Indonesia
NovelToon NovelToon

Segitiga Tak Sama Sisi

Episode 1: Labirin Angka dan Tatapan Tajam

Suara decit kapur yang beradu dengan papan tulis hitam adalah satu-satunya melodi yang terasa akrab di telinga Ella. Baginya, bunyi itu lebih menenangkan daripada lagu hits yang diputar di radio-radio remaja. Saat teman-teman sekelasnya sibuk berbisik tentang rencana nongkrong di kafe aesthetic sepulang sekolah, jari-jari Ella justru sibuk menari di atas kertas buram yang sudah penuh dengan coretan. Ia sedang memecahkan persamaan trigonometri yang rumit, sebuah labirin angka yang bagi orang lain tampak seperti bahasa alien, namun bagi Ella, itu adalah tempat persembunyian yang aman.

​"Dan nilai tertinggi untuk simulasi ujian kali ini kembali diraih oleh... Ella. Selamat, Ella," suara berat Pak Bambang memecah lamunan kelas yang tadinya riuh rendah.

​Ella tersentak kecil. Ia berdiri dengan canggung, merapikan rok seragamnya yang tidak kusut sama sekali. Saat melangkah ke depan kelas untuk mengambil kertas ujiannya, ia bisa merasakan beban atmosfer di ruangan itu berubah. Ada bisik-bisik iri dari barisan belakang, tatapan sinis dari kelompok siswi populer yang selalu menganggapnya terlalu ambisius, dan satu tatapan yang selalu membuatnya merasa sesak napas.

​Tatapan dari Rizki.

​Rizki duduk tegak di barisan depan, punggungnya kaku dengan tangan melipat di dada. Sebagai ketua kelas, dia adalah standar kesempurnaan di SMA ini. Tampan, kapten basket yang karismatik, dan selalu dikelilingi orang-orang yang menganggapnya dewa. Tapi bagi Ella, Rizki adalah teka-teki yang paling sulit dipecahkan. Setiap kali mata mereka bertemu, Rizki akan langsung membuang muka dengan gerakan cepat, seolah-olah melihat Ella adalah sebuah kesalahan besar atau noda pada reputasinya yang cemerlang.

​"Gila, kamu benar-benar robot ya, La?"

​Sebuah suara serak yang berat dan akrab terdengar saat Ella kembali ke tempat duduknya. Wawan sudah menyandar santai di kursinya dengan gaya masa bodoh yang khas. Kaki panjangnya yang terbungkus celana abu-abu yang sedikit belel diselonjorkan ke bawah kursi Ella, hingga tanpa sengaja ujung sepatunya menyentuh sepatu Ella.

​"Berisik, Wan. Belajar sana," bisik Ella tanpa menoleh, meski jantungnya sedikit berdegup karena gangguan itu.

​"Buat apa belajar kalau punya teman sepintar kamu?" Wawan menyeringai, menunjukkan deretan giginya yang rapi namun terkesan menantang. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak hingga Ella bisa mencium aroma samar minyak rambut dan sisa asap rokok yang tertinggal di jaketnya—aroma yang sangat kontras dengan wangi sabun cuci yang bersih dari tubuh Rizki.

​"Mending nanti sore ikut aku ke kantin belakang. Ada siomay enak, aku yang traktir sebagai perayaan nilai robotmu itu. Gimana?" Wawan mengedipkan sebelah matanya, sama sekali tidak peduli pada aturan kelas.

​"Nggak bisa. Aku harus ke perpustakaan," jawab Ella tegas, meski tangannya sedikit gemetar saat merapikan alat tulis.

​"Perpustakaan terus. Sekali-kali lihat dunia, La. Di luar sana banyak yang lebih seru daripada angka-angka mati itu."

​Tiba-tiba, suara kursi yang digeser dengan kasar di lantai keramik menciptakan bunyi memilukan yang memekakkan telinga. Seluruh kelas tersentak. Rizki berdiri, wajahnya terlihat jauh lebih tegang dari biasanya. Rahangnya mengeras, dan sorot matanya yang biasanya terkontrol kini tampak berkilat penuh emosi yang sulit didefinisikan.

​"Pak, bisa kita lanjut materinya? Kelas terlalu berisik karena ada yang sibuk pacaran di belakang," suara Rizki terdengar tajam, dingin, dan menusuk tepat ke arah bangku Ella dan Wawan.

​Seluruh kelas mendadak hening seketika. Hawa dingin seolah menyergap ruangan. Wawan hanya tertawa kecil, menyandarkan kepalanya ke dinding dengan santai, seolah serangan verbal Rizki hanyalah angin lalu. Namun bagi Ella, ia merasa seluruh darahnya naik ke wajah. Ia merasa dipermalukan sekaligus bingung.

​Ella memberanikan diri melirik ke arah Rizki, mencari sedikit saja tanda bahwa cowok itu hanya sedang bercanda. Tapi yang ia temukan hanyalah dinding kemarahan yang tertahan, sebuah keposesifan yang aneh, dan gengsi yang membentang luas seperti jurang pemisah di antara mereka.

​Ella menunduk dalam-dalam, menatap angka seratus di kertas ujiannya yang kini terasa hambar. Di dalam segitiga kelas yang menyesakkan ini, ia tahu bahwa hidupnya sebagai siswi teladan tidak akan pernah sederhana lagi.

Episode 2: Antara Susu Cokelat dan Aroma Parfum yang Menyesakkan

Bel istirahat berbunyi nyaring, memekakkan telinga siapa pun yang berada di koridor SMA Garuda. Suara itu memicu sorak-sorai lega dari penghuni kelas XI-IPA 1 yang sejak tadi sudah terlihat kehilangan konsentrasi. Guru yang mengajar di depan kelas bahkan belum sempat menutup buku absennya saat gerombolan siswa sudah berdesakan keluar pintu. Bagi sebagian besar siswa, suara bel adalah panggilan kebebasan, sebuah janji akan tawa di kantin atau sekadar pelarian dari rumus-rumus yang memusingkan kepala. Namun, bagi Ella, melodi bel itu adalah alarm untuk segera menghilang.

Ella mulai merapikan alat tulisnya dengan cekatan. Gerakannya ritmis dan teratur, seperti jam yang berdetak. Ia memasukkan kotak pensil, buku catatan tebal, dan kalkulator ilmiahnya ke dalam tas ransel yang sudah mulai memudar warnanya. Rencana Ella selalu sama setiap hari: langsung menuju perpustakaan. Tempat itu adalah satu-satunya benteng pertahanan yang ia miliki—sebuah persembunyian paling aman dari bisik-bisik tajam yang menusuk dan tatapan merendahkan dari teman-temannya yang menganggapnya "si robot kutu buku".

Baru saja Ella hendak menyampirkan tas di bahunya, sebuah benda dingin tiba-tiba mendarat di atas meja kayunya. Meja yang penuh dengan coretan pensil berisi rumus trigonometri itu kini dihiasi oleh sebuah kotak susu cokelat yang masih berembun.

Butiran-butiran air kecil mulai membasahi permukaan meja Ella yang kusam.

"Minum dulu, La. Otak jeniusmu itu butuh asupan gula biar nggak korsleting," suara serak dan berat itu terdengar tepat di samping telinganya, membuat Ella sedikit tersentak.

Wawan berdiri di sana. Ia tampil dengan gaya khasnya: kemeja seragam yang dikeluarkan sebelah, dasi yang melingkar longgar di leher, dan sebuah tas ransel yang disampirkan sembarangan di satu bahu. Cowok itu berdiri santai, seolah tidak menyadari atau mungkin tidak peduli pada pandangan heran dan penuh selidik dari siswa lain yang masih berada di dalam kelas.

Ella mendongak, menatap Wawan dengan tatapan ragu yang amat jelas. "Wan, aku nggak minta ini—"

"Aku yang mau kasih. Anggap saja ini investasi masa depan," potong Wawan cepat, suaranya mengandung nada keceriaan yang jarang didengar Ella dari orang lain. Tanpa aba-aba, ia mengulurkan tangan dan mengacak rambut Ella dengan gerakan kasar namun entah mengapa terasa sangat hangat dan protektif. "Sampai ketemu di kantin kalau kamu berubah pikiran dan tiba-tiba bosan dengan aroma buku tua!"

Wawan berlalu sambil bersiul santai, melangkah keluar kelas dengan kepercayaan diri seorang berandalan yang tidak punya beban. Ella terpaku di kursinya, jemarinya menyentuh permukaan dingin kotak susu cokelat itu. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Ella merasakan sesuatu yang asing di dadanya. Ada seseorang yang melihatnya bukan sekadar sebagai "peraih peringkat pertama", melainkan sebagai manusia yang butuh asupan gula.

Namun, perasaan hangat itu seketika menguap begitu saja saat Ella tanpa sengaja mengalihkan pandangannya ke arah ambang pintu kelas.

Di sana, Rizki berdiri tegak. Sebagai ketua kelas yang populer, ia selalu dikelilingi oleh teman-temannya yang sedang tertawa keras membicarakan rencana akhir pekan. Namun, mata Rizki tidak sedang menatap teman-temannya. Ia sedang menatap tajam ke arah meja Ella—lebih tepatnya, ke arah kotak susu cokelat dari Wawan. Tatapan Rizki sulit diartikan; ada kedinginan yang menusuk, ketajaman yang mengintimidasi, dan kilat amarah yang tertahan di balik topeng kesempurnaan yang selalu ia jaga. Selama beberapa detik, mata mereka bertemu, dan Ella merasakan bulu kuduknya meremang sebelum Rizki membuang muka dengan angkuh dan berjalan pergi bersama gerombolannya.

Sore harinya, sekolah sudah mulai senyap. Kebanyakan siswa sudah pulang ke rumah atau pergi ke tempat bimbel. Cahaya matahari yang mulai berubah menjadi jingga keemasan masuk melalui celah-celah jendela perpustakaan yang tinggi, menciptakan siluet panjang di antara rak-rak buku yang menjulang.

Ella masih di sana, duduk di meja sudut paling pojok yang sudah menjadi wilayah kekuasaannya. Ia sedang asyik menyusun laporan praktikum biologi yang cukup menyita waktu dan konsentrasinya. Namun, saat ia menyadari ada satu referensi yang kurang, ia bangkit menuju rak buku di bagian belakang perpustakaan. Matanya memindai barisan punggung buku yang tebal hingga ia menemukan judul yang ia cari di rak paling atas.

Ella berjinjit, berusaha menjangkau buku itu dengan ujung jemarinya, namun tetap saja kurang beberapa inci. Ia mendesah frustrasi. Tepat saat ia hendak mencari tangga kecil, sebuah tangan besar dengan kemeja seragam yang lengannya digulung rapi hingga ke siku muncul dari belakang tubuhnya. Tangan itu mengambil buku tersebut dengan gerakan yang sangat mudah, seolah berat buku itu tidak ada artinya.

"Ini yang kamu cari?"

Ella tersentak hebat hingga jantungnya seolah melompat dari posisinya. Wangi parfum maskulin yang sangat ia kenali—campuran antara aroma kayu cendana dan kesegaran laut—kini memenuhi indra penciumannya, mengalahkan aroma kertas tua yang biasanya mendominasi perpustakaan. Rizki. Cowok itu berdiri tepat di belakangnya, menciptakan ruang yang sangat sempit dan intim di antara rak buku yang menjulang tinggi.

"Ma-makasih, Ki," ucap Ella terbata-bata. Ia mencoba berbalik untuk mengambil buku itu dan segera pergi, namun ia segera menyesali keputusannya. Saat ia berbalik, ia justru terjebak.

Rizki tidak mundur sedikit pun. Ia justru menyandarkan satu tangannya di rak buku, seolah mengunci posisi Ella agar tidak bisa kabur ke mana pun. Matanya menatap Ella dengan intensitas yang membuat napas Ella tertahan di tenggorokan. Gengsi yang biasanya ia tunjukkan di depan kelas seolah luntur di kesunyian perpustakaan ini, digantikan oleh emosi yang meluap-luap dan tak terkendali.

"Kenapa kamu harus selalu menerima pemberian dari semua orang?" tanya Rizki dengan suara rendah, nyaris berbisik namun terasa menggetarkan hingga ke dasar hati Ella.

"Maksud kamu apa?" Ella mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, meskipun kakinya terasa lemas.

"Wawan," desis Rizki dengan nada tidak suka yang amat jelas, seolah menyebut nama itu adalah racun bagi lidahnya. "Kamu pikir dia benar-benar peduli padamu? Dia itu cuma berandalan yang suka cari perhatian, La. Jangan terlalu naif dan mudah percaya sama orang semacam dia."

Ella merasakan dadanya sesak, bukan karena posisi mereka yang dekat, tapi karena tuduhan itu. "Setidaknya dia berani bicara denganku secara terbuka di depan orang lain, Rizki! Dia tidak peduli apa kata orang! Nggak seperti kamu yang selalu pura-pura nggak kenal kalau ada teman-temanmu di sekitarmu. Kamu jauh lebih peduli pada reputasi dan kepopuleranmu daripada memperlakukanku seperti teman!"

Wajah Rizki mengeras seketika. Rahangnya mengetat hingga Ella bisa melihat gurat frustrasi di wajah tampan itu. Rizki semakin mendekat, jarak mereka kini hanya tersisa beberapa inci saja hingga Ella bisa merasakan radiasi panas dari tubuh Rizki.

"Ada banyak hal yang nggak kamu mengerti tentang posisiku di sekolah ini, La. Ada ekspektasi yang harus kujaga," ucap Rizki dengan suara yang lebih dalam, seolah sedang menahan sesuatu yang sangat besar agar tidak meledak. "Tapi melihat kamu tertawa sama dia... melihat kamu menerima pemberiannya... itu benar-benar membuatku muak. Aku tidak suka melihatnya menyentuhmu."

Keheningan yang mencekam menyelimuti mereka selama beberapa saat. Hanya suara napas mereka yang saling beradu di ruang sempit itu. Ella bisa melihat kejujuran yang menyakitkan di mata Rizki—sebuah kecemburuan yang ia coba bungkus dengan kesombongan.

Dengan gerakan yang sedikit kasar, Rizki meletakkan buku itu ke tangan Ella yang gemetar. Ia tidak memberikan kesempatan bagi Ella untuk menjawab. Rizki berbalik dan pergi begitu saja, langkah kakinya menggema dengan ritme yang berat di atas lantai kayu perpustakaan yang sunyi.

Ella berdiri mematung di sana, mendekap buku biologi itu erat-erat ke dadanya. Jantungnya masih berdegup tidak keruan. Ia baru saja merasakan api cemburu yang membakar dari seorang Rizki, namun di saat yang sama, ia teringat pada hangatnya susu cokelat dan ketulusan sederhana dari Wawan yang terasa jauh lebih menenangkan.

Segitiga itu kini mulai menarik Ella ke arah yang berlawanan. Rizki menariknya dengan intensitas yang menyesakkan dan penuh aturan, sementara Wawan menariknya dengan kebebasan yang tanpa syarat. Ella menyadari bahwa mulai hari ini, ketenangannya sebagai "si kutu buku" telah robek menjadi kepingan-kepingan yang membingungkan. Ia berada di persimpangan jalan, dan ia tidak tahu hati mana yang lebih aman untuk dijadikan tempat berlabuh.

Episode 3: Terluka di Balik Sebuah Topeng

Pagi itu, langit di atas SMA Garuda tampak begitu cerah, seolah-olah alam semesta sedang berkonspirasi untuk memberikan hari yang indah bagi Ella. Ia melangkah melewati gerbang sekolah dengan perasaan yang jauh lebih ringan dari biasanya. Angin pagi yang sejuk menerpa wajahnya, memberikan kesegaran yang jarang ia rasakan di tengah himpitan tugas sekolah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai siswi teladan, Ella tidak merasa terbebani oleh tumpukan buku di tasnya.

Ada sesuatu yang lebih berharga di dalam ranselnya pagi ini. Terselip di antara buku biologi dan sejarah, terdapat sebuah cokelat kecil yang ia bungkus dengan rapi menggunakan kertas kado motif bunga-bunga. Ia berniat memberikan cokelat itu kepada Nani. Selama ini, Nani adalah satu-satunya siswi dari kalangan "populer" yang bersikap manis padanya. Nani bukan hanya sekadar teman bicara; dia adalah sosok yang mau duduk berjam-jam di perpustakaan bersama Ella, menawarkan telinga dan bahu saat Ella mencurahkan kegalauannya tentang Rizki—ketua kelas yang sempurna namun begitu sulit dijangkau.

Bagi Ella, Nani adalah pelabuhan aman di sekolah yang penuh dengan penghakiman ini. Kemarin sore, di sudut perpustakaan yang remang dan sunyi, Ella bahkan memberanikan diri membisikkan sebuah rahasia besar: bahwa ia benar-benar jatuh cinta pada Rizki. Nani hanya tersenyum manis saat itu, menggenggam tangan Ella dan meyakinkannya bahwa perasaan itu wajar.

Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sampai langkah Ella mencapai ambang pintu kelas.

Keheningan yang mencekam menyambutnya seketika. Atmosfer ruangan kelas XI-IPA 1 yang biasanya bising dengan suara obrolan, kini berubah menjadi berat dan penuh tekanan yang tidak mengenakkan. Teman-teman sekelasnya tidak lagi berbisik-bisik seperti biasa. Kali ini, mereka secara terang-terangan berhenti melakukan aktivitas apa pun dan menatap ke arah Ella dengan pandangan yang aneh—campuran antara kasihan, jijik, dan kepuasan jahat.

Jantung Ella serasa berhenti berdetak saat matanya mengikuti arah telunjuk Lia, siswi yang paling berpengaruh di sekolah. Tatapan Ella mendarat pada papan tulis hitam di depan kelas. Di sana, tertulis dengan huruf kapital yang besar, kasar, dan menyakitkan menggunakan kapur putih yang seolah berteriak:

"SI BURUK RUPA YANG MIMPI JADI ISTRI KETUA KELAS. NGACA DULU SEBELUM NAKSIR RIZKI, ELLA!"

Dunia seolah berputar dengan sangat cepat di bawah kaki Ella. Ia merasa bumi yang ia pijak tiba-tiba menjadi rapuh. Rahasia itu... rahasia yang ia anggap paling suci, yang hanya ia bagi dengan satu orang kemarin sore. Ella merasakan dadanya sesak, napasnya tercekat di tenggorokan. Ia menoleh ke arah bangku Nani dengan tatapan nanar, berharap teman baiknya itu akan segera berdiri, mengambil penghapus, dan menyangkal semua tulisan kejam itu. Ella berharap Nani akan memeluknya dan berkata bahwa ini semua hanya lelucon kasar dari orang lain. Namun, apa yang dilihatnya justru membuat sisa-sisa pertahanan harga diri Ella runtuh tak bersisa.

Nani berdiri dengan anggun di samping Lia. Tidak ada lagi senyum manis atau tatapan teduh. Gadis itu justru tertawa kecil di balik punggung tangannya yang lentur, matanya berkilat penuh kemenangan yang tidak pernah Ella bayangkan sebelumnya. Pengkhianatan itu datang begitu tiba-tiba, lebih menyakitkan daripada tulisan di papan tulis.

"Eh, orangnya datang," ujar Nani. Nada suaranya masih terdengar lembut, namun kini kata-katanya terasa seperti racun yang merayap di kulit Ella, memberikan rasa panas yang menyakitkan. "Maaf ya, Ella. Aku cuma nggak tahan menyimpan rahasia sekonyol itu sendirian. Aku pikir kalau aku ceritakan ke Lia, kami semua bisa bantu kamu... agar lebih sadar diri. Kita ini teman, kan? Dan teman harus saling mengingatkan kalau temannya sudah mulai berhalusinasi."

"Nani... kamu..." suara Ella bergetar hebat, nyaris tak terdengar karena tenggorokannya mendadak sangat kering.

"Kenapa? Kamu benar-benar berpikir aku mau berteman denganmu?" Nani melangkah mendekat, topeng keramahannya tanggal sepenuhnya, menyisakan wajah penuh penghinaan yang dingin. Ia menunduk sedikit, membisikkan sesuatu tepat di telinga Ella dengan nada yang cukup keras untuk didengar oleh siswa di tiga baris depan. "Aku cuma kasihan melihatmu belajar terus seperti mesin tanpa tahu cara bersosialisasi. Aku butuh hiburan, Ella. Dan mengakrabimu, lalu mendengar curhatan memalukanmu soal Rizki itu... adalah hiburan paling lucu yang pernah kudapat di sekolah ini."

Tawa Lia dan gengnya pecah, menggema di seluruh ruangan seperti suara riuh pemenang di arena gladiator. Ella merasa harga dirinya sedang diinjak-injak di tengah pasar. Tepat saat air mata pertama mulai menggenang di pelupuk matanya, Rizki melangkah masuk ke dalam kelas.

Kantin, lapangan, koridor—semua orang tahu bahwa Rizki adalah otoritas tertinggi di kelas ini. Ella menatap Rizki dengan tatapan memohon, sebuah doa bisu agar pria yang ia cintai itu memiliki sedikit saja empati untuk menyelamatkannya dari penghinaan ini. Namun, pemandangan berikutnya justru memberikan luka baru yang lebih dalam. Rizki tidak menghampirinya untuk bertanya apa yang terjadi; ia justru dengan santai melingkarkan tangannya di bahu Lia, menunjukkan kemesraan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"Ada apa ini? Berisik sekali sampai ke koridor luar," ucap Rizki dengan suara dingin dan datar, seolah keributan ini hanyalah gangguan kecil bagi kedamaian paginya.

"Ketua, lihat deh. Si jenius kelas kita ini ternyata diam-diam punya obsesi mengerikan padamu. Dia pikir dia selevel denganmu, Ki. Lucu banget, kan?" Lia tertawa manja sambil menyandarkan kepalanya di dada Rizki yang bidang.

Rizki melirik sekilas ke arah papan tulis, lalu mengalihkan pandangannya pada Ella. Tidak ada kehangatan, tidak ada rahasia manis seperti saat mereka berada di perpustakaan kemarin. Yang ada hanyalah tatapan asing yang seolah berkata bahwa Ella hanyalah sebuah debu di sepatunya.

"Jangan buang-buang waktu untuk hal yang tidak penting, Lia. Ayo duduk, pelajaran akan segera dimulai," ucap Rizki dingin. Ia kemudian menatap Ella kembali dengan nada mengadili. "Dan kamu, Ella... sebaiknya fokus saja pada pelajaranmu dan tumpukan buku-buku itu. Jangan bermimpi terlalu tinggi sampai lupa daratan. Ada hal-hal di dunia ini yang memang tidak ditakdirkan untukmu."

Kalimat Rizki adalah pukulan terakhir yang menghancurkan jiwa Ella. Ia merasa telanjang di tengah kerumunan, terluka oleh cinta yang ia anggap berharga namun ternyata hanya menjadi bahan tertawaan. Namun, tepat sebelum setetes air mata jatuh membasahi pipinya, sebuah tangan besar menarik penghapus papan tulis.

SREK! SREK! SREK!

Suara kasar penghapus yang beradu dengan papan tulis menciptakan bunyi berisik yang memutus tawa para siswa. Dalam satu tarikan kasar yang penuh emosi, tulisan hinaan itu terhapus sepenuhnya, meninggalkan debu kapur yang beterbangan di udara.

Wawan.

Cowok itu berdiri di sana dengan wajah yang mengeras. Ia melempar penghapus itu ke meja guru dengan denting yang keras. "Hebat ya kalian semua. Satu kelas isinya cuma pengecut yang jago menindas orang lemah hanya untuk merasa hebat," suara Wawan menggelegar, bergetar karena amarah yang tertahan.

Wawan menoleh ke arah Nani, sorot matanya begitu tajam hingga membuat gadis itu tersentak mundur dan kehilangan kata-kata. "Dan kamu, Nani. Topengmu itu murah banget. Jangan sok ramah kalau aslinya sampah. Lo pikir dengan mengkhianati rahasia teman, lo bakal terlihat keren di depan Lia? Lo justru kelihatan sangat menjijikkan."

Wawan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Rizki yang masih merangkul Lia. Senyum sinis terukir di wajah Wawan. "Dan buat kamu, Pak Ketua Kelas yang terhormat... selamat atas pacar barunya. Kalian memang pasangan yang sangat cocok. Yang satu pengecut yang cuma peduli reputasi, yang satu lagi wanita nggak punya hati."

Seluruh kelas mendadak sunyi sesunyi kuburan. Tidak ada yang berani membalas ucapan Wawan. Dengan gerakan yang tegas namun lembut, Wawan menggenggam tangan Ella. Jemarinya yang kasar namun hangat seolah menyalurkan kekuatan yang sangat dibutuhkan Ella saat itu.

"Ayo, La. Keluar dari sini. Kelas ini baunya busuk karena dihuni orang-orang munafik. Kamu nggak pantas ada di tempat sampah seperti ini," bisik Wawan, namun cukup tegas untuk didengar seisi kelas.

Wawan menarik tangan Ella, membimbingnya keluar menyusuri koridor yang kini terasa begitu panjang. Sebelum benar-benar menghilang di balik tikungan, Ella sempat melirik ke belakang untuk terakhir kalinya. Di ambang pintu, ia melihat Rizki yang diam membisu dengan wajah yang mulai memucat. Tangan Rizki mengepal kuat di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih, dan matanya terus mengikuti arah tangan Wawan yang menggenggam erat jemari Ella.

Ada badai kemarahan dan penyesalan yang tertahan di mata Rizki, namun ia tetap berdiri mematung di sana. Ia tetap memilih untuk tidak melepaskan rangkulannya pada Lia, terlalu pengecut untuk mengorbankan status populernya demi menyelamatkan gadis yang baru saja ia hancurkan hatinya.

Ella terus berjalan mengikuti tarikan tangan Wawan. Ia menyadari satu hal pahit hari ini: Terkadang, orang yang kita pikir adalah pangeran justru adalah orang yang memberikan luka terdalam, dan orang yang kita anggap berandalan adalah satu-satunya yang mau mengulurkan tangan di saat dunia menertawakan kita.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!