Jakarta, Kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Malam minggu di Jakarta selalu punya cara sendiri untuk mencekik mereka yang kesepian. Udara malam yang lembap bercampur dengan aroma aspal panas, asap knalpot, dan samar-samar wangi parfum mahal dari ribuan manusia yang memadati pelataran stadion.
Di tengah lautan manusia yang antusias menanti gerbang konser dibuka, seorang pemuda berdiri gelisah di dekat trotoar. Keringat dingin membasahi punggung kemejanya yang sudah agak kusut.
Namanya Raka.
Tangan kanannya menggenggam ponsel erat-erat, sementara tangan kirinya meremas saku celana, memastikan dua lembar tiket konser mahal itu masih aman di sana. Tiket yang dibelinya dengan memeras keringat dari kerja paruh waktu selama tiga bulan, makan mie instan setiap akhir bulan, hanya demi malam ini.
"Halo? Tiara?"
Raka berbicara ke arah ponselnya dengan nada mendesak, berusaha mengalahkan kebisingan suara klakson dan teriakan calo tiket di sekitarnya.
"Kamu di mana? Gate-nya bentar lagi dibuka, lho. Kalau telat nanti kita dapet spot jelek..."
Ada nada memohon dalam suaranya. Wajar saja, Raka sudah merencanakan ini sejak lama. Tiara bukan sekadar teman kuliah satu jurusan baginya. Dia adalah gadis yang selama setahun terakhir ini menjadi pusat dunianya. Raka sudah menjadi sopir pribadinya, tempat curhatnya, bahkan penyedia hadiah-hadiah kecil yang Raka sendiri sebenarnya tak mampu beli.
Teman-teman tongkrongannya sudah sering menyindir. "Ka, lo itu cuma badut. Cuma ojol gratisan." Tapi Raka menutup telinga. Dia percaya, malam ini, di bawah lampu sorot konser dan lagu romantis, dia akan menyatakan perasaannya.
Namun, jawaban di ujung telepon menghancurkan skenario itu dalam hitungan detik.
"Aduh, Raka... sorry banget ya," suara manja di seberang sana terdengar serak, dibuat-buat. "Perut aku sakit banget dari tadi sore. Kayaknya asam lambung aku kumat deh. Aku nggak bisa dateng. Sumpah, maaf banget ya..."
Jantung Raka mencelos. "Sakit? Kamu butuh obat? Atau aku ke kostan kamu sekarang "
"Nggak usah!" potong Tiara cepat. "Aku cuma butuh tidur. Udah ya, have fun nontonnya. Bye."
Sambungan terputus.
Raka mematung. Hiruk-pikuk di sekitarnya seolah meredam, menyisakan suara dengung di telinganya. Dia menatap layar ponsel yang gelap, lalu menatap dua tiket di tangannya. Sia-sia.
"Mungkin dia beneran sakit..." gumam Raka, mencoba membohongi logikanya sendiri.
Namun, takdir punya selera humor yang brengsek malam itu.
Mata Raka tanpa sengaja menangkap kilatan lampu depan sebuah mobil mewah yang perlahan merayap di tengah kemacetan drop-off zone VIP, tak jauh dari tempatnya berdiri. Sebuah sedan BMW Seri 3 berwarna hitam mengkilap berhenti dengan anggun.
Pintu penumpang terbuka.
Waktu seolah melambat bagi Raka.
Seorang gadis melangkah turun. Kakinya jenjang, dibalut rok mini yang memamerkan kulit putih mulus. Rambutnya ditata sempurna, wajahnya glowing di bawah lampu jalan. Tidak ada tanda-tanda sakit perut atau asam lambung kumat. Dia terlihat segar, cantik, dan... siap bersenang-senang.
Itu Tiara.
Dan dia tidak sendirian.
Dari pintu pengemudi, seorang pemuda keluar. Gayanya santai tapi loud. Kaos oversized Balenciaga, celana kargo trendi, dan sepatu Air Jordan edisi terbatas yang harganya mungkin setara biaya hidup Raka selama satu semester.
Raka mengenalnya. Kevin.
Anak tajir dari fakultas sebelah. Tipe cowok yang ke kampus bawa mobil beda-beda tiap minggu, yang jam tangannya Rolex atau minimal TAG Heuer, dan yang menjadikan mobil mewahnya sebagai senjata utama untuk menaklukkan mahasiswi-mahasiswi cantik.
Raka melihat dengan mata kepalanya sendiri, Kevin berjalan memutar, lalu dengan santai merangkul pinggang ramping Tiara. Tangan itu mendarat di sana seolah dia memiliki hak penuh. Dan Tiara? Gadis yang katanya "sakit perut" itu tertawa renyah, menyandarkan kepalanya manja di bahu Kevin.
Ponsel di tangan Raka bergetar lagi. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Tiara.
Tiara: Sorry ya Raka, aku beneran nggak kuat bangun. Next time ya.
Raka membaca pesan itu sambil melihat Tiara dan Kevin berjalan menjauh menuju pintu masuk VIP, melewati antrean panjang yang harusnya dilalui Raka.
"Cih..."
Tawa dingin keluar dari mulut Raka. Terdengar kering dan menyedihkan.
Dia bukan pacar Tiara. Dia sadar itu. Dia tidak punya hak untuk marah, tidak punya hak untuk melabrak. Tapi rasa sakit karena dibohongi, rasa perih karena sadar bahwa dia hanya dijadikan cadangan atau lebih parah, badut terasa nyata menghantam ulu hatinya.
"Ternyata bener kata anak-anak," bisik Raka pada aspal jalanan. "Gue cuma badut."
Dia menatap punggung Kevin yang perlahan menghilang di kerumunan. Perbedaan kasta itu begitu mencolok. Kevin dengan segala kemewahannya, dan Raka dengan kemeja diskonan dan keringat bau matahari.
Drrt... Drrt...
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini panggilan masuk dari sahabatnya, Doni.
Raka menarik napas panjang, berusaha menormalkan suaranya sebelum mengangkat. "Halo, Don. Kenapa?"
"Ka! Lo di mana sekarang?" suara Doni terdengar heboh.
"Di GBK. Kenapa?"
"Lo buka link yang barusan gue kirim di WA. Buruan! Itu akun Marketplace-nya si Tiara!"
Dahi Raka berkerut. "Marketplace? Ngapain?"
"Udah buka aja dulu! Liat apa yang dia jual!"
Dengan perasaan tidak enak yang semakin menebal, Raka meminimalkan panggilan dan membuka aplikasi pesan. Dia mengklik tautan yang dikirim Doni. Aplikasi marketplace barang bekas terbuka, menampilkan sebuah daftar produk.
Samsung Galaxy A54 5G - Mulus Like New Harga: Rp 3.500.000 (Nego Tipis)
Deskripsi penjualnya membuat darah Raka mendidih: "Jual cepet aja gan/sist. Hape pemberian orang, jarang dipake karena udah ganti iPhone 14 Pro. Kondisi 99% mulus no minus. Siapa cepat dia dapat. Butuh dana buat nambahin beli tas."
Itu ponsel yang Raka belikan bulan lalu. Dia menabung mati-matian, makan nasi telur kecap setiap hari demi membelikan kado ulang tahun untuk Tiara karena gadis itu mengeluh hp lamanya lemot.
Raka mengklik profil penjualnya.
Isinya adalah galeri penghinaan bagi harga diri Raka.
Tas Charles & Keith yang Raka belikan semester lalu? Sold. Sepatu sneakers yang Raka cari keliling mall seharian? Sold. Bahkan powerbank lucu bentuk beruang yang Raka kasih minggu lalu pun sudah terjual.
"Gila..." Raka terkekeh getir. Matanya terasa panas.
"Halo? Ka? Lo liat kan?" suara Doni kembali terdengar. "Gue udah bilang, Ka. Itu cewek cuma jadiin lo ATM berjalan. Lo itu cuma sapi perah buat dia. Sadar, Ka!"
"Iya, Don. Gue liat," suara Raka datar, tanpa emosi. "Thanks infonya. Gue tutup dulu."
Raka menutup aplikasi itu dengan kasar. Dia merasa jijik. Bukan pada Tiara, tapi pada dirinya sendiri yang sebegitu bodohnya. Dia sudah diperlakukan seperti anjing yang setia, yang dikasih sisa-sisa perhatian hanya kalau majikannya butuh sesuatu.
Dia menatap lagi ke arah pintu masuk VIP yang sudah kosong. Bayangan Kevin dan Tiara kembali melintas.
Tiba-tiba, sebuah kalimat yang pernah dia baca di kolom komentar video "galau" di TikTok terngiang di kepalanya, menghantamnya dengan kebenaran yang pahit:
“Orang-orang kaya itu membeli masa muda dan kecantikan para gadis. Sedangkan kita, orang-orang biasa yang berjuang mati-matian, harus menghabiskan seluruh gaji dan tabungan hanya untuk mendapatkan sisa-sisa dari wanita yang pernah mereka nikmati.”
Kata-kata itu terasa seperti pisau yang diputar di dalam dada.
Sangat akurat. Sangat menyakitkan.
Kevin mungkin hanya akan main-main dengan Tiara selama beberapa bulan, lalu membuangnya saat bosan. Tapi bagi Raka? Tiara adalah segalanya. Dan ironisnya, Raka yang berkorban segalanya justru yang dibuang sebelum sempat memiliki.
Raka berbalik arah. Dia tidak jadi masuk ke konser. Tiket di tangannya diremas hingga lecek, lalu dilempar begitu saja ke tong sampah terdekat. Persetan dengan uangnya. Dia tidak sanggup duduk di sana sendirian sambil membayangkan Tiara sedang bersenang-senang dengan Kevin di area VIP.
Dia berjalan melawan arus manusia yang baru berdatangan. Wajah-wajah di sekitarnya penuh tawa dan kebahagiaan, kontras sekali dengan awan mendung di wajah Raka.
"Bangsat..." umpatnya pelan, menendang kerikil di trotoar.
"Coba aja gue punya duit... Coba aja gue kaya..."
Kemarahan, rasa malu, dan keputusasaan bercampur aduk menjadi satu. Raka merasa dunia ini tidak adil. Kenapa orang seperti Kevin bisa mendapatkan segalanya dengan mudah, sementara dia harus berdarah-darah hanya untuk dihargai sebagai manusia?
Tepat saat amarah itu memuncak di ubun-ubun, sesuatu yang aneh terjadi.
Pandangan Raka tiba-tiba kabur. Sebuah cahaya biru transparan muncul entah dari mana, melayang tepat di depan matanya, seolah-olah diproyeksikan langsung ke retina.
Raka berhenti berjalan, mengucek matanya. "Hah? Apaan nih? Gue halusinasi karena stres?"
Tapi cahaya itu semakin jelas. Membentuk sebuah panel holografik futuristik, mirip seperti antarmuka dalam game RPG yang sering dia mainkan. Tulisan-tulisan digital mulai bermunculan satu per satu, disertai suara notifikasi mekanis yang terdengar jelas di dalam otaknya.
[DING!]
[Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas sedang dalam proses pengikatan...]
[Proses: 0%] ... [Proses: 25%] ... [Proses: 50%] ... [Proses: 100%]
Raka ternganga. Dia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan apakah orang lain melihat layar biru yang melayang di depannya ini. Tapi tidak ada yang peduli. Orang-orang terus berjalan melewatinya, sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya dia yang bisa melihat ini.
"Sistem... Sultan?" gumam Raka bingung.
Tulisan di layar itu berubah lagi.
[Pengikatan Berhasil!]
[Selamat datang, Tuan Rumah.]
Sebuah panel status karakter muncul, menampilkan data diri Raka dengan detail yang mengerikan.
[STATUS PENGGUNA]
Nama: Raka Adiyaksa
Tinggi Badan: 183 cm
Saldo Rekening Saat Ini: Rp 750.000,00
Skill: Tidak Ada
Raka menelan ludah. Angka saldo itu... benar-benar akurat sampai ke digit terakhir sisa uang di rekening BCA-nya setelah membeli tiket sialan tadi.
Belum sempat dia mencerna apa yang terjadi, sebuah kotak dialog baru muncul, berkedip-kedip dengan warna emas yang menggoda.
[Misi Pemula Terdeteksi!]
[Silakan lakukan GACHA 10x pertama Anda untuk mengaktifkan fitur!]
[Apakah Anda ingin melakukan Gacha sekarang?] [YA] / [TIDAK]
Jantung Raka berdegup kencang. Apakah ini mimpi? Atau... apakah doa putus asanya barusan benar-benar dijawab oleh semesta dengan cara yang paling gila?
Raka berdiri terpaku di trotoar kawasan GBK, mengabaikan tatapan aneh beberapa pejalan kaki yang melihatnya melamun sambil menatap ruang kosong. Di retina Raka, ruang kosong itu dipenuhi oleh panel antarmuka futuristik yang bersinar terang.
Di hadapannya, tombol virtual bertuliskan [GACHA x10 (GRATIS)] berkedip menggoda, seolah menantang nyalinya.
"Persetan lah. Udah gila ya gila sekalian. Kalau ini halusinasi, seenggaknya gue halusinasi jadi orang kaya," gumam Raka pelan.
Dengan jari telunjuk yang sedikit gemetar, dia menekan tombol holografik itu di udara.
Wuuusshhh!
Efek visual yang terjadi selanjutnya membuatnya hampir terjungkal karena kaget. Sebuah roda rolet raksasa berwarna emas dan merah marun muncul, memenuhi pandangannya. Roda itu berputar dengan kecepatan gila, disertai efek suara fanfare orkestra yang menggelegar megah di dalam kepalanya bunyinya seperti intro film box office Hollywood.
Jarum penunjuk berdetak cepat, melewati berbagai warna: putih (item sampah), biru (item biasa), ungu (item langka), dan... Emas!
[DING! DING! DING! DING!]
Suara lonceng kemenangan berbunyi bertalu-talu. Deretan notifikasi muncul beruntun seperti rentetan tembakan senapan mesin, setiap barisnya bersinar menyilaukan.
-[Selamat! Anda mendapatkan: Uang Tunai Rp 20.000.000!]
-[Selamat! Anda mendapatkan Skill Pasif: "Aura Keberuntungan Absolut"!] (Nasib sial akan menjauh, keberuntungan kecil akan sering terjadi)
-[Selamat! Anda mendapatkan Skill Pasif: "Radar Bidadari"!] (Mampu mendeteksi dan menilai wanita berkualitas tinggi di sekitar)
-[Selamat! Anda mendapatkan Skill Pasif: "Transformasi Fisik Adonis"!] (Tubuh Tuan Rumah akan direkonstruksi menjadi bentuk fisik puncak secara bertahap selama 30 hari Selamat tinggal perut buncit, selamat datang sixpack)
-[Selamat! Anda mendapatkan Properti Mewah: Villa No. 1 - The Sultan Residence, Pondok Indah Bukit Golf!] (Sertifikat Hak Milik, Full Furnished, Smart Home System)
-[Selamat! Anda mendapatkan Title: "Raja Jalanan"!] (Keahlian mengemudi tingkat profesional secara instan Schumacher pun sungkem)
-[Selamat! Anda mendapatkan Skill Pasif: "Cashback Sultan"!] (Setiap pengeluaran memiliki peluang mendapatkan pengembalian dana acak hingga 1000%)
-[Selamat! Anda mendapatkan Kendaraan: McLaren 720S (Warna: Memphis Red)!]
-[Selamat! Anda mendapatkan Item Virtual: 1.000.000 Koin Saweria (Saldo Gifting Streamer)!]
-[Selamat! Anda mendapatkan Skill Utama: "Waktu Adalah Uang"!] (Setiap 1 detik yang berlalu, rekening Anda akan bertambah Rp 250,- secara otomatis)
Sepuluh baris teks bercahaya emas itu mengambang diam di depan mata Raka, berjejer rapi seperti daftar menu restoran termahal di dunia.
Hening.
Dunia seakan berhenti berputar.
Raka mengerjap. Dia mengucek matanya lagi. Dia mencubit pipinya sendiri. Sakit.
"Cih," decihnya sambil memalingkan muka, mencoba bersikap skeptis. Sudut bibirnya terangkat sinis, gaya pertahanan diri yang biasa dia pakai saat kecewa. "Ngayal babu banget gue. Halu tingkat dewa emang efek laper. Mana ada dapet McLaren dari mencet tombol angin?"
Dia menendang angin dengan kesal. "Apaan tuh 'Transformasi Adonis'? Apaan tuh 'Radar Bidadari'? Lo pikir ini komik Webtoon?"
Namun, semesta sepertinya tersinggung karena diragukan.
Belum selesai Raka mengomel, saku celananya bergetar hebat. Bukan getaran pesan WhatsApp grup angkatan yang bisu, tapi getaran panjang notifikasi prioritas perbankan.
Raka merogoh ponselnya dengan malas. Jantungnya mulai berdetak tak karuan saat melihat logo biru aplikasi m-BCA di layar kuncinya.
Dia membuka notifikasi itu.
[m-BCA: Transfer masuk ke rek xxx-6503 sebesar Rp 20.000.000,00. Berita: HADIAH SISTEM. Saldo akhir: Rp 20.357.500,00]
Raka membeku. Ponsel di tangannya nyaris terlepas. Matanya melotot sampai rasanya mau keluar. Dia menghitung jumlah angka nol itu satu per satu dengan telunjuknya yang gemetar.
"Satu, dua, tiga... enam nol. Dua... puluh... juta?" suaranya tercekat, seperti orang tercekik. "Ini... ini beneran duit? Bukan duit monopoli?"
Napasnya mulai memburu, pendek-pendek. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.
Jika uang dua puluh juta itu nyata... berarti sisanya juga nyata?
Otaknya yang biasanya lambat kalau disuruh ngerjain skripsi, tiba-tiba berputar secepat prosesor gaming, memproses informasi dari skill terakhir di daftar tadi: "Waktu Adalah Uang".
Setiap detik dapet 250 perak?
Raka buru-buru membuka aplikasi kalkulator di ponselnya. Jari-jarinya menari di atas layar dengan panik.
"Oke, oke, tenang Ka. Kita itung pake logika matematika. Kalau satu detik 250 rupiah..."
1 Menit = Rp 250 x 60 = Rp 15.000 (Anjir, semenit doang udah bisa beli Nasi Padang pake telor!)
1 Jam = Rp 15.000 x 60 = Rp 900.000 (Hah? Sejam tidur doang dapet hampir sejuta? Gaji paruh waktu gue sebulan aja nggak nyampe segini!)
1 Hari = Rp 900.000 x 24 = Rp 21.600.000
"Dua puluh satu juta enam ratus ribu... SEHARI?!" Raka hampir berteriak histeris. Seorang pedagang asongan yang lewat sampai kaget dan menjatuhkan satu bungkus rokok.
"Woy, santai dong Mas! Kaget saya!" protes si pedagang.
"Maaf Bang, maaf! Saya lagi... lagi seneng!" sahut Raka asal, matanya masih terpaku pada layar kalkulator.
Jantungnya berdegup kencang seolah mau meledak menembus rusuk.
Dua puluh satu juta sehari. Itu artinya dalam sebulan dia bisa dapat sekitar 648 Juta Rupiah. Dan dalam setahun? Hampir 8 Miliar Rupiah.
Itu semua passive income. Tanpa kerja. Tanpa dimarahin bos. Tanpa perlu ngejilat atasan. Cuma modal napas, makan, tidur, berak, duit ngalir terus!
"Gila... Gue kaya... Gue beneran jadi kaya..." bisiknya dengan suara bergetar. Kaki Raka terasa lemas seperti jeli. Dia harus bersandar pada tiang lampu jalan agar tidak ambruk saking syoknya. "Selamat tinggal Indomie akhir bulan. Selamat datang Steak Wagyu!"
Baru saja dia mencoba mengatur napas, ponselnya kembali "bertingkah". Kali ini rentetan notifikasi aplikasi bermunculan, efek domino dari skill [Aura Keberuntungan Absolut].
Ting! Ting! Ting!
[Email: Selamat! Akun Spotify Anda terpilih secara acak untuk upgrade ke Premium Lifetime secara GRATIS! Nikmati musik tanpa iklan selamanya!]
[SMS: Hore! Nomor Telkomsel Anda memenangkan Grand Prize Kuota Internet Unlimited 5G selama 1 Tahun! Bebas streaming, bebas gaming!]
[SMS: Yth. Bpk Raka, selamat Anda memenangkan Laptop Alienware M15 R7 dari undian struk belanja Alfamart tahun lalu! Silakan transfer biaya asuransi pengiriman sebesar 2 juta ke rekening...]
Raka menyeringai membaca pesan terakhir.
"Halah, yang terakhir penipuan basi. Mentang-mentang gue lagi hoki, tetep aja ada spam nyasar. Mau nipu orang kaya baru? Sorry ye, gue udah pinter sekarang." Dia mengabaikan pesan penipuan itu dengan kibasan tangan sombong.
Namun, dua pesan berikutnya yang masuk membuat napasnya tertahan lagi. Ini adalah "Main Course"-nya.
[WhatsApp Business - Manajemen Pondok Indah] Yth. Bapak Raka Adiyaksa. Selamat bergabung di keluarga besar The Sultan Residence, Pondok Indah Bukit Golf. Kunci Villa No. 1 (Cluster Executive) Anda beserta kartu akses VVIP sudah tersedia di kantor manajemen properti kami. Silakan bawa e-KTP untuk pengambilan. - Manajemen Pondok Indah.
[WhatsApp Business - McLaren Jakarta Official] Good Evening, Mr. Raka. Kami menginformasikan bahwa unit McLaren 720S (Memphis Red) pesanan khusus Anda telah tiba di Showroom McLaren Jakarta Selatan. Seluruh dokumen kepemilikan (BPKB, STNK) atas nama Anda sudah lengkap. Silakan datang untuk serah terima unit kapan pun Anda siap.
"McLaren 720S..." desis Raka, matanya berbinar liar, memantulkan cahaya layar ponsel.
Siapa cowok yang tidak tahu mobil itu? Itu adalah monster jalanan. Supercar Inggris dengan pintu butterfly yang kalau dibuka ke atas bakal bikin semua cewek di radius 100 meter nengok. Harganya di Indonesia? Bisa tembus belasan miliar rupiah karena pajak barang mewah yang gila-gilaan.
Dan sekarang, mobil itu miliknya? Tanpa kredit? Tanpa riba?
Lalu... The Sultan Residence di Pondok Indah.
Di Jakarta, nama Pondok Indah adalah jaminan mutu. Itu bukan sekadar perumahan, itu adalah simbol status tertinggi. Kasta Brahmana-nya properti Indonesia. Tempat tinggal para konglomerat, artis papan atas, pejabat negara, dan Crazy Rich lama.
Dan The Sultan Residence? Itu adalah cluster paling eksklusif di dalam kawasan Bukit Golf Pondok Indah. Rumornya, satu unit di sana harganya bisa buat beli satu desa di kampung halaman.
Raka ingat pernah lewat di depan gerbang kompleks itu saat naik ojek online. Gerbangnya megah seperti istana Eropa, dijaga satpam berbadan tegap yang seragamnya lebih rapi daripada polisi, dan palang pintunya seolah berkata: "Miskin Dilarang Masuk".
Dulu, Raka hanya bisa menatap gerbang itu sambil membayangkan bagaimana rasanya jadi orang yang tinggal di sana.
"Dan sekarang... gue pemilik Villa Nomor 1? Unit rajanya?"
Raka membuka aplikasi browser, mengetik "Harga Villa The Sultan Residence Pondok Indah".
Hasil pencarian muncul: Mulai dari Rp 85 Miliar.
"Anjing..." Raka mengumpat saking kagetnya. "Delapan puluh lima Miliar..."
Dia melihat sekelilingnya. Kawasan GBK semakin ramai. Suara musik pembuka konser mulai terdengar samar-samar dari dalam stadion. Kevin dan Tiara pasti sudah duduk manis di kursi VIP mereka, mungkin sedang selfie mesra untuk dipamerkan di Instagram Story.
Tapi senyum di wajah Raka sekarang jauh lebih lebar, jauh lebih puas, dan sedikit... berbahaya. Senyum seorang pemenang yang baru saja memegang kartu As.
"Kevin, Tiara... kalian nikmatin aja konser itu," gumam Raka sambil memandangi dua tiket di tangannya yang tadi hampir dia buang.
Raka merapikan kerah kemejanya yang kusut. Dia tidak jadi pulang. Kenapa harus pulang? Dia punya dua tiket VVIP. Dia punya uang yang mengalir setiap detik. Dia punya Villa seharga 85 Miliar.
"Gue bakal masuk. Gue bakal nonton. Gue bakal duduk di kursi VVIP itu sendirian, angkat kaki, dan nikmatin hidup."
Raka melangkah menuju gerbang pemeriksaan tiket dengan langkah yang berbeda. Tidak ada lagi bahu yang merosot. Tidak ada lagi wajah cemas.
Yang ada hanyalah aura seorang "Sultan" baru yang siap menaklukkan Jakarta.
Raka berjalan perlahan menuju pintu pemeriksaan tiket, namun pikirannya melayang jauh meninggalkan keriuhan Stadion GBK, menuju ke selatan Jakarta. Tepatnya ke hadiah properti gila yang baru saja mendarat di pangkuannya.
The Sultan Residence - Pondok Indah Bukit Golf.
Bagi warga Jakarta, nama itu bukan sekadar alamat. Itu adalah mantra. Itu adalah garis batas tegas yang memisahkan antara "orang kaya" dan "konglomerat lama".
Raka tahu betul reputasi tempat itu. Dikembangkan di atas lahan berkontur bukit langka di jantung Jakarta Selatan, kompleks ini adalah anomali. Di saat Jakarta sesak dengan beton dan polusi, The Sultan Residence menawarkan oase hijau yang mustahil. Bagian belakang villa menyandar pada bukit buatan yang rimbun, sementara bagian depannya menghadap langsung ke hamparan rumput lapangan golf 18-hole yang terawat.
Pagi hari di sana konon diselimuti kabut tipis seolah berada di Puncak Pass. Siang hari, penghuninya bisa menyesap Earl Grey tea di balkon sambil memandang cakrawala gedung pencakar langit SCBD dari kejauhan. Dan malam hari? Malam hari adalah pertunjukan lampu kota yang gemerlap, dinikmati dari keheningan privasi yang absolut.
Bisa dibilang, di seluruh Jakarta bahkan mungkin Indonesia tidak ada real estat yang lebih prestisius dari ini.
Lebih gila lagi, Villa Nomor 1 yang kini menjadi milik Raka bukan sekadar rumah. Itu adalah masterpiece. Bangunan tiga lantai dengan arsitektur tropis modern, dilengkapi private lift, kolam renang infinity yang menggantung di tepi bukit, dan sistem Smart Home berbasis AI yang mungkin lebih pintar daripada dosen pembimbing skripsi Raka.
Tetangga kanan-kirinya? Kalau bukan menteri, pasti CEO unicorn, atau mungkin diplomat asing.
"Gila..." Raka menggelengkan kepala, tertawa kecil. "Kemarin gue masih mikir gimana caranya bayar iuran sampah kostan 20 ribu perak. Sekarang? Gue tetanggaan sama orang yang mobilnya lebih mahal dari harga diri gue."
Tempat seperti itu, bagi Raka versi lama, adalah zona terlarang. Lewat depannya saja mungkin satpamnya sudah menatap curiga. Tapi sekarang? Sertifikat Hak Milik (SHM) atas nama Raka Adiyaksa sudah tersimpan aman di sistem.
Ini terlalu nyata untuk disebut mimpi, tapi terlalu indah untuk disebut kenyataan.
Tiba-tiba, langkah Raka terhenti.
Sebuah sensasi aneh menjalar dari ujung kaki, merambat naik ke tulang belakang, hingga meledak pelan di batang otaknya.
Krak... Kretek...
Terdengar bunyi halus persendiannya yang bergeser.
Itu bukan rasa sakit. Itu adalah... kenikmatan murni. Rasanya seperti baru saja dipijat oleh sepuluh terapis profesional secara bersamaan setelah lari maraton, lalu disiram air es yang menyegarkan.
Skill [Transformasi Fisik Adonis] mulai bekerja.
Otot-otot di lengan dan kakinya terasa memadat, mengencang di balik kemeja kusamnya. Rasa pegal akibat berdiri berjam-jam mengantre tiket lenyap seketika, digantikan oleh lonjakan energi yang membuatnya merasa bisa membelah beton dengan tangan kosong.
Pandangannya menajam. Dia bisa melihat detail serat kain pada baju orang di depannya. Dia bisa mendengar percakapan samar dari jarak sepuluh meter.
"Jadi ini rasanya punya 'Cheat Code' di dunia nyata?" Raka menyeringai, meremas kepalan tangannya. Terasa solid. Kuat.
Sambil menikmati tubuh barunya, Raka melirik ponsel. Notifikasi m-banking masih terus bermunculan dengan ritme yang menghipnotis.
Tring! (Rp 250 masuk) Tring! (Rp 250 masuk)
Raka menatap angka itu dengan tatapan lapar. Dia membayangkan, jika dia diam saja selama 10 detik, dia dapat Rp 2.500. Cukup buat bayar parkir. Satu menit diam? Rp 15.000. Cukup buat beli Nasi Padang lauk rendang. Satu jam diam? Rp 900.000. Cukup buat... well, cukup buat mentraktir satu asrama makan.
"Kalau gini caranya, gue tidur siang aja udah lebih produktif daripada manajer gue dulu," gumamnya geli. "Emang bener kata orang, yang kaya makin kaya, yang miskin makin... ah sudahlah."
Setelah menarik napas panjang untuk menenangkan euforia yang nyaris membuatnya gila, Raka melangkah mantap menuju gerbang pemeriksaan. Dia mengeluarkan dua tiket fisik VVIP dari sakunya.
Petugas pemeriksa tiket, seorang wanita muda dengan seragam rapi, menatap Raka sebentar. Penampilan Raka yang "biasa saja" kemeja kusam, jeans pudar, sepatu kets yang agak dekil sedikit kontras dengan pemegang tiket VVIP lain yang rata-rata wangi uang dan bermerek dari ujung rambut sampai kaki.
"Tiket VVIP ya, Mas?" tanya petugas itu, sedikit ragu.
Raka tersenyum tipis, menyodorkan tiketnya. "Dua orang. Tapi saya masuk sendiri."
Petugas itu memindai barcode. Bip. Valid. Matanya membelalak sedikit, lalu sikapnya berubah drastis menjadi sangat sopan. "Silakan, Pak. Lewat jalur merah di sebelah kanan. Selamat menikmati konser."
Raka mengangguk dan melenggang masuk.
Di dalam stadion, atmosfernya gila. Ribuan manusia memadati tribun dan area festival. Lautan lightstick berwarna ungu neon mulai dinyalakan, menciptakan galaksi buatan yang berkedip-kedip. Suara musik latar berdentum di dada.
Ini konser Vania Winata.
Raka berjalan mencari tempat duduknya di area VVIP, baris paling depan yang berhadapan langsung dengan panggung utama. Dia bukan cuma suka lagunya. Raka respect sama Vania.
Gadis itu fenomena. Ditemukan umur 16 tahun saat menyanyi iseng di lomba agustusan sekolah, videonya viral, lalu ditarik label besar. Debut album pertamanya langsung meledak, menyapu bersih semua tangga lagu dari Spotify sampai YouTube Trending.
Sekarang usianya 18 tahun. Dalam dua tahun, dia sudah bertransformasi dari siswi SMA polos menjadi Diva Nasional.
Tapi bukan itu yang bikin Raka kagum. Raka pernah baca artikel investigasi di Twitter. Vania diam-diam menyumbangkan hampir 70% penghasilan tahun pertamanya untuk membangun sekolah-sekolah rusak di pedalaman Nusa Tenggara Timur. Tanpa konferensi pers. Tanpa pamer di Instagram Story. Justru orang lain yang membocorkannya.
"Cantik, suara bagus, hati malaikat," batin Raka. "Beda banget sama ular berbisa kayak Tiara."
Mengingat Tiara, Raka akhirnya menemukan kursinya. Row A, Seat 12 & 13.
Posisi "Sultan". Tepat di tengah, pandangan lurus ke panggung tanpa halangan. Kursinya bukan kursi plastik lipat, tapi kursi busa empuk dengan sandaran tangan lebar.
Raka duduk di kursi nomor 12. Dia menatap kursi nomor 13 di sebelahnya. Kursi kosong yang harganya 3,5 juta rupiah.
Tanpa ragu, Raka melepaskan tas ransel bututnya dan meletakkannya di atas kursi nomor 13. Dia menepuk-nepuk tas itu seolah itu adalah benda berharga.
Lalu, dengan gaya santai yang memancing emosi, Raka menyilangkan kaki, merentangkan tangan kirinya menguasai sandaran kursi nomor 13, dan bersandar nyaman.
Aksi ini, tentu saja, menjadi tontonan di area VVIP.
Di sekelilingnya adalah para influencer, anak pejabat, dan "Crazy Rich" Jaksel yang datang dengan pasangan atau geng mereka. Melihat seorang cowok berpenampilan "rakyat jelata" duduk sendirian dan membiarkan satu kursi VVIP hanya untuk menaruh tas butut, adalah sebuah penistaan terhadap nilai uang.
Bisik-bisik mulai terdengar dari baris belakang.
"Eh, liat tuh cowok di depan," bisik seorang cewek dengan riasan tebal dan tas Gucci di pangkuannya. "Gila, dia beli dua tiket VVIP cuma buat naro tas ransel?"
"Anjir, itu tas apaan? Limited edition?" sahut temannya sambil menyipitkan mata. "Kok kayak tas pembagian diklat PNS?"
"Hush! Jangan gitu. Siapa tau dia intel nyamar. Atau anak tambang yang lagi low profile."
"Tapi gila sih flexing-nya. Jiwa miskin gue meronta-ronta liat tiket 3 juta dipakein tas doang."
Raka, dengan pendengaran barunya yang super sensitif, mendengar semua itu. Dia menahan tawa. Silakan berasumsi. Kalian nggak tau kalau tas butut ini isinya botol minum tupperware sama jas hujan.
"Bro," tiba-tiba seorang cowok di sebelahnya, yang memakai kemeja batik sutra, menegur ramah. "Temennya nggak dateng?"
Raka menoleh, tersenyum santai. "Nggak. Lagi sakit perut katanya. Jadi ya udah, tas saya aja yang duduk. Biar lega."
Si cowok batik melongo, lalu mengacungkan jempol canggung. "Sultan mah bebas, Bro. Sadis."
Raka kembali menatap panggung. Dia merasa puas. Sangat puas.
Tiba-tiba, lampu stadion padam total. Gelap gulita.
Teriakan histeris puluhan ribu penonton memecah malam. "VANIA!!! VANIA!!! VANIA!!!"
Suara gemuruh itu seperti ombak yang menghantam karang.
DUAR!!
Kembang api meluncur dari empat sudut panggung, meledak menjadi hujan emas di udara. Musik intro orkestra yang megah mulai mengalun, membangun ketegangan. Layar LED raksasa menyala, menampilkan siluet seorang gadis.
Lift hidrolik di tengah panggung perlahan naik. Asap dry ice mengepul dramatis.
Dan di sanalah dia.
Vania Winata.
Saat lampu sorot utama menghantam sosoknya, Raka merasa napasnya tercekat.
Dia mengenakan gaun putih panjang berbahan sutra yang memeluk tubuh rampingnya dengan sempurna. Bagian roknya semi-transparan, memberikan siluet kaki jenjang yang indah tanpa terlihat vulgar. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai, bergerak lembut tertiup angin buatan dari blower panggung.
Wajahnya... astaga. Di layar LED raksasa, wajah itu diperbesar ribuan kali lipat, dan Raka tidak bisa menemukan satu cela pun. Kulit putih porselen, hidung mancung yang elegan, dan mata bulat yang bersinar seperti bintang.
Dia tersenyum, dan rasanya satu stadion meleleh.
"Selamat malam, Jakarta!" sapanya. Suaranya bening, renyah, namun bertenaga.
"KYAAAAA!!!!"
Raka ikut tersenyum. Pesona gadis ini benar-benar di level yang berbeda. Bukan cuma cantik, tapi dia punya aura. Aura bintang yang membuat orang tidak bisa memalingkan wajah.
Vania mulai mengangkat mikrofonnya. Musik berubah lembut. Lagu pembuka: "Cinta dalam Diam".
Saat nada pertama keluar dari bibirnya, Raka memejamkan mata sejenak, membiarkan suara emas itu membasuh kekesalan dan amarahnya seharian ini.
Namun, saat dia membuka mata lagi, pandangannya terkunci pada sosok Vania yang berjalan mendekati bibir panggung, tepat di depan area tempat Raka duduk.
Skill pasif [Radar Bidadari] miliknya tiba-tiba berkedip aktif.
Sebuah panel status transparan berwarna merah muda muncul di atas kepala sang penyanyi, mengambang di udara.
[Target Terdeteksi: Vania Winata]
Usia: 18 Tahun
Nilai Wajah: 98/100 (Kategori: Dewi Nasional)
Nilai Bentuk Tubuh: 96/100 (Kategori: Golden Ratio)
Status: Murni / Single
Mood Saat Ini: Lelah tapi Bahagia.
Kesan: "Menyembunyikan kesepian di balik sorotan lampu."
"Wow..." Raka melongo, hampir menjatuhkan rahangnya. "Sistem ini... transparan banget?"
Nilai 98? Itu angka yang hampir mustahil. Raka iseng melirik cewek-cewek influencer di sekitarnya. Rata-rata hanya memiliki skor 70-80 di mata sistem. Tiara? Mungkin kalau di-scan sekarang cuma dapet 65 karena minus akhlak.
Vania adalah spesimen sempurna.
Dan malam ini, di kursi VVIP dengan tas butut di sebelahnya, Raka merasa takdir baru saja mempertemukan dua garis hidup yang seharusnya tidak bersinggungan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!