Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Yang Tertindas

BAB 1: GAUN PUTIH YANG TERNODA

Cermin besar di hadapanku memantulkan sesosok wanita cantik dengan gaun sutra putih seharga puluhan juta. Riasan wajahku sempurna flawless, begitu kata penata rias tadi. Namun, jika mereka melihat lebih dekat, mereka akan menemukan bahwa di balik bedak mahal ini, ada mata yang telah kehilangan cahayanya bertahun-tahun yang lalu.

"Cantik sekali, Sayang. Kamu benar-benar aset terbaikku malam ini," sebuah suara bariton yang berat berbisik di telingaku.

Aku tersentak kecil. Stevanus sudah berdiri di belakangku. Tangannya yang besar mengusap bahuku yang terbuka, namun sentuhannya tidak terasa hangat. Bagiku, tangan itu terasa seperti lilitan ular yang siap mencekik kapan saja.

"Terima kasih, Mas," jawabku lirih, mencoba memaksakan senyum di sudut bibirku.

Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang kelima. Bagi publik, ini adalah perayaan "Cinta Sejati" sang pengusaha sukses Stevanus dan istrinya yang setia, Yati. Namun bagiku, ini adalah peringatan lima tahun masa tahananku di penjara tak kasat mata yang ia bangun.

"Ingat, Yati," dia merapatkan wajahnya ke telingaku, suaranya berubah menjadi desisan dingin yang membuat bulu kudukku berdiri. "Malam ini ada banyak investor besar. Jangan buat kesalahan. Jangan bicara kecuali ditanya, dan pastikan kamu terus tersenyum seolah-olah kamu adalah wanita paling bahagia di dunia. Jika tidak... kamu tahu apa yang menantimu di rumah."

Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering dan sakit. "I-iya, Mas. Aku mengerti."

Gala mewah itu diadakan di ballroom hotel bintang lima. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya ke segala arah, namun semuanya terasa remang-remang di mataku. Bau parfum mahal dan aroma sampanye memenuhi ruangan.

Stevanus menggandeng lenganku dengan erat terlalu erat, hingga kuku jarinya sedikit menekan kulitku. Kami berjalan melewati kerumunan orang-orang berjas rapi yang memberikan tatapan kagum.

"Ah, Stevanus! Pasangan paling serasi di kota ini!" seru Pak Sanjaya, salah satu rekan bisnis kelas kakap Stevanus. "Istrimu terlihat luar biasa malam ini."

Stevanus tertawa kecil, suara tawa yang terdengar begitu tulus bagi orang lain. "Tentu saja, Pak. Yati adalah permata dalam hidupku. Tanpa dia, aku bukan apa-apa."

Dia mencium keningku di depan Pak Sanjaya. Orang-orang di sekitar kami berbisik iri, memuji betapa romantisnya suamiku. Mereka tidak tahu bahwa saat bibirnya menyentuh kulitku, aku merasa mual. Hatiku menjerit, ingin berteriak kepada mereka semua bahwa pria ini adalah monster.

Kami duduk di meja VIP. Makan malam berlangsung lambat dan menyiksa. Di tengah pembicaraan bisnis yang membosankan, Pak Sanjaya tiba-tiba bertanya padaku, "Nyonya Yati, bagaimana rasanya menjadi istri pria sesibuk Stevanus? Pasti sangat bangga memiliki suami yang begitu memuja istrinya."

Aku sedikit gugup. "Ah, iya Pak. Mas Stevanus sangat... perhatian. Dia selalu memastikan saya tidak kekurangan apa pun."

"Hanya perhatian?" canda Pak Sanjaya. "Saya dengar Stevanus bahkan membatalkan rapat di Singapura bulan lalu hanya karena Anda sedang flu ringan. Benar begitu, Stev?"

Aku terdiam sejenak. Sebenarnya, bulan lalu aku tidak flu. Aku mengurung diri di kamar karena wajahku lebam setelah Stevanus marah besar hanya karena aku lupa menaruh dasinya di tempat biasa. Aku mencoba mengingat skenario bohong yang harus kukatakan.

"Benar, Pak. Mas Stevanus memang sangat... melindungi," jawabku agak terbata.

Tiba-tiba, aku merasakan sakit yang luar biasa di paha kiriku. Di bawah meja yang tertutup taplak panjang, tangan Stevanus mencengkeram kulit pahaku dan memelintirnya dengan kuat. Aku tersedak, nafasku tercekat di tenggorokan. Mataku mulai berkaca-kaca menahan perih yang menyengat.

"Istriku memang agak pemalu kalau dipuji, Pak Sanjaya," sahut Stevanus dengan tenang, sementara jemarinya semakin dalam menekan daging pahaku. "Dia sering kehilangan kata-kata jika membicarakan cinta kami."

Aku memegang pinggiran meja dengan sangat kencang hingga buku-buku jariku memutih. Aku harus tetap tersenyum. Aku harus tetap diam. Jika aku mengeluarkan satu suara kesakitan saja di sini, neraka yang lebih besar akan menungguku di rumah.

Perjalanan pulang di dalam mobil adalah keheningan yang paling mengerikan. Stevanus menyetir dengan kecepatan tinggi, rahangnya mengeras. Aku hanya bisa memandang ke luar jendela, air mata yang tadi kutahan kini mulai mengalir tanpa suara, membasahi pipiku yang memerah.

Begitu mobil masuk ke dalam garasi rumah kami yang luas, suasana berubah menjadi sangat dingin. Belum sempat aku membuka pintu mobil, Stevanus sudah keluar dan memutari mobil. Dia membuka pintuku dengan kasar dan menarik lenganku hingga aku terseret keluar.

"Mas, sakit..." isyakku.

"Sakit? Kamu bilang sakit?" Dia membentak, suaranya menggelegar di garasi yang sepi. "Kamu tahu betapa bodohnya kamu tadi? Kamu terlihat ragu saat menjawab pertanyaan Pak Sanjaya! Kamu membuatnya berpikir bahwa ada yang salah dengan pernikahan kita!"

"Aku hanya... aku hanya bingung harus menjawab apa, Mas," aku memohon, tubuhku gemetar hebat.

Dia tidak mendengarkan. Dia menyeretku naik ke lantai dua, menuju kamar utama yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman, namun bagiku adalah ruang interogasi. Dia melemparku ke atas lantai marmer yang dingin.

Braakk!

Dia mengunci pintu kamar dari dalam. Suara kunci yang berputar itu terdengar seperti vonis hukuman mati bagiku.

"Kamu harus belajar bagaimana menjadi aset yang berguna, Yati," katanya sambil melepas jasnya dengan tenang, sebuah ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada amarah yang meledak-ledak. "Karena jika kamu tidak berguna, untuk apa aku mempertahankanmu di rumah ini?"

Dia mendekat, bayangannya menutupi tubuhku yang meringkuk di lantai. Gaun putih mahalku kini sudah kotor dan robek di bagian bahu. Aku menatap matanya, dan yang kulihat bukan lagi suami yang kunikahi lima tahun lalu, melainkan predator yang haus akan dominasi.

"Malam ini, pelajaranmu dimulai lagi," bisiknya tepat di depan wajahku.

Aku menutup mata rapat-rapat, memeluk diriku sendiri saat rasa sakit yang sudah akrab itu kembali menyapa. Di dalam hatinya, sebuah retakan besar baru saja tercipta. Sebuah retakan yang suatu hari nanti akan menghancurkan seluruh dunia yang telah dibangun oleh Stevanus.

Saat Stevanus hendak melayangkan tangannya, terdengar suara ketukan keras di pintu kamar. Bukan pelayan, melainkan suara seorang wanita yang sangat aku kenali dari balik pintu. "Stevanus, buka pintunya! Aku tahu kamu sedang bersamanya di dalam!".

BAB 2

SECANGKIR KOPI PAHIT

Suara ketukan di pintu semalam masih terngiang di telingaku, namun pagi ini rumah terasa sunyi senyap seperti kuburan. Wanita yang semalam berteriak di depan pintu kamar yang ternyata adalah sekretaris pribadi Stevanus sekaligus sahabat lamaku, Maya telah pergi entah ke mana setelah percakapan berbisik yang kusamar-samar kudengar di balik pintu.

Aku terbangun di atas lantai marmer, bukan di atas ranjang. Tubuhku terasa kaku dan remuk. Saat aku mencoba bangkit, rasa perih menyengat di punggung dan pahaku, sisa-sisa "pelajaran" yang diberikan Stevanus sebelum dia membiarkanku jatuh pingsan karena kelelahan menangis.

Aku memandang cermin. Bayangan di sana bukan lagi wanita anggun di gala semalam. Rambutku kusut, sudut bibirku pecah, dan gaun putih mahal itu kini benar-benar menjadi sampah yang teronggok di sudut ruangan.

"Yati! Mana kopiku?!" teriak Stevanus dari lantai bawah.

Aku tersentak. Ketakutan adalah alarm alaminya. Dengan tangan gemetar, aku segera mengganti pakaian dengan daster lengan panjang untuk menutupi jejak-jejak kekerasan di tubuhku. Aku memoleskan bedak tebal pada sudut bibirku yang membiru. Aku tidak boleh terlihat hancur di depannya, atau dia akan semakin bersemangat meremukkanku.

Di dapur, aku menyeduh kopi hitam tanpa gula persis seperti yang dia suka. Tanganku bergetar saat menuangkan air panas. Pikiranku melayang pada Maya. Mengapa dia datang semalam? Dan mengapa suaranya terdengar begitu posesif terhadap suamiku?

Aku membawa nampan itu ke meja makan. Stevanus duduk di sana sambil membaca koran finansial, terlihat sangat rapi dan segar, seolah-olah dia tidak baru saja menyiksa istrinya beberapa jam yang lalu.

"Ini kopinya, Mas," ucapku pelan, meletakkan cangkir itu di hadapannya.

Stevanus tidak menoleh. Dia menyesap kopi itu sedikit, lalu tiba-tiba wajahnya berubah gelap. Dalam sekejap mata, dia menyambar cangkir itu dan menyiramkan isinya ke punggung tanganku.

"Aakh!" aku menjerit kecil, menarik tanganku yang kini memerah karena tersiram air panas. Rasa perihnya luar biasa, kulitku terasa seperti dikuliti hidup-hidup.

"Terlalu dingin! Kamu pikir aku suka minum air cucian piring?" bentaknya sambil membanting cangkir porselen itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping. "Kamu sudah tidak bisa melayaniku di ranjang dengan benar, sekarang membuat kopi saja kamu tidak becus? Apa gunanya kamu di sini, Yati?!"

Aku menunduk, air mata jatuh mengenai tanganku yang melepuh. "Maaf, Mas... aku akan buatkan yang baru."

"Sudahlah! Nafsu makanku hilang melihat wajah melasmu itu," dia bangkit, menyambar tas kantornya, dan melangkah pergi tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Bersihkan kekacauan ini. Aku tidak mau melihat ada satu serpihan pun saat aku pulang nanti."

Setelah suara mobilnya menjauh, aku terduduk di lantai dapur yang basah oleh kopi. Aku terisak, bukan hanya karena luka bakar di tanganku, tapi karena kehampaan yang mulai menggerogoti jiwaku. Aku mencintai pria ini. Dulu, dia adalah pelindungku. Mengapa cinta bisa berubah menjadi racun yang begitu mematikan?

Aku mulai memunguti serpihan porselen dengan tangan yang masih gemetar. Di sela-sela pecahan itu, mataku menangkap sesuatu yang berkilau di bawah meja makan. Sebuah benda kecil yang asing.

Aku merangkak dan mengambilnya. Itu adalah sebuah anting-anting mutiara. Jantungku berdegup kencang. Aku tahu anting ini. Ini bukan milikku. Aku tidak pernah memakai mutiara karena Stevanus bilang mutiara hanya untuk wanita tua.

Ini milik Maya.

Tiba-tiba, ponsel Stevanus yang tertinggal di atas meja bergetar. Biasanya, aku tidak pernah berani menyentuh barang pribadinya. Namun, rasa sakit di tanganku dan penemuan anting itu memberikan keberanian yang tidak pernah kupunya.

Aku mendekati meja, tanganku yang melepuh meraih ponsel itu. Layarnya menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk dari kontak bernama "M".

“Mas, jangan lupa mampir ke apartemenku sebelum ke kantor. Aku masih tidak puas dengan 'penjelasan' singkatmu semalam di depan pintu kamar istrimu yang bodoh itu. Aku ingin hadiah yang lebih besar sebagai kompensasi karena harus berakting jadi sekretaris yang sopan setiap hari.”

Duniaku serasa runtuh. Napasku tercekat. Jadi, kecurigaanku benar. Mereka tidak hanya berselingkuh; mereka menertawakanku di belakang punggungku. Maya, wanita yang selama ini menjadi tempatku mengadu tentang kekejaman Stevanus, ternyata adalah orang yang menikmati penderitaanku.

Aku menggenggam ponsel itu begitu erat hingga tanganku yang terluka berdarah lagi. Rasa sakit fisik itu kini kalah oleh api yang mulai menyulut sesuatu di dalam dadaku. Sesuatu yang selama ini padam oleh ketakutan.

Tiba-tiba, suara pintu depan terbuka kembali. Langkah kaki berat Stevanus terdengar mendekat ke dapur. Dia kembali karena tertinggal ponselnya.

Aku terpaku. Ponsel itu masih ada di tanganku. Pesan itu masih terbuka di layar.

"Yati! Apa yang kamu lakukan dengan ponselku?!" geramnya dari ambang pintu dapur.

Wajahnya merah padam karena amarah yang memuncak. Dia melihat ponsel di tanganku, lalu melihat pesan yang terpampang jelas di sana. Untuk pertama kalinya, aku tidak menunduk. Aku menatap matanya dengan sisa keberanian yang hancur.

Stevanus melangkah maju dengan cepat, namun sebelum dia sempat meraih leherku, aku merasakan gelombang mual yang hebat menghantam perutku. Aku terjatuh berlutut dan muntah di depan kakinya. Di antara rasa sakit dan pengkhianatan, sebuah pikiran mengerikan melintas Apakah aku baru saja mengandung anak dari pria yang ingin membunuhku ini?.

BAB 3

JEJAK PENGKHIANATAN DI BALIK CERMIN

Lantai dapur terasa sangat dingin di bawah lututku. Rasa mual itu bukan hanya karena kondisi fisikku, tapi karena kenyataan yang baru saja menyumbat napasku. Di hadapanku, Stevanus berdiri seperti raksasa yang murka. Dia merampas ponsel itu dari tanganku dengan kasar hingga kuku jarinya menggores luka bakarku.

"Berani-beraninya kamu menyentuh barangku!" suaranya menggelegar, namun ada nada panik yang tertahan di sana.

Aku masih terengah-engah, mencoba menguasai rasa mual yang melilit perut. "Mas... anting itu... pesan dari Maya itu... apa maksudnya?" suaraku bergetar, nyaris tidak terdengar.

Stevanus terdiam sejenak. Dia melihat anting mutiara yang tergeletak di dekat pecahan porselen, lalu menatapku dengan tatapan paling dingin yang pernah kulihat. Tidak ada penyesalan. Tidak ada permintaan maaf.

"Maksudnya? Maksudnya adalah aku bosan, Yati!" Dia tertawa hambar, sebuah tawa yang menyayat hatiku lebih dalam dari sembilu. "Kamu pikir kenapa aku mempertahankan Maya sebagai sekretaris selama tiga tahun? Karena dia tahu cara menyenangkan pria, tidak seperti kamu yang hanya bisa menangis dan memasang wajah seperti korban setiap hari!"

Duniaku serasa berhenti berputar. Lima tahun pengabdianku, semua rasa sakit yang kutelan bulat-buat, dianggap tidak ada artinya hanya karena aku tidak "menyenangkan" baginya.

"Dia sahabatku, Mas... Dia tempatku bercerita saat aku terluka olehmu..."

"Itulah yang membuatnya semakin menarik," potong Stevanus sambil merapikan dasinya di depan cermin dapur, seolah-olah dia baru saja membicarakan cuaca. "Dia menceritakan semua keluhan konyolmu padaku sambil tertawa di tempat tidur. Kamu benar-benar naif, Yati. Itulah alasan kenapa kamu pantas ditindas. Kamu terlalu bodoh untuk menyadari bahwa dunia ini tidak punya tempat untuk orang lemah."

Dia melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum maskulin yang kini tercium seperti bau bangkai di hidungku. Namun, sebelum dia benar-benar keluar, dia berbalik.

"Bersihkan dirimu. Bau muntahmu menjijikkan. Dan jangan pernah berpikir untuk pergi dari rumah ini, atau aku pastikan keluargamu di kampung akan menanggung akibatnya."

Brak! Pintu depan tertutup dengan dentuman keras.

Aku terisak sendirian di dapur yang berantakan. Tanganku yang melepuh mulai berdenyut hebat, tapi rasa sakit di rahimku terasa lebih mendesak. Aku harus tahu. Aku harus memastikan firasat ini.

Dengan sisa tenaga yang ada, aku pergi ke apotek terjauh dari rumah agar tidak ada yang mengenaliku. Aku membeli tiga alat tes kehamilan berbeda. Sepanjang jalan pulang, tanganku tak berhenti mengusap perut. Ada ketakutan yang luar biasa: Jika benar ada nyawa di sini, nyawa ini adalah darah daging dari pria yang baru saja menghinaku sebagai sampah.

Di kamar mandi, aku menunggu dengan jantung yang berdegup kencang seolah ingin melompat keluar. Satu menit terasa seperti satu abad.

Dua garis merah. Jelas. Tegas.

Air mataku jatuh seketika, namun kali ini bukan air mata kesedihan biasa. Ini adalah air mata ketakutan yang amat sangat. Di saat aku ingin menyerah pada hidup, Tuhan justru menitipkan satu nyawa yang harus kulindungi. Namun, bagaimana aku bisa melindungi anak ini jika aku sendiri adalah tawanan di rumah ini?

Aku keluar dari kamar mandi dengan tubuh lemas. Mataku tertuju pada lemari rias besar milikku. Aku mendekat, melihat pantulan diriku di cermin. Bedak yang luntur, bibir yang pecah, dan mata yang sembap.

Aku membuka laci rias, mencari sesuatu. Di sana, di balik tumpukan perhiasan mahal yang jarang kupakai, aku menemukan sebuah foto kecil foto kami saat awal menikah. Kami tampak sangat bahagia. Atau mungkin, hanya aku yang bahagia sementara dia sedang merencanakan penindasanku.

Tiba-tiba, rasa benci yang murni mulai tumbuh di sela-sela rasa takutku. Aku tidak boleh membiarkan anak ini tumbuh di tangan pria kejam seperti Stevanus. Aku tidak boleh membiarkan dia menjadi alat untuk mengikatku selamanya dalam neraka ini.

Aku harus mencari bukti lebih banyak. Aku harus tahu apa yang mereka rencanakan.

Sore itu, saat Stevanus belum pulang, aku menyelinap ke ruang kerjanya yang selalu terkunci. Beruntung, aku pernah mengintip kode brankasnya saat dia mabuk beberapa bulan lalu. Dengan tangan gemetar, aku menekan angka-angka itu.

Klik.

Brankas itu terbuka. Di dalamnya terdapat tumpukan uang tunai, dokumen perusahaan, dan sebuah map hitam bertuliskan "Harta Warisan Keluarga Yati".

Jantungku berhenti berdetak. Keluargaku memang punya tanah luas di desa yang sedang diincar untuk proyek jalan tol pemerintah. Ayahku menitipkan surat-suratnya padaku sebelum dia meninggal. Stevanus bilang dia yang akan mengurusnya agar lebih aman.

Aku membuka map itu. Isinya bukan surat tanah, melainkan surat kuasa palsu yang menyatakan bahwa aku telah menjual seluruh aset keluargaku kepada perusahaan milik Stevanus dengan harga yang sangat rendah. Dan di sana, ada tanda tanganku yang jelas-jelas dipalsukan.

Dia bukan hanya menghancurkan jiwaku. Dia telah merampok masa depan keluargaku.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di koridor. Bukan langkah kaki Stevanus yang berat, melainkan suara sepatu hak tinggi yang tajam. Klik, klok, klik, klok.

Aku segera menutup brankas, tapi tidak sempat menguncinya. Aku bersembunyi di balik gorden besar yang menutupi jendela ruang kerja.

Pintu terbuka. Maya masuk ke dalam ruangan. Dia tidak menyadari keberadaanku. Dia berjalan langsung ke meja kerja Stevanus, duduk di kursinya dengan angkuh, dan mengeluarkan ponselnya. Dia melakukan panggilan video.

"Halo, Sayang... Iya, aku sudah di rumahmu. Si bodoh itu sepertinya sedang tidur atau menangis di kamarnya," Maya tertawa renyah, suara yang dulu sangat aku percayai. "Kapan kita akan menyingkirkannya secara permanen? Aku sudah bosan melihat wajahnya. Apalagi setelah surat tanah itu beres, kita tidak butuh dia lagi, kan?"

Aku membekap mulutku sendiri agar tidak berteriak. Air mata kemarahan mengalir deras.

Suara Stevanus terdengar dari seberang telepon, cukup keras untuk kudengar di kesunyian ruangan itu. "Sabar, Maya. Sedikit lagi. Aku sudah mengatur skenario kecelakaan untuknya akhir pekan ini. Setelah dia 'pergi', semua hartanya dan tanah itu akan jadi milik kita sepenuhnya. Kita akan merayakannya dengan bayi kita nanti."

Duniaku gelap seketika. Bayi? Apakah Maya juga sedang hamil?.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!