"Jadi suami saya selingkuh dengan sahabat saya sendiri?" ucap Elina sambil tersenyum miris.
"Iya, Non. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Den Ares sering bermesraan dengan Maya saat Non Elina tidak ada di rumah," jawab Bi Wati lirih. Pelayan yang telah mengabdi sejak Elina masih kecil itu akhirnya memberanikan diri mengungkapkan kebusukan suami majikannya.
Senyum miris di wajah Elina tak juga pudar. Tangannya mengepal perlahan sebelum ia melangkah mendekati jendela besar di sudut ruangan. Di balik kaca bening itu, kota tampak sibuk seperti biasa, seolah tak peduli bahwa dunianya baru saja runtuh. Ares, suaminya, telah mengkhianatinya dengan sahabatnya sendiri. Pantas saja pria itu berubah akhir-akhir ini.
"Dasar brengsek! Apa dia tahu, Bi, dia bisa berada di sini karena aku! Dia mendepat posisi penting di perusahaan, hidup mewah itu semua dari aku. Dan bisa-bisanya bajingan itu mengkhianatiku dengan sahabatku sendiri?" ucap Elina dengan suara dingin yang bergetar menahan amarah.
Bi Wati terdiam sejenak, menatap punggung majikannya yang kini membeku di depan jendela.
"Non..." suaranya bergetar. "Bibi sebenarnya sudah lama mau bicara. Tapi Bibi takut Non makin sakit hati."
Elina menoleh perlahan. Senyum miris itu masih bertahan di bibirnya, namun matanya kosong, seperti laut sebelum badai.
"Sejak kapan?" tanyanya pelan.
"Hampir setahun ini, Non. Bibi diancam Den Ares. Kalau bibi bicara ke Non, anak Bibi akan disakiti di kampung," jawab Bi Wati, bahunya bergetar.
"Apa Bibi pikir saya tidak bisa melindungi keluarga Bibi sampai diam setahun ini?" tanya Elina dengan tatapan dingin yang menusuk.
"Maafkan saya, Non. Saya gak bermaksud seperti itu...hiks, hiks... maafkan saya, Non, baru sekarang Bibi berani bicara," ucap Bi Wati penuh penyesalan.
Elina kembali terdiam. Tangannya masih terkepal erat, kukunya nyaris menancap ke telapak.
"Ares lupa satu hal," ucapnya akhirnya dengan tenang, terlalu tenang untuk ukuran orang yang baru dikhianati. "Dia bukan naik karena pintar. Dia naik karena aku. Dan apa pun yang kuberi... bisa juga aku ambil kembali."
Elina menatap Bi Wati tajam. "Bibi jalankan peran bibi kembali, seolah saya belum mengetahuinya."
"Baik, Non."
••••
"Ares, kapan kamu memindahkan semua aset milik Elina menjadi milik kamu, hah? Ibu gak mau lagi tinggal sama Elina, Ares," ucap Amelia dengan nada tinggi dan penuh tuntutan.
"Mama tenang saja. Ares akan memindahkannya, tapi belum saatnya, Mah," jawab Ares sambil menyandarkan tubuhnya santai di sofa.
"Mama mau secepatnya, Res. Mama ingin cepat-cepat Elina pergi dari kehidupan kita. Mama capek berpura-pura pada wanita mandul itu," ucap Amelia dengan wajah masam.
"Sabar, Mah. Ares juga capek sama dia. Sudah dua tahun pernikahanku dengan Elina, tapi sampai sekarang dia belum kasih aku keturunan, sedangkan dengan Maya langsung jadi," jelas Ares tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Arman, ayah Ares, menghela napas gelisah. Tatapannya sesaat menyapu arah lorong. "Pelankan suara kalian. Bagaimana kalau Elina mendengar semua yang kalian katakan? Bukannya kita yang nendang dia, malah dia yang nendang kita," sahut Arman pelan.
"Santai saja, Pak. Elina tidak akan dengar ucapan kita. Dia lagi sibuk di kamarnya," ucap Ares dengan senyum meremehkan.
"Kamu bujuk gih cepat-cepat istri kamu, agar dia memberikan asetnya pada kamu. Dia sangat sayang sama kamu, Res. Tinggal gombalin apa lah, pasti dia sudah luluh," ucap Amelia, nadanya penuh perhitungan.
"Elina itu perempuan bodoh. Sekali aku rayu, dia pasti nurut. Dia sangat takut kehilangan aku, jadi tidak sulit untuk membujuknya," ucap Ares tertawa kecil.
Tanpa sepengetahuan mereka bertiga, di balik pintu yang sedikit terbuka, Elina dan Bi Wati berdiri mematung, mendengar semua percakapan keji itu.
Tangan Elina yang sejak tadi menggenggam ujung gaunnya perlahan mengendur. Bukan karena ia sudah tenang... tapi karena hatinya terlanjur mati rasa.
Di dalam ruangan, suara tawa kecil Amelia kembali terdengar.
"Kalau sudah dapat asetnya buang saja dia pelan-pelan. Biar Maya yang resmi jadi istri Ares."
Elina memejamkan mata. Dada kirinya seperti diremas kuat, namun bibirnya justru melengkung tipis—senyum orang yang akhirnya mengerti bahwa selama ini ia hidup di antara ular berbisa.
Bi Wati menutup mulutnya, air mata jatuh tanpa suara.
"Non…"
"Tidak apa-apa, Bi. Aku gak apa-apa. Aku justru lega tahu kebusukan para benalu itu," ucap Elina dengan suara yang terdengar terlalu tenang untuk luka sedalam itu.
"Bagaimana keputusan Non? Non Elina masih mau melanjutkan pernikahan Non?" tanya Bi Wati ragu.
"Tentu saja tidak, Bi. Aku tidak akan tinggal dengan para benalu itu," jawab Elina sambil tersenyum miring.
••
Elina berdiri di dalam ruangan rahasia miliknya—sebuah ruang tersembunyi yang tak pernah diketahui siapa pun. Lampu temaram memantulkan bayangannya di dinding, menciptakan kesan dingin yang menyesakkan.
"Jadi selama ini aku ditipu oleh cinta sialan?" ucap Elina dengan nada datar. Di tangannya, sebuah pisau tajam berkilat, diputar-putarnya perlahan seolah sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar besi.
"Dan lebih sial lagi, mertuaku tahu kelakuan anaknya. Sungguh miris aku."
Sret!
Pisau di tangan Elina melesat ke dinding, menghantam keras foto Ares dan keluarganya yang terpasang rapi di sana. Ujungnya tertancap tepat di tengah foto Ares, menembus wajah pria yang pernah ia cintai sepenuh hati.
Elina menatapnya tanpa emosi. Tak ada air mata, tak ada jeritan. Yang tersisa hanya keheningan yang menekan dada, seolah seluruh ruangan ikut membeku bersama hatinya.
"Satu tahun…" gumamnya lirih. "Selama satu tahun kalian menertawakanku di belakang."
Perlahan Elina kembali melangkah, kini mendekati deretan foto keluarga Ares yang menempel di dinding lainnya. Tatapannya mengeras, penuh tekad yang tak lagi bisa ditarik kembali.
"Bersiaplah, akan kukembalikan kalian ke tempat asal kalian."
••••
Pov Elina Aurelia Anderson
"Sayang?"
Elina menoleh. Terlihat suaminya berjalan mendekat. Biasanya, ia akan tersenyum setiap kali mendengar panggilan itu. Namun kini kata sayang justru terdengar menjijikkan di telinganya.
"Ada apa?" tanya Elina singkat, lalu kembali menatap cermin dan melanjutkan rutinitas skincare-nya.
Ares mengerutkan kening. Ia merasa Elina terlihat jauh lebih cuek dari biasanya, tapi ia memilih tak peduli dan tetap melangkah mendekat.
"Ada yang ingin Mas bicarakan sama kamu," ucap Ares.
"Ya sudah, ngomong saja, Mas. Biasanya juga begitu, kan," jawab Elina datar.
"Bagaimana kalau kamu tinggal di rumah saja, siapa tahu kamu bisa hamil," kata Ares sambil mengelus rambut Elina dengan senyum dibuat-buat.
Diam-diam Elina tersenyum miring. Ia tahu betul maksud di balik ucapan itu—agar lebih mudah mengalihkan aset miliknya, sekaligus memberi ruang lebih leluasa untuk berselingkuh.
"Kalau aku berada di rumah, siapa yang mengurus perusahaan? Lagian aku juga pernah istirahat, tapi Tuhan belum memberiku," jawab Elina santai.
"Mas kan ada, sayang. Mas bisa menangani semuanya. Kamu cukup nikmati aja hasil kerja Mas," ucap Ares masih berusaha membujuk.
Elina menghela napas, lalu membalikkan badan dan menatap suaminya dengan dingin. "Hasil yang mana yang kamu maksud, Mas? Uang bulanan maksud kamu yang tidak seberapa itu?"
Wajah Ares langsung menegang. Senyum tipis yang sejak tadi ia paksakan perlahan menghilang, tergantikan sorot kesal yang gagal ia sembunyikan.
"Maksud kamu apa, Elina?" tanyanya datar, rahangnya mengeras.
"Mas, uang bulanan yang kamu berikan kepadaku tidak ada apa-apanya dengan gaji kamu. Aku tanya, berapa yang sebenarnya kamu berikan kepadaku, hah?" tanya Elina sambil menyilangkan tangan, menatap sinis. Ares terdiam. Ia tahu betul gajinya besar ia transfer ke ibunya dan Maya, sementara sisanya yang tak seberapa baru ia berikan pada Elina.
"Tapi kamu punya gaji, Elina. Gaji aku kasih ke Mama," jawab Ares akhirnya.
"Kamu paham tidak sih apa itu namanya nafkah untuk istri! Dengar, Mas, bulanan yang kamu kasih ke aku gak sebanding dengan pengeluaran kita. Belum lagi kita menampung orang asing," ucap Elina menahan emosi.
Ares menghela napas kasar, jelas mulai kehilangan kesabaran.
"Kamu ini kenapa sih, Elina? Dari dulu juga begini, aku kan cuma membantu Mama."
"Sudahlah, Mas. Biar aku jelaskan pun kamu tak akan paham maksud aku," ucap Elina lirih namun tegas.
"Ingat, aku tidak akan pernah melepaskan perusahaan Ayahku."
Setelah mengatakan itu, Elina langsung berbaring dan menarik selimut menutupi tubuhnya, membelakangi Ares.
Ares mengepalkan tangan. Ini pertama kalinya Elina bersikap sedingin ini padanya. Tanpa berkata apapun lagi, ia keluar dari kamar dengan perasaan gusar.
Saat suara pintu tertutup terdengar, Elina membuka mata. Napas berat keluar dari dadanya.
"Enak saja dia pikir dia siapa ingin merebut semua aset aku," gumam Elina. "Ya Tuhan, aku tahu Engkau tidak menyukai perceraian, tapi aku hanyalah manusia biasa. Aku tidak sanggup hidup dengan mereka yang hanya mengincar hartaku saja."
♡♡
"Ares mau ke mana?" tanya Arman saat melihat putranya meraih kunci mobil.
"Ares, ini sudah malam," sambung Amelia dengan nada memperingatkan.
"Ares ingin ke Maya, Mah," jawab Ares tanpa ragu.
"Ngapain kamu ke sana? Nanti Elina curiga bagaimana?" tanya Amelia, menatap tajam.
"Aku kesal dengan Elina, Mah, Pah," jawab Ares singkat.
"Kesal?" Arman mengerutkan kening. "Elina buat kamu kesal? Masa sih. Dia kan wanita penurut sama kamu."
"Aku juga gak nyangka, Pah. Elina gak seperti biasanya," ucap Ares, nadanya terdengar dongkol.
"Emang Elina ngapain sampai buat kamu kesal?" tanya Amelia penasaran.
"Aku hanya suruh dia berhenti kerja, biar aku saja. Eh, dia gak mau. Dia juga ngungkit uang bulanan yang aku berikan," jawab Ares.
Amelia langsung berdiri dari sofa, wajahnya memerah menahan amarah.
"Kurang ajar!" hardiknya. "Perempuan itu memang sudah mulai berani melawan sekarang. Dulu nurut, sekarang sudah merasa paling berjasa."
Arman ikut berdiri sambil menghela napas panjang.
"Istrimu mulai besar kepala, Res. Karena merasa semua ini miliknya, dia jadi lupa kalau dia itu masih butuh kita di hidupnya."
Ares mengepalkan tangan.
"Ares juga heran, Mah. Dia bilang uang bulanan yang aku berikan tidak sebanding dengan pengeluaran. Padahal selama ini dia kan punya gaji sendiri."
"Makanya, Res!" potong Amelia tajam. "Perempuan seperti Elina itu harus dikasih pelajaran. Jangan dibiarkan merasa paling punya kuasa."
Amelia mendekat pada Ares. Suaranya kini direndahkan, penuh racun.
"Kamu datangi Maya malam ini, biar hatimu tenang. Besok, kamu bujuk lagi Elina. Pakai cara lama. Tunjukkan perhatian, manis-manis dikit. Kalau dia sudah luluh, suruh dia tanda tangan apa pun yang kamu kasih."
Arman mengangguk setuju.
"Jangan lama-lama. Kalau aset sudah di tangan kamu, kita tidak perlu lagi bergantung pada perempuan itu."
Ares tersenyum tipis, rasa kesalnya perlahan mereda.
"Iya, Mah. Ares ngerti."
Tanpa mereka sadari, di balik dinding kamar lantai atas, Elina berdiri mematung di balik dinding. Tangannya mencengkeram ponsel yang sejak tadi merekam semua ucapan mereka.
Elina menurunkan ponselnya perlahan. Rekaman itu masih berjalan, namun hatinya justru terasa lebih tenang dari sebelumnya.
"Aku tidak lagi ragu sedikit pun. Kalian semua… adalah musuhku," bisiknya lirih.
••
Tok! Tok!
"Maya, ini aku, sayang."
Tak lama kemudian, pintu terbuka.
"Mas Ares…" ucap Maya terkejut melihat kedatangan Ares di malam hari.
"Sayang, aku rindu kamu," ucap Ares sambil langsung memeluk Maya.
"Mas, kenapa kamu datang? Apa Elina gak marah sama kamu?" tanya Maya khawatir.
Ares melepaskan pelukannya, lalu melangkah masuk ke dalam kontrakan Maya. Maya menutup pintu terlebih dahulu, kemudian mengikutinya.
"Aku lagi kesal sama Elina, sayang. Jadi lebih baik aku kesini," jawab Ares santai.
Maya menggigit bibir. Wajahnya tampak bimbang, tapi matanya memancarkan binar bahagia.
"Mas... kamu jangan terlalu sering ke sini. Kalau sampai Elina tahu..."
Ares tertawa kecil lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa usang di ruang tamu kontrakan itu. "Elina itu terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Lagian sekarang dia juga mulai berani sama aku," ucapnya kesal.
Maya duduk di samping Ares, sengaja mendekat. "Berani bagaimana?"
"Dia menolak berhenti bekerja, malah menuntut soal uang bulanan. Seolah-olah aku ini cuma numpang hidup sama dia," gerutu Ares.
Maya terdiam sesaat, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Ares.
"Mas... kamu pantas dapat yang lebih baik. Bukan istri yang sibuk kerja dan lupa sama perasaan suaminya."
Ares tersenyum tipis.
"Makanya aku betah sama kamu, May. Kamu ngerti aku."
Maya mengangkat wajahnya, menatap Ares penuh arti. "Kalau begitu... sampai kapan Mas mau bertahan sama Elina?"
Pertanyaan itu membuat Ares terdiam. Ia menghela napas panjang.
"Sebentar lagi. Kalau semua sudah aku pegang, aku akan lepas dari dia."
Maya tersenyum puas, menyembunyikan ambisi di balik wajah polosnya.
"Mas janji?"
Ares menatapnya yakin. "Aku janji."
Maya tersenyum puas, lalu memeluk Ares erat.
"Bagaimana dengan anak aku?" tanya Ares sambil mengelus perut Maya.
"Dia anak yang baik, Mas. Dia gak pernah nuntut ini itu," jawab Maya tersenyum. "Oh iya, Mas, apa kamu gak kasihan sama aku? Masa aku dan calon anak kita tinggal di kontrakan sih."
Ares terdiam, lalu menatap sekeliling kontrakan Maya. Meski cukup bersih dan nyaman, tempat itu jelas jauh dari kata layak untuk masa depan yang ia janjikan.
"Mas, aku pengen rumah," ucap Maya manja.
"Sabar ya, sayang. Aku akan belikan kamu rumah yang mewah. Nanti kita akan tinggal di sana bersama anak kita. Setelah urusan Elina selesai, kamu akan meninggalkan kontrakan ini," jawab Ares.
Ares meraih tangan Maya, menatapnya penuh keyakinan. "Percaya sama aku, May. Semua ini cuma sementara."
Maya mengangguk kecil, tapi sorot matanya berubah sendu. "Aku cuma capek, Mas. Tiap malam nungguin Mas, takut kalau Elina tiba-tiba sadar. Aku juga pengen hidup tenang, punya rumah sendiri, tanpa harus sembunyi-sembunyi."
Ares mengusap rambut Maya. "Sebentar lagi..."
Maya tersenyum tipis lalu memeluk perutnya sendiri.
"Kalau nanti semuanya sudah jadi, aku mau jadi istri Mas yang sah. Aku gak mau anak kita besar dengan status yang salah."
Ares mengangguk cepat.
"Itu juga yang aku mau. Kamu tenang saja. Aku gak akan biarkan anak kita hidup susah."
Maya tersenyum puas dan menyandarkan kepala di dada Ares.
"Mas… jangan lama-lama ya."
Namun di tempat lain, di rumah megah itu, Elina berdiri di depan jendela kamarnya. Ponselnya menampilkan notifikasi baru dari sistem GPS yang diam-diam ia pasang di mobil Ares.
Lokasinya: kontrakan Maya.
Elina tersenyum tipis.
"Pergilah sejauh mungkin, Mas," bisiknya.
"Semakin jauh kamu melangkah… semakin dalam lubang yang kamu gali sendiri."
"Dari mana kamu, Mas?" tanya Elina penuh selidik, menatap suaminya yang baru saja memasuki kamar.
Ares sedikit terkejut. Ia mengira Elina sudah tertidur pulas di jam sebegini.
"Aku dari luar," jawabnya singkat.
Elina tersenyum miring, berpura-pura tidak tahu kebenarannya. "Oh, aku pikir kamu cari jajanan di luar," ucapnya santai, lalu kembali menoleh ke ranjang seolah tak peduli.
Ares menghela napas kasar, menahan kekesalan dan kekecewaan yang menggerogoti hatinya. Ia masuk ke toilet, menenangkan diri sebentar, lalu keluar dan menyusul Elina di atas ranjang.
"Sayang, kamu sudah tidur?" tanya Ares sambil memeluk Elina dari samping.
Elina tetap diam, pura-pura memejamkan mata. Tubuhnya tegang, merasa risih dengan pelukan Ares. Hatinya hampir ingin menendang suaminya sendiri, apalagi setelah tahu dari mana sebenarnya Ares pergi—dari pelukan selingkuhannya sendiri.
Dalam kesunyian kamar itu, napas mereka terdengar berat, namun Elina tetap menahan diri. Di balik matanya yang terpejam, pikirannya sudah berjalan seribu langkah ke rencana balas dendamnya.
♡♡♡♡
"Pagi, Mas..." sapa Maya saat melihat Ares membuka pintu.
Ares yang baru keluar terkejut, menoleh ke sekeliling takut Elina melihatnya. "Sayang, ngapain kamu datang pagi-pagi gini," ucapnya pelan, suaranya dipaksakan tenang.
"Anamu, Mas, ingin bertemu papanya," jawab Maya santai. "Mas tenang saja, aku sudah punya ide kalau tiba-tiba Elina datang."
Dari jauh, Elina mengamati tingkah mereka berdua.
"Perempuan itu sekarang sudah mulai berani, dasar tidak tahu malu... Eh, dia kan gak punya malu," gumamnya dingin.
Elina melangkah mendekat.
"Ngapain kamu pagi-pagi datang ke sini, May?" tanyanya datar, menatap Maya tanpa lagi ada kata lembut untuk seorang perebut.
Maya dan Ares yang sedang berpegangan tangan langsung melepaskan tangan mereka.
"Elina, aku mau ngajak kamu shopping. Sudah lama kita gak shopping bareng," ucap Maya, wajahnya polos seolah tak bersalah.
Elina menaikkan alis, lalu tersenyum miring. "Kamu bisa kirim pesan, tidak harus datang ke sini, kan?"
"Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu pada sahabat kamu?" tanya Ares kesal menatap istrinya.
"Kenapa kamu kesal seperti Mas? Aku hanya mengungkapkan apa yang aku ungkapkan," jawab Elina santai, menahan amarah.
"Sudah lah, Mas. Aku yang salah kok, aku seharusnya menghubungi Elina saja," sahut Maya, wajahnya pura-pura sedih.
Elina menatapnya datar, tak ada rasa iba. "Sejak kapan kamu memanggil Mas Ares dengan kata 'Mas'? Biasanya kamu panggil Ares saja," ucap Elina tajam.
Maya menelan ludah, wajahnya memerah. Ia cepat-cepat tersenyum manis dan mengubah nada suaranya. "Oh... iya, maksudku... karena... biar terdengar lebih sopan sama kamu, El. Kan aku menghormati sahabatku," ujarnya tergagap sambil tersenyum.
Elina menatapnya datar, senyumnya tipis tapi matanya penuh arti.
"Oh, gitu ya..."
"Iya, El. Kamu jangan salah paham," ucap Maya tergesa. "Bagaimana, kamu mau shopping sama aku?" Maya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tidak, hari ini aku ingin ke kantor. Ada yang harus aku beresin," jawab Elina tegas.
"Sayang? Ngapain kamu ke kantor? Semua urusan hari ini biar aku yang handle," sahut Ares.
"Emang ada salahnya aku ke perusahaan ayahku sendiri?" ucap Elina penuh tekanan.
"Gak sih, sayang…"
"Sudahlah, Mas. Aku tidak ingin ribut. Kamu mau mengantar aku atau kamu sama sopir?" potong Elina cepat.
"Maaf sayang, kamu jalan duluan saja. Mas hari ini ada agenda di luar," ucap Ares beralasan, mencoba terdengar santai.
Elina hanya menatapnya malas. Sekali lagi Ares membohonginya. Hatinya terasa panas—mengapa sejak dulu ia begitu bodoh menerima Ares dan keluarganya.
"Ya sudah, aku duluan," gumamnya, lalu melangkah menuju mobilnya.
Di dalam mobil, Elina memperhatikan Ares dan Maya saling bertukar senyum. Bibirnya membentuk senyum miring tipis.
"Gundik dan benalu harus disingkirkan," bisiknya pelan, menekan pedal gas dan meninggalkan kediaman dengan penuh tekad.
"Maya…"
Maya menoleh, saat Amelia menghampirinya dengan wajah berseri.
"Halo, Mah," ucap Maya sambil salim pada Amelia. "Mama, apa kabar?"
"Sangat baik, sayang," jawab Amelia dengan senyum miring. "Kalau cucu Mama, bagaimana?" tanyanya sambil menatap perut Maya yang masih rata.
"Cucu Mama baik dong. Hari ini dia ingin bertemu papanya, jadi aku kemari," jawab Maya tersenyum.
Amelia menatap Ares.
"Ares, Elina sudah pergi kan?"
"Iya, Mah. Aku bisa bermesraan dengan Maya," jawab Ares sambil merangkul Maya masuk ke rumah, diikuti Amelia yang senang bisa bebas.
"Wati…" panggil Amelia pada Bi Wati.
"Iya, Nyonya…" jawab Bi Wati mendekat.
"Kamu tahu, kan, apa yang harus kamu lakukan. Kalau sampai Elina tahu, anak kamu di kampung akan aku singkirkan," ancam Amelia dingin.
"Iya, Nyonya. Saya paham," jawab Wati, meski hatinya mulai bergetar karena ikut dalam perang mereka, tanpa sadar Elina sudah mengetahui semua.
"Bagus. Sekarang buatkan makanan yang enak dan sehat untuk bumil," perintah Amelia, lalu pergi menghampiri Maya dan Ares yang sedang bermesraan di ruang tamu.
"Nyesal aku ikut perintah mereka."
Dengan langkah berat, Bi Wati menuju dapur, dan tanpa ragu mulai merekam semua kebusukan mereka untuk dilaporkan ke Elina.
♡♡
Di kantor, Elina tersenyum miring saat melihat laporan yang dikirimkan Bi Wati. Tanpa perlu bukti yang banyak, Elina sudah bisa menebak semua yang terjadi, diam-diam ia telah memasang CCTV tersembunyi, sehingga setiap gerak-gerik Ares, Maya, dan keluarga bisa ia amati.
"Mereka mulai berani," gumamnya dingin, seolah setiap kata itu seperti pisau yang diselipkan di udara.
Elina menekan nomor di ponselnya, lalu menunggu beberapa dering. Suara hangat terdengar di seberang.
"Halo, Elina..."
"Halo, Ayah. Ayah masih di Swiss?" tanya Elina dengan nada sopan namun tegas, menyembunyikan kegelisahan di balik senyumnya.
"Iya sayang. Ada apa?" balas Albert, Ayahnya yang sedang berlibur jauh.
"Elina..."
"Katakan saja, sayang. Kamu gak usah sungkan sama Ayah," ucap Albert, mengetahui bagaimana putrinya selalu berhati-hati dalam menyampaikan maksudnya.
"Elina ingin pengangkatan CEO diubah dan undur," jawab Elina tegas.
Di seberang, Albert mengerutkan keningnya. "Kenapa bisa seperti itu, sayang? Minggu depan acaranya sudah dijadwalkan. Semua tamu penting, dewan direksi juga hadir... Apa masalahnya?"
Elina tersenyum tipis, suaranya lembut namun penuh ketegasan.
"Tidak masalah, Ayah. Hanya aku ingin memastikan orang yang tepat memimpin perusahaan. Aku rasa sudah waktunya ada perubahan di jajaran atas."
Albert terdiam sejenak, mencoba menebak maksud putrinya.
"Hmm… baiklah, sayang. Kalau itu keputusanmu, Ayah dukung penuh. Ayah akan menyuruh Arga menangani semuanya, kamu bisa diskusikan apa yang terbaik," ucap Albert akhirnya.
"Baik, Ayah. Makasih sudah mau memenuhi keinginan Elina," jawab Elina dengan senyum tipis.
"Apapun untuk putri Ayah, sayang," ucap Albert. "Elina?"
"Iya, Ayah?"
"Tidak ada masalah, kan, Nak?" tanya Albert lembut, seolah bisa merasakan apa yang dirasakan Elina meski jarak memisahkan mereka.
"Elina baik-baik saja, Ayah," jawabnya berusaha menenangkan diri, meski dadanya berdebar memikirkan langkah-langkahnya ke depan.
"Elina, kamu tahu Ayahkan… Ayah bisa…"
"Ayah, kali ini biar Elina hadapi sendiri. Elina hanya perlu dukungan dari Ayah dan Bunda," potong Elina dengan nada tegas namun santai.
Albert menghela napas berat, tebakannya benar. "Baiklah, Nak. Ayah akan selalu ada di samping kamu," ujarnya penuh keyakinan.
Elina menutup ponselnya perlahan, menatap keluar jendela kantor. Cahaya pagi menyinari wajahnya yang tenang, namun matanya penuh tekad. Di balik senyum tipis itu, ia sudah menyiapkan strategi untuk menyingkirkan pengkhianat di sekelilingnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!