Indonesia
NovelToon NovelToon

AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

BAB 1: Tikungan Takdir di Pulau Dewata

Suasana ruang tunggu keberangkatan Bandara Ahmad Yani, Semarang, terasa begitu menyesakkan bagi Senja.

Bukan karena pendingin ruangan yang mati, melainkan karena beratnya beban di pundak yang harus ia bawa ke tanah perantauan. Di hadapannya, seorang wanita paruh baya dengan kebaya kutubaru sederhana terus menggenggam tangan Senja, seolah jika dilepas sebentar saja, anak tunggalnya itu akan hilang ditelan bumi.

​"Nduk, kalau sudah sampai di Bali nanti, langsung telepon Ibu ya? Jangan tunggu sampai malam," suara Ibu Senja bergetar, tapi matanya tetap berusaha menatap Senja dengan tegar.

​Senja mengangguk pelan, tenggorokannya terasa kaku. Sejak Ayahnya meninggal dunia karena serangan jantung saat Senja masih berusia sepuluh tahun, dunianya hanya berputar pada Ibunya.

Mereka berjuang bersama; Ibu dengan toko kelontongnya, dan Senja dengan ambisi sekolahnya. Kini, setelah ia berhasil meraih gelar Arsitek dan sempat bekerja beberapa tahun di Semarang, sebuah tawaran emas datang dari firma arsitektur ternama di Bali untuk menangani proyek luxury resort di Uluwatu.

​"Ibu jangan khawatir. Senja sudah siapin stok obat darah tinggi Ibu untuk tiga bulan ke depan. Senja juga sudah titip pesan ke Mbak Lastri tetangga depan buat bantu Ibu kalau mau belanja ke pasar," bisik Senja sambil mengusap punggung tangan Ibunya yang mulai keriput.

​"Ibu bukan anak kecil, Senja. Kamu yang harus hati-hati di sana. Bali itu jauh, budayanya beda, orang-orangnya datang dari seluruh dunia. Ingat pesan Ibu, jangan gampang percaya sama orang yang bermulut manis. Di dunia ini, banyak orang yang terlihat baik hanya karena ada maunya."

"Tapi jangan juga menutup diri, Nduk."

​Pengumuman boarding menggema, membelah keheningan antara ibu dan anak itu. Senja memeluk Ibunya sangat erat, menghirup dalam-dalam aroma bedak dingin yang selalu menjadi penenang jiwanya.

Saat kaki Senja melangkah melewati gerbang keberangkatan, ia tidak berani menoleh. Ia tahu, jika ia melihat satu saja tetes air mata jatuh di pipi Ibunya, ia akan melepaskan tiket pesawat itu dan memilih kembali ke rumah lama mereka di sudut Semarang.

...----------------...

​Pesawat mendarat di Bandara Ngurah Rai saat matahari Bali sedang berada tepat di atas kepala. Begitu keluar dari pintu kedatangan, Senja langsung disambut udara lembap yang kental dengan aroma dupa dan garam laut. Baginya, Bali bukan sekadar destinasi wisata, melainkan medan tempur baru untuk kariernya sebagai desainer interior dan arsitek.

​Seminggu pertama di Bali terasa seperti ujian mental. Senja menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor firma arsitek di daerah Denpasar, berkutat dengan maket, sketsa ruangan, dan tumpukan material contoh.

Ia adalah seorang perfeksionis. Baginya, setiap sudut ruangan harus punya jiwa, dan setiap fondasi harus kokoh tanpa kompromi. Sifat itulah yang membuatnya sukses, tapi sekaligus membuatnya menjadi pribadi yang sedikit tertutup dan kaku.

​"Bali ternyata sangat bising kalau kita tidak punya siapa-siapa untuk berbagi cerita," gumam Senja, sambil menatap pantulan dirinya di cermin kosan.

​Pagi itu, Senja sedikit terburu-buru. Ia harus mempresentasikan konsep interior untuk sebuah villa mewah di hadapan direktur firma.

Dengan mobil putih yang ia sewa, Senja membelah jalanan Denpasar yang mulai padat dengan motor para pekerja. Pikirannya melayang pada detail plafon dan pemilihan marmer yang akan ia presentasikan. Ia begitu fokus pada jam di dasbor yang sudah menunjukkan pukul 07.45.

​Saat memasuki pelataran parkir kantornya, Senja tidak menyadari ada seorang pria berompi oranye yang sedang sibuk menggeser beberapa motor untuk merapikan barisan. Karena pandangannya terhalang oleh pilar beton dan pikirannya yang sedang semrawut, Senja mengambil tikungan terlalu tajam.

​BRAKK!

​Suara benturan itu tidak terlalu nyaring, tapi guncangannya cukup untuk membuat jantung Senja hampir melompat keluar. Dari kaca spion, ia melihat seorang pria tersungkur di aspal, sementara sebuah motor matic roboh menimpanya.

​"Ya Tuhan! Apa yang aku lakukan?" Senja segera mematikan mesin dan berlari keluar dengan wajah pucat pasi.

​Ia menghampiri pria itu yang sedang berusaha duduk sambil memegangi lututnya yang berdarah. Rompi oranye yang ia kenakan tampak sedikit robek di bagian bahu. Senja merasa dunianya runtuh; menabrak orang di tanah rantau adalah mimpi buruk bagi siapa pun.

​"Mas! Mas nggak apa-apa? Maaf, maaf banget! Saya benar-benar nggak lihat tadi," Senja berjongkok di samping pria itu, tangannya gemetar hebat. Ia sudah bersiap untuk dimarahi habis-habisan, atau bahkan diteriaki oleh satpam kantor.

​Tapi, pria itu justru mendongak pelan. Alih-alih wajah penuh amarah, Senja justru menemukan sepasang mata yang terlihat tenang, meskipun dahinya mengernyit menahan perih.

​"Aduh, Mbak... lain kali kalau bawa mobil jangan sambil mikirin utang ya? Kasihan aspalnya, jadi kena darah saya," ucap pria itu sambil terkekeh pelan. Suaranya terdengar renyah, dengan logat yang sangat familiar di telinga Senja—logat Jawa Timur yang kental.

​Senja tertegun sejenak. "Mas malah bercanda. Itu lututnya luka parah, Mas. Ayo saya antar ke klinik, atau saya ganti rugi ya? Berapa Mas?"

​Pria itu—Rangga—berdiri perlahan dengan bantuan Senja. Ia mengangkat motor yang tadi terjatuh dengan satu tangan seolah itu adalah benda ringan.

"Nggak usah, Mbak. Cuma lecet dikit, biasa ini buat tukang parkir serabutan kayak saya. Mbak mending buru-buru masuk deh, itu bapak-bapak di dalam sudah pada ngintip dari kaca, kayaknya Mbak sudah ditungguin rapat."

​"Tapi Mas..."

​"Sudah, sana. Nama saya Rangga. Kalau Mbak merasa bersalah banget, nanti sore pas pulang jangan tabrak saya lagi ya? Cukup kasih senyum saja, biar panasnya Bali jadi agak adem," Rangga mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum tulus, memperlihatkan deretan gigi yang rapi.

​Senja terpaku di tempatnya berdiri selama beberapa detik. Sebagai arsitek, ia selalu menilai segala sesuatu dari strukturnya. Dan pria di depannya ini punya "struktur" yang aneh. Di tengah kesulitan dan rasa sakit, ia justru memilih untuk menghibur orang lain. Ada kehangatan yang mendadak merayap di hati Senja, sebuah perasaan aman yang sudah lama tidak ia rasakan sejak Ayahnya tiada.

​Sepanjang rapat, presentasi Senja berjalan lancar, tapi fokusnya terbagi. Ia terus saja melirik ke arah jendela, membayangkan pria berompi oranye itu masih berdiri di bawah terik matahari dengan lutut yang terluka.

​Begitu jam kantor selesai, Senja tidak langsung memacu mobilnya pulang. Ia sengaja mampir ke apotek terdekat untuk membeli plester, cairan pembersih luka, dan beberapa bungkus makanan serta es teh manis. Senja memarkirkan mobilnya agak jauh dan berjalan kaki menghampiri Rangga yang sedang duduk di trotoar, sedang mengipasi lehernya dengan topi kain yang sudah lusuh.

​"Mas Rangga," panggil Senja pelan.

​Rangga mendongak, matanya membelalak kaget. "Lho, Mbak Arsitek? Belum pulang? Mau nabrak saya lagi ya?"

​Senja tertawa kecil, rasa canggungnya perlahan mencair. "Enggak, Mas. Ini... saya bawa obat buat lutut Mas, sama ada nasi kotak buat makan sore. Maaf ya, tadi pagi saya benar-benar nggak fokus."

​Rangga menatap plastik di tangan Senja, lalu menatap wajah Senja dengan pandangan yang dalam. "Mbak, saya ini cuma tukang parkir. Harusnya saya yang minta maaf kalau posisi motornya tadi agak ke tengah. Mbak nggak perlu repot-repot begini."

​"Saya juga perantau di sini, Mas. Saya tahu rasanya luka tapi nggak ada yang ngobatin," sahut Senja sambil ikut duduk di trotoar di samping Rangga, mengabaikan rok kerjanya yang mahal. "Kita makan bareng ya? Saya juga belum makan dari siang."

​Rangga terdiam, kemudian tersenyum sangat manis. "Ya sudah kalau Mbak maksa. Tapi makannya jangan di sini, malu saya dilihatin orang kantor Mbak. Kita duduk di balik tembok sana saja, lebih adem."

​Sore itu, di balik tembok beton area parkir, Senja menemukan sisi lain dari Bali yang tidak pernah ia lihat di buku desain. Rangga bercerita kalau dia sudah dua tahun merantau, mengerjakan apa saja mulai dari tukang parkir sampai buruh angkut, asalkan halal. Ia punya mimpi besar untuk menjadi pemusik, tapi hidup di jalanan membuatnya harus realistis.

Senja mendengarkan dengan saksama. Baginya, Rangga seperti sebuah ruangan kosong yang luas namun belum ditata—punya potensi besar untuk menjadi sesuatu yang indah jika diberikan sentuhan yang benar. Di antara debu jalanan dan aroma knalpot, Senja merasakan sebuah koneksi yang tidak pernah ia temukan pada pria-pria mapan yang pernah mendekatinya.

​Ia tidak tahu, bahwa keraguannya pada pesan Ibunya pagi itu di bandara adalah awal dari sebuah desain hidup yang salah. Ia sedang mulai membangun sebuah "rumah" di atas tanah yang labil, menggunakan bahan-bahan perasaan yang ia kira kokoh, tanpa menyadari bahwa pondasi yang ia bangun hanya akan menjadi tempat bagi benalu untuk tumbuh subur.

BAB 2: Nyanyian dari Kafe Semesta

​Sudah satu minggu sejak terakhir kali dirinya tidak sengaja menabrak Rangga, Senja tidak lagi melihat sosok pria berompi oranye itu di parkiran kantor.

Setiap kali memarkirkan mobil, matanya refleks mencari ke arah tikungan tempat mereka pertama kali bertemu. Berharap akan melihat Rangga lagi. Tapi, yang ada hanyalah Pak Bejo, tukang parkir senior yang wajahnya selalu terlihat lelah.

​Karena rasa penasaran yang tidak bisa dibendung, Senja akhirnya memberanikan diri menghampiri Pak Bejo sore itu, sambil membawa sebotol air mineral dingin.

​"Pak, Mas Rangga sudah tidak kerja di sini lagi?" tanya Senja setelah berbasa-basi sebentar.

​Pak Bejo menerima botol itu dengan senang hati. "Oalah, Mbak Senja. Rangga sudah balik ke habitat aslinya, Mbak. Kemarin dia cuma bantu saya sebentar karena saya sakit."

​"Habitat asli? Memangnya Mas Rangga kerja di mana, Pak?"

​"Dia itu penyanyi, Mbak. Suaranya bagus sekali. Kalau malam Minggu begini, biasanya dia manggung di Kafe Semesta daerah Legian. Mbak cari saja di sana kalau mau ketemu," jawab Pak Bejo sambil tersenyum lebar.

​Senja tertegun. Penyanyi? Pikirannya langsung melayang membayangkan pria yang ia tabrak itu memegang mikrofon, bukan lagi mengatur barisan motor.

...----------------...

Malam Minggu di Bali selalu penuh dengan hingar bingar. Senja yang biasanya lebih suka menghabiskan waktu dengan menggambar sketsa bangunan di kamarnya, kini justru terjebak dalam kemacetan menuju Legian. Ada dorongan aneh di hatinya untuk melihat Rangga dengan identitas barunya itu.

​Begitu sampai di Kafe Semesta, telinganya langsung disambut petikan gitar akustik yang lembut. Kafe itu tidak terlalu besar, tapi sangat hangat dengan lampu-lampu gantung berwarna kuning temaram. Senja memilih meja paling pojok, berusaha agar kehadirannya tidak terlalu mencolok.

​Di atas panggung kecil, ia melihat sosok itu.

​Rangga tampak sangat berbeda. Ia mengenakan kaos hitam polos yang pas di tubuhnya, rambutnya tertata sedikit acak tapi terlihat keren di bawah sorotan lampu panggung.

Saat jemarinya mulai memetik senar gitar, suasana kafe mendadak hening.

​Rangga mulai bernyanyi. Suaranya berat, sedikit serak, tapi terasa sangat tulus saat membawakan lagu tentang kerinduan. Senja terpaku. Ia tidak menyangka tukang parkir yang tempo hari meringis kesakitan itu bisa terlihat begitu berkarisma saat sedang bermusik.

​Saat lagu berakhir, Rangga menyeka keringat di dahinya. Matanya menyapu ruangan, dan tiba-tiba pandangannya terkunci pada sosok Senja. Rangga sempat terlihat terkejut selama beberapa detik, sebelum akhirnya sebuah senyum lebar terukir di wajahnya.

​"Terima kasih semuanya," ucap Rangga ke mikrofon, matanya masih menatap Senja. "Sesi pertama selesai, kita lanjut lima belas menit lagi."

​Rangga segera meletakkan gitarnya dan berjalan menghampiri meja Senja.

​"Mbak Arsitek? Benar-benar kejutan. Saya pikir Mbak salah alamat," sapa Rangga sambil tertawa kecil.

​Senja tersenyum canggung. "Pak Bejo yang bilang Mas Rangga di sini. Saya cuma mau memastikan kalau lutut Mas sudah benar-benar sembuh."​

Rangga menarik kursi di depan Senja tanpa ragu.

"Sudah sembuh total, Mbak. Apalagi sekarang yang nanya langsung orang yang menabrak saya."

​"Mas sudah lama jadi penyanyi?" tanya Senja, mencoba mengalihkan pembicaraan karena merasa wajahnya mulai memanas.

​"Lama juga, Mbak. Tapi ya begini saja, dari kafe ke kafe. Mimpi saya sih ingin punya studio sendiri, ingin jadi DJ atau produser, biar tidak cuma menyanyikan lagu orang lain terus," Rangga bercerita dengan binar mata yang penuh ambisi.

​Senja mendengarkan dengan saksama. Baginya, ambisi Rangga terasa sangat murni. "Mas punya bakat. Kalau didukung dengan alat yang benar, Mas pasti bisa lebih sukses dari ini."

​"Alat musik itu mahal, Mbak. Buat makan sehari-hari saja saya harus pintar-pintar bagi waktu. Tapi nggak apa-apa, jalani saja dulu," sahut Rangga pelan, suaranya terdengar pasrah tapi tetap tenang.

​Entah karena suasana kafe yang romantis atau karena hatinya yang memang mudah tersentuh, Senja tiba-tiba merasa ingin menjadi bagian dari mimpi pria itu. "Mas... kalau Mas mau, aku bisa bantu. Aku punya sedikit tabungan. Mungkin kita bisa mulai beli alat-alatnya pelan-pelan."

​Rangga terdiam. Menatap Senja lama sekali, seolah sedang mencari kejujuran di mata wanita itu. "Kenapa kamu baik sekali, Mbak? Kita bahkan baru kenal."

​"Karena aku percaya sama Mas. Dan aku ingin lihat Mas sukses di atas panggung yang lebih besar," jawab Senja tulus.

​Malam itu, percakapan mereka mengalir begitu saja. Rangga tidak lagi memanggilnya "Mbak", dan Senja merasa sekat-sekat di hatinya perlahan runtuh.

​Tiga minggu berlalu dengan sangat cepat. Hubungan mereka berkembang jauh lebih intens dari yang dibayangkan Senja. Hampir setiap sore Senja menemani Rangga latihan, bahkan ia benar-benar membelikan perlengkapan musik yang Rangga butuhkan. Bagi Senja, uang itu tidak ada artinya dibanding senyum bahagia yang terpancar dari wajah calon suaminya.

​Puncaknya terjadi di pinggir pantai Jimbaran. Rangga mengajak Senja makan malam sederhana dengan jagung bakar dan es kelapa muda di atas pasir.

​"Senja," panggil Rangga. Suaranya terdengar lebih serius dari biasanya.

​"Iya, Mas?"

​Rangga mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Di dalamnya ada sebuah cincin perak yang sangat sederhana.

​"Aku tahu aku belum punya apa-apa sekarang. Aku cuma laki-laki yang hidupnya masih menumpang di kebaikan kamu. Tapi kalau kamu mau sabar, aku ingin kita jalani masa depan bareng-bareng. Kamu mau menikah denganku?"

​Senja merasa jantungnya berhenti berdetak sejenak. Air mata haru mulai menggenang di sudut matanya. Ia tidak peduli Rangga punya apa atau tidak. Ia hanya merasa Rangga adalah satu-satunya orang yang membutuhkannya dengan tulus di pulau ini.

​"Iya, Mas. Aku mau," jawab Senja mantap.

​Rangga langsung memeluk Senja erat, mencium keningnya berkali-kali. "Terima kasih, Sayang. Aku janji, aku akan kerja keras. Aku akan ratukan kamu di rumah kita nanti."

​Senja tersenyum dalam pelukan itu. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung karena bisa membantu pria yang ia cintai dari titik nol. Ia membayangkan betapa indahnya nanti saat mereka pindah ke rumah pribadinya di Semarang dan memulai hidup baru.

​Senja benar-benar tidak menyadari bahwa janjinya untuk "sabar" menemani dari nol akan dibalas dengan pengkhianatan yang bahkan tidak pernah ia bayangkan dalam mimpi buruknya sekalipun.

Senja tidak tau, biasanya kesuksesan akan merubah watak seseorang, ia begitu mempercayai Rangga dengan segenap hatinya, entah dirinya buta karena cinta, atau memang Senja adalah pribadi yang mudah tersentuh.

Bersama Rangga ia merasa kekosongan karena kehilangan ayahnya kini terisi.

BAB 3: Pesan-Pesan yang Diabaikan

Ponsel Senja tidak berhenti bergetar sejak ia mengunggah foto jemarinya yang dilingkari cincin perak dengan latar belakang deburan ombak Jimbaran.

Kabar itu meledak di grup WhatsApp kantor lamanya di Semarang. Senja yang biasanya kalem dan logis, tiba-tiba mengumumkan akan menikah dengan pria yang baru dikenalnya beberapa bulan di Bali.

​"Senja! Kamu sudah gila, ya?"

​Suara melengking Mbak Sari langsung menyambar begitu Senja mengangkat panggilan video. Di layar ponsel, Mbak Sari tampak tidak sendirian. Ada beberapa rekan kantornya yang ikut menyimak dengan wajah cemas.

​Senja tertawa kecil sambil merapikan beberapa sketsa desain interior di mejanya.

"Gila kenapa sih, Mbak? Kok salamnya seram banget."

​"Jangan bercanda! Siapa itu Rangga? Kamu bilang dia mantan tukang parkir yang sekarang jadi penyanyi kafe? Senja, kamu itu Arsitek! Kamu punya masa depan panjang, punya rumah sendiri, karier mapan. Kok bisa-bisanya kamu mau diajak nikah sama laki-laki yang nggak jelas latar belakangnya?"

​Senja menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. "Mas Rangga itu orang baik, Mbak. Dia jujur, pekerja keras, dan yang paling penting... dia sangat menghargai aku. Selama di Bali, cuma dia yang selalu ada buat aku."

​"Menghargai atau memanfaatkan?" sahut Sinta, rekan Senja yang lain, ketus.

"Ja, laki-laki kalau lagi ada maunya memang manis. Kamu sudah cek belum dia punya tabungan berapa? Dia sanggup nggak kasih kamu makan kalau kamu berhenti kerja?"

​"Aku nggak butuh uangnya, Sin. Aku sudah punya cukup untuk diriku sendiri. Aku cuma butuh partner hidup yang bisa bikin aku nyaman," jawab Senja tegas.

​"Pernikahan itu bukan cuma soal nyaman, Senja! Itu soal tanggung jawab," Mbak Sari kembali menimpali, suaranya naik satu oktav. "Kamu jangan mau silau sama kata-kata manisnya. Kamu baru kenal dia sebentar. Gimana kalau dia cuma mau numpang hidup?"

Senja menutup folder sketsanya dengan hentakan pelan. "Aku rasa pembicaraan ini nggak akan ada ujungnya kalau kalian cuma mau menyudutkan Mas Rangga. Aku yang jalani, aku yang tahu dia seperti apa. Sudah ya, aku banyak kerjaan."

​Klik.

​Senja mematikan sambungan telepon dengan perasaan dongkol. Kenapa semua orang selalu melihat status sosial? Apa mereka tidak tahu betapa sepinya hidup sendirian di tanah rantau sampai Rangga datang membawa warna baru?

​Malam harinya, Senja menceritakan kegundahannya pada Rangga saat mereka sedang menikmati sate lilit di pinggir jalan.

​"Mas, teman-temanku di Semarang... mereka kayaknya nggak suka kita nikah," ucap Senja pelan.

​Rangga yang sedang menyuap nasi mendadak berhenti. Ia meletakkan sendoknya, lalu menatap Senja dengan tatapan yang sangat sendu.

​"Mereka benar, Sayang. Aku ini siapa? Cuma laki-laki jalanan yang nggak punya apa-apa. Kamu itu Arsitek hebat, cantik, punya segalanya. Aku maklum kalau mereka takut kamu jatuh miskin karena aku," suara Rangga terdengar bergetar, penuh dengan nada rendah diri yang dibuat-buat.

​Melihat Rangga yang tampak sangat terpukul, pertahanan Senja langsung runtuh. Rasa kasihan mengalahkan logikanya.

​"Mas, jangan ngomong gitu! Aku nggak peduli kata mereka. Aku pilih kamu karena aku sayang, bukan karena apa pekerjaan kamu," seru Senja sambil menggenggam tangan Rangga erat.

​"Tapi aku merasa bersalah, Sayang. Aku merasa jadi beban buat kamu," Rangga menunduk, memainkan cincin di jari Senja. "Apa kita tunda saja sampai aku sukses?"

​"Nggak perlu! Kita nikah bulan depan sesuai rencana. Setelah itu, kita pindah ke rumahku di Semarang. Kamu bisa fokus bangun karier DJ kamu di sana tanpa harus mikirin biaya kontrak rumah atau apa pun. Aku yang tanggung semuanya sampai kamu berhasil," ucap Senja tanpa ragu.

​Rangga mendongak, matanya berkaca-kaca seolah ia baru saja melihat malaikat penolong. "Kamu benar-benar mau berkorban sejauh itu buat aku?"

​"Apapun buat kamu, Mas."

"Terimakasih, Sayang... aku gak akan lupain soal ini."

Rangga tersenyum, lalu mengecup punggung tangan Senja lama sekali. Di balik tundukannya, sebuah senyum kemenangan tersembunyi.

Ia baru saja mendapatkan tiket emas: seorang istri kaya yang siap membiayai ambisinya.

...----------------...

​Besoknya, Senja menelepon Ibunya. Ini adalah benteng terakhir yang harus ia tembus.

​"Nduk, kamu yakin?" suara Ibu terdengar tenang tapi penuh selidik dari seberang telepon.

"Ibu tidak melarang, tapi Ibu ingin kamu pakai logika. Jangan cuma pakai perasaan."

​"Senja yakin, Bu. Mas Rangga orangnya sangat lembut. Dia janji akan meratukan Senja. Senja ingin pulang ke Semarang, tinggal di rumah Senja sendiri bareng Mas Rangga. Senja juga mau resign biar bisa urus rumah dan bantuin Mas Rangga kerja."

​Ibu Senja terdiam cukup lama. Sebagai ibu yang membesarkan Senja sendirian, ia tahu watak anak tunggalnya: sekali bilang A, maka selamanya akan A.

​"Kalau itu sudah jadi keputusanmu, Ibu bisa apa? Ibu cuma pesan satu hal: jaga rumah itu baik-baik. Itu hasil keringatmu. Dan jangan pernah lupakan dirimu sendiri hanya karena terlalu sibuk mengurus suamimu nanti."

​"Senja janji, Bu. Semuanya akan baik-baik saja."

​Senja menutup telepon dengan senyum kemenangan. Restu sudah di tangan, persiapan pindah sudah dimulai. Ia merasa sedang menyusun desain hidup yang paling sempurna. Ia tidak sadar, bahwa dengan mengabaikan semua peringatan itu, ia sedang menggambar sketsa kehancurannya sendiri dengan tangannya sendiri.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!