Indonesia
NovelToon NovelToon

Chef Do

Ep 1 : Penghancur Nama Baik

(*Fiksi, karya author Chani*)

Akhir September tahun 2025, di kota Seoul, Korea Selatan.

Waktu terus berlangsung tanpa henti, begitu pula kesibukan orang banyak yang berlalu-lalang di pusat kota.

Namun, bagi seorang wanita bernama Kim Eun Chae, waktu serasa berhenti dan terus membuatnya kecewa.

"Hwanja-bun, silahkan membuka mata. Pemeriksaan untuk hari ini sudah selesai."

Kalimat seorang perawat rumah sakit berhasil menyadarkan Eun Chae bahwa dirinya masih hidup. Walau menyebalkan, kepalanya harus diperiksa dengan peralatan canggih berulang kali sebelum mendapatkan pernyataan resmi dokter.

"Terima kasih," desahnya, lalu bangkit berdiri dan melangkah pergi.

Hari ini pun Eun Chae berjalan-jalan melewati koridor rumah sakit. Di sana-sini nampak pasien dengan keluhan masing-masing. Namun, masih ada pasien yang tertawa bersama kerabat mereka. Sayangnya, pemandangan itulah yang paling menyulitkan hati Eun Chae.

Suara wanita itu tidak terdengar walau ingin berbicara. Rasanya, beban seluruh dunia hanya tertumpuk dalam benaknya.

"Ah, mau gila rasanya!" sentaknya tiba-tiba, hingga mengagetkan yang lain.

Saat Eun Chae tiba di depan pintu kamar inap, suara pesan masuk HP dalam saku celana seragam rumah sakit yang dikenakannya menghentikan langkahnya.

Ternyata, itu adalah pesan jawaban dari lamaran pekerjaan Eun Chae yang terkini.

Pengirim : Manager Umum SS Corp. Kwak Tae Hee.

Dengan penuh penyesalan, kami nyatakan bahwa kandidat Kim Eun Chae, usia 30 tahun, yang melamar pada tanggal... tidak lulus wawancara tahap pertama.

Sekali lagi, sengatan mental itu dirasakan oleh Eun Chae. Wajahnya yang putih mulus mulai memerah dan air matanya menetes singkat, lalu wanita itu berusaha menguatkan dirinya untuk tidak menangis.

"Tidak apa.. Pasti ada jalan lain. Tidak perlu menangisi hal sepele seperti ini," gumamnya seorang diri.

Keesokan harinya, Eun Chae mendapatkan persetujuan dokter untuk pulang ke rumah. Seperti rutinitas, Eun Chae berkemas dengan cekatan sebelum mampir ke sebuah kedai makanan.

"Laparnya.. Hari ini aku akan sedikit memanjakan diriku," ucapnya.

Tanpa berpikir panjang, Eun Chae duduk seorang diri dan memesan menu favoritnya.

"Satu Bulgogi Bibimbap, satu Tteokbokki, dan satu botol soju."

"Baik, mohon ditunggu sebentar," jawab ibu pemilik kedai yang bekerja seorang diri.

Dalam jarak waktu singkat, seorang pria bertubuh tinggi yang baru saja duduk di meja sebelah Eun Chae mengangkat tangan kanannya.

"Halo. Saya juga ingin memesan makanan," kata pria itu.

"Baik, apa pesanan Anda?" tanya ibu kedai.

"Apa saja, yang penting enak. Satu porsi menu andalan kedai ini dan sebotol soju, ajumeonim."

Bagi Eun Chae yang jarang memperhatikan orang lain, ucapan pria asing itu sedikit aneh.

Menu andalan apaan? Bukannya semua orang di sini hanya memesan bibimbap? benak Eun Chae.

Nama kedai itu saja berisi kata Bibimbap. Namun, Eun Chae terlalu lelah untuk berpikir.

Pria itu duduk senyaman mungkin di mejanya, sedangkan Eun Chae menunggu pesanan dengan antusias.

Tak lama kemudian, makanan dan minuman Eun Chae disajikan terlebih dahulu. Lalu, ibu kedai menyajikan pesanan sang pria asing.

Keduanya menyantap hidangan masing-masing. Yang satu bibimbap dengan irisan daging sapi, dan yang satunya bibim-guksu spesial berisikan lebih banyak bahan segar sejenis sayuran dan abalone.

Eun Chae sempat melirik seketika mencium aroma masakan yang dinikmati oleh pria tersebut.

Kelihatannya enak. Aku belum pernah mencoba menu spesial. Aroma saus ini sedikit berbeda dari yang biasa kumakan; benak Eun Chae.

Ibu kedai nampak puas melihat para pelanggannya yang makan dengan lahap, termasuk Eun Chae yang tidak sadar diperhatikan olehnya.

"Terlalu asin. Ini tidak enak."

Kalimat singkat yang diucapkan dengan suara tegas oleh pria tadi langsung mengubah suasana menjadi tegang. Beberapa orang mulai berbisik, sementara ibu kedai nampak terkejut.

"Apa maksud Anda?" tanya ibu kedai, masih kebingungan.

"Seperti yang saya katakan, mi ini tidak enak. Tingkat kematangannya salah, teksturnya sungguh mengecewakan. Sausnya juga asin. Tidak bisa saya habiskan," tambah pria itu, ucapannya selancar air.

Wajah ibu kedai memanas dengan amarah. Namun, sebelum wanita paruh baya itu berkata-kata, sang pria muda beranjak dan meletakkan sejumlah uang di meja kasir.

"Aigoo...," desah Eun Chae tercengang.

Saking kesalnya, ibu kedai membuka pintu dan berteriak ke arah pemuda yang telah berjalan sejauh beberapa meter menuju tempat parkir mobilnya.

"Terserah kau saja, pemuda kurang ajar! Jangan pernah kembali lagi ke kedai ini!"

Dikatai sedemikian, pemuda itu santai saja dan hanya merespon dengan isyarat jari tangan 'OK.'

Pemuda itu melajukan mobilnya diikuti umpatan ibu kedai yang hampir melemparkan sesuatu, jika tidak dicegat oleh beberapa pelanggan setianya.

Beberapa saat setelah suasana kembali tenang, Eun Chae beranjak ke meja kasir.

"Ajumeoni. Abaikan saja pria seperti itu, dia tidak tahu bersyukur. Makanan enak adalah berkah," bujuk Eun Chae sambil membayar.

"Aigoo.. Kamu benar, agassi. Aku lega masih ada orang sepertimu," balas ibu kedai senang.

"Pria kaya seperti itu memang bermulut pedas. Sebenarnya, dia tidak tahu apa-apa soal makanan," jelas Eun Chae.

Ibu kedai hanya tertawa kecil dan tidak membesar-besarkan masalah itu lagi. Eun Chae bahkan berjanji sebagai pelanggan setia yang akan datang lagi.

Walau nampaknya masalah itu telah terlupakan, beberapa orang yang berkunjung di kedai ternyata mampu mengenali sosok pria yang bersikap kurang bersahabat itu.

"Bukankah dia Chef Do? Lihat, ini salah satu videonya di youtube," kata seseorang kepada yang lain.

"Wah.. Ini benar-benar gila. Dia memang Chef Do yang terkenal itu! Berarti penilaiannya pasti akurat, bukan?" pekik temannya.

Desas-desus terus beredar, terutama melalui media sosial. Inilah salah satu tren di negara maju seperti Korea Selatan yang dapat menciptakan topik panas, hingga mengubah nasib seseorang secara daring.

Baru sebulan berlalu, kedai itu tutup dengan segel tulisan yang cukup besar untuk dibaca dari jarak satu meter.

"Bagaimana hal ini bisa terjadi? Padahal aku bolak-balik ke sini. Pindah ke pedalaman? Tidak mungkin!" jerit Eun Chae marah, masih mengingat jelas setiap kejadian setelah hari itu.

Ibu kedai telah mengalami kesulitan berbisnis di saat-saat terakhir, karena banyak pelanggan harian dan musiman beralih ke tempat lain.

Kini, perasaan Eun Chae sangat kacau karena baru saja kehilangan kedai langganan lamanya. Dalam hatinya, wanita itu bersumpah untuk menemukan pria sombong yang sebenarnya tampan itu, lalu memarahinya hingga jera.

"Apa gunanya punya wajah tampan dan kaya raya jika etikanya seburuk itu? Aku pasti akan menemukan dan membalas perbuatanmu-- Chef Do!" geram Eun Chae, sementara jemarinya terus mencari informasi akurat mengenai pria yang kini menjadi target pentingnya.

- Bersambung -

Ep 2 : Selebritas Media Sosial

Teknologi di Korea Selatan terus berkembang pesat, seiring dengan menyebarnya tren kpop, budaya yang kental, serta beragam keunikan yang terdapat di setiap penjuru negeri itu.

Hari Selasa, tanggal 18 November 2025.

"Sial! Kenapa aku tidak bisa menemukan sejumput saja informasi pribadi orang ini? Padahal, jumlah penonton videonya sebanyak ini," gerutu Eun Chae.

Tak terasa, 20 hari telah berlalu dan wanita itu masih bertekad untuk membalas dendam.

"Apa sumber keberhasilan pria ini? Benarkah dia ahli memasak? Bisa saja video-video ini direkayasa!"

Apapun alasan tersembunyi pria itu, Eun Chae tidak sudi memakluminya.

Meong.

Tepat saat Eun Chae kelelahan, kucing dengan bulu tiga warna melompat dalam pangkuan wanita itu.

"Ah, kau mengagetkanku, Bam-a!" seru Eun Chae, namun mengelus bulu kucing itu.

Melihat kucing itu bersikap malas dan manja, hati Eun Chae melunak.

"Kau memang lucu. Bam-a, aku sayang padamu!"

Seketika beralih dari kesibukan pribadinya, sebuah ingatan mendadak terbesit dalam benak Eun Chae. Walau berusaha mengabaikan rasa pusing dan kepala berdengung yang terkadang muncul, tubuh Eun Chae terhuyung dan akhirnya pingsan.

Tubuh Eun Chae tergeletak di lantai rumahnya hingga 2 jam berlalu. Di saat seperti itu, Bam terus menemani dengan bersandar di sisinya.

"Uh.. Kepalaku pusing sekali. Apa yang terjadi?" ucapnya, saat terbangun sendiri.

Bam hanya menjawab dengan bahasa kucing, namun disambut dengan senyuman hangat Eun Chae.

"Biarlah. Yang penting, aku masih bisa bangun lagi. Maaf telah membuatmu khawatir, Bam-a."

Lagi-lagi, Bam hanya merespon ala kucing. Ajaibnya, kucing itu paham.

Jika kucing itu dapat menjelma sebagai manusia, mungkin mahkluk itu akan menceramahi Eun Chae yang tinggal seorang diri di rumah besar dengan kondisi pribadi yang memprihatinkan.

Selain tubuhnya yang mungil dan parasnya yang cantik, Eun Chae tidak memiliki keterampilan apapun. Bisa saja, dia hanya tidak ingat. Untungnya, wanita itu masih sanggup menghafalkan nama, alamat rumah, wajah seseorang, serta beberapa hal mendasar lainnya.

Baginya, bisa hidup dalam kelimpahan yang entah berasal dari mana hingga sekarang adalah berkat dari langit. Tentunya, keterbatasan yang dimiliki olehnya hanya menyusahkan. Karena itu, Eun Chae enggan berhubungan secara bebas dengan orang lain. Hidupnya dipenuhi dinding pembatas yang tak terlihat.

Terlebih anehnya, Eun Chae tinggal di rumah yang hanya dipahami olehnya. Sistem keamanan di rumah itu tidak ada duanya, lokasinya juga strategis dan elit.

Andaikan Eun Chae dikaruniai daya ingat super atau bakat yang mengesankan, hidupnya takkan terasa hampa seperti sekarang.

Bagi Eun Chae yang tidak memiliki banyak pilihan untuk masa depannya, hidup santai dan penuh syukur adalah yang terbaik. Walau di kamarnya juga terdapat televisi digital keluaran terbaru, Eun Chae lebih suka menonton berita atau acara di ruang tamu.

Setelah beberapa kali mengganti saluran televisi, perhatian Eun Chae sepenuhnya tertuju pada acara kompetisi memasak nasional.

"Wah, orang-orang ini sangat berbeda denganku."

Eun Chae terus bergumam ceria, karena menonton acara seperti ini adalah hobinya.

Dalam kompetisi itu, para koki terbaik dengan latar belakang yang beragam berkumpul untuk memenangkan hadiah sebesar 300 juta won, beserta julukan bergengsi 'Chef Muda Terbaik.' Pesertanya 30 orang, yang berusia sekitar 20 hingga 30 tahun ke atas.

Televisi memaparkan para kandidat, hingga Eun Chae menemukan sosok yang selama ini dicarinya.

"Orang ini-- Chef Do! Benar, dia preman itu!" serunya.

Tanpa berkata-kata lagi, Eun Chae menonton dengan antusias. Pria bernama Chef Do yang tampil lengkap dengan kemeja, apron kelabu, celana hitam panjang, safety shoes, hingga peralatan memasak miliknya memberikan kesan profesional, walau Eun Chae mengabaikannya.

Meski televisi menjelaskan tentang profesi hingga keunggulan setiap peserta, tidak seorang pun dari mereka menerima sorotan otomatis seperti Chef Do.

Inilah, bintang kita hari ini! Chef Do, dengan followers terbanyak dan komentar terpanas di semua media sosial!

Kompetisi itu terdiri dari 3 ronde. Babak pertama adalah tahap penyisihan. Setelah itu, jumlah peserta akan dikurangi 10 orang sebelum babak selanjutnya. Sementara, babak kedua dan terakhir akan diumumkan setelah hasil keputusan juri.

Bahkan, 3 orang juri yang diberi kepercayaan adalah pakar memasak terfavorit sepanjang masa. Rentang usia, latar belakang, hingga ciri khas mereka pun tak asing bagi siapapun yang pernah bekerja di dapur. Tak hanya menguasai seni masakan tradisional, mereka juga sangat paham dan sensitif terhadap cita rasa internasional.

Tema masakan untuk tahap penyisihan akhirnya diumumkan, yaitu 'Masakan Rumah.'

Kini, beberapa jenis makanan telah muncul dalam benak Eun Chae. Membayangkan rasanya saja sudah membuat Eun Chae girang.

"Tak kusangka, kemampuan asli pria sombong ini akan teruji dengan sendirinya," ejek Eun Chae.

Para peserta diperkenankan mengonfirmasi menu masing-masing dalam waktu 5 menit, dengan bahan-bahan yang telah tersedia. Mereka juga diberi total waktu memasak 90 menit. Saat itu, setiap peserta harus berhasil menyajikan 3 porsi hidangan dengan kualitas identik untuk para juri.

"Wah, menarik sekali!" pekik Eun Chae, apalagi saat para peserta mulai bergerak cepat menuju pantry.

Sebagian besar peserta mengambil daging unggas hingga boga bahari. Beberapa yang lain mengambil lebih banyak bahan nabati, seperti sayuran hijau, berbagai jenis jamur, dan kacang-kacangan.

Namun, bahan pertama yang digunakan oleh Chef Do sungguh berbeda dari yang lain, hingga tak seorang pun dapat menebak masakan apa yang akan dibuatnya.

"Unik sekali. Mengapa bahan yang dipegangnya itu dibungkus daun?" gumam Eun Chae penasaran.

Rupanya, Chef Do memang menggunakan sebuah bahan yang tidak umum ditemukan di pasar lokal.

Dari seluruh peserta selain Chef Do, 5 orang di antaranya sesekali menatap tajam ke arahnya. Sementara itu, 24 orang peserta yang lain nampak berkonsentrasi penuh atau sedang gugup.

Cara kelima peserta itu memegang pisau, kecepatan tangan, hingga sentuhan rapi di setiap proses memasak mereka seolah menunjukkan kelas yang berbeda.

Ketika suasana memasak para ahli mulai intens, lagi-lagi Chef Do berhasil mencuri perhatian pada saat ia mulai mengiris bagian daging sapi besar yang digantung di udara.

Ia memilih bagian yang cukup sulit diolah dalam waktu singkat, yakni daging perut sapi yang rendah lemak. Chef Do meletakkannya dalam wadah, kemudian menyiapkan grill yang dipanaskan dengan arang. Ia berencana membuat steak medium rare.

Berikutnya, Chef Do mempersiapkan bumbu marinasi barbeque ala Korea Selatan. Agar rasanya lebih meresap ke dalam daging, ia menambahkan ikan teri, parutan jahe, kacang tanah panggang, minyak wijen, bawang putih yang digeprek, garam, pasta doenjang, dan irisan daun bawang. Kemudian, semuanya diblender menjadi bumbu halus.

Bumbu halus ditumis sebentar hingga wangi, lalu dibagi dua dalam mangkuk kecil. Yang satu dilumurkan di atas daging yang akan dipanggang. Yang kedua diberi tambahan kecap asin, minyak wijen, wortel rebus yang dicincang, serta sari lemon.

Aroma daging sapi panggang itu begitu menggugah selera. Sambil menunggu agar tingkat kematangan daging itu sempurna, Chef Do mencampurkan sisa bumbu dengan bahan rahasianya yang dihancurkan hingga menyerupai bubur.

Selain itu, ia membuat saus gurih yang berbasis gochujang caramel. Agar sausnya tidak terlalu kental atau berasa pekat, ditambahkannya kaldu dari tulang daging sapi. Chef Do kerap mencicipi tiap elemen dalam masakannya untuk menghindari kesalahan sekecil apapun.

Terakhir, Chef Do berencana menata semuanya dengan urutan bubur pada bagian dasar piring, beberapa irisan daging, bahan taburan, hingga saus pelengkap yang dipisahkan.

Kreativitas, presisi, teknik, pemahaman seputar bahan dan kombinasi rasa, hingga wajahnya yang tampan berpadu menjadi daya tarik Chef Do yang tidak ada duanya.

"Aku yakin Chef Do ini bukan manusia biasa. Benar, dia itu iblis yang bermimpi akan menguasai dunia kuliner dengan adegan palsunya!" celoteh Eun Chae kepada Bam, walau kucingnya tidak peduli.

Kebenaran hanya akan terungkap jika Eun Chae berkesempatan mencoba hidangan luar biasa ala Chef Do.

- Bersambung -

Ep 3 : Para Master Kuliner

Saat ini, di lokasi perekaman kompetisi memasak live yang diramaikan oleh penggunaan media sosial, harum masakan para ahli semakin membuat para juri dan host penasaran.

Hidangan Chef Do dan para peserta lain telah hampir selesai. Lima orang chef yang nampak seperti pesaing itu adalah Chef Dong Baek, Chef Min Ho, Chef Ik Jun, Chef Geum Bi, dan Chef Na Rae. Dua di antaranya lelaki, sementara sisanya wanita.

Dalam dunia kuliner, biasanya chef pria dikatakan mendominasi karena perbedaan fisik. Namun, pandangan semacam itu mulai berubah semenjak munculnya para wanita pekerja keras yang tidak kalah lihainya.

Walau Chef Do percaya diri dengan kemampuannya dan bersikap cuek terhadap yang lain, pria itu jelas dapat mengenali kelima orang chef cerdas yang ingin mengalahkannya.

Chef Jang Dong Baek adalah yang paling senior di antara kelimanya, dan mungkin peserta wanita tertua di tempat itu. Usianya di atas 35 tahun, dengan pengalaman memasak selama 15 tahun. Dia pernah bekerja di dapur hotel bintang lima, berguru dengan chef hebat dari Tiongkok, hingga membuka usahanya sendiri. Keahliannya adalah membuat masakan Tiongkok.

Chef Hwang Min Ho adalah yang termuda dari kelimanya, berwatak keras dan disiplin, dengan pencapaian yang boleh dikatakan membanggakan di usianya yang baru 27 tahun. Bagaimana tidak? Dia pernah bekerja di restoran berbintang Michelin, mulai dari anak baru lulus kuliah hingga menjadi asisten Chef yang berbakat. Selain itu, dia sudah pernah memenangkan kompetisi memasak yang lain. Menjadi juara kompetisi kali ini akan memberinya validasi bahwa dirinya lah yang terbaik.

Chef Lee Ik Jun berusia 32 tahun dan sudah berkeluarga. Penampilannya lumayan keren dengan tinggi badan 187 cm. Dia seperti chef idola, terutama bagi penyuka hidangan mewah ala Barat dan ibu-ibu.

Chef Song Geum Bi adalah ahli masakan tradisional Korea, sementara Chef Kim Na Rae adalah ahli masakan Korea modern dan peneliti gastronomi.

Lalu, bagaimana dengan latar belakang Chef Do? Pria itu sangat tampan, sepantaran dengan Chef Ik Jun, berwawasan luas, terobsesi dengan teknik memasak dan pencarian bahan berkualitas, dia bereksperimen dan terus berkembang, serta paling terkenal dalam dunia internet. Namun, karena sifat unik dan arogannya, dia memiliki banyak penggemar sekaligus penjerumus. Belum lagi, dia tidak pernah bersedia mengungkap nama lengkapnya secara publik.

Selain nama-nama yang dikenal oleh komunitas muda di kota Seoul ini, para peserta lain nampak seperti juru masak biasa.

Menu masakan Chef Dong Baek kali ini adalah dongpa-yuk, yakni masakan daging babi khas kota Hangzhou, Tiongkok.

"Wah, kelihatannya lezat sekali. Dagingnya pasti lembut karena dikukus dan diberi saus," ucap host perempuan yang berkeliling ruangan sesuai giliran, diikuti oleh tim produksi acara.

"Dongpa-yuk ini kumasak dengan gayaku sendiri, jadi pasti lebih enak daripada yang biasa," jelas Chef Dong Baek.

"Wow. Sudah kuduga, Chef Dong Baek memang hebat!" puji sang host sambil mengacungkan jempol, lalu beralih kepada Chef Min Ho.

Bahan dasar masakan Chef Min Ho adalah telur. Walau telur itu sederhana, Chef Min Ho nampak mampu menciptakan rasa yang dahsyat.

"Pemirsa, inilah Chef Min Ho. Mari kita lihat kreasi menariknya untuk memukau para juri!" ucap host.

"Masakan dariku hari ini kuberi nama Telur Tiga Rasa, karena dimasak dengan cara dan bumbu tak asing yang berbeda," tutur singkat Chef Min Ho.

Chef Min Ho membuat omelet gulung Korea 'gyeran-mari' versi dirinya yang diberi saus jamur, lalu disajikan seperti lauk pelengkap 'banchan'. Kemudian, ia mempersiapkan konsep masakan telur dalam cangkang kosong. Ia menggunakan mesin pengatur suhu kematangan telur, lalu mengisikan telurnya ke dalam cangkang.

Jenis hidangan telur Chef Min Ho yang ke-tiga sedikit lebih kompleks, karena akan disusun secara elegan di atas piring. Ia menggunakan teknik penguapan kuning telur dan gula 'sabayon' ala Perancis, namun dikombinasikan dengan pembuatan chawan-mushi ala Jepang. Terakhir, ia mengisikan campuran yang telah diproses itu selagi masih panas dalam cetakan, lalu memindahkan cetakan ke atas pendingin cepat nitrogen yang memudahkan pudding telur itu dikeluarkan dari cetakan.

"Chef. Bisakah Anda memberi penjelasan lebih mengenai hidangan Telur Tiga Rasa ini?" tanya host, karena semakin penasaran.

"Seperti yang terlihat, menu telur ini terdiri dari 2 sajian panas dan 1 sajian dingin. Para juri disarankan mencoba secara berurutan. Anggap saja, sajian dingin ini adalah hidangan penutup," tambah Chef Min Ho.

"Wah, luar biasa! Baik, selanjutnya mari kita tonton keahlian memasak Chef Ik Jun," lirih host.

Chef Ik Jun, sesuai reputasinya sudah pasti membuat masakan Barat. Ia memasukkan rebusan daging ikan dalam panci presto besar beserta lobster dan kerang, lalu menumis bumbu pedas bersama sayuran.

"Chef, aroma masakan ini sedap sekali. Apa namanya?" tanya host, dengan senyuman manis dan tatapan condong kepada pria keren bernama Ik Jun itu.

"Hidangan yang kubuat adalah *Bouillabaisse --dibaca Buyabeis--, yaitu sup ikan atau boga bahari ala Perancis, yang dimasak perlahan hingga mendidih agar seluruh bumbunya meresap. Porsinya cukup besar, mungkin aku bisa membagikan kepada host, para juri, dan para tim produksi," ujar Chef Ik Jun ramah.

"Wah, mendengarnya saja sudah membuatku lapar! Terima kasih, Chef Ik Jun. Saya penggemar Anda, semoga berhasil!" tawa host, lalu mendekati chef yang berikutnya.

"Chef, apa masakan Korea untuk hari ini?" tanya host, sambil memperhatikan dua botol arak kosong di meja Chef Geum Bi.

"Masakanku hari ini adalah belut laut. Untuk menghilangkan bau amis dan melembutkan dagingnya, kurebus dengan arak. Setelah itu, daging belut ini kupanggang dalam loyang di atas arang. Tidak lupa kumasukan kaldu ikan, irisan bawang bombai, beserta sayuran. Untuk membiarkan kaldunya meresap, loyang ini kututup dengan aluminium foil selama 15 menit. Bawang bombai dan sayuran ditiriskan, lalu diberi bumbu kering. Terakhir, aku memanggang daging belut itu di atas arang lagi, tanpa loyang. Daging belutnya kulumuri dengan saus lada hitam, sedikit minyak, kecap asin, dan herba. Ketika sudah nampak kecoklatan, segera kusajikan dengan nasi, kimchi, dan sayuran tadi sebagai pendamping," jelas Chef Geum Bi.

"Wah, seperti yang dinantikan dari sang ahli masakan Korea! Sudah pasti harus ada nasi! Semoga para juri langsung berkata enak," komentar host.

Sebelum host beralih kepada Chef Do, lalu Chef Na Rae, dan yang lain-lain, terdengar pemberitahuan bahwa para juri telah siap mencoba hidangan.

Tanpa terganggu, Chef Do berhasil menyelesaikan hidangan hingga sentuhan terakhir. Sementara, Chef Na Rae masih menata hidangan unik dan minimalisnya dengan hati-hati. Entah apa yang dibuatnya, namun aroma dan warna khasnya familiar.

Hidangan Chef Do mendapatkan urutan pertama untuk disajikan kepada para juri. Inilah momen yang paling dinantikan oleh semua orang!

- Bersambung -

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!