Indonesia
NovelToon NovelToon

Selir Palsu Dari Abad - 21

Bab 1 Mati karena Lembur, Bangun sebagai Selir Tak Resmi

Song An mati di depan layar komputer.

Bukan karena kecelakaan tragis, bukan juga karena pembunuhan. Ia mati dengan cara paling menyedihkan yang bisa dibayangkan seorang karyawan kantoran: kelelahan karena lembur berturut-turut.

Jam di pojok layar menunjukkan pukul 02.47 pagi. Kantor sudah sepi sejak dua jam lalu. Lampu lantai lain dimatikan. AC masih menyala dingin, tapi Song An sudah tidak merasakannya.

Tangannya masih di atas keyboard, kursor berkedip di file Excel yang belum tersimpan.

“Kelar sedikit lagi… habis ini pulang…” ujar Song An

Itu kalimat terakhir yang terlintas di kepalanya karena tiba tiba dadanya terasa sesak, pandangannya mengabur, lalu gelap. Tidak ada teriakan. Tidak ada orang yang menyadari. Bahkan satpam pun baru menemukannya pagi hari, dalam posisi duduk rapi seolah tertidur.

Dan begitulah akhir hidup Song An di abad ke-21.

Saat ia membuka mata kembali, hal pertama yang ia rasakan adalah bau aneh.

Bukan bau AC kantor. Bukan bau kopi sachet. Bukan juga bau karpet lama tapi ini bau kayu, dupa tipis, dan kain bersih.

Song An mengerjapkan mata pelan.“Langit-langit…?”

Yang ia lihat bukan lampu neon, melainkan balok kayu dengan ukiran sederhana. Tirai tipis bergoyang pelan karena angin. Cahaya matahari masuk lembut dari jendela besar.

“Ini… rumah siapa?” tanyanya lagi, Ia mencoba bergerak, tapi tubuhnya terasa ringan dan asing. Saat menurunkan pandangan, ia melihat dirinya mengenakan pakaian panjang berwarna pucat, lengan lebar, kain halus yang jelas bukan baju kantor.

“Sebentar.” Song An duduk mendadak.

Rambut panjang hitam jatuh ke depan bahunya lalu ia menatap rambut itu lama.

“…rambut siapa ini?” Panik mulai naik.

Ia meraba kepalanya. Rambut panjang. Sangat panjang. Terikat setengah dengan pita kain dadanya naik turun cepat.“Tenang, Song An. Jangan panik. Mungkin ini… mimpi sebelum mati?”

Ia mencubit lengannya sendiri.“Sakit.” Ia menepuk pipinya. “Sakit juga.”

Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. “Kalau ini mimpi, detailnya keterlaluan.”

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, pintu kamar terbuka pelan.

Seorang gadis muda masuk dengan pakaian mirip seragam pelayan drama sejarah. Begitu melihat Song An duduk, gadis itu langsung menunduk.

“Selir Song sudah bangun.”uhar sang pelayan sopan

Song An membeku. “…siapa?”

Pelayan itu mendongak, jelas terkejut. “Selir Song… apakah Anda merasa tidak enak badan?”

Song An menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”

“Ya, Selir.” jawab pertanyaan itu bingung

Kepala Song An mendadak pusing. Bukan pusing sakit, tapi pusing karena otaknya berusaha mengejar situasi.

“Selir… Song?” Pelayan itu menunduk lagi. “Maaf jika pelayan lancang. Apakah perlu memanggil tabib?”

Song An mengangkat tangan. “Tunggu. Tunggu. Jangan panggil siapa-siapa dulu.”

Pelayan itu ragu, tapi mengangguk.

Song An mengusap wajahnya.“Oke. Aku mati karena lembur. Bangun-bangun di tempat aneh. Ada pelayan. Ada istilah selir.”

Ia menoleh ke pelayan. “Sekarang aku mau tanya. Jawab jujur.”

“Baik, Selir.” jawab pelayan

“Ini… zaman apa?” Tanya Song An

Pelayan itu terlihat semakin bingung. “Ini… tahun kesembilan pemerintahan Kaisar Shen.”

Jawaban itu membuat Song An ingin rebahan lagi. “Kaisar?”

“Iya.”

“Bukan presiden?” tanya Song An

“Presiden…?” Pelayan itu tampak tidak mengerti.

Song An menatap langit-langit. “Oke. Jelas bukan mimpi biasa.”

Ia menarik napas panjang lagi.“Pertanyaan berikutnya,” katanya. “Aku ini… selir apa?”

Pelayan itu ragu sejenak sebelum menjawab pelan, “Selir bayangan.”

“…apa?” seru Song An tidak percaya

“Selir bayangan, Selir. Statusnya… tidak tercatat resmi di arsip utama istana.” jelas sang pelayan

Song An menoleh tajam. “Jadi aku ini selir tapi tidak resmi?”

“Iya.”

“Tidak punya gelar?”

“Tidak.”

“Tidak punya istana sendiri?”

“Kamar ini saja, Selir.”

Song An menatap sekeliling kamar. Kecil, bersih, tapi jelas bukan tempat mewah.

Ia tertawa kecil, kering.“Bagus sekali.”

Pelayan itu makin bingung. “Selir?”

“Tenang. Aku tidak marah.” Justru anehnya, Song An merasa… lega.

Di drama-drama yang pernah ia tonton, selir biasanya penuh intrik, saling menjatuhkan, berebut perhatian kaisar.

Tapi kalau statusnya bahkan tidak penting, berarti kemungkinan besar “Aku bisa hidup tenang, kan?” gumamnya.

Pelayan itu tidak menjawab karena tidak mengerti.

Song An berdiri dari ranjang.“Namamu siapa?” tanyanya.

“Pelayan ini bernama Mei.”jawab pelayan itu

“Oke, Mei. Kita anggap hari ini aku amnesia total.”

Mei terkejut. “Amnesia apa itu?”

"hilang ingatan" jawab Song An

Dan itu membuat Mei terkejut tapi tidak berani bertanya lebih lanjut

“Iya. Jadi kalau aku bertanya hal bodoh, jangan heran.” ujar Song An

Mei langsung panik. “Haruskah memanggil tabib...."

“Tidak. Aku hanya lupa aturan-aturan kecil.” Song An melirik pakaiannya. “Seperti… apa aku harus berlutut ke semua orang?”

Mei mengangguk ragu. “Kepada Yang Mulia, iya.”

Song An menghela napas panjang. “Capek juga hidup baru ini.”

Ia berjalan ke jendela. Dari sana terlihat taman istana yang luas. Bangunan-bangunan megah. Pelayan berlalu-lalang. “Mei.”

“Iya, Selir.” jawab Mei

“Sejujurnya, selir bayangan itu biasanya ngapain?” tanya Song An

Mei berpikir. “Menunggu dipanggil. Tidak banyak keluar kamar. Tidak ikut jamuan besar.”

Song An tersenyum tipis. “Surga.”

Mei menatapnya heran.

Song An menepuk tangan pelan. “Baik. Tujuan hidup baruku jelas.”

“Apa itu, Selir?” Tanya Mei

“Makan cukup, tidur cukup, dan tidak mati lagi karena kelelahan.”jawab Song An dengan bahagia

Mei mengangguk, meski jelas tidak paham.

Masalah pertama muncul satu jam kemudian.

Mei datang tergesa-gesa. “Selir Song! Ada perintah mendadak.”

“Apa?”

“Yang Mulia Kaisar… berjalan ke taman belakang. Semua selir yang berada di area diwajibkan memberi salam.”

Song An menegang.“Kaisar?”

“Iya.” jawab Mei

Song An menelan ludah, "Oke. Ini momen penting. Kaisar. Penguasa tertinggi. Orang yang bisa memenggal kepala tanpa perlu alasan. Tapi aku harus ikut?”

“Selir berada di jalur taman, jadi—iya.” jawab Mei

Song An mengangguk pelan. “Baik.”

Ia mengikuti Mei keluar kamar. Sepanjang jalan, ia melihat beberapa wanita berpakaian indah berdiri rapi di sisi jalan, wajah serius, postur sempurna.

“Kenapa mereka tegang sekali?” bisiknya.

Mei berbisik balik, “Yang Mulia terkenal dingin dan tidak suka kesalahan.”

“Hebat. Baru hidup lagi sudah diuji.” keluh Song An lalu langkah kaki mendekat. Suasana mendadak sunyi.

“Yang Mulia datang!” Semua orang langsung berlutut.

Song An ikut berlutut… lima detik terlambat.

Dan itu pun dengan posisi canggung.

“Aduh…” Lututnya langsung protes. “Kenapa lantainya keras sekali…”

Mei meliriknya panik.

Song An mencoba menahan, tapi refleks modernnya menang.

Ia menggeser posisi, sedikit mengangkat lutut, lalu menghela napas kecil.“Maaf ya… lama tidak olahraga.”

Suara langkah berhenti tepat di depannya.

Song An bisa merasakan aura dingin di udara.

Seseorang berdiri di hadapannya.

Ia tahu, tanpa perlu melihat, itulah Kaisar Shen.

“Siapa yang berbicara?” Suaranya rendah, datar, dan tenang.

Semua selir menunduk lebih dalam.

Mei hampir menangis ketakutan.

Song An mengangkat kepala sedikit sangat sedikit dan berkata refleks, “Itu saya.”

Sunyi.

Bahkan burung pun seolah berhenti berkicau.

Mei menutup mata.

“Kau?” tanya sang kaisar.

“Iya.” Song An lalu buru-buru menambahkan, “Yang Mulia.”

Ia baru sadar jika saat ini ia menatap langsung wajah kaisar.

Pria itu tampan dengan cara dingin. Wajah tegas, mata tajam, ekspresi nyaris tanpa emosi.

“Apa namamu?” tanya Kaisar Shen.

“Song An.”

“Selir?”

“Selir bayangan.” jawab Song An

Kaisar Shen mengerutkan kening tipis. “Selir bayangan?”

“Iya. Yang tidak penting.” jawab Song An dengan santai tapi begitu kalimat itu keluar, Song An langsung menyesal. “…maksud saya, tidak tercatat.”

Beberapa pejabat di belakang kaisar tampak terkejut.

Kaisar Shen justru menatapnya lebih lama. “Kenapa kau tidak berlutut dengan benar?”

Song An jujur. “Lantai keras.”

Semua orang terkejut lagi.

Mei ingin pingsan.

Kaisar Shen diam.

Lalu sangat pelan sudut bibirnya bergerak sedikit. “Hanya itu alasannya?”

“Iya... Memangnya apa lagi?” jawab Song An

“Bukan karena tidak hormat?” tanya kaisar Shen

“Tidak. Saya cuma pegal.” jawab Song An jujur

Hening panjang.

Lalu Kaisar Shen berkata, “Berdiri.”

Song An berdiri, bingung.

“Kau aneh.” ujar kaisar

Song An menatap kaisar “Terima kasih?”

“Itu bukan pujian.” ujar kaisar

“Tidak apa-apa.” jawab Song An

Untuk pertama kalinya sejak naik takhta, Kaisar Shen merasa… terhibur.“Pergilah,” katanya singkat.

Song An membungkuk asal, lalu berjalan pergi sambil berbisik, “Syukurlah.”

Di belakangnya, Kaisar Shen menatap punggungnya.“Selir bayangan…” Ia mengulang pelan.

"Menarik." Dan tanpa disadari Song An, hidup tenangnya di istana resmi berakhir sejak hari itu.

Bersambung

Bab 2 Selir Bayangan yang Mulai Jadi Bahan Gosip

Song An baru sadar satu hal penting begitu ia kembali ke kamarnya.

“Mei.” seru Song An

“Iya, Selir!” jawab Mei

“Aku masih hidup, kan?” tanya Song An

Mei menoleh dengan wajah bingung. “Tentu saja, Selir.”

Song An duduk di kursi kayu dan menepuk dadanya pelan. “Syukurlah. Kupikir barusan kepalaku bakal lepas dari badan.”

Mei langsung panik. “Yang Mulia tidak marah, Selir. Itu… itu keajaiban.”

“Bukan keajaiban,” kata Song An. “Itu karena beliau mungkin lagi mood bagus.”

"Apa itu mood" tanya Mei bingung

Song An menatap Mei dengan lelah, "Suasana hati"

Mei menelan ludah. “Oh begitu... tapi yang Mulia… tidak pernah mood bagus.”

Song An berhenti.“Serius?”

“Iya.” jawab Mei

“Berarti aku barusan lolos dari kematian?” tanya Song An dengan terkejut

Mei mengangguk pelan.

Song An menghela napas panjang. “Catat ya, Mei. Mulai sekarang, aku tidak mau ketemu beliau lagi.”

Mei tersenyum kaku. “Itu… bukan keputusan Selir.”

“Kenapa?” tanya Song An

“Karena sejak tadi pagi, Selir sudah jadi bahan pembicaraan.” jawab Mei

Song An menatapnya tajam. “Bahan pembicaraan siapa?”

“Pelayan… selir lain… bahkan beberapa kasim.” ujar Mei

Song An menatap Mei bingung, “…kenapa?”

Mei ragu. “Karena Selir bicara langsung menatap Yang Mulia.”

“Oh.”

“Dan karena Selir mengeluh lantai keras.” ujar mei

“Oh.”

“Dan karena Yang Mulia… tersenyum.” lanjut Mei

Song An memejamkan mata. “Astaga.” Ia menepuk keningnya sendiri. “Aku benar-benar mau hidup tenang.”

Mei memberanikan diri bertanya, “Selir… apakah Selir tidak takut?”

Song An membuka mata. “Takut. Tapi lebih capek kalau harus pura-pura.”

Mei terdiam.

Song An berdiri. “Sekarang, agenda hari ini apa?”

“Tidak ada.” jawab Mei

“Bagus.” ujar Song An

“Tapi—”

“Tapi apa?” tanya Song An

“Biasanya Selir bayangan tidak keluar kamar. Tapi karena Selir terlihat oleh Yang Mulia, kemungkinan Selir akan diperhatikan.” jelas Mei

Song An langsung duduk lagi. “Tidak mau.”

Mei menatapnya. “Selir… tidak mau diperhatikan?”

“Tidak.” jawab Song An dengan mantap

“Tidak mau naik status?” tanya Mei

“Tidak.” jawab Song An

“Tidak mau jadi selir utama?” tanya Mei lagi

Song An tertawa kecil. “Aku baru hidup lagi. Aku mau santai dulu.”

Mei terlihat semakin bingung.

Saat itu, suara ribut terdengar dari luar.

“Ada apa lagi?” tanya Song An.

Mei mengintip ke luar. “Selir Li dan Selir Zhao sedang lewat.”

“Siapa mereka?” tanya Song An penasaran

“Selir resmi. Status tinggi.” jawab Mei

“Berbahaya?” tanya Song An

Mei berpikir. “Biasanya… iya.”

Song An menghela napas. “Oke. Aku duduk manis saja.”

Terlambat.

Pintu diketuk.

Tok tok.

“Masuk,” kata Song An refleks.

Mei hampir berteriak, tapi pintu sudah terbuka.

Dua wanita masuk dengan langkah anggun. Pakaian mereka jelas lebih mewah. Riasan sempurna. Tatapan tajam.

“Ini kamar Selir Song?” tanya salah satu.

“Iya,” jawab Song An. “Ada perlu apa?”

Kedua selir itu saling pandang.

“Aku Selir Li,” kata yang berbaju merah. “Dan ini Selir Zhao.”

“Song An,” jawabnya singkat.

Selir Li tersenyum tipis. “Kami mendengar Selir Song… menarik perhatian Yang Mulia.”

Song An menggaruk pipinya. “Kalau bisa, itu kesalahpahaman.”

Selir Zhao menaikkan alis. “Kesalahpahaman?”

“Iya. Aku cuma kebetulan pegal.” jawab Song An

Hening.

Selir Li menutup mulut, tertawa kecil. “Lucu sekali.”

“Terima kasih” jawab Song An

“Selir Song tampaknya sangat santai.” ujar Selir Li

“Kalau tidak santai, nanti cepat mati.” jawab Song An

Keduanya terdiam.

Selir Zhao bertanya pelan, “Selir Song tidak takut salah bicara?”

“Takut,” jawab Song An jujur. “Makanya aku bicara seadanya.”

Selir Li menatapnya lama. “Menarik.”

Song An mengangkat bahu. “Kalau sudah tidak ada lagi, aku mau tidur siang.”

Keduanya terkejut.

“Tidur… siang?” ulang Selir Zhao.

“Iya. Aku kurang tidur sebelumnya.” jawab Song An

“Biasanya selir menggunakan waktu siang untuk berdandan atau belajar etika.” ujar Selir Zhao

“Capek.” jawab Song An

Selir Li tersenyum makin tipis. “Kalau begitu, kami tidak mengganggu.”

Begitu mereka pergi, Mei langsung menutup pintu dan berbalik dengan wajah pucat.

“Selir! Kenapa Selir bicara seperti itu?” tanya Mei ketakutan

Song An merebahkan diri di kursi. “Kenapa tidak?”

“Mereka selir resmi!” ujar Mei

“Dan aku selir tidak resmi. Seimbang.” ujar Song An

Mei hampir menangis.

Sore harinya, Song An sedang makan camilan ketika Mei masuk lagi.

“Selir… Yang Mulia memanggil.” ujar Mei

Song An tersedak.“Sekarang?”

“Iya.” jawab Mei

“Aku baru mau hidup tenang dua jam.” keluh Song An kesal

Mei menunduk. “Maaf.”

Song An berdiri lesu. “Oke. Mari kita hadapi takdir.”

----

Di aula kecil, Kaisar Shen duduk membaca dokumen.

Song An berdiri agak jauh. “Yang Mulia,” katanya.

“Dekat,” perintah Kaisar.

Song An mendekat beberapa langkah.

“Kau dipanggil karena pagi tadi,” kata Kaisar Shen.

Song An mengangguk. “Saya minta maaf soal lantai.”

“Bukan itu.” seru Kaisar Shen

“Kalau soal menatap, itu kebiasaan lama.” ujar Song An

“Kebiasaan apa?” tanya Kaisar Shen

“Kebiasaan bicara dengan manusia.” jawab Song An Santai

Hening.

“Kau menganggapku bukan manusia?” tanya Kaisar Shen

“Manusia, karena itu aku menatap yang mulia, Tapi level tinggi.” jawab Song An

Untuk kedua kalinya hari itu, Kaisar Shen hampir tersenyum.“Kau tidak seperti selir lain.”

“Syukurlah.” ucap Song An

“Kenapa?” tanya Kaisar Shen

“Kalau sama, aku capek.” jawab Song An

Kaisar Shen menatapnya lama. “Apa yang kau inginkan?”

Song An berpikir sebentar. “Makan cukup. Tidur cukup. Tidak dipanggil tiap hari.”

“…hanya itu?” tanya Kaisar Shen dengan heran

“Iya.” jawab Song An singkat

“Kau tidak ingin kekuasaan?” tanya Kaisar Shen

“Tidak.” jawab Song An singkat lagi

“Kau tidak ingin status?” tany Kaisar Shen Semakin penasaran

“Tidak.”

Kaisar Shen menutup dokumennya.

“Menarik.”

Song An menatap lantai. “Kalau Yang Mulia sudah selesai, saya mau pulang.”

“Hm?”

“Ke kamar.”

Kaisar Shen tertawa kecil. Sangat kecil.“Pergilah.”

Song An membungkuk seadanya dan keluar.

Begitu pintu tertutup, Kaisar Shen berkata pelan pada dirinya sendiri, “Selir bayangan… tapi lebih jujur dari siapa pun.”

------

Di kamarnya, Song An menjatuhkan diri ke ranjang.

“Mei.”

“Iya?”

“Kalau aku mati lagi, pastikan bukan karena lembur.”

Mei tertawa kecil untuk pertama kalinya.

Dan tanpa disadari Song An, hari itu ia resmi masuk daftar perhatian Kaisar Shen sesuatu yang sama sekali tidak ia inginkan.

Bersambung

Bab 3 Selir Bayangan yang Tidak Tahu Etika

Song An bangun pagi dengan perasaan aneh.

Bukan karena mimpi buruk. Bukan karena suara ribut. Tapi karena… perutnya bunyi.

“Lapar.” Ia membuka mata dan menatap langit-langit kamar. “Di kehidupan sebelumnya, jam segini aku masih di bus, ngantuk, stres, dan mikirin kerjaan.”

Ia duduk pelan. Rambut panjangnya jatuh berantakan. “Sekarang aku selir bayangan.”

Ia tertawa kecil sendiri. “Dunia memang suka bercanda.”

Pintu diketuk. "Tok tok."

“Masuk,” kata Song An.

Mei masuk sambil membawa baskom air dan handuk. “Selir sudah bangun?”

“Iya. Mei.” jawab Song An pelan

---

“Mei di istana ini, sarapan jam berapa?” tanya Song An

“Biasanya setelah matahari naik.” jawab Mei

“Oke.” ujar Song An

Mei meletakkan baskom. “Selir mau bersiap?”

Song An menoleh kearah Mei, “Bersiap untuk apa?”

“Untuk memberi salam pagi kepada selir lain.” jawab Song An

Song An berhenti menggosok wajahnya. “…harus?”

Mei mengangguk. “Biasanya begitu.”

Song An berpikir sebentar. “Kalau aku tidak datang?”

Mei ragu. “Itu… tidak sopan.”

“Konsekuensinya?” tanya Song An

“Bisa dianggap sombong.” jawab Mei

“Kalau datang?” tanya Song An lagi

“Harus banyak aturan.” jawab Mei

Song An menimbang dengan serius.“Aku pilih tidak sopan.”

Mei terkejut. “Selir!”

“Aku ini selir bayangan. Status rendah. Kalau aku terlalu rajin, nanti malah dicurigai.” jelas Song An

Mei terdiam. “Itu… masuk akal.”

“Lihat? Logika modern.” ujar Song An

Mei tidak tahu apa itu modern, tapi mengangguk saja.

---

Tak lama kemudian, sarapan datang. Nasi, lauk sederhana, sup hangat.

Song An menatap makanan itu dengan mata berbinar.

“Ini enak?” tanya Song An

“Enak,” jawab Mei.

Song An langsung makan. “Hmm. Jauh lebih enak dari mi instan.”

Mei bertanya pelan, “Mi instan itu apa?”

“Penyelamat hidup.” jawab Song An

Mei tidak bertanya lagi.

Sementara itu, di aula kekaisaran.

“Yang mulia yakin?” tanya Kasim pendamping kaisar

Kaisar Shen mengangguk pelan. “Aku memanggilnya siang nanti.”

“Selir bayangan, ah maaf... Maksud hamba selir Song An " ujar Kasim

“Iya.” jawab Kaisar Shen

“Untuk apa yang mulia?” tanya Kasim heran

Kaisar Shen menatap dokumen di tangannya. “Aku ingin tahu, apakah dia selalu seperti itu… atau hanya pura-pura.”

Di kamarnya, Song An sedang bersantai. Ia duduk selonjoran, tanpa sadar melanggar aturan duduk selir.

Mei mondar-mandir. “Selir… duduk seperti itu tidak pantas.”

“Kenapa?” tanya Song An

“Kaki Selir terlalu terbuka.” jawab Mei

Song An meluruskan sedikit. “Gini?”

“Masih tidak pantas.” keluh Mei

“Kalau begini?” tanya Song An

“Itu… lebih tidak pantas.” jawab Mei dengan nada putus asa

Song An menyerah. “Baik. Aku duduk biasa.”

Baru saja ia tenang, Mei berkata, “Selir… Yang Mulia memanggil.”

Song An menatapnya kosong. “Baru kemarin.”

“hamba tidak mengerti selir" ujar Mei

“Hari ini lagi?” tanya Song An

“Iya.” jawab Mei

Song An menjatuhkan diri ke sandaran kursi. “Aku bahkan belum bikin masalah hari ini.”

Mei tersenyum canggung. “Mungkin justru itu masalahnya.”

Aula kecil istana terasa lebih tenang siang itu.

Song An berdiri di tengah ruangan. Kaisar Shen duduk di kursi utamanya, sendirian.

“Yang Mulia,” kata Song An.

“Kau tidak memberi salam pagi,” kata Kaisar Shen langsung.

“Oh. Maaf.”

“Kenapa?”

“Capek.”

Jawaban itu membuat kasim di sisi ruangan terbatuk keras.

Kaisar Shen mengangkat tangan. “Keluar.”

Kasim itu langsung pergi.

“Kau selalu bicara seperti ini?” tanya Kaisar Shen.

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak lahir. Versi baru.”

“Kau tidak takut?”

“Takut. Tapi kalau terlalu mikir, nanti aku pusing.”

Kaisar Shen menatapnya lama.

“Kau tahu etika istana?”

“Sedikit.”

“Kau sengaja melanggarnya?”

“Kadang.”

“Kenapa?”

Song An berpikir sebentar. “Karena kalau aku harus sempurna, aku tidak akan bertahan lama.”

“Bertahan dari apa?”

“Hidup.”

Jawaban itu membuat Kaisar Shen diam beberapa detik. “Kau selir bayangan,” katanya akhirnya. “Status rendah. Jika kau melakukan kesalahan besar, kau bisa dihukum berat.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

“Aku tidak berniat hidup lama di istana.”

Kaisar Shen mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

“Aku ingin hidup tenang. Kalau suatu hari aku dipulangkan atau dilupakan, aku tidak keberatan.”

Untuk pertama kalinya, Kaisar Shen terlihat tidak mengerti.

“Tidak ada selir yang berpikir seperti itu.”

“Karena aku bukan selir sungguhan.”

“Menurut siapa?”

“Menurut status.”

Kaisar Shen bersandar.

“Kau tidak ingin naik derajat?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Banyak kerjaan.”

Kaisar Shen hampir tertawa.

“Kalau aku menaikkan statusmu?”

Song An refleks menjawab, “Jangan.”

Ruangan hening.

“Jangan?” ulang Kaisar Shen.

“Iya. Saya mohon.”

“Alasan?”

“Takut.”

“Apa yang kau takuti?”

“Kalau hidupku terlalu berubah, aku harus belajar banyak hal. Aku sudah lelah belajar.”

Jawaban itu jujur. Terlalu jujur dan kaisar Shen mengangguk pelan.

“Kau boleh pergi.”

Song An langsung membungkuk. “Terima kasih.”

Begitu ia berbalik, Kaisar Shen berkata, “Song An.”

“Iya?”

“Kau sudah makan siang?”

“Belum.”

“Makan di dapur belakang.”

Song An berkedip. “Itu perintah?”

“Ya.”

“Oke.”

Ia keluar dengan wajah bingung.

Di dapur belakang, Song An menemukan suasana ramai. Para juru masak terkejut melihatnya.

“Selir Song?”

“Iya. Aku disuruh makan di sini.”

Semua saling pandang.

Akhirnya, seorang juru masak berkata, “Silakan duduk.”

Song An duduk dan melihat berbagai hidangan.

“Boleh pilih?”

“Boleh.”

“Banyak banget.”

Ia mengambil sedikit dari banyak menu.

“Selir tidak ambil banyak?”

“Nanti mubazir.”

Juru masak itu mengangguk kagum.

Saat Song An makan, dua pelayan berbisik.

“Itu dia?”

“Yang bicara santai ke Yang Mulia?”

“Iya.”

Song An mendengar, tapi pura-pura tidak.

Sore hari, Song An kembali ke kamar.

Mei langsung bertanya, “Selir bagaimana, apa aman?”

“Iya.”

“Dimarahi?”

“Tidak.”

“Dihukum?”

“Tidak.”

Mei tampak bingung. “Lalu?”

“Disuruh makan.”

Mei terdiam.

“Mei.”

“Iya?”

“Menurutmu, Kaisar Shen itu orang seperti apa?”

Mei berpikir. “Dingin. Tegas. Tidak suka bicara banyak.”

Song An mengangguk. “Berarti dia aneh.”

“Kenapa?”

“Karena dia mau mendengarkan aku.”

Mei tersenyum kecil.

Malamnya, Song An bersiap tidur. Ia baru saja merebahkan diri ketika pintu diketuk lagi.

Tok tok.

Song An menatap langit-langit. “Aku sudah pakai baju tidur.”

Mei membuka pintu sedikit. “Selir… Yang Mulia.”

Song An duduk tegak. “Sekarang?”

Kaisar Shen masuk dengan langkah tenang.

Mei langsung menunduk dalam-dalam dan keluar.

Song An berdiri canggung. “Yang Mulia?”

“Kau tidak memberi salam.”

“Oh. Maaf.”

Ia membungkuk asal.

Kaisar Shen menatap kamar sederhana itu.

“Kau nyaman di sini?”

“Lumayan.”

“Kau tidak ingin pindah ke tempat lebih baik?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Kalau terlalu besar, aku takut tersesat.”

Kaisar Shen duduk di kursi.

“Aku tidak pernah datang ke kamar selir bayangan.”

“Sekarang sudah.”

“Ya.”

Hening sebentar.

“Kau sedang apa sebelum aku datang?” tanya Kaisar Shen.

“Mau tidur.”

“Cepat sekali.”

“Aku bangun pagi.”

“Selir lain biasanya berdandan sampai malam.”

“Aku tidak.”

“Kau tidak peduli penampilan?”

“Peduli. Tapi malas.”

Kaisar Shen menatapnya lama.

“Kau benar-benar aneh.”

“Aku sering dengar itu.”

“Kau tidak takut aku datang malam-malam?”

“Takut.”

“Lalu kenapa wajahmu biasa saja?”

“Karena aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa.”

Kaisar Shen tertawa kecil.

“Kau membuatku bingung.”

“Maaf.”

“Tidak perlu.”

Ia berdiri.

“Song An.”

“Iya.”

“Besok ikut aku jalan pagi di taman.”

Song An refleks menjawab, “Boleh nolak?”

“Tidak.”

“Oke.”

Kaisar Shen keluar.

Song An duduk di ranjang, memegang kepalanya.

“Aku benar-benar cuma mau hidup tenang.”

Mei masuk pelan.

“Selir… Yang Mulia pergi.”

“Iya.”

“Selir… apakah Selir sadar?”

“Sadar apa?”

“Yang Mulia tidak pernah mengajak siapa pun jalan pagi.”

Song An menatap Mei lama.

“…capek.”

Ia rebahan.

“Mei.”

“Iya?”

“Kalau aku jatuh cinta di istana ini, tolong bangunin aku.”

Mei tersenyum kecil.

“Tapi… Selir sepertinya sudah setengah jalan.”

Song An menutup mata.

“Tidak. Aku cuma lapar dan ngantuk.”

Di luar, bulan menggantung tenang.

Dan untuk pertama kalinya, Kaisar Shen menunggu pagi dengan sedikit rasa penasaran tentang selir bayangan yang tidak tahu etika, tidak punya ambisi, dan selalu bicara jujur.

Bersambung

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!