Indonesia
NovelToon NovelToon

Sistem Kurir Super: Dari Penghinaan Ke Puncak Kekuasaan

Bab 1 – Meysi Kurniawan Berselingkuh

Kota Jakarta, pukul 21.00 malam.

Kevin Sanjaya mengendarai motor listriknya menyusuri jalanan kota menuju Hotel Hilton Garden Inn, sebuah tempat yang dikenal sebagai surga kencan para pasangan.

“Huh… bau tiram panggang ini menyengat sekali. Dia pesan sampai tiga lusin? Sepertinya tamu ini mau melakukan sesuatu yang ‘besar’ malam ini.”

Tiram memang terkenal sebagai makanan laut yang baik untuk vitalitas pria.

“Makan tiram sebelum bercinta bikin tenaga berlimpah. Setelahnya, bisa cepat pulih.”

Kevin sanjaya bergumam sambil masuk ke dalam lift.

Setelah mengantarkan pesanan ini, ia masih harus mengirim satu orderan lagi.

Kalau bekerja beberapa hari lagi, ia akhirnya bisa membelikan ponsel baru untuk ibunya.

“Permisi, pesanan Anda sudah sampai.”

Kevin Sanjaya mengetuk pintu kamar 1314 dengan ringan.

Pintu terbuka. Seorang wanita berambut basah, mengenakan jubah mandi, berdiri di depannya.

Keduanya langsung terpaku.

“Meysi… kenapa kamu di sini?”

Kevin sanjaya tertegun. Wanita di depannya adalah pacarnya sejak kuliah, Meysi Kurniawan.

“Kevin sanjaya?”

Meysi Kurniawan mengernyit. Setelah terdiam beberapa detik, ia berkata dingin,

“Karena kamu sudah tahu, aku tidak perlu berpura-pura lagi. Kita putus.”

Apa-apaan ini?

Kevin sanjaya benar-benar kebingungan.

Ia… baru saja mengantar makanan ke kamar hotel tempat pacarnya berselingkuh.

Dadanya terasa sesak. Ia menggeleng pelan, pahit memenuhi hatinya.

Pacarku benar-benar berselingkuh…

Namun Kevin sanjaya tidak berniat merendah atau memohon. Di tengah amarahnya, ia justru bertanya dengan nada dingin:

“Meysi Kurniawan, kalian sudah tidur bersama?”

Meysi Kurniawan memutar mata dengan kesal.

“Beruntunglah kamu. Kami belum mulai.”

Mendengar itu, Kevin sanjaya mengembuskan napas lega.

Setidaknya, kejadian ini membuatnya melihat jelas sifat asli Meysi Kurniawan.

Entah ini berkah atau kutukan.

“Kurang apa aku padamu?” tanya Kevin sanjaya dengan suara dingin.

“Aku baik padamu. Aku juga tidak jelek. Kenapa kamu mengkhianatiku?”

“Kamu memang baik. Kamu juga tampan,” jawab Meysi Kurniawan sinis.

“Tapi apa gunanya? Kamu miskin.”

“Kamu tidak punya latar belakang, tidak punya koneksi, tidak bisa memberiku hidup yang kuinginkan.”

Ia mendengus.

“Daripada itu, lebih baik aku mencari pria kaya.”

Saat itu, seorang pria keluar dari kamar sambil menyeringai dan menyilangkan tangan.

“Kevin sanjaya, tidak ada wanita yang menyukai pria rendahan sepertimu. Hanya seorang kurir makanan!”

“Wanita tentu lebih memilih orang kaya sepertiku.”

Ia merangkul pinggang Meysi Kurniawan dengan arogan.

"Stefanus Polimpung!”

Kevin sanjaya mengenali wajah itu. Mantan ketua kelasnya saat kuliah. pria ini sangat sombong, kaya, dan terkenal suka merebut pacar orang lain.

“Kamu berani merebut pacarku?”

“Lalu kenapa?” Stevanus Polimpung tertawa.

“Aku punya uang!”

“Kalau kamu pintar, minggatlah. Jangan ganggu kesenangan kami. Kalau tidak, aku akan membuatmu tahu betapa kejamnya dunia ini.”

Meysi Kurniawan tersenyum meremehkan.

“Kamu terlalu miskin. Aku tidak akan pernah bersamamu seumur hidup.”

“Sialan!”

Kevin sanjaya hampir memukul wajah Stevanus Polimpung, namun tiba-tiba ponselnya berbunyi.

“Pesanan telah selesai. Hadiah sistem akan segera diberikan.”

Stevanus Polimpung dan Meysi Kurniawan tertawa terbahak-bahak.

“Wah, jadi antar makanan juga dapat hadiah?” ejek Stevanus Polimpung.

“Kamu kerja lembur, ya?”

Kevin sanjaya bingung.

Selama ini, tidak pernah ada notifikasi seperti itu.

Saat ia membuka ponselnya, sebuah suara bergema di kepalanya:

“Nilai penderitaan karena diselingkuhi mencapai batas maksimal.”

“Sistem Kurir Super berhasil terikat.”

“Selamat, Tuan Rumah. Anda mendapatkan hadiah: Bugatti Veyron senilai 20 Miliar Rupiah.”

“Kunci mobil berada di saku Anda.”

“Setiap misi yang selesai akan memberikan uang atau item.”

“Hadiah misi berikutnya: sebuah perusahaan.”

Tubuh Kevin Sanjaya bergetar.

Sistem… Bugatti… perusahaan?!

Ia merogoh sakunya, dan menemukan kunci mobil yang terasa mewah di tangannya.

Ia menoleh ke luar jendela.

Di bawah pohon dekat hotel, sebuah Bugatti Veyron merah terparkir dengan anggun.

Jantungnya berdebar kencang.

Mimpi yang selama ini hanya ada di novel… kini benar-benar terjadi padanya.

Ia menarik napas dalam-dalam.

“Meysi Kurniawan,” ucapnya dingin,

“kamu akan menyesali pengkhianatanmu.”

Meysi Kurniawan tertawa meremehkan.

“Aku sudah menyesal.”

“Menyesal karena tidak meninggalkanmu lebih cepat. Kalau sejak dulu aku bersama Stevanus Polimpung, iPhone-ku pasti sudah lama ada.”

“Kamu bahkan tidak punya mobil. Antar makanan saja pakai Motor Butut. Jangan sok hebat!”

“Aku tidak punya mobil?”

Kevin sanjaya tersenyum tipis.

“Sebenarnya, Aku hanya ingin hidup biasa… tapi kamu memilih mengkhianatiku.”

“Kalau begitu, aku akan menunjukkan kenyataannya.”

Ia mengeluarkan kunci Bugatti.

Logo mobil itu berkilau di bawah cahaya redup koridor.

Namun Stevanus Polimpung dan Meysi Kurniawan justru tertawa keras.

“Korek api kamu keren juga. Paling mahal puluhan ribu, ya?”

“Kurir sepertimu mana mungkin punya mobil semahal itu!”

Stevanus Polimpung mengeluarkan kunci Daihatsu Teriosnya dengan bangga.

“Lihat ini. Mobilku harganya lebih dari tiga rastus juta!”

“Benarkah?”

Kevin Sanjaya tersenyum tenang.

“Buka matamu baik-baik.”

Ia menekan tombol pada kunci di tangannya.

Lampu depan Bugatti Veyron di luar hotel langsung menyala terang.

Orang-orang di sekitar berseru kaget.

Siapa orang kaya yang mengendarai mobil seperti itu?!

“Mobil itu… milik Kevin sanjaya?”

Meysi Kurniawan dan Stevanus Polimpung terdiam membatu.

Bab 2 – Mimpi

Bahkan satu lampu Bugatti Veyron saja harganya lebih mahal daripada sebuah Daihatsu Terios.

“Meysi Kurniawan,” ucap Kevin sanjaya dengan nada datar namun dingin,

“apa sekarang kamu menyesal telah membuangku?”

Tatapan Meysi Kurniawan bergetar sesaat. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Kevin sanjaya sudah mengulurkan kantong makanan itu dan menjatuhkannya tepat di depan pintu kamar.

“Pesananmu sudah sampai,” katanya singkat.

“Selamat menikmati.”

Ia tidak menunggu jawaban. Tidak juga menoleh kembali. Langkah kakinya mantap saat ia berbalik dan berjalan menuju lift.

“Kevin sanjaya!”

Suara Meysi Kurniawan terdengar dari belakang, kali ini tidak lagi setinggi sebelumnya.

“Aku… aku salah. Aku benar-benar menyesal!”

Kevin sanjaya berhenti sejenak di depan lift. Jari-jarinya mengepal, lalu kembali mengendur.

“Sudah terlambat.”

Pintu lift menutup perlahan, memutuskan semua kemungkinan.

Di dalam lift yang sepi, Kevin sanjaya menghela napas panjang. Perasaannya tenang, terlalu tenang. Seolah beban yang selama ini menekan dadanya akhirnya terangkat.

Jika ia berhasil menyelesaikan misi berikutnya, sistem akan memberinya sebuah perusahaan.

Ia tidak punya waktu untuk menoleh ke masa lalu.

Menghabiskan waktu memikirkan wanita yang mengkhianatinya hanya akan membuatnya terlihat bodoh.

Sekarang, yang ada di pikirannya hanyalah satu hal, mengantar pesanan dan menjadi kaya.

Saat ia keluar dari hotel, suasana di depan gedung sudah berbeda.

Kerumunan orang berdiri mengelilingi sebuah Bugatti Veyron merah yang terparkir dengan mencolok. Kilau bodinya memantulkan cahaya lampu jalan, menciptakan pemandangan yang nyaris tidak nyata.

Ponsel terangkat ke mana-mana. Suara kagum terdengar silih berganti.

“Mobil ini gila…” “Siapa ya pemiliknya?” “Bugatti asli di kota ini?”

Kevin sanjaya berhenti sejenak, menatap mobil itu dari kejauhan. Ada rasa tak percaya di dadanya.

“Benar juga,” gumamnya pelan.

“Mobil sport memang selalu menarik perhatian.”

Ia sendiri masih belum sepenuhnya yakin bahwa semua ini nyata.

Baru beberapa menit lalu ia masih seorang kurir miskin yang dihina pacarnya.Sekarang, sebuah supercar bernilai puluhan juta berdiri di hadapannya.

Dan ini baru permulaan.

Jika ia menyelesaikan satu pengantaran lagi, ia bahkan bisa menjadi bos sebuah perusahaan.

Ia melangkah ke arah motor bututnya, kendaraan sederhana yang telah menemaninya bekerja siang dan malam selama beberapa bulan terakhir.

“Kamu sudah bekerja keras,” katanya lirih sambil menepuk bodi motor itu.

Setelah itu, ia mengambil kotak pengantaran dan berjalan ke arah Bugatti.

“Permisi,” ucapnya tenang,

“tolong beri jalan.”

“Pemilik mobilnya datang?”

Beberapa orang menoleh dengan penuh harap. Namun saat melihat Kevin sanjaya yang mengenakan seragam Ojol dan membawa kotak pengantaran di punggungnya, ekspresi mereka langsung berubah.

Raut antusias berubah menjadi kecewa.

kevin sanjaya tidak peduli. Ia hanya tersenyum tipis sambil menatap mobil itu dari dekat.

“Bugatti Veyron,” gumamnya.

“Jadi inilah yang disebut legenda.”

Ia mengulurkan tangan dan menyentuh bodi mobil yang dingin dan sempurna itu. Permukaannya halus, nyaris tanpa cela.

“Jangan sembarangan menyentuh!”

Beberapa pria langsung menegurnya dengan nada meremehkan.

“Tahu tidak harga mobil ini? Dua puluh Miliar! Kalau sampai tergores, kamu tidak akan sanggup membayarnya!”

Bisik-bisik meremehkan terdengar di sekelilingnya.

Namun Kevin sanjaya hanya tersenyum, sama sekali tidak terpancing emosi.

“Mobil ini milikku,” katanya santai.

“Aku bebas melakukan apa pun.”

Semua orang terpaku dengan perkataannya.

“Apa? Kurir sekarang sudah berani sesombong ini?”

Tawa keras meledak dari kerumunan.

Tanpa menjelaskan apa pun, Kevin sanjaya mengeluarkan kunci mobil dari sakunya dan menekannya.

Lampu Bugatti langsung menyala terang.

Pintu mobil terbuka perlahan, disertai suara mekanis yang halus.

Tawa itu seketika terhenti.

Ekspresi mengejek berubah menjadi keterkejutan.

“Tidak mungkin…” “Ini… mobilnya benar-benar milik dia?”

Kevin sanjaya melepas helm Ojolnya dengan tenang, meletakkan kotak pengantaran di kursi penumpang, lalu duduk di balik kemudi.

Saat mesin dinyalakan, raungan rendah yang bertenaga menggema di udara malam.

Lampu depan menyorot tajam ke depan.

Semua orang terdiam.

Itulah pemandangan yang hanya ada dalam mimpi banyak pria.

Dan kini, mimpi itu…

menjadi milik seorang Kevin sanjaya.

Bab 3 – Hadiah

“Selamat tinggal semuanya,” ujar Kevin sanjaya sambil tersenyum tipis.

“Jangan pernah meremehkan orang lain lagi.”

Di tengah tatapan tercengang banyak orang, Kevin sanjaya menginjak pedal gas dan melaju pergi dengan Bugatti Veyron-nya.

Butuh waktu cukup lama bagi mereka untuk sadar kembali.

“Dia… dia benar-benar mengantar makanan pakai Bugatti Veyron!”

“Sepertinya anak orang kaya yang sedang mencoba merasakan hidup biasa. Iri sekali aku…”

Kerumunan itu menggelengkan kepala. Ketika mengingat bagaimana mereka baru saja mengejek Kevin sanjaya, rasa malu langsung menyelimuti hati masing-masing.

“Kevin...!”

Pada saat itu, Meysi Kurniawan berlari keluar dari hotel. Namun yang tersisa hanyalah jalan kosong, dan Bugatti Veyron itu sudah menghilang.

Wajahnya pucat. Dadanya terasa sesak.

Ia tahu…

ia telah kehilangan segalanya.

“Meysi, sudahlah. Tidak apa-apa,” kata Stevanus Polimpung mencoba menenangkannya.

Plak!

Tamparan keras mendarat di wajah Stevanus Polimpung.

“Semua ini gara-gara kamu!” teriak Meysi Kurniawan histeris.

“Aku kehilangan kesempatan menikah dengan orang kaya! Aku itu wanitanya Kevin! Mobil mewahnya juga seharusnya milikku!”

Matanya memerah karena emosi. Ia bahkan tidak peduli masih mengenakan jubah mandi. Dengan panik, ia menghentikan sebuah taksi dan menyuruh sopir mengejar arah perginya Kevin sanjaya.

Stevanus Polimpung berdiri terpaku, wajahnya memerah karena malu. Ia menggertakkan gigi, lalu berbalik dan masuk kembali ke hotel.

Sementara itu, Kevin sanjaya melaju di jalanan kota.

Ke mana pun Bugatti Veyron itu lewat, perhatian langsung tertuju padanya. Pengemudi lain dan pejalan kaki menoleh tanpa sadar.

Dulu, saat ia masih mengantar makanan dengan motor butut, mobil-mobil mewah sering membunyikan klakson agar ia minggir.

Sekarang?

Mereka justru menjaga jarak darinya.

Di hadapan Bugatti Veyron, mobil-mobil yang disebut “mewah” itu tampak tidak berarti apa-apa.

“Supercar ini benar-benar gila,” gumam Kevin sanjaya sambil tersenyum.

“Rasanya… terlalu keren.”

Tak lama kemudian, ia tiba di kawasan perumahan tujuan pengantaran.

Selama pesanan ini berhasil diselesaikan, ia akan mendapatkan sebuah perusahaan.

Begitu Bugatti mendekat, satpam yang sedang merokok langsung panik. Ia buru-buru membuang rokoknya dan membuka gerbang.

Mobil seperti itu…

pemiliknya pasti orang berpengaruh. Ia tidak berani macam-macam.

Kevin sanjaya tertawa dingin dalam hati.

Dulu, saat ia datang dengan motor Butut, satpam ini bahkan tidak mengizinkannya masuk.

Sekarang, mereka malah bersikap hormat.

Dunia memang seperti ini, pikirnya.

Harus sukses dulu baru dihargai.

Ia memarkir mobil, lalu menghubungi pelanggan. Ia menelepon beberapa kali dan menekan bel berkali-kali. namun tidak ada jawaban.

Di panel sistem, waktu tersisa tinggal tiga puluh menit.

Jika ia gagal menyelesaikan pengantaran tepat waktu, ia akan menerima hukuman.

“Kalau hukumannya sampai membuatku kehilangan mobil ini, aku benar-benar tamat,” gumamnya.

“Untung saja aku sudah menyiapkan rencana cadangan.”

Ia menggeleng kecil, lalu mengeluarkan megafon besar dari dalam kotak pengantaran.

Dengan napas dalam, Kevin sanjaya mengangkat megafon dan berseru:

“Nona Yati!

Pesanan camilan tengah malam Anda, paket lengkap berisi kaki sapi panggang, milk tea lemon, dan sate kambing, telah tiba!”

“Mohon segera turun untuk mengambil pesanan Anda!”

Suara itu menggema di seluruh kawasan perumahan.

Sekejap, tawa pecah di mana-mana.

Para penghuni rumah membuka jendela dan mengintip ke luar, penasaran ingin melihat seperti apa Nona Yati itu.

Tak ada jawaban.

Kevin sanjaya kembali mengangkat megafon.

“Tolong segera turun....”

“Berhenti berteriak!”

Seorang wanita cantik berlari turun dengan wajah memerah. Ia mengenakan seragam perawat, napasnya tersengal.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!