Kring
Kring
Kring
Suara dering telepon yang sedari tadi berbunyi, membuat tidur seorang gadis cantik, merasa terganggu.
Dengan mata setengah tertutup, Ziva mengambil handphonenya di atas nakas dan menerima panggilan itu.
"Ha-"
"ZIVA PUTRI WILLSON, DARI MANA SAJA KAMU HAH!"
"LUPA KALAU MASIH PUNYA MOMMY HAH!"
Ziva terlonjak kaget dan langsung duduk, saat mendengar suara teriakan Mommy nya.
"ZIVA KAMU DENGAR MOMMY TIDAK!"
Teriak Nyonya Mauren dari sebarang.
"Ada apa sih Mom, pagi-pagi udah berteriak," ucap Ziva, masih mengantuk.
"Ziva sudah berapa kali Mommy bilang, kalau malam jangan begadang," ucap Nyonya Mauren, kesal dengan kebiasaan Putri nya.
"Bukan begadang Mom, tapi pekerjaan Ziva sangat banyak. Hoam..." jawab Ziva, menguap.
Nyonya Mauren yang mendengar jawaban Putri nya, hanya bisa menghela nafas nya panjang.
"Jangan terlalu keras Sayang, pekerjaan bisa di lanjut ke keesokan hari nya," ucap Nyonya Mauren, lembut.
"Hem"
Gumam Ziva, tidak jelas.
"Ada apa Mommy telepon Ziva pagi-pagi begini?" tanya Ziva, melirik jam yang menunjukan pukul sembilan.
"Apanya yang pagi, ini udah siang Ziva," jawab Nyonya Mauren, berdecak kesal.
"Kamu sekarang mandi bersih-bersih, terus sarapan, satu jam lagi jed pribadi Daddy kamu sampai, kamu pulang hari ini!" lanjut Nyonya Mauren, tegas.
"APA!"
"Ziva gak mau Mom, pekerjaan Ziva di sini masih banyak," tolak Ziva, tidak setuju.
"Tidak ada penolakan, Ziva Putri Willson! Hari ini kamu pulang ke negara J!" ucap Nyonya Mauren, tidak mau di bantah.
"Tapi-"
Tuttt
Sambungan telepon itu terputus, Nyonya Mauren mematikan sambungan telpon nya tanpa memberi Putri nya berbicara.
"Sebenarnya ini ada apa sih, kenapa Mommy tiba-tiba nyuruh aku pulang," ucap Ziva mengacak-acak rambut nya frustasi.
Ziva sudah lima tahun tinggal di negara K, di adalah seorang desainer terkenal yang memiliki butik dengan puluhan cabang yang tersebar di beberapa negara.
Dengan helaan napas panjang, Ziva bangkit dari tempat tidur nya, melangkah menuju jendela besar apartemennya di pusat kota negara K, menatap deretan gedung pencakar langit yang selama lima tahun ini menjadi saksi bisu perjuangannya membangun bisnis fesyennya. Z-Style.
Ziva segera menghubungi asisten pribadinya, Rika.
Tuttt
📞Tersambung....
"Halo, selamat pagi Nona," ucap Rika, menjawab penggilan dari Ziva.
"Pagi," jawab Ziva, singkat.
"Rika, batalkan semua jadwalku untuk seminggu ke depan, aku harus pulang ke Negara J satu jam lagi," perintah Ziva dengan suara tegas nya.
"Tapi Nona, siang ini kita ada pertemuan dengan Tuan Miller dan Nona Citra, untuk fitting baju-"
"Handle semuanya, kirimkan laporan lewat email, saat ini aku sedang dalam panggilan darurat keluarga," potong Ziva, dingin.
"Baik, Nona," jawab Rika, tidak berani membantah.
Tut.
Setelah memutus panggilan, Ziva bergegas mandi dan berganti pakaian, dia memilih setelan blazer berwarna cream yang elegan namun santai, khas seorang desainer kelas atas.
Sambil merapikan koper kecil nya yang berisi barang-barang penting, otaknya terus berputar mencari alasan di balik kepulangan mendadak ini.
"Apakah Daddy sakit? Tidak mungkin, suara Mommy terdengar sangat bugar dan penuh energi saat berteriak tadi," batin Ziva, mengerut kan kening nya.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi di negara J?" batin Ziva, menghela nafas nya panjang.
Ting
Satu pesan masuk di handphone Ziva, ternyata itu dari bodyguard Daddy nya, yang ditugaskan untuk menjemput diri nya.
"Nona, mobil sudah siap, saat ini saya di depan."
Setelah membaca pesan singkat itu, Ziva bergegas keluar dari apartemen nya, turun ke bawah lobby apartment.
Ting
Ziva keluar dari lift, dengan mendorong koper kecil nya, dengan langkah anggun dia bejalan keluar, menuju mobil jemputan nya.
"Nona, silahkan masuk," ucap supir yang menjemput Ziva.
"Hem"
Ziva masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang di bangku penumpang.
"Jalan sekarang," ucap Ziva, dingin.
"Baik Nona," jawab supir, mulai menjalankan mobil nya.
Mobil hitam mewah yang menjemputnya itu, melaju dengan kecepatan sedang, menuju bandara khusus, di sana, pesawat pribadi milik keluarga Willson sudah menunggu dengan mesin yang mulai menderu.
Saat melangkah masuk ke dalam pesawat, Ziva disambut oleh pramugari pribadi keluarga mereka.
"Selamat datang kembali, Nona Muda. Nyonya Mauren berpesan agar Nona beristirahat selama penerbangan, karena ada acara penting nanti malam," ucap pramugari itu, tersenyum sopan.
"Acara penting?" gumam Ziva mengernyitkan dahi nya.
Memikirkan apa alasan dari kepulangan nya ini membuat kepala Ziva berdenyut sakit, dia menyandarkan punggungnya di kursi first class yang nyaman, dengan perasaan gelisah mulai merayapi hatinya.
Di Negara J, keluarga Willson bukan sekadar keluarga kaya, mereka adalah pilar ekonomi, Tuan Justin Willson CEO perusahaan Willson Gru, perusahaan yang menduduki peringkat kedua, terbesar di dunia.
Setelah menempuh perjalanan udara selama beberapa jam, jet pribadi keluarga Willson mendarat dengan mulus di bandara internasional Negara J.
Ziva melangkah turun dari pesawat dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.
Angin sepoi-sepoi Negara J menyambutnya, membawa aroma yang sangat familiar namun terasa asing setelah lima tahun.
Karena ingin menghirup udara segar sebelum masuk ke mobil jemputan, Ziva meminta pengawalnya menunggu di lobi utama sementara dia berjalan kaki sedikit menjauh dari area privat.
Saat Ziva sedang sibuk membalas pesan masuk dari Rika di ponselnya.
BHUK
Ziva yang tidak memperhatikan jalan, menabrak sesuatu yang terasa keras, sekeras dinding beton, tubuh mungilnya terhuyung ke belakang, dan ponsel mahalnya terlepas dari tangan, meluncur bebas menuju lantai marmer.
"Ah!" pekik Ziva refleks berteriak.
Sebelum ponsel itu menyentuh lantai, sebuah tangan dengan gerakan kilat menangkapnya, membuat Ziva terpaku.
Ziva mendongak kan kepala nya, di hadapannya berdiri seorang pria jangkung dengan setelan jas hitam yang sangat rapi.
Pria yang di tabrak ZIva itu memiliki garis rahang yang tegas, rambut hitam yang ditata sedikit berantakan namun elegan, dan mata tajam sedingin es yang seolah bisa menembus jiwa siapa pun yang menatapnya.
Pria itu menyodorkan ponsel Ziva tanpa ekspresi.
"Lain kali, perhatikan jalanmu, Nona, tidak semua orang punya waktu untuk meladeni drama mu," ucap pria itu dengan suara berat dan dingin.
Ziva yang awalnya merasa bersalah, langsung tersulut emosinya mendengar nada bicara pria tersebut, dengan cepat, Ziva merebut ponselnya kembali.
"Hey, aku memang salah karena tidak melihat jalan, tapi Anda juga tidak perlu se angkuh itu. Lagipula, Anda berdiri tepat di jalur pejalan kaki!" jawab Ziva sengit, harga dirinya sebagai desainer ternama terusik.
Pria itu menaikkan satu alisnya, sedikit terkejut ada wanita yang berani menjawabnya dengan nada seperti itu, karena biasanya wanita yang bertemu dengan nya akan langsung menjerit dan bertingkah murahan.
Pria itu menatap Ziva dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang menilai kualitas barang.
"Mau ku colok mata mu hah!" semprot Ziva, berang.
Tuan, semua nya sudah siap," lapor pria berjas hitam.
"Hem"
Pria yang tadi di tabrak oleh Ziva itu berlalu pergi dari sana, tanpa sepatah kata pun.
"Cih dasar kanebo," ucap ZIva, menggerutu.
Setelah itu Ziva melanjutkan langkahnya, berjalan ke arah mobil jemputan nya yang sudah menunggu.
"Silahkan Nona," ucap supir yang menjemput Ziva.
Ziva masuk ke dalam mobil jemputan nya dan duduk di kursi kemudi.
"Jalan sekarang Nona?" tanya Supir nya, sopan.
"Iya"
Jawab ZIva mengangguk kan kepala nya.
Mobil mewah berwarna hitam mengkilap itu pergi dari area parkir khusus, yang ada di bandara negara J.
Selama perjalanan Ziva hanya diam, melihat ke luar jendela, melihat jalanan perkotaan yang padat dan gedung-gedung tinggi.
"Entah kenapa tiba-tiba perasaan ku tidak enak, seperti akan ada sesuatu hal besar yang akan mengubah kehidupan tenang ku selama ini," gumam Ziva, melamun.
"Pak nanti mampir ke toko kue langganan Mommy," ucap Ziva, tanpa mengalihkan pandangan nya dari luar jendela.
"Baik Non," jawab supir, Ziva.
Mobil mewah itu berhenti di depan sebuah toko kue bergaya klasik yang ada di pusat kota.
Ziva turun dari mobil nya dengan anggun, langkahnya mantap memasuki toko yang beraroma mentega dan vanila itu.
Ting!
"Selamat datang, Nona Ziva! Senang melihat Anda kembali," sapa pelayan toko yang mengenali wajah desainer ternama itu.
"Terima kasih. Aku butuh Classic Red Velvet dengan extra cheese frosting, satu loyang besar," ucap Ziva sambil menunjuk ke arah etalase.
"Baik Nona, mohon di tunggu sebentar," jawab pelayan itu, melayani dengan sopan.
Sambil menunggu pesanan nya di siapkan, Ziva duduk di salah satu kursi yang ada di sana, membuka ponselnya, mengecek file pekerjaan yang di kirim oleh Rika.
"Nona Ziva, ini pesanan Anda," ucap pelayan tadi, menyerah kan pesanan Ziva.
"Terimakasih,"ucap Ziva, mengambil pesanan nya.
Ziva menyodorkan beberapa lembar uang, dengan jumlah yang melebihi harga pesanan nya.
"Ini terlalu banyak, Nona," ucap pelayan itu, sopan.
"Ambillah, itu tip buat kamu," jawab Ziva, keluar dari toko itu.
Pelayan yang tadi melayani Ziva, masih mematung tidak percaya, tip yang di berikan Ziva nominalnya lebih besar dari harga kue yang di beli Ziva.
"Ini gaji ku dua bulan full," gumam Pelayan itu, masih tidak percaya.
Setelah menenangkan detak jantung nya yang berdegup kencang, karena mendapat kan Costumer yang sangat baik hati, pelayan itu kembali bekerja, melayani pembeli yang lain.
Sementara mobil Ziva sudah melaju jauh, dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota.
Membutuh waktu dua puluh menit, untuk sampai di kawasan elit di mana kediaman megah keluarga Willson berdiri,
Gerbang besi raksasa terbuka otomatis, menyambut kepulangan sang putri bungsu.
Baru saja Ziva menginjakkan kaki di teras rumah, pintu besar sudah terbuka lebar.
Brak
"ZIVA! SAYANGKU!"
Teriak Nyonya Mauren yang langsung berlari memeluk putrinya dengan erat.
Grep
"Mom, sesak... pelan-pelan," keluh Ziva, namun dia tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
Nyatanya walaupun mommy nya sangat cerewet, tapi Ziva sangat merindukan wanita yang sudah melahirkan nya itu.
"Mommy rindu sekali! Lihatlah, kamu makin kurus. Pasti di sana cuma makan roti dan kerja terus, kan?" ucap Nyonya Mauren, menodong Ziva dengan segudang pertanyaan.
Nyonya Mauren memegang pipi Ziva, memeriksanya dengan teliti.
"Oh sayangku, setelah ini kamu harus makan banyak Sayang, mommy udah masak makanan favorit kamu," ucap Nyonya Mauren, penuh kasih sayang.
"Terimakasih, Mom. Oh iya, ini kue kesukaan Mommy," jawab Ziva menyerahkan kotak kue tersebut.
Melihat kue favorit nya, mata Nyonya Mauren langsung berbinar.
"Wah, kamu memang paling mengerti Mommy. Ayo masuk, Daddy-mu sudah menunggu dari tadi," ucap Nyonya Mauren, membawa Ziva masuk.
"Kalian tolong bawa koper putri ku, ke kamar nya," ucap Nyonya Mauren, ke salah satu pelayan.
"Baik Nyonya."
Ziva dan Nyonya Mauren melangkah ke dalam rumah yang interiornya sangat mewah.
Di ruang keluarga, Tuan Justin Willson, sedang duduk membaca koran bisnis di tabletnya.
"Ehem."
Ziva berdehem kecil, untuk menyadarkan Daddy nya.
Tuan Justin mendongak, lalu meletakkan tabletnya, melihat siapa yang datang, senyum tipis namun penuh wibawa muncul di wajahnya.
"Akhirnya, burung kecil Daddy pulang ke sarangnya," ucap Tuan Justin, membuka ke dua tangan nya.
Ziva mendekat lalu memeluk Daddy-nya.
Cup
"Senang melihat mu akhirnya pulang, Princess," ucap Tuan Justin, mencium pucuk kepala Ziva.
"Ziva dipaksa pulang, Dad, padahal koleksi musim gugur ku belum selesai," jawab Ziva, melepas kan pelukan nya dengan wajah cemberut.
"Urusan itu bisa dikerjakan di sini, Sayang. Daddy sudah siapkan ruangan khusus untukmu kalau kamu mau bekerja," jawab Tuan Justin, mengusap lembut rambut Putri nya.
Ziva dengan manja menyenderkan kepalanya di bahu Daddy nya, jujur saja walaupun Ziva suka tinggal di negara K, tapi dai juga sangat merindukan kedua orang tua nya, apalagi Daddy nya yang selalu memanjakan diri nya.
Dunia luar mengenal Tuan Justin Willson sebagai orang yang dingin dan tidak berperasaan, tapi bagi Ziva, Daddy nya itu adalah pahlawan nya, cinta pertama nya.
Nyonya Mauren bergabung, dia duduk di samping suaminya, suasana yang tadinya hangat tiba-tiba terasa sedikit serius.
"Jadi, Mom, Dad, sebenarnya ini ada apa? Kenapa menyuruh Ziva pulang, mendadak sekali?" tanya Ziva menegak kan tubuhnya.
Nyonya Mauren dan Tuan Justin, tidak langsung menjawab pertanyaan Putri kecil mereka, mereka berdua hanya saling melirik, dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Tidak ada Sayang, Daddy hanya rindu sama kamu," jawab Tuan Justin, tersenyum kecil.
"Bohong, pasti ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari Ziva kan?" tuding Ziva, memicing kan matanya curiga.
Nyonya Mauren mengelus lembut rambut Ziva, dia tahu Putri nya ini sangat keras, tapi di balik sifat keras nya, Ziva adalah gadis yang memiliki hati yang baik dan luas.
"Nanti malam ada acara makan malam sama teman Mommy dan Daddy, kamu ikut," ucap Nyonya Mauren, tanpa menjawab pertanyaan Putri nya.
"Kenapa harus ikut? Biasanya kalian pergi bedua," tanya Ziva, semakin curiga.
"Udah sana kamu istirahat, nanti malam kamu juga tahu," jawab Nyonya Mauren, tersenyum kecil.
"Dan jangan lupa nanti malam, kamu dandan yang cantik, jangan pakai baju kerja yang membosankan itu," ucap Nyonya Mauren, melihat pakaian Ziva.
"Mom, ini blazer desainer!" protes Ziva, tidak terima.
"Pokoknya nanti malam harus spesial! Acara makan malam ini sangat penting, karena mommy dan Daddy sudah lama tidak bertemu dengan mereka," ucap Nyonya Mauren, tanpa mempedulikan gerutuan anaknya.
"Ziva, kamu dengar Mommy mu, kan?" tanya Tuan Justin memastikan.
"Dengar, Dad," jawab Ziva dingin, sambil bangkit berdiri menuju kamarnya.
"Yang penting kamu datang, Sayang! Jam tujuh malam ya!" teriak Nyonya Mauren dari ruang tengah.
Ziva hanya melambaikan tangan tanpa menoleh, masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai atas.
Begitu pintu lift tertutup, Ziva menyandarkan punggungnya dengan helaan napas berat.
Insting bisnisnya yang tajam mengatakan bahwa makan malam ini bukan sekadar reuni teman lama. Ada sesuatu yang lebih besar.
Ceklekk
Ziva melangkah masuk ke kamarnya yang luas, semuanya masih sama, tidak ada yang berubah sejak dia pindah lima tahun lalu.
Wangi lavender yang menenangkan menyeruak di indra penciumannya.
"Penting? Spesial? Kenapa perasaanku tidak enak ya?" gumam Ziva sambil membuka lemari pakaian raksasa miliknya.
Ziva dengan malas menatap deretan gaun yang dia rancang sendiri, jarinya berhenti pada sebuah gaun silk berwarna midnight blue dengan potongan backless yang elegan namun tetap menunjukkan otoritasnya sebagai seorang wanita karier.
"Jika mereka merencanakan sesuatu, setidaknya aku harus terlihat seperti orang yang sulit ditaklukkan," batin Ziva dengan senyum miring.
Setelah memilih pakaian yang pas untuk nanti malam, Ziva merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar nya.
"Aku lupa belum kabarin mereka," ucap Ziva, bangkit lagi.
Ziva mengambil handphonenya yang ada di dalam tasnya, dan mengirim pesan singkat pada sahabat-sahabat nya.
"I'm back."
sent✓✓
Dret
Dret
Dret
Tidak sampai lima menit, setelah pesan terkirim, ada panggilan masuk di handphone Ziva.
Ziva mengangkat panggilan video call grup dari sahabat-sahabat nya.
"OMG ZIVA! LO BENERAN UDAH PULANG KE NEGARA J!"
Teriak seorang gadis di layar telepon, Ziva.
"Vio jangan berteriak seperti itu, lihat itu wajah Ziva udah masam," ucap gadis yang satu nya lagi.
Mereka sedang melakukan panggilan Video Call yang isinya tiga orang.
"Ya habisnya kan aku kaget, tiba-tiba dapet notif dari ibu desainer ini," jawab Viola, tidak mau salah.
"Apa kabar Zi?" tanya Tiara, sahabat Ziva paling kalem.
"Baik. Kalian berdua gimana?" jawab Ziva singkat.
"Kita juga baik kok," jawab Viola, di angguki Tiara.
"Btw Zi, kenapa kamu tiba-tiba pulang, bukan nya sebentar lagi kamu akan launching koleksi musim gugur?" tanya Viola, yang merupakan salah satu BA di Z Style.
"Aku juga gak tahu guys, tadi pagi tiba-tiba Mommy nyuruh aku pulang dan udah kirim jet pribadi untuk jemput aku," jawab Ziva, menggeleng kan kepala nya.
"Mungkin Tante Mauren kangen sama kamu Zi, kamu juga udah lama banget di negara K," ucap Tiara, sahabat Ziva yang berprofesi sebagai dokter.
"Bisa jadi," sahut Viola, setuju.
"Mumpung Ziva lagi di sini gimana kalau besok kita hang out bareng!" seru Viola semangat.
"Boleh," jawab Ziva, mengangguk setuju.
"Kayaknya aku gak bisa deh kalau besok, aku ada jadwal operasi besok jam delapan," ucap Tiara, yang merupakan seorang dokter.
"Karena kita sahabat yang baik hati dan tidak sombong, kita tungguin sampe kamu selesai operasi nya. Iya gak Zi?" ucap Viola, cerewet.
"Iya, kita bisa pergi besok siang," jawab Ziva, mengangguk kan kepala nya.
"Oke setuju! Besok kita shoping bareng guys! Aku udah gak sabar, terakhir kali kita shoping bertiga waktu kita masih kuliah dulu!" teriak Viola, tersenyum lebar.
"Jadi kangen jaman kita kuliah dulu," lanjut Viola, dramatis.
"Kangen bikin onar nya maksud kamu," ucap Tiara, sinis.
"Itu dia. Hahahaaa!" jawab Viola, tertawa.
Ziva menarik garis senyum tipis nya, dia ingat dulu waktu masa-masa kuliah, mereka bertiga sering gak masuk kelas, untuk mereka memiliki otak yang genius, walaupun jarang masuk kelas, mereka mendapatkan nilai yang sempurna.
Tiga sahabat yang sedari SD selalu bersama, dan sekarang mereka bertiga sudah sukses semua dengan karier mereka masing-masing.
Ziva menjadi seorang desainer yang terkenal, Tiara menjadi dokter dan Viola menjadi model yang sudah go internasional.
"Sahabat mu itu Zi," ucap Tiara, tertawa kecil.
"Sahabat mu juga," jawab Ziva, juga tertawa.
Viola yang sadar sedang di ejek oleh kedua sahabat nya, mengerucut kan bibir nya.
"Kalian jahat, aku ngambek," ucap Viola, melipat kedua tangannya.
Ziva dan Tiara saling pandang, sebelum akhirnya mereka berdua kembali tertawa bersama.
"Hahahaha!"
Sore itu ketiga sahabat itu sedang bercanda gurau lewat panggil video call, banyak yang mereka ceritakan dari hal-hal random bahkan hal yang gak penting.
Setelah hampir satu jam tertawa dan bertukar cerita, Ziva akhirnya memutuskan sambungan video call tersebut karena hari mulai beranjak senja, dia harus segera bersiap untuk makan malam misterius yang direncanakan Mommy dan Daddy nya.
"Ingat ya, besok jam satu siang di tempat biasa!" teriak Viola sebelum layar ponsel menjadi hitam.
Ziva terkekeh pelan, lalu beranjak menuju kamar mandi nya, untuk membersihkan tubuh nya, mengingat Ziva memang belum membersihkan diri nya, seharian ini.
Dua puluh menit kemudian, Ziva keluar dari kamar mandi nya, menggunakan kimono dan handuk yang membungkus rambut nya.
Ziva berjalan menuju meja riasnya, dia memoles wajahnya dengan makeup yang tidak terlalu tebal namun memberikan kesan tegas.
Lipstik berwarna nude kecoklatan melengkapi penampilan Ziva malam ini, setelah itu Ziva mengerikan rambut nya dan di Curly.
Setelah urusan make up dan hair do nya selesai, Ziva mengenakan gaun midnight blue pilihannya, pantulan di cermin menunjukkan sosok wanita yang sangat berbeda dengan gadis remaja lima tahun lalu.
Di dalam cermin itu adalah Ziva Putri Willson, pemilik imperium fesyen.
"Sempurna," gumam Ziva, tersenyum puas.
Kalau untuk penampilan, tidak perlu diragukan lagi, Nona desainer itu memang jagoan nya.
Tepat pukul tujuh malam, Ziva turun ke lantai bawah, karena tidak ingin mendengar Omelan Mommy nya lagi.
Di sana, Daddy dan Mommy-nya sudah menunggu, tampil sangat serasi.
Tuan Justin mengenakan setelan jas abu-abu gelap.
Sementara Nyonya Mauren terlihat sangat anggun dengan gaun berwarna senada dengan gaun Ziva.
"Putriku...kamu cantik sekali malam ini," puji Tuan Justin sambil memberikan lengannya untuk digandeng Ziva.
"Terima kasih, Dad. Jadi, kita akan makan malam di mana?" tanya Ziva, mengapit lengan Daddy nya.
"Restoran The Queen, teman Daddy sudah memesan tempat di sana," jawab Tuan Justin.
Tuan Justin di apit oleh dua perempuan kesayangan nya, berjalan keluar menuju mobil mereka, yang sudah terparkir di depan mansion, menunggu sang majikan.
"Mommy sebenarnya ini ada apa si?" tanya Ziva, setelah duduk di adalah mobil.
"Udah, nanti kamu juga tahu sendiri," jawab Nyonya Mauren, tersenyum misterius.
"Menyebalkan," gerutu Ziva, melihat ke luar jendela mobil.
Tuan Justin dan Nyonya Mauren, saling pandang dan sama-sama tersenyum kecil, melihat tingkah putri mereka.
Perjalanan menuju restoran hanya memakan waktu lima belas menit.
Restoran mewah itu terletak di lantai teratas salah satu gedung pencakar langit milik keluarga Willson.
Ting
Saat pintu lift terbuka, seorang pelayan langsung mengarahkan mereka ke area VIP yang sudah dipesan secara privat.
"Ayo Sayang," ucap Nyonya Mauren, mengandeng tangan Ziva.
"Hem"
Gumam Ziva, terpaksa mengikuti Mommy nya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!