"Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?"
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Kamu tadi kemari naik itu, kan?"
Yuda terdiam sejenak. Ia menarik napas pelan, lalu menoleh ke arah halaman rumah. Di sana, motornya terparkir miring, catnya kusam, joknya sudah retak di beberapa sisi. Motor tua itulah yang tadi mengantarnya ke rumah wanita idaman.
"Iya," jawab Yuda akhirnya, suaranya tenang. "Tapi..."
"Hah!" Dewi tertawa kecil, penuh ejekan. "Enggak tau malu banget ya? Apa kerjaan kamu?"
Yuda membuka mulutnya hendak menjawab, tapi Dewi sudah memotong lagi.
"Ojek?" Tatapan mata Dewi makin merendah. "Kamu dengan modal kek gini mau nglamar aku?"
Pak Hasto yang sejak tadi duduk di kursi kayu di sudut ruang tamu menghela napas panjang. Wajahnya menegang. "Dewi, jaga ucapanmu."
"Loh, salah aku apa, Yah?" Dewi mendengus. "Aku cuma realistis. Masa aku dinikahi tukang ojek? Hidupku mau dibawa ke mana?"
Yuda menggenggam lututnya, berusaha tetap duduk tegak.
"Kamu... Siapa tadi namamu, anak muda?" tanya Pak Hasto.
"Yuda, Pak. Yuda Prayitna."
Pak Hasto mengangguk paham. "Jadi, kamu berniat untuk melamar anakku?"
Yuda mengangguk.
Pak Hasto memperhatikan pemuda yang baru pertama dia temui ini. Dari kasat mata, dia terlihat tampan, muda, bersih, wajahnya tegas.
"Di mana kamu kenal anakku Dewi? Kenapa ingin melamar anakku?"
Yuda membuka mulut lagi, hendak menjawab, tapi udah keduluan suara lain.
"Ya jelaslah di jalan. Pasti dia biasa mangkal di depan kantor tempat Dewi kerja." Suara Bu Sumi, istri Pak Hasto, ibu dari Dewi. "Pasti dulu dia pernah anter Dewi. Lihat aja jaket ojol ijo itu."
"Benar, Buk. Aku emang agak familar sama wajahnya, tapi..." Dewi memotong cepat. "Aku yakin dia salah satu ojol yang mangkal di depan kantor. Aku enggak mau. Malu sama teman-teman kalau sampai mereka tau aku dilamar sama tukang ojek online."
Pak Hasto memukul ringan sandaran kursinya. "Cukup, Dewi!"
Dewi mendecak, namun tetap bersuara, "Pokoknya aku menolak, Yah. Jelas-jelas menolak. Aku enggak mau hidup susah sama tukang ojek online yang kebelet kawin."
Suasana hening sejenak. Di saat itulah pintu dapur terbuka perlahan.
"Permisi… Minumnya, Yah."
Seorang gadis keluar membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa gorengan. Langkahnya sedikit tertatih, kaki kirinya terlihat kaku. Ia menunduk sopan, hendak meletakkan hidangan di meja.
"Ning," panggil Pak Hasto lembut. "Taruh saja di sini."
Ningsih, atau biasa dipanggil Ning, mengangguk pelan. Gadis itu memakai jilbab sederhana yang warnanya hampir pudar, wajahnya bersih tanpa riasan. Tatapannya kalem, teduh, seperti danau di pagi hari. Yuda tak sengaja memperhatikannya lebih lama dari yang seharusnya.
"Ah, pas banget nih!" Dewi tersenyum miring. "Daripada aku, mending kamu nikah sama dia aja."
Ning terhenyak. Tangannya gemetar kecil.
"Apa maksudmu, Wi?" tanya Pak Hasto tegas.
"Ya maksudku jelas, Yah." Dewi melirik Ning sambil tertawa kecil. "Ning kan anak ayah juga. Walau kita beda ibu, tapi kan tetep anak ayah juga, kan?" Ia mengangkat bahu. "Dan aku rasa tuh, mereka cocok. Dari segi manapun. Lihat deh, satu tukang ojek, satu gadis pincang, hahaha. Sama-sama enggak punya masa depan. Cocok banget!"
"Dewi!" suara Pak Hasto meninggi. "Kamu keterlaluan! Ning itu adikmu!"
Yuda menoleh ke arah Ning. Gadis itu menunduk, matanya terarah ke lantai. Wajahnya tetap tenang, tapi ada luka yang tak kasatmata di sana. Yuda merasakannya.
Dewi yang tadi tertawa, kini diam merapatkan bibit. Tatapan mata Pak Hasto terasa sangat menghunus tajam.
"Tapi, apa yang Dewi bilang ada benarnya. Mending sama Ning saja," ucap Bu Sumi terdengar bijak. "Jadi enggak timpang. Kalau Dewi, dia lebih pantas sama yang selevel sama dia. Bukan tukang ojek online."
Pak Hasto memejamkan mata sejenak. Lalu menatap Yuda lagi.
"Kenapa kamu mau melamar Dewi, Nak Yuda?" tanya Pak Hasto, berusaha mengalihkan suasana.
Yuda membuka mulut, tapi belum sempat menjawab...
"Ya jelas karena aku cantiklah, Yah," Dewi menyela sambil menyeringai. "Kerja kantoran, masa depan cerah. Wajar dong kalau tukang ojek kayak dia ngincer aku."
Yuda mengepalkan tangannya, lalu mengendurkannya kembali. Ia menatap Dewi lurus-lurus. "Sebenarnya... Saya punya alasan lain..."
"Lah, emang kenyataannya begitu," Dewi tertawa lagi. "Aku bukan level kamu. Nikah sama Ning aja. Dia pincang, kamu miskin. Cocok."
Brak!
Pak Hasto menepuk meja. Tangannya gemetar menahan amarah. "Dewi! Jaga mulutmu! Ning pincang juga karenamu!"
Dewi terdiam, tapi senyum sinisnya belum hilang. Ning hanya diam menunduk.
Yuda berdiri perlahan. Dia memang sedari tadi menahan diri walau terus direndahkan. "Terima kasih, Pak, sudah menerima saya bertamu di sini." Ia menoleh pada Dewi. "Maaf kalau kedatangan saya membuatmu tidak nyaman, lain kali saya akan lebih memperhatikan dengan apa datang."
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan secarik kertas. "Ini nomor saya. Kalau suatu hari Dewi berubah pikiran."
"Huh," Dewi menyeringai, lalu mengambil kertas itu dan, tanpa ragu, melemparkannya ke arah Ning. "Tuh. Simpan aja. Kali aja cocok."
Kertas itu jatuh di dekat kaki Ning. Ning memungutnya, lalu kembali menunduk. "Jangan begitu, Mbak. Mas ini datang dengan niat baik."
"Iya, makanya kamu aja yang nikah sama dia! Embak enggak mau!" tukas Dewi dengan sombongnya.
Yuda melirik Ning sekilas, tak berkata apa-apa lagi. Ia melangkah pergi. Suara motor bututnya terdengar menjauh dari halaman rumah.
"Hhiiisshh! Miskin aja berani lamar aku," gerutu Dewi.
Bu Sumi melirik Suaminya, "Mas! Aku enggak rela kalau kamu terima lamaran pemuda tak tau diri itu. Dia sama sekali tak pantas buat Dewi. Kalau emang mau, lebih baik buat Ning saja. Biar dia cepat keluar dari sini. Dasar benalu!" katanya sambil melirik sinis pada Ning.
Gadis berjilbab itu hanya menunduk, meremas sisi tubuhnya dalam diam. Hatinya yang terasa perih.
Beberapa menit setelah itu, suara beberapa mobil berhenti di depan rumah.
"Assalamu’alaikum!"
Dewi langsung bangkit. "Itu pasti Ridho!"
Ia berlari kecil ke depan, wajahnya berbinar. Bu Sumi ikut menyambut dengan senyum lebar. Pak Hasto berdiri, menyambut rombongan keluarga yang datang dengan rapi.
"Wa'alaikum salam."
"Masuk! Masuk, nak Ridho."
"Terima kasih, Bu," ucap Ridho tersenyum, matanya melirik kecil pada gadis berjilbab yang menunduk kala pandangan bertemu.
"Ning! Sana ke dapur! Kamu enggak pantas di sini," bisik Dewi. Ning menurut, ia beresi bekas tamu sebelumnya. Lalu berjalan tertatih menyeret kakinya.
Rombongan masuk dengan senyum sopan. "Maksud kedatangan kami… kami ingin melamar."
Dewi hampir melompat kegirangan. Bu Sumi menepuk tangannya sendiri. "Alhamdulillah! Kami tau kedekatan anak kita memang sudah sepantasnya ke jenjang yang lebih serius."
Orang tua Ridho pun tampak senang karena niat baik bersambut. "Alhamdulillah kalau begitu, Bu Sumi dan Pak Hasto."
Ridho menarik napas.
"Saya ingin melamar Ningsih," ucap Ridho mantap.
Sunyi.
Dewi membeku. Bu Sumi terperanjat. Pak Hasto menatap Ridho dengan mata membesar.
"Ning…?" suara Dewi nyaris berteriak.
"Songong banget jadi orang."
"Lu kenapa, sih?"
"Pake nanya lagi." Yuda duduk setelah menarik kursi. Kini ia duduk di sebuah kafe yang sedang viral dan punya privat room. "Lu tau enggak? Tadi gua ke rumah cewek itu. Dia tuh..."
Yuda tak melanjutkan ucapannya karena terlalu menahan geramnya. "Lu kalau nyari orang yang benerlah. Masa gua harus nikahin cewek model begitu!?"
Bastian, teman sekaligus partner kerja yang paling dia percaya. "Lu juga kalau kasih clue yang bener dong!" katanya tak terima malah disalahkan. "Gua juga cuma ikutin petunjuk dari lu!"
Yuda berdecak kesal. "Gua berharap ada cewek lain... Bukan dia... Songong, sok kecakepan, baru kerja kantoran aja udah banyak kali gayanya."
Bastian menatap bos sekaligus sahabatnya itu lama, "Lu juga songong!" tunjuknya, "Cocoklah kalian!"
Yuda langsung mendelik, "Hehh!"
Bastian terkekeh pelan.
Hening sejenak.
Yuda menatap lurus ke depan. "Ada janji yang harus gua pertanggungjawabkan. Lu tau, kan?"
"Tapi... Itu bukan kewajiban lu, Yud."
Yuda mengusap wajahnya, seperti ada banyak beban di pundaknya. Dalam keheningan, bayangan wajah lain muncul di benak Yuda, wajah kalem, tatapan teduh, langkah tertatih yang nyaris tak bersuara.
"Ning..."
Alis Bastian terangkat. "Ning?"
"Iya, dia…Adiknya Dewi," gumam Yuda tanpa sadar.
"Hah?"
"Ningsih," Yuda menyebut nama itu lebih jelas. "Ada di keluarga itu. Cari tahu lebih banyak tentang dia."
Bastian mendelik. "Lho, kok belok ke sana?"
"Ada yang janggal," jawab Yuda singkat. "Dia pincang. Dan Dewi sempat bilang… kecelakaan. Mungkin saja orang itu Ning."
Bastian mendecak. "Kerjaan nambah lagi."
"Jadi lu mau gua menikahi cewek songong itu? Dia bilang gua enggak punya masa depan!"
Bastian tertawa pelan. Namun sudut bibirnya terangkat tipis. "Oke. Gua cari."
***
Di rumah Pak Hasto, suasana jauh lebih panas.
"Ini semua salah kamu, Ning! Kamu ngapain godain Ridho?!"
Suara Dewi melengking, membuat Ning yang duduk di dekat pintu ruang tamu terperanjat. Tangannya mencengkeram gamis sisi tubuhnya, matanya menunduk.
"Mbak, aku enggak..."
"Diam!" Dewi menunjuknya. "Kamu itu tahu diri! Kamu pincang! Kamu enggak pantas sama Ridho!"
"Dewi!" sentak Pak Hasto mendengar ucapan tajam anaknya.
"Pasti begitu, Yah! Dia pasti godain Mas Ridho! Makanya Mas Ridho malah ngelamar dia!" ucap Dewi keras. "Harusnya dia tau kalau Dewi suka sama Mas Ridho! Tapi dia malah godain calon suami Dewi."
"Ning tidak melakukan apa-apa," Pak Hasto membentak. "Ridho yang memilih Ning. Selama Ridho kemari juga bukannya kamu yang terus-terusan temui Ridho, Wi?!"
Bu Sumi berdiri cepat. "Mas, jangan belain dia terus! Mas enggak tau aja, Ning godain Ridho di luar. Di rumah aja kalau enggak ada Dewi pasti juga dia udah kegatelan, kayak Ibunya!"
"Sum!" balas Pak Hasto, wajahnya merah menahan emosi. "Jaga bicaramu! Ibunya Ning tak pernah menggoda Mas!"
"Halah! Bela aja terus dia! Gitu aja udah jelas kamu memang udah digoda sama dia dan ibunya!" Sumi tak kalah keras.
Ning menggigit bibir. Kata-kata itu bukan hal baru. Sejak kecil, bisikan serupa selalu mengikuti langkahnya.
Bu Sumi menyilangkan tangan. "Mas Hasto, dengar ya. Aku enggak mau Dewi dipermalukan. Ridho itu jodohnya Dewi. Ning harus menolak."
"Tidak bisa memaksa begitu!" Pak Hasto menatap istrinya tajam.
"Bisa!" Bu Sumi meninggi. "Kalau perlu, suruh dia nikah sama tukang ojek itu. Si Yuda! Cocok. Sama-sama enggak ada apa-apanya."
Ning menelan ludah. Dadanya terasa sesak, tapi suaranya tak keluar.
"Apa kamu dengar dirimu sendiri?" Pak Hasto bergetar. "Pikirkan perasaan Ning!"
Bu Sumi terkekeh dingin. "Perasaan? Dia numpang hidup di rumah ini! Aku yang rawat dia sejak kecil. Dia harus tahu diri!"
Hening memukul ruang tamu.
Ning melangkah pelan, lalu berlutut di hadapan Pak Hasto. "Ayah… enggak apa-apa. Ning nurut."
"Bangun," Pak Hasto berkata parau. "Ayah enggak izinkan."
Namun Ning hanya tersenyum tipis. Senyum pasrah yang membuat hati siapa pun perih.
****
"Sialan! Malah macet lagi."
"Udahlah, emang biasanya juga macet kok."
Yuda dan Bastian berada di dalam mobil yang berderet. Yuda duduk di kursi penumpang, mengenakan jas rapi. Pandangannya tiba-tiba terpaku ke trotoar.
"Ning?"
Bastian melirik bosnya.
"Berhenti," kata Yuda singkat, saat kendaraan itu mulai bergerak.
Bastian mengerem. "Kenapa?"
Di sana, Ningsih berdiri di depan gerobak batagor. Tangannya menunjuk tumpukan batagor, bibirnya bergerak pelan dan sedikit diselingi senyum.
Deg!
Yuda melepas jas mahalnya, menyampirkannya ke kursi, menyisakan kemeja dan celana panjang. Ia membuka pintu, melangkah mendekat.
"Hei! Mau ke mana?" seru Bastian, lalu mengikuti ke arah Yuda berjalan sambil melipat lengan kemejanya.
"Ning?"
Ningsih terkejut. "Mas Yuda?"
"Kamu sendiri?"
"Iya, Mas."
"Ini jauh dari rumah loh, kamu naik apa?"
"Jalan, Mas."
Yuda tertegun, "Jalan?" katanya sambil melirik kaki Ning yang menopang dengan kruk di lengannya.
"Udah biasa jalan kok, Mas," ucap Ning tersenyum kecil. "Lebih enak jalan. Mas Yuda mau beli batagor juga?"
Ada sesuatu yang diam-diam menyusup di dada Yuda. Tapi, ia sendiri tak tau apa.
"Iya."
Ning tersenyum lagi. Lalu menoleh pada penjual batagor yang memasukan dua bungkus batagor ke plastik.
"Semuanya 10 ribu, Neng," kata Mang penjual batagor.
"Ini, Mang." Ning menyerahkan uang dua puluh ribu.
"Kok beli dua?"
"Oh, iya. Buat Mbak Dewi sama Ibuk. Tadi minta Ning belikan."
Yuda menatap lekat gadis berjilbab berwajah kalem itu. "Kamu?"
Ning menggeleng. "Ning duluan, ya, Mas," pamitnya setelah menerima kembalian.
"Kamu mau batagor? Mas belikan."
Ning diam sebentar, seperti menimbang. Yuda langsung ke penjual. "Pak, dua. Makan sini."
Ning menggeleng cepat. "Eh, enggak Mas. Ning harus cepat pulang."
"Temani Mas makan dulu, enggak enak makan sendiri. Lagian ada yang mau Mas tanyain," kata pemuda itu enteng sambil menarik kursi. "Ayo duduk."
Ning ragu. "Tapi... Mbak Dewi sama Ibuk nungguin di rumah," ucapnya lirih.
"Bilang aja antrian panjang," Yuda beralasan santai. "Duduk sini! Temanin Mas makan."
Ning ragu. Wajahnya bimbang, lalu menunduk. "Makasih, Mas."
Mereka duduk di bangku plastik. Kruk penyangga Ning disandarkan di tembok dekat gerobak. Ning memegang piringnya kikuk, seperti takut menikmati.
"Kakimu kenapa?" tanya Yuda pelan.
Ning terdiam sesaat. "Jatuh."
"Kapan?"
"Tahun lalu, Mas."
"Di mana?"
"Di jalan." Jawabannya singkat, tertutup.
Yuda tak memaksa. Ia hanya mengangguk, lalu menyodorkan minuman.
Ning menggigit kecil. Matanya berbinar sebentar, lalu cepat disembunyikan.
"Terima kasih, Mas," ucapnya tulus. "Ning jarang jajan kek gini."
"kalau gitu, sering-seringlah jalan sama Mas. Biar Mas jajanin."
Ning tersenyum, senyum yang menggetarkan hati seseorang.
"Ning pulang dulu, Mas."
Yuda sigap berdiri, lalu mengambil kruk Ning dan memberikannya.
"Makasih, Mas."
Yuda mengangguk.
"Mas orang baik."
Ada yang berdesir, namun cepat ditepis. "Kamu ini, sekali ditraktir aja udah bilang baik."
"Hehehe, beneran kok, Mas. Ning tau, Mas orang baik. Makasih ya, Mas Yuda. Assalamualaikum."
Yuda menatapnya pergi. "Wa'alaikum salam..."
Ada keteduhan di punggung rapuh itu—dan luka yang tak terucap.
****
Di rumah, Dewi menyambut dengan wajah masam.
"Lama!" bentaknya. "Ngapain aja sih?"
"Antrinya panjang, Mbak."
"Halah, alasan aja! Kami udah lapar tau! Sengaja ya kamu mau bikin kami mati kelaparan."
"Enggak, Mbak."
Bu Sumi melirik sinis. "Sudah. Kamu enggak usah makan. Banyak kali alasan!"
Ning menunduk. Ia masuk kamar, menutup pintu pelan. Di dalam, ia duduk di tepi ranjang, memeluk perutnya yang masih hangat oleh batagor tadi.
Malam itu, Pak Hasto baru saja duduk di ruang tamu, bersama Dewi dan Bu sumi. Suara ketukan pintu terdengar.
Tok. Tok.
"Assalamu’alaikum."
Semua menoleh. Pak Hasto bangkit, membuka pintu.
"Kamu..."
Tok. Tok.
"Assalamu’alaikum."
Pak Hasto membuka pintu lebih lebar. Seorang pria berdiri di ambang, kemeja biru muda, celana kain rapi, wajahnya tegang namun sopan.
"Ridho?" Pak Hasto terkejut. "Masuk."
Ridho melangkah masuk. Tatapannya langsung tertuju ke arah ruang tamu, ke Dewi yang duduk dengan wajah berbinar.
"Mas Ridho!?"
Bu Sumi yang langsung berdiri, "Oh, nak Ridho. Ada apa? Masuk dulu."
Pandangan Ridho lalu bergeser… ke arah pintu kamar Ning yang tertutup.
"Ada apa malam-malam begini, Dho?" tanya Pak Hasto.
Ridho menelan ludah. "Ning ada, Pak?"
"Ning!? Ngapain kamu masih nyari-nyari Ning?" suara Bu Sumi langsung tinggi. "Sudah ibu bilang, dia itu mewarisi darah pelakor ibunya! Lihat! Sekarang malah mau merebut calon kakaknya! Terlalu memang!"
"Buk! Jangan begitu!" tegur Pak Hasto. "Dari pada marah-marah, lebih baik ibu buatkan minum untuk tamu kita."
"Aku?" Mata bu Sumi mendelik, bibirnya manyun. Lalu berteriak keras, "Ning! Keluar kamu! Buatkan minum buat tamu kita! Jangan mau enak nya aja kamu numpang di sini!"
Ning muncul dari kamar dengan bantuan Kruk di bawah ketiaknya.
"Iya, buk?"
"Buatkan minum! Jangan jadi benalu di sini!"
Ning menunduk, lalu berlalu ke dalam. Ridho ingin menahan, tapi hanya sampai di ujung lidah.
"Biar aku awasi, Buk. Takutnya dia kasih pelet biar Mas Ridho terjerat sama dia," ujar Dewi beranjak dan masuk ke dalam, menyusul.
Ridho hanya menggeleng.
"Dewi!" tegur Pak Hasto. "Ning tidak begitu."
"Terus saja bela anak perempuan sundal itu!"
Pak Hasto memejamkan mata, tangannya mengepal di bawah meja. ia memang sekuatnya menahan amarah. Ia membuka mata, lalu menanyakan maksud Ridho datang.
"Ada apa kamu kemari, Nak?"
"Saya mau bicara. Soal lamaran saya."
Udara mendadak berat.
Bu Sumi langsung menoleh, tatapannya jadi lebih tajam.
Ridho menarik napas panjang. "Saya mau dengar langsung dari Ning, Pak. Apa dia mau menerima lamaran saya."
Bu Sumi terkekeh sinis. "Dengar? Buat apa dengar lagi. Sudah jelas Ning itu cuma bikin masalah."
"Ning bukan masalah, Bu," Ridho menahan emosi. "Saya datang baik-baik."
"Baik-baik?" Dewi muncul dengan membawa baki dan air minum. "Mas Ridho sadar enggak sih? Selama ini yang temenan sama Mas di kantor itu aku. Yang sering Mas temui di rumah juga aku. Tapi sekarang Mas malah datang buat dia?" tanyanya sambil meletakkan baki itu di atas meja.
Ridho menatap Dewi. "Perasaan itu enggak bisa dipaksa, Wi."
"Jadi kamu nuduh aku maksa?" suara Dewi meninggi. "Atau… dia yang rayu kamu, Mas?!"
Ning keluar dengan langkah pincang pelan, membawa beberapa toples makanan, matanya menunduk.
Ridho langsung berdiri. "Ning…"
"Ning ngapain keluar?" Dewi menyentak. "Tadi kan udah kubilang jangan keluar! Kamu tempatnya di dapur!"
"Wi!" pak Hasto menegur lagi.
"Apa Yah? Mau bela Ning lagi!?" sambar Dewi yang sudah terlalu tersulut emosi. Ia menatap Ning penuh amarah. "Dengerin ya! Jangan sok lemah di depan Mas Ridho!"
Pak Hasto membentak, "Dewi, cukup!"
"Sikap kasar mu ini yang aku enggak suka, Wi!" ujar Ridho tajam. Ia melangkah mendekat ke Ning. "Ning, Mas mau dengar dari kamu. Apa kamu mau jadi istri Mas?"
Hening.
"Ning, lihat Mas... Mas pernah janji bakal bawa kamu pergi dari keluarga ini. Ning... Biarkan Mas tunaikan janji Mas Ning."
"Apa? Jadi emang kalian diam-diam ketemu di belakangku!?" sela Dewi. Dia makin kalap menatap menyalang pada adiknya. "Kamu! Ningsih! Dasar iblis!"
Tangan Dewi sudah terulur ke depan. Namun, Pak Hasto sudah menahannya dengan cepat.
"Dewi! Kendalikan dirimu!"
"Aaarrrhhhh!"
Ning menggenggam ujung gamisnya erat. Dadanya berdebar. Ia menyukai Ridho, diam-diam, dalam doa, dalam harapan yang tak pernah ia ucapkan. Tapi ia juga tahu, siapa dirinya. Pincang. Selalu jadi bayangan. Selalu yang harus mengalah.
Sebelum Ning sempat membuka mulut, Dewi menyela cepat, "Dia enggak mau."
Semua menoleh.
Ning terkejut. "Mbak..."
"Dia mau nikah!" Dewi menatap Ridho tajam. "Ning sudah mau menikah sama orang lain."
Ucapan itu seperti tamparan.
"Apa?" Ridho terpaku. "Ning?"
Ning menatap Dewi. Pandangan kakaknya itu tajam, mengancam, bibirnya terkatup rapat seperti memberi peringatan tanpa suara.
"Ning…" suara Ridho bergetar. "Saya mau dengar dari kamu."
Ning menelan ludah. Kepalanya pening. Tangannya gemetar. Perlahan… ia mengangguk.
"Iya, Mas," suaranya nyaris tak terdengar. "Ning… mau menikah."
Ridho terhuyung satu langkah. "Sama siapa?"
Ning diam.
"Jawab!" Dewi mendesis.
Ning menunduk lebih dalam. "Sama… orang lain."
Ridho tertawa kecil, pahit. "Mas tau kamu cuma… bohong, kan?"
"Enggak!" sambar Bu Sumi. Ridho menoleh padanya. "Dia memang mau menikah sama tukang ojek online. Dia sudah datang melamar sebelum kamu."
Ning menunduk, air matanya jatuh.
"Ning, katakan kalau ini bohong, Ning?" suara Ridho pecah.
Dewi maju satu langkah. "Dia emang mau nikah sama orang yang selevel sama dia. Tukang ojek, memang pantasnya sama cewek pincang ini!"
Pak Hasto membentak, "Cukup!"
Ridho menatap Ning lama. Ada harapan di matanya. "Katakan Ning," pintanya.
Ning mengangguk. "Iya, Mas," lirihnya.
keyakinan yang runtuh di mata Ridho. Ada kehancuran yang dalam di dadanya. Ia menggeleng, menolak. Lalu Ridho pergi. Pintu tertutup dengan bunyi pelan, tapi rasanya seperti dentuman besar di dada Ning.
Begitu pintu tertutup, Dewi meledak.
"Lihat tuh!" Dewi menuding Ning. "Ini semua gara-gara kamu, Ning! Ngapain kamu ada di rumah ini!?"
Bu Sumi ikut berdiri. "Dasar anak pembawa sial!"
"Ning enggak salah!" Pak Hasto membela.
"Salah!" Dewi berteriak. "Dia yang hancurin kebahagiaan Dewi! Ayah terus saja bela dia! Memang ayah enggak pernah sayang Dewi!"
"Dewi! Bagaimana bisa kamu punya pikiran seperti itu!?" Pak Hasto terkejut.
"Nikah!" Dewi menatap Ning penuh amarah. "Nikah sama si tukang ojek itu!!"
Ning terkejut. "Mbak…"
"Kamu enggak boleh ambil apa pun dari aku!" Dewi mendesis. "Mana nomor dia?! Yang dulu aku lempar ke kamu!"
Ning terdiam. Kepalanya tertunduk.
"Jawab!" Dewi mendorong bahu Ning.
Dewi makin geram, lalu berbalik cepat menuju kamar Ning. "Kalau gitu biar aku yang cari!"
"Dewi!" Pak Hasto mengejar, tapi Dewi sudah menutup membuka kamar Ning keras-keras.
Di dalam kamar, Dewi mengobrak-abrik. Laci dibuka, bantal dilempar, buku-buku jatuh. Hingga sebuah kertas kecil terlipat jatuh ke lantai.
Nomor telepon.
Dewi tersenyum dingin. "Ketemu."
Ia langsung menelepon.
****
Di tempat lain, Bastian menatap layar laptop dengan kening berkerut.
"Yud," katanya serius. "Gua dapet data rumah sakit."
Yuda yang sedang berdiri di depan jendela menoleh. "Kenapa?"
"Dua tahun lalu, kecelakaan di lokasi itu… yang dirawat resmi cuma Dewi."
"Terus?"
"Tapi saksi bilang… yang ketabrak itu gadis lain. Dan nama yang muncul di laporan internal, Ningsih."
Yuda membeku.
"Dewi cuma luka ringan," lanjut Bastian. "Yang luka parah… Ning."
Telepon Yuda berdering.
Nomor asing.
Yuda mengangkat perlahan. "Halo?"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!