Dermaga Langit – Pos Perdagangan Punggung Penyu.
Sebuah bayangan raksasa menutupi dermaga.
Itu adalah Kapal Perang Teratai Merah.
Ukurannya sepuluh kali lipat lebih besar dari bahtera pedagang biasa. Lambungnya terbuat dari Kayu Darah Seribu Tahun yang kokoh, diukir dengan ribuan rune pertahanan yang menyala merah redup. Layarnya terbuat dari sutra ulat api, membentang gagah menangkap angin bintang.
"Naiklah," perintah Nyonya Zhu, mengibaskan kipasnya.
Tim "Asura" melangkah naik dengan ragu.
Tie Shan (Raksasa Batu) berjalan hati-hati agar tidak meretakkan lantai geladak. Shu Ling (Tikus) matanya berbinar-binar melihat hiasan emas di tiang kapal, tangannya gatal ingin mencungkilnya. Luo Tian (Mata Tiga) melayang dengan wajah pucat tapi mata yang tajam dan fokus.
Shi Hao berjalan paling belakang bersama Nana. Dia menepuk tiang utama bahtera itu.
"Bahtera Peringkat Bumi Tingkat Tinggi," gumam Shi Hao. "Lumayan. Setidaknya tidak akan hancur kalau menabrak asteroid kecil."
Nyonya Zhu tersenyum bangga. "Ini kapal terbaik di sektor ini, Jenderal Feng. Kecepatannya bisa menempuh satu tahun cahaya dalam tiga hari."
Bahtera itu bergetar pelan. Formasi penggerak di bagian bawah kapal menyala. Perlahan, raksasa merah itu lepas landas, meninggalkan Punggung Penyu, dan melesat masuk ke dalam Lautan Bintang yang gelap dan tak bertepi.
Tiga Hari Kemudian – Perbatasan Sektor Bimasakti.
Perjalanan terasa sunyi. Pemandangan bintang yang awalnya menakjubkan lama-lama menjadi monoton.
Shi Hao berdiri di anjungan kapal, menatap kehampaan. Nana setia berdiri di sampingnya, memegang peta navigasi.
"Tuan Feng," cicit Nana. "Di depan kita adalah Jalur Naga. Ini adalah wilayah patroli Kekaisaran Bintang Naga."
"Kekaisaran Bintang Naga?" Shi Hao mengangkat alis. "Apakah mereka Naga asli?"
"Bukan, Tuan," jawab Nyonya Zhu yang muncul dari kabin. "Mereka adalah Manusia Setengah Naga (Dragonkin). Mereka memiliki garis keturunan Naga Kuno. Karena itu mereka sangat sombong dan menganggap ras lain sebagai budak."
Tiba-tiba, formasi berbunyi.
WUUUNG... WUUUNG...
Di depan Bahtera Teratai Merah, ruang angkasa bergetar.
Tiga buah Bahtera Perang Emas muncul dari Lompatan Ruang. Ukuran mereka dua kali lipat lebih besar dari kapal Nyonya Zhu. Di haluannya, terdapat ukiran kepala naga emas yang mulutnya adalah meriam kristal energi.
Suara yang diperkuat Qi bergema, menggetarkan seluruh struktur kapal Nyonya Zhu.
"BERHENTI! INI ADALAH ARMADA KE-7 KEKAISARAN BINTANG NAGA!"
"KAPAL DAGANG DI DEPAN, TURUNKAN LAYAR KALIAN DAN MATIKAN FORMASI! KAMI AKAN MELAKUKAN PEMERIKSAAN KONTRIBUSI (PAJAK)!"
Wajah Nyonya Zhu menjadi gelap. "Pemeriksaan? Itu hanya alasan halus untuk perampokan. Mereka ingin memeras kita."
Nyonya Zhu maju ke haluan, mengalirkan suaranya lewat formasi.
"Salam, Jenderal. Ini adalah Bahtera Teratai Merah milik Zhu dari Arena Asura. Kami sedang dalam perjalanan menuju Turnamen Kekaisaran Pusat. Kami memiliki izin melintas!"
Dari kapal utama musuh, seorang pria kekar dengan zirah emas dan tanduk kecil di dahinya muncul di geladak.
Jenderal Long Ao. Ranah: Inti Bintang Puncak.
Long Ao tertawa meremehkan.
"Zhu? Oh, pelacur dari arena pinggiran itu?" ejek Long Ao keras-keras.
"Izin melintas tidak berlaku hari ini. Aku sedang bosan. Serahkan 50.000 Batu Roh Bintang, dan mungkin aku akan membiarkan kapal rongsokanmu lewat. Atau... kau bisa naik ke kapalku dan menuangkan arak untukku malam ini."
Kru kapal Teratai Merah marah besar. Wajah Nyonya Zhu memerah menahan murka, tapi dia tahu kekuatan Kekaisaran Naga terlalu besar untuk dilawan secara terbuka. Jika dia menyerang Jenderal Kekaisaran, itu sama dengan deklarasi perang.
"Jenderal Long," suara Nyonya Zhu bergetar menahan emosi. "Permintaanmu keterlaluan. Kami dilindungi hukum turnam—"
"HUKUM ADALAH KAMI!" bentak Long Ao. Meriam naga di kapalnya mulai bersinar, mengarah ke Teratai Merah.
Tie Shan dan Shu Ling gemetar ketakutan di belakang. Mereka terbiasa ditindas oleh yang kuat.
Namun, Shi Hao melangkah maju.
Langkahnya santai, tapi suaranya yang tenang membelah ketegangan seperti pisau panas membelah mentega.
"Nyonya Zhu," kata Shi Hao. "Kau bilang kita rekan, kan?"
"Benar..." jawab Nyonya Zhu ragu.
"Kalau begitu, biarkan rekan mu mengurus anjing yang menggonggong ini."
Shi Hao berdiri di ujung haluan kapal. Dia menatap Jenderal Long Ao yang jauh di seberang sana.
"Hei, Kadal," panggil Shi Hao.
Jenderal Long Ao melotot. "Kadal?! Kau cari mati, Semut?!"
Shi Hao tersenyum miring. Di dalam tubuhnya, Darah Kaisar Naga Kekacauan (yang dia bawa dari Alam Dewa) mendidih pelan.
Di mata Shi Hao, Naga seperti Long Ao hanyalah cacing tanah yang memakai mahkota kertas.
"Kau membanggakan darah Nagamu?" tanya Shi Hao.
"Kalau begitu, cobalah membungkuk saat bertemu Leluhurmu."
Shi Hao tidak mengeluarkan tinju. Dia hanya menatap.
Tekanan Garis Keturunan Kaisar Naga.
Shi Hao melepaskan seutas tipis auranya. Hanya seutas, terfokus lurus seperti jarum, langsung menuju kapal utama Long Ao.
ZING.
Bagi orang lain, tidak terlihat apa-apa. Tapi bagi Jenderal Long Ao dan seluruh awak kapalnya yang berdarah naga... dunia runtuh.
Di dalam jiwa mereka, mereka melihat bayangan Naga Ungu Raksasa yang ukurannya melampaui bintang, menatap mereka dengan mata dingin.
"Ugh!"
Jenderal Long Ao tiba-tiba memegang dadanya. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi zirahnya.
Kakinya gemetar hebat.
BRUK.
Jenderal yang sombong itu jatuh berlutut di geladak kapalnya sendiri. Dia tidak bisa berdiri. Darahnya menjerit ketakutan, memerintahkannya untuk bersujud.
Dan bukan hanya dia.
KREK... KRAAAK!
Lantai geladak kapal emas itu retak. Ukiran kepala naga di haluan kapal mereka tiba-tiba pecah, seolah tidak berani menatap Shi Hao.
Para awak kapal Kekaisaran Naga muntah darah dan jatuh pingsan.
"A-Apa... Apa ini..." Long Ao terengah-engah, menatap Shi Hao dengan horor murni. "Tekanan darah... Siapa... Siapa kau sebenarnya?!"
Shi Hao menarik kembali auranya. Dia mengibaskan tangannya seolah mengusir lalat.
"Minggir."
Satu kata itu terdengar seperti titah mutlak.
Long Ao, dengan sisa tenaganya, merangkak ke arah kemudi dan berteriak histeris.
"PUTAR BALIK! MINGGIR! BERI MEREKA JALAN! CEPAT!"
Tiga Bahtera Perang Emas yang gagah itu panik, bertabrakan satu sama lain saat mencoba menyingkir dari jalur Bahtera Teratai Merah.
Bahtera Nyonya Zhu melaju tenang melewati mereka.
Saat mereka berpapasan, Shi Hao menatap Long Ao yang masih berlutut. Shi Hao tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum tipis.
Hening.
Di atas Bahtera Teratai Merah, Nyonya Zhu, Tie Shan, Shu Ling, dan Luo Tian menatap punggung Shi Hao dengan mulut ternganga.
Mereka tidak merasakan aura naga itu (karena mereka bukan ras naga), tapi mereka melihat hasilnya. Jenderal Kekaisaran berlutut dan kapalnya retak hanya karena satu tatapan Shi Hao.
"Tuan Feng..." Tie Shan berbisik, matanya penuh kekaguman. "Dia... menakutkan."
Shi Hao berbalik, kembali ke mode santainya.
"Kenapa melamun? Jalannya sudah bersih. Ayo lanjutkan perjalanan. Aku mau tidur siang."
Shi Hao melenggang pergi ke kabinnya, meninggalkan legenda baru yang mulai menyebar di antara bintang-bintang: Bahwa ada seseorang di Bahtera Teratai Merah yang bisa membuat Naga berlutut tanpa menyentuh pedang.
Geladak Utama Bahtera Teratai Merah.
Angin bintang bertiup kencang, membawa debu kosmik yang berkilauan. Namun, di atas geladak bahtera yang luas, suasana terasa panas dan mencekam.
"Lagi!" teriak Shi Hao.
Di tengah geladak, Luo Tian (Si Mata Tiga) melayang di udara dengan wajah pucat pasi, keringat membasahi jubahnya. Perban di dahinya telah dibuka sepenuhnya. Mata ketiga nya bersinar ungu terang, memancarkan gelombang mental yang padat.
"S-Siap, Jenderal!"
Luo Tian mengatupkan kedua tangannya.
"Seni Mata Hantu: Bayangan Mimpi Buruk!"
WUSH! WUSH! WUSH!
Dari udara kosong, muncul puluhan bayangan hitam berbentuk monster. Ada Serigala Bintang berkepala dua, Kalajengking Void, dan Ular Piton Roh. Meskipun mereka hanya ilusi padat yang diciptakan dari Qi mental Luo Tian, serangan mereka memiliki dampak fisik nyata yang menyakitkan.
"Serang!" perintah Shi Hao.
Di bawah sana, Shu Ling (Si Tikus) bergerak seperti kilatan bayangan.
"Cicit!"
Shu Ling melesat di antara kaki-kaki monster hantu itu. Belatinya tidak lagi asal menusuk. Setiap kali dia bergerak, dia mengincar titik vital: mata, leher, persendian.
SRET. SRET.
Dua hantu serigala musnah menjadi asap setelah leher mereka digorok.
"Bagus, Tikus," komentar Shi Hao yang duduk santai di atas gentong arak. "Tapi langkahmu masih terlalu berisik. Kau harus lebih ringan dari debu."
Namun, perhatian Shi Hao tertuju pada Tie Shan (Raksasa Batu).
Di sudut lain, Tie Shan sedang dikeroyok oleh seekor Beruang Hantu Raksasa setinggi enam meter (ilusi terkuat Luo Tian saat ini, setara ranah Transformasi Dewa).
BAM!
Tie Shan menahan pukulan beruang itu dengan menyilangkan lengan batunya. Kakinya terseret mundur lima langkah, meninggalkan parit di lantai kayu bahtera.
Tie Shan hanya bertahan. Dia menjadi samsak tinju yang keras, tapi dia tidak membalas.
"Tie Shan!" bentak Shi Hao. "Apa yang kau lakukan? Menunggu dia mati karena kelelahan?!"
"T-Tuan!" Tie Shan tergagap sambil menahan cakar beruang. "Hamba... hamba lambat! Hamba tidak bisa memukulnya!"
Shi Hao melompat turun dari gentong arak. Dia berjalan mendekati Tie Shan, mengabaikan hantu-hantu yang mencoba menyerangnya (hantu-hantu itu hancur sendiri begitu menyentuh aura Shi Hao).
Shi Hao menendang kaki Tie Shan.
"Kau lambat karena kau berpikir seperti batu kali," kata Shi Hao tajam. "Kau diam di tempat, berharap musuh pergi."
"Lihat ke atas sana." Shi Hao menunjuk ke luar kapal, ke sebuah asteroid raksasa yang melayang di kejauhan.
"Apakah batu itu cepat?" tanya Shi Hao.
Tie Shan mendongak, bingung. "Tidak, Tuan. Dia lambat."
"Salah," koreksi Shi Hao. "Dia terlihat lambat karena dia besar. Tapi jika batu sebesar itu menabrak kapal ini... siapa yang hancur? Kapal ini atau batunya?"
"K-Kapalnya, Tuan."
"Tepat," mata Shi Hao berkilat. "Di Alam Semesta ini, berat adalah senjata. Massa adalah kekuatan."
Shi Hao menepuk dada Tie Shan.
"Kau bukan perisai, Tie Shan. Kau adalah Meteor. Jangan menunggu dipukul. Jadikan seluruh tubuhmu peluru meriam."
"Kumpulkan seluruh Qi Tanahmu. Jangan padatkan untuk bertahan, tapi ledakkan untuk momentum."
Shi Hao mundur. "Luo Tian! Buat hantu beruang itu lebih besar! Paksa Tie Shan sampai batas!"
Luo Tian menggertakkan gigi, darah menetes dari mata ketiganya. "Haaah!!"
Hantu beruang itu membesar dua kali lipat, auranya mendekati Penyatuan Kehampaan Awal. Dia meraung dan mengangkat kedua cakarnya untuk menghancurkan Tie Shan.
Tie Shan melihat bayangan kematian di depannya.
Aku bukan batu biasa... batin Tie Shan. Aku meteor... Aku meteor...
Tie Shan menarik kaki kanannya ke belakang. Dia tidak mengambil kuda-kuda bertahan.
Seluruh tubuh batunya mulai bersinar dengan cahaya kuning kecokelatan yang berat. Gravitasi di sekitarnya terdistorsi.
"Tubuh Gunung... Menabrak Bintang!"
DUAR!
Tie Shan tidak memukul dengan tangan. Dia menabrakkan seluruh sisi bahu dan tubuhnya ke depan.
Ledakan kecepatan yang tak terduga dari tubuh seberat itu menciptakan momentum yang mengerikan.
BRAAAK!
Tubuh Tie Shan menghantam hantu beruang raksasa itu.
Tidak ada pertarungan. Hantu beruang itu langsung meledak berkeping-keping seolah ditabrak meteor berkecepatan tinggi.
Tie Shan tidak berhenti. Momentumnya masih lanjut. Dia terus meluncur menabrak pagar pembatas arena latihan, menghancurkannya, dan baru berhenti setelah menabrak dinding kabin dengan suara dentuman keras.
Hening.
Shu Ling berhenti bergerak, mulutnya menganga. Luo Tian jatuh terduduk, kehabisan tenaga mental karena ilusinya dihancurkan paksa.
Tie Shan merangkak keluar dari reruntuhan dinding kabin. Kepalanya pusing, tapi dia melihat sisa-sisa hantu beruang yang sudah jadi asap.
"Aku... aku melakukannya?" Tie Shan melihat bahunya sendiri yang berasap panas.
Shi Hao tersenyum puas.
"Lumayan," kata Shi Hao. "Itu baru dasar. Kalau kau melatihnya sampai tahap puncak, kau bisa menghancurkan planet kecil hanya dengan bahumu."
Shi Hao kemudian menoleh ke Luo Tian yang terengah-engah.
"Dan kau, Mata Tiga. Ilusimu terlalu kaku. Hantu harusnya menakutkan, bukan cuma samsak tinju. Mulai besok, pelajari cara memproyeksikan rasa takut langsung ke otak musuh, bukan cuma bayangan."
"Siap... Jenderal..." desah Luo Tian sebelum jatuh pingsan karena kelelahan.
Shi Hao melihat ke langit berbintang.
Di dunia ini, tingkatan kultivasi umum adalah:
Pemurnian Qi
Pembentukan Pondasi
Inti Emas
Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul)
Transformasi Dewa (Soul Transformation)
Penyatuan Kehampaan (Void Amalgamation)
Kesengsaraan Besar (Great Vehicle)
Dewa Sejati (True God) -> Level Shi Hao saat ini
Raja Dewa (God King)
Kaisar Dewa (God Emperor)
"Tim ini..." batin Shi Hao. "Tie Shan baru saja menyentuh ambang Penyatuan Kehampaan secara fisik. Shu Ling masih Transformasi Dewa Puncak. Luo Tian Penyatuan Kehampaan Awal tapi mentalnya lemah."
"Di Turnamen nanti, lawan kita minimal adalah Kesengsaraan Besar atau Dewa Sejati muda dari klan besar."
Shi Hao mengepalkan tangannya.
"Masih jauh. Tapi setidaknya, fondasinya sudah ada."
"Istirahatlah!" perintah Shi Hao pada timnya. "Besok kita akan masuk ke wilayah Gugus Bintang Badai. Latihannya akan lebih gila."
Tie Shan dan Shu Ling saling pandang dengan ngeri, tapi ada rasa bangga yang baru tumbuh di dada mereka. Mereka bukan lagi sampah buangan. Mereka adalah murid dari monster bernama Feng.
Kabin Pribadi Jenderal Feng – Bahtera Teratai Merah.
Malam di Lautan Bintang terasa lebih sunyi daripada di daratan. Di luar jendela kabin, nebula berwarna ungu dan biru berputar lambat, menciptakan pemandangan yang membius.
Namun, Shi Hao (Ranah: Dewa Sejati / True God) tidak sedang menikmati pemandangan.
Dia duduk di depan meja kayu, menatap benda di hadapannya dengan kening berkerut.
Peta Bintang Kuno.
Benda itu berbentuk cakram logam hitam selebar telapak tangan, penuh dengan ukiran rasi bintang yang rumit. Shi Hao sudah mencoba mengalirkan Qi Nirwana nya, mencoba menggunakan Indra Dewanya, bahkan mencoba membakarnya sedikit dengan api.
Cakram itu diam seperti batu mati.
"Benda sialan," umpat Shi Hao. "Nyonya Zhu bilang ini kunci menuju Pusat Semesta. Tapi kalau tidak bisa dibuka, ini cuma ganjalan pintu yang mahal."
Shi Hao tahu dia bisa membukanya paksa dengan kekuatan penuh Dewa Sejati nya. Tapi itu berisiko menghancurkan informasi di dalamnya. Peta ini dilindungi oleh segel tingkat Raja Dewa (God King) ke atas.
Krieeet.
Pintu kabin terbuka pelan.
Nana (Ranah: Fana / Tidak Ada Kultivasi) masuk membawa nampan berisi teh roh hangat dan kain pembersih. Dia mengenakan jubah pelayan baru yang bersih, tapi kalung bekas budak di lehernya masih menyisakan bekas luka samar.
"Maaf mengganggu, Tuan Feng," cicit Nana pelan. "Saya membawakan teh untuk menyegarkan pikiran Tuan."
Shi Hao menghela napas, menyandarkan punggungnya. "Masuklah, Nana. Teh terdengar enak."
Nana meletakkan nampan di meja samping. Dia melihat Shi Hao yang tampak frustrasi menatap cakram hitam itu. Dengan hati-hati, Nana mengambil kain pembersih dan mulai mengelap debu di sekitar meja tempat Shi Hao bekerja.
"Tuan tampak kesal dengan benda itu," kata Nana pelan, mencoba memberanikan diri bicara.
"Ini Peta Bintang," jawab Shi Hao. "Tapi terkunci. Sepertinya butuh 'kunci' khusus atau darah keturunan tertentu."
Nana mengangguk, tidak terlalu paham soal kultivasi tingkat tinggi. Dia terus mengelap meja.
Tanpa sengaja, ujung jari kelingking Nana yang masih memiliki sedikit luka gores akibat kawat sangkar di pasar budak kemarin menyentuh pinggiran cakram hitam itu.
Setetes darah merah segar, yang bercampur dengan Aura Bulan perak samar dari rasnya, merembes masuk ke dalam ukiran cakram.
TING.
Suara denting halus terdengar.
Shi Hao langsung waspada. "Nana, mundur!"
Namun terlambat.
Cakram hitam itu tiba-tiba berdengung. Ukiran rasi bintang di permukaannya menyala terang dengan warna Perak Kebiruan warna yang sama persis dengan mata kanan Nana.
WUUUUUNG!
Cakram itu melayang naik dari meja, berputar kencang, dan memproyeksikan hologram cahaya bintang yang memenuhi seluruh kabin.
Nana terpekik kaget, menjatuhkan kain lapnya. Tubuhnya tiba-tiba kaku.
Mata Nana (Kuning dan Biru) bersinar terang. Dia tidak lagi melihat kabin kapal. Tatapannya kosong, menembus ruang dan waktu.
"Nana?" Shi Hao hendak menyentuhnya, tapi sebuah tekanan aura Kaisar Dewa (God Emperor) memancar dari hologram itu, membuat Shi Hao mundur selangkah.
"Ini... Proyeksi Jiwa Kuno?" batin Shi Hao kaget.
Di tengah proyeksi cahaya itu, muncul sosok seorang pria tua berjubah bintang yang agung. Dia berdiri di atas seekor naga galaksi, memegang tongkat yang mengendalikan orbit planet.
Kaisar Bintang Utara (North Star Emperor). Ranah Kaisar Dewa (God Emperor) - Puncak Telah Jatuh 10.000 tahun lalu.
Sosok Kaisar itu berbicara, suaranya bergema langsung di dalam jiwa Shi Hao dan Nana.
"Salam, Pewarisku. Atau siapa pun yang menemukan peta ini."
"Jika peta ini aktif, berarti kau telah menemukan 'Kunci'-ku."
Sosok Kaisar itu menunjuk ke arah Nana yang sedang trans.
"Di masa kejayaanku, aku menjelajahi Lautan Kabut Hampa yang mematikan. Tidak ada kompas yang bekerja di sana. Tidak ada Indra Spiritual yang bisa menembusnya."
"Hanya satu makhluk yang bisa melihat jalan di tengah kekacauan itu."
"Ras Kucing Bulan (Moon Cat Race)."
Mata Shi Hao membelalak. Dia menatap Nana. Budak seharga 5 koin itu?
"Mereka bukan binatang buas biasa," lanjut sang Kaisar. "Leluhur mereka diberkati oleh Dewi Bulan Purba. Mata mereka adalah peta hidup. Darah mereka adalah kompas."
"Namun, karena kemampuan mereka yang terlalu berharga, mereka diburu. Untuk melindungi mereka, aku menyegel ingatan ras mereka dan menyebarkan mereka ke pinggiran galaksi."
"Wahai Pemegang Peta... jika kau ingin mencapai 'Makam Bintang'-ku di Pusat Semesta... lindungi Kucing ini. Gunakan darahnya untuk membuka jalan, dan matanya untuk melihat badai."
"Sebagai gantinya... bangkitkan kembali kemuliaan Ras Kucing Bulan."
Proyeksi itu berakhir. Cakram logam itu jatuh kembali ke meja, kini tidak lagi hitam, tapi berwarna perak mengkilap dengan rute peta yang jelas terukir di sana.
Nana tersentak bangun. Kakinya lemas, dia hampir jatuh kalau Shi Hao tidak menangkapnya dengan cepat.
"Tuan Feng..." Nana gemetar, memegangi kepalanya yang pusing. "A-Apa yang terjadi? Saya melihat... banyak bintang... saya melihat jalan yang bersinar..."
Shi Hao mendudukkan Nana di kursi. Dia menatap gadis kecil itu dengan pandangan yang benar-benar baru.
Selama ini, Ras Kucing Bulan dianggap sampah di sektor ini. Hewan peliharaan, budak seks, atau pekerja kasar.
Ternyata, mereka adalah Navigator Bintang (Star Navigators) legendaris yang dicari oleh seluruh Kekaisaran Besar. Pantas saja Nyonya Zhu sangat menginginkan peta ini, tapi bahkan dia tidak tahu bahwa kuncinya ada pada gadis budak ini.
"Nana," kata Shi Hao serius. "Kau tahu apa yang baru saja terjadi?"
Nana menggeleng takut. "Apakah Nana merusaknya? Nana minta maaf! Jangan pukul Nana!"
Shi Hao tertawa pelan, mengusap kepala Nana.
"Merusak? Tidak. Kau baru saja menyelamatkan kita semua dari tersesat selama seribu tahun."
Shi Hao mengambil peta itu.
"Ternyata kau bukan kucing sembarangan. Kau adalah keturunan Navigator Kekaisaran."
"Ingatan leluhurmu baru saja bangkit."
Shi Hao menatap mata Nana.
"Mulai sekarang, kau bukan lagi pelayan teh. Kau adalah Navigator Utama tim ini."
"Tapi... Tuan Feng, kita harus merahasiakan ini. Jika Kekaisaran Naga atau Sekte Dewa Kosmik tahu tentang darahmu... mereka akan mengirim armada perang untuk menangkapmu."
Nana memegang ujung jubah Shi Hao erat-erat. "Nana takut... Nana hanya ingin bersama Tuan Feng dan Nini."
"Dan kau akan tetap bersama kami," janji Shi Hao. "Siapapun yang ingin mengambil 'kompas'-ku, harus melangkahi mayatku dulu."
Tiba-tiba, formasi bahtera berbunyi nyaring.
WUUUNG! WUUUNG!
Suara Nyonya Zhu terdengar lewat transmisi Qi.
"Jenderal Feng! Segera ke anjungan! Kita memasuki wilayah Nebula Hantu! Radarku mati total! Kita buta arah!"
Shi Hao menyeringai. Waktunya pas sekali.
Dia menarik Nana berdiri.
"Ayo, Navigator Kecil. Waktunya bekerja. Tunjukkan pada mereka bahwa matamu lebih tajam daripada radar tercanggih sekalipun."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!