Indonesia
NovelToon NovelToon

Terjerat Gairah Suami Sahabat

Bab 1

Seorang gadis cantik menghampiri atasannya yang nampak jalan sempoyongan. Dia berniat menolong lelaki itu mengantar sampai di kamarnya.

"Pak Panca kenapa? Kenapa kacau begini?" tanya Lidia sambil menahan tubuh atasannya itu agar tidak jatuh.

"Kenapa kamu ada di sini?" tanya lelaki itu sambil memegangi kepalanya.

"Tadi Wulan telpon saya katanya bapak ga angkat telpon dan balas pesan dia. Jadi ia kwatir makanya saya ke sini memastikan bapak baik - baik saja." jawab Lidia apa adanya. Wulan adalah sahabat Lidia dan istri dari atasannya.

"Sekarang bapak ga kenapa - kenapa saya permisi pak. Jangan lupa hubungi Wulan dan balas pesannya." pamit Lidia setelah mengantarkan Panca ke kamarnya.

"Kamu mau kemana Lidia? Tolong bantu saya." cegah Panca sambil mencekal tangan Lidia sehingga langkah gadis itu langsung terhenti.

"Bantu bapak, bantu apa ya pak?" tanya Lidia tidak mengerti dengan kening mengkerut.

Panca mendorong tubuh Lidia hingga terjatuh di atas ranjang. Panca mengungkung tubuh Lidia sehingga tak bisa bergerak.

"Bapak, mau ngapain?" Tanya Lidia dengan wajah ketakutan. Apalagi saat melihat mata Panca yang tengah berkabut.

"Bapak mabuk ya? Tolong jangan begini pak! Tolong lepaskan saya pak!" mohon Lidia. Panca yang sudah kepanasan sama sekali tak mendengar apa yang Lidia katakan, di kepalnya saat ini bagaimana membebaskan dirinya dari hawa panas ini secepatnya. Ia butuh Lidia untuk membantunya.

Panca membungkam mulut Lidia dengan bibirnya. Lidia jelas saja kaget dengan prilaku atasannya. Sekuat tenaga ia berusaha melepaskan diri tapi tenaganya tak bearti apa - apa.

"Lidia tolong bantu saya, saya mohon kali ini. Saya sudah tak tahan." bisik panca memaksa Lidia membantunya.

"Tapi pak, saya ga bisa kalau gini pak. Ini salah pak." ujar Lidia menyadarkan Panca. Tapi panca sudah tak bisa menahan lagi, hawa panas di tubuhnya semakin meningkat. Kembali ia meraup bibir Lidia dengan kasar. Ia merobek pakain yang melekat di tubuh gadis itu hingga hanya menyisakan penutup gunung kembar dan aset beharganya.

Panca semakin tak terkendali, gunung kembar jadi sasaran berikutnya. Bohong Lidia tak merasakan apapun, ini pengalaman pertama dalam hidupnya. Desahan laknat lolos begitu saja dari bibirnya membuat Panca tersenyum.

Lidia menyadari kesalahannya berusah menutup mulutnya agar desahan itu tak lagi terdenga. Penutup tubuh terkahir Lidia sudah di tarik oleh Panca sehingga terpampang tubuh mulus yang begitu menggoda. Panca juga sudah melepas semua pakainya sehingga tubuh keduanya sama - sama polos.

"Pak tolong hentikan ini pak, saya mohon pak. Ini salah pak, ingat Wulan istri bapak."Lidia berharap permohonan di dengar Panca tapi lelaki itu malah makin brutal menciumi setiap inci tubuhnya dan bermain di titik sensitifnya.

Berkali - kali gadis itu memohon dengan memelas dan berurai air mata tak mampu menyadarkan Panca yang tengah berkabut gairah. Ia belum siap apa yang selama ini ia jaga akan hilang begitu saja. Mahkota berharganya di renggut paksa oleh atasannya sendiri.

Panca mengarahkan senjata keramatnya ke liang gua milik Lidia. Senjata Panca agak susah masuk tapi sekuat tenaga ia berusaha hingga pertahanan Lidia runtuh juga akhirnya.

"Sakit pak, udah pak. Tolong hentikan pak." teriak Lidia kesakitan tapi lelaki itu terus saja memacu memaju mundurkan senjatanya semakin kencang hingga lahar panas itu menyembur di rahim Lidia. Tidak cukup sekali, Panca kembali mengenjot tubuh Lidia hingga Lidia kehabisan tenaga dan tak sadarkan diri.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Assalamualaikum kk, selamat datang di karya terbaru thor. Moga kk² menyukainya.

Di tunggu saran dan masukannya, like dan vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya🥰👍🙏

Bab 2

Matahari kembali bersinar menyinari bumi yang tadinya gelap berubah jadi terang benderang. Cahaya mentari menerobos melalui celah hordeng yang tertiup angin mengenai wajah Lidia. Lidia mengeliat dan merasakan tubuhnya ada benda berat yang menghimpit.

Perlahan mata Lidia membuka sempurna dan betapa terkejut dirinya saat melihat ada tangan memeluk tubuhnya yang polos. Hampir saja ia berteriak kencang tapi buru - buru ia tutup mulutnya dengan kedua tangannya.

Dengan sangat hati - hati Lidia memindahkan tangan yang memeluknya. Di pandanginya wajah tampan yang nampak masih tertidur. Kembali ia teringat bagaimana lelaki itu menjamah tubuhnya tanpa ampun. Bulir bening jatuh perlahan membasahi pipinya. Ia masih tak percaya bahwa atasannya telah mengambil barang berharga yang Ia punya.

"Aduh." Lidia meringis saat hendak turun dari tempat tidur. Bagian intinya terasa ngilu, tapi ia mesti turun dan pergi secepatnya dari sana. Satu persatu ia memungut pakainya yang berserakan di lantai. Bajunya sobek dan tidak bisa di pakai, terpaksa ia memakai kemeja milik bosnya. Saat hendak melangkah pergi ada suara barito menghentikan langkahnya.

"Mau kemana?" langkah kaki Lidia tertahan, wanita itu segera berbalik menghadap bosnya sambil nyegir kuda.

"Pak Panca udah bangun." ujarnya sambil mengaruk kepalnya yang tak gatal.

"Mau kabur?" tanya pria itu Dengan tatapan yang membuat Lidia merinding.

"Saya mau kerja dulu, pak." ujar Lidia mencoba menghindar.

"Kamu menyesal?" tanya lelaki itu dengan tatapan tajam dan ada senyum mengerikan di sudut bibirnya. Nampak tidak ada rasa bersalah pada lelaki itu.

Lidia merasakan matanya memanas dan bulir bening itu lolos begitu saja membasahi pipi mulusnya. Ia buru - buru menghapus air matanya dan tak ingin di lihat oleh Panca.

Jantungnya berdebar hebat, tenggorokan terasa kering. Dengan keberanian entah dari mana Lidia membalas menatap lekat lelaki yang ada di hadapannya.

"Maaf seharusnya ini tak boleh terjadi." sesal Lidia meruntuki kebodohannya niatnya menolong malah jadi seperti ini.

"Tapi sudah terjadi?"

"Aku merasa tak tau mesti bagaimana ngomong sama Wulan. Aku sudah mengkhianatinya. Aku tak pantas jadi sahabatnya lagi." rasa putus asa membuat Lidia lemah.

"Tapi kamu menikmati yang semalam kita lakukan Lidia?" tanya Panca dengan tak tau malunya. Bahkan dengan santainya lelaki itu memakai pakaiannya di hadapan Lidia membuat wanita itu menundukkan kepalnya karna malu.

"Kalaupun ada, ini tetap salah, pak. Aku harap kejadian ini tak akan pernah terulang kembali."

"Yakin kamu bisa melupakannya? tanya Panca yang sudah duduk di samping Lidia.

"Kenapa tidak, aku akan bersikap profesional." ujar Lidia percaya diri.

Tanpa aba - aba kembali Panca menyentuh bibir itu dengan brutal. Penolak Lidia hanya angin lalu yang akhirnya membuat dia pasrah. Saat Panca lengah Lidia dengan sekuat tenaga mendorong tubuh lelaki itu hingga terjengkang jatuh di lantai. Dan secepat kilat ia kabur menuju pintu.

Walau bagian intinya terasa sakit, wanita itu bergegas memutar knop pintu dan secepatnya kelaur dari sana sebelum semuanya kembali terulang. Ia yakin jika Panca pasti tidak akan melepaskan dirinya.

Panca memegang pantatnya yang sedikit sakit karna mencium lantai, tapi bibirnya tersenyum dan berkata.

"Tidak semudah itu kamu lepas Lidia. Aku akan mengikat kamu sehingga kamu tidak akan bisa lari dari aku." gumam Panca sambil merebahkan kembali tubuhnya di kasur. Dia sudah mempunyai banyak rencana untuk hari esok.

&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&***********,,,,**,*****

"Assalamualaikum kk terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komentar vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya kk 😘🙏👍

Bab 3

Sesampainya Lidia di kamarnya, wanita itu bergegas membersihkan dirinya. Cukup lama Lidia duduk di bawah guyuran shower. Berkali kali ia menggosok tubuhnya yang kotor karna telah di jamah oleh yang bukan seharusnya.

Rasa dingin membuatnya menyudahi, wanita itu perlahan berjalan gontai mengeringkan tubuhnya lalu berpakain. Di pandangi wajahnya di cermin, wajah yang begitu pucat dan ada gurat kesedihan di sana. Untuk menutupi wajahnya yang pucat Lidia memoles wajahnya dengan make up tipis dan tak lupa ia juga mengoles make up untuk menutupi bekas - bekas tanda merah di lehernya yang di tinggalkan oleh Panca.

Ponsel Lidia berdering dan tertera nama bos memanggil. Ingin rasanya ia tak mengindahkan panggilan itu tapi dering ponsel tak kunjung berhenti membuatnya terpaksa menerima panggilan itu.

"Kamu udah siapa?" tanya suara di sebrang sana.

"Sudah."

"Saya tunggu di lobby." komunikasi langsung terputus begitu saja. Lidia mendorong kopernya menuju lift untuk turun ke lobby. Rupanya bosnya sudah duduk menunggu.

"Kamu sudah sarapan?" tanya Panca.

"Saya belum lapar pak."

"Kita makan dulu, baru balik." Panca menarik tangan Lidia menuju restoran yang ada di lobby. Lidia tidak bisa menolak terpaksa menurut.

"Mau makan apa?" tanya Panca.

"Terserah bapak saja." jawab Lidia tak bersemangat.

Panca sebenarnya merasa bersalah pada Lidia tapi ia pandai menyembunyikan. Ia tau kalau dirinyalah yang salah, tapi sudah terjadi ia tak bisa menolak.

Lelaki itu memesan beberapa makanan agar Lidia bisa memilih makan apa yang ia sukai. Ia tak tau Lidia menyukai apa, jadi ia hanya asal pesan saja. Ia tak mau sekretarisnya itu nanti jatuh sakit karna kelalaian dirinya.

"Ayo di makan, jangan di anggurin. Setelah ini baru kita pulang."

Lidia memakan nasinya dengan acuh tak acuh, selera makanya tak seperti biasanya. Makanan enak yang ada di hadapanya terasa hambar kali ini. Panca membiarkan saja Lidia tanpa menegurnya kembali. Sepertinya wanita itu masih belum bisa menerima apa yang terjadi di antara mereka.

"Kamu kenapa diam?" tanya Panca saat mereka dalam perjalan pulang.

"Ga kenapa - kenapa, pak." jawab Lidia ketus.

"Apa kamu ga enak badan?" tanya Panca.

"Hmm...." angguk Lidia.

"Apa perlu saya anter kamu ke dokter dulu?" tanya Panca perhatian.

"Ga usah pak, sakitnya itu ga ada obatnya karna sakitnya tuh di sini." Lidia menunjuk dadanya sendiri dan kembali bulir bening itu menetes. Tapi tak lama karna Lidia buru - buru menghapusnya.

Panca terdiam, hatinya merasa tertampar dengan perkataan Lidia. Tapi ia juga tak ingin seperti itu. Hanya keheningan yang tercipta hingga mobil berhenti tepat di depan rumah Lidia.

"Butuh bantuan?" tawar Panca.

"Tidak terimakasih." Lidia turun dan membawa kopernya menuju unit apartement. Panca memperhatikan punggung wanita itu yang makin lama makin jauh dan menghilang di balik kaca. Setelah memastikan Lidia masuk ke unitnya lelaki itu memerintahkan sopirnya untuk segera membawanya pulang kerumah.

Ia juga butuh istirahat agar bisa kembali bekerja. Dan mendinginkan kepalanya yang panas karna penyesalan. Menyesal telah menyakiti hati sekretarisnya. Apa yang harus ia lakukan agar wanita itu bisa memaafkan dirinya? Akankah Lidia luluh oleh bujuk rayu Panca?

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Assalamualaikum kk, terimaksih supportnya yang di berikan.

Di tunggu saran dan masukannya serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 😘👍🙏

Jangan lupa mampir di karya thor yang kalian." Ku Beli Kesombongan Keluarga Suami. "

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!