Indonesia
NovelToon NovelToon

MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

BATER NYAWA DIATAS KERTAS.

"Berapa kali gue bilang, jangan pernah lo sentuh barang orang lain kalau nggak mau tangan lo berakhir di tukang urut?"

Suara cempreng namun penuh otoritas itu menggema di belakang gudang SMA Garuda Bangsa. Nayla Safira Hanin berdiri dengan kedua kaki yang terbuka lebar, membentuk kuda-kuda kokoh. Hijab putihnya yang melilit rapi sedikit berantakan karena ia baru saja mendaratkan tendangan sabit ke paha seorang preman sekolah yang badannya dua kali lipat darinya.

"Nay, ampun! Sumpah, cuma pinjem!" rintih siswa itu sambil terseret mundur, memegangi pahanya yang terasa seperti dihantam balok beton.

Nayla menyeringai tengil, memutar-mutar kunci motor di telunjuknya dengan gaya meremehkan. "Pinjem itu kalau yang punya tahu, kampret. Kalau diam-diam, itu namanya rampok kelas teri. Sekarang, balikin buku catatan dia atau gue bikin lo nggak bisa jalan ke kantin sebulan?"

Siswa itu lari terbirit-birit setelah melempar buku yang ia curi. Nayla menghela napas, merapikan sedikit ujung jilbabnya yang bergeser.

"Gila lo, Nay. Cantik-cantik tapi kalau udah keluar jurus bela diri, preman pasar pun lewat," puji Farah, sahabatnya, sambil menyodorkan botol minum. "Tapi lo nggak takut dilaporin ke guru? Tadi itu brutal, lho."

Nayla menenggak airnya dengan rakus, lalu menyeka bibirnya dengan punggung tangan, sebuah gerakan yang sangat tidak feminin. "Guru mana yang berani laporin aset emas sekolah? Gue baru minggu lalu sumbang piala olimpiade matematika. Selama gue benar, dunia ini cuma panggung sirkus buat gue, Far." Ia tertawa kecil, menunjukkan sisi tengilnya yang tak kenal takut. Baginya, hidup adalah tentang kemenangan—baik di atas kertas ujian maupun di atas aspal jalanan.

Namun, kepercayaan diri Nayla menguap saat ia tiba di depan rumahnya sore itu. Sebuah sedan mewah hitam terparkir kaku di depan teras rumahnya yang catnya sudah mulai mengelupas. Nayla mengernyit. Firasatnya memberikan alarm bahaya yang jauh lebih besar daripada sekadar tawuran antar sekolah.

Begitu ia melangkah masuk, ia melihat Ayahnya, Ibram Hanin, duduk bersimpuh di atas karpet ruang tamu. Kepalanya menunduk dalam, bahunya gemetar hebat seolah sedang memikul beban ribuan ton. Di hadapannya, duduk sepasang suami istri lanjut usia yang penampilannya sangat kontras dengan kesederhanaan rumah Nayla. Mereka adalah orang tua dari pengusaha besar, keluarga Hasyim.

"Nayla, kau sudah pulang?" suara Ibram terdengar parau, nyaris berbisik.

Wanita tua di depan Ibram, yang mengenakan perhiasan mutiara yang sangat mahal, menoleh ke arah Nayla. Matanya tajam, mengamati Nayla dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Jadi, ini gadisnya?"

"Nayla, duduklah," pinta Ibram dengan nada memohon yang membuat hati Nayla tersayat.

Nayla duduk di samping Ayahnya, tangannya segera menggenggam jemari Ayahnya yang terasa dingin. "Ada apa ini, Yah? Siapa mereka?"

Pria tua di samping wanita itu, Hendra Hasyim, berdehem. Suaranya berat dan penuh wibawa. "Satu tahun lalu, ayahmu mengendarai mobil dengan kurang waspada di dekat taman kota. Putri kecil kami, Adiva, berlari ke jalan. Menantu kami istri Adnan melompat untuk menyelamatkan nyawanya. Adiva selamat, tapi ibu dari cucu kami tewas di tempat di bawah roda mobil ayahmu."

Nayla mematung. Wajahnya pucat pasi. Ia menatap ayahnya dengan rasa tidak percaya. "Yah... ini benar?"

Ibram hanya bisa menangis sesenggukan. "Ayah tidak sengaja, Nay. Semuanya begitu cepat... Ayah sangat merasa bersalah..."

"Kami memegang semua bukti kecelakaan itu," sela Hartati dengan nada yang tidak terbantahkan. "Satu tahun kami menunda tuntutan ini karena putra kami, Adnan Hasyim, sempat melarang. Tapi kami tidak bisa tinggal diam melihat Adnan menjadi pria dingin yang tak lagi peduli pada dirinya sendiri, dan melihat cucu kami, Adiva, trauma hingga tak mau bicara pada siapapun."

Nayla merasakan firasat buruk menyergapnya. "Lalu, apa hubungannya dengan saya?"

Hendra mencondongkan tubuhnya. "Adnan butuh seseorang yang bisa mengurus rumah tangganya dan terutama, seseorang yang cukup kuat untuk melindungi serta mendidik Adiva. Kami mencari tahu tentangmu, Nayla. Kamu cerdas, tangguh, dan punya nyali. Kami ingin kau menggantikan posisi ibu bagi Adiva."

"Maksud Anda... saya harus menikah dengan putra Anda?!" seru Nayla, suaranya naik satu oktaf karena terkejut. "Saya masih delapan belas tahun! Saya masih sekolah! Anak Anda itu... dia seorang duda!"

"Pilihannya sederhana, Nayla," Hartati meletakkan sebuah map hitam di atas meja. "Kau setuju menikah dengan Adnan minggu depan, atau kami akan menyerahkan berkas ini ke kepolisian sore ini juga. Dengan bukti yang kami miliki, ayahmu bisa dipenjara minimal sepuluh tahun karena kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa."

"Tolong... jangan penjara saya," rintih Ibram, ia hampir hendak mencium kaki Nyonya Hasyim jika saja Nayla tidak menahannya.

"Yah, jangan!" Nayla menarik ayahnya kembali. Ia menatap kedua orang tua itu dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh kemarahan yang tertahan. "Ini pemerasan! Kalian tidak bisa memaksakan pernikahan karena sebuah kecelakaan!"

"Ini bukan pemerasan, ini barter nyawa," balas Hartati dingin. "Adnan butuh seseorang yang bisa 'menjaga' rumah. Kami tahu kamu jago berkelahi. Gunakan bakat premanmu itu untuk melindungi cucu kami dari ancaman luar. Sebagai imbalannya, ayahmu bebas, dan seluruh biaya hidupmu akan kami tanggung."

Nayla menatap ayahnya yang tampak begitu rapuh. Ibram Hanin adalah segalanya bagi Nayla. Sejak ibunya meninggal, ayahnya adalah satu-satunya orang yang memeluknya saat ia menangis dan menyemangatinya saat ia bertanding. Ia tidak sanggup membayangkan pria tua itu harus tidur di lantai penjara yang dingin hanya karena satu kesalahan fatal di masa lalu.

Nayla mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Sebagai petarung, ia selalu diajarkan bahwa menyerah adalah penghinaan. Namun, kali ini, lawan yang dihadapinya bukan manusia yang bisa dijatuhkan dengan teknik double leg takedown. Lawannya adalah hukum dan rasa bersalah.

"Oke," ucap Nayla, suaranya bergetar namun matanya tajam. "Saya setuju. Saya akan nikah sama duda itu."

"Nayla, jangan, Nak! Jangan hancurkan masa depanmu!" Ibram berteriak histeris, memeluk kaki putrinya.

Nayla mengusap air mata yang luruh, lalu tersenyum tengil—senyum paling getir yang pernah ia tunjukkan. "Tenang aja, Yah. Nayla kan jagoan. Kalau si Adnan itu macam-macam, Nayla tinggal banting dia ke lantai. Lagian, lumayan kan punya suami kaya? Nayla nggak perlu pusing mikirin uang saku lagi."

Hartati berdiri, tampak puas. "Pilihan yang bijaksana. Persiapkan dirimu. Minggu depan pernikahan akan dilakukan secara tertutup. Dan ingat, Nayla... jangan coba-coba lari, atau kau akan tahu bagaimana rasanya dihancurkan oleh kekuatan uang keluarga Hasyim."

Begitu kedua orang tua itu pergi dengan langkah angkuhnya, pertahanan Nayla runtuh. Ia jatuh terduduk di lantai, memeluk tas sekolahnya yang masih berisi buku olimpiade matematika. Cita-citanya untuk kuliah di universitas ternama seolah meledak menjadi serpihan tak berarti.

"Satu duda kaku dan satu bocah trauma," gumam Nayla pada dirinya sendiri. Ia menyeka air matanya dengan kasar. "Dengar ya, dunia. Kalau kalian mau main-main sama Nayla Safira, kalian salah pilih lawan. Gue bakal jadi istri sekaligus bodyguard yang bakal bikin rumah kalian nggak akan pernah sama lagi."

Malam itu, di bawah temaram lampu kamar, Nayla menatap foto Adnan Hasyim yang dikirimkan melalui pesan singkat oleh asisten keluarga tersebut. Wajah pria itu sangat tampan, namun matanya kosong, sedingin es kutub.

"Siap-siap ya, Tuan Adnan," bisik Nayla sambil mengepalkan tangan. "Gue bukan cuma bakal tebus dosa Ayah, tapi gue bakal bikin lo sadar kalau punya istri 'preman' itu adalah mimpi buruk sekaligus keberuntungan terbesar dalam hidup lo."

AKAD NIKAH.

Hari yang seharusnya penuh haru itu akhirnya tiba. Di sebuah mansion mewah milik keluarga Hasyim, sebuah tenda dekorasi minimalis namun elegan telah berdiri. Suasana sangat kontras: keluarga besar Hasyim tampak tegang seperti sedang menghadiri pemakaman, sementara beberapa tamu undangan menatap iba pada sosok gadis kecil yang duduk di sudut ruangan dengan kebaya putih yang nampak terlalu dewasa untuk usianya.

Nayla Safira Hanin. Di mata para tamu, dia adalah domba kurban. Seorang siswi SMA yang masa depannya direnggut demi menebus dosa ayahnya. Mereka membayangkan Nayla akan datang dengan mata sembab, hidung merah karena flu emosional, dan mungkin pingsan saat menjabat tangan penghulu.

Namun, dugaan mereka meleset total.

"Duh, ini sanggul apa antena parabola sih? Berat amat, berasa bawa beban hidup se-kecamatan di atas kepala," gerutu Nayla pelan sambil mencoba menyeimbangkan kepalanya yang terbungkus hijab di depan cermin besar kamar rias.

"Nayla, jaga sikapmu. Ini hari pernikahanmu," bisik Hartati yang masuk ke kamar dengan wajah kaku.

Nayla menoleh, lalu menyeringai tengil. "Tenang, Tante, eh, Mama Mertua. Saya cuma lagi pemanasan leher. Biar nanti pas nunduk minta restu nggak kena saraf kejepit. Kan nggak lucu kalau pengantinnya stuck posisinya kayak ruku' terus."

Hartati hanya bisa mengelus dada, bertanya-tanya apakah ia baru saja membawa menantu atau justru bibit penyakit darah tinggi ke rumahnya.

Di ruang utama, Adnan Hasyim duduk di depan meja akad dengan wajah yang lebih datar dari papan cucian. Baginya, pernikahan ini hanyalah transaksi bisnis untuk membahagiakan orang tuanya dan memberikan pengasuh "premium" bagi Adiva. Ia sudah menyiapkan mental untuk melihat pengantin wanita yang menangis tersedu-sedu atau mungkin menatapnya dengan penuh kebencian.

"Pengantin wanita dipersilakan memasuki ruangan," ucap pembawa acara dengan nada khidmat.

Pintu terbuka. Nayla melangkah perlahan. Tapi bukannya berjalan dengan langkah gemulai ala putri keraton, ia berjalan dengan langkah yang sedikit terlalu tegap, hampir seperti tentara yang sedang pawai, efek dari kebiasaannya memakai sepatu kets daripada hak tinggi sepuluh senti yang kini menyiksa kakinya.

Begitu sampai di samping Adnan, Nayla tidak langsung duduk. Ia justru berhenti sejenak, memiringkan kepalanya, dan memindai wajah Adnan dari jarak yang sangat dekat.

"Wah..." gumam Nayla. Suaranya tidak pelan, bahkan cukup jelas tertangkap mikrofon yang sudah menyala di depan penghulu.

Adnan mengernyit, melirik tajam lewat sudut matanya. "Apa?" desisnya dingin.

Nayla bukannya takut, malah nyengir lebar sampai gigi gingsulnya terlihat. "Aslinya Bapak ganteng juga ya? Di foto kemarin kayaknya agak kusem, apa Bapak kurang tidur karena mikirin cicilan atau mikirin saya?"

Gerrr!

Suasana yang tadinya senyap seperti kuburan langsung pecah oleh tawa tertahan dari para undangan. Ayah Nayla, Ibram, yang tadinya sudah menyiapkan tisu untuk menangis, malah jadi bengong memegangi hidungnya.

"Nayla! Jaga bicara kamu!" bisik Hendra Hasyim dari barisan depan, mukanya merah padam antara malu dan ingin tertawa.

"Eh, maaf, Pak Mertua. Habisnya, Pak Adnan ini serius banget mukanya, kayak lagi mau baca teks proklamasi. Santai dong, Pak. Saya nggak bakal gigit kok, paling cuma saya banting kalau Bapak nakal," sahut Nayla tanpa dosa sambil akhirnya duduk bersila dengan gaya yang tetap saja kurang anggun.

Adnan menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesabarannya yang mulai terkikis bahkan sebelum ijab qobul dimulai. "Bisa kita mulai sekarang?" tanya Adnan pada penghulu dengan suara sedingin es.

"B-bisa, Pak," jawab penghulu yang sejak tadi berusaha menahan senyum.

Prosesi dimulai. Saat Adnan menjabat tangan Ibram Hanin dan mengucapkan kalimat ijab qobul dengan satu tarikan napas yang sangat tegas dan lancar, suasana sempat kembali haru. Namun, ketenangan itu hanya bertahan lima detik.

"Gimana, para saksi? Sah?" tanya penghulu.

"Sah! Sah banget! Mana maharnya? Mau saya cek dulu asli apa nggak emasnya," celetuk Nayla semangat.

Setelah acara doa selesai, tibalah saatnya prosesi sungkeman dan mencium tangan suami. Adnan berdiri, tubuhnya yang tinggi tegap membuat Nayla yang mungil harus mendongak jauh ke atas.

Adnan mengulurkan tangannya dengan kaku, menunggu Nayla mencium punggung tangannya sebagai tanda bakti. Nayla meraih tangan itu, tapi bukannya langsung menciumnya, ia malah mengamati telapak tangan Adnan.

"Wah.. Garis tangannya bagus, Pak. Tapi kok kayaknya Bapak jarang kerja keras ya? Tangannya halus banget, beda sama tangan saya yang banyak kapalan gara-gara sering gelantungan di pagar sekolah," ujar Nayla sambil membolak-balik tangan Adnan seperti sedang melihat barang dagangan di pasar loak.

"Cepat cium tangan saya, atau saya batalkan maharnya sekarang juga," ancam Adnan dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh Nayla.

Nayla langsung sigap mencium tangan Adnan dengan khidmat, selama dua detik, ebelum kemudian ia membisikkan sesuatu yang membuat Adnan hampir tersedak ludahnya sendiri.

"Tenang, Pak Suami. Mulai hari ini, keselamatan Bapak aman di tangan saya. Kalau ada pelakor atau musuh bisnis yang macam-macam, kasih tahu saya. Biar saya flying kick ginjalnya sampai pindah ke lambung."

Adnan hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. Ia merasa bukan sedang menikahi seorang istri, melainkan sedang menyewa jasa pengawal pribadi yang memiliki gangguan mental ringan.

Saat mereka harus berdiri berdampingan untuk sesi foto, seorang fotografer memberikan instruksi. "Ayo, Mas Adnan, rangkul pinggang Mbak Nayla. Mbak Nayla, sandarkan kepalanya di bahu Mas Adnan ya. Biar kelihatan mesra."

Adnan dengan enggan melingkarkan tangannya di pinggang Nayla. Saat tangan besar itu menyentuh pinggangnya, Nayla refleks melakukan gerakan bela diri; ia menangkap pergelangan tangan Adnan dan hampir memutarnya ke belakang (teknik wrist lock).

"Aduh! Apa yang kamu lakukan?!" pekik Adnan tertahan.

Nayla tersentak dan langsung melepaskan cengkeramannya. "Aduh, maaf, Pak! Refleks! Habisnya Anda pegang-pegang tanpa aba-aba, saya kira tadi ada copet mau ambil dompet saya di balik kebaya."

Para tamu kembali tertawa terpingkal-pingkal melihat Adnan yang mengelus pergelangan tangannya dengan wajah dongkol, sementara Nayla hanya nyengir tanpa dosa sambil merapikan kembali posisi fotonya.

Di sudut ruangan, Adiva kecil memperhatikan pemandangan itu. Untuk pertama kalinya dalam satu tahun, mata bocah itu tidak memancarkan ketakutan. Ada rasa penasaran yang besar saat melihat "ibu baru"-nya yang aneh, tengil, dan sangat berisik itu.

Nayla melihat Adiva. Ia mengedipkan satu matanya ke arah bocah itu sambil memberikan kode "V" dengan jarinya. "Sabar ya, Cil. Nanti kita bikin rumah ini kayak arena sirkus," bisik Nayla dalam hati dengan semangat yang tak kunjung padam.

Pesta memang belum berakhir, tapi bagi Adnan Hasyim, ini adalah awal dari hari-hari paling berisik dan penuh kejutan dalam hidupnya yang selama ini sunyi. Sedangkan bagi Nayla, ini hanyalah babak baru dari pertarungannya: Menaklukkan hati duda dingin dan menjaga rahasia dibalik hijabnya, satu tendangan dalam satu waktu.

PANGGILAN PERTAMA ADIVA.

"Kamar kamu di ujung lorong ini. Jangan pernah berani menyentuh gagang pintu kamar saya, apalagi masuk ke dalamnya," ucap Adnan dingin sambil menunjuk sebuah pintu kayu ek di sudut lantai dua.

Nayla, yang masih mengenakan sisa-sisa riasan pengantin yang mulai luntur, mengerutkan kening. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil melipat tangan di dada. "Lho, kok pisah ranjang, Pak? Bukannya di film-film yang saya tonton, kalau udah sah itu biasanya tidur satu kasur? Kan saya ini statusnya pengganti istri Anda."

Wajah Adnan seketika berubah merah padam. Matanya berkilat penuh amarah yang meluap-luap. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga Nayla bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari tubuh pria itu.

"Dengar baik-baik, anak kecil," desis Adnan dengan suara rendah yang mengancam. "Tidak ada yang bisa menggantikan posisi istriku. Tidak ada! Terutama bocah tengil seperti kamu yang masuk ke sini hanya karena tebusan dosa. Jadi jangan pernah bermimpi, apalagi berpikir untuk menggantikannya di tempat tidur itu!"

Bukannya gemetar ketakutan karena bentakan sang suami, Nayla justru menegakkan punggungnya. Dengan gerakan super cepat, ia melakukan posisi hormat bak tentara yang sedang melapor pada komandan.

"Siap, Bos! Laksanakan!" seru Nayla lantang.

Adnan baru saja hendak berbalik pergi saat Nayla memajukan tubuhnya. Gadis itu meletakkan kedua telapak tangannya di sisi mulut, seolah sedang membisikkan rahasia negara yang sangat krusial.

"Berarti... drama 'Istri Pengganti' ini nggak pakai adegan ranjang ya, Pak? Wah, alhamdulillah. Saya juga belum siap kalau harus gulat di kasur sama Bapak. Takutnya refleks saya keluar, terus Bapak saya banting sampai encok. Kan kasihan perusahaan kalau CEO-nya pakai kursi roda," bisik Nayla dengan kedipan mata yang sangat menyebalkan.

Adnan menepuk keningnya sendiri dengan keras. Ia tidak tahu apakah harus berteriak atau marah menghadapi makhluk di depannya ini. Tanpa sepatah kata pun, Adnan masuk ke kamarnya dan membanting pintu sekuat tenaga hingga pigura di dinding lorong bergetar.

BRAAAKKK!

"Galak banget sih, Es Balok! Awas ya kalau nanti kedinginan nyariin selimut hidup!" teriak Nayla ke arah pintu yang tertutup rapat. Ia kemudian melenggang masuk ke kamarnya sendiri dengan langkah santai, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja resmi menjadi istri seorang duda pemarah.

Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa sangat canggung. Adnan duduk dengan kemeja rapi, sementara Adiva kecil duduk diam di sampingnya, hanya mengaduk-aduk sereal tanpa nafsu makan. Nayla turun dengan seragam SMA-nya yang dikeluarkan, tas yang dicangklong satu bahu, dan kerudung yang dipasang agak asal.

"Pak, saya mau protes," buka Nayla tanpa basa-basi sambil menggebrak meja makan pelan.

Adnan tidak mendongak dari tabletnya. "Apa lagi?"

"Rumah Bapak ini jauh banget dari sekolah saya. Kalau saya harus bolak-balik naik angkot, bisa-bisa saya telat dan dihukum lari keliling lapangan. Reputasi saya sebagai juara umum bisa hancur," keluh Nayla.

"Saya sudah siapkan supir dan mobil untuk mengantarmu," jawab Adnan datar.

"Nggak mau! Bapak mau bikin saya jadi bahan gosip satu sekolah? 'Seorang siswi beasiswa diantar mobil mewah oleh om-om'? Nggak, makasih," tolak Nayla mentah-mentah. "Pokoknya saya minta dibelikan motor besar. Ninja kalau bisa, biar kalau saya telat, saya bisa ngebut kayak di sirkuit."

Adnan akhirnya mendongak, menatap Nayla dengan tatapan tidak percaya. "Motor besar? Kamu itu perempuan, Nayla."

"Ancaman saya cuma satu, Pak," Nayla mencondongkan tubuhnya ke meja makan. "Belikan motor, atau saya angkat kaki sekarang juga kembali ke rumah Ayah yang dekat sekolah. Urus aja anak Bapak sendiri."

Adnan menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya. "Dion," panggilnya pada sang asisten yang berdiri tak jauh dari sana. "Belikan dia motor. Hari ini juga."

Nayla bersorak girang. "Gitu dong! Makin ganteng deh Bapak kalau nggak pelit."

Tanpa rasa malu, Nayla duduk di kursi dan langsung menyambar sepotong ayam goreng. Bukannya menggunakan sendok dan garpu perak seperti Adnan dan Adiva, Nayla justru mengangkat satu kakinya ke atas kursi gaya preman warteg sejati. Dan Ia mulai makan menggunakan tangan kosong tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

"Nayla! Kamu tidak malu dilihat Adiva?" tegur Adnan, wajahnya menunjukkan ekspresi jijik sekaligus heran.

Nayla berhenti mengunyah, mulutnya penuh dengan nasi. Ia menoleh ke arah Adiva yang sedang menatapnya dengan mata bulat yang lebar. Nayla menelan makanannya dengan susah payah, lalu menyapa bocah itu.

"Hai, Diva! Kenalin, namaku Nayla. Mulai sekarang, kamu panggil aku Kakak Nay aja ya. Biar kita kayak bestie," ujar Nayla ramah sambil melambaikan tangannya yang berminyak.

"Kakak?" Adnan menyela dengan nada protes yang tajam. "Aku menikahi kamu bukan untuk jadi kakak Adiva. Kamu di sini untuk menjadi pengganti ibunya, setidaknya di depan umum."

Nayla memutar bola matanya. "Ooh, kalau gitu panggil aku 'Momy' aja ya, Diva? Biar keren kayak di sinetron-sinetron ibu kota."

Adnan mendengus sinis. "Momy? Apakah kamu pikir orang desa sepertimu pantas dipanggil Momy?"

Nayla mendecak kesal. "Hadeh, ribet banget sih Bapak ini. Ya udah, panggil 'Umi' aja deh. Lebih religius dan adem di kuping."

"Umi?" Adnan kembali menaikkan alisnya, tampak tidak setuju.

"Salah lagi? Oke, oke... gimana kalau 'Myma'?" Nayla menjentikkan jarinya yang masih belepotan sambal. "Perpaduan Umi dan Mama. Modern tapi tetap ada unsur syari-nya. Keren kan, Diva? Myma. Sounds like a superhero name, right?"

Adnan memukul meja dengan tangannya. "Cukup, Nayla! Jangan ajarkan Adiva hal-hal yang tidak masuk akal. Dia sedang dalam masa terapi, jangan bebani dia dengan panggilan konyol buatanmu!"

Nayla yang tadinya ingin bercanda, tiba-tiba merasa panas hati. Ia bangkit dari kursinya, membawa tas sekolahnya dengan kasar. "Ya udah kalau nggak boleh semua! Panggil aja 'Ibu Tiri' sekalian biar kayak di dongeng Cinderella yang jahat itu! Capek saya ngomong sama Es Balok!"

Nayla berbalik, hendak melangkah keluar dengan perasaan dongkol. Namun, baru tiga langkah ia berjalan, sebuah suara kecil yang sangat tipis dan serak terdengar dari arah meja makan.

"...My...ma..."

Langkah Nayla terhenti seketika. Tubuhnya membeku. Di sisi lain, Adnan hampir menjatuhkan tablet yang dipegangnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

Adnan menoleh perlahan ke arah putrinya. Adiva masih menunduk, tangannya meremas pinggiran taplak meja, namun bibirnya bergerak pelan sekali lagi.

"My...ma..."

Nayla berbalik dengan mata yang berkaca-kaca, namun bibirnya tetap menyunggingkan senyum tengil andalannya. Ia melihat Adiva sedang menatapnya dengan tatapan penuh harap. Satu kata itu adalah suara pertama yang keluar dari mulut Adiva setelah satu tahun membisu total.

"Dengar itu, Pak Es?" Nayla menunjuk ke arah Adiva dengan jempolnya, sementara air matanya mulai luruh tanpa bisa dicegah. "Anak Bapak lebih pintar milih panggilan daripada bapaknya yang CEO tapi otaknya kaku. Score satu kosong buat Nayla!"

Adnan terdiam seribu bahasa. Kebencian di matanya sesaat luntur, digantikan oleh rasa haru yang luar biasa hebat. Ia menatap Nayla dengan tatapan yang sulit diartikan—antara rasa terima kasih dan keheranan bagaimana gadis "preman" ini bisa melakukan hal yang gagal dilakukan oleh puluhan dokter spesialis.

Jangan lupa beri dukungan untuk Author Ya guys.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!