Indonesia
NovelToon NovelToon

Lima Tahun Setelah Perceraian

Bab Satu

"Permisi, Pak .... "

Pintu ruangan Rasta diketuk pelan. Rasta mendongak, mengalihkan sejenak pandangannya dari laptop ke arah pintu, kemudian berseru, "masuk!"

Seseorang mendorong pintu, dia adalah Gia, sang manager resto. "Maaf menganggu waktunya sebentar, Pak. Saya mau memberitahukan orang yang mau interview hari ini sudah datang," ucapnya dengan nada sopan disertai senyum tipis.

"Suruh dia masuk ke sini, Gia," balas Rasta.

"Baik, Pak." Gia mengangguk, tubuhnya sedikit membungkuk.

Gia menghilang dari balik pintu yang terbuka setengah, kemudian berganti dengan perempuan lain yang masuk ke dalam ruangan.

"Permi ... si," ucap perempuan itu. Awalnya dia tersenyum ramah, sebagaimana calon karyawan baru yang sedang melamar kerja. Namun, begitu melihat sosok lelaki yang duduk di balik meja, senyum di wajahnya menghilang. Berganti dengan tatapan terkejut.

Begitupun dengan Rasta yang tak kalah terkejut begitu melihat calon karyawan barunya yang masih memegang map coklat itu. "Viola...." Nama itu ia bisikan di dalam hati.

Gia menutup pintu, supaya sesi interview itu tidak terdistraksi dengan berbagai kejadian di luar. Ia tidak tahu jika perempuan yang baru saja ia suruh masuk ke dalam ruangan, ingin melarikan diri detik itu juga.

Ruangan menjadi canggung. Kedua orang yang sebelumnya sudah saling mengenal itu masih saling tatap dengan jantung yang berdegup kencang.

"Silakan duduk," ujar Rasta pada akhirnya setelah pandangan mereka terputus.

Viola mengerjap, ingin sekali ia lari. Bertemu lagi dengan Rasta, yang tak lain adalah mantan suaminya, sama sekali tidak pernah terdaftar dalam wish list hidupnya. Seharusnya pertemuan ini tak usah terjadi jika masanya dengan Rasta sudah habis.

Tapi sayangnya Viola tidak bisa lari. Ia hanya berdiri kaku, melangkah canggung, hingga duduk dengan terpaksa di hadapan mantan suaminya yang sedang menatapnya seolah sedang mengatakan bahwa ia tak sangka akan bertemu lagi dengan Viola, dalam keadaan yang sangat menguntungkan baginya dan merugikan Viola. Rasta akan menjadi atasannya, bahkan bos di tempat Viola hendak mencari nafkah.

Jika tahu akan seperti ini, Viola akan memilih panggilan interview dari toko kue, alih-alih panggilan dari restoran sekaligus kafe ini. Mana dia tahu kalau restoran ini milik Rasta.

"Kenapa cuma diam? Kamu datang ke sini nggak punya tujuan?" cecar Rasta. Suaranya dingin, tidak ada ramah-ramahnya. Padahal benaknya sudah sibuk merekam kembali kilasan kejadian di masa lalu.

Pada saat mereka masih hidup bersama. Sebelum badai datang.

Viola menunduk, menggigit bibir bawahnya, meremas map coklat di tangannya. Ibaratnya, sekarang ini Viola sudah terlanjur basah. Ia tidak bisa menghindar apalagi mundur. Viola angkat wajahnya, memberanikan diri untuk membalas menatap sepasang iris coklat itu.

"Saya mau melamar kerja," Viola ulurkan map coklat berisi surat lamaran kerja, biodata dirinya, dan berbagai berkas pendukung lainnya.

Rasta tersenyum, senyum yang penuh ejekan. Viola melamar kerja? Apakah suami barunya tidak memberikan nafkah yang layak, sehingga mantan istrinya ini memilih untuk kerja untuk membantu perekonomian keluarga?

Oh, kasihan sekali.... Ejek Rasta dalam hati. Begitulah risikonya kalau dulu berani macam-macam dengan pasangan halalnya. Selingkuh.

"Apa tujuan kamu melamar kerja di sini?" tanya Rasta, pada wanita yang tidak sanggup menatapnya terlalu lama. Yang berkali-kali meliriknya penuh waspada.

"Tujuan? Ya karena saya butuh pekerjaan biar saya bisa dapat uang," jawab Viola. Memangnya apa lagi tujuan bekerja jika bukan karena uang? Aneh sekali pertanyaannya itu. Viola mendengkus di dalam hati.

"Oh, baiklah." Rasta menarik sudut bibirnya, kemudian membuka map coklat dan membaca lembar demi lembar isi di dalamnya. Tidak terlalu minat karena ia sudah tahu riwayat pendidikan dan identitas penuh sang mantan istri. "Kamu mau melamar jadi posisi apa?"

"Waiters."

"Okay." Rasta mengangguk. "Kamu bisa bekerja mulai besok," cetusnya. Sebenarnya, masih banyak pertanyaan yang harus diajukan kepada calon karyawan baru. Tetapi, karena Rasta ingin menyaksikan bagaimana hidup sang mantan istrinya itu, maka Rasta langsung menerimanya bekerja di restonya yang baru berjalan tiga tahun ini.

Jika benar tebakan Rasta tentang hidup Viola yang menderita, maka Rasta akan menjadi orang pertama yang tertawa di atas penderitaannya.

"Terima kasih." Viola mengangguk kaku. Seharusnya ia bahagia sudah diterima kerja dengan mudah, namun justru Viola merasa resah. Ia justru berharap Rasta akan mengusirnya.

"Sama-sama. Sesama makhluk hidup memang harus tolong menolong, termasuk dengan mantan. Harusnya kamu lebih berterima kasih lagi, karena saya sudah berbaik hati pada orang yang seharusnya saya campakkan." Terakhir, Rasta tersenyum meremehkan.

Puas sekali Rasta melihat wajah Viola yang memerah. Rasta hidup berkecukupan, bahkan sekarang ia menjadi lebih kaya daripada dulu, sementara Viola, yang dulu membuangnya demi pria lain yang lebih kaya, hidup di bawahnya, bahkan kini menjadi bawahannya.

Rasta baru teringat, dulu Viola pergi meninggalkannya dalam keadaan hamil. Hamil anak dari hasil pengkhianatannya. Sekarang, bagaimana keadaan anak itu? Pasti kurus kerempeng dan ingusan.

Viola menarik napas panjang, ia ulurkan tangannya ke arah Rasta. Mereka berjabat tangan, tidak terlalu erat, namun Rasta bisa merasakan tangan Viola yang berkeringat.

"Saya sangat berterima kasih sekali, Pak Rasta, berkat anda yang sudah memberikan saya pekerjaan, maka saya tidak menjadi pengangguran lagi. Saya berharap, jika suatu saat anda mengetahui sebuah fakta yang disembunyikan, anda tidak akan menyesal."

Viola menelan ludahnya dengan susah payah. Begitu tangan mereka saling melepas, ia langsung berkata, "Saya permisi. Assalamualaikum .... "

Rasta tak membalas ucapan salam itu. Ia membuang napas panjang, mengalihkan matanya supaya tidak menatap kepergian Viola. Baru setelah pintu ruangannya tertutup, Rasta menatap pintu itu. Bayangan sang mantan istri seolah tertinggal di sana.

Hari itu, tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ia akan bertemu lagi dengan Viola, setelah lima tahun perceraian mereka. Susah payah Rasta menata hatinya, dan ketika ia bisa dibilang sudah sembuh dari rasa sakitnya, alam semesta malah mempertemukannya lagi dengan Viola.

Runtuh sudah bangunan pijakannya Rasta. Hancur lebur pilar tinggi yang membuatnya kuat, digulung oleh kenangan menyakitkan atas Viola. Semua gara-gara hari brengsek ini.

Huft ... Hari sial memang tidak ada di kalender.

*

"Lho ... Sudah selesai interviewnya, Mbak?"

Viola memaksa seulas senyum untuk Gia yang baru saja bertanya. "Sudah, Mbak Gia."

"Kapan Mbak Viola bisa masuk kerja?"

"Insha Allah besok saya bisa bergabung."

"Selamat ya, Mbak. Selamat bergabung di Delicious Cafe And Resto."

"Terima kasih, Mbak Gia."

Viola berbasa-basi sebentar dengan Gia dan beberapa waiters lainnya. Lalu, wanita cantik dengan blouse biru itu melangkah keluar dari resto. Termenung di atas motor maticnya.

"Gimana ini, Ya Allah? Hamba butuh banget pekerjaan ini, tapi kenapa harus Rasta yang jadi bosnya?" keluhnya sambil menghela napas panjang.

"Kenapa sih harus ketemu lagi sama Rasta?"

Kini, Viola rasanya ingin menangis.

...****************...

Bab 2

"Halo, dengan Best Bakery? ... Jadi begini, Mas, kemarin kan saya dapat panggilan interview dari Best Bakery, tapi udah terlanjur saya tolak, bagaimana kalau saya hari ini bersedia untuk melakukan interview, apakah masih bisa diterima?"

Viola terdiam, menggigit bibir sambil mendengar penjelasan dari orang Best Bakery yang menjawab teleponnya. Ponsel miliknya tertempel di telinga.

"Oh, jadi nggak bisa ya, Mas?" desah Viola. "Yaudah kalau gitu, Mas, terima kasih. Maaf, saya sudah mengganggu waktunya."

Viola meletakkan ponselnya dengan raut kecewa di wajah. Ia tidak bisa mengikuti interview di toko roti karena kemarin sudah menolaknya. Panggilan interview dari restorannya Rasta datang bersamaan dengan panggilan interview dari toko roti ternama.

Sayang sekali, Viola memilih interview di restoran daripada di toko roti. Baru ia sesali kini pilihannya itu setelah tahu restoran tempatnya akan bekerja adalah milik Rasta.

"Kenapa, Vi? Kamu nggak diterima kerja ya di restoran itu?" Ibunya yang bernama Sinta, bertanya.

"Aku diterima kerja di sana kok, Ma, tapi ... Setelah dipikir-pikir kayaknya mending kerja di bakery deh daripada jadi waiters di restoran," jawab Viola.

Sinta mengernyit. "Kenapa pemikiran kamu mendadak berubah gini? kemarin kamu bilang menurut kamu lebih baik kerja di restoran daripada di bakery."

Viola mengulas senyum kecut. "Setelah interview di sana, kayaknya nggak nyaman deh, Ma."

Sinta duduk di hadapan putri semata wayangnya. "Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Baru juga interview, belum mulai kerja."

Viola memutar otak, bingung harus memberi penjelasan apa. Mana mungkin ia jujur jika ia baru saja bertemu dengan Rasya, bahkan Rasta akan menjadi bosnya.

"Kayaknya bosnya galak deh, Ma," cetus Viola.

Sinta terbahak. "Ya ampun, Viola ... Kamu kayak baru pertama kali terjun ke dunia kerja aja deh, pakai takut sama bos yang galak segala." Ia menghela napas. "Di mana-mana yang namanya bos emang gitu, Vi."

Viola tak mempunyai pilihan lain. Ia butuh pekerjaan untuk menyambung hidup, tetapi ia tak pernah berharap akan bersinggungan dengan Rasta lagi. Baginya, itu mimpi buruk.

Tatapan Rasta tadi, Viola sangat mengingatnya. Tatapan penuh kebencian yang menghujam jantung Viola.

Ia pergi ke kamar. Di mana ada Vita, buah hatinya, sedang tidur siang. Balita perempuan berusia empat tahun itu, wajahnya mirip sekali dengan sang ayah. Anak yang lahir tanpa pendampingan ayahnya, bahkan sudah terabaikan sejak ia berada di dalam kandungan. Anak yang ia besarkan sendirian.

Viola berbaring di sampingnya, memandangi wajah Vita yang terlelap damai. Dadanya naik turun beraturan.

"Rasta .... "

*

Ingatan Rasta berputar ke waktu silam. Lima tahun yang lalu ....

Flashback on.

Pada waktu itu, Rasta belum mendirikan Delicious Cafe And Resto. Ia masih bekerja sebagai anggota kru film yang mengharuskannya untuk bekerja di luar kota dan di bawah tekanan. Seringkali, ia meninggalkan Viola yang memang ia larang untuk ikut dengannya.

Rasta sedang ada project di Malang ketika ia menerima sebuah bukti pengkhianatan. Foto Viola dengan pria lain di atas tempat tidur, di mana ranjang itu adalah miliknya. Beraninya Viola membawa selingkuhannya masuk ke dalam rumahnya! Rasta meledak ketika ia pulang.

Kemurkaannya semakin menjadi tatkala mengetahui Viola sedang hamil. Viola pikir, test pack bergaris dua merah yang telah satu tahun dinanti-nantikan itu akan memberinya kejutan dan kebahagiaan? Ya, Rasta memang terkejut. Tetapi ia tak lagi bahagia mendengar kabar yang seharusnya membahagiakannya itu, karena ia tahu, bayi di dalam perut Viola, bukanlah benihnya.

"Bisa-bisanya kamu nggak percaya kalau anak ini anak kamu, Ta? Kamu nuduh aku selingkuh?" Menangis Viola kala itu. Pertama kalinya ia menghadapi kemarahan Rasta.

"Ini buktinya!" Rasta balas dengan bentakan. Tubuhnya bergetar hebat saking marahnya, layar ponsel dengan foto Viola tidur bersama lelaki lain, ia tunjukkan di bawah hidung Viola.

"Siapa lelaki ini? Sudah berapa lama kamu selingkuh sama dia? Sudah berapa lama kamu mengkhianati aku? Jadi begini ya kelakuan kamu kalau aku tinggal ke luar kota?"

Rasta lihat Viola menggeleng. Ia mengelak, "Aku nggak selingkuh, Ta. Demi Allah, aku nggak mungkin mengkhianati kamu."

Rasta tertawa hambar. Lucu, pikirnya. Ini benar-benar lucu, mana ada maling ngaku, ya kan? Mana ada seorang pengkhianat mengakui perbuatannya dengan mudah?

"Buktinya udah sangat jelas, dan kamu masih saja mengelak?" desis Rasta.

"Tapi emang itu kenyataannya, Ta. Aku aja nggak tau siapa cowok itu. Gimana aku bisa ada sama dia di tempat tidur, aku nggak tau, Ta. Please, kamu percaya sama aku."

Rasta tergelak, namun matanya ikut mengeluarkan cairan bening.

"Siapa yang kirim foto itu? Aku nggak pernah memasukkan orang lain ke rumah ini, apalagi seorang laki-laki!"

Rasta mendengkus kasar. Penjelasan Viola terdengar lucu di telinganya.

"Sekarang kamu bereskan semua barang-barang kamu, jangan sampai ada yang tertinggal, dan pergi dari rumah ini sekarang juga!" usir Rasta. Di luar, terdengar suara hujan deras disertai petir menggelegar.

"Kamu ngusir aku, Ta? Aku lagi hamil."

"Hamil? Anak siapa? Itu bukan anak aku pastinya, kan?"

"Ya Allah, Ta ... kenapa kamu jadi kayak gini sih? Kita bisa bahas masalah ini baik-baik—"

"Nggak perlu! Nggak ada yang perlu kita bahas lagi, semuanya udah jelas."

Keadaan lengang sejenak, yang terdengar hanya suara petir dan hujan. Keduanya saling menatap dengan sorot penuh luka. Rasta amat terluka karena sudah dikhianati, sementara Viola ... Entah.

"Pergi dari sini, Vi. Aku akan segera urus perceraian kita."

Beberapa bulir air mata berjatuhan membasahi kedua pipi Viola. "Ta, please," mohonnya. Ia berharap apa? Berharap rasta akan mempercayainya?

Rasta menggeleng. Ia tak mentolerir seorang pengkhianat. Walau Viola telah mengiba, walau Viola telah bertekuk lutut meminta kepercayaannya, meskipun Viola dibanjiri air mata, Rasta tetap mengusirnya, memilih sebuah perceraian, perpisahan.

Dan Viola pergi. Malam itu, berjalan sendirian di tengah derasnya hujan.

Flashback off.

Kepulan asap rokok menghembus keluar dari mulut dan hidung Rasta. Ia berada di club malam, tempat penuh bingar musik yang selalu menjadi pilihannya di kala sedang kalut.

pertemuannya dengan Viola tadi siang, berhasil membuka lukanya yang susah payah ia jahit sendiri.

"Brengsek!" umpatnya.

"Kenapa sih lo? Tampangnya kayak lagi dikejar-kejar sama rentenir aja," tanya Baim, salah seorang temannya yang menemaninya datang ke club malam ini.

"Ini lebih buruk daripada dikejar-kejar sama rentenir," balas Rasta, kemudian ia mengisi gelasnya dengan botol berisi alkohol. Menenggak isi gelas itu dengan satu tegukan. Ia lakukan kegiatan itu berulang-ulang, setiap tegukan mengingatkannya pada pengkhianatan Viola.

Baim mengernyit. "Kenapa sih lo?" Baim cukup dekat dengan Rasta. Seingatnya, terakhir Rasta kacau sampai datang ke klub dan minum-minum seperti ini adalah lima tahun yang lalu. Di saat ia bercerai dengan Viola.

"Viola ... Gue ketemu lagi sama dia," kata Rasta.

Baim mengangkat sebelah alisnya. "Viola lagi? Jadi lo minum-minum gini karena Viola lagi?"

Rasta diam. Entahlah, pertemuannya dengan Viola tadi siang, membuat tatanan hidupnya menjadi berantakan.

"Sebenarnya dulu apa sih yang buat lo cerai sama Viola? Lo gak pernah cerita sama gue, setiap gue tanya juga lo cuma diem. Gue pikir lo cinta banget sama dia."

Rasta mengangguk. "Gue emang cinta banget sama Viola. Saking cintanya liat dia berselingkuh, hidup gue jadi berantakan banget."

Baim terbelalak. "Viola selingkuh?" tanyanya, nyaris tidak percaya. Baim juga mengenal Viola, kedengarannya itu tidak mungkin.

...****************...

Bab 3

Rasta menceritakan semuanya kepada Baim. Pengkhianatan Viola, yang menjadi alasan perceraian, hingga pengusiran Viola dari rumahnya dalam keadaan hamil. Selama ini, Rasta menyembunyikan fakta itu dari siapa pun, kecuali keluarga intinya. Baru kali ini ia bercerita kepada Baim.

Baim cukup terkejut. Ia pikir, alasan Rasta dsn Viola bercerai itu karena pikiran mereka yang sudah tidak sejalan, seperti yang selama ini Rasta katakan.

"Lo yakin kalau Viola selingkuh, Ta? Siapa yang ngirim foto itu ke lo?" tanya Baim ragu-ragu. Jujur, ia sendiri tidak mempercayai cerita itu.

"Gue yakin," sahut Rasta dengan anggukan kepala. "Buktinya kuat banget. Mama yang ngirim foto Viola bersama selingkuhannya itu. Mama berkunjung ke rumah, tapi gak taunya beliau malah liat Viola lagi tidur sama selingkuhannya di kamar kami. Brengsek banget." Rasta tersenyum miris.

"Lo nggak selidiki dulu kebenarannya, Ta? Kita sama-sama tau ya kalau mama lo nggak setuju lo nikah sama Viola, mana tau ini cuma jebakan mama lo aja."

Rasta menoleh cepat ke arah Baim, kernyitan di dahinya cukup membuktikan jika ia tidak terima mamanya dituduh. Baim cepat-cepat meralat ucapannya.

"Bukannya gue nuduh mama lo, Rasta, gue juga gak belain Viola, tapi alangkah baiknya kalau lo harusnya selidiki dulu kebenarannya. Harusnya lo jangan kemakan emosi sebelum benar-benar yakin."

Rasta mendengkus, ia terus menghisap rokok di terselip di sela-sela jarinya. "Gue nggak ada waktu buat selidiki, karena malam itu gue langsung usir Viola dari rumah. Abis itu gue sewa pengacara buat urus perceraian kami, dan Viola juga nggak pernah datang ke persidangan. Kami resmi cerai, ketuk palu, gue langsung pergi ke luar negeri, nenangin diri. Sejak itu, gue gak pernah denger kabar dia lagi sampai hari ini tiba-tiba dia datang melamar kerja di kafe gue."

Baim diam sejenak, tak tahu harus merespon bagaimana. Menurutnya, Rasta terlalu emosional. Tidak bisa berpikir jernih, termakan emosi.

"Lo kenal Viola sejak kapan, Ta? Berapa lama lo menjalin hubungan sama dia? Viola yang lo kenal itu seperti apa? Menurut lo apa iya, Viola tega mengkhianati elo, Ta?" cecar Baim.

Tatapan Rasta nyaris kosong saat mengenang semuanya. Hubungannya dengan Viola sudah terjalin sejak mereka duduk di bangku sekolah. Sedari Rasta belum memiliki dan menjadi apa-apa, Viola setia mendampingi.

"Tapi, mama juga nggak mungkin kan memfitnah Viola?" elak Rasta. "Lo harus tau kalau waktu itu, hubungan mama sama Viola udah membaik. Semua jadi masuk akal kalau Viola beneran selingkuh, karena kata mama, cowok yang jadi selingkuhannya itu lebih kaya daripada gue," tuturnya. "Cewek emang gitu, kan? Ada yang lebih kaya, ngapain pilih yang baru merintis."

Baim membuang napas panjang. Rasta tidak salah jika ia lebih mempercayai mamanya, apalagi mamanya menyertakan bukti kuat. tetapi, ia sangat tidak yakin jika Viola berselingkuh. Entah siapa yang benar, dan siapa yang salah.

"Jadi sampai sekarang pun lo belum tau gimana keadaan anak yang dulu sedang dikandung Viola saat lo usir dia?" Baim bertanya pelan dan hati-hati.

Rasta mematikan putung rokok di tangannya. Tak langsung menjawab, ia diam sesaat.

"Gue gak tau. Gimana kehidupan Viola selama lima tahun ini, gue juga gak tau. Mungkin dia udah bahagia sama selingkuhannya itu, dan anak mereka." Rasta mengedikkan bahu. Terlihat tidak peduli, nyatanya saat memikirkan kehidupan Viola yang bahagia bersama lelaki lain, ia merasakan dadanya nyeri.

Baim bertanya, "Gimana kalau ternyata ... Anak itu adalah anak kandung lo?"

*

Menjadi single mom sudah Viola lakukan sejak ia hamil Vita. Dari memandikan Vita, menyuapinya makan, menemaninya jalan-jalan, hingga merawatnya di saat Vita sakit, Viola jalani dengan bahagia. Beruntung, ada Sinta, ibunya yang menemani dan membantunya di rumah.

Viola bisa menitipkan Vita kepada ibunya, ketika ia hendak meninggalkannya bekerja. Hal itu dengan terpaksa Viola lakukan, sebab kalau bukan dirinya yang bekerja untuk Vita, lalu siapa lagi? Ayahnya kan tidak peduli, bahkan tidak tahu jika Vita ada di dunia ini.

"Mama hari ini kerja nggak?" Vita bertanya dengan suara cadelnya khas anak balita. Ia sudah mandi, sudah wangi, dan sedang disuapi makanan oleh ibunya.

"Iya, mulai hari ini mama kerja lagi, ya? Vita di rumah aja sama nenek, jangan nakal," jawab Viola.

"Aaaaah, nggak boleh. Mama nggak boleh kerja, di rumah aja temenin Vita," balita itu merengek. Sebelum Viola mulai kerja lagi, ia sudah menganggur selama dua minggu pasca ia resign dari minimarket.

Sebab itulah yang membuat Vita agak tidak rela jika harus melepas mamanya pergi bekerja. Pun begitu dengan Viola. Sungguh, jika mengikuti kata hati, Viola ingin selalu menemani Vita di rumah. Memantau tumbuh kembangnya, tapi hal itu tidak bisa Viola lakukan.

Dia harus bekerja. Harus mencari uang.

"Mama harus kerja, Sayang. Vita ngerti, ya? katanya mau sekolah? Mau beli mainan yang banyak. Kalau mama nggak kerja, gimana Vita bisa sekolah? Gimana Vita bisa beli mainan, hayoo?"

"Tapi Vita nggak mau sekolah aja deh. Nggak mau beli mainan lagi, biar mama di rumah terus sama Vita."

Viola menghela napas. Ia pergi ke belakang, meletakkan piring kotor bekasnya Vita makan. Melirik jam yang tergantung di dinding, waktu sudah sangat mepet. Ia harus segera berangkat, namun sayangnya, ia harus menghadapi drama tantrum anaknya yang tak mau melepasnya.

"Jangan kerja, mama!" Vita menangis. Bahkan, Sinta cukup kuwalahan menahan tubuhnya yang memberontak hendak memeluk mamanya.

Hati Viola teriris. Ibu mana yang tega meninggalkan anaknya dalam keadaan menangis?

"Vita tenang, ya? Mama kerja dulu, biar Vita bisa beli jajan, oke?" bujuk Sinta.

Vita menggeleng, tangisnya semakin keras.

Viola ingin menangis menatapnya, tapi ia tahan-tahan supaya air matanya tidak jatuh. Sekali lagi, ia menatap jam dinding. Sudah telat. Sementara anaknya masih berusaha memeluk kakinya sambil mendongak, menatapnya, memohon untuk tidak ditinggalkan.

"Vita, dengerin mama ya?" Viola berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Vita. "Mama kerja dulu, nanti sore mama pulang. Mama janji, nanti mama pulang jam lima sore. Vita mau minta dibawakan apa? Es krim mau?" tawarnya lembut.

Vita sesenggukan, hingga ia tidak bisa bicara.

"Sini peluk mama dulu, sebentar saja ya? Abis itu mama harus berangkat."

Ibu dan anak itu berpelukan selama beberapa menit, hingga Vita merasa tenang, barulah Viola melepas pelukannya.

"Mama boleh berangkat sekarang?" tanya Viola, tangannya sibuk mengusap kedua pipi anaknya yang basah air mata.

Perlahan, kepala Vita mengangguk. "Boleh, tapi janji nanti sore pulang bawain Vita es krim."

Viola tersenyum lega. "janji dong!" ia ulurkan jari kelingkingnya yang kemudian saling bertautan dengan jari kelingking kecil milik Vita.

*

"Aku udah telat banget, Ya Allah," Viola bergumam panik. Sepanjang perjalanan, ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Sampai di restoran, sesuai dengan dugaannya, ia datang sangat terlambat.

Resto sudah buka, seharusnya Viola datang tiga puluh menit sebelum jam buka resto.

Jantungnya mencelos ketika Rasta sudah menunggunya di pintu masuk sambil berkacak pinggang.

"Sangat tidak konsisten!" Rasta menggeleng, tampangnya menyebalkan. "Hari pertama kerja, karyawan baru pula, tapi malah telat," sindirnya.

Viola mengangkat wajahnya. Menghela napas, karena memang ia pantas mendapatkan amarah.

"Maaf, Pak Rasta, kalau saya terlambat," ucapnya.

"Kenapa telat?" tanya Rasta, suaranya sama sekali tidak bersahabat.

Viola menjawab ragu-ragu, "Tadi ... Anak saya rewel. Saya minta maaf, saya janji, lain kali saya tidak akan mengulanginya lagi."

Rasta mendengkus kasar. Mendengar Viola menyebut kata anak, rasanya ia ingin meledak lagi.

"Anak dijadikan alasan? Kalau tau anak kamu berat untuk ditinggal kerja, ya harusnya jangan kerja. Ada bapaknya, kan? Suruh dong bapaknya kerja lebih serius lagi, kalau perlu suruh dia cari kerja sampingan, biar ibunya nggak terpaksa ninggalin anak kerja. Daripada telat begini." Rasta ngomel-ngomel. Matanya menatap Viola tajam.

Viola mengalihkan pandangannya, giginya saling beradu. Rasta tidak tahu jika yang sedang ia bicarakan adalah dirinya sendiri.

"Kali ini kamu saya maafkan. Masih saya beri toleransi, tapi ada hukumannya."

Sumpah, demi apapun juga, setelah gaji bulan pertama cair, Viola akan lekas mencari pekerjaan lain. Ia tidak tahan terus terlibat interaksi dengan Rasta. Hubungan mereka sangat tidak baik.

"Apa hukuman saya?"

"Hari ini kamu harus lembur. Pulang malam!"

Viola terbelalak. Terbayang janjinya pada Vita.

"Tapi, Pak Rasta...."

Bersambung....

Follow Ig aku : @jalur_langitbiru13

...****************...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!