Indonesia
NovelToon NovelToon

Diam-diam Cinta

1. Tim Pengganti

Hai, aku datang lagi. Cerita kali ini lebih ringan ya. Semoga suka dan baca sampai selesai. Jangan di skip apalagi ditinggalkan, nanti author cubit nihhhh. Thanks before dan jangan lupa tinggalkan jejak.

\=\=\=\=\=\=\=

Bab 1

 

“Sa, makasih ya. Lo pahlawan gue banget.”

Lisa hanya tersenyum kecut saat rekan sejawatnya menjabat tangan dengan wajah sendu dan kedua mata berkaca-kaca.

“Biasa aja kali.”

“Lo hati-hati di sana ya. Kalau butuh apa-apa kabarin?”

“Lah, mau ngapain? Kirim kebutuhan gua atau ….”

“Nggak, gue doain semoga Tuhan penuhi kebutuhan lo. Nggak mungkinlah gue langsung lari ke tempat itu bawa kabulkan apa yang lo mau apalagi sampai gantiin posisi lo. Ogah banget.”

“Hah, dasar.” Lisa mengibaskan tangan di depan wajah sambil tersenyum lalu mengusir rekannya. Takutnya ia menyesal dan membatalkan keberangkatan itu.

Profesinya sebagai perawat di salah satu rumah sakit yang bekerja sama dengan pemerintah dengan program pengabdian di pelosok desa. Sebenarnya nama Lisa tidak tercantum dalam keberangkatan tersebut, tapi Manda rekan sejawatnya yang terpilih. Menangis saat namanya sudah tercantum dan berniat berhenti dari rumah sakit itu. Alasannya karena orangtua yang sudah sepuh, tidak mungkin ditinggal jauh di mana dia anak satu-satunya juga sedang mempersiapkan pernikahan impian.

Menjadi pahlawan kesiangan bukan pilihannya. Ingin menjauh dari keluarga yang menurutnya toxic. Kecewa karena Ayahnya menikah lagi bulan lalu, padahal kematian ibunya belum genap satu tahun. Bukan tidak peduli dan tidak mengerti dengan kondisi Ayahnya, tapi hubungan mereka jadi buruk semenjak ibu dan adik sambungnya hadir.

“Lisa, saranghaeyo,” ujar Manda sambil membentuk cinta dengan kedua jarinya.

“Hah, lebay. Udah sana, nanti gue melow terus batal berangkat.” Lisa menarik koper menuju tempat kumpul untuk brifing sebelum keberangkatan tugas di tempat baru.

“Sering telpon gue ya.”

“Ogah,” teriak Lisa sambil melambaikan tangan tanpa menatap Manda.

“Bye. Lisa!”

Lisa tersenyum lalu menghela nafasnya. Menuju lobby utara rumah sakit, titik kumpul sebelum berangkat. Bawaannya hanya satu koper besar dan tas jinjing yang disangkutkan di atas koper juga tas ransel yang dipakainya. Sudah mengirimkan satu tas lainnya berisi beberapa pasang sepatu dan sandal. Mungkin satu atau dua hari akan sampai.

“Nah, itu dia tersangkanya sudah datang.”

“Sorry, udah telat ya,” ujarnya.

“Ck, belum ngapa-ngapain masa udah telat aja sih,” ejek Rama. “Cepet sini, mau dibrief dulu. Habis ketemu sama Rizwan Karim ya?”

“Dih apaan sih, gak jelas.” Lisa meninggalkan kopernya dengan koper-koper lain, lalu bergabung dengan tim yang akan berangkat.

“Kan lo Lisa Marisini yang lagi viral.”

“Please deh, Ram! Shut up your mouth. Sini Lis,” ujar Yuli, baru dua tahun bekerja di rumah sakit itu sebagai bidan. KAlau dilihat penampilannya lebih mirip selebgram jika tanpa seragam profesinya.

“Oke, diabsen dulu ya. dokter Asoka?”

“Ya.” Pria dengan kaos polo navy dengan penampilan oppa korea mengangkat tangannya. Yang Lisa tahu pria itu dokter umum yang bertugas di UGD, tidak terlalu kenal karena tugasnya di bangsal rawat inap. Gayanya cool dan datar, bahkan sejak pertemuan untuk persiapan keberangkatan, hanya dia yang jarang bicara dan berinteraksi dengan yang lain. Bicara seperlunya, irit seperti mengirit uang di tanggal tua.

“Rama Purwangga?”

“Hadir.”

Rama profesinya perawat, biasanya bertugas di ruang OK atau ruang tindakan operasi. Sayang banget kalau harus bertugas di pelosok, karena tempat tugasnya hanya pusat kesehatan masyarakat dan tidak melakukan proses operasi.

“Sapri?”

“Di sini pak,” jawab Sapri dengan logat jawa yang begitu medok. Pemuda yang bertugas sebagai OB.

“Beni Juan.”

“Di sinilah, saya. Nggak kelihatan gitu?”

Lisa menoleh lalu tersenyum. Tidak aneh, Beni yang biasanya bertugas sebagai supir ambulance terkenal kocak bahkan sering dianggap seolah sedang stand up comedy.

“Ngapain pula pake diabsen, yang mau jalan Cuma enam biji. Dilihat pake mata juga cukup. Macam anak sekolah pake diabsen.”

“Sabar, bang Beni,” ucap Sapri sambil menepuk bahu pria itu.

“Tahan bang. waktu kita di sana lumayan panjang, satu tahun loh. Simpan energi dan emosimu kisanak, mana tahu apa yang akan terjadi di depan mata,” tutur Rama.

“Di depan mataku adanya belek,” sahut Beni lagi.

“Ish, kalian apaan sih. Ga Jelas deh. Udah pak lanjut lagi,” keluh Yuli.

Manager HRD kembali melanjutkan briefingnya setelah terkekeh karena perdebatan anggota tim. Menjelaskan singkat tugas dan keberangkatan serta kapan mereka dapat jadwal pulang ke jakarta dan kembali ke lokasi.

“Hah, jadi nggak bareng ya?” tanya Yuli

“Ya nggak dong. Kalau bareng di sana siapa yang jaga.” Kali ini Rama yang menanggapi

Lisa menghela nafas, bukan khawatir dengan tugas dan jadwal pulang ke jakarta per dua bulan sekali, itu pun hanya tiga hari. Menunduk sambil menatap layar ponsel dan membaca lagi pesan dari ayahnya.

Ayah

Kamu tega tinggalkan Ayah?

Awalnya ia ingin abaikan saja pria yang selalu dipanggil ayah dan dipuja bak ksatria, tapi perlahan rasa itu pudar berganti kecewa. Sejak Ibu Nina dan Inka menjadi keluarga karena ikatan pernikahan dan tinggal satu atap, banyak drama yang terjadi dan berakhir dia terpojok dengan status bersalah.

Ini adalah langkahnya untuk protes. Penjelasan pun percuma, karena dari awal ia kurang setuju, berharap Ayah mau menunda sampai genap satu tahun kepergiannya bunda. Setiap perdebatan dan pertengkarannya dengan Inka lalu dia malah menjadi tersangka, bahkan penjelasan kebenaran menurut pov-nya pun percuma. Ayah akan ikut menyalahkan dengan tuduhan ia melakukan itu karena tidak suka ayah menikah lagi.

Sudah ada Ibu Nina dan Inka. Mereka lebih mengerti Ayah dan bisa dipercaya dibanding aku sipembangkang

Balasan pesan darinya untuk ayah.

“Jaga kesehatan, jaga sikap dan jaga nama baik pribadi, profesi dan institusi.”

Lisa kembali fokus mendengarkan arahan dan tidak lama selesai. Mereka menuju mini bus yang sudah terparkir dan menaikan bawaan ke dalam bagasi. Ada 16 seat di mobil itu, satu deret kursi belakang dilepas untuk space bagasi yang lebih lebar.

Dokter Oka, menempati seat di belakang supir lalu baris berikutnya kosong dan berikutnya Lisa menempati kursi single sebaris dengan Yuli. Seat minibus itu 1-2 sampai ke belakang.

“Perjalanan menuju alam baka,” ucap Rama saat naik.

“Rama, mulut lo ya,” sentak Yuli.

“Apa sih ibu Bidan. Mau gue temenin nggak? Perjalanan kita jauh loh.”

“Ogah, sana belakang dan tutup mulut nyinyir lo itu.”

Lisa tersenyum lalu menggeleng pelan mendengarkan ocehan Yuli dan Rama. Meletakan ransel di samping kakinya, mengeratkan cardigan yang dipakai.

“Mas Rama sendiri ya?” tanya Sapri yang baru saja naik.

“Sendiri pala lo. Kita bareng-bareng sapri. Belum berangkat lo udah jet lag ya.”

“Maksud saya, duduk sendiri?”

“Kenapa, lo minta dipangku? Nggak ada, sana ke belakang. Gue jagain ibu bidan takut mendadak kedinginan.” Rama duduk di belakang Yuli.

“Idih, apaan lo.”

Dokter Oka sempat menoleh karena suara-suara perdebatan itu, tepat saat Lisa menatap ke depan dan pandangan mereka bertemu. Canggung, akhirnya Lisa mengangguk dengan senyum tipis karena tidak begitu kenal dengan Asoka.

Menyandarkan kepala bersiap untuk pemberangkatan, dalam hati Lisa sudah mengucap doa agar mereka selamat sampai tujuan dan kegiatan di sana berjalan lancar.

“Udah nih?” tanya Beni sudah melewati Lisa dan Yuli.

“Udah apaan bang?” tanya Rama menoleh karena Beni menempati kursi tunggal sebaris dengan Sapri di belakangnya.

“Udah siap jalan belum atau kita bubar saja sebelum masuk tol. Hah, gimana?”

“Jangan bercanda Bang Beni. Mending pimpin doa, biar berkah dan selamat,” usul Yuli ada benarnya.

“Oke. Kita doa dulu ya. Dokter Oka, maaf saya yang pimpin ya, secara usia saya paling muda.”

“Silahkan,” ujar dokter Oka.

“Kita mulai ya. Bismillahirrohmanirrohim. Bismika Allahumma ahya wa bismika amut.”

“Aamiin,” sahut Sapri.

“Selimut mana selimut.” Kali ini Rama yang menimpali karena Beni malah membaca doa mau tidur

“Baek-baek, malah tidur selamanya,” ejek Yuli lalu terkekeh.

“Ya ampun,” keluh Lisa tidak menduga kalau ia berada di tengah pemain dagelan. Entah seperti apa kehidupannya setahun ke depan bersama orang-orang spesial ini.

 

------

Rama : Ehem, tes-tes, disini lapak trio semprul. Para suhu jangan ada yang nongol ya

Sakti : Apaan nih, kisah gue baru tamat, masih pengen eksis. Gue jadi figuran nggak thor ?

2. Berharap Jodoh

Bab 2

 

 

“Kita berangkat ya,” ujar pak supir.

“Berangkat!” teriak Rama mirip ucapan tokoh tukang ojek yang ada di drama komedi TV.  Ditambah dengan celetuk Beni serta Sapri. Semakin menambah ramai suasana, padahal hanya ada enam orang tim. Namun, kegaduhan seolah ada sepuluh orang.

Oka, Asoka Harsa. Menarik nafasnya saat mobil perlahan melaju. Masih terdengar perdebatan di belakangnya, ia sempat menoleh lagi saat namanya disebut oleh Rama yang memohon maaf karena teman-teman lakn4tnya tidak bisa silent. Justru malah mulut dia yang sejak tadi tidak berhenti bicara.

Namanya tidak terpilih di list yang akan berangkat untuk mutasi ke pusat kesehatan di daerah. Yang dia tahu ada tiga titik lokasi dan yang terdekat adalah tujuannya sekarang. Desa Singajaya berada di salah satu kabupaten di Jawa barat. Perjalanan mereka kurang lebih lima jam, itu pun kalau tidak banyak berhenti dan ada kendala.

Jika yang lain berharap namanya tidak tercantum dalam list tim yang akan berangkat, berbeda dengan Asoka. Satu minggu sebelum keberangkatan dia membujuk salah satu tim untuk digantikan olehnya setelah memastikan Lisa ikut berangkat. Ya, Lisa. Gadis yang sudah dua tahun ini ia bidik dan kagumi dalam diam.

“Rama, ih.” Suara itu, terasa merdu seolah alarm dirinya. Lisa baru saja memekik karena Rama yang jahil.

Ingin sekali ia langsung beranjak ke belakang dan menarik Lisa agar duduk dengannya. Tenang adek sayang, ada abang di sini.

“Dokter Oka, bisa suntik mati si Rama nggak,” pinta Yuli agak berteriak.

Oka hanya tersenyum lalu menggeleng pelan.

“Percuma disuntik mati juga, bakalan hidup lagi dia. Ya Ram, ya,” ucap Beni.

“Iya kali gue jenglot.”

“Ram, ampun ih. Capek gue dari tadi ketawa mulu,” ungkap Lisa sambil cemberut. Menduga ia akan menyesal dengan perjalanan ini lalu meratapi diri dipojokan. Nyatanya seolah lupa dengan alasannya pergi, menghindar dari keluarganya yang toxic.

“Lah, yang suruh lo ketawa siapa? Bagus lo ketawa, dari pada nangis. Kalau diem-dieman, sepi Lis. Nanti lo mab0k, terus munt4h. Sini pindah duduk sama AA Rama, dijamin nggak boncos. Cuma rahang sama perut agak kram aja.”

Lisa berdecak lalu meraih ranselnya.

“Aku pindah.”

“Eh, Sa. Jangan di sebelah pak supir, nanti dia nggak konsen. Apalagi minta pangku.”

“Dasar somplak.” Lisa meninggalkan kursinya berharap bisa lepas dari kegaduhan dan canda yang trio semprul lakukan. Namun, sepertinya sia-sia, karena masih berada di dalam mobil yang sama.

“Iya, Rama memang mirip semp4k,” ejek Beni. “Tampaknya Lisa sering memandang wajah Rama ya. Hati-hati, jatuh cinta. Bisa bahaya.”

“Kalian ya, gue bius juga lo,” seru Yuli lalu memakai podsnya agar tidak terganggu dengan ocehan Rama dan Beni.

“Dok, saya duduk sini ya.” Lisa rupanya memilih kursi tunggal sejajar dengan Asoka.

Oka pun menoleh. “Iya, silahkan.” Lisa sudah duduk dengan nyaman dengan pandangan ke luar jendela berada di bawah tatapannya. Selalu begitu, menatap dan curi pandang dalam diam.

Lantai tiga di mana bangsal khusus anak dan balita tempat Lisa bertugas. Asoka semangat ketika ada pasien UGD yang harus ditransfer ke bangsal tersebut. Kalau kebetulan ia akan bertemu dengan Lisa, karena pasien lantai tiga biasanya diambil sendiri oleh perawat yang bertugas.

Bukan pengecut karena tidak berani mengutarakan perasaannya, mereka tidak sedekat itu dan yang Oka tahu ada pria lain yang sedang dekat bahkan mungkin sudah menjadi kekasihnya. Tidak berharap lebih, tapi Oka akan memanfaatkan kegiatan untuk lebih dekat dengan gadis itu. Lisa Kanaya.

***

“Sa, Lisa. Mau turun nggak?”

Lisa menggeliat pelan sambil mengerjap. Menyadari mobil sudah berhenti lalu menoleh ke belakang. Trio semprul sudah tidak ada, Yuli baru beranjak dari kursinya.

“Sorry, saya bangunin. Takutnya kamu perlu ke toilet. Ini sudah dua jam perjalanan.”

“Oh, iya dok. Makasih.” Lisa membuka ransel mengeluarkan clutch lalu beranjak dari kursinya. Diikuti oleh Asoka.

Tanpa gadis itu tahu, Oka berjalan di belakangnya sambil mengu-lum senyum. Berada dalam jangkauan sedekat ini, bahkan sempat menyentuh bahu gadis itu saat membangunkan. Mana tahu berikutnya dia bangunkan dengan mengusap kepala atau mencium pipi.

“Dok, ngopi dulu.”

Teriakan yang mengganggu membuatnya menoleh lalu menunjuk ke arah toilet. Siapa lagi kalau bukan Rama.

“Woy, Lisa. Bentar lagi kita sampai Bandung. Lo jangan minta mampir ke rumahnya Rizwan Karim ya,” pekik Rama lagi.

“Pe4,” ucap Lisa meneruskan langkahnya.

“Emang sinting si Rama. Sarapan apaan kali, sepanjang tadi nggak bisa diem.” Yuli menunggu Lisa lalu memeluk lengan dan berbisik di telinga Lisa tanpa menghentikan langkah. Berikutnya malah terkikik bersama.

“Samanya kamu kayak Rama, bocor,” ucap Lisa lalu mendorong pelan Yuli agar menjauh.

“Yey, enak aja.”

Selesai dengan urusan di toilet, Yuli mengajak Lisa menuju stant minuman ternyata sudah ada Asoka di sana, menunggu satu orang pembeli sedang dilayani.

“Pesan saja, saya traktir.”

Lisa dan Yuli saling tatap mendengar tawaran dari Asoka.

“Hm ….”

“Saya matcha,” ujar Yuii menyela Lisa bahkan sudah ikut mengantri, padahal Lisa ingin menolak. Mereka belum begitu akrab, rasanya agak aneh sampai ditraktir tiba-tiba begini.

“Sa, lo mau pesan apa?”

“Silahkan,” seru Asoka mempersilahkan Lisa melihat menu dengan Yuli, setelah pembeli sebelumnya sudah mendapatkan pesanan.

“Yang mana, kayaknya enak semua. Kita puas-puasin makan begini, di sana belum tentu ada yang jual.”

Akhirnya pesanan Yuli sudah jadi. “Makasih ya dok,” ujarnya langsung dinikmati dan menuju trio semprul.

“Sudah siap meninggalkan hiruk pikuk Jakarta, setahun lumayan loh,” ujar Oka memulai percakapan.

Lisa yang tadinya memperhatikan si penjual dengan cetakan membuat es boba pilihannya, menoleh dan tersenyum.

“Siap nggak siap dok. Dinamika pekerjaan kayaknya sama aja, paling nggak bisa tinggalkan neraka di rumah.”

“Hah, maksudnya?”

Melihat Asoka yang mengernyit heran, Lisa malah terkekeh. “Bercanda dok. Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh.”

“Boleh saya aamiinkan?”

 

3. Jantung Gue

Bab 3

“Boleh saya aminkan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh.”

“Eh -- " Lisa menggaruk kepalanya, padahal dia Cuma bercanda dan ditanggapi Asoka seolah serius. Mana dijawab dengan kebetulan pula. “Jodoh ‘kan rahasia Tuhan. Ya Aminkan aja.”

Asoka terkekeh setelah Lisa dengan wajah polos agak melongo kayak orang beg0 mendengar penuturan Asoka. “Aamiin, semoga doa kita dikabulkan.” Asoka kembali tertawa melihat raut wajah Lisa.

“Mbak.”

“Lisa,” panggil Asoka menunjuk ke arah penjual dengan dagunya.

“Eh, makasih ya bang,” ujar Lisa menerima cup berisi minuman miliknya. Sempat terpesona melihat Asoka yang tertawa menunjukan deret giginya yang rapi dan putih mirip iklan pasta gigi. Sejak pertemuan persiapan keberangkatan termasuk tadi pagi, tidak pernah melihat Asoka bercakap-cakap apalagi bercanda, terlihat dingin dan cuek, tapi ini … wow. Gantengnya makin komplit, semakin dilihat semakin ada manis-manisnya gitu.

Berbeda dengan Yuli yang sudah bergabung dengan trio semprul bahkan sempat menjerit dan memukul Rama entah apa yang dikatakan pria itu, Lisa masih di sana sambil menikmati minuman.

Asoka memanggil Rama menunjuk stand minuman itu.

“Nggak dok, udah ngopi saya,” ujar Rama, sama dengan Beni yang menolak secara halus. Sapri mendekat lalu ikut memesan.

“Mau beli yang lain?” tanya Asoka setelah membayar dan es kopi miliknya sudah habis setengah. “Tapi di kota sebelum sampai supir bilang mau berhenti, khawatir kita butuh beli sesuatu.”

“Oh, ya di sana aja kali ya.”

“Sa, ayo, Mau jalan lagi,” ajak Yuli.

“Iya. Makasih ya dok, traktirannya.”

“Hm.”

Pemandangan menuju lokasi lumayan menarik penglihatan. Keluar tol dan sudah berada di daerah Garut Jawa Barat, tiga puluh menit mereka sudah memasuki jalan kecamatan. Dimana jalan raya digunakan untuk dua jalur. Suasana lebih hening karena Rama ternyata tidur. Biang rusuh memang dia dan menjadi lengkap karena ditimpali Beni.

“Sampe mana ini? Masih Indonesia ya, gue kira udah nyampe surga.”

Rama mulai lagi, padahal tadi cukup adem. Bukan hanya karena AC, tapi telinga terasa adem dari suara bac0t pria itu.

“Sinting lo,” ejek Yuli.

“Eh, mulutnya. Sentil nih. Sapri, ini Jule coba dididik dulu, apa kurang dikok0p semalam.”

“Rama,” pekik Yuli kesal karena seenaknya mengganti Yuli dengan Jule, mirip yang lagi viral.

Lisa tidak tahan untuk tidak mengikik, Oka tersenyum menoleh ke arahnya.

“Kok0p itu apa mas?” tanya Sapri dari kursi belakang.

“Itu loh Pri, alas kaki perempuan dipake kalau undangan atau pesta. Masa kau nggak tahu.” Beni menimpali.

“Itu selop, ngaco.” Yuli masih greget dengan kedua pria itu.

“Oh, sudah ganti kah? Salah Pri, kamu cari aja di google ya.”

“Mbak Lisa, kok0p apa gitu?” Sapri masih penasaran.

“Astaga, nggak usah dianggap Mas Pri. Rama emang aneh, udah abaikan aja,” sahut Lisa dari kursi depan.

“Sapri butuh demo Sa, biar nggak gagal paham. Jule ayo kita demo kok0p biar Sapri cepet gede.”

“Emang minta dijahit mulut lo ya.” Yuli beranjak dari kursi alu memukuli Rama dengan bantal lehernya.

“Bah, agresif kali si Yuli. Sudah-lah Pri, kamu tanya mbah aja. Nggak usah lagi memperkeruh suasana, takutnya Rama keenakan sama Yuli.”

“Ya udah, nggak jadi tanya saya.”

Perdebatan absurd itu terhenti karena jalanan yang membuat mobil agak bergoyang dan melaju pelan.

“Jalannya gak rata ya?”

“Iya, kayak muka lo yang jerawatan,” ejek Rama pada Yuli dan tatapannya tertuju ke luar jendela.

“Becek ya mas.” Kali ini Sapri ikut bicara dan pemandangannya pun sama keluar jendela menatap suasana pedesaan.

“Iya, mana nggak ada ojek. Belagu lo Pri, emang di kampung lo kagak becek.”

Jalanan berikutnya melewati persawahan dan perkebunan, jalanan mulai lebih baik dibandingkan yang tadi. Semakin jauh dari hiruk pikuk kota. Bahkan jalanan mulai menanjak dan berkelok karena berada di wilayah pegunungan.

“Ini kantor kecamatan Cisewu,” ujar pak supir. “Pusat kesehatan ada di Desa Singajaya, kira-kira 1 kilo lagi.”

Tidak ada yang menyahut, sebagian ada mengangguk dan berdehem saja karena fokus menikmati jalanan dan pemandangan yang mereka lewati.  Apalagi saat mobil memasuki area tempat bertugas mereka, tidak jauh dari kantor desa. Melewati pagar dengan tulisan besar. “Pusat Kesehatan Masyarakat Kecamatan Singajaya.”

“Ini … tempatnya?” tanya Yuli.

“Bukan, tempat lo mah di Mars. Bantuin alien beranak,” sahut Rama. “Ya ini, tadi nggak baca plangnya yang segede gaban.”

“Sudah sampai ya, mas,mbak,” ujar supir.

Mereka tiba hampir maghrib, lepas dari Jakarta hampir pukul 1 siang. Tempat mereka bertugas terlihat sudah sepi dan terkunci ada ruang dengan tulisan IGD, tampak sepi juga.

“Ini kita langsung nugas?” Yuli mulai cerewet macam Rama.

Lisa menatap sekitar, area parkir yang masih tanah bahkan ada pohon besar begitu rindang. Kalau malam pasti berkesan horror.

“LO aja kali,” sahut Rama.

Supir yang mengantarkan mereka menjelaskan kalau hunian yang akan mereka tempati selama bertugas berada tidak jauh dari sana.

“Saya antar ke sana, bawaannya diturunin dulu. Koper aja, yang lain bisa besok diambil lagi. Yang penting kebutuhan untuk malam ini aja. Saya balik ke Jakarta besok sore, bawa tim yang mau pulang.”

“Loh maksudnya bapak nggak nganter kita sampai rumah tinggal?”

“Nggak mbak. Jalannya kecil, jalan setapak. Paling motor aja yang bisa lewat.”

“Ya ampun mimpi gue semalem,” keluh Yuli

“Semalam aku mimpi, mimpi buruk sekali.” Rama malah berdendang.

Rama, Deni dan Sapri sudah duluan begitu juga dengan Yuli yang terus mengoceh mengeluhkan situasi apalagi jalanan becek membuat sepatu dan celananya kotor.

Lisa berjalan agak lambat bahkan sempat terhenti untuk mengeratkan cardigan, dan Asoka mengekor langkahnya.

“Mau saya bantu?”

Asoka bertanya, bahkan Lisa belum menjawab tapi pegangan koper sudah diambil alih dan tanpa sungkan berjalan mensejajarinya.

“Dok, saya bisa sendiri.” Merasa tidak enak dengan sikap Asoka, jangan sampai trio semprul juga Yuli melihat dokter Asoka menyeret dua koper yang mana salah satu adalah miliknya.

“Ayo, cepat. Udah mau maghrib.”

Lisa mengulum senyum karena perhatian dari Asoka. Tidak mau kepedean apalagi kegeeran, merasa Asoka berbeda dengan kesan yang terlihat. Bisa jadi dia baik pada semua orang, khususnya perempuan. Mungkin kali ini Lisa tampak memprihatinkan, makanya Asoka tidak tega melihatnya menyeret koper seperti tereliminasi dari kehidupan.

Mau ambil foto, tapi nggak enak. Bisa heboh Manda kalau tahu dokter Asoka sebaik dan se-sweet ini.

“Lisa, kenapa lo. Kesambet ya, senyum-senyum nggak jelas.”

Suara jelek Rama mengenyahkan momen lucu yang dia bayangkan dan langsung berdecak. Beni, Rama, Sapri juga Yuli sudah berada di beranda sebuah rumah. Asoka terlihat membuka sepatunya dan mengangkat koper menaiki undakan tangga menuju beranda.

“Ganggu aja, orang mau nge-halu,” ujarnya sambil menghentakan kaki. Namun, wajah Oka yang menoleh dan menatapnya tidak bisa dipungkiri kembali membuatnya mengu-lum senyum.

“Jantung gue,” batin Lisa saat ia kembali beradu tatap dengan si ganteng dokter Asoka Harsa.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!