Indonesia
NovelToon NovelToon

Luka Hatiku, Aku Kembalikan Padamu

Baik, Permainan Dimulai

Jarum jam dinding menunjukkan pukul 23:00 WIB, tapi mata Candira Anandini masih enggan terpejam. Entah mengapa feelingnya tidak enak. Sebenarnya sudah biasa jika suaminya lebih suka tidur larut malam. Tapi, bukankah sekarang sudah hampir tengah malam untuk menyusulnya tidur.

Dengan langkah pelan, Dira keluar kamar setelah menggunakan Hearing Aid.

Dira bukan penderita disabilitas sejak lahir, tapi trauma berat pasca ledakan bom di tanah kelahirannya membuat dia harus kehilangan pendengarannya.

Bukan hanya pendengaran yang hilang, tapi seluruh keluarganya meninggal dunia. Menyisakan dirinya di antara puing-puing reruntuhan bangunan dan mayat. Kejadian 25 tahun yang lalu, merubah hidup seorang Candira Anandini.

Mengalami kritis di usia 3 tahun akibat ledakan dahsyat tersebut, Pemerintah membawa Dira ke Jakarta. Sejak hari itu, dia tinggal sebatang kara di Panti Asuhan. Tapi karena kecerdasannya, Dira berhasil tumbuh dan sukses dengan usahanya.

Dira menikah dengan Agung Fahmi baru 2 tahun yang lalu dan mereka belum dikarunia momongan.

Sebagai seorang yang menyadari kekurangannya, Dira memang terkesan tidak peduli dengan usianya yang telah matang. Kalau kata orang kampung Dira sudah disebut sebagai Perawan Tua. Lantaran usia 28 tahun Dira baru mengakhiri masa lajangnya atas pinangan dari teman masa kuliahnya. Pernikahan yang awalnya terasa harmonis, menjadi semakin hari semakin hambar.

Tuntutan dari Ibu Mertuanya yang menginginkan momongan menjadi pemicu utamanya. Dira dianggap sebagai perempuan mandul, karena tak kunjung bisa hamil.

Di rumah mewah ini Dira tinggal bersama Suami, Ibu Mertua dan dua Adik Ipar Perempuan. Semua kebutuhan Dira yang memenuhi, tapi mereka tak bisa bersikap baik dengan Dira secara tulus.

"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.

"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.

"Baiklah, kalian jaga pintu depan."

Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.

Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.

Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur. Firasatnya ternyata tidak pernah salah. Keinginannya untuk pergi ke dapur, awalnya hanya ingin mengambil minum dan mengecek keberadaan suaminya harus menelan kekecewaan setelah mendengar bagaimana keluarga yang dikasihinya ingin menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan kekurangannya.

"Tunggu... Aku gak bisa melakukannya malam ini, karena besok ada rapat pemegang saham di Perusahaan. Dan Dira masih dibutuhkan otaknya, tahu sendiri aku tidak terlalu paham urusan bisnis." Ucap Agung.

"Ya... Harus nunggu lagi dong. Malas banget tahu gak sih, tiap hari harus bersikap sok manis di depan perempuan cacat."

Adik Agung yang kedua bernama Ambar baru kuliah semester tiga. Sedangkan adiknya yang pertama bernama Arimbi sudah lulus dan ikut bekerja di Perusahaan milik Dira.

"Arimbi sejak pulang dari Kantor sampai sekarang belum sampai rumah?" Tanya Ibu mereka yang bernama Arumi, yang meskipun malam hari tetap berdandan ala badut hajatan.

"Entah, katanya ada party dengan teman-temannya." Jawab santai Agung.

"Ya sudah, kita lanjutkan rencananya besok pagi saja saat si tuli itu pergi ke Kantor. Tugas kamu Agung, malam ini cari kunci untuk membuka brangkasnya. Kamu suaminya, kamu berhak atas semua harta yang dia punya. Setelah itu, menikahlah dengan kekasihmu."

"Iya, aku kasihan dengan Dara yang harus hamil tanpa aku. Besok aku bawa Dara ke sini, dan Ibu bilang saja dia adalah keponakan dari Desa." Ucap Agung dengan rencana barunya.

Andara Kirana, adalah kekasih gelap Agung yang baru menjalin hubungan 3 bulan yang lalu, dan saat ini Dara sedang hamil.

"Bagus, karena hanya Dara yang pantas menjadi Istrimu. Sudah cantik, masih muda dan tentunya subur. Tidak seperti si tuli yang mandul mana sudah tua lagi." Ucap Ibu Arumi dengan pedasnya.

Kalimat demi kalimat terdengar menyakitkan, membuat Dira tak kuasa menahan air matanya di balik tembok.

"Jadi, aku memelihara banyak ular?"

Dengan langkah pelan, Dira kembali ke kamarnya untuk menunggu... Agung.

Dira bukan seorang disabilitas biasa, sejak kecil dalam pengawasan Dinas Sosial Dira sudah dididik menjadi seorang perempuan tanggung yang tidak mudah tumbang meskipun badai menghantam.

"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."

Setelah masuk kamar, Dira langsung mengunci pintu, mematikan ponsel dan melepas alat bantu dengar miliknya.

Karena...

Malam ini, terakhir untuknya menjadi Dira yang dianggap bodoh.

Karena mulai besok pagi, Dira akan mulai memainkan peran barunya. Bukankah membalas ular licik, kita harus lebih cerdik daripada ular? Jadi, Dira butuh tidur nyenyak.

Pagi hari, tidak seperti biasanya.

"Hah... Sudah jam berapa ini? Aku telat bangun, mana ada kuliah pagi." Teriak Ambar saat melihat jam dinding di kamarnya sudah jam 08:00 WIB.

Tanpa mandi hanya mencuci muka dan gosok gigi, Ambar menyambar tas lalu turun untuk sarapan. Serta... Ingin memaki Kakak Iparnya.

"Ibu... Ibu... sarapannya mana? Kenapa meja makan kosong." Teriaknya lagi.

"Apa sih kamu pagi-pagi sudah ribut, biasa juga jam segini kamu sudah tidak ada di rumah." Ucap Ibu Arumi.

"Kenapa si tuli? Kenapa tidak membangunkanku? Dan kenapa dia tidak masak untuk kita semua makan?" Tanya Ambar menunjuk meja makan.

"Iya... ya... Kemana si tuli, coba tanya Mas mu gak mungkin kan jika Mas mu minta jatah pagi buta dengannya?" Ibu Arumi justru mengkhawatirkan perihal yang tidak seharusnya menjadi urusannya.

"Makanya, bawa Kak Dara ke sini secepatnya supaya Mas Agung gak harus menggauli Istri tulinya." Suara Arimbi yang dicari terdengar.

"Kamu pulang jam berapa semalam? Kok sekarang sudah rapi lagi?" Aku pulang hampir subuh, dan yah aku harus ke Kantor. Sudah pasti si tuli itu menunggu laporan keuangan untuk rapat. Aku berangkat dulu, Mas Agung kasihan tidur di ruang tamu." Ucap Arimbi lalu melenggang santai, tidak tahu jika boom menunggunya.

"Astaga... Jadi Dira sudah berangkat, lalu meninggalkan suaminya di rumah? Keterlaluan, semalam pakai acara kunci pintu segala jadinya Agung tidak tidur dengan nyenyak di kamarnya."

"Sudahlah Bu, aku berangkat dulu. Setelah ini, kita balas perbuatannya. Lihat saja, bagaimana si tuli itu akan merangkak mengemis cinta dari Mas Agung." Ucap Ambar.

Waktunya Menagih Hutang

Di ruang rapat Perusahaan miliknya, Candira Anandini dengan anggun memimpin. Sebagai CEO sekaligus pemilik Perusahaan, tentu saja Dira mempunyai kecerdasan untuk memajukan dan mengembangkan Perusahaannya.

Dira memegang saham 75% sedangkan sisanya adalah milik para investor. Perusahaan Dira bekerja di bidang infrastruktur yang sering bekerja sama dengan proyek-proyek milik Pemerintah.

"Selamat Pagi, terima kasih sudah hadir tepat waktu." Ucap Dira.

"Agenda hari ini, saya selalu CEO ingin merombak dewan direksi. Seperti yang Anda semua tahu, jika saya memperkerjakan suami dan Adik Ipar di Perusahaan ini. Tapi jika dalam pekerjaannya mereka melakukan kesalahan, apa boleh jika saya menurunkan jabatan mereka berdua?"

Bisik-bisik terdengar begitu sumbang, ada yang merespon dengan wajah lega ada juga yang mencibir. Dan Dira tahu, jika semua ini tidak akan berjalan mudah. Karena salahnya sendiri sudah memelihara ular berbisa, yang kini racunnya sudah membuat sebagian karyawannya melawan. Tapi, Dira bukan perempuan biasa yang mudah diremehkan oleh mereka.

Meskipun sudah Dira akui, jika selama dua tahun ini buta. Hanya karena tawaran kata cinta dan iming-iming kehangatan keluarga. Dira melonggarkan sistem pertahanan hidupnya, tapi sekarang Tuhan telah membuka mata dan telinganya lebar-lebar. Siapa yang dia pelihara selama ini dengan seluruh harta kekayaannya. Maka sekarang waktunya menagih hutang.

Dira tidak bicara omong kosong, karena setelah mengetahui kenyataan sebenarnya. Subuh tadi, Dira langsung terbangun dan seketika mencari borok Suaminya. Selama ini karena cinta, Dira percaya seratus persen dengan Agung. Tapi kepercayaan itu telah tergadai, dan tidak sulit bagi Dira untuk menelusuri jejak kecurangan yang sudah dilakukan Agung dan Arimbi.

Layar proyektor menyala, di sana Dira membeberkan kebocoran dana perusahaan. Yang ternyata sudah terjadi sebulan setelah dia menikah dengan Agung. Awalnya nilai yang diambil hanya jutaan hingga puluhan juta saja. Tapi sejak 3 bulan yang lalu, uang yang dicuri nilainya berkali-kali lipat tanpa ada kejelasan ke mana dana mengalir.

"Jadi, kerugian Perusahaan sudah mencapai hampir 100 Miliar selama setahun. Sedangkan di akhir bulan lalu, Agung atau Suami saya sudah mengambil uang 500 juta lagi. Yang hingga kini tidak ada laporan keuangan yang transparan dari Arimbi selaku Manager Keuangan Perusahaan. Jadi menurut Anda sekalian bagaimana? Dibiarkan supaya semakin hancur, atau..."

Braakkk

Pintu dibuka kasar dari luar, Arimbi datang dengan nafas yang setengah hidup setengah mati.

Wajahnya berkeringat dan karena dempulnya terlalu tebal maka... yang terlihat kini bagaikan badut pasar malam.

"Maaf... Saya datang terlambat, itu karena..." Ucapan Arimbi dipotong sepihak oleh Dira yang melambaikan tangan, pertanda Arimbi harus stop berbicara.

"Tidak perlu basa basi Arimbi, silahkan duduk dan sampaikan pembelaanmu tentang dana perusahaan yang hilang. Bukti-bukti sudah saya sertakan, semua dewan direksi sudah melihatnya. Saya beri waktu 30 menit untuk membuat pembelaan, sebelum Polisi datang membawa kamu ke Kantornya." Ucap Dira tegas menatap datar.

"Apa maksudnya, uang apa sih..."

"Nona Arimbi, tolong kerja samanya. Anda sudah terbukti menggelapkan dana, bekerja sama dengan Tuan Agung." Ucap seorang pria bernama Tuan Bramantyo, seorang yang dituakan di Perusahaan karena dedikasinya yang tinggi.

"Ini fitnah, saya tahu ada yang sengaja ingin menjatuhkan saya dan Kakak saya supaya diusir dari Perusahaan ini." Kekeh Arimbi.

"Siapa yang ingin menjatuhkanmu, Arimbi? Tidak ada! Justru kamu yang telah membuat dirimu jatuh di lubang paling hina, yakni MENCURI! Sekarang akui saja semua perbuatanmu, maka saya akan pikirkan ulang untuk melaporkan kejahatanmu ke Polisi." Ucap Dira tersenyum penuh misteri.

"Benarkah? Jadi aku tidak akan masuk penjara?" Tanya ulang Arimbi.

"Tentu saja setelah kamu memberi kesaksian di depan para dewan direksi dan pemegang saham Perusahaan." Ucap Dira tanpa riak emosi.

"Baiklah, aku akan katakan kebenarannya." Ucap Arimbi tidak sadar telah masuk jebakan yang dibuat Dira.

Dengan penuh percaya diri, Arimbi berdiri di depan dan menjelaskan detail semua aliran dana Perusahaan.

"Jadi uang 100 Miliar dalam kurun waktu setahun sudah dapat apa saja? Bisa kamu sebutkan aset apa yang sudah kamu beli bersama keluargamu?" Tanya Dira.

"Mama minta satu set perhiasan berlian, lalu Ambar minta beli tas limited edition, dan aku tentu saja aku beli rumah yang mewah melebihi rumah kamu..."

"Sedangkan Mas Agung, dia... Ah biar dia jelaskan sendiri saja. Yang penting urusanku denganmu selesai." Ucap Arimbi dengan senyum sombongnya.

"Baiklah, semua sudah jelas ya Bapak... Bapak... Ibu... Ibu... sekalian, jika Arimbi mempergunakan uang Perusahaan untuk kepentingan pribadinya dan keluarganya. Jadi, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya karena Arimbi tidak mau dihukum masuk ke dalam sel tahanan. Maka, saya dengan resmi menarik kembali wewenang dia di Perusahaan dan semua aset akan disita..."

"TIDAK! Kamu sudah berjanji untuk membebaskanku dari hukuman, kenapa masih mau menyita barang yang sudah aku beli untuk keluargamu juga. Ibuku adalah Ibumu, aku dan Ambar adalah adikmu." Ucap Arimbi.

"Memang benar, kamu adalah keluargaku. Tapi urusan bisnis, tidak ada hubungan dengan keluarga atau bukan. Sudah waktunya kamu mengembalikan semua yang telah kamu ambil dariku. Perusahaan punya aturan yang wajib dipatuhi oleh siapa pun yang masih butuh bekerja di sini. Jadi, serahkan semua aset yang kamu beli dengan uang Perusahaan..."

"Kamu punya waktu sampai besok pagi, dan yah... semua pernyataanmu, kesaksianmu telah saya rekam dan sebagai jaminan supaya kamu segera mengembalikan HUTANG KAMU DI PERUSAHAANKU. Atau, bisa jadi rekaman ini akan meluncur ke Kantor Polisi." Ucap Dira masih dengan wajah datar, sama sekali tidak menunjukkan emosi saat berbicara dengan Arimbi.

"Ka... Kamu... Kenapa jahat sekali. Jangan mentang-mentang kamu Kakak iparku, seenaknya kamu ingin menjatuhkanku. Aku tidak terima perlakuanmu ini. Akan aku laporkan pada Ibu, dan Mas Agung pasti menceraikanmu..."

"Mau menceraikanku? Yakin dia mau? Bukankah kamu dan keluargamu hidup bergantung dengan uang yang aku berikan? Tapi urusan hutang, berbeda."

"Sekarang, mau tunggu apa lagi? Kamu kembalikan yang kamu ambil, kamu juga tidak aku pecat. Tapi..." Ucapan Dira dipotong Arimbi.

"Baik, aku ambil semuanya sekarang. Asal kamu janji tidak memecatku." Ucap Arimbi kemudia berbalik keluar.

"Aku memang tidak memecatmu, tapi aku tidak akan memberimu gaji dari setiap pekerjaanmu." Gumam Dira.

Rapat berakhir, kini tinggal Dira seorang diri berdiri menatap hamparan luas dari atas gedung Perusahaannya.

Baginya, pengkhianatan adalah penghinaan atas harga dirinya yang akan dia tagih sebagai HUTANG DIBAWA MATI. Bukan dengan mengusir, tapi dengan mengembalikan semua secara perlahan-lahan. Supaya mereka tahu bahwa Candira Anandini bukan perempuan disabilitas biasa.

Istana Beracun

Karena berfikir sudah terlambat datang ke Kantor, Agung melanjutkan tidurnya. Tanpa dia tahu, jika adiknya sudah mendapatkan keadilan yang setimpal.

Braakkk...

"Mas Agung... Bisa-bisanya kamu masih tidur jam segini. Nasib kita sudah habis sekarang. Mana... Tabungan Mas Agung, aku mau balikkan ke si tuli. Dia sudah tahu kecurangan kita."

Ucap Arimbi saat tiba di rumah yang ternyata masih sepi. Ibu Arumi kemungkinan sedang arisan, sedangkan Ambar pasti masih kuliah. Tapi, kenapa kakaknya masih molor.

"Apa sih, aku masih ngantuk. Dira sialan itu mengunci kamar, sehingga aku harus tidur di sofa ruang tamu semalam. Mana banyak nyamuk lagi." Kesal Agung.

"Mas serius kamu harus bangun, dengarkan aku ngomong masalah penting. Kita sudah ketahuan, dan Dira minta aku mengembalikan semua yang kita ambil dari Perusahaannya itu. Atau aku harus mendekam di penjara karena telah melakukan korupsi. Sekarang Mas bantu aku, cari semua perhiasan Ibu dan koleksi barang-barang branded milik Ambar."

"Bahkan, aku terpaksa harus memberikan sertifikat rumah yang pernah ku beli beberapa bulan yang lalu. Dan untuk Mas Agung, jangan sampai Mas ketahuan telah berselingkuh, atau nasib kita semua habis. Karena sekarang tinggal Mas satu-satunya yang masih Dira percayai." Ucap Arimbi meskipun banyak kebohongannya. Karena nyatanya Dira sudah membencinya.

Hanya saja, Dira adalah pribadi yang penuh dengan perhitungan matang. Gegabah... Bukan ciri khas Candira.

Agung menghela nafas panjang, pikirannya tiba-tiba buntu mendengar jika semua rahasia Amira telah ketahuan. Sekarang Agung juga ketar-ketir, takut rahasia tentang Dara terbongkar.

"Aku mandi dulu, aku akan telepon Ibu." Ucapnya sedikit ragu.

"Mas... Tapi, kamu harus jadi saksi kalau aku mengambil koleksi perhiasan Ibu dan barang Ambar karena tuntutan dari si tuli. Jangan sampai keluargaku sendiri mencurigaiku." Ucap Amira bergegas ke lantai dua untuk mengambil barang yang pernah dia belikan untuk keluarganya. Beruntung, Arimbi menyimpan kunci cadangan. Yang pernah sengaja dia buat.

Bukan karena ada maksud lain, tapi karena dulu beberapa kunci sempat hilang dari rumah Dira. Termasuk kunci kamar dan lemarinya. Makanya mereka semua membuat kunci baru dan menyimpan sebagian cadangannya. Tapi kalau kunci kamar Dira, dia tidak menggunakan kunci biasa. Melainkan dengan metode ibu jari bahkan pada lemari dan brangkasnya.

Setelah mengemas semua dalam satu kardus besar barang-barang branded Ambar, sekarang giliran perhiasan Ibunya. Tapi ternyata hanya sebagian saja, karena mungkin yang lainnya dipakai. Mengingat Ibu Arumi memang suka sekali pamer dengan geng sosialitanya.

Sementara itu, Agung sudah selesai mandi dan tujuannya sekarang adalah bertemu dengan selingkuhannya di Apartemennya.

Ya, tanpa Dira tahu uang Perusahaan yang diambil Agung untuk membelikan satu unit Apartemen Mewah yang ada di Pusat Kota.

Padahal Agung dan Dara baru kenal saat Agung menghadiri rapat di sebuah Restoran tanpa Dira.

Dara hanya seorang pelayan restoran, tapi kecantikan wajahnya, sikap lemah lembutnya mampu mencuri hati Agung.

Pertemuan singkat itu pun berlanjut, yang awalnya hanya saling tukar nomer ponsel lama-kelamaan bertemu diam-diam di belakang Dira.

Dara pandai memainkan peran gadis dengan wajah teduh yang kalem. Berbeda dengan Dira yang tegas, membuat Agung merasa bersama Dara dia seperti pria yang dibutuhkan, dihargai dan dianggap sebagai pelindung.

Sedangkan Dira mempunyai sikap tegas yang dominan berkuasa karena memang semua yang dinikmati Agung dan keluarganya adalah murni milik pribadinya.

Apartemen mewah itu masih sunyi, padahal jam di dinding terus bergerak naik ke angka sebelas. Agung masuk setelah menekan sandi angka kode kunci di pintu.

"Sayang... Kamu ada di mana?"

Agung menelusuri ruangan untuk mencari wanita selingkuhannya yang tidak bersuara.

Cekleekkk

Pintu kamar mandi dibuka, ternyata Dara sedang mandi busa.

"Sayang... Tumben datang jam segini, tidak berangkat ke kantor ya?" Tanya Dara beranjak dari bathup dengan tubuh polos penuh busa.

"Ayo kita mandi bareng, anak kamu rindu dielus." Ucap Dara.

Dan aksi saling memuaskan terjadi, Agung dan Dara meliuk-liuk di bawah shower tanpa peduli dengan status mereka yang hanya pasangan selingkuh tanpa ikatan SAH.

"Setelah ini, ayo antar aku ke Rumah Sakit untuk memeriksa kandunganku." Pinta Dara dengan manja.

"Tapi, sebelum itu kita berkemas dulu. Karena mulai hari ini, kamu akan aku bawa pulang..."

"Benarkah? Mas kamu sudah jujur dengan Istrimu yang tuli itu tentang hubungan kita?" Cerocos Dara.

"Tidak, kamu akan aku perkenalkan sebagai keponakan Ibu dari Desa. Hubungan kita jangan sampai ketahuan, sampai aku mendapatkan seluruh aset milik Dira. Kamu sabar dulu ya, setidaknya kita bisa sering..."

"Ah... Kamu benar Mas Agung. Kita jadi punya banyak waktu. Dan kamu gak harus datang jauh-jauh untuk bercinta denganku." Ucap Dara tersenyum sangat bahagia.

Impiannya menjadi Nyonya Besar sebentar lagi akan tercapai berkat anaknya.

Perut Dara sudah mulai membuncit, 3 bulan usia kandungannya sekarang. Tapi statusnya hanya wanita simpanan.

"Aku bahagia, akhirnya sebentar lagi ada yang memanggilku seorang Ayah. Selain masih muda dan cantik, kamu perempuan yang sangat sempurna. Tidak butuh waktu lama, kamu langsung bisa hamil." Ucap Agung sambil menciumi perut bulat Dara. Agung memang sangat menginginkan anak, tapi Dira tak kunjung hamil padahal mereka sudah lama menikah.

Dira pernah mengajak Agung konsultasi ke Dokter, bahkan berencana bayi tabung. Tapi, Agung selalu merasa subur makanya menolak ajakan Istrinya. Dan terbukti, hanya melakukan dengan Dara Agung menjadi pria sempurna.

Dara tersenyum lembut sambil mengelus kepala Agung dengan penuh cinta.

"Anak ini memang anakmu Mas, dan sampai kapanmu statusnya sama."

Ucapan Dara terdengar tulus, tapi andai Agung punya otak cerdas. Ada bahasa ambigu yang selalu terselip dari setiap kalimat Dara.

Setelah berkemas Agung langsung membawa Dara pulang ke rumah Dira. Bahkan perlakuan Agung kepada Dara jauh lebih manis dan romantis. Menuntun gundiknya hati-hati bagaikan Dara adalah porselin yang rapuh.

Dara diberikan kamar di belakang, karena hanya dengan begitu hubungan perselingkuhan mereka akan tetap aman.

"Untuk sementara tidur di sini, supaya Dira tidak berfikir mencurigaimu. Kita harus bisa mengelabui Dira, sampai apa yang aku impikan tercapai dan semua itu demi kamu dan anak kita. Percayalah!" Ucap Agung terdengar sangat meyakinkan.

Dengan wajah yang menunduk kesal, Dara masuk ke kamar... PEMBANTU. Pikirnya, dia akan langsung menjadi ratu menyingkirkan pemilik asli istana.

Mereka semua tidak tahu, jika saat ini Istana mewah itu akan disulap menjadi penjara transparan. Yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang dengan pemikiran dan jiwa yang bersih dari racun.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!