak Marcus semuanya hancur, aku tidak terima karena setelah itu kakakku hancur bahkan hampir depresi." tangis Emma pun pecah, Sophia mendengar semuanya dengan jelas, ternyata ini alasan kenapa dari awal papanya terlihat sangat membencinya dan juga mamanya, dan semuanya berawal dari kesalahan mamanya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Sophia langsung berdiri dan meninggalkan sepasang kekasih itu dengan tatapan kosong.

Jadi sejak awal papanya itu tidak menginginkan dirinya juga mamanya.

.....

Tiga tahun pun berlalu, dan hari ini adalah hari kelulusan Sophia dari sekolah dasar, anak itu akan melanjutkan pendidikannya ke SMP.

Sophia tersenyum lebar saat melihat kedatangan mamanya dan juga tantenya.

"Selamat lulus anak manis." dengan rakus Aurora menciumi pipi gembul Sophia yang membuat anak itu kesal bukan main, seharusnya yang memeluknya duluan itu mamanya.

Rose bersyukur setidaknya ada satu orang yang mau menyayangi anaknya dengan tulus, yaitu Aurora, kakak tiri suaminya.

Sama seperti dirinya, Aurora juga di musuhi oleh Catherine, karena Aurora ini adalah anak bawaan dari suaminya.

"Mau liburan kemana?" tanya Aurora penuh semangat. Rose berpikir. Haruskah mereka liburan?.

"Rencananya aku ingin membawa Sophia pulang ke rumah orangtua ku kak."

Aurora terlihat tidak setuju. "Bagaimana jika kau pulang sendiri dan Sophia bisa ikut aku liburan ke Jepang."

Rose diam. Tapi saat menatap wajah anaknya yang terdiam membuatnya merasa bersalah. Sebenarnya mereka bukanlah orang miskin, suaminya memiliki perusahaan sendiri bahkan Marcus itu satu-satunya pewaris perusahaan Vale yang saat ini sedang di kelola ayah mertuanya. Bisa dikatakan mereka adalah keluarga konglomerat. Sayangnya, suaminya tidak pernah mau membawanya dan juga Sophia berlibur ke luar negeri.

"Sophia mau ikut Tante?" Rose merendahkan tubuhnya lalu terduduk didepan putrinya yang paling dia sayangi.

"Nanti Tante ajak kamu jalan-jalan melihat bunga sakura." sahut Aurora penuh harap.

Sophia menatap mamanya dengan tatapan sendu, dia ingin sekali menolak ajakan tantenya itu, tapi disatu sisi dia tidak mau merepotkan mamanya dan juga neneknya tidak pernah menyukai kehadirannya disana.

"Mau?" tanya Rose penuh harap, dan Sophia terpaksa mengangguk setuju.

Dan sorenya Rose mengantarkan putrinya dan kakak iparnya itu ke bandara.

Kedatangan Mia

"Ayah." Seperti biasa, Rose pulang ke rumah orangtuanya saat malam hari. Terlihat ayah dan juga ibunya sedang duduk di ruang santai bersama seorang anak laki-laki yang mungkin seusia putrinya.

"Itu siapa yah?" tanya Rose yang langsung duduk disamping ayahnya.

pria tua itu tidak menjawab, dirinya fokus bermain dengan Noah, anak angkat putranya.

Rose mencoba bersabar karena dari dulu hingga sekarang dia tidak dianggap lagi di keluarga ini.

"Noah, ayo makan nak." terdengar suara kakak iparnya dari dapur. Anak laki-laki itu langsung mendatangi ibu barunya.

Tanpa mereka sadari, Rose mengekori langkah kaki anak itu.

"Kak itu siapa?" tanya Rose yang penasaran dengan anak laki-laki yang terlihat dekat sekali dengan orangtuanya.

"Anakku." terdengar suara kakaknya dari belakang. Pria itu menatap adiknya dengan tatapan waspada.

"Anak?" wajah Rose terlihat bingung.

"Bukannya istri mu itu mandul, bagaimana bisa punya anak."

Plak....

Nathan tidak tahan lagi dengan ucapan kasar adiknya, lalu tanpa pikir panjang dia layangkan tamparan keras di pipi Rose, dia melirik ke arah istrinya yang langsung memeluk Noah. dan anak itu terlihat gemetaran karena takut.

"Kakak menamparku." mata Rose terbelalak, dia terlihat tidak terima.

"Dia anak yang kami angkat dari panti asuhan dan jaga mulutmu sebelum ku usir dari rumah ini." Nathan sangat kesal dengan sikap adiknya yang selalu kurang ajar.

"Kenapa malah adopsi anak yang tidak jelas asal usulnya, kau hanya tinggal cari istri lain yang bisa hamil kak, kasihan sekali ayah dan ibu memiliki cucu yang tidak memiliki ikatan darah dengan mereka." cerocos Rose yang membuat Camila terisak. wanita itu langsung menarik Noah dan membawanya masuk ke dalam kamar.

sejak dulu Rose memang tidak menyukainya, hanya karena dia dari keluarga biasa, wanita itu selalu saja merendahkannya. Karena lelah, dia pernah memutuskan Nathan, tapi pria itu tidak mau melepaskannya.

"CUKUP ROSE, JIKA KEHADIRAN MU DISINI HANYA INGIN MENGACAU, LEBIH BAIK KAU PERGI SEKARANG." teriak Daniel yang sudah berdiri dibelakang anak bungsunya itu, dia kesal sekali dengan sifat Rose yang kelewat batas.

"AYAH LEBIH MEMBELA WANITA MISKIN MANDUL ITU DIBANDINGKAN ANAKMU SENDIRI, DAN JUGA AYAH LEBIH SAYANG ANAK TIDAK JELAS ITU DIBANDINGKAN SOPHIA YANG MERUPAKAN CUCU KANDUNGMU." Rose jelas tidak terima. Dia sering membawa Sophia pulang ke sini, tapi apa sambutan mereka, tidak ada. bahkan ayah dan ibunya sama seperti orangtua Marcus, mereka semua acuh dengan keberadaan Sophia.

"Lebih baik kau pulang daripada membuat suasana rumah ini tidak nyaman." ucap Isabella yang membuat Rose terlihat kesal karena secara tidak langsung dia di usir dari rumah ini.

"Ibu mengusirku?" tanya Rose tidak percaya, dulu mereka sangat menyayangi nya, tapi setelah dia menikah semuanya berubah, mereka menjadi dingin, kadang dia berpikir apa begitu besar kesalahan yang dia buat hingga membuat semua orang membencinya.

Nathan segera pergi, dia ingin melihat kondisi istrinya. Meskipun Camila tidak bisa memberikannya keturunan, dia tidak masalah, anak hanya bonus dari Tuhan dan mereka percaya bahwa Noah adalah anak titipan yang diberikan oleh Tuhan.

.....

"Marcus."

Pria itu menghentikan langkahnya saat mendengar suara wanita yang selama ini dia rindukan.

"Mia." dia mencoba mengusap matanya, siapa tahu ini hanya halusinasi nya. Karena saat ini dia melihat Mia sedang duduk di ruang tamu.

"Apa kau hanya diam membatu disitu." Catherine menyindir sang anak yang hanya diam sedangkan Mia hanya tersenyum kecil melihat tingkah Marcus yang dia rindukan selama ini. Bohong jika dia sudah melupakan pria itu.

"Duduk kak, kak Mia sudah lama menunggu kepulangan mu." itu Jesper yang bicara dan Marcus baru percaya bahwa dirinya sedang tidak berhalusinasi. Mia benar-benar nyata, wanita itu ada didepannya.

"em bagaimana kabarmu?" tanyanya setelah duduk di depan wanita itu.

"Baik, bagaimana dengan kabarmu?" tanya Mia dengan nada lembut, Marcus sampai ingin menangis setelah sekian lama tidak mendengar suara wanita yang dia cintai hingga saat ini.

"Aku em baik."

....

Rose mencengkram erat bajunya, dia merasa dunia ini tidak adil, kenapa orang lain bisa mendapatkan kasih sayang orangtuanya sedangkan dia dan Sophia hanya mendapatkan kebencian. Bahkan suaminya juga tidak menyukainya.

Tidak lama, taksi yang dia naikin berhenti didepan rumahnya.

"Terimakasih pak." ucapnya setelah membayar. Terlihat pintu rumahnya masih terbuka dan sepertinya sedang ada tamu.

Rose bergegas masuk ke dalam rumahnya.

Terdengar suara ribut tawa dan juga obrolan yang seru dari dalam.

"Aku pulang."

Rose terkejut saat melihat keberadaan Mia yang merupakan mantan tunangan suaminya. "Mau apa kau kesini." tunjuknya pada wanita itu.

Mia terdiam, dia melihat amarah dari wajah wanita yang sudah merebut kekasihnya.

"Aku yang mengundangnya dan jangan menunjuknya seperti itu." ucap Catherine yang langsung menarik tangan Mia, mencoba menenangkan wanita itu.

Semua itu tidak lepas dari pandangan Rose, seumur hidup, mertuanya itu tidak pernah menyentuh tangannya sehangat itu.

"Ah bukannya lebih baik kamu tinggal di sini nak, untuk menemani Emma yang kesepian ditinggal Jesper kerja." entah bagaimana bisa Catherine menawarkan wanita itu tinggal di rumah ini.

"Ibu aku tidak setuju." tolak Rose mentah-mentah, dia takut kehadiran wanita itu menghancurkan usahanya selama ini.

"Kau siapa, ini rumah anakku, jadi apapun keputusan ku tidak butuh persetujuan mu." jawab wanita itu sinis.

Rose menatap Marcus penuh harap, tapi tatapan pria itu terlihat menghangat saat melihat Mia.

"Aku ini istri anakmu ibu, jadi aku memiliki hak untuk menolak." Rose berusaha untuk menolak keras ide gila mertuanya itu. Dia tidak mau Mia merebut kembali Marcus darinya.

"Ck, kau harus setuju dengan ide ibu Marcus, lagipula rumah ini besar dan banyak kamar, ibu tidak tega jika Mia tinggal sendirian di rumah orangtuanya yang saat ini sedang pergi." Catherine mencoba merayu sang anak.

Mia menatap Rose tidak enak. Mau bagaimana pun, wanita itu sudah menjadi istri Marcus, dan dia tidak mau di cap sebagai perebut suami orang jika tinggal disini.

"Ibu tidak perlu, aku bisa tinggal sendiri." ucapnya sambil mengelus lembut tangan Catherine.

"Kak." Jesper menatap kakaknya penuh harap. Dia hanya ingin kekasihnya memiliki teman disini. lagipula Mia juga memiliki kekasih, jadi tidak apa-apa kan jika tinggal disini.

Marcus diam, dia ingin sekali menolak usulan ibunya, bukan karena istrinya, dia tidak terlalu perduli dengan wanita itu. Dia hanya ingin tenang, jujur sebelum datangnya sang adik, rumahnya terlihat nyaman karena sepi, tapi mau menolak juga tidak enak.

"Em baiklah, Mia tinggallah disini, anggap seperti rumahmu sendiri."

Deg....

Rose menatap suaminya dengan tatapan terluka.

"Dengar kan, sana pergi, tidak ada yang menginginkan kehadiranmu." ucap pedas Catherine.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!