“Ki, aku iri sama kamu,” ucap Dina tiba-tiba, memecah suasana warung makan siang itu yang tadinya tenang.
Kirana yang sejak tadi sibuk mengaduk teh manis di gelas kaca, menghentikan gerakannya. Dia menoleh dengan alis sedikit terangkat, lalu tertawa kecil. Tawa yang lebih terdengar seperti penolakan halus daripada hiburan.
“Iri kenapa?” tanya Kirana ringan. Dalam benaknya, tak ada satu pun hal istimewa yang pantas membuat orang lain iri kepadanya.
Dina menghela napas panjang, seolah sedang menahan beban hidup yang terlalu berat untuk ditanggung sendiri. “Punya suami yang sayang sama istri dan anak. Selalu jadi garda terdepan buat keluarga. Royal, perhatian, nggak pelit perasaan. Nggak kayak aku ....” Suaranya menurun, matanya menerawang kosong. “Suamiku bisanya nuntut terus, tapi nggak pernah menghargai apa pun yang sudah aku lakukan.”
Kirana terdiam. Jemarinya mengerat di gagang gelas. Ada rasa tak nyaman menjalar di dadanya, antara iba dan bersalah. Dia ingin menyangkal, tetapi kata-kata itu terlalu jujur untuk ditepis.
“Suami kamu itu juga baik sama keluarga kamu, Ki,” sela Meli yang sejak tadi duduk menyandar di kursi plastik. “Orang tua kamu sering banget membanggakan Rafka. Katanya, Rafka itu menantu idaman.”
Kirana tersenyum samar. Senyum yang tampak utuh di luar, tapi retak di dalam. “Ya, mau bagaimana lagi. Mas Rafka sekarang menantu satu-satunya,” ucapnya pelan. “Dulu, waktu masih ada Mas Dipta, dialah menantu kebanggaan ayah dan ibu.”
“Ngomong-ngomong,” Meli memiringkan kepala, rasa penasarannya tak bisa ditahan. “Kenapa kakakmu betah menjanda? Padahal Mbak Kinanti masih muda, cantik, punya pekerjaan bagus. Banyak yang pasti mau.”
Kirana menunduk. “Katanya belum bisa move on dari Mas Dipta,” jawabnya lirih. Sejujurnya, itu jawaban yang selalu Kinanti ulang, meski hatinya sendiri mulai mempertanyakannya.
Dina mendekatkan tubuhnya, menurunkan suara. “Tapi, Ki. Aku beberapa kali lihat suamimu dan Mbak Kinanti naik motor bareng.”
Jantung Kirana berdegup lebih cepat.
“Mereka kan kakak-adik ipar,” sahut Kirana cepat, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri. “Kadang Mbak Kinanti minta tolong ke Mas Rafka. Bukan cuma ke dia, kok. Mbak Kinanti juga sering minta aku jemput Ara kalau pulang sekolah.”
Meli menghela napas, lalu menggeleng pelan. “Tetap aja hati-hati. Sekarang zaman sudah edan. Banyak kasus perselingkuhan sesama ipar. Nggak kelihatan mencurigakan bukan berarti aman.”
Ucapan itu seperti duri kecil yang tertancap di hati Kirana. Tidak langsung sakit, tapi mengganggu. Mengusik rasa percaya yang selama ini dia rawat dengan sepenuh hati.
Kirana memilih diam. Dia percaya pada suaminya. Dia percaya pada kakaknya. Sejak dulu hubungan mereka memang dekat. Tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa kedekatan itu bisa berubah menjadi sesuatu yang kotor.
Di tempat lain, Kinanti duduk di balik meja kerjanya, jemari lentiknya sibuk mengetik di layar ponsel. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya.
Wajahnya yang dipoles rapi tampak berseri, berbeda jauh dari sosok Kinanti yang murung tiga tahun lalu, saat status janda masih terasa seperti luka terbuka.
[Mas, jangan lupa sama janji kemarin.]
Tak lama, balasan masuk.
[Janji yang mana?]
Kinanti mendengus manja, lalu mengetik cepat.
[Ih, masa lupa! Kan Mas janji mau beliin aku tas.]
Beberapa detik kemudian.
[Oh, itu. Tentu aku ingat. Hari Minggu nanti kita beli.]
Mata Kinanti berbinar.
[Makasih, Mas. Aku makin cinta, deh! Nanti sore kita cek in lagi, yuk!]
Pesan itu terkirim, disertai emoji hati yang berdenyut pelan di layar.
“Cie… cie…,” goda salah satu rekan kerjanya. “Yang lagi chat-an sama Ayang.”
Yang lain ikut menimpali, tertawa kecil. “Kayaknya sebentar lagi ada yang mau melepas gelar janda, nih!”
Kinanti hanya tersenyum manis. Tidak menyangkal. Tidak membenarkan. Biarlah mereka menebak-nebak. Dalam hatinya, ada rasa bangga yang tak terucap. Dia merasa menang pada akhirnya.
Tiga tahun menjanda bukan waktu yang singkat. Tiga tahun menahan rindu, cemburu, dan iri melihat Kirana hidup bahagia dengan pria yang sejak dulu diam-diam dia inginkan.
Sore itu, Rafka tidak langsung pulang. Motornya berbelok ke arah lain, bukan menuju rumahnya. Ada kegelisahan di dadanya, tetapi juga ada dorongan yang lebih kuat. Dorongan yang membuatnya terus melangkah meski sadar sedang melanggar batas.
Rafka memarkir motor di depan sebuah hotel murah yang sering dia lewati. Tanpa ragu, dia melangkah masuk. Kamar sudah dipesan lewat aplikasi. Semuanya terasa begitu mudah untuk sebuah dosa. Pintu dibuka tanpa diketuk.
Kinanti baru keluar dari kamar mandi, rambutnya masih setengah basah, tubuhnya dibalut handuk tipis. “Akhirnya, Mas datang juga,” ucapnya dengan senyum penuh arti.
Tanpa rasa canggung, Kinanti mendekat, memeluk Rafka erat, seolah takut pria itu akan menghilang. Rafka membalas pelukan itu. Pelukan yang hangat dan terasa candu.
Kinanti mencium mesra bibir Rafka. Dia tahu bagaimana caranya memancing hasrat seorang pria.
Hubungan terlarang itu telah berjalan tiga bulan. Tiga bulan yang menghapus batas moral, mengaburkan rasa bersalah, dan menenggelamkan mereka dalam euforia palsu.
Kinanti sudah lama menaruh hati pada Rafka. Bahkan sejak Dipta masih hidup. Saat Kirana masih berstatus tunangan. Saat dia hanya bisa menonton dari kejauhan, menyimpan rasa iri yang perlahan berubah menjadi obsesi.
“Mas,” Kinanti bersuara pelan setelah semuanya usai, kepalanya bersandar di dada Rafka. “Kapan kita punya waktu luang? Aku ingin lebih banyak sama kamu.”
Rafka menghela napas. “Aku nggak tahu. Sekarang pabrik nggak ada lembur. Kirana tahu itu. Aku nggak bisa sembarangan cari alasan.”
Rafka bangkit dari ranjang, mulai mengenakan pakaiannya. Ada jarak yang kembali tercipta
Kinanti buru-buru memeluk Rafka dari belakang. Dia merasa enggan berpisah dengan pria itu.
“Aku masih ingin, Mas. Sekali lagi.”
“Tidak bisa,” Rafka melepaskan pelukan itu dengan halus tapi tegas. “Aku harus pulang. Nanti Kirana curiga.”
Kinanti mendongak, matanya menyala oleh cemburu dan amarah. “Kenapa kamu selalu takut sama Kirana?”
“Bukan takut,” Rafka menoleh, tatapannya tajam. “Aku nggak mau dia marah. Aku mencintainya.”
Kata itu—mencintainya—menusuk Kinanti tanpa ampun.
“Kalau dia marah, tinggal cerai!” Kinanti meninggi. “Apa susahnya, sih?!”
Rafka menggeleng keras. “Aku nggak akan menceraikan istriku.”
Rafka menatap Kinanti dalam-dalam. “Dan ingat. Hubungan kita ini jangan sampai Kirana tahu.”
Wajah Kinanti mengeras. Rahangnya mengatup kuat. Di dalam dadanya, cinta bercampur dendam, rindu bercampur kebencian. Tiga tahun menunggu, menggoda, dan mengorbankan harga diri, namun tetap saja, hati Rafka masih untuk Kirana.
Di saat yang sama, Kirana yang polos dan percaya, sama sekali tidak tahu bahwa kebahagiaan yang dia jaga dengan sepenuh hati, perlahan sedang digerogoti dari dalam.
***
Assalammualaikum, kembali lagi dengan karya terbaru aku. Semoga suka. Ambil sisi baiknya dan jangan tiru sisi buruknya.
Jangan lupa kasih dukungan, like, komentar, dan vote, biar aku makin bersemangat ngetik.
Aroma bawang putih yang ditumis bercampur kaldu ayam memenuhi dapur kecil rumah Kirana. Uap tipis mengepul dari panci, sementara sendok kayu di tangannya bergerak perlahan, seirama dengan pikirannya yang tenang. Dapur selalu menjadi tempat favorit Kirana. Tempat dia merasa paling berguna, paling dibutuhkan.
Tiba-tiba, sepasang lengan melingkar dari belakang.
“Ah!” Kirana tersentak kecil, tetapi senyumnya langsung merekah saat menyadari siapa pelakunya.
Rafka menyandarkan dagu di bahu Kirana, menghirup aroma masakan dan rambut istrinya bersamaan.
“Mas sudah segar, nih,” ucap Kirana sambil melirik rambut suaminya yang masih basah. Wangi sampo dan sabun menempel, menghadirkan rasa nyaman yang sudah sangat dia kenal.
“Biar istriku betah aku peluk lama-lama,” balas Rafka ringan, tangannya mengencang sejenak, seolah enggan melepaskan.
Belum sempat Kirana membalas, suara kecil bernada protes terdengar dari ambang dapur.
“Papa! Jangan ganggu Mama yang lagi masak!”
Rafka menoleh. Gita berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang, wajahnya cemberut seperti orang dewasa yang sedang menegur.
“Eh, putri papa yang cantik,” seru Rafka ceria. Dia langsung mengangkat tubuh Gita, menggendongnya tinggi-tinggi, lalu berputar pelan. Tawa Gita pecah, mengisi rumah dengan bunyi kebahagiaan yang tulus.
Kirana memandangi keduanya dengan senyum penuh syukur. Dalam hati, dia berdoa agar momen-momen sederhana seperti ini tidak pernah berakhir. Baginya, kebahagiaan bukanlah dengan kemewahan, cukup makan bersama, tertawa bersama, dan pulang ke rumah yang hangat.
“Mas,” ucap Kirana ketika mereka sudah duduk di meja makan. Dia meletakkan semangkuk sop ayam dan merapikan sendok. “Hari Minggu nanti ibu minta kita datang ke rumah. Katanya mau syukuran ulang tahun Mbak Kinanti.”
Sendok Rafka terhenti di udara. Hanya sesaat. Sangat singkat. Tapi cukup untuk membuat jantungnya terasa berhenti sesaat. Karena hari Minggu nanti sudah tercatat sebuah rencana yang tersusun rapi di kepalanya. Bukan untuk acara keluarga, melainkan janji lain yang tak pantas disebutkan.
“Hari Minggu?” tanya Rafka, nadanya dibuat senormal mungkin.
“Iya,” jawab Kirana sambil mengambilkan nasi untuk suaminya. “Katanya sederhana saja. Makan-makan keluarga.”
“Kok Kinanti nggak bilang apa-apa?” batin Rafka. Jantungnya berdegup lebih cepat, namun wajahnya tetap tenang. Dia menunduk, berpura-pura fokus pada makanannya.
Makan malam berlangsung hangat. Gita bercerita panjang lebar tentang temannya di sekolah, tentang gambar yang dia buat, juga tentang keinginannya pergi melihat gajah. Rafka dan Kirana menyimak dengan sabar, tertawa di waktu yang tepat.
Malam semakin larut. Setelah menidurkan Gita di kamar sebelah, Kirana kembali ke kamar mereka. Rafka sudah lebih dulu duduk di tepi ranjang.
Dia terkejut saat melihat Kirana keluar dari kamar mandi mengenakan baju tidur dinas malam yang jarang dipakai, tetapi selalu membawa makna tersendiri.
Rafka menelan ludah. “Kenapa aku lupa kalau malam ini ....” batinnya kacau. Tadi sore dia sudah menghabiskan tenaga dan perasaan di tempat yang seharusnya tidak dia datangi.
Namun, Rafka tetap bangkit. Dia tahu komitmen yang pernah mereka ucapkan. Yaitu, harus menjaga kehangatan ranjang agar rumah tangga tidak retak. Dia tidak ingin Kirana curiga. Tidak ingin rumah yang rapi ini runtuh karena kelalaiannya sendiri.
***
Ponsel Kinanti bergetar di atas meja riasnya.
[Kamu kok nggak bilang kalau hari Minggu nanti ada acara di rumah orang tua kamu?]
Kinanti mengernyit. Dia sendiri baru tahu kabar itu. Sejak kecil, orang tuanya memang selalu merayakan ulang tahunnya. Berbeda dengan Kirana, ulang tahun adiknya sering lewat begitu saja, nyaris tak diingat.
[Aku juga baru tahu, Mas. Gimana kalau beli tasnya hari Sabtu saja?]
Balasan datang cepat.
[Tidak bisa. Hari Sabtu aku sudah janji sama Kirana dan Gita mau ke kebun binatang.]
Wajah Kinanti mengeras. Rencana yang sudah dia susun rapi di kepalanya terancam buyar. Bukan sekadar tas, tetapi dia ingin seharian itu penuh dengan diperhatikan dan diprioritaskan oleh Rafka.
[Tunda saja dulu. Ke kebun binatangnya minggu depan.]
Tak lama, Kinanti mengirim pesan lainnya lagi.
[Aku kasih Mas servis yang terbaik.]
Tak ada balasan. Kinanti menggigit bibir, kesal. Jari-jarinya kembali menari di layar.
[Mas, please. Sabtu dan Minggu aku kasih pelayanan khusus.]
Masih hening. Kinanti menghembuskan napas panjang. Dia tidak tahu bagaimana caranya membujuk Rafka.
[Aku akan bujuk Gita.]
Senyum tipis terukir di bibir Kinanti, saat membaca balasan dari Rafka. Rencana yang sudah dirancangnya pun bisa terrealisasi.
Keesokan harinya, Kirana menjemput Gita dan Ara dari TK. Dua bocah itu berlarian ke arahnya dengan wajah cerah. Setelahnya, Kirana mengantar Ara ke rumah orang tuanya yang berbeda desa. Nanti Kinanti baru akan menjemput sore hari.
“Kamu jangan dulu pulang,” ucap Bu Maya saat Kirana hendak pamit. “Temani mama belanja ke pasar. Banyak yang harus dibeli buat Minggu.”
Kirana ingin menolak. Pekerjaan rumah menunggu. Setrikaan menumpuk. Tubuhnya juga lelah. Namun, dia tahu betul watak ibunya. Menolak berarti siap menerima cap anak durhaka.
“Iya, Ma,” jawab Kirana pelan.
Belum sempat beranjak, suara teriakan terdengar dari ruang belakang. Gita dan Ara sedang berebut boneka.
“Ini punyaku!” teriak Gita sambil memeluk bonekanya.
“Sekarang sudah jadi punyaku!” balas Ara, tak kalah kencang.
Bu Maya datang lebih dulu. “Gita, kasihkan ke Ara. Kamu kan sudah lama main sama boneka itu.”
Kirana tercekat. Pemandangan itu terlalu familiar—seolah mengulang masa kecilnya sendiri.
“Sayang,” Kirana berlutut di depan Gita, mengelus rambut anaknya. “Kasih ke Ara, ya. Nanti Mama minta Papa beliin yang baru.”
Ara langsung menyerahkan boneka itu. “Nih! Biar nanti aku dibelikan boneka baru sama Om Rafka,” katanya polos sebelum berlari pergi.
Gita menunduk. Matanya berkaca-kaca.
“Lain kali kamu harus mengalah,” ucap Bu Maya datar. “Kasihan Ara. Dia sudah nggak punya ayah.”
Kalimat itu menghantam Gita tanpa ampun. Bocah kecil itu terdiam, merasa bersalah atas sesuatu yang tidak dia pahami sepenuhnya.
Kirana menahan sesak di dadanya. Dia seolah kembali melihat dirinya sendiri di wajah putrinya. Selalu diminta mengalah, selalu menjadi yang kedua.
Mereka pergi ke pasar. Satu becak penuh belanjaan. Tangan Kirana pegal, pikirannya pun lelah. Di tengah hiruk pikuk pasar, ponselnya berbunyi.
[Ki, ini motor suami kamu bukan?]
Kirana berhenti melangkah. Dia membuka pesan itu perlahan.
[Iya. Memangnya kenapa?]
Balasan datang cepat.
[Kemarin aku lihat di parkiran hotel Melati.]
DEG!
Dunia seakan berhenti berputar. Suara pasar mendadak jauh. Kirana menatap layar ponsel itu lama, terlalu lama. Motor merah polet hitam. Plat nomor yang dia hafal di luar kepala. Tangannya bergetar.
“Tidak mungkin,” bisiknya pada diri sendiri. “Kemarin kan Mas Rafka kerja.”
Lampu kamar sudah diredupkan. Gita tertidur pulas di kamar sebelah setelah seharian bermain dan menangis kecil yang tak sempat diceritakan. Di kamar utama, Kirana berbaring menyamping, punggungnya menghadap Rafka. Namun matanya masih terbuka. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Sebuah pertanyaan yang sejak siang tadi berputar-putar di kepalanya, tak kunjung menemukan jawaban.
“Mas,” ucap Kirana akhirnya, memecah keheningan. Suaranya pelan, tapi tajam. “Apa kemarin Mas pergi ke Hotel Melati?”
Rafka yang sudah setengah terlelap, seketika mematung. Jantungnya berdegup kencang, seolah baru saja dipukul dari dalam. Tenggorokannya kering. Otaknya berputar cepat, mencari celah aman.
“Ka-pan?” tanya Rafka gugup, terlalu cepat untuk sebuah pertanyaan yang seharusnya tenang.
“Kemarin,” jawab Kirana singkat. Dia membalikkan badan, kini menatap wajah suaminya dengan sorot penuh telisik, bukan menuduh, tetapi mencari kebenaran.
“Kemarin?” ulang Rafka, berusaha menata napas. “Oh ... kemarin aku menolong seseorang.”
Kirana mengerjap. “Menolong?” alisnya terangkat.
“Iya,” lanjut Rafka cepat. “Ada pelancong ketinggalan bus. Dia bingung cari tempat menginap murah. Aku cuma bantu antar. Habis itu langsung pulang.”
Kalimat itu meluncur begitu lancar. Terlalu lancar. Rafka sendiri terkejut betapa mudahnya kebohongan itu keluar dari mulutnya. Dulu, dia bahkan kesulitan menyembunyikan kejutan kecil dari Kirana. Kini, dia lihai memintal dusta.
Kirana mengembuskan napas lega. “Syukurlah,” ucapnya tulus. “Tadi aku sempat mikir yang enggak-enggak.”
Rafka menelan ludah. Ada rasa bersalah yang menggerogoti dadanya, tapi dia memilih menguburnya dalam-dalam.
“Yang,” ucapnya cepat, berusaha mengalihkan arah. “Kita mau kasih kado apa buat Mbak Kinanti?”
Kirana mengernyit. “Eh? Kenapa harus kasih kado?”
Rafka terdiam sejenak.
“Mbak Kinanti kan bukan anak kecil,” lanjut Kirana. “Lagipula, selama ini juga dia enggak pernah kasih kado ke aku.”
Kalimat itu diucapkan datar, tetapi ada luka lama yang menyelip di sana. Luka yang sudah terlalu sering diabaikan.
“Oh, ya, sudah,” sahut Rafka singkat. “Tidur saja. Sudah malam.”
Rafka memeluk Kirana dari belakang, menghirup wangi tubuh istrinya yang selalu membuatnya tenang. Ironis. Pelukan yang menenangkan itu justru datang dari perempuan yang sudah dia khianati.
Tak lama, napas Rafka teratur. Sementara Kirana masih terjaga, menatap kosong ke arah dinding. Entah kenapa, rasa lega tadi berubah menjadi firasat yang tak bisa dijelaskan.
***
Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat ketika Kirana menjemput Gita dan Ara di TK. Dia menjemput tidak naik motor, tetapi naik becak. Dulu, saat bekerja di pabrik, dia punya motor. Kini kendaraan itu menjadi alat cari nafkah ayahnya, setelah pensiun dari kantor pos dan bekerja sebagai ojol kampung.
Sebenarnya jarak TK ke rumah tak sampai lima ratus meter. Jika hanya Gita, Kirana biasa berjalan kaki. Namun, karena harus mengantar Ara ke rumah Bu Maya di desa sebelah, mereka memilih naik becak. Orang tuanya selalu khawatir Ara kepanasan atau kelelahan.
Di dalam becak, Ara meringis, memegangi perutnya.
“Tante… perut aku sakit,” keluhnya.
“Kamu mau eek?” tanya Gita polos.
Kirana refleks meraih dahi Ara. “Tadi makan apa saja?”
“Cilok sama es,” jawab Ara, wajahnya pucat dan berkeringat.
Kirana menghela napas. “Kita langsung pulang, ya. Nanti Tante balurin minyak kayu putih.”
Begitu sampai rumah Bu Maya, kepanikan langsung menyergap.
“Ara kenapa?!” Bu Maya berseru melihat cucu kesayangannya digendong Kirana.
“Sakit perut, Bu. Mungkin habis jajan cilok pedas dan minum es.”
“Kok, kamu biarkan Ara jajan sembarangan?” nada Bu Maya meninggi, telunjuknya hampir mengarah ke Kirana.
Kirana terkejut. “Aku juga baru tahu barusan, Bu. Aku enggak tahu dia jajan cilok.”
Bu Maya berdecak. “Gita, seharusnya kamu larang Ara kalau jajanan sembarang!” Kali ini Bu Maya malah menyalahkan Gita.
Gita terdiam. Bahunya turun. Wajahnya mengkerut menahan tangis. Hatinya yang lembut tak sanggup menerima tuduhan itu.
Kirana langsung berdiri. Dadanya panas. Dia tidak terima anaknya disalahkan atas apa yang tidak dilakukan olehnya.
“Bu, kenapa malah Gita yang disalahkan? Harusnya Ara yang dinasihati, bukan anak saya!”
Bu Maya terdiam sesaat, lalu memalingkan wajah.
Tak ada permintaan maaf.
Kirana menggenggam tangan Gita erat. “Ayo, kita pulang.”
Kirana dan Gita pulang dengan perasaan kesal. Gita dan Ara sama-sama cucu Bu Maya, tetapi mendapatkan perlakuan yang berbeda.
Sepanjang jalan pulang, Gita diam. Langkahnya pelan. Kirana tahu, perlakuan itu membekas. Terlalu sering. Terlalu dalam.
“Kita beli es krim dulu, yuk,” ajak Kirana lembut.
Mata Gita langsung berbinar. “Beneran, Ma?”
“Tentu saja.”
Mendengar itu Gita sangat senang. Dia pun kembali tersenyum.
Di minimarket kecil, Gita memilih es krim paling murah. Dia paham kondisi orang tuanya. Paham, tanpa pernah diajari.
“Makannya nanti di rumah ya,” pesan Kirana sambil membuka pintu kaca.
“Aku mau sekarang, Ma,” sahut Gita ceria.
BRUK!
“Aaaa!” teriak Gita kaget.
Es krim terlepas dari tangannya, jatuh tepat mengenai sepatu seseorang. Sepatu itu terlihat mahal berwarna hitam mengilap.
Kirana yang sedang memasukkan uang kembalian ke tas, langsung menoleh. “Ada apa—”
Dia terdiam.
“Es krimnya jatuh, Ma,” ucap Gita ketakutan.
“Kirana?” panggil seorang pria.
Tubuh Kirana menegang. “Algara?”
Pria itu tersenyum kecil. Wajahnya tak banyak berubah sejak SMA, hanya kini lebih dewasa, lebih rapi, dan lebih tampan.
“Om, maafin aku,” ucap Gita dengan suara bergetar. “Aku enggak sengaja.”
Algara menghela napas. Jam di pergelangan tangannya dilirik sekilas. Jelas dia sedang terburu-buru.
“Maaf,” Kirana menyela cepat. “Sepatu kamu jadi kotor. Berapa harganya? Biar aku ganti.”
Algara menatap sepatu itu sebentar, lalu kembali menatap Kirana. “Murah kok,” ucapnya santai. “Cuma lima belas juta.”
Dunia Kirana runtuh seketika. Kakinya lemas. Angka itu berputar-putar di kepalanya, terlalu besar untuk sebuah sepatu dan terlalu mustahil untuk dia ganti.
Wajah Gita memucat. Kirana refleks menarik Gita yang ketakutan ke dalam pelukannya, seolah ingin melindunginya dari dunia yang terasa kejam.
“Alga, aku enggak punya uang sebanyak itu,” ucap Kirana lirih, menahan air mata. “Aku minta maaf.”
Algara terdiam. Raut wajahnya berubah. Ada sesuatu yang melintas di matanya, terkejut atau mungkin juga iba.
“Kirana,” ucapnya pelan. “Aku cuma bercanda.”
Kirana mengangkat wajah. “Hah?”
Algara tersenyum tipis. “Sudah. Itu cuma sepatu. Bisa dicuci.”
Kirana menutup mulutnya, air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Bukan karena sepatu, tetapi karena perasaan rendah yang selama ini dia pendam, dan kini tumpah ruah dalam satu kejadian kecil.
Algara yang berdiri di hadapan Kirana tak menyadari bahwa pertemuan tak terduga ini akan membuka kembali pintu masa lalu, di saat kehidupan Kirana sedang rapuh oleh rahasia yang belum terungkap.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!