Indonesia 20xx.
DRAP!
DRAP!
DRAP!
HAH!
HAH!
“TOLOOOOONG! SOMEBODY HELP ME?!”
Suara teriakan lantang menggema dari dalam hutan. Pria berusia sekitar dua puluh lima tahunan, berlari kencang—seperti sedang dikejar setan.
Sesekali dalam pelariannya, ia menoleh ke arah belakang. Menatap sosok menakutkan namun tampan, mengejarnya dengan seringai seram seakan menikmati permainan itu.
“Ah, come on, Pecundang!” teriak sosok bertelanjang dada itu sambil menggenggam sebilah pisau. “Berlarilah lebih kencang! Kau membuat semangatku hilang!”
Semakin panik lah pria yang ternyata seorang pebisnis muda, alih-alih berlari lebih kencang—justru langkah kakinya menjadi tak seimbang.
DRAP!
DRAP!
BRUGH!
Sialnya, kakinya tergelincir di tanah berlumut dan berakhir jatuh terjengkang. Pria yang diketahui bernama Sahroni itu merangkak mundur, napasnya terengah, tubuhnya gemetar hebat—terutama saat menyadari sosok itu kini telah berdiri tepat di ujung kakinya.
“Kenapa berhenti? Kakimu yang berlumur dosa ini, sudah tak lagi memiliki tenaga?” desis sosok pemilik kulit putih susu, berukir belasan tatto di anggota tubuhnya. “Kau ini nggak seru!”
Sahroni meneguk ludah. Bibirnya bergetar saat ia memaksakan suara keluar. “S-siapa kau sebenarnya? Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa yang kau inginkan dariku, hah?!”
“Siapa aku?” Sosok bermanik amber itu terkekeh. “Aku ... hanyalah seorang pria tampan yang terjebak di pulau gila ini!”
CRACK!
ARGGHHH!
Sahroni menjerit saat bilah pisau memotong jempol kakinya hingga putus. Ia meraung, menarik kakinya yang kini berlumur darah.
“S-sialan! Apa yang kau lakukan pada jariku, Bangsaaat?!” pekiknya histeris. “Jika kau mengetahui siapa aku, kau akan menyesal!”
HAHA!
Sosok itu hanya merespon perkataan Sahroni dengan gelak tawa.
“Apa yang kau inginkan dariku, Monster Sinting?!” teriak Sahroni putus asa. “Uang? Kau mau uang, iya? Akan kuberikan—berapa pun yang kau mau! Asal ... asal aku bisa keluar dari pulau ini hidup-hidup!”
“Ckck!” Sosok itu berdecak, kepalanya menggeleng pelan disertai senyum mengejek. “Kau hendak menyombongkan harta yang bahkan tak mencapai lima persen dari kekayaanku? Pfftt! Simpan saja uang imut mu itu.”
Ia melangkah mendekat. Sahroni makin gemetar saat sosok itu bercangkung di sampingnya. Tatapannya turun sejenak, menelusuri celana Sahroni yang perlahan-lahan merembeskan cairan pesing. Wajahnya mendekat, bibirnya berbisik di telinga mangsanya.
“Jika uangmu yang sedikit itu bisa membeli kebebasan,” desisnya menyeringai. “Mana mungkin aku yang bergelimang harta — masih terjebak di pulau sialan ini.”
SLASH!
Dalam sekejap, pisau di tangan sosok itu menyabet leher Sahroni hingga koyak menganga. Bola matanya membelalak, tubuhnya tersentak sebelum akhirnya menggelepar layaknya seekor ayam yang baru disembelih. Sesaat kemudian, tubuh itu ambruk ke tanah, terkulai di antara dedaunan yang berserakan.
“Kheeegghhkk ....” Dengan kedua tangan yang bergetar hebat, Sahroni mencoba menekan lehernya yang terbelah, seolah masih berharap darah itu bisa dihentikan.
Detik dan menit berlalu kian mencekam, hingga akhirnya, tubuh si pebisnis muda yang namanya sempat ramai menghiasi pemberitaan negeri—terbujur diam.
Darah segar masih terus mengalir dari lehernya, membasahi tanah tempat ia terbaring. Pria itu meregang nyawa dengan kondisi mata membeliak.
Sosok itu berdiri tegak, menatap mayat di hadapannya dengan sorot kosong tanpa emosi. Ia mengusap bilah pisau yang berlumuran darah ke celananya, lalu berbalik dan melayangkan tatapan tajam ke arah beberapa pria bertubuh besar yang berdiri tak jauh darinya.
“Bawa jasadnya ke ruanganku!” desisnya dingin.
Sosok bertelanjang dada itu berjalan menjauh. Cahaya bulan menelanjangi kulit pucat yang menjadi wadah inspirasi seni. Di punggungnya, satu ukiran tatto cukup mencuri perhatian—tertulis jelas “BELLA KIMBERLY”.
...***...
3 hari kemudian — Amerika 20xx
“Selamat malam, Nyonya Bella. Selamat datang kembali. Mari, biar saya bantu bawakan barangnya.”
Di ambang pintu—Rico, seorang asisten pribadi, menyambut kepulangan nyonya besarnya. Ia menunduk hormat seraya mengulurkan tangan, menawarkan bantuan untuk membawakan tas sang majikan.
“Nggak apa-apa, Ric. Biar saya bawa sendiri. Lagian nggak berat juga, kok.” Bella terkekeh pelan.
Manik legamnya mengedar ke ruangan. Mencari sosok Langit dan Bintang, putra putrinya yang kembar fraternal.
“Gimana anak-anak hari ini, Ric? Mereka nyusahin kamu, nggak?” tanya Bella seraya melangkah pelan.
Rico menggeleng pelan, senyum tipis terukir di bibir.
“Mas Langit hampir seharian ini sibuk dengan layar laptopnya, sepertinya ... ada proyek sekolah yang sedang dikerjakan. Sementara Mbak Bintang, seperti biasa — dia sangat bersemangat di Archery Club. Dia bilang hari ini berhasil memanah target lebih banyak dari biasanya.”
Bella mendengarkan sambil manggut-manggut, langkah kakinya kini menuju ke dapur. Membuka lemari pendingin, mengambil segelas air dan meneguknya sambil melirik ke arah meja makan.
“Makan apa mereka malam ini, Ric?” tanyanya memastikan.
“Tadi saya masakin ayam goreng kesukaan mereka. Mas Langit makannya sambil tetep fokus sama laptopnya, kalau Mbak Bintang ... sangat lahap.” Rico tersenyum bangga saat melihat sang nyonya mengangguk puas akan kinerjanya.
“Gimana aktivitas Langit di sekolahnya? Apa dia sudah mau berbaur dengan yang lain?” tanya Bella lagi.
“Sejauh yang saya tau dari guru wali kelasnya, Mas Langit masih cenderung pendiam dan lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan saat jam istirahat. Namun, guru wali kelasnya juga mengatakan bahwa Mas Langit menunjukkan kemajuan dalam hal akademis, terutama di bidang yang berhubungan dengan teknologi ....”
Rico terdiam sejenak, tampak memikirkan sesuatu—lalu kembali lanjut menjelaskan.
“Guru wali kelasnya juga sempat bercerita bahwa Mas Langit terlihat lebih ceria dan banyak bicara saat berinteraksi dengan Mbak Bintang. Sepertinya, dia merasa lebih nyaman dan percaya diri saat bersama adiknya.”
Bella menghela napas panjang mendengar jawaban itu.
“Langit itu memang mirip sekali dengan papanya. Sulit berbaur,” gumam Bella pelan.
Rico mengangguk setuju. “Saya perhatikan juga seperti itu. Tapi, saya yakin, seiring waktu dan dengan dukungan dari Nyonya dan Tuan ... Mas Langit pasti bisa lebih terbuka. Mungkin kita bisa coba carikan kegiatan atau komunitas yang sesuai dengan minatnya? Siapa tau dengan begitu dia bisa lebih mudah berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.”
“Akan saya pikirkan nanti. Apa dia masih rutin boxing kids?”
“Untuk boxing kids, seingat saya terakhir kali Mas Langit ikut itu sekitar dua bulan yang lalu, Nyonya. Setelah itu, tuan muda bilang lebih tertarik untuk fokus belajar coding dan membuat game di laptopnya,” jelas Rico.
“Dua bulan, ya. Ternyata ... sudah dua bulan aku tak bertemu dengan anak-anak,” lirih Bella sedih.
Bella Kimberly, mantan ketua divisi kriminal yang dikenal tegas dan berdedikasi, sudah sebelas tahun menjalani pengalaman transformatif dalam kariernya sebagai anggota Badan Intelijen Negara (BIN). Kepindahannya bukan sekadar perubahan posisi, melainkan transformasi peran yang menuntut kemampuan adaptasi tinggi. Tugas berat menantinya di Amerika Serikat, memantau pelarian anggota teroris yang sangat berbahaya, melacak jejak koruptor kelas kakap, dan kini ia menyamar demi memata-matai seorang buronan negara yang licin dan pandai bersembunyi. Buronan itu kabur ke Amerika, dan kini bekerja di sebuah perusahaan teknologi raksasa, tempat Bella juga menyusup—menyamar sebagai analis data. Berbulan-bulan ia bergelut dengan angka dan algoritma, sambil mengumpulkan informasi penting. Kini, tugas itu telah selesai. Buronan berhasil ditangkap, jaringan kejahatannya terungkap. Bella bisa bernapas lega, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia bisa beristirahat dan pulang untuk menemui anak-anak.
“Nyonya?”
“Hmm? Eh?” Bella tersentak. “Sorry, saya malah ngelamun. Lanjutkan, Ric.”
Rico mengangguk pelan sebelum kembali menjelaskan, “Beberapa kali saya lihat Mas Langit diam-diam menonton video pertandingan tinju di YouTube. Mungkin sebenarnya dia masih tertarik dengan boxing, hanya saja masih malu-malu mengatakannya. Apa perlu saya coba tawarkan lagi, Nyonya? Siapa tau Mas Langit sudah berubah pikiran.”
Bella terdiam sesaat, wajahnya seakan menimbang sesuatu. Akhirnya ia menghela napas kecil dan menjawab—
“Boleh, kamu atur aja, Ric. Nanti gimana-gimananya, kamu infoin aja, ya. Saya mau ke kamar dulu, tolong bantu awasi anak-anak sebelum jam istirahat kamu usai.”
Bella melangkah gontai ke kamarnya. Langkahnya terasa berat, wanita cantik itu benar-benar butuh istirahat. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia langsung menjatuhkan diri di atas ranjang.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri dan memejamkan mata. Namun, tiba-tiba saja seseorang dengan ukiran tatto ‘BELLA KIMBERLY’ di punggung, menindih tubuh wanita itu—menahan kedua pergelangan tangannya dengan paksa, lalu melumat habis bibirnya dengan hasrat menggebu.
“Hay, Sweetie!”
“KAU?!”
*
*
*
Atmosfer kamar berukuran luas masih terasa panas, maklum saja—dua insan baru saja selesai mereguk nikmatnya surga dunia. Edwin dan Bella, terkapar lemas di atas ranjang.
Kedua pasangan suami istri itu saling menatap, sarat dengan cinta yang masih menggebu meskipun pernikahan mereka telah menginjak usia sebelas tahun.
“Kenapa lama banget pulangnya?” Edwin mengecup hangat kening Bella. “Padahal kamu tau ... aku udah hampir gila nungguin kamu.”
Bella tersenyum geli melihat bibir sang suami sudah maju lima centi, persis seperti bibir bebek.
“Tugasnya ternyata jauh lebih sulit dari perkiraan ku, Ed. Banyak memakan waktu. Kamu sendiri ... kenapa udah pulang? Bukannya lagi tugas di negara lain sampai minggu depan?” Ujung jari Bella menyusuri pelan lengan Edwin hingga berhenti di pergelangan tangannya.
Alis Bella terangkat, keningnya berkerut saat melihat ukiran asing di sana.
“Kamu bikin tatto baru?” tanyanya lagi, suaranya yang samar terdengar seperti heran dan penasaran. “Apa ini tulisannya? V.I.P? Kenapa ukirannya berbentuk seperti ... simbol organisasi?”
Edwin menarik pelan tangannya, manik ambernya berkilat seperti menyimpan sesuatu yang tak ingin ia bagi pada sang istri.
Bibirnya menyeringai tipis. “Kenapa kamu membuang waktu dengan sibuk membaca kulitku, hm? Bukannya kita harus gunain waktu ini untuk sesuatu yang ... bermanfaat?” Ia mencondongkan tubuh, suaranya berbisik di telinga Bella. “Seperti ... lanjut ronde kedua membuat dedek untuk Langit dan Bintang, misalnya.”
Edwin menyelipkan rambut Bella ke belakang telinganya. Ujung jarinya lalu meluncur turun dengan gerakan lembut, menyusuri kulit hingga berhenti di gunung kembar favoritnya— ia menatap lama sebelum akhirnya jemari kokoh itu meremas perlahan, seakan sengaja ingin menutup ucapannya dengan sentuhan lembut.
Bella tersenyum tipis. Tanpa memberi ruang bagi suaminya untuk menambahkan kata-kata lain, bibirnya langsung menyelam di ceruk leher Edwin. Sontak membuat pria tampan itu mendesah pelan.
Bella menyusuri dada bidang Edwin dengan bibirnya, membiarkan ciuman liarnya menyerang setiap jengkal kulit hangat itu. Namun tiba-tiba, inderanya menangkap sesuatu yang mengusik. Hidungnya berhenti tepat di bawah tulang selangka pria itu. Ada aroma yang samar, hampir tak terdeteksi jika bukan karena kepekaan nalurinya.
Bukan wangi sabun, bukan juga keringat maskulin yang biasanya menempel setelah seharian beraktivitas. Ini lebih pekat, tajam dan familiar.
‘Darah?’ batin Bella.
Kening Bella berkerut. Bibirnya sempat terhenti, meski ia berusaha menyamarkan rasa curiga dengan senyum tipis. Jantungnya seketika berdebar tak karuan.
Edwin menyadari hal itu. Ia menunduk, menatap Bella dengan tenang, seolah tau persis apa yang sedang dipikirkan istrinya. Jemarinya terulur, membelai rambut Bella dengan lembut.
“Kok berhenti, Sayang? Ayo, aku nggak tahan lagi, tadi itu ... bener-bener nikmat.”
Ajakan itu justru membuat kecurigaan Bella semakin menajam. Ia menempelkan hidungnya di kulit Edwin, kali ini sambil menghirup lebih dalam, memastikan. Aroma samar itu memang nyata, menempel di pori-pori, di setiap hembusan napas pria yang kini berusaha menutupinya dengan senyuman.
“Kenapa tubuhmu beraroma darah? Kali ini ... kekacauan apa lagi yang kamu buat, Edwin?” tanya Bella dengan sorot mata sedingin es.
Sesaat setelah kalimat itu meluncur, tubuh Bella menegang. Ingatan lama yang sudah ia kubur dalam-dalam kembali menyeruak—tentang Edwin di belasan tahun silam, di masa ketika lelaki itu bukanlah sosok seorang dokter muda penuh idealisme, melainkan sosok dengan sisi gelap yang nyaris melukai dirinya.
Bella tau betapa keras suaminya berjuang untuk keluar dari jurang itu, tapi kekhawatiran akan tetap selalu ada. Bagaimana jika seseorang memantik api di kepala sang suami yang berakhir menyebabkan luka batin dan psikisnya kembali terbuka? Bagaimana jika Edwin, tanpa sadar, kembali menapaki jejak masa lalunya yang kelam—menciptakan kekacauan yang tak lagi bisa ia kendalikan?
Bola mata Bella bergetar, menatap nanar. “Jawab!” desisnya.
Edwin menarik napas dalam-dalam, wajahnya tampak tenang. “Kekacauan apa? Kamu tau, kan, aku ini seorang dokter bedah? Darah adalah hal yang nggak bisa dihindari di keseharian ku.”
Bella mengerutkan kening, jemarinya menekan dada Edwin seakan ingin menembus kulitnya. “Oh, ya? Jadi menurutmu wajar jika aroma darah menempel sampai ke kulit tubuhmu? Apa kau membedah pasien tanpa pakaian pelindung, hah?” Nada suaranya meninggi, antara jengkel dan curiga.
Edwin terkekeh, ia menarik tubuh Bella hingga terjatuh dalam dekapannya. Ia mengecup lembut pucuk kepala sang istri. “Kamu tenang aja, Sayang. Aku cuma melakukan hal yang semestinya memang aku lakukan. Kamu nggak perlu khawatir, aku janji, aku nggak akan ngebiarin keluarga kecilku berada di dalam marabahaya.”
Matanya menatap lurus ke dalam mata Bella. Aura tenang namun berbahaya terpancar dari wajahnya, membuat Bella sulit menebak—makna dari kata-kata Edwin yang terdengar ambigu.
.
.
Pagi itu, Bella terbangun lebih dulu. Tubuhnya terasa remuk, seakan setiap sendinya protes setelah melewati malam panjang—entah berapa kali ia mereguk kenikmatan bersama Edwin meskipun ia sempat dilanda kesal.
Dengan rambut kusut menutupi sebagian wajahnya, ia meraih jubah tipis yang tergeletak di kursi, lalu beranjak dari ranjang. Langkahnya pelan, seperti tak ingin membangunkan pria yang masih terlelap di balik selimut.
Di atas nakas, laptopnya masih terhubung dengan charger. Bella menyalakannya, sekedar ingin memeriksa pesan yang mungkin masuk. Begitu layar menyala, notifikasi email memenuhi sudut kanan bawah. Matanya menyapu cepat, hingga pandangannya terhenti pada satu pesan yang masuk tadi malam—dikirim dari alamat rahasia yang hanya bisa diakses oleh anggota aktif BIN.
Jantung Bella berdetak sedikit lebih cepat. Ia meng-klik pesan itu.
[CLASSIFIED – Level 1]
Agen Bella K.,
Anda diperintahkan segera kembali ke Indonesia.
Target baru telah ditetapkan: Pulau Darasila.
Informasi awal menunjukkan lokasi tersebut digunakan untuk penelitian Bioteknologi terlarang yang mengancam keamanan nasional.
Identifikasi, selidiki, dan jika perlu—eliminasi.
Waktu keberangkatan: segera.
—Direktorat Operasi Khusus.
Bella terpaku. Alisnya berkerut, jari-jarinya menggenggam ujung meja. Pulau Darasila—seperti gema asing sekaligus mengusik rasa ingin tahunya. Ia sudah terbiasa dengan misi berbahaya, tapi kata bioteknologi terlarang membuat pikirannya berputar, menghubungkan dengan potongan informasi samar yang pernah ia dengar.
Perlahan, ia menoleh ke arah Edwin yang masih terlelap. Ada desir getir yang menyusup di dadanya. Ia tau, misi ini mungkin akan membuat mereka kembali terpisah, sangat lama.
.
.
Langit dan Bintang duduk bersebelahan. Meski terlahir kembar, keduanya bertolak belakang. Langit sangat pendiam, wajahnya selalu tenang — seperti menyimpan sejuta misteri, persis dengan ayahnya. Sebaliknya, Bintang lebih ceria dan mudah berbaur. Sikapnya juga cenderung tegas, membuat siapa pun tak bisa main-main dengannya, termasuk kakaknya sendiri.
“Rotinya jangan cuma diliat begitu, Lang,” ujar Bella sambil menuangkan susu ke dalam gelas. “Di makan.”
Langit menghela napas pelan seraya melirik singkat pada segelas susu yang disodorkan ibunya. “Aku cuma lagi mikir, Ma.”
Mendengar itu, Bintang mencebik—ia menyomot potongan roti yang sedari tadi dipandangi sang kakak, lalu menyuapkannya begitu saja ke mulut Langit. Sontak Langit kelabakan, hampir tersedak sebelum buru-buru mengunyah.
“Mikirin apa sih?” dengus Bintang sinis. “Mau makan aja, pakai mikir-mikir segala.”
Langit menatapnya sengit, cepat-cepat menelan roti di mulutnya.
“Ya mikirin pelajaran, lah!” sahutnya cepat. “Nggak semua orang bisa santai kayak kamu.”
Bintang menaruh sisa roti di piring Langit, lalu balas menatap dengan alis menukik.
“Santai apanya? Gini-gini aku juga belajar. Dan nilaiku lebih tinggi daripada nilaimu, Kak,” balasnya ketus.
Pfft!
Langit hampir menyemburkan tawa.
“Iya, tinggi emang. Tapi, cuma nilai bahasa inggris. Yang lainnya? Kamu kalah telak,” ledek Langit.
Muncung sudah bibir Bintang karena perdebatan kali ini, dimenangkan oleh sang kakak.
Edwin yang sejak tadi memperhatikan keduanya, hanya mengulas senyum tipis. Ia sengaja membiarkan keduanya saling serang agar rumah mereka selalu terasa ramai—pria itu sangat benci kesepian.
Sementara itu, Bella menghela napas pelan. Setengah jengkel, setengah geli melihat putra-putrinya tak pernah akur, mirip kucing dan tikus.
“Udah, buruan habisin sarapannya. Kalian itu, ya, kalau udah ketemu muka—debaaaat mulu, heran deh,” omel Bella sambil geleng-geleng kepala.
Edwin terkekeh kecil, menyembunyikan tawanya di balik cangkir kopi. Manik ambernya sempat menatap Bella sekilas, ada gurat hangat yang jarang muncul di wajahnya.
Suasana hening sebentar ketika semua sibuk mengunyah. Tiba-tiba, suara Bintang kembali terdengar.
“Ma ....” Ia menatap Bella dengan hati-hati. “Mama, liburnya sampai kapan? Besok aku dan Langit udah libur sekolah, kita ... punya waktu banyak untuk main bareng, kan?”
Pertanyaan itu membuat Bella terdiam sepersekian detik. Edwin yang tadinya santai, mendadak melirik istrinya, begitu pula Langit yang menurunkan gelas susunya.
Bella menghela napas pelan, mencoba memilih kata.
“Bintang, Langit, kalian pasti tau, kan ... seberapa besar Mama merindukan kalian?”
Ada tumpukan rasa bersalah di nada bicaranya.
“Mama juga pengen banget, main bareng, liburan bareng. Tapi ....” Ia tersenyum tipis, matanya tampak berkaca-kaca. “Besok, kemungkinan Mama sudah harus kembali bertugas.”
Seakan ada komando tak kasat mata, sendok di genggaman Edwin, Langit, dan Bintang jatuh bersamaan ke piring mereka.
Cling! Cling! Cling!
Ketiganya menatap Bella dengan ekspresi campuran terkejut, tidak percaya, dan sedikit kecewa.
“Besok ...?” Langit mengulang pelan.
Bintang mengerutkan kening, wajahnya jelas tak setuju. “Kita baru ketemu pagi ini lho, Ma!”
Edwin diam membisu, menatap istrinya dengan sorot yang sulit dibaca—antara ingin menahan dan mencoba mengerti situasi.
Bella meraup wajah dengan jemari. Keluarganya memang berada di urutan nomor satu. Namun, pekerjaannya juga tak bisa ditinggalkan begitu saja.
“Mama janji,” ujar Bella lirih kala melihat ekspresi sedih di wajah keluarga kecilnya. “Ini akan menjadi tugas terakhir Mama. Begitu selesai, Mama akan kembali pulang ke rumah dan akan selalu ada untuk kalian.”
“Janji?!” seru Bintang dan Langit bersamaan.
...***...
Bella menempuh perjalanan panjang dari Amerika ke Indonesia, transit di beberapa bandara hingga akhirnya tiba di ibukota. Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju kantor pusat BIN untuk mengambil identitas samarannya—nama baru, wajah baru di dalam dokumen yang sah, dan latar belakang yang dirancang agar tak seorang pun mengenalinya. Dari sana, ia bergerak ke pelabuhan, menunggu kapal yang akan membawanya menuju Pulau Darasila.
Pulau itu dulu hanyalah titik kecil di peta, lama diabaikan pemerintah karena tanahnya tandus, tak ada sumber tambang, tak ada komoditas yang bisa dikeruk sebagai keuntungan. Darasila dikenal hanya sebagai pulau sepi dengan desa nelayan yang makin ditinggalkan warganya. Namun belakangan, situasinya berubah. Beberapa turis asing tiba-tiba tertarik mengunjungi pulau tersebut, memicu bisik-bisik dan menarik kembali perhatian pemerintah yang selama ini enggan peduli.
Bella berdiri di dermaga, memandang laut yang beriak, seakan menyadari bahwa Darasila bukan sekadar pulau. Di sana sedang berdenyut rahasia yang mengerikan.
‘Firasat ku benar-benar buruk, kali ini,’ batinnya.
Namun sebelum pikirannya hanyut lebih jauh, Bella dikejutkan oleh tepukan keras di bahunya, disertai suara lantang yang memanggil namanya dari belakang.
“OHOOOOY, BELLA KIM—”
BUGH!
*
*
*
“OHOOOOY, BELLA KIM—”
BUGH!
Argghh!
Seorang pria tampan berperawakan tegap menjerit kencang manakala tinju Bella mendarat telak di perutnya. Wajah tegasnya kontan menegang, tubuh atletisnya membungkuk—jemarinya mencengkeram perut yang serasa diremas dari dalam.
Abirama, seorang detektif dari unit intelijen kepolisian, dikenal sebagai sosok karismatik sekaligus disiplin. Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, pengalaman panjang di berbagai operasi membuatnya dihormati banyak rekan. Sosok yang dulunya dikenal paling ceroboh, berubah menjadi sosok penuh ambisi dan penuh perhitungan.
Hari itu, ia baru saja menerima tugas baru, yakni menyelidiki misteri orang-orang yang hilang di Pulau Darasila. Beberapa laporan menyebutkan bahwa bukan hanya warga sipil yang lenyap tanpa jejak, melainkan juga sejumlah petugas kepolisian yang sebelumnya dikirim untuk menelusuri kasus tersebut. Kini, giliran Abirama yang harus menyeberang ke pulau itu, membawa beban tanggung jawab yang lebih berat daripada sekedar misi biasa.
Namun, sebelum sempat melangkah lebih jauh, pertemuannya dengan Bella Kimberly, yang tak lain merupakan sahabatnya sejak kecil, justru membuat suasana berubah ricuh. Alih-alih sambutan ramah, yang menyambutnya justru tinju keras Bella yang mendarat telak di ulu hatinya.
‘Udah lama nggak ketemu, kekuatan tangannya masih aja sama!’ gerutu Abirama di dalam hati sambil melempar tatapan tajam ke arah Bella.
Dan ketika mata mereka bertemu, Abirama terdiam sejenak, mencoba memahami situasi. Untungnya, sekarang ia adalah sosok yang cepat tanggap. Ia menilik sorot mata Bella yang waspada.
‘Ah ... ternyata lagi dalam misi penyamaran rupanya.’ Abirama bermonolog di dalam hati.
Senyum miring pun muncul di wajahnya, disusul tawa serak. “Hahaha ... maaf maaf. Saya pikir Anda itu sahabat lama saya yang sudah lama tak berjumpa karena dia terlalu sibuk di negeri antah berantah. Ternyata salah orang, ya?” Ia mengusap perutnya yang masih berdenyut ngilu, lalu melirik Bella dari ujung kepala hingga kaki dengan senyuman mengejek. “Lagipula, mana mungkin sahabat saya itu bisa berubah secantik ini? Dulu rambutnya saja berantakan sekali, banyak saljunya pula.”
Bola mata Bella memutar malas, ia mendengus pelan. “It's okay. Saya juga minta maaf. Tadi saya kira, Anda ini abang-abang tukang gendam yang modus tepuk-tepuk bahu, padahal niat hati mau merampok isi tas. Ternyata ... bukan, ya?”
“Alamak najisnyeee, wajah setampan ini dikira tukang gendam? Ih ih ih, tak patut.” Abirama bersedekap. “Kalau dilihat-lihat, wajah Anda tampak asing. Apa Anda bukan orang asli sini?”
Pria itu sengaja memancing, ia penasaran—kali ini, sahabatnya akan menyamar sebagai apa?
“Benar, saya seorang pendatang. Perkenalkan, nama saya Niken.” Bella mengulurkan tangannya dengan tenang, berlakon santai. “Saya seorang dosen pembimbing lapangan. Ditugaskan universitas untuk mendampingi mahasiswa KKN yang kebetulan sedang ditempatkan di pulau seberang dermaga ini.”
Abirama sempat menatap lama, sampai akhirnya ujung bibirnya terangkat. “Begitu, ya? Saya Abirama, panggil saja Rama, atau ... Justin Bieber juga boleh.”
Dengan wajah tetap tenang, Bella menggeleng pelan. “Make nih orang.”
“Pfftt!” Abirama tertawa kecil. “Baiklah, Bu Dosen. Kalau begitu, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik di sini. Pulau ini bukan tempat yang ramah.”
Bella sempat hendak menjawab, tapi deru kapal yang merapat membuatnya menutup kembali kata-kata yang tadi hendak keluar.
“Kayaknya kapal kita sudah siap,” ujar Abirama singkat.
Bella hanya mengangguk. Mereka berjalan beriringan menuju papan kayu untuk naik. Sesekali suara burung camar bercampur dengan teriakan awak kapal.
Di atas dek, keduanya duduk bersisian. Abirama melirik sebentar, lalu terkekeh kecil.
“Dosen pembimbing lapangan, ya? Boleh juga.”
Bella menatap lurus ke laut, tapi, suaranya menyahut pelan. “Yah, tiap orang punya perannya masing-masing. Kau juga begitu, ‘kan?” Wanita itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke sisi telinga Abirama. “Berhati-hatilah, Ram. Jangan percaya pada siapapun yang kau temui nanti, firasat ku ... bener-bener buruk.”
Abirama mengangguk pelan, lalu memilih diam. Kapal pun mulai bergerak, meninggalkan dermaga dengan percakapan yang masih menggantung.
...***...
Amerika—
Edwin duduk sendirian di ruang kerjanya yang dipenuhi berkas-berkas pasien. Lampu meja menerangi wajahnya yang letih. Tangannya bergerak pelan, meraih bingkai foto pernikahan di sisi laptop—potret Bella tersenyum dengan gaun sederhana, berdiri di samping dirinya yang gagah.
Drrtt! Drrtt!
Ponselnya bergetar di atas meja, Edwin meletakkan kembali bingkai foto tersebut dan lekas meraih ponselnya.
Satu pesan dari Bella masuk yang mengabarkan—
Bella : Aku bertemu Abirama di sini, hahaha!
Ingatannya pun menyeruak—tentang Abirama, sahabatnya yang pernah terang-terangan menyatakan perasaannya pada Bella sebelum mereka resmi menikah.
“Dasar bujang tua sialan!” Tatapan Edwin pun sontak mengeras. “Kau pasti lagi nyuri-nyuri kesempatan sekarang, ‘kan?!”
“Di mana sebenarnya Bella ditugaskan?” dengusnya kesal. “Aku akan menyusul ke sana! Nggak akan aku biarin si bujang tua itu menggatal sama istriku yang super cantik dan hot itu!”
Secepat kilat Edwin membuka laptop, masuk ke akun email Bella—membuka kotak masuk dan menelusuri pesan satu persatu. Sampai akhirnya, mata amber itu fokus membaca satu pesan dari Badan Intelijen Nasional.
“Pulau ... Darasila?” kerongkongannya serasa tercekat, darahnya berdesir. “Pulau Darasila?!”
Secepat kilat Edwin menutup laptopnya. Ia meraih ponsel dan segera menghubungi nomor Bella.
‘Bella harus segera keluar dari sana!’ Edwin menggigit ujung jarinya sampai berdarah, demi menjaga pikirannya tetap jernih.
Sekali, dua kali, belasan kali—sayangnya panggilan itu tidak tersambung. Edwin menatap layar ponsel tanpa ekspresi. Ia beralih menghubungi Abirama. Namun berakhir sama, panggilan itu tak juga tersambung.
“Tentu saja mereka sudah mengacaukan sinyalnya,” gumamnya datar. “Bella pasti sudah tiba di pulau itu.”
Merasa tak punya pilihan lain, ia pun akhirnya menghubungi Rico. Dan saat suara berat Rico menyambutnya dari ujung telepon—
“Ya, Tuan?”
“Jemput anak-anak, Ric,” ujar Edwin datar. “Bawa Bintang dan Langit pulang sekarang.”
“Nghh? Sekarang? Memangnya ada apa, Tuan?” tanya Rico terheran-heran.
Edwin berdiri sambil memijit keningnya, berjalan mondar-mandir di ruang kerja. “Bawa saja mereka pulang sekarang. Siapkan pakaian, dokumen, dan kebutuhan penting. Kita akan kembali ke Indonesia.”
Meskipun masih bingung, tetapi suara di seberang langsung mengiyakan. “Baik, Tuan.”
Begitu sambungan terputus, pandangan Edwin kembali jatuh ke foto Bella di meja.
“Tunggu aku, Bell. Aku akan datang.”
...***...
Kapal kayu tua baru saja berlabuh di dermaga Pulau Darasila. Bella, Abirama, dan beberapa anggota timnya segera mengantri menuruni kapal.
Bella sempat menoleh pada awak kapal yang tadi mengarahkan mereka. Matanya tanpa sengaja tertumbuk pada sebuah tatto di pergelangan tangan pria itu—ukiran huruf V.I.P yang tampak samar di balik kulit legamnya.
‘Tatto itu ....’
Seketika kening Bella berkerut. Ingatannya melayang pada tatto serupa yang pernah ia lihat di pergelangan tangan Edwin, suaminya. Darahnya seketika berdesir, firasat buruk langsung menghantamnya.
‘Edwin ... kekacauan apa yang sudah kau perbuat kali ini?’ giginya bergemelatuk, benaknya penuh akan prasangka.
“Bu Niken?!”
Bella tersentak mendengar suara Abirama memanggilnya.
“Anda mau tetap berada di kapal?” tanya Abirama.
Bella mencoba menanggapinya dengan senyuman tipis. Ia buru-buru turun dan mereka pun segera mengikuti seorang pekerja lokal menuju penginapan sederhana yang dianjurkan oleh awak kapal. Bangunan dari papan kayu yang dicat kuning telur, penginapan dengan tujuh kamar berukuran kecil yang terkesan pengap.
Seorang petugas penginapan berusia paruh baya dengan kemeja kusut, menyambut mereka dengan senyum tipis. Ia meminta identitas satu per satu untuk didata. Bella memperhatikan gerak-geriknya yang tampak canggung. Sesaat kemudian, pria itu menghela napas kecil sambil menggeleng.
“Mohon maaf, jaringan kami sedang eror. Identitas masing-masing tamu, terpaksa saya tahan sementara ... saya harus mendata secara manual. Nanti biar saya yang antar identitas kalian langsung ke kamar,” ucapnya datar, sebelum memanggil pekerja lain untuk menunjukkan kamar tamu masing-masing.
“Di tahan? Harus sampai sebegitunya?!” sungut Abirama, keningnya berkerut curiga.
Bella masih bungkam. Manik legamnya justru diam-diam menyorot pada ukiran tatto di pergelangan tangan petugas penginapan—ukiran yang lagi-lagi sama persis dengan milik suaminya. Firasatnya semakin tak enak, tapi, wajahnya tetap tenang.
“Jika memang terkendala, apa boleh buat,” akhirnya Bella bersuara, menghentikan kicauan Abirama. “Perjalanan saya ke pulau ini cukup menguras tenaga. Saya butuh lekas istirahat. Jika identitas saya sudah selesai didata manual, silakan antar ke kamar. Saya akan menunggu.”
Sambil berkata begitu, kakinya diam-diam menginjak sepatu Abirama—memberi kode untuk melakukan hal yang sama.
Abirama terperanjat, untungnya ia cepat tanggap. Ia tersenyum masam sambil menepuk pelan meja registrasi. “Kalau begitu, kami ikuti prosedur saja. Pastikan identitas kami terdata dengan benar dan segera dikembalikan. Saya harap tidak ada kesalahan dalam prosedur ini.”
Petugas itu sekilas mengangguk, lalu memberi instruksi pada petugas lain untuk membawa para tamu ke kamar.
Setibanya di kamar, Bella segera menutup pintu dan memastikannya terkunci rapat. Tatapannya mengedar ke segala arah, tangannya bergerak cepat menggeledah isi tas — lalu mengeluarkan sebuah benda pipih seukuran ponsel, berwarna hitam doff. Di bagian atasnya terdapat layar kecil dengan garis-garis frekuensi yang bergerak naik-turun, sementara sisi sampingnya dipenuhi tombol mungil.
Alat pendeteksi sinyal.
Perangkat standar yang biasa dipakai untuk melacak kamera tersembunyi dan alat penyadap aktif.
Bella menekan satu tombol, layar alat itu menyala. Bella menimpa alat tersebut dengan ponselnya demi menghindari curiga, lalu ia mengarahkan alat tersebut ke sepanjang dinding, meja, bawah ranjang, hingga ke lampu tidur — tentunya ia melakukan semua itu dengan gerakan tenang serta terukur.
Ketika melewati lukisan murah yang tergantung miring, indikator pada alat itu melonjak. Sinyalnya dialihkan langsung ke earpiece di telinga Bella, menghasilkan dengungan pelan yang tak terdengar oleh siapa pun selain dirinya.
Bella segera berbalik. Tatapannya datar saat menelisik lukisan kuda itu dari jarak dekat.
Di bagian mata kuda, tersembunyi sebuah lubang kecil yang mustahil tertangkap oleh mata awam.
‘Satu kamera di sana. Sialan, tempat apa ini?’ batinnya geram, namun ekspresi wajah tetap terjaga.
Bella meraba tepi lukisan itu sejenak, cukup lama untuk terlihat wajar. “Aku harus memberitahu petugas untuk memperbaiki posisi lukisan ini,” gumamnya berpura-pura santai.
Lalu ia berbalik, melangkah menuju kamar mandi. Begitu pintu tertutup, alat pendeteksi itu kembali berdengung di earpiece Bella.
Matanya segera memindai seisi ruangan tanpa gerakan mencurigakan. Tatapannya tertuju pada cermin buram di atas wastafel yang pantulannya terlihat biasa saja.
Bella mendekat. Ujung jarinya menyusuri sisi cermin, mengetuknya pelan. Bunyi pantulnya terdengar padat, tak berongga. Indikator di alat itu melonjak lagi.
‘Ada lagi!’ desisnya dalam hati.
Ia memutar keran, membiarkan air mengalir deras sebagai kamuflase suara, lalu meraih sikat gigi yang disediakan pihak penginapan. Rautnya tetap datar, seolah tak ada hal ganjil sedikit pun.
“Cokelat apa sih yang diberikan pria tadi padaku?” gumamnya pelan. “Lidahku sampai terasa lengket.”
Bella membasahi sikat gigi itu, memencet pasta secukupnya, lalu mulai menyikat giginya dengan gerakan santai—bahkan sempat mencondongkan wajah ke cermin, menguap kecil seperti orang yang kelelahan setelah seharian beraktivitas.
Di balik sikap polos itu, matanya bergerak cepat, menangkap pantulan samar di sudut cermin. Lensa kecil itu mengintai dari balik celah, merekam setiap gerak-geriknya.
‘Kalian pikir ... aku sebodoh itu?’
Ia berkumur, memuntahkan busa ke wastafel, lalu menepuk-nepuk pipinya ringan—akting sempurna sebagai seorang tamu biasa yang sama sekali tak menyadari dirinya sedang diawasi.
Setelah memastikan tak ada lagi sudut yang luput dari pemindaian, Bella merapikan tasnya dan mengeluarkan sebungkus roti. Ia menghela napas pendek, lalu melangkah keluar kamar seolah tak terjadi apa-apa.
Beberapa langkah kemudian, ia berhenti di depan kamar Abirama. Bella mengetuk pintu dengan santai.
Tok ...
Tok ...
Pintu terbuka. Abirama masih mengenakan kaus sederhana, wajahnya sedikit heran saat melihat Bella berdiri di ambang pintu.
Tanpa basa-basi, Bella menyodorkan sebungkus roti ke dadanya.
“Terima kasih buat cokelatnya tadi,” ucapnya ringan.
Abirama mengernyit. “Cok—”
Cup!
Bella tiba-tiba mengecup pipi pria itu. Sentuhan singkat—cukup untuk membuat tubuh Abirama seperti disambar arus listrik. Tekanan darahnya naik, jantungnya berdetak tak beraturan. Pria yang sejak lahir melajang itu seketika membeliak.
“Ap—”
Abirama kembali menahan kalimatnya manakala bibir Bella kembali mendekat, ia menahan napas, sekujur tubuhnya mendadak meriang hingga kepalanya gemetar.
‘Dia akan menciumku? Kami akan berciuman? Dia bosan dengan monster itu?’
Ketika bibir Bella semakin mendekat, Abirama refleks mematung.
‘A-a ahhh, aku belum sikat gigi!’
Namun, wajah Abirama mendadak memerah ketika bibir Bella berbelok arah. Alih-alih melabuhkan sebuah ciuman, justru bibir perempuan itu mendekat ke arah telinganya.
“Kita diawasi, Ram. Setiap tempat di penginapan ini punya telinga,” desis Bella pelan. “Hati-hati dengan ucapanmu. Jangan bicara sembarangan.”
.
.
Sementara itu di meja resepsionis, setelah memastikan para tamu berada di kamarnya, petugas tadi buru-buru membawa tumpukan identitas para tamu ke sebuah ruangan kecil di belakang meja resepsionis. Di sana berdiri sebuah mesin pemindai biometrik berukuran sedang, mirip gabungan antara printer dan layar komputer modern. Ia meletakkan satu per satu identitas ke dalam slot pemindai. Cahaya biru keunguan menyapu permukaan kartu, diikuti dengan bunyi—
BIP!
Pada layar, data nama, wajah, dan nomor identitas Niken, Abirama, serta seluruh timnya muncul lengkap, kemudian otomatis tersinkronisasi.
Dalam hitungan detik, data mereka terkirim. Di layar monitor, muncul logo dengan simbol V.I.P—sebuah jaringan gelap yang entah sebuah organisasi, komunitas, atau sindikat internasional, tak ada yang benar-benar tau.
Yang pasti, di berbagai penjuru dunia, ponsel milik orang-orang penting dari beragam negara bergetar serentak. Di layar ponsel mereka, sebuah pesan masuk—berisi foto Bella, Abirama, dan anggota tim lainnya. Di bawah setiap foto, sudah tertera angka, yakni harga nyawa mereka.
Dan sebuah pesan balasan masuk ke sistem penginapan Pulau Darasila, pesan dari username MR.KEE.
MR. KEE : “Perempuan itu untukku.”
*
*
*
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!