Senja di Desa Sukamaju selalu membawa ketenangan bagi orang lain, namun tidak bagi Amara. Gadis berusia sembilan belas tahun itu duduk bersimpuh di atas dipan kayu yang sudah reyot. Tangannya meremas pinggiran baju kurungnya yang terasa semakin sesak di bagian dada. Ada rasa nyeri yang berdenyut-denyut, seolah-olah ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari dalam tubuhnya.
Sejak sebulan lalu, tubuh Amara mengalami perubahan aneh. Meski ia masih suci dan belum pernah disentuh lelaki manapun, kelenjar di dadanya terus memproduksi cairan kehidupan. Setiap pagi, ia harus diam-diam mengganti kain penutup dadanya yang basah kuyup. Ia merasa seperti sebuah anomali, sebuah rahasia medis yang ia simpan rapat-rapat karena takut dianggap aneh oleh orang-orang desa.
Namun, rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya saat melihat sang ibu, Sumiyati, menangis di dapur. Utang peninggalan mendiang ayahnya sudah menumpuk, dan para penagih utang mulai berdatangan dengan ancaman kasar. Amara melihat kedua adiknya, Sekar dan Bimo, yang sedang berbagi satu piring nasi jagung tanpa lauk. Hati Amara hancur berkeping-keping melihat pemandangan itu.
"Ibu, Amara akan berangkat ke Jakarta besok," ucapnya dengan suara yang bergetar namun tegas. Ia tahu, kecantikannya yang polos dan tubuhnya yang ranum bisa menjadi beban di desa, tapi di kota besar, ia berharap itu bisa menjadi jalan untuk mencari nafkah yang layak.
Perjalanan menuju ibu kota terasa seperti mimpi buruk yang panjang. Amara duduk di dalam bus ekonomi yang sesak, memeluk tas ranselnya erat-erat. Sepanjang jalan, ia hanya bisa memandang ke luar jendela, melihat sawah-sawah hijau berganti menjadi deretan pabrik, lalu akhirnya berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit yang angkuh. Jakarta menyambutnya dengan hawa panas dan kebisingan yang mencekik.
Sesampainya di sebuah mansion megah di kawasan elit, Amara merasa sangat kecil. Bangunan itu begitu besar, seolah-olah bisa menelan dirinya bulat-bulat. Di sanalah ia bertemu dengan Arlan Aditama, seorang pria yang memiliki segalanya kecuali kebahagiaan. Arlan adalah sosok yang dingin, dengan tatapan mata yang sekeras baja dan hati yang sudah membatu sejak istrinya pergi demi pria lain.
Di rumah mewah itu, suasana terasa mencekam. Tangisan bayi berusia tiga bulan, Kenzo, menggema di setiap sudut koridor. Bayi malang itu adalah korban dari pengkhianatan ibunya sendiri. Kenzo menolak semua susu formula yang diberikan. Ia merindukan kehangatan manusia yang asli, bukan plastik botol yang steril dan dingin. Arlan, yang frustrasi melihat putranya menderita, hampir kehilangan akal sehatnya.
Saat Amara pertama kali melangkah masuk ke kamar bayi, sesuatu yang aneh terjadi. Dada Amara berdenyut hebat. Aroma bayi yang khas itu memicu reaksi hormonal yang luar biasa di tubuhnya. Amara merasa dadanya kencang dan berat, seolah-olah tubuhnya mengenali kebutuhan bayi itu. Ada sebuah koneksi primitif yang tiba-tiba terjalin antara gadis perawan dari desa dan bayi yang haus akan kasih sayang ibu itu.
Amara tahu ia berada di ambang keputusan yang berbahaya. Jika ia memberikan apa yang ia miliki kepada Kenzo, ia mungkin akan menyelamatkan nyawa bayi itu, namun ia juga akan terjerat dalam hubungan yang rumit dengan Arlan. Arlan yang penuh luka, Arlan yang penuh amarah, dan Arlan yang kini menatapnya dengan penuh kecurigaan namun juga dengan ketertarikan yang tidak ia sadari.
Gairah yang akan tumbuh di mansion ini bukan hanya tentang sentuhan kulit, melainkan tentang pertemuan dua kutub yang berbeda. Amara adalah kehidupan yang mengalir jernih, sementara Arlan adalah kekosongan yang gelap. Di tengah kemewahan yang sunyi, rahasia tentang cairan manis yang keluar dari tubuh Amara akan menjadi jembatan sekaligus jurang di antara mereka.
Kini, Amara berdiri di depan pintu kamar bayi, bersiap untuk menghadapi takdirnya. Ia bukan hanya datang untuk menjadi seorang pengasuh yang mengganti popok atau mengayun buaian. Ia datang sebagai sumber kehidupan. Ia datang untuk memadamkan dahaga Kenzo, dan tanpa ia sadari, ia juga akan memadamkan kekosongan di hati sang tuan rumah yang selama ini mati rasa.
Prolog ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Sebuah kisah tentang pengabdian seorang anak kepada keluarganya di desa, yang menyeretnya ke dalam pusaran gairah di ibu kota. Di bawah lampu kristal mansion Aditama, tetesan pertama itu akan segera jatuh, mengubah hidup Amara, Kenzo, dan Arlan untuk selamanya. Dan perjalanan penuh gairah itu, baru saja dimulai.
...✨ Dear Readers, ✨...
...Selamat datang di cerita pertamaku. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mampir dan membaca. Semoga kalian menikmati setiap alur dan emosi yang ada di dalam cerita ini ya, guys 🤍...
...Perlu aku sampaikan, cerita ini murni fiksi. Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, atau kejadian dengan dunia nyata, itu hanyalah ketidaksengajaan semata....
...📌 Penting:...
...Novel ini diperuntukkan khusus untuk usia 21+. Mohon bijak dalam membaca dan pastikan kamu merasa nyaman dengan isi ceritanya....
...Dukung karya ini dengan cara sederhana tapi berarti:...
...💬 tinggalkan like, komen, dan jangan lupa follow ya, guys....
...⚠️ Info penting lainnya, mohon tidak melompat bab, karena hal tersebut sangat mempengaruhi alur cerita dan retensi buku ini. Nikmati ceritanya secara berurutan agar pesan yang ingin disampaikan bisa terasa utuh....
...✨ Selamat membaca dan semoga terhanyut dalam ceritanya. ✨...
...— Your Grace 🤍...
Udara fajar di Desa Sukamaju masih terasa menusuk tulang, namun Amara sudah sibuk di dapur kecil mereka yang berdinding bambu. Sambil menahan rasa sesak yang mulai menyerang dadanya—sensasi kencang yang kini rutin menyapanya setiap pagi—ia membungkus nasi jagung dan sambal teri ke dalam daun pisang.
"Nduk, benar kamu mau pergi sekarang?"
Amara menoleh. Ibunya, Ibu Sumiyati, berdiri di ambang pintu dapur dengan mata yang sembap. Di belakangnya, dua adik Amara, Sekar yang berusia tujuh tahun dan Bimo yang masih lima tahun, mengucek mata karena baru bangun tidur.
Amara memaksakan senyum, meski hatinya terasa seperti diremas. "Ibu, kalau Amara tidak pergi ke Jakarta, bagaimana dengan biaya sekolah Sekar dan Bimo? Utang kita pada rentenir itu juga harus segera dilunasi, Bu."
"Tapi Jakarta itu jauh, Mara. Kamu baru lulus sekolah. Ibu merasa gagal sebagai orang tua kalau harus melepasmu jadi babu di sana," isak Sumiyati sambil mengelus bahu putrinya yang nampak tegap namun sebenarnya rapuh.
"Mbak Mara mau pergi?" Bimo berlari kecil dan memeluk kaki Amara. "Mbak jangan pergi... nanti siapa yang menemani Bimo mencari belalang?"
Amara berlutut, menyetarakan tingginya dengan sang adik. Ia mengelus pipi Bimo yang bulat. "Bimo anak pintar, kan? Mbak pergi sebentar untuk cari uang supaya Bimo bisa beli tas baru dan susu yang enak. Nanti kalau Mbak pulang, Mbak bawakan mainan yang besar."
"Benar ya, Mbak?" tanya Bimo dengan mata berbinar. Amara mengangguk mantap, meski tenggorokannya terasa tersumbat.
Sekar, yang lebih dewasa dari usianya, hanya diam mematung. Ia mendekat dan membisikkan sesuatu. "Mbak... bajunya basah lagi?"
Amara tersentak. Ia segera menarik kain selendang untuk menutupi bagian dadanya. Rembesan itu muncul lagi. "Ssttt... tidak apa-apa, Sekar. Mbak hanya... sedikit berkeringat."
"Bukan keringat, Mbak. Baunya manis," bisik Sekar polos.
Amara segera memeluk kedua adiknya erat-erat, menyembunyikan wajahnya agar mereka tidak melihat air matanya jatuh. Hanya ia yang tahu rahasia medis aneh yang ia alami. Ia sempat membaca di buku kesehatan perpustakaan sekolah—sesuatu tentang kelebihan hormon—namun ia terlalu takut untuk bercerita pada ibunya yang sudah banyak beban.
"Amara janji, Bu," ujar Amara sambil berdiri dan mencium punggung tangan ibunya dengan takzim. "Setiap bulan Amara akan kirim uang. Jaga kesehatan Ibu, jaga Sekar dan Bimo. Amara akan baik-baik saja di rumah Tuan Aditama itu. Katanya mereka orang baik."
Sumiyati menyerahkan sebuah bungkusan kain berisi bekal. "Ini untuk di jalan. Hati-hati, Nduk. Jaga kehormatanmu. Di kota besar, banyak serigala berbulu domba."
Amara mengangguk, namun dalam hatinya ia membatin, 'Biarlah serigala itu datang, asal keluargaku bisa makan.'
Dengan tas ransel usang dan hati yang berdegup kencang, Amara melangkah keluar dari rumah mungilnya. Ia tidak menoleh lagi saat bus ekonomi antar-provinsi itu mulai menjauh, karena ia tahu, jika ia menoleh, ia tidak akan pernah sanggup untuk pergi.
Ia tidak tahu, bahwa di Jakarta nanti, ia bukan sekadar pengasuh bayi, melainkan oase bagi seorang pria yang hatinya telah lama gersang.
***
Amara menarik napas panjang saat pintu bus ekonomi itu terbuka di Terminal Kalideres. Aroma polusi, asap knalpot, dan hiruk-pikuk manusia menyambutnya dengan kasar. Namun, semua kelelahan itu seolah menguap saat ia menatap cakrawala.
Gedung-gedung pencakar langit berdiri angkuh, menembus awan tipis Jakarta. Bagi Amara, bangunan itu tampak seperti raksasa kaca yang memantulkan cahaya matahari sore.
"Luar biasa... tinggi sekali," gumam Amara pelan sambil mengeratkan pegangan pada tas ranselnya. Matanya tak berkedip menatap kemegahan yang tak pernah ia temui di balik bukit desanya.
"Jangan melamun, nanti dicopet," sebuah suara perempuan yang renyah mengejutkannya.
Amara menoleh dan mendapati seorang wanita berusia sekitar 40 tahun dengan pakaian rapi namun sederhana. Dialah Mbak Lasmi, kerabat jauh yang menjanjikan pekerjaan untuknya.
"Mbak Lasmi!" Amara tersenyum lega, merasa punya pelindung di hutan beton ini.
"Ayo, Mara. Kita naik taksi saja. Tuan Arlan sudah menunggu. Bayinya rewel terus dari tadi pagi," ajak Mbak Lasmi sambil menarik tangan Amara menuju deretan mobil yang mengantre.
Di dalam kendaraan menuju kawasan elit Menteng, Amara tak henti-hentinya menempelkan wajah ke kaca jendela. Ia terpukau melihat deretan mobil mewah dan lampu-lampu kota yang mulai menyala. Namun, suasana berubah serius saat Mbak Lasmi mulai memberikan instruksi dengan nada rendah dan tegas.
"Dengar baik-baik, Mara. Bekerja di kediaman Aditama itu tidak sama dengan di desa. Gajimu besar, sangat cukup untuk biaya sekolah Sekar dan Bimo tiap bulan, tapi tanggung jawabmu juga berat."
Amara mengangguk cepat, wajahnya menunjukkan keseriusan. "Apa saja yang harus Amara lakukan, Mbak? Amara akan belajar cepat."
"Tugas utamamu hanya satu: menjaga Baby Kenzo. Dia baru tiga bulan, malang sekali nasibnya ditinggal ibunya begitu saja. Tapi ingat satu hal," Mbak Lasmi menatap mata Amara dengan tajam, "Jangan pernah bertanya soal istrinya Tuan Arlan. Di rumah itu, nama wanita itu dilarang untuk diucapkan. Jangan memancing kemarahan Tuan."
"Baik, Mbak. Amara janji tidak akan lancang."
"Lalu tentang Tuan Arlan..." Mbak Lasmi menghela napas panjang. "Dia orang yang sangat dingin. Sangat kaku. Kalau dia lewat, cukup menunduk dan jangan berani menatap matanya terlalu lama kecuali dia yang bicara duluan. Dia tidak suka kebisingan, tidak suka kecerobohan, dan yang paling penting... jangan sekali-kali menyentuh barang-barang di ruang kerjanya."
Amara menelan ludah, rasa gugup mulai menjalar hingga ke ujung jemarinya. "Tuan Arlan... apa dia orang yang temperamental, Mbak?"
"Dia hanya pria yang sedang terluka, Mara. Hatinya membatu sejak dikhianati istrinya. Oh ya, satu lagi," Mbak Lasmi memperhatikan Amara dari atas ke bawah. "Tuan Arlan sangat gila kebersihan. Kamu harus selalu rapi dan wangi. Dan... apakah kamu sudah siap? Kamu harus siap siaga 24 jam karena Baby Kenzo menolak semua jenis susu formula. Dia sangat sulit ditenangkan."
Amara meraba dadanya yang terasa berdenyut nyeri. Rembesan hangat itu muncul lagi, membasahi kain pakaian dalamnya hingga terasa lembap. "Amara akan berusaha sekuat tenaga, Mbak. Amara benar-benar butuh pekerjaan ini demi Ibu di desa."
Taksi kemudian berhenti di depan gerbang hitam yang menjulang tinggi. Saat gerbang otomatis itu bergeser pelan, sebuah mansion megah bergaya Eropa modern berdiri dengan angkuh di balik taman yang tertata rapi.
"Ingat pesan Mbak tadi, Mara," bisik Mbak Lasmi saat mereka turun dari mobil. "Jangan bicara kalau tidak perlu, dan anggap Baby Kenzo seperti duniamu sendiri. Mengerti?"
"Mengerti, Mbak," jawab Amara pelan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila.
Saat mereka melangkah masuk ke teras luas yang terbuat dari marmer mengkilap, sayup-sayup terdengar suara tangisan bayi yang menyayat hati dari lantai atas, diiringi suara bentakan rendah seorang pria yang terdengar sangat frustrasi.
"Kenapa dia tidak mau diam?! Apa tidak ada satu pun dari kalian yang becus mengurus bayi?!"
Amara gemetar. Suara itu begitu berat dan penuh otoritas. Langkah kakinya terasa berat, namun ia tahu, di balik pintu besar itu, nasib keluarganya ditentukan.
Langkah kaki Amara terasa berat saat menaiki tangga melingkar yang dilapisi karpet tebal itu. Semakin dekat ia ke lantai atas, semakin jelas suara tangisan bayi yang melengking, bercampur dengan suara barang yang digeser kasar. Mbak Lasmi yang berjalan di depannya tampak tegang, berkali-kali merapikan seragamnya sendiri seolah sedang bersiap masuk ke medan perang.
"Tunggu di sini sebentar," bisik Mbak Lasmi saat mereka sampai di depan sebuah pintu kayu jati besar yang tertutup rapat.
Mbak Lasmi mengetuk pintu itu perlahan. "Tuan... pengasuh barunya sudah sampai."
"Masuk!" Suara itu tidak hanya berat, tapi juga mengandung getaran amarah yang tertahan.
Begitu pintu terbuka, pemandangan di dalam kamar itu membuat Amara terpana. Kamar bayi itu sangat luas, mungkin seukuran seluruh rumahnya di desa, namun suasananya terasa begitu menyesakkan. Di tengah ruangan, seorang pria dengan kemeja hitam yang sudah berantakan tampak mondar-mandir sambil menggendong seorang bayi yang terus meronta.
"Dia tetap tidak mau menyentuh botolnya, Lasmi! Sudah tiga jenis susu formula diganti hari ini!" seru Arlan tanpa menoleh. Wajahnya terlihat lelah dengan gurat frustrasi yang nyata di keningnya.
Mbak Lasmi segera memberi kode pada Amara untuk mendekat. Amara melangkah maju, kepalanya tertunduk sesuai instruksi, namun matanya sempat menangkap sosok Arlan dari dekat. Pria itu jauh lebih tinggi dari yang ia bayangkan, dengan rahang tegas dan aroma parfum kayu yang sangat maskulin—bercampur dengan aroma susu bayi yang masam.
"Ini Amara, Tuan. Gadis yang saya ceritakan dari desa," ujar Mbak Lasmi pelan.
Arlan menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Amara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya begitu tajam, seolah sedang membedah setiap rahasia yang dibawa Amara.
"Dia? Dia masih anak-anak," desis Arlan dingin. "Apa dia tahu cara mengurus bayi? Kenzo sedang sangat rewel, aku tidak butuh amatiran di sini."
Amara memberanikan diri sedikit mengangkat wajahnya, meski ia segera menunduk lagi saat matanya bertemu dengan mata gelap Arlan yang mengintimidasi. "Saya... saya terbiasa menjaga kedua adik saya sejak kecil, Tuan. Saya mohon beri saya kesempatan."
"Argh!" Arlan mengerang saat Kenzo, bayi di pelukannya, kembali menangis lebih kencang hingga wajahnya memerah. Arlan tampak kehilangan kesabaran. Tanpa banyak kata, ia menyodorkan bayi mungil itu ke arah Amara. "Ambil. Buktikan padaku kalau kau berguna, atau kau akan dipulangkan malam ini juga."
Amara dengan sigap menerima tubuh mungil Kenzo. Begitu kulit bayi itu bersentuhan dengan lengannya, sebuah gelombang hangat yang luar biasa tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh Amara. Dadanya berdenyut kencang, rasa nyeri akibat tumpukan cairan di dalam sana seolah menemukan "pemicunya".
Anehnya, begitu berada di pelukan Amara, Kenzo perlahan mulai tenang. Isakannya mengecil menjadi rengekan halus. Bayi itu menyandarkan kepalanya di dada Amara, tepat di titik yang paling nyeri, dan mulai mengendus-endus seolah mencium aroma yang ia kenali.
Arlan tertegun. Ia menyipitkan mata, memperhatikan bagaimana bayi yang tadinya tidak bisa ditenangkan oleh siapa pun, tiba-tiba menjadi jinak di tangan gadis desa ini.
"Kenapa dia bisa langsung tenang?" tanya Arlan, suaranya kini merendah, namun tetap terasa mengancam.
"Mungkin... Tuan Kenzo hanya butuh pelukan yang nyaman, Tuan," jawab Amara gugup. Jantungnya berdebar bukan karena takut saja, tapi karena rembesan di dadanya semakin tak terkendali. Ia bisa merasakan pakaian dalamnya mulai basah kuyup.
"Lasmi, tinggalkan kami. Biarkan dia mencoba memberi susu sekali lagi di depanku," perintah Arlan mutlak.
Mbak Lasmi memberikan tatapan khawatir pada Amara sebelum keluar dan menutup pintu. Kini, di ruangan luas itu, hanya ada Amara, sang bayi yang mulai gelisah mencari-cari sesuatu di dadanya, dan Arlan yang berdiri hanya beberapa langkah darinya, mengawasi dengan tangan bersedekap.
Amara menelan ludah. Ia tahu Kenzo bukan mencari botol susu plastik yang tergeletak di meja. Kenzo mencari sumber kehidupan yang saat ini sedang menyiksa tubuh Amara.
***
Amara merasa keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Kenzo di pelukannya mulai bertingkah lebih agresif; tangan mungil bayi itu mencengkeram kemeja Amara tepat di bagian dadanya yang kencang, sementara kepalanya terus bergerak liar, mengendus-endus mencari sumber aroma manis yang memabukkan indra penciumannya.
Rasa nyeri di dada Amara sudah tidak tertahankan lagi. Ia tahu, jika ia tidak segera mengeluarkan asinya, bukan hanya Kenzo yang akan meledak dalam tangis, tapi bajunya juga akan basah kuyup karena rembesan yang mulai tak terbendung.
"Tuan... maaf," suara Amara bergetar, ia melangkah mundur satu pijakan. "Bolehkah... bolehkah saya meminta Tuan keluar sebentar saja? Saya ingin mencoba menenangkan Tuan Kenzo sendirian. Mungkin dia butuh suasana yang lebih tenang tanpa ada orang lain."
Alis Arlan bertaut seketika. Matanya yang tajam menyipit, menatap Amara dengan tatapan yang seolah bisa menembus jantung gadis itu.
"Kau mengusirku dari kamar anakku sendiri?" tanya Arlan dengan nada rendah yang sangat mengintimidasi.
"Bukan begitu, Tuan... saya hanya berpikir mungkin Tuan Kenzo merasa tegang karena suasana di sini terlalu... kaku," Amara mencoba mencari alasan, tangannya semakin erat mendekap Kenzo yang mulai merengek frustrasi.
Arlan melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. Amara bisa mencium aroma maskulin Arlan yang kuat, yang entah mengapa membuat hormon di tubuhnya semakin bereaksi gila-gilaan.
"Dengar, Gadis Desa," ucap Arlan, suaranya kini tepat di depan wajah Amara. "Aku baru saja mengenalmu sepuluh menit yang lalu. Kau orang asing. Kau pikir aku akan membiarkanmu berduaan dengan putraku tanpa pengawasanku? Jangan harap."
"Tapi Tuan, Tuan Kenzo benar-benar butuh ketenangan. Saya janji tidak akan berbuat macam-macam," pinta Amara nyaris memohon. Bayi itu kini mulai menarik-narik kerah baju Amara dengan mulut yang terbuka, mencari-cari.
"Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan sampai aku tidak boleh melihatnya?" tanya Arlan curiga. Matanya turun, memperhatikan tangan Amara yang terus-menerus menekan dadanya sendiri seolah menahan rasa sakit. "Kenapa tanganmu di situ? Kau menyembunyikan sesuatu?"
Wajah Amara memerah padam. "Tidak, Tuan. Saya... saya hanya..."
"Jangan berbohong padaku!" bentak Arlan pelan namun menusuk. "Ambil botol susunya dan berikan padanya sekarang. Di depanku. Aku ingin melihat bagaimana cara kau bekerja."
"Dia tidak mau botolnya, Tuan! Lihatlah, dia menolaknya!" Amara berseru putus asa saat Kenzo mulai menjerit lagi karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Tangisan Kenzo kali ini jauh lebih memilukan. Bayi itu menendang-nendang, dan secara tidak sengaja sikutnya menekan dada Amara yang sedang bengkak. Amara merintih pelan, air mata mulai menggenang di sudut matanya karena perpaduan rasa sakit fisik dan tekanan mental.
"Kenapa kau menangis? Hanya karena aku memarahimu?" Arlan tampak terkejut melihat air mata gadis itu, namun egonya tetap tinggi.
"Tolong, Tuan... saya mohon," bisik Amara di sela isakannya. "Biarkan saya mencoba cara saya. Saya menjamin Tuan Kenzo akan diam dalam lima menit. Kalau tidak, Tuan boleh mengusir saya saat ini juga. Tapi tolong... berikan kami privasi sebentar saja."
Arlan terdiam. Ia melihat putranya yang menderita dan melihat gadis di depannya yang tampak begitu tersiksa oleh sesuatu yang tidak ia pahami. Ada dorongan di dalam hati Arlan untuk membentak lagi, namun melihat kerapuhan Amara, sesuatu yang asing berdesir di hatinya.
"Dua menit," desis Arlan akhirnya sambil berbalik arah menuju pintu. "Aku akan berdiri tepat di balik pintu ini. Jika aku mendengar suara yang mencurigakan, aku akan masuk dan kau akan menyesal karena telah menginjakkan kaki di rumah ini."
BRAK!
Pintu jati itu tertutup dengan keras.
Amara mengembuskan napas lega yang gemetar. Ia segera mengunci pintu dari dalam, meskipun ia tahu Arlan mungkin sedang mengawasinya lewat CCTV atau berdiri tepat di balik kayu itu.
"Cup... cup, Sayang. Maafkan Mbak ya," bisik Amara pada Kenzo.
Dengan tangan gemetar, Amara duduk di kursi goyang di sudut kamar. Ia membuka kancing seragamnya satu per satu. Begitu kain itu terbuka, Kenzo langsung terdiam, matanya yang basah menatap lekat ke arah Amara. Saat Amara mendekatkan bayi itu ke dadanya, Kenzo langsung menyambar dengan rakus, seolah telah menemukan harta karun yang hilang.
Slruup...
Amara memejamkan mata, kepalanya tersandar ke belakang. Rasa sakit yang menyiksa itu perlahan berganti dengan kelegaan yang luar biasa. Namun di balik pintu, Arlan berdiri mematung. Keheningan yang tiba-tiba di dalam kamar itu justru membuatnya semakin penasaran dan... berdebar.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!