Moonveil tidak sekadar hutan, ia hidup dan bertumbuh. Akar-akar tua berdenyut pelan di bawah tanah, dedaunan berkilau seperti disaput cahaya bulan abadi, dan udara membawa bisikan halus seolah alam sendiri tengah berdoa. Cahaya keperakan jatuh di antara batang pohon raksasa, menari di kelopak bunga yang tak pernah layu.
Di tengah hutan itu, seorang gadis melangkah ringan. Lily, Liliane Thalassa Serene, putri satu-satunya dari mantan Kaisar dan Permaisuri Imperial Agartha, Lexus dan Anastasia. Sang Putri menggulung ujung gaunnya dengan satu tangan, membiarkan kain linen berwarna putih itu menyeret tanah hutan yang lembap, menyentuh rerumputan dan dedaunan seakan mengenali rumahnya. Ia tidak berjalan tergesa, setiap langkahnya selaras dengan denyut Moonveil seolah hutan telah mempelajari irama jantungnya sejak pertama kali hadir di kandungan ibunya.
Kecantikannya bukan sekadar pantulan wajah yang rupawan. Rambut keemasan panjang berkilau lembut di bawah cahaya matahari pagi, kulitnya secerah embun pagi, dan matanya yang tenang namun berani.
“Aku akan melihat matahari terbit dari lapangan, dan matahari terbenam dari Sungai Lirien.” bisiknya.
Daun-daun berdesir sebagai jawaban, cabang-cabang bergeser memberi jalan. Moonveil selalu mengerti Putri Lily.
“Auuummm….” Seekor singa besar berwarna perak keemasan berdiri di sisinya. Surainya tebal, matanya tajam namun setia. Erivana, sang singa hutan. Penjaga, sahabat, dan sekaligus bayangan setia yang Moonveil utus untuk menjaganya. Setiap langkah sang singa tenang dan penuh wibawa, ekornya bergerak perlahan, memastikan tak ada satu pun ancaman mendekat pada Sang Putri.
Lily tersenyum kecil dan menyentuh leher Erivana.
“Kau dengar, Eri?” katanya pelan. “Hutan sedang bahagia hari ini.”
Eri menggeram rendah, bentuk persetujuan atas ucapan Sang Putri.
Angin berputar lembut, cahaya di antara pepohonan menguat, seolah Moonveil ingin memperlihatkan keindahannya hanya untuk Lily… putri yang berlari bebas. Sesungguhnya alam tidak sekadar membesarkannya; namun memilihnya diantara banyaknya manusia.
Langkah Lily semakin jauh ke dalam menembus Hutan Moonveil. Cahaya keperakan perlahan memudar, digantikan semburat hangat yang menandai datangnya pagi. Tanah di bawah kakinya terasa lembut, seolah hutan dengan sengaja melapangkan jalan baginya. Moonveil selalu tahu ke mana sang putri hendak melangkah.
Setiap kali Lily berhenti, Eri pun berhenti. Setiap kali ia menoleh, mata emas itu selalu waspada.
Mereka tiba di sebuah lapangan luas di tengah Hutan Moonveil, tempat yang tidak semua makhluk hidup diizinkan untuk berpijak. Di sanalah bunga-bunga dari berbagai negeri tersohor tumbuh berdampingan, tanpa saling menguasai, tanpa saling menyingkirkan. Bunga anggrek dari utara yang panas, bunga pasir dari selatan yang kering, dan tanaman langka yang hanya tumbuh di tanah suci. Semuanya hidup subur, seolah Moonveil menyatukan dunia dalam satu pelukan.
Lily berlutut, membuka kantung kecil hadiah dari ayahnya, Lexus. Bibit-bibit Bunga Mawar dan Tulip yang dipesan khusus dari negeri yang jauh. Dengan tangan teliti Lily menanamnya satu per satu, jarinya menyentuh tanah dengan penuh hormat.
“Ini titipan Ayah,” bisiknya. “Aku akan menjaganya.”
Tanah bergetar pelan sebagai tanda izin telah diberikan, tanda Moonveil menerima kehidupan baru di atas tanahnya. Daun-daun berdesir lembut, akar-akar bergerak halus mengelilingi bibit yang baru ditanam. Udara terasa lebih hangat, lebih hidup. Lily tersenyum kecil, selama hutan mengizinkan, tak ada benih yang akan sia-sia di tempat ini.
Saat itulah matahari muncul sepenuhnya. Cahaya keemasan jatuh tepat di kepala Lily. Rambutnya memantulkan sinar pagi, kulitnya bercahaya lembut, kecantikannya menyatu dengan keindahan alam.
Ia membawa keranjangnya menuju bunga-bunga yang sudah tumbuh subur. Sang Putri memetik bunga satu per satu, penuh kehati-hatian, seolah setiap kelopak memiliki jiwa. Jemarinya menyentuh bunga yang bermekaran, lalu satu memetik satu tangkai langka yang hanya mekar saat matahari terbit.
Di saat yang sama kupu-kupu berdatangan. Sayap-sayap kecil berwarna perak, biru, dan hijau zamrud beterbangan di udara. Mereka berputar mengelilingi Lily, hinggap di rambutnya, di ujung jarinya, juga di bunga yang baru ditanam. Beberapa terbang rendah, mengikuti garis gaunnya yang menyentuh tanah, seolah mengenali sang putri yang sejak kecil berbagi napas dengan Moonveil.
Lily tertawa lepas, tawa yang jujur, bebas, dan hidup. Ia berbaring di atas rumput, dadanya naik turun beraturan. Dan saat itulah Moonveil terasa lengkap karena tawanya.
Moonveil menyimpan rahasia, menjaga batas, dan menahan takdir. Namun di hadapan Lily ia membuka dirinya, memberi ruang, memberi hidup, memberi ikatan yang tak tertulis namun tak bisa diputus.
Putri itu bangkit perlahan, menatap lapangan bunga yang kini berkilau di bawah matahari. Perutnya mulai keroncongan meminta asupan. Ia melangkah pelan ke sisi lapangan, tempat perutnya bisa terisi tanpa usaha berlebih.
Sang Putri mengusap apel liar dengan gaunnya, lalu menggigitnya pelan. Ia mengunyah perlahan, menikmati rasa asam-manis yang sederhana, rasa yang hanya bisa ditemukan dari buah yang tumbuh tanpa intervensi manusia. Ketika ia menelan suapan terakhir, jemarinya membuka telapak tangan, menyisakan biji kecil berwarna cokelat pucat.
Lily memandang biji itu sejenak, sisa dari buah yang ia makan untuk mengisi perutnya. Ia berlutut, menyingkap sedikit tanah dengan jemari penuh perhatian lalu meletakkan biji apel liar itu ke dalamnya. Sang Putri menutupnya perlahan, lalu menepuk tanah dua kali, seperti kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan.
“Tumbuhlah,” ucapnya lembut. “Aku akan menunggu dan menikmati buahmu.”
Tanah menerima kata-kata itu tanpa suara, namun Lily merasakannya, denyut halus yang sama seperti sebelumnya.
Matahari mulai condong ke barat. Cahaya keemasan berubah menjadi jingga lembut, lalu perlahan memerah. Senja datang, menyelimuti Hutan Moonveil dengan warna hangat dan bayangan panjang. Bunga-bunga menutup kelopaknya satu per satu, kupu-kupu menghilang di antara cahaya redup, dan udara menjadi lebih sejuk dan hening.
Anastasia melangkah menuju Sungai Lirien. Ia menyingsingkan sedikit gaun linennya dan mencuci kaki di air yang jernih. Arus sungai menyentuh kulitnya dengan lembut, membuat kainnya menjadi basah dan berat. Sang Putri tidak tergesa. Ia berdiri di sana, menatap pantulan langit senja di permukaan air seperti lukisan yang hanya muncul sekali sehari.
Setelah puas, Lily berjalan ke pinggir sungai. Ia merentangkan tangannya sejenak, merasakan senja merambat ke dalam dadanya.
“Terimakasih untuk hari ini.” kata Lily pelan. “Aku pulang dulu, besok aku akan kembali.”
Ia menghadap hutan, menatap pepohonan, tanah, dan cahaya yang mulai redup. Kalimat itu bukan sekadar ucapan, melainkan janji kecil yang selalu ia tepati.
Moonveil mendengarnya. Daun-daun berdesir lembut, sungai berkilau sesaat, dan angin mengusap pipinya seperti sentuhan perpisahan.
Lily tersenyum, mengangkat gaunnya lalu berlari kecil menuju rumah sebelum ibundanya memanggil. Eri mengikutinya, tenang dan setia, memastikan sang putri tiba dengan selamat.
Putri Lily berlari kecil menyusuri jalan tanah yang mulai menggelap. Ia menghembuskan napas lega begitu kakinya menginjak halaman rumah. Bangunan itu luas dan lapang, terbuat dari pahatan kayu tua dan anyaman bambu pilihan. Di sekeliling rumah, berbagai tanaman dan bunga tumbuh subur. Tak jauh dari sana, Danau Teratai Lilac mengalir tenang, membawa suara gemericik yang menenangkan jiwa.
Sebelum melangkah ke dalam rumah, Putri Lily terlebih dahulu menuntun Eri ke kandangnya. Sebuah bangunan kayu kokoh tepat di sebelah rumah pengawal bayangan. Eri masuk tanpa perlawanan, sebab esok hari ia tahu Sang Putri akan kembali membawanya untuk berpetualang.
Lily mengelus surai Eri dengan lembut.
“Setelah aku menemui Ayahanda dan Ibunda, aku akan mengantar daging rusa untukmu.”
Eri mengeluarkan suara rendah dari tenggorokannya, dengusan lembut yang artinya menerima.
Barulah setelah memastikan Eri tenang di rumahnya, Lily merapikan gaun linennya dan melangkah menuju kediaman keluarganya, tanpa tahu bahwa malam itu akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
Sang Putri batal melangkah masuk, sebab suara tapak kuda menggema di indra pendengarannya. Seorang pria tua turun dari kuda, tepat di depan rumah pengawal bayangan.
“Kakek!”
Seruan Lily meluncur ringan. Ia mengangkat gaun linennya agar tidak terseret tanah, lalu berlari menghampiri pria itu dengan senyum lebar.
“Selamat datang, Kakek.”
Pria itu terdiam sejenak. Ser Wilhelm, pemimpin pengawal rumah bayangan segera menunduk hormat, tangan kanannya mengepal di dada.
“Saya tidak pantas mendapatkan sapaan kehormatan ini, Putri.”
Namun Lily hanya tertawa kecil, mata coklatnya berbinar hangat.
“Kakek tetaplah Kakek,” katanya ringan, seolah tak ada hierarki yang memisahkan mereka.
Kata-kata sederhana itu membuat dada Wilhelm membuncah. Ia hanyalah pengawal rendahan, pria yang hidupnya dihabiskan dalam bayang-bayang tugas dan kesetiaan. Namun di hadapan Putri Lily ia tak pernah dipandang rendah, apalagi dianggap kecil.
Ia menunduk lebih dalam, menyembunyikan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Suatu kehormatan tak ternilai bagi saya mendapatkan gelar Kakek dari Anda, Putri. Semoga keberuntungan dari Dewa selalu menyertai hidup Anda.”
"Terimakasih, Kakek."
Pandangan Lily lalu tertuju pada gulungan perkamen yang terikat rapi di pelana kuda Wilhelm.
“Apa itu, Kakek?” tanyanya penasaran.
Wilhelm menarik napas, lalu menjawab dengan suara yang lebih serius. “Itu surat dari Kerajaan Agartha, ditujukan kepada Tuanku Alexius.”
Mata Lily berbinar. “Kalau begitu aku akan mengantarkannya pada Ayahanda.”
Wilhelm tersenyum tipis, menyerahkan perkamen itu. “Terima kasih atas kebaikan hati Anda, Putri.”
Lily tersenyum, lalu mengangkat gaun linennya agar tidak terseret tanah. Ia berlari kecil melewati halaman rumah yang dipenuhi bunga dan tumbuhan, melewati aroma kayu dan tanah basah yang selalu menyambutnya pulang. Suara Danau Teratai Lilac mengiringi langkahnya, mengalir tenang di sisi rumah seakan ikut menjaga rahasia yang ia bawa.
“Ayahanda…!”
“Ibunda…!”
Suara Lily menggema riang saat ia berlari masuk ke dalam rumah, napasnya sedikit terengah, rambutnya berayun oleh angin senja, namun wajahnya bercahaya oleh antusiasme.
"Ayahanda... Ibunda... aku pulang." katanya menunduk hormat.
“Putriku,” Anastasia menoleh, suaranya lembut namun mengandung teguran seorang ibu. “lain kali jangan biarkan senja mengejarmu hingga ke pintu rumah.”
Lily menunduk sedikit, mengangkat gaunnya dengan sopan.
“Maafkan Lily, Ibunda.”
Anastasia mengangguk, lalu menoleh pada benda di tangan putrinya.
"Apa itu, Putri?"
Lily melangkah mendekat.
“Ayahanda, Ibunda,” Ia segera menyerahkan gulungan perkamen itu dengan kedua tangan. “Ini surat dari Kerajaan Agartha yang dibawa oleh Kakek Wilhelm.”
Udara di ruang makan seketika berubah lebih berat. Gulungan perkamen tidak akan datang tanpa maksud. Lexus menerima gulungan itu, mematahkan segel lilin dengan gerakan terlatih. Matanya menyusuri baris demi baris tulisan, dan setiap kata seakan menambah beban di bahunya.
Kepada kakakku Lexus, Kaisar yang dahulu memerintah dengan kebijaksanaan.
Dengan segala kerendahan hati dan kehormatan yang tersisa, aku, Alexius, menuliskan surat ini di tengah malam yang gelisah. Kerajaan Agartha kini berdiri di ambang kehancuran. Ancaman datang dari berbagai penjuru. Batas wilayah diganggu dan kepercayaan rakyat mulai goyah.
Aku telah berusaha mempertahankan mahkota sebagaimana yang kau wariskan, namun kekuatan yang kuhadapi melampaui kemampuanku seorang diri. Maka aku memohon, bukan sebagai Kaisar kepada rakyatnya, melainkan sebagai adik kepada kakaknya.
Kembalilah, Kakak. Seperti janjimu dahulu, bantulah aku mempertahankan kerajaan yang kita cintai. Agar Imperial Agartha tidak jatuh menjadi kisah yang hanya dikenang dalam sejarah.
Dengan hormat dan harap yang mendalam,
Alexius
Kaisar Imperial Agartha
Lexus menutup surat itu perlahan. Wajahnya tetap tenang, namun mata kelabunya menyimpan sesuatu yang dalam.
Anastasia menatapnya lekat, “Ada apa, Suamiku?” tanyanya pelan.
Lexus menggulung kembali surat itu, menyimpannya di sisi meja.
“Kita makan dahulu, istriku.” katanya dengan suara yang tetap tenang, meski jelas menahan sesuatu. “Perkara ini akan kita bicarakan setelahnya.”
Anastasia mengangguk, patuh pada keputusan yang dipilih suaminya.
“Baik, Suamiku.”
Ia lalu menoleh pada Lily.
“Bersihkan dirimu terlebih dahulu, Putri. Setelah itu kita akan makan malam bersama.”
Sang Putri mengangguk, berjalan ke kamar mandi sesuai perintah ibundanya.
Cahaya lampu menyinari ruang utama rumah kayu itu dengan kehangatan. Meja makan telah terhidang, rapi dan sederhana, namun cukup untuk sebuah keluarga yang terbiasa hidup dalam tata krama istana. Aroma roti hangat, sup bening, dan daging panggang memenuhi udara.
Makan malam berlangsung dalam keheningan, waktu seolah memilih melambat demi menghormati kebersamaan mereka. Lexus memperhatikan makanan istrinya, Anastasia, perempuan yang dicintainya dengan seluruh hidup dan jiwanya. Tatapannya bukan sekadar memastikan hidangan itu layak, melainkan ungkapan kasih yang telah teruji oleh pengorbanan dan kebersamaan panjang.
Anastasia menangkap pemandangan itu, membalasnya dengan senyum lembut yang tak perlu kata. Senyum seorang permaisuri yang telah merasakan dicintai seutuhnya.
Setelah itu, tanpa isyarat apa pun, perhatian mereka berpindah pada anak-anak mereka. Pada Pangeran Lian yang makan dengan tenang dan tertib, pada Pangeran Leo yang menyimpan bara semangat di balik geraknya yang gelisah, dan pada Putri Lily, permata keluarga yang duduk anggun, yang membawa cahaya hutan Moonveil bahkan ke meja makan mereka.
Anastasia tersenyum lembut, meski di relung hatinya bersemi firasat bahwa ada sesuatu yang besar tersembunyi di balik surat itu. Sebuah bayangan yang belum berbentuk kata, namun cukup berat untuk dirasakan.
Namun ketika pandangannya bertaut dengan mata Lexus, kegelisahan itu perlahan mereda. Tatapan suaminya yang tenang, teguh, dan penuh keyakinan menjadi jangkar bagi jiwanya. Selama Lexus berdiri di sisinya, Anastasia tahu, apa pun yang menanti di depan akan mereka hadapi bersama tanpa gentar. Lexus adalahperisai keluarga, seorang suami sekaligus ayah bagi ketiga anak-anak mereka.
Lexus mengangkat pandangannya. Ia menatap Anastasia dengan kelembutan yang tak pernah pudar oleh waktu, lalu mengalihkan mata pada ketiga anak mereka.Suaranya terdengar tenang, namun membawa aura kepemimpinan.
“Imperial Agartha sedang berada di ambang kehancuran. Kaisar Alexius, paman kalian, meminta kita untuk kembali ke istana.”
Anastasia menegang, firasatnya telah terjawab. Ketenangan di Hutan Moonveil tidak pernah ditakdirkan abadi untuk darah Agartha. Meski ia dan anak-anaknya telah menemukan rumah di antara pepohonan dan sungai, Lexus tak mungkin menarik janji yang pernah ia ucapkan di masa lalu.
Mereka akan kembali ketika Agartha membutuhkan mereka.
Lexus memahami pikiran istrinya. Ia meraih tangan Anastasia dan menggenggamnya erat, sebuah isyarat sederhana namun sarat makna: kita akan menghadapinya bersama.
“Jadi kita akan kembali ke istana?” Suara Pangeran Leo terdengar lebih dulu.
Wajahnya berseri, imajinasinya telah melayang jauh. Dalam benaknya, istana adalah tempat kemegahan dimana banyak pengawal dan pelayan yang sigap, juga hidangan lezat yang tak pernah habis. Ia membayangkan hari-hari tanpa harus bekerja keras menanam tanaman obat di ladang, bersantai, dan melakukan apa pun yang ia mau.
Pangeran Lian mengangguk dengan sikap tenang, persis seperti ayahnya.
“Keputusan Ayahanda adalah yang terbaik,” katanya mantap, sebagaimana putra sulung yang memahami makna tanggung jawab sebelum hak.
Berbeda dengan kedua saudaranya, Putri Lily menunduk. Di wajahnya tak terlukis kegembiraan, hanya keheningan yang dalam seakan telah menerima kabar buruk.
“Putriku, Liliane,” panggil Lexus lembut.
Lily mengangkat kepala, menatap ayahnya dengan mata jernih yang indah.
“Melindungi kerajaan adalah kewajiban. Menolak kembali ke istana berarti mengkhianati tanah yang melahirkan kita.” ujar Lexus. Suaranya tegas, memancarkan kebijaksanaan.
Anastasia mengangguk pelan. “Ayahandamu benar, Putriku.”
Lily menarik napas perlahan.
“Aku mengerti, Ayahanda. Ibunda.”
Keheningan menyelimuti mereka sejenak, memaknai penerimaan atas takdir yang tak dapat dihindari.
“Kemasi barang-barang kalian,” perintah Lexus. “Kita akan berangkat sebelum matahari terbit esok pagi.”
Kedua pangeran dan sang putri mengangguk bersamaan.
"Baik, Ayahanda."
Putri Lily berdiri di balik jendela kamarnya. Cahaya bulan jatuh menyinari wajahnya. Barang-barangnya masih tergeletak di atas lantai, menunggu untuk dikemas. Namun pandangannya tertambat jauh, pada Hutan Moonveil yang bernafas bersama malam.
“Bagaimana aku bisa meninggalkan kalian?” bisiknya lirih, seakan hutan dapat mendengar kegundahan hatinya.
Jawaban datang bukan dalam kata, melainkan dalam auman rendah yang bergema dari halaman. Suara itu menyentak ingatannya. Lily berbalik, berlari menuruni tangga menuju dapur. Ia meraih daging rusa yang tergantung, masih segar, lalu melangkah keluar rumah dengan langkah tergesa menuju kandang.
“Maafkan aku, Eri,” katanya penuh penyesalan saat membuka palang kayu. “Aku hampir melupakanmu.”
Ia masuk ke dalam kandang, menyuapkan daging itu dengan tangan sendiri. Eri menerimanya perlahan, namun matanya yang setia tak pernah lepas dari wajah tuannya.
Lily menyuap daging terakhir, lalu bersandar pada surai tebal sang singa, memeluknya erat.
Eri merasakan kesedihan itu. Tubuhnya menegang, nafasnya berat, seolah memahami bahwa malam ini adalah malam perpisahan.
“Besok… kita akan berpisah.” ucap Lily pelan. Ia berhenti sejenak, menelan perasaannya. “Namun jangan khawatir. Aku akan menjemputmu jika situasi di sana memungkinkan.”
Erivana mengaum panjang, raungan tangisan yang tertahan. Suara itu menggema di antara pepohonan, menyatu dengan malam, seakan hutan ikut meratap. Lily memejamkan mata, memeluk sang singa lebih erat. Perpisahan ini bukan kehendak hati, melainkan harga dari darah kerajaan yang mengalir di nadi seorang putri hutan.
Fajar menyingsing lebih cepat dari biasanya, seolah waktu enggan menunggu. Kabut tipis masih menggantung di halaman ketika kuda-kuda telah siap di depan rumah. Ser Wilhelm berdiri di sana sejak dini hari, memastikan pelana terpasang dengan benar, memberi minum dan apel pada setiap kuda sebelum perjalanan panjang dimulai.
Lexus keluar membawa beberapa peti kecil. Isinya hanya barang-barang yang benar-benar diperlukan seperti obat-obatan langka, dan beberapa perlengkapan pribadi. Tak banyak namun jelas bernilai tinggi.
“Istriku,” ucapnya lembut, “naiklah lebih dahulu.”
Anastasia mengangguk tanpa ragu. Ia menaiki kuda dengan gerakan tenang dan mantap, seperti perempuan yang telah lama mengenal perjalanan dan medan. Lexus menyusul segera setelahnya. Pria itu duduk di belakang sang istri, menjaga jarak agar tak ada ruang yang memisahkan mereka.
“Posisi Putri Lily di tengah,” perintah Lexus kemudian. “Pangeran Lian dan Pangeran Leo, jaga adik kalian dari belakang.”
“Baik, Ayahanda,” jawab kedua pangeran itu serempak. Suaranya tegas, menerima tanggung jawab tanpa pertanyaan.
Mereka menaiki kuda masing-masing dengan gerakan terlatih. Lily duduk tegak di antara kedua saudaranya, jemarinya menggenggam kendali, matanya sempat menoleh ke arah hutan yang membesarkannya.
“Jagalah Moonveil untukku, Kakek.” ucap Lily pada Wilhelm, suaranya jernih namun sarat kesedihan.
Wilhelm mengangguk dalam.
“Sebagaimana Putri menjaga hutan ini, hamba pun akan menjaganya dengan cara yang sama.”
“Terima kasih, Kakek.” balas Lily lirih.
Anastasia menoleh.
“Kami pergi, Paman.”
“Semoga keselamatan dari Dewa selalu menyertai langkah Tuanku semua,” ucap Wilhelm penuh hormat.
Mereka saling menunduk, sebuah salam perpisahan yang tak membutuhkan kata tambahan. Kuda-kuda bergerak perlahan, lalu menjauh, meninggalkan halaman rumah di Hutan Moonveil.
Wilhelm berdiri mematung, menatap punggung-punggung yang kian mengecil hingga tertelan pepohonan. Ia mendengarkan bunyi tapak kuda terakhir, satu per satu, hingga akhirnya lenyap. Kesunyian kembali menyelimuti Moonveil, kesunyian yang membawa kehilangan.
Gerbang Moonveil terbentang di hadapan mereka. Tidak terbuat dari batu atau besi, melainkan lengkung alami dari akar yang saling bertaut.
Kuda Lexus dan Anastasia melewati gerbang tanpa halangan, seolah hutan mengizinkan kepergiannya. Tiba-tiba kuda Lily berhenti satu langkah sebelum gerbang. Sang Putri menarik kendali pelan, lalu lebih kuat. Namun kuda itu tetap diam, kakinya tertanam seolah menyatu dengan tanah.
“Ada apa, Adikku?” tanya Pangeran Lian, menoleh dari balik pelana.
Lily memejamkan mata sejenak. “Aku merasakan energi yang menghalangiku pergi, Kakak.”
Lexus segera turun dari kuda.
“Lewatlah lebih dulu,” perintahnya pada kedua putranya.
Lian dan Leo mengangguk patuh. Mereka melewati gerbang dan menoleh kembali tepat saat Lexus melangkah mendekati Lily. Namun sebelum ia sempat mencapai putrinya, tanah di sekitar gerbang bergerak. Tanaman liar tumbuh dengan cepat, merambat menutup gerbang keluar.
“Ayahanda!” panggil Lily.
“Putriku!” seru Anastasia segera turun dari kuda.
"Ibunda!" Suara Lily terdengar lebih keras.
Lexus dan kedua pangeran segera menahan tanaman itu. Mereka menarik dan menekan sekuat tenaga, namun setiap sulur yang ditahan justru semakin bertambah. Moonveil tidak menyerang, ia hanya menolak memberi izin.
Anastasia menyentuh ujung tanaman itu dengan jemarinya yang lembut. Ingatan lama menyeruak di benaknya, ucapan Tabib Eron saat ia masih mengandung.
Takdir akan membawa kalian keluar dari Hutan Moonveil, jika sudah waktunya.
Lexus menyentuh bahu Anastasia, “Mungkin… ini belum waktunya.” katanya pelan.
Anastasia menggenggam dadanya.
“Bagaimana aku bisa membiarkan putriku tinggal sendirian di dalam sana?”
Lexus mendekap istrinya erat. Memberi ketenangan, saat sebenarnya hatinya juga ikut goyah.
“Dia tidak sendirian,” katanya tegas. “Moonveil akan menjaganya seperti putrinya sendiri.”
Anastasia tak lagi mampu menahan air mata. Ia menangis dalam pelukan suaminya, bukan sebagai permaisuri, melainkan sebagai ibu yang kini berpisah dengan putrinya.
“Kita tidak bisa melawan takdir,” lanjut Lexus, suaranya rendah namun pasti. Ia mengusap rambut istrinya lembut. “Tenanglah, Istriku. Kita tetap bisa menanyakan kabar putri kita lewat Wilhelm.”
Dengan hati yang terbelah, Lexus, Anastasia, dan kedua pangeran kembali menaiki kuda. Perjalanan dilanjutkan tanpa sang putri. Begitu berat, menyakitkan, dan sunyi. Namun siapa yang mampu melawan takdir yang telah tersurat?
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!