Indonesia
NovelToon NovelToon

Conquer Me

Bab 1 🩷 Bullying (prolog)

Bab 1 🩷 Victim blaming (Dia, si sayap kupu-kupu yang patah)

...----------------...

Bukan karena tak cantik, bukan karena tak mampu, namun ia tak pernah bisa melawan dengan segala kekurangannya.

Lemah, adalah alasan terbesar tekanan yang didapatkan. Dan karena sisi lemahnya itu, ia selalu menjadi yang paling dikucilkan, ditekan dan dirundung. Tak ada teman yang membantu, sebab....berteman artinya ikut menerima apa yang dirasakan.

"Eitss! Mau ngelawan? Mau ngelawan?! Atau gue ambil ininya!"

Tangannya meraih-raih udara dengan gelengan kepala yang kencang, "jangan please!"

Hahahahah!

Sudah kali kesekiannya semenjak mereka tau jika ia memiliki riwayat asma, mereka mempermainkan tangisnya.

Gadis berkucir satu itu meraih kotak makan dimana bekalnya sudah tidak lagi utuh, sebab diambil paksa, setelah berhasil mengejar sebuah benda sumber nafasnya yang dilempar dan masuk ke bawah bangku, hingga kepalanya sempat terbentur beberapa kali.

Bekal mama yang seharusnya ia makan, justru harus ia relakan dimakan teman-teman yang biasa melakukan itu. Belum lagi tugas-tugas sekolah, yang harus selalu ia bagi bersama, dan sukarela ia kerjakan milik mereka demi tak dikucilkan untuk beberapa waktu.

Mereka, mengikrarkan diri, lewat pesona, pertemanan, dan power sebagai penguasa kelas---lingkungan sekolah tidak tertulis. Bukan pengurus organisasi intra sekolah, bukan pula MPK atau majelis perwakilan kelas, namun jaringan 'teman' mereka berada di dalamnya. Di dalam organisasi yang begitu disegani siswa.

Ia berjalan diantara koridor sekolah yang telah hampir sepi, sebab jam pulang sekolah sudah sejak tadi. Seharusnya jadwal piketnya bukan hari ini, melainkan telah terlewat 3 hari yang lalu. Tapi khusus untuknya, dalam satu pekan bisa jadi 4 hari jadwal piket. Sebab, ia sering di tahan untuk mengerjakan piket mereka.

Ting!

Mas Elok

De, dimana? Mas udah di depan gerbang?

Ia berlarian dengan gema ayunan langkah sepatu yang mengisi sudut-sudut kelas dimana pintunya tertutup.

Stop bullying!

Katakan tidak pada perundungan!

Mulai dari sekolah lalu ke dunia, hentikan bibit bullying sejak dini!

Dan poster-poster yang ditempel pihak OSIS serta para pengurus mading sekolah, hanya akan jadi suara nyaring tanpa makna berarti, hanya akan menjadi suara sumbang yang tertiup angin saja bersama harapan sekolah, sebab sayapnya telah patah....

Bukan tidak pernah melapor, bukan tidak pernah melawan. Namun saat ia mencoba mengadu yang didapatkan adalah....

Taktik manipulatif----gaslighting, membuatnya merasa meragukan persepsinya sendiri, dengan memutar balikan fakta. Guilt tripping, membuatnya merasa bersalah agar melakukan apa yang diinginkan mereka dengan mengungkit jika, mereka sering mengajaknya bicara, tidak membeda-bedakan teman.

Manipulasi emosional, memanfaatkan kelemahan emosionalnya dengan mengancam, memaksa agar bisa mengendalikan. Serta, victim blaming....dimana ia justru disalahkan atas kejadian buruk yang dialaminya bahkan tak segan dimintai pertanggungjawaban pula.

Suruh siapa dianya bengong!

Lagian dia kan punya asma, udah tau punya asma, alat inhaler nya dimainin jatoh sendiri repot sendiri!

Orang pendiem terus mojok-an gitu siapa yang mau temenan.

Mana saya tau kalo dia ngga mau, kan saya juga ngga maksa. Lagian juga saya ikut jatoh, gara-gara dia.

Terkadang, mereka juga playing victim dan menghasut teman lain demi memperkuat ancamannya, mengintimidasi agar tak mampu melawan dan tak memiliki teman. Sejak awal, ia tau....jika akan menjadi sasaran empuk sebab, tidak ada yang se-diam dirinya, tidak ada yang se-baik dirinya, tidak ada yang se-CUPU dirinya, dan se-penyakitan dirinya. Dan aksi ini, sudah terjadi sekian lama.

Ia menyeka keringat saat berhasil lolos dari koridor yang terasa pengap, hingga meloloskan nafasnya tepat di depan parkiran.

Mas Elok, ia masih menunggu dengan helm yang masih terpasang di kepala, "Mas!" sapanya.

"Kok lama, ngapain dulu? Jangan bilang nongki-nongki...dibilangin mending tidur di rumah." Ia menarik kepala sang adik, yang kemudian membuatnya notice jika disana ada sarang laba-laba menempel, "ngapain sih? Emang ada ekskul kuda lumping ya? Sampe kotoran nempel-nempel begini di rambut?" tawanya renyah membuat gadis ini manyun, "udah yu ah! Aku ngga mau bahas, pulang aja!"

Ia berkata jujur, memang tak ingin membahas apapun tentang sekolah. Jika biasanya siapapun anak sekolah akan begitu riang bercerita tentang apa yang terjadi di sekolah, namun dirinya....seolah ingin menghapus ingatan itu.

Ia begitu lahap menyantap makan siang. Masakan mama memang paling the best, cukup magic menghapus sedikit rasa sedihnya siang itu, menghilangkan bunyi kruyukk di perutnya.

"Bekalnya habis?" tanya mama membuat ia diam sejenak demi mengambil nafas yang menyerbu tiba-tiba mengisi paru-paru namun mampu membuat detakan jantung itu diam sejenak, "abis, ma." tangan lentik itu mendorong kacamata agar lebih nyaman dan melekat kuat, tak pergi kemanapun.

/

Ia berjalan ke arah kamar, menatap dalam-dalam dirinya lewat pantulan cermin dan melepas kacamata. Tidak ada yang berubah di pandangannya, wajahnya itu tetap seperti biasanya, pandangannya juga. Hanya saja ia ia mundur beberapa langkah, maka wajahnya akan terasa berbayang.

Ting!

Rere

Asma, tugas makalah seni rupa jangan lupa punya gue.

Bahkan ia diam saja saat namanya diganti seenak jidat, dengan mencibir apa yang dideritanya. Ia menghela nafas, menatap kalender demi menghitung sisa nafasnya berada di sekolah menengah pertama itu. Berharap besok, di sekolah baru...semua belenggu itu bebas. Mungkin ia juga harus membuat perubahan di dirinya terutama penampilan, menutup semua kekurangan dari pengetahuan orang lain, agar nasib buruk ini tak kembali menimpanya.

Rere

Heh asma, denger ngga Lo? Jangan di read doang. Udah bosen baik-baik aja?

Oke. Balasnya.

Ia datang seperti biasanya, yang tak biasa adalah ia membawa tiga buah makalah, bukan karena ia terlalu rajin, namun hanya memastikan jika besok ia akan baik-baik saja menghirup nafas di sekolah ini.

Hasil kerja otaknya, hasil lelahnya semalam ia serahkan dalam bentuk makalah berjilid tugas seni rupa.

Ada senyum puas dari mereka, "good girl. Ntar SMA dimana?" tanya nya digelengi, "ngga tau. Kayanya pesantren."

Ia berdecih, namun kemudian mendorongnya untuk enyah. Lantas obrolan tentang lawan jenis kembali menghiasi pojok bangkunya. Sementara dirinya, harus puas dengan menghirup alat inhaler.

Sore ini...ia memutuskan untuk mulai melakukan latihan pernafasan, menjalani terapi dan olahraga mengolah nafas yang mama programkan untuknya agar asma yang dideritanya tidak terlalu mengganggu. Atau setidaknya mengurangi intensitas pemakaian inhaler pada waktu-waktu tertentu seperti sekarang, cuaca dingin, udara, alergen, aktivitas berat, stress, asap rokok, emosi, flu/pilek, asam lambung dan posisi tidur tertentu di malam hari.

.

.

.

Welcome di ceritaku yang selanjutnya. Well, cerita lama yang sudah bertahun-tahun ada di list baru kali ini bisa terealisasikan. Karena ini cerita yang sudah lama sekali, jadi jangan heran atau bertanya-tanya jika nanti ke depan ada sesuatu yang beda dari alur cerita yang dulu dan hanya beberapa bab itu. Anggap saja ini bentuk upgrade dan penyegaran. Termasuk demi *taste* tersendiri di karya ini 🙏🙏

Karya ini juga kubuat, agar se-aman dan senyaman mungkin jikalau pembaca baru tidak membaca cerita sebelumnya. Karena aku akan menyuguhkan dengan alur baru meski mencatat dan mengikuti poin-poin alur di cerita sebelumnya. 🤗

Tak bosan mengingatkan ya, silahkan melipir bagi pembaca yang hanya ingin melihat-lihat saja tanpa membaca sampai tuntas. Karena jika kamu sudah membaca bab 1 maka kamu sudah teken kontrak sama aku untuk membaca sampai karya end. Hargailah usaha kami, para penulis 🙏

Oh ya, sempat di cerita kemarin. Entah pembaca baru atau lama tapi tidak menyadari. Beliau bertanya, "thor, kenapa tulisanmu miring-miring sih?!" komentnya, lalu menghilang bagai asap. Next, jika beliau datang ke cerita ini, Monggo...pembaca lain yang mungkin sudah menemani saya berkarya barang 1 dan 2 karya sebelumnya bisa bantu saya menjelaskan, arti tulisan yang saya buat miring, atau tebal itu apa maksudnya. 🤗

Jangan membebaniku juga ya... dengan pernyataan, "teh cerita ini ngga kocak, ngga ngakak," sumpeehhh itu jadi beban buatku, ngga boleh ya dek, Kaka, mbak, sistah. Ini cerita, bukan naskah stand up comedy. Bijaklah berkomentar.

Happy reading all 💞💞

.

.

.

.

Bab 2 🩷 Si pemilik mata kelam (prolog)

Setahun lebih sudah berlalu. Telunjuk lentik itu menggeser-geser letak softlens dengan warna natural bola matanya yang bersemu coklat kayu basah miliknya itu. Mengerjap demi menyesuaikan penglihatan. Lalu bergegas merapikan seragam yang----oke, cukup mencetak lekuk tubuh ranumnya, wangi...dan pipi bersemu merah muda.

"Dea, Inggrid udah nyampe!" itu mama yang berteriak sepagi ini.

Ia segera meraih tas merah miliknya, tidak sebesar tas-tas seorang backpacker atau anak sekolah pada umumnya, justru terbilang sedikit kecil, lalu bagaimana ia membawa buku lembar kerja siswa miliknya?

Dea

Cupu, lks gue sama Inggrid udah dipasangin sampul kan? Bawa ke sekolah.

Ada Gibran yang baru saja keluar dari rumahnya dengan rambut yang masih lembab dan mengunyah roti lapis. Sementara Willy dan Inggrid memang sudah sepagi itu menjemput Dea dan Gibran dimana mereka bertetangga di satu komplek yang sama.

Inggrid masih ikut menikmati bolu kukus buatan mama, Ratna Sarah, adalah mama Dea yang terkenal cukup pintar memasak di kalangan ibu-ibu komplek ini.

"Enak banget tante, ini dipakein choco chip ya."

Mama tersenyum, pahatan senyum manisnya itu turun pada Dea, "ya sok atuh, dibekel mau?" namun Inggrid menggeleng.

Willy telah bertemu dengan Gibran di depan selagi Dea mengecup punggung tangan mama, "Dea pergi dulu."

"Itu nanti, ada temen baru. Katanya pindahan dari Jakarta, namanya Nara....di blok G nomor 14, katanya sekolah di sekolah kamu juga, kenalan." Ujar mama membuat Dea dan Inggrid notice.

"Oke."

Dea masuk ke bangku belakang bersama Inggrid, dimana ia telah bersiap mengeluarkan liptin dan eyeliner, Yap! Kebiasaan Inggrid yang begitu centil untuk tiap menit menebalkan glowing di wajahnya.

Jangan tanya, kenapa Willy bisa membawa mobil disaat anak-anak lain banteran bawa motor atau sepeda, sebab....seribu alasan dan segepok uang masuk kas sekolah serta saku kesiswaan.

Ditambah, sang ibu adalah ketua ikatan komite orangtua yang seharusnya merupakan jembatan dan mewakili kondisi para wali murid.

Pertanyaannya, kenapa Dea bisa sedrastis ini? Ia belajar dari pengalaman. Jika kasta tertinggi adalah orang dengan uang segunung, lalu ada orang dengan sejuta pesona yang usil dan pembuat onar, dan dimana letak orang pintar tanpa memiliki kedua kemampuan di atas? Jadi keset alias di bawah.

Oke, katakanlah kini Dea sedang mati-matian menunjukan pesonanya dan sedikit usil, lalu ia ternotice Willy dan Gibran yang kebetulan bertetangga, hingga akhirnya lebih usil lagi saat bersatu dengan Inggrid. Usil, untuk sekedar membuat orang lain kesusahan, iya...sepertinya dulu.

Awalnya hanya untuk membuat perubahan kecil, dan membalas rasa penasarannya, namun perlahan....euforia melakukan perundungan itu membuatnya sedikit, candu.

.

.

Dea turun dari mobil bersama Inggrid yang cekikikan karena jokes receh Gibran.

"Lks aman De?"

Dea mengangguk, "aman." Lantas lirikannya jatuh ke arah beberapa siswa yang juga baru saja datang pagi ini, cukup heboh dengan tawa lebih renyah.

Orang-orang yang enggan---untuk circle Willy sentuh, atau lebih tepatnya memang mereka hindari. Tidak satu dunia, mungkin menurutnya. Beda frekuensi dan level obrolan.

Kenapa tidak tersentuh? Sebab....

Brennnggg! Breng---brengg.....

Suara memekakkan itu cukup membuat telinga sakit.

"Assalamualaikum ya ahli kubur!"

"Parammm! Kaget, bang ke banget!" Gadis yang paling mungil diantara mereka dengan suara toa-nya itu berteriak-teriak melempar salah satu pemuda dengan buku.

Pertanyaan itu terjawab dengan datangnya segerombol pemuda membawa keributan.

"See, kampungan." Dengus Inggrid merotasi bola matanya, menggusur langkah Dea lebih cepat menuju kelas.

Masih menatap menoleh, Dea meneliti satu persatu orang-orang itu, cukup tau dan paham mereka namun...entahlah. Ada sosok yang tak bisa ia jabarkan dengan akalnya, dia....

Hoammm!

Dea menggeleng risih, dan geli melihat tampilannya. Sepagi ini kerjanya mengantuk dengan mata yang terkadang didapati memerah, rambut masih basah macam tikus kecemplung got. Namun, siapapun tau jika ia adalah salah satu anggota genk motor yang---dimana isue ini tengah santer diperbincangkan di dunia kriminal tahun ini di kalangan pelajar.

Bukan--bukan, bukan hanya ia saja namun ada Rama, Gilang, Ridwan, Bayu dan Vian juga. Namun dia, terlihat lebih kelam, tidak banyak bicara dan...

"Bandung teh udah terang om Fal!"

Pemuda itu membuka helmnya, dan menggosok hidung, "tau gue. Makanya pake sweater, takut kulit kena sinar matahari." gidiknya seperti sedang menunjukan gestur---gue nih, pake sweater.

Yusuf, pemuda itu lantas membuat gerakan mulut dengan gigi yang ia tunjukan, "da rah mana da rah!" lalu ia mengejar teman-teman perempuan satu kelasnya itu. Rama bahkan sudah melakukan gestur seperti zombie dengan berpura pura menarik sesuatu dari sakunya seolah itu senjata tajam lalu berjalan layaknya mayat hidup itu, "brainnn..."

Tawa terdengar lebih renyah, "Ga warasss!"

"Cupid si Alan!" Tok! Muti menggetok kepalanya dengan buku yang sama.

Sebagian dari mereka tertawa kencang. Hingga tatapnya dan pemuda itu sempat bertemu, dengan sorot mata yang sama-sama melemparkan ketidaksukaan.

Dialah, Rifaldi Elvan Januar....si pemilik mata kelam nan tajam.

"De, ngapain sih...ayok masuk!" tarik Inggrid.

"Minggir lahhh please! Pegel kaki gue," usir Inggrid secara halus pada kumpulan siswi yang duduk di pinggir lapang demi tempat lebih jelas.

"Kikiii!" lambai tangan Inggrid sambil berteriak ke arah lapang, dimana Kiki sedang bermain basket.

Dea ikut duduk, tidak membawa menu jajannya namun----

"De, ini lumpia basah, pedesnya level 2 kan? Telurnya double plus baso sosis?" seorang siswi menyerahkan jajanan milik Dea itu, ia terlihat kepayahan membawa jajanan milik Dea, Inggrid, Gibran dan Willy.

"Yang ini, punyanya Inggrid, pedes level 3...telornya---"

"Kok tiga? Bukannya punya Ing, pedesnya sama juga ya?" tanya Dea mengernyit menatap Naila.

"Eh, iya...punya gue pedesnya level 2 sama kaya Dea."

"Punya gue level 3 tapi ngga pake telor." Jawab Gibran, "salah tuh pesennya."

Dea berdecih, menahan Inggrid yang ingin murka, ia sudah berdiri duluan, "kuping Lo perlu gue korek pake linggis ya? Punya otak dipake, mata udah empat tetep ngga bisa baca? Mesti dikasih mata berapa?" tanya Dea sementara Naila menunduk, "sorry biar gue ganti, ngga apa-apa...ini buat gue aja." Angguknya lantas pergi setelah memberikan pesanan yang lain terlebih dahulu.

Inggrid menyeringai, ia mengurungkan tangannya yang telah terkepal, yang tadinya bersiap menjambak atau paling tidak memberikan serangan fisik, "hah! Cepetan ngga pake lama, gue udah laper!" jerit Inggrid.

Vian memasukan jarinya ke hidung dan mengorek-ngorek kotoran, "tuh liat tuh...penjajah mulai berulah lagi, abis semua jadi Jo ngos temen-temen MIPA 2," tuduhnya saat melintas dengan Rifal yang baru saja mengumpulkan nyawanya karena merasa haus.

Rifal menggeleng, ia berucap dengan suara dalamnya, "yang penting bukan MIPA 3. Biar aja, selama ngga ngusik kita." Ia berlalu tak peduli menuju kantin.

"Warung babeh aja Fal, Rama sama yang lain lagi maen PS." ajak Vian. Sementara Rifal menggaruk kepalanya dimana rambutnya sudah cukup gondrong, sepertinya besok lusa jika sekolah mengadakan razia maka rambutnya akan habis digunting oleh kesiswaan dan OSIS.

"Kuy." ajak Rifal membalikan arah ayunan langkah menuju belakang sekolah. Dimana pagar besi terdapat lubang bekas jebolan, yang digunakan sebagai akses anak-anak tertentu untuk keluar dari gedung sekolah. Dan warung babeh ini adalah warung kopi yang berada menempel di dinding sekolah.

.

.

.

.

Bab 3 🩷 Efek domino perundungan (prolog)

Begini saja, hanya perlu berkumpul dengan anak-anak yang memiliki panggungnya, berpenampilan menarik setelah nilai plus wajah dan badannya yang bagus, berhaha-hihi, turut andil dengan menunjukan jika ia adalah sosok yang dominan, menguasai cukup memberikan tempat untuk Dea diantara mereka.

"Aturan tadi Inggrid jangan ditahan buat jambak, De." Gibran terkekeh saat berjalan berdua ke arah tata usaha demi mengisi tinta spidol. Dea mendengus tertawa, "masih punya hati gue. Lagian di depan banyak orang, ada Bu Eva...ntar Tante Anya dipanggil lagi ke sekolah, kasian. Toh sama aja kan, kata-kata gue langsung bikin perih."

Gibran membuka tutup belakang spidol lalu Dea yang menuangkan tinta itu ke dalamnya dari pipet. Tak sabar, Gibran langsung menuangkan dari bibir botol, sehingga tintanya itu mengucur kemana-mana termasuk ke atas sepatunya, "an jing. Sin ting, kena spokat dong."

Dea tertawa, bergegas mengambil tissue yang ada disana untuk mengelap sepatu Gibran, namun pemuda itu menahannya, "Lo ngapain an jir De, mental Lo sekarang mental Jo ngos?"

Acara membungkuknya tertahan di udara, "hooh lah, ngapain juga gila!" keduanya tertawa bersama. Kebetulan sekali, Naila yang baru saja dari kamar mandi bersama Samanta ia temukan, "hey, Lo!! Sini!"

Awalnya Naila mencoba menulikan diri bersama Samanta, namun kemudian.

"Lo pura-pura budeg, gue pastiin baliknya ntar magrib."

Naila mau tak mau menghampiri, "kenapa De?"

"Tolongin gue dong, bersihin sepatu gue kena tinta. Tangan gue sama Dea sibuk." pinta Gibran sudah menendang-nendang tissue ke arah Naila.

Mereka kembali bersama berempat, tentu saja guru di kelas cukup jengah, "loh...loh, kok pas banget ya kompak berempat begini? Habis janjian ya?"

"Saya sama Dea kan abis ngisi spidol, Bu?" tunjuk Gibran.

"Lah, ini Naila sama Samanta..."

"Tadi..." Jelas Naila menatap Dean dan Gibran dengan wajah keruh siap menerkamnya. Hingga akhirnya Naila urung melapor.

Inggrid berbisik saat Dea sudah masuk ke bangku, "ngapain sih, tangan si Nai banyak tintanya begitu?"

"Gue suruh bersihin sepatu gue kena tinta, njirr." jawab Gibran dari belakang.

...****************...

Dea sampai di rumahnya selalu tepat waktu belakangan ini, kecuali di hari kamis sebab harus mengikuti ekskul pemandu sorak, melepas sepatu dan menaruhnya di rak. Menanggalkan tas saat mencium aroma masakan yang menggugah selera, "emhhh wangi!"

Mama baru saja keluar dari kamar, "ganti baju dulu, abis itu solat. Baru makan."

Dea mengangguk sempat mencomot terlebih dahulu bakwan jagung mama seiring dengan mama yang mencubit pipinya.

/

Hufftt! Ada helaan nafas berat dari Dea. Setiap hari, kenapa pembalasan pun tak pernah meninggalkan kesan damai di hatinya, seolah....ia sedang mengorek dendam lama. Ia mencuci tangan lalu...

Lembaran tipis nan rapuh softlens ia geser dari matanya hingga itu terlepas kemudian ia taruh di wadahnya. Mengerjap merasakan lelah, dirinya seolah baru saja melepas topeng.

Alih-alih melakukan apa yang mama suruh, ia justru menjatuhkan badannya terlebih dahulu ke atas kasur. Menjadi sosok berbeda itu menguras tenaga rupanya, tapi menjadi sosok di masa lalu lebih membuatnya menderita.

Efek perundungan memang sedahsyat ini, bukankah orang jahat itu terlahir dari orang baik yang disakiti terus menerus? Dan sekarang ini, ia menjadi sosok itu sekarang.

Hampir 3 tahun belakangan ia menjalani kehidupan remaja yang menurut jalan pikirannya benar-benar, namun salah menurut hati. Memiliki teman toxic, Dea akui itu....tapi dengan Inggrid, Willy dan Gibran lah ia bisa menyebut teman. Mereka yang merangkulnya, mereka yang justru memberi Dea panggung, meski pada akhirnya hatinya yang ribut, dan ia hanya bisa menulikan pendengaran dari suara hatinya. Dea, menjadi sosok yang selalu ia gumamkan dalam keadaan emosi acap kali dirinya menjadi korban perundungan.

Matanya terpejam nyaman, bukan lagi sikap semena-menanya pada Naila dan kawan-kawan lagi yang ia mimpikan, melainkan....

Degup jantungnya berdetak seirama dengan nada musik yang---jedag-jedug, sementara Inggrid di lantai dansa sama sudah tertawa sambil berjoget-joget ria memanggil namanya, "De, buruan turun!"

Dea tersenyum, Gibran mendorongnya untuk ikut turun, "turun. Jangan disini, seenggaknya di lantai dansa ngga bau rokok. Ntar yang ada asma kamu kambuh."

Dan benar, Dea ikut hanyut dalam euforia lampu warna-warni dan musik ajojing.

Willy tertawa, ikut turun bersama Dea dan Inggrid. Namun mendadak diantara kesenangannya itu tiba-tiba mama datang dengan membawa sapu lidi panjang, "Deaaaa! Pulangg!"

Matanya terbuka refleks, tidur yang sebentar itu seolah terasa nyata karena memang----terjadi. Minggu kemarin, ia dan yang lain clubing di salah satu club malam ternama, meski tidak sampai di samperin mama. Namun mama cukup marah, saat tau ia pulang lewat dari pukul 10 malam.

"Astaghfirullah!" lirihnya tersentak membuka matanya. Dea meraih kacamatanya lantas bergegas mengganti pakaian dan ke kamar mandi.

Dea mendorong kacamata bulat itu diantara rambut yang telah dicepol asal juga.

Suara deru mesin motor masuk ke dalam carport rumah, saat Dea sedang menyendok makan siangnya, lalu...

"Assalamualaikum." sosok pemuda dengan tas yang sudah turun dari pundak seorang mahasiswa semester akhir menghampiri, usil....ia lantas meraih wajah Dea dan menahan jidatnya dengan telapak tangan besar, "nih, jidat lebar persis lapangan bola."

"Mass Elokkkk!" jeritnya membuat mama berdecak karena kelakuan anak-anaknya itu.

"Mas aku mau makannn, awas ih! Mamah, mas Elok sin ting!"

Dan semakin saja Elok mencubit kedua pipi adiknya itu, "ngomong apa barusan hemmm?!"

Berujung dengan Dea yang mengumpat kembali diantara rambut yang telah acak-acakan karena mas keduanya itu menguyel-uyelnya.

Sikap Dea benar-benar bertolak belakang antara di rumah dan di sekolah, sampai-sampai orang rumahnya tak tau bagaimana sosok Dea di sekolah dan diluaran.

Jovanka

De, jalan yuk pulang les.

Dea gemas tak terkira, sosok pemuda yang sedang dekat dengannya itu, meski berbeda sekolah cukup dikenali sebagai pemuda idaman. Mereka bertemu saat pertandingan basket antar SMA, dan kebetulan sekali...Dea adalah anggota pemandu sorak, dimana tim basket SMA nya dan SMA Jovanka yang ketika itu merupakan anggota tim basket bertanding di sekolah Dea.

Bukankah sempurna?

/

"Ntar baliknya gue dijemput Jovanka, Will...jadi pada duluan aja."Gibran menoleh ke belakang dengan tatapan mendelik tak percayanya, "ngapain?"

"Serius?! Aahhhh, sweet....semoga cepet-cepet jadian ihhh! Gemes deh." seru Inggrid merengek.

Willy mengangguk, "les bareng, De?"

Dea mengangguk menatap ke arah luar kaca jendela, "iya. Abis itu jalan. Cuma makan sih..." jawab Dea ikut geli dan mesem-mesem sendiri, ia lantas melirik Gibran yang memasang tampang datar, "dia ngga lagi PHP kan, De?"

"Ah berburuk sangka deh, Lo Gib!" Inggrid mendorong punggung Gibran.

"Ya kali aja. Kaya yang udah-udah..." jawab Gibran.

Astaga!! Seru penghuni mobil.

Willy menginjak remnya tiba-tiba sampai membuat olesan liptin Inggrid keluar dari garis bibirnya, "ihhhh! Willyyy!"

"Woy an jing!" umpat Willy membuka jendela mobilnya ketika dari persimpangan itu beberapa motor menggunting jalannya.

Tatapan Dea lurus, melihat gerombolan MIPA 3 melintas dengan wajah tengil mereka, terakhir ada tatapan tajam nan menatap merendahkan dari sosok Rifal, brakk!

Ia bahkan menggebrak kap mobil Willy, "nyetir jangan sambil dandan plus rumpi." mereka terlihat tertawa mencibir, "haha, cowok cantik." Bahkan Yusuf terlihat membuat gerakan kedua tangan membentuk love ke arah mobil Willy.

"Bang sat." Umpat Gibran.

"Woyyy sin ting!!" teriak Inggrid, lihatlah ada Narasheila yang bahkan kemarin-kemarin justru dekat dan masuk ke dalam circle mereka, setelah gagal mereka raih.

Willy, adalah orang yang paling murka sebab, ia merasa dihina habis-habisan, bukan karena kelakuan pagi ini....namun, ia tau, hari ini mereka hanya ingin memvalidasi bahwa Nara tengah bersama mereka.

Yap! Willy mengakui menyukai Nara. Tetangga baru di komplek G. Gadis yang sempat berbaur dan menyatu sebentar dengan Inggrid, Dea, Willy, dan Gibran.

"Sabar Wil, gue tau Lo ngambek gara-gara kemaren Nara tolak Lo. Cewek masih banyak."

.

.

.

.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!