Indonesia
NovelToon NovelToon

Bukan Suami Biasa

BSB BAB 1_Mutiara di Tengah Lumpur

Matahari baru saja menampakkan diri di ufuk timur, menyirami kota Jakarta dengan cahaya oranye yang lembut.

Namun bagi Arumi pagi hari bukanlah waktu untuk bersantai atau menikmati secangkir kopi hangat.

Pukul lima pagi, ia sudah berkutat di dapur sempit rumah keluarganya, menyiapkan sarapan untuk orang tua dan adik perempuannya yang selalu menuntut banyak hal.

Arumi adalah definisi gadis yang "terlupakan" di rumahnya sendiri.

Parasnya cantik alami yaitu matanya jernih seperti telaga, kulitnya bersih meski tanpa perawatan mahal, dan rambut hitamnya selalu diikat rapi.

Namun kecantikan itu seolah tertutup oleh pakaian lusuh dan beban pekerjaan rumah tangga yang ditumpukan padanya sejak ia masih remaja.

"Arumi! Mana kopiku? Kenapa lama sekali?" Suara melengking itu berasal dari Siska, adik kandung Arumi.

Siska keluar dari kamarnya dengan piyama sutra mahal sangat kontras dengan daster katun Arumi yang sudah memudar warnanya.

Siska adalah anak kesayangan, di mata ibunya Siska adalah tiket menuju kekayaan, sementara Arumi hanyalah "asisten rumah tangga gratis" yang kebetulan memiliki hubungan darah.

"Sebentar, Siska. Ini sedang dituang," jawab Arumi lembut.

Ia meletakkan secangkir kopi di meja makan, lalu kembali membalikkan telur di penggorengan.

Tak lama kemudian, Ibu mereka, Bu Ratna, keluar dengan wajah masam, ia langsung memeriksa meja makan.

"Hanya telur dan roti? Arumi, kau tahu kan Siska harus makan makanan bergizi untuk audisi modelnya siang ini? Kenapa kau begitu pelit dan malas?"

Arumi menunduk. "Maaf, Bu. Uang belanja yang Ibu berikan kemarin sudah habis untuk membayar tagihan listrik yang menunggak. Ini sisa yang bisa kubeli."

Plakk!

Bu Ratna menggebrak meja. "Alasan! Kamu pasti menyisihkan uang itu untuk keperluanmu sendiri, kan? Dasar anak tidak tahu diuntung. Padahal kami sudah berbaik hati memberimu tempat tinggal."

Hati Arumi mencelos. Tempat tinggal? Seingatnya, rumah ini dicicil menggunakan gaji Arumi selama tiga tahun pertama ia bekerja sebagai buruh cuci dan pelayan toko, sebelum akhirnya ia dipecat karena sering diminta pulang mendadak oleh ibunya untuk melayani Siska.

Kini, Arumi hanya bekerja serabutan sebagai pembersih taman di sebuah kompleks perumahan elit.

Meskipun diperlakukan tidak adil, Arumi tidak pernah melawan.

Bukan karena ia lemah, tetapi karena ia sangat menghargai konsep keluarga, ia percaya bahwa suatu saat, kebaikan akan berbuah manis.

Setelah selesai membereskan dapur dan mencuci piring bekas sarapan keluarganya, Arumi segera bersiap.

Ia mengenakan kemeja flanel yang sudah sikutnya menipis dan celana kain hitam.

Ia mengambil sepeda tuanya dan mengayuh menuju kawasan perumahan mewah Emerald Estate.

Di sana, Arumi bekerja sebagai perawat taman di salah satu rumah besar milik seorang pengusaha tua yang baik hati.

Namun hari ini ada pemandangan yang berbeda, di mana di gerbang kompleks ia melihat seorang pria terduduk di pinggir jalan.

Pria itu mengenakan kaos oblong putih yang sedikit kotor dan celana jeans belel.

Di sampingnya ada sebuah tas ransel yang tampak berat, wajahnya sangat tampan, dengan rahang tegas dan hidung mancung, namun matanya memancarkan kelelahan yang luar biasa.

Arumi berhenti, sifat penolongnya tiba-tiba saja muncul. "Permisi, Mas? Apa Mas baik-baik saja?"

Pria itu mendongak, matanya bertemu dengan mata Arumi yang tulus.

Pria itu adalah Adrian, yang sebenarnya merupakan CEO dari Arkadia Group, perusahaan properti terbesar di negeri ini.

Namun saat ini ia sedang melakukan "penyamaran" atas wasiat kakeknya untuk mencari pasangan yang mencintainya tulus tanpa melihat harta.

Adrian tertegun melihat gadis di depannya, ei tengah lingkungan elit ini, ada seorang gadis yang penampilannya sangat sederhana namun memiliki aura yang sangat tenang.

"Saya... saya hanya sedikit pusing. Saya baru sampai di kota ini untuk mencari kerja, tapi saya tersesat," bohong Adrian dengan lancar.

Arumi tersenyum tipis, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah botol air mineral yang masih segel dan sebungkus roti kecil yaitu sarapannya sendiri yang belum sempat ia makan.

"Ini, Mas. Diminum dulu. Jakarta memang keras kalau baru pertama kali datang. Kalau Mas tidak keberatan, di dekat sini ada warung milik Pak De yang biasa menerima pekerja serabutan. Mas bisa coba tanya di sana," ujar Arumi sambil memberikan roti itu.

Adrian menerima roti tersebut dengan ragu. "Terima kasih... namamu siapa?"

"Arumi. Saya harus segera bekerja, Mas. Semoga beruntung dengan pencarian kerjanya," ucap Arumi sebelum kembali mengayuh sepedanya.

Adrian memperhatikan punggung Arumi yang menjauh, ia tersenyum sinis, namun ada kilatan ketertarikan di matanya.

'Biasanya wanita akan menghindariku jika aku berpenampilan seperti gembel begini, atau setidaknya merasa jijik. Tapi dia... dia memberikan sarapannya sendiri padaku?' gumamnya dalam hati.

Sore harinya, Arumi pulang dengan tubuh lelah, namun ia tidak disambut dengan kehangatan.

Di ruang tamu, Bu Ratna dan Siska sedang berbincang dengan seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang dikenal sebagai Juragan peminjaman uang di kampung mereka, Pak Broto.

"Nah, ini dia anaknya baru pulang!" seru Bu Ratna dengan wajah sumringah yang dibuat-buat.

Arumi merasa perasaannya tidak enak. "Ada apa ini, Bu?"

Pak Broto menatap Arumi dengan pandangan lapar. "Arumi, ibumu bilang kau bersedia menikah denganku untuk melunasi hutang keluarga kalian yang lima puluh juta itu. Benar begitu?"

Dunia Arumi seolah runtuh, lima puluh juta? Seingatnya mereka tidak pernah meminjam uang sebanyak itu, ia menatap ibunya dengan nanar.

"Bu... apa maksudnya ini? Aku tidak pernah setuju," bisik Arumi bergetar.

Bu Ratna menarik Arumi ke dapur dan berbisik tajam, "Dengar, Arumi! Siska butuh biaya untuk masuk sekolah model internasional. Ini kesempatan kita! Pak Broto kaya, kau akan hidup enak. Jangan jadi anak durhaka! Kalau kau menolak, Ibu akan mengusirmu dan menganggapmu bukan anak lagi!"

Arumi terdiam, air mata menetes di pipinya. Inilah hidupnya, dianggap sebagai barang dagangan oleh ibunya sendiri demi kepentingan adik kesayangannya.

Malam itu, Arumi melarikan diri ke taman kota, tempat ia biasa menenangkan diri.

Ia duduk di bangku taman yang sama di mana ia melihat pria "miskin" tadi pagi.

Tanpa disangka, pria itu masih ada di sana, sedang memakan roti pemberian Arumi tadi pagi dengan perlahan.

"Mas... masih di sini?" tanya Arumi dengan suara serak karena habis menangis.

Adrian menoleh dan ia melihat mata Arumi yang sembab. "Arumi? Ada apa? Kenapa menangis?" tanyanya.

Arumi menggeleng, mencoba menghapus air matanya. "Hanya masalah kecil. Mas sendiri, kenapa belum pulang?"

Adrian menatap langit malam. "Saya tidak punya tempat tinggal, saya baru saja ditolak di penginapan karena uang saya kurang." ucap Adrian.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

YEYYY AKHIRNYA UPLOAD CERITA BARU NIHHHH....

JANGAN LUPA MAMPIR BACA, FAVORITKAN, JANGAN LUPA VOTE JUGA, ULASAN BINTANGNYA, LIKE, KOMEN SAN HADIAH BIAR TAMBAH SEMANGAT BUAT UPDATE BAB SELANJUTNYA

JANGAN LUPA MAMPIR KE IG AKU YAAA DI

@Lala_Syalala13

BSB BAB 2_Sang Elang yang Menanggalkan Sayapnya

Sebuah ide gila namun nekat muncul di kepala Arumi, daripada ia dinikahkan dengan Pak Broto yang jahat dan sudah memiliki tiga istri, lebih baik ia menikah dengan orang asing yang tampaknya baik ini.

Setidaknya ia ingin menentukan nasibnya sendiri sekali saja, karena dia yang akan menjalankan nya.

"Mas... namamu siapa?" tanya Arumi tiba-tiba.

"Adrian," jawabnya singkat.

"Mas Adrian... apakah kau mau menikah denganku? Aku akan membantumu mencari tempat tinggal dan pekerjaan, tapi kau harus membantuku keluar dari perjajakan ibuku. Kita menikah secara sederhana saja. Aku tidak butuh mahar, aku hanya butuh seseorang untuk melindungiku," ucap Arumi dengan nada putus asa namun tegas.

Adrian tertegun karena ini di luar skenarionya, ia menyamar untuk mencari cinta, dan tiba-tiba seorang gadis cantik mengajaknya menikah di hari pertama mereka bertemu karena ingin melarikan diri dari penderitaan.

Adrian menatap mata Arumi yang penuh kejujuran, ada sesuatu dalam diri gadis ini yang membuatnya ingin tahu lebih dalam.

"Baiklah," jawab Adrian pelan namun mantap.

"Aku akan menikahimu, Arumi. Tapi kau harus tahu, aku tidak punya apa-apa saat ini. Apa kau siap hidup susah denganku?" tanya Adrian lagi memastikannya.

Arumi tersenyum pahit. "Aku sudah terbiasa hidup susah Mas, yang aku inginkan hanya dihargai sebagai manusia."

Tanpa mereka sadari, sebuah kesepakatan di bawah lampu taman kota itu akan mengubah peta bisnis dan kehidupan sosial seluruh kota di masa depan.

Sang CEO yang menyamar, dan sang Gadis yang terbuang, baru saja memulai babak baru dalam hidup mereka.

Jauh sebelum Adrian Arkadia duduk di bangku taman yang dingin dengan kaos oblong kotor, ia adalah penguasa dari lantai 50 Arkadia Tower.

Sebuah gedung pencakar langit dengan fasad kaca kebiruan yang mendominasi cakrawala Jakarta.

Di sana, namanya diucapkan dengan nada hormat yang bercampur dengan ketakutan.

Adrian bukan sekadar CEO tapi ia adalah "Sang Elang", pemangsa di dunia properti yang tidak pernah melewatkan satu pun peluang bisnis.

Kehidupan Adrian adalah deretan angka, grafik saham, dan keputusan dingin yang melibatkan jutaan dolar.

Pagi harinya biasanya dimulai pukul 04.30 di penthouse pribadinya yang seluas lapangan bola.

Ia akan berolahraga di gym pribadi yang menghadap langsung ke Monas, mandi dengan air yang suhunya diatur presisi oleh sistem komputer, dan mengenakan setelan jas Savile Row yang harganya bisa membiayai hidup sebuah keluarga sederhana selama setahun.

Namun, di balik semua kemewahan itu, Adrian merasa hampa.

Seminggu sebelum ia bertemu Arumi, kakeknya, Haris Arkadia yaitu satu-satunya keluarga yang ia miliki dan pendiri kerajaan bisnis tersebut yaitu memberikan sebuah wasiat yang aneh.

Haris sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit ketika ia memanggil Adrian.

"Adrian," bisik sang kakek dengan suara serak.

"Aku melihatmu dikelilingi oleh banyak wanita dari model, anak pengusaha, hingga artis internasional, tapi tak satupun dari mereka yang kulihat benar-benar menatapmu. Mereka menatap logo di mobilmu, merk di jam tanganmu, dan saldo di rekeningmu."

Adrian hanya terdiam, rahangnya mengeras. Ia tahu kakeknya benar.

"Aku tidak ingin kau berakhir sepertiku, yang baru menyadari ketulusan nenekmu setelah aku kehilangan segalanya di masa muda dulu. Pergilah, jadilah orang biasa, tanggalkan nama belakang Arkadia selama tiga bulan. Cari seseorang yang mau membagi rotinya denganmu saat kau bukan siapa-siapa. Jika kau menemukannya, maka dialah yang pantas memegang kunci Arkadia Group bersamamu. Jika tidak, aku akan menyumbangkan seluruh aset pribadiku ke yayasan sosial, dan kau hanya akan menjadi manajer profesional tanpa saham kepemilikan." ucap sang kakek.

Tantangan itu gila namun Adrian adalah seorang petarung, ia menerima tantangan itu bukan hanya demi warisan, tetapi karena ia juga muak.

Ia muak dengan senyuman palsu para sosialita yang hanya ingin menjadi "Nyonya Arkadia".

Maka, dimulailah eksperimen itu, Adrian menyerahkan operasional harian perusahaan kepada asisten kepercayaannya, mulai menyebar rumor bahwa ia sedang melakukan perjalanan bisnis rahasia ke Eropa.

Padahal, ia hanya pergi ke sebuah gudang tua, mengganti mobil Rolls-Royce-nya dengan sepeda motor butut (yang kemudian mogok), dan mengenakan pakaian paling lusuh yang bisa ia temukan di pasar loak.

Hari pertama penyamarannya adalah bencana dimana Adrian yang terbiasa makan di restoran berbintang Michelin, mencoba membeli nasi bungkus di pinggir jalan.

Ia terkejut karena tidak tahu cara memesan atau berapa harga sewajarnya, ia bahkan diusir dari sebuah minimarket karena dianggap pengemis saat ia mencoba berteduh.

Puncaknya adalah di pagi hari itu Adrian merasa sangat rendah, perutnya keroncongan, kepalanya pusing karena panas matahari Jakarta yang menyengat, dan ia merasa harga dirinya hancur.

Ia terduduk di trotoar Emerald Estate, wilayah yang ironisnya dikembangkan oleh perusahaannya sendiri.

Di sana, ribuan orang lewat, namun tak ada yang menoleh, mereka justru menjauh, seolah kemiskinan adalah penyakit menular.

Sampai akhirnya, Arumi muncul.

Gadis itu tidak terlihat seperti bidadari dalam gaun pesta, ia hanya seorang gadis dengan sepeda tua dan kemeja pudar.

Namun, saat Arumi bertanya, "Apa Mas baik-baik saja?", Adrian merasakan sesuatu yang sudah lama hilang yaitu kemanusiaan yang tulus.

Saat Arumi memberikan roti dan air mineralnya satu-satunya makanan yang gadis itu miliki, Adrian merasa dunia berhenti berputar sejenak.

Ia melihat tangan Arumi yang kasar karena kerja keras, namun gerakan tangannya saat memberikan roti itu begitu lembut.

"Dia memberikan miliknya yang terakhir untuk orang asing yang tampak menjijikkan," batin Adrian saat itu.

Adrian adalah pria yang sangat analitis, di otaknya ia langsung memproses data yaitu Arumi bekerja di lingkungan elit namun penampilannya sangat kontras. Artinya, dia pekerja keras namun mungkin sedang terhimpit ekonomi. Matanya menunjukkan kesedihan, namun bicaranya tetap sopan.

Malam itu, ketika Arumi kembali menemuinya di taman dalam keadaan menangis dan secara mengejutkan mengajaknya menikah, Adrian melihat sebuah peluang.

Bukan hanya peluang untuk memenangkan taruhan kakeknya, tetapi peluang untuk menyelamatkan seseorang dan mungkin, menyelamatkan dirinya sendiri dari kekosongan jiwa.

"Aku akan menikahimu," ucap Adrian malam itu.

Di balik kata-kata itu, Adrian sebenarnya sedang menyusun rencana besar.

Ia ingin melihat seberapa jauh keluarga Arumi akan menindas gadis ini, dan ia ingin menjadi "pedang keadilan" yang diam-diam akan menghancurkan siapapun yang menyakiti Arumi.

Namun untuk saat ini, ia harus tetap menjadi "Ian", pria pengangguran yang tidak punya apa-apa.

Setelah kesepakatan di taman itu, Arumi mengajak Adrian menuju rumahnya.

Adrian berjalan di samping Arumi yang menuntun sepedanya, ia memperhatikan cara Arumi berjalan dengan tegap meski bahunya tampak memikul beban dunia.

"Mas Ian benar tidak keberatan?" tanya Arumi memecah keheningan.

"Keluargaku... mereka tidak mudah. Ibuku pasti akan menghinamu." seru gadis itu.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

JANGAN LUPA FAVORIT KAN CERITANYA, ULASAN DAN BINTANGNYA, VOTE, LIKE DAN HADIAHNYA YAAAAA,, DITUNGGU MAWARNYA BIAR TAMBAH SEMANGAT BUAT NULISNYA

KOMEN GIMANA YA SAMA CERITANYA

BSB BAB 3_Suami Miskin

Adrian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jika di kantor bisa membuat para manajer gemetar, namun di sini terlihat seperti senyum pria polos.

"Jangan khawatir, Arumi. Aku sudah biasa dihina. Yang penting bagiku adalah janjimu. Kau akan memberiku tempat berteduh, dan aku akan menjadi alasanmu untuk menolak Pak Broto." sahut Adrian.

Mereka sampai di depan sebuah rumah kecil yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian.

Dari dalam, terdengar suara tawa keras dan aroma masakan yang enak, Adrian tahu itu pasti bukan untuk Arumi.

Saat mereka melangkah masuk, suara tawa itu berhenti seketika. Bu Ratna, Siska, dan Pak Broto yang masih ada di sana menatap ke arah pintu dengan mulut ternganga.

"Arumi! Dari mana saja kau jam segini baru pulang?!" teriak Bu Ratna.

Matanya kemudian beralih ke pria di samping Arumi, ia memindai Adrian dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Dan... siapa gembel yang kau bawa masuk ke rumahku ini?" tanya bu Ratna.

Siska menutup hidungnya dengan gaya berlebihan. "Duh, Kak Arumi! Kamu kalau mau bawa cowok ya yang bermodal sedikit kenapa? Ini bajunya bau matahari begini, wajahnya sih lumayan, tapi kalau makan saja susah buat apa?"

Pak Broto bangkit dari kursinya, perut buncitnya bergoyang.

Ia menatap Adrian dengan pandangan meremehkan. "Oho, jadi ini alasanmu menolakku, Arumi? Kau lebih memilih pemuda kurus yang sepertinya tidak punya uang untuk beli sabun ini daripada aku yang bisa membelikanmu emas lima puluh gram?"

Adrian hanya berdiri diam, ia mengamati ruangan itu matanya yang tajam mencatat setiap detail yaitu foto Siska yang besar di dinding, sementara tak ada satu pun foto Arumi.

Perlakuan mereka terhadap Arumi membuat darahnya mendidih, namun ia menahan diri, ia ingin melihat sejauh mana Arumi akan bertahan.

Arumi menarik napas panjang, ia menggenggam lengan baju Adrian seolah mencari kekuatan.

"Ibu, Pak Broto... perkenalkan, ini Ian. Dia calon suamiku. Kami akan segera menikah." ujar Arumi.

Keheningan sesaat menyusul pernyataan itu, sebelum akhirnya ledakan tawa dari Bu Ratna dan Siska memenuhi ruangan.

"Menikah katanya? Pakai apa? Daun?!" Bu Ratna mendekati Adrian, menatapnya dengan benci.

"Dengar ya anak Muda, kalau kau ingin menikahi anakku, kau harus bayar hutang kami lima puluh juta dan beri mahar seratus juta. Punya uang segitu?" ucap bu Ratna.

Adrian menatap Bu Ratna tepat di mata, untuk sesaat Bu Ratna merasa merinding.

Mata pria di depannya ini tidak tampak seperti mata orang miskin yang ketakutan tapi itu adalah mata seorang penguasa.

Namun, Adrian segera mengubah ekspresinya menjadi tampak lesu.

"Saya tidak punya uang sebanyak itu sekarang, Bu," jawab Adrian dengan suara rendah.

"Tapi saya akan bekerja keras. Saya akan menjaga Arumi."

"Kerja apa? Jadi kuli bangunan? Atau tukang parkir?" ejek Siska.

"Kak Arumi, kamu benar-benar sudah gila. Kamu mau hidup di kolong jembatan?"

Arumi tidak mundur. "Kalau pun harus di kolong jembatan, aku lebih baik di sana bersama orang yang menghargaiku daripada di rumah ini tapi diperlakukan seperti budak!"

Plakk!

Satu tamparan mendarat di pipi Arumi, bu Ratna murka. Namun, sebelum Bu Ratna bisa mengayunkan tangan untuk kedua kalinya, pergelangan tangannya ditangkap oleh sebuah tangan yang kuat.

Adrian mencengkeram tangan Bu Ratna. Tidak keras, namun cukup untuk membuat wanita itu tidak bisa bergerak.

"Jangan pernah sentuh dia lagi," ucap Adrian. Suaranya dingin, seolah datang dari kutub utara.

Bu Ratna ketakutan melihat kilatan di mata Adrian. "Lepaskan! Kau berani melawan orang tua?!"

Adrian melepaskan tangan itu dengan kasar, ia merangkul bahu Arumi yang gemetar.

"Kami akan menikah besok di KUA secara sederhana. Setelah itu, saya akan tinggal di sini untuk sementara sampai saya dapat pekerjaan tetap, atau kami akan pindah. Arumi sudah dewasa, dia berhak menentukan hidupnya." ucap Adrian dengan serius.

Pak Broto yang merasa terhina langsung berteriak, "Heh! Hutang ibunya itu tanggung jawab Arumi juga! Kalau kalian menikah, kau harus bayar hutang itu, Ian! Kalau tidak, rumah ini akan ku-sita!"

Adrian menatap Pak Broto dengan senyum misterius. "Lima puluh juta? Itu angka yang kecil untuk sebuah harga diri. Beri saya waktu satu bulan. Saya akan melunasinya."

Siska tertawa sinis. "Satu bulan? Jangankan lima puluh juta, lima ratus ribu saja aku ragu kau punya!"

Malam itu berakhir dengan ketegangan luar biasa, Arumi membawa Adrian ke sebuah gudang kecil di belakang rumah yang biasanya digunakan untuk menyimpan alat cuci yang kini akan menjadi kamar sementara mereka jika mereka menikah.

Di dalam ruangan sempit dan pengap itu, Arumi menatap Adrian dengan rasa bersalah.

"Maafkan aku Mas Ian karena aku kamu jadi dihina seperti tadi, masih mau melanjutkannya? Masih ada waktu untuk lari."

Adrian duduk di atas dipan kayu yang keras, ia melihat ke sekeliling, lalu menatap Arumi.

Di dunia nyata, ia bisa saja menelepon asistennya dan membeli seluruh kampung ini dalam lima menit, tapi ia memilih tetap di sini.

"Aku tidak akan lari, Arumi," jawab Adrian sungguh-sungguh.

"Besok kita akan menikah dan aku berjanji, suatu saat nanti, mereka semua yang merendahkanmu hari ini akan berlutut di kakimu." tutur Adrian.

Arumi hanya tersenyum sedih, menganggap itu hanyalah kata-kata penghiburan.

Ia tidak tahu bahwa pria yang ia temukan di trotoar itu adalah orang yang mampu mewujudkan kata-katanya menjadi kenyataan pahit bagi musuh-musuhnya.

Babak baru kehidupan sang CEO sebagai "suami miskin" baru saja dimulai.

Dan Adrian Arkadia, untuk pertama kalinya dalam hidup, merasa memiliki sebuah misi yang lebih penting daripada sekadar mencari keuntungan yaitu misi untuk membahagiakan seorang gadis bernama Arumi.

...****************...

Pagi itu, langit Jakarta tidak sebiru biasanya awan mendung menggantung rendah, seolah ikut merasakan keprihatinan atas pernikahan yang akan berlangsung.

Di sebuah Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan yang sederhana, Arumi berdiri dengan gugup.

Ia hanya mengenakan kebaya putih lama milik mendiang neneknya yang sudah ia permak sedemikian rupa agar pas di tubuhnya yang ramping.

Tidak ada riasan mahal, hanya polesan bedak tipis dan lipstik merah muda yang hampir habis, namun kesederhanaan itu justru memancarkan kecantikan yang murni, tipe kecantikan yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Di sampingnya, Adrian berdiri dengan kemeja putih yang ia beli di pasar kaget tadi pagi seharga lima puluh ribu rupiah.

Kemeja itu sedikit kebesaran, namun postur tubuh Adrian yang tegap dan atletis membuatnya tetap terlihat seperti model yang sedang berpose untuk tema vintage.

Rambutnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahi yang cerdas dan tatapan mata yang tajam.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

JANGAN LUPA FAVORIT KAN CERITANYA, ULASAN DAN BINTANGNYA, VOTE, LIKE DAN HADIAHNYA YAAAAA,, DITUNGGU MAWARNYA BIAR TAMBAH SEMANGAT BUAT NULISNYA

KOMEN GIMANA YA SAMA CERITANYA

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!