Indonesia
NovelToon NovelToon

WARISAN GALAXY: Pangeran Bintang

CHAPTER 1

Kekaisaran Langit – Puncak Menara Bintang.

Angin astral menderu liar, membawa serpihan debu bintang yang tajamnya melebihi pedang pusaka tingkat Bumi. Di ketinggian ini, udara begitu tipis dan dipenuhi radiasi kosmik sehingga seorang kultivator tingkat Nascent Soul (Jiwa Baru Lahir) biasa akan hancur menjadi kabut darah hanya dalam hitungan detik jika nekat melangkah keluar tanpa pelindung.

Namun, di tengah kondisi mematikan itu, seorang remaja berusia tiga belas tahun duduk santai di tepi jurang ketiadaan, kaki-kakinya berayun-ayun di atas kehampaan yang tak berujung.

Dia mengenakan jubah sutra putih bersih dengan sulaman naga perak yang hampir tak terlihat. Wajahnya tampan, perpaduan sempurna antara ketegasan Ye Chen dan kelembutan Long Yin. Namun, yang paling mencolok adalah matanya.

Mata kirinya berwarna Biru Safir yang berkedip dengan percikan petir. Mata kanannya berwarna Emas Bertabur Bintang yang berputar pelan seperti galaksi mini.

Ye Xing. Putra Kaisar Naga Iblis, dan Cucu dari Dewa Bintang Tian Feng.

Di tangan kanannya, dia memutar-mutar sebuah meteorit hitam seukuran kepalan tangan. Meteorit itu bergetar hebat, mencoba meledak karena ketidakstabilan intinya, namun tertahan oleh lapisan tipis Hukum Gravitasi yang menyelimuti jari-jari lentik Ye Xing.

"Membosankan," gumam Ye Xing pelan.

Dia menjentikkan jarinya.

BOOM!

Meteorit itu melesat jutaan kilometer dalam sekejap mata, menembus lapisan atmosfer tipis dan menabrak sebuah asteroid mati di kejauhan. Ledakan sunyi terjadi, menghancurkan asteroid itu menjadi debu kosmik yang berkilauan.

Ye Xing menghela napas panjang. Dia adalah jenius yang mencapai ranah Soul Formation (Pembentukan Roh) di usia tiga belas tahun sebuah prestasi yang akan membuat para jenius di Alam Bawah muntah darah karena iri. Tapi di sini? Di Istana Langit ini? Dia hanyalah anak kecil yang dijaga ketat.

"Tuan Muda," sebuah suara serak muncul dari bayang-bayang di belakangnya.

Seorang pria berbaju zirah hitam muncul dari ketiadaan. Auranya ditekan seminimal mungkin, tetapi tekanan Ascendant (Kenaikan) tetap terasa. Itu adalah Jenderal Bayangan, pengawal pribadi Ye Xing.

"Kaisar Naga meminta Anda kembali ke Aula Utama," lapor Jenderal Bayangan sambil menunduk hormat. "Utusan dari Sekte Matahari Suci di Alam Dewa Sejati telah tiba. Mereka membawa hadiah Buah Bodhi Sembilan Warna dan ingin memberikan penghormatan kepada Anda."

Ye Xing mendengus sinis. Dia bahkan tidak menoleh.

"Penghormatan? Jangan bercanda, Bayangan," kata Ye Xing tajam. "Mereka tidak menghormatiku. Mereka menghormati Kakek ku. Mereka takut pada Ayahku. Bagi mereka, aku hanyalah pajangan emas yang beruntung lahir di keluarga ini."

"Tuan Muda adalah pewaris tunggal. Bakat Anda melampaui surga..."

"Bakat yang dikurung!" potong Ye Xing.

Tiba-tiba, Ye Xing berdiri. Matanya yang berbeda warna bersinar terang.

ZING!

Aura Soul Formation meledak dari tubuh remaja itu. Namun, itu bukan aura biasa. Itu adalah campuran liar antara Petir Qilin, Api Phoenix, dan Gravitasi Bintang.

Seluruh Puncak Menara bergetar. Tekanan gravitasi di sekitar mereka mendadak meningkat seratus kali lipat. Lantai giok surgawi retak. Jenderal Bayangan, seorang ahli ranah Ascendant, terpaksa menekuk lututnya, menahan beban yang seolah-olah sebuah planet baru saja diletakkan di pundaknya.

"Lihat?" desis Ye Xing, matanya menyala dengan arogansi remaja yang terkekang. "Aku bisa meratakan utusan-utusan itu dengan satu jari. Tapi Ayah bahkan tidak mengizinkanku mengikuti Ujian Alam Rahasia Musiman. Katanya terlalu berbahaya. Bahaya apanya?!"

"Xing'er, kendalikan emosimu."

Suara itu tidak keras. Tidak ada ledakan aura. Tidak ada tekanan yang menghancurkan. Suara itu terdengar tenang, setenang permukaan danau di pagi hari.

Namun, begitu suara itu terdengar, badai energi Ye Xing lenyap seketika. Gravitasi kembali normal. Petir di tubuhnya padam.

Dari celah dimensi yang terbuka perlahan seperti tirai air, sosok Tian Feng melangkah keluar. Dia mengenakan jubah putih sederhana tanpa hiasan, rambut hitam panjangnya terurai bebas. Dia tampak seperti pemuda berusia dua puluhan, namun matanya menyimpan kedalaman usia alam semesta.

Jenderal Bayangan segera bersujud, keringat dingin membasahi punggungnya. "Hamba memberi hormat pada Leluhur Dewa Bintang!"

Tian Feng mengibaskan tangannya pelan, memberi isyarat agar Jenderal Bayangan pergi. Pengawal itu menghilang dalam sekejap, tahu bahwa ini adalah urusan keluarga yang tidak boleh ia dengar.

Ye Xing menundukkan kepalanya, menggigit bibir bawahnya. Arogansinya menguap tak berbekas di hadapan sosok ini. "Kakek."

Tian Feng berjalan pelan ke tepi menara, berdiri di samping cucunya, menatap hamparan bintang di bawah kaki mereka.

"Kau merasa seperti elang yang dipaksa hidup di sangkar kenari, bukan?" tanya Tian Feng lembut.

Ye Xing mengangguk kaku. "Semua orang memujiku jenius. Tapi aku tidak pernah merasakan pertarungan hidup dan mati. Aku tidak pernah merasakan lapar. Aku tidak pernah merasakan keputusasaan. Bagaimana aku bisa melampaui Kakek jika aku bahkan tidak tahu rasanya berdarah?"

Tian Feng tersenyum tipis. "Pemikiran yang bagus. Ayahmu terlalu protektif karena dia kehilangan banyak hal di masa mudanya. Dia tidak ingin kau merasakan sakit yang sama. Tapi..."

Tian Feng menoleh, menatap Ye Xing lurus-lurus.

"...pedang yang tidak ditempa api dan dipukul palu hanyalah sepotong besi rongsokan."

Tian Feng mengangkat tangan kanannya. Cahaya redup berkumpul di telapak tangannya, membentuk sebuah benda kecil yang kusam.

Itu adalah sebuah token kayu hitam yang sudah retak dan berjamur. Tidak ada aura dewa, tidak ada energi spiritual tingkat tinggi. Hanya hawa kuno yang menyedihkan. Di atasnya terukir samar tulisan: Awan Rusak.

"Ini adalah Token Murid Luar dari Sekte Awan Rusak," kata Tian Feng. "Lokasinya ada di Benua Azure, salah satu dunia fana yang paling terpencil di Alam Bawah. Sekte ini sekarat. Wilayahnya direbut, tekniknya hilang, dan murid-muridnya sering dirundung."

Mata Ye Xing membelalak. Dia menatap token butut itu seolah itu adalah harta karun tertinggi. "Alam Bawah? Sekte lemah?"

"Sangat lemah," tegas Tian Feng. "Dan jika kau mengambil token ini, ada harganya."

Tian Feng meletakkan jari telunjuknya di dahi Ye Xing.

"Aku akan menyegel kultivasi Soul Formation mu. Aku akan menidurkan Fisik Phoenix Emas mu. Aku akan menyamarkan warna matamu menjadi hitam biasa. Kau akan turun ke sana dengan kekuatan Qi Condensation (Pemadatan Qi) tingkat 3."

Mata Ye Xing berbinar liar. Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena takut kehilangan kekuatan, tapi karena kegembiraan akan tantangan.

"Tanpa bantuan Jenderal Bayangan?" tanya Ye Xing.

"Tanpa pengawal. Tanpa uang istana. Tanpa nama 'Ye'. Hanya kau, token butut ini, dan takdirmu," jawab Tian Feng dingin. "Di sana, kau bisa mati. Kau bisa dihina. Kau bisa kelaparan. Jika kau mati di sana... yah, berarti bakatmu hanyalah omong kosong belaka."

Ye Xing menyeringai lebar, menyambar token itu dari tangan Tian Feng.

"Siapa takut? Aku akan mengubah sekte butut itu menjadi legenda!" seru Ye Xing. "Terima kasih, Kakek!"

Tanpa menunggu sedetik pun, Ye Xing melompat dari Puncak Menara Bintang.

Tubuhnya menembus lapisan awan dimensi, jatuh bebas menuju Alam Bawah yang jauh di bawah sana, meninggalkan kenyamanan Istana Langit menuju dunia yang keras dan kejam.

Tian Feng berdiri diam, mengamati cucunya berubah menjadi titik cahaya yang semakin mengecil. Senyum di wajah sang Dewa Bintang perlahan menghilang, digantikan oleh tatapan tajam dan serius yang mengarah ke kegelapan terjauh di ujung alam semesta.

Angin berhembus, membawa bisikan Tian Feng yang tak terdengar oleh siapapun.

"Tumbuhlah dengan cepat, Bintang Kecil. Hukum Langit mulai berubah... dan musuh yang bersembunyi di dalam Kehampaan (Void) sudah mulai lepas."

...TINGKATAN KULTIVASI (SEASON 4)...

...1.Qi Condensation (Pemadatan Qi)...

...2.Foundation Establishment (Pembangun Pondasi)...

...3.Core Formation (Pembentukan Inti)...

...4.Nascent Soul (Jiwa Baru Lahir)...

...5.Soul Formation (Pembentukan Roh)...

...6.Soul Transformation (Transformasi Roh)...

...7.Ascendant (Kenaikan)...

...8.Kaisar Surgawi (Heavenly Emperor)...

...9.Dewa Sejati (True God)...

...10.Kaisar Dewa (God Emperor)...

CHAPTER 2

Alam Bawah, Benua Azure – Gerbang Depan Sekte Awan Rusak.

Ye Xing menepuk-nepuk jubah sutra putihnya yang kini kotor oleh debu tanah kuning. Dia menatap gerbang batu di depannya. Gerbang itu besar, namun penuh lumut dan retakan yang tidak terawat. Papan nama "Sekte Awan Rusak" tergantung miring, seolah akan jatuh kapan saja jika ditiup angin kencang.

"Sekte macam apa ini?" gumam Ye Xing, menahan rasa jijik. "Kandang kuda Istana Langit lebih mewah dari gerbang utamanya."

Dengan langkah percaya diri sisa dari kebiasaannya sebagai Tuan Muda Ye Xing berjalan menuju dua penjaga gerbang yang sedang terkantuk-kantuk.

"Minggir," kata Ye Xing angkuh. "Aku datang untuk melapor."

Salah satu penjaga, seorang pria kurus dengan mata licik yang berada di tingkat Qi Condensation tingkat 5, membuka matanya malas. Dia memindai Ye Xing dari atas ke bawah. Jubah sutra Ye Xing memang bagus, tapi sudah kusam karena perjalanan dimensi. Dan yang terpenting, Ye Xing tidak memancarkan aura kultivasi yang kuat.

"Bocah dari mana kau? Tersesat?" ejek penjaga itu.

Ye Xing mendengus, lalu melempar token kayu hitam pemberian Tian Feng ke arah penjaga itu.

"Buka matamu. Itu token dari leluhurmu. Panggil Ketua Sekte kalian untuk menyambutku."

Penjaga itu menangkap token tersebut. Dia membolak-baliknya, melihat kayu yang sudah lapuk, berjamur, dan retak. Tidak ada cahaya spiritual. Tidak ada ukiran emas. Hanya kayu busuk.

"Leluhur?" Penjaga itu tertawa terbahak-bahak. "Hei, Li! Bocah gila ini memberikan kayu bakar dan minta bertemu Ketua Sekte!"

Penjaga kedua ikut tertawa. "Mungkin dia pengemis yang mencuri baju orang kaya."

Plak!

Penjaga itu melempar token itu ke tanah, lalu menginjaknya dengan sepatu berlumpur. Dia meludah tepat di atas token pemberian Dewa Bintang itu.

"Enyahlah, Sampah. Kami tidak menerima rongsokan. Kalau kau mau mengemis, pergi ke desa di kaki gunung."

Darah Ye Xing mendidih. Wajahnya memerah padam. Seumur hidupnya, tidak ada yang berani menatap matanya, apalagi meludahi barang miliknya.

"Kau... berani menghina pemberian Kakekku?" Ye Xing mengangkat tangannya. Kebiasaan lamanya muncul. Dia berniat memanggil petir untuk menghanguskan penjaga kurang ajar ini menjadi abu.

Mati kau! batin Ye Xing.

Hening.

Tidak ada awan hitam yang berkumpul. Tidak ada petir yang menyambar. Langit tetap cerah dan menyedihkan.

Ye Xing tertegun. Dia melihat tangannya. Segel itu... Dia lupa bahwa Tian Feng telah menyegel 99% kekuatannya. Saat ini, dia hanyalah kultivator Qi Condensation tingkat 3 dengan fisik manusia biasa.

"Mau apa kau mengangkat tangan? Mau menari?" Penjaga itu mendorong dada Ye Xing dengan gagang tombaknya.

Ye Xing terhuyung mundur, jatuh terduduk di tanah berlumpur. Rasa sakit yang tajam menjalar di dadanya. Sakit? Pikirnya bingung. Seorang semut baru saja menyakitiku?

"Dengar, Bocah," kata penjaga itu dingin. "Pendaftaran murid luar sudah tutup bulan lalu. Kalau kau tetap ingin masuk demi sesuap nasi, satu-satunya jalan adalah lewat pintu samping. Jalur Ujian Budak. Sekarang pergi dari hadapanku sebelum kupatahkan kakimu!"

Ye Xing mengepalkan tangannya erat-erat hingga kukunya menancap ke daging. Dia menatap token yang terinjak di lumpur itu. Dia ingin berteriak, ingin memanggil Jenderal Bayangan. Tapi dia ingat kata-kata Tian Feng: Tanpa nama Ye. Tanpa bantuan. Hanya kau dan takdirmu.

Dengan gigi gemeretak, Ye Xing memungut token kotor itu, membersihkannya dengan lengan bajunya, lalu berdiri.

"Ujian Budak..." desis Ye Xing, matanya yang kini berwarna hitam (disamarkan) menatap tajam penjaga itu. "Baiklah. Ingat wajahku. Suatu hari nanti, kau akan berlutut meminta ampun karena kejadian hari ini."

Penjaga itu hanya meludah lagi. "Banyak omong."

Halaman Belakang Sekte – Area Budak.

Bau keringat, kotoran, dan keputusasaan menyengat hidung Ye Xing begitu dia melangkah masuk lewat pintu samping. Ratusan anak muda berpakaian compang-camping sedang mengantri. Mereka kurus, kotor, dan matanya kosong.

Ye Xing, yang terbiasa dengan wangi dupa cendana surgawi, harus menahan napas agar tidak muntah.

"Barisan apa ini?" gumam Ye Xing.

"Barisan untuk makan siang... kalau kau bisa menyebutnya makan," jawab seorang anak di depannya tanpa menoleh.

Tiba-tiba, keributan terjadi di sudut halaman.

"Lepaskan! Itu punyaku!" suara teriakan anak laki-laki terdengar.

Ye Xing menoleh. Di dekat tumpukan kayu bakar, tiga anak berbadan besar sedang mengelilingi seorang bocah kurus kering. Bocah itu meringkuk di tanah, memeluk erat sesuatu di dadanya, menerima tendangan bertubi-tubi dari ketiga pengeroyoknya.

"Dasar tikus got! Serahkan rotinya!"

"Tidak! Ini jatahku untuk dua hari!" teriak bocah kurus itu.

Ye Xing mengerutkan kening. Mereka berkelahi... demi roti?

Di Istana Langit, Ye Xing sering membuang buah persik surgawi hanya karena ada sedikit goresan di kulitnya. Dia tidak pernah mengerti konsep "kekurangan".

"Hei!"

Tanpa sadar, Ye Xing melangkah maju. "Tiga lawan satu? Menyedihkan."

Ketiga pengeroyok itu berhenti dan menoleh. Pemimpin mereka, seorang anak gempal dengan gigi ompong, menyeringai. "Anak baru? Kau mau jadi pahlawan? Kami akan menghajarmu juga!"

Mereka menerjang ke arah Ye Xing.

Ye Xing tidak panik. Meskipun kekuatannya disegel, wawasan tempurnya tetaplah setingkat Soul Formation. Di matanya, gerakan anak-anak ini selambat siput.

Dia menyerang bahu kiri. Berat badannya condong ke depan. Keseimbangannya nol.

Ye Xing tidak menggunakan tenaga. Dia hanya menggeser kaki kirinya sedikit ke samping, lalu mengaitkan kaki kanannya ke pergelangan kaki si penyerang saat dia lewat.

Teknik Dasar: Pengalihan Arus.

Brak!

Anak gempal itu tersandung kakinya sendiri dan jatuh tersungkur mencium tanah dengan keras. Dua temannya terkejut dan berhenti.

"Enyah," kata Ye Xing dingin. Aura bangsawannya, meski tanpa energi, membuat nyali anak-anak kampung itu ciut.

Mereka memapah pemimpinnya dan lari sambil mengumpat.

Ye Xing menghela napas, membersihkan debu di bahunya, lalu melihat ke arah bocah kurus yang masih meringkuk di tanah.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Ye Xing kaku. Dia tidak terbiasa menolong orang lemah.

Bocah itu perlahan membuka matanya. Wajahnya lebam, bibirnya pecah. Tapi matanya... mata itu jernih dan keras kepala, seperti serigala yang terpojok.

"Terima kasih..." bisik bocah itu. Dia duduk, lalu membuka tangannya.

Di sana, remuk dan kotor terkena tanah, ada sepotong roti keras yang sudah berjamur hijau di beberapa bagian.

Ye Xing menatap benda itu dengan jijik. "Kau bertaruh nyawa demi... sampah itu? Buang saja. Itu racun."

Bocah itu menggeleng kuat. Dia mematahkan roti itu menjadi dua. Dia membersihkan bagian yang paling kotor dari salah satu potongan, lalu menyodorkannya pada Ye Xing dengan tangan gemetar.

"Kau menyelamatkanku. Ini... bayarannya," kata bocah itu polos. "Namaku Lin Xiao."

Ye Xing terdiam. Dia menatap potongan roti berjamur di tangan kotor Lin Xiao.

Di Istana Langit, "bayaran" untuk jasanya biasanya adalah artefak tingkat dewa atau pil keabadian. Sekarang? Bayarannya adalah setengah potong roti busuk.

Tapi saat melihat mata Lin Xiao, Ye Xing menyadari sesuatu. Bagi Lin Xiao, setengah roti ini lebih berharga daripada artefak dewa manapun. Ini adalah hidupnya.

Perut Ye Xing berbunyi keras. Tubuh manusianya yang tersegel menuntut energi. Dia lapar. Rasa lapar yang belum pernah dia rasakan seumur hidup.

Dengan ragu, Ye Xing mengambil roti itu. Dia melihat jamur hijau di pinggirannya. Dia menutup mata, membayangkan itu adalah kue bulan buatan ibunya, lalu menggigitnya.

Keras. Pahit. Apek.

Rasanya mengerikan. Ye Xing hampir memuntahkannya. Tapi saat dia menelannya, rasa hangat menjalar di perutnya yang kosong.

Ye Xing membuka matanya. Dia menatap Lin Xiao yang sedang melahap bagiannya dengan lahap.

"Namaku Xing," kata Ye Xing pelan, membuang nama marga agungnya. "Dan ini adalah makanan terburuk yang pernah kumakan."

Lin Xiao tertawa, memperlihatkan giginya yang berdarah. "Selamat datang di Sekte Awan Rusak, Xing. Di sini, rasa enak adalah mimpi. Rasa kenyang adalah kemewahan."

Ye Xing mengunyah sisa roti di mulutnya. Rasa pahit itu tertanam di lidahnya, menjadi pelajaran pertama yang jauh lebih berharga daripada ribuan gulungan kitab suci di menara gading kakeknya.

Jadi ini rasanya menjadi manusia, batin Ye Xing. Kakek... kau benar. Aku tidak tahu apa-apa.

Di bawah langit sore yang muram, Pangeran Bintang dan Pengemis Kurus itu duduk bersandar di tumpukan kayu, membagi sepotong roti berjamur, memulai persahabatan yang kelak akan mengguncang semesta.

CHAPTER 3

Kekaisaran Langit – Taman Teratai Es.

Suasana di taman pribadi Permaisuri Xue Ling biasanya tenang dan damai, namun hari ini udara terasa berat oleh kecemasan.

Di tengah kolam teratai, sebuah layar proyeksi raksasa yang terbuat dari uap air (Cermin Samsara) melayang di udara. Cermin itu menampilkan pemandangan dari Alam Bawah seorang remaja kurus dengan pakaian kotor sedang terseok-seok menaiki tangga batu terjal di bawah terik matahari.

Long Yin, sang Ibu dan Putri Naga, duduk di tepi kolam. Tangannya meremas sapu tangan sutra hingga hampir robek. Matanya yang indah sembab.

"Kakinya berdarah, Kakak Chen..." isak Long Yin pelan. "Dia tidak pernah berjalan lebih dari seratus langkah tanpa digendong awan. Sekarang dia harus memanggul air seberat itu? Ayah terlalu kejam."

Ye Chen, Kaisar Naga Iblis yang ditakuti ribuan dunia, berdiri di belakang istrinya. Wajahnya keras dan tegang. Dia mondar-mandir seperti harimau yang dikurung.

"Aku akan turun," geram Ye Chen tiba-tiba. "Aku akan menyamar jadi pedagang lewat dan memberinya Pil Pemulih Otot. Hanya satu pil. Ayah tidak akan tahu."

"Duduk, Ye Chen."

Suara dingin namun anggun menghentikan langkah Ye Chen.

Xue Ling, nenek dari Ye Xing (dan istri Tian Feng), sedang menuangkan teh dengan gerakan santai. Di seberangnya, Tian Feng duduk sambil memegang bidak catur, matanya juga menatap layar air itu.

"Tapi, Ibu..." protes Ye Chen.

"Lihat matanya," kata Tian Feng tanpa menoleh. Dia menunjuk ke wajah Ye Xing di dalam cermin. "Apa kau melihat ketakutan di sana? Apa kau melihat dia menyerah?"

Ye Chen dan Long Yin menatap layar lebih dekat.

Di dalam cermin, Ye Xing memang bermandikan keringat. Wajahnya pucat, kakinya gemetar hebat. Tapi matanya... mata itu membara dengan api tekad yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"Dia tidak sedang menderita," kata Tian Feng pelan. "Dia sedang bangun."

Alam Bawah – Jalur Pendakian Sekte Awan Rusak.

"Sembilan ratus... sepuluh..."

Napas Ye Xing terdengar seperti parutan besi. Paru-parunya terasa terbakar.

Tugas ujian ini sederhana namun brutal: Bawa dua ember air dari Sungai Hitam di kaki gunung menuju Area Budak di puncak. Masalahnya, air ini mengandung pasir besi. Berat totalnya hampir 50 kilogram.

Bagi Ye Xing yang asli (Soul Formation), beban ini seringan kapas. Tapi bagi tubuh Qi Condensation tingkat 3 yang tersegel dan tidak terlatih fisik? Ini siksaan neraka.

Di sebelahnya, Lin Xiao sudah jatuh berlutut di anak tangga ke-900. Embernya tumpah sedikit. Bocah itu menangis tanpa suara, tubuhnya yang kurang gizi sudah mencapai batasnya.

"Aku... tidak kuat lagi, Xing..." bisik Lin Xiao. "Kau jalan saja... tinggalkan aku. Kalau kau berhenti, kau akan gagal juga."

Pengawas ujian, seorang pria gemuk dengan cambuk, berdiri di puncak tangga sambil berteriak. "Waktu tinggal setengah dupa! Yang belum sampai, silakan pulang dan jadi petani!"

Ye Xing berhenti. Kakinya terasa seperti timah. Dia menatap puncak, lalu menatap Lin Xiao.

Logika Ye Xing berkata Tinggalkan dia. Dia beban. Aku harus lulus.

Tapi kemudian dia teringat rasa roti berjamur itu. Rasa persahabatan pertama yang tulus.

"Jangan bodoh," desis Ye Xing.

Ye Xing meletakkan embernya sebentar. Dia mengatur napasnya. Bukan napas biasa, tapi Pernapasan Naga Tidur teknik tingkat tinggi yang dia sederhanakan secara instan agar cocok untuk tubuh lemah.

Tarik... Tahan... Salurkan ke Kaki... Hembuskan.

Rasa sakit di ototnya sedikit berkurang. Oksigen mengalir lebih efisien.

Ye Xing tidak mengambil embernya sendiri. Dia malah membungkuk, menyambar kerah baju Lin Xiao dengan satu tangan, dan menarik bocah itu berdiri.

"Dengar irama napasku," perintah Ye Xing tegas. "Ikuti aku. Satu... Dua... Satu... Dua..."

"Tapi embermu..."

"Diam dan jalan!"

Ye Xing mengangkat kembali dua embernya. Beban bertambah, tapi pikirannya jernih. Dia memimpin langkah.

Tap. Tap. Tap.

Langkah mereka menjadi teratur. Ye Xing membagi sedikit aura ritmenya kepada Lin Xiao, menciptakan resonansi aneh yang membuat beban terasa sedikit lebih ringan.

Para peserta lain menatap mereka dengan heran. Dua bocah paling kurus dan lemah itu berjalan beriringan, melewati anak-anak berbadan besar yang sudah pingsan karena kelelahan.

Langkah 950. Langkah 980. Langkah 999.

Brak!

Ye Xing dan Lin Xiao ambruk bersamaan tepat di garis finis di Area Budak. Air di ember mereka masih tersisa setengah—batas minimum untuk lulus.

"LULUS!" teriak pengawas.

Ye Xing terbaring terlentang menatap langit biru. Dia tidak pernah merasa selelah ini seumur hidupnya. Tapi saat dia menoleh dan melihat Lin Xiao tertawa sambil menangis bahagia, sudut bibir Ye Xing terangkat.

Ada rasa hangat di dadanya. Bukan karena kekuatan, tapi karena pencapaian.

Kekaisaran Langit.

Long Yin menghapus air matanya, kali ini sambil tersenyum bangga. "Dia... dia menolong temannya."

"Dia menggunakan Teknik Pernapasan Resonansi," komentar Ye Chen, matanya berbinar. "Dia merubah teknik Kekaisaran agar bisa dipakai oleh orang biasa dalam hitungan detik. Jenius! Itu baru anakku!"

Tian Feng meletakkan bidak caturnya. Skakmat.

"Kalian lihat?" kata Tian Feng sambil berdiri, jubah putihnya berkibar. "Emas akan tetap bersinar meski kau melemparnya ke dalam lumpur. Biarkan dia tumbuh. Jangan ada yang ikut campur."

Tian Feng berjalan menuju balkon, menatap ke arah bintang yang jauh.

Namun, di dalam hatinya, Dewa Bintang itu menyimpan kekhawatiran yang tidak ia tunjukkan pada anak cucunya.

Bakatnya terlalu mencolok, batin Tian Feng. Bahkan di Alam Bawah, cahaya seperti itu akan menarik perhatian pemangsa. Aku harus mengawasi 'bayangan' di sekte itu.

Di layar cermin, Ye Xing yang kelelahan tiba-tiba menatap langit, tepat ke arah di mana "mata" cermin itu berada, seolah-olah dia tahu sedang ditonton.

Bocah itu mengacungkan jempolnya ke langit, lalu menyeringai nakal.

Ye Fan (Paman Ye Xing) yang baru datang membawa camilan tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Lihat bocah tengik itu! Dia menantang kita!"

Keluarga Ye tertawa. Untuk saat ini, rasa khawatir itu mereda.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!