Indonesia
NovelToon NovelToon

TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

BAB 1: SANGKAR EMAS YANG DINGIN

Hening.

Itu hal pertama yang menyambut kesadaran Ghea. Tapi bukan hening yang damai, melainkan jenis kesunyian yang menindih paru-paru, seolah udara di ruangan itu berubah jadi beban berat yang harus dihirup paksa.

Ghea mencoba membuka mata, tapi kelopak matanya terasa seperti dilem. Berat sekali. Begitu berhasil terbuka sedikit, kepalanya langsung berdenyut hebat. Rasanya seakan ada ribuan jarum yang menusuk saraf otaknya secara bersamaan.

"Nnggghhhh..." sebuah rintihan parau keluar dari bibirnya yang kering dan pecah-pecah.

Ghea mengerjap berkali-kali. Hal pertama yang tertangkap matanya adalah langit-langit kamar dengan ukiran gypsum mewah dan sebuah lampu kristal megah yang menggantung diam di sana. Cahaya matahari menyeruak masuk melalui celah gorden beludru abu-abu, terasa menyilaukan bagi matanya yang baru saja terbangun.

Tubuhnya terasa remuk. Saat Ghea mencoba bangkit, rasa pening yang luar biasa justru menghantam, membuatnya terhempas kembali ke tumpukan bantal sutra yang empuk. " Ah.. Sial! Kepalaku!" bathinnya. Tangannya terangkat menyentuh kepala, meraba lilitan kasar kain kasa yang membungkus keningnya.

Siapa aku? Di mana ini?

Dua pertanyaan itu muncul di benaknya, namun tak ada jawaban. Semuanya kosong. Seolah seluruh kisah hidup yang pernah ia lalui habis terhapus begitu saja. Ghea mencoba mengingat nama, wajah orang tua, atau sekadar warna kesukaan, tapi nihil. Hanya rasa sakit yang terus berdenyut-denyut.

Cklek.

Suara pintu terbuka membuat Ghea tersentak. Ia menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria masuk dengan langkah tenang. Tubuhnya tinggi, mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan emas yang berkilau mahal di pergelangan tangannya.

Ghea terpaku. Wajah pria itu memiliki garis rahang yang tegas, hidung mancung, dan mata hitam yang terlihat begitu dalam. Tatapan yang sebenarnya bisa membuat siapa pun tenggelam, namun entah kenapa membuat Ghea merasa gelisah.

Pria itu membawa nampan berisi semangkuk bubur yang mengepul dan segelas air putih. Melihat Ghea sudah sadar, langkahnya yang tadinya santai berubah jadi agak terburu-buru.

"Ghea? Sayang, kamu sudah bangun?"

Suaranya rendah, lembut, dengan nada bariton yang terdengar menenangkan. Pria itu duduk di tepi ranjang, menaruh nampan di nakas, lalu segera meraih tangan Ghea. Tangannya terasa dingin, namun genggamannya sangat erat. Seolah ia takut Ghea akan menghilang jika dilepaskan.

"Si... siapa kamu?" suara Ghea parau, nyaris hilang di tenggorokan.

Pria itu terdiam sejenak. Sorot matanya menunjukkan kesedihan yang sekilas, namun segera tertutup oleh senyuman tipis yang manis.

"Ini aku, Adrian. Tunanganmu, Sayang," ucapnya lembut sembari mengelus punggung tangan Ghea dengan ibu jarinya.

"Kamu mengalami kecelakaan mobil yang hebat, Ghea. Dokter bilang ada benturan di kepalamu yang bikin kamu amnesia retrograde. Tapi kamu nggak perlu takut. Ada aku di sini. Aku nggak akan membiarkan apa pun menyakitimu lagi."

Tunangan? Kata itu terasa asing di telinga Ghea. Ia menatap wajah tampan Adrian, tipe pria yang mungkin dipuja banyak wanita. Tapi anehnya, saat tangan kekar itu menyentuh kulitnya, ada semacam alarm di kepala Ghea yang berbunyi nyaring. Ghea ragu, benarkah pria ini tunangannya?

"Aku... aku nggak ingat apa-apa," bisik Ghea pelan. Matanya mulai berkaca-kaca karena frustrasi dengan ingatannya sendiri.

Tangan Adrian bergerak, menyelipkan helaian rambut Ghea ke belakang telinga. "Kamu nggak perlu ingat dunia luar yang jahat itu. Kamu cukup ingat aku saja. Di villa ini kamu aman. Cuma ada aku dan kamu di sini."

Adrian kemudian menyuapi Ghea dengan penuh kesabaran. Gerakannya pelan dan hati-hati. Ghea hanya diam, mencoba memproses setiap cerita Adrian tentang bagaimana mereka bertemu dan rencana pernikahan mereka bulan depan.

Namun, di tengah cerita itu, Ghea merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah paha kirinya, di balik selimut. Sesuatu yang keras dan kecil. Sambil tetap berpura-pura menyimak, tangan kiri Ghea bergerak pelan meraba benda tersebut.

Bentuknya pipih, dingin, dan kaku. Ghea terus meraba, merasakan sudut-sudut tajam yang membentuk pola bintang.

Lencana? bathinnya.

"Kamu terlihat pucat, Sayang. Istirahat lagi ya," ucap Adrian dengan nada manis. Ia mengecup kening Ghea cukup lama—sebuah kecupan yang terasa seperti stempel kepemilikan.

"Aku harus urus pekerjaan di bawah. Bi Inah akan datang untuk mengganti perbanmu."

Adrian beranjak, tapi sebelum pergi, ia memberikan satu tatapan yang sulit diartikan. Tatapan memuja, namun terasa gelap dan mengintai. Begitu ia keluar, terdengar suara yang membuat jantung Ghea mencelos.

Klik.

Pintu dikunci dari luar. Kenapa seorang tunangan harus mengunci pintu kamar?

Dengan sisa tenaganya, Ghea menyibak selimut dan mengambil benda itu. Matanya membelalak. Itu adalah lencana kepolisian yang sudah retak dengan bercak darah kering di sudutnya. Di baliknya terukir sebuah nama: Ghea Zanna - Unit Jatanras.

Ghea gemetar hebat. Jika ia seorang detektif, kenapa Adrian bilang ia hanya warga sipil yang sedang berlibur?

Ia memaksa kakinya yang lemas untuk berjalan ke jendela. Saat menyibak gorden abu-abu itu, Ghea tertegun. Di luar bukan tempat liburan yang indah, melainkan hutan pinus lebat yang dikepung pagar kawat tinggi dengan kamera pengawas di mana-mana.

Ini bukan villa pemulihan. Ini penjara mewah.

Tiba-tiba, suara langkah kaki kembali mendekat. Ghea buru-buru menyembunyikan lencana itu di bawah bantal dan pura-pura tidur. Pintu terbuka, tapi kali ini bukan langkah Adrian.

"Aku tahu kamu sudah bangun, Detektif..."

Suara itu berupa bisikan wanita yang gemetar. Ghea membuka matanya sedikit dan melihat Bi Inah, si pelayan tua, berdiri di sana dengan wajah pucat pasi dengan pakaiannya yang begitu lusuh. Saat pelayan tua itu membungkuk untuk mengganti perban, Bi Inah membisikkan sesuatu yang membuat darah Ghea membeku.

"Jangan percaya padanya. Dia bukan tunanganmu. Dia pria yang kamu buru selama ini."

Ghea tersentak, namun pintu kembali terbuka lebar sebelum ia sempat bertanya. Adrian berdiri di sana dengan senyum yang tidak lagi mencapai matanya. Di tangannya, ia memegang pisau kecil pengupas buah.

"Bi Inah, bukankah sudah kukatakan jangan mengajak tunanganku bicara terlalu banyak?"

Ghea melihatnya—kilatan kegilaan di mata Adrian. Ia sadar, amnesia ini adalah jebakan, dan ia baru saja terbangun tepat di pelukan monster yang seharusnya ia tangkap.

Bab 2: BERDANSA DENGAN IBLIS

Kamar itu mendadak terasa mencekam, . Adrian berdiri di ambang pintu. Tangannya memainkan sebuah pisau kecil yang berkilau kena cahaya lampu kamar. Tatapannya yang tajam menatap Bi Inah, lalu perlahan beralih ke Ghea yang tengah terbaring lemah di atas kasur.

" Bi Inah," panggil Adrian dengan sudah rendah, tenang namun terdengar mengancam. "Kenapa masih di sini? Tugas mu cuma ganti perban, bukan mendongeng, kan?"

Ghea bisa melihat bahu pelayan tua itu merosot seketika. Tangan Bi Inah gemetar hebat saat ia buru-buru memasukkan kotak obat ke dalam nampan. "Ma-maaf, Tuan Adrian. Saya hanya... saya cuma mau memastikan Nona Ghea nyaman."

"Nyaman?" Adrian melangkah masuk. Suara langkah kakinya terasa seperti mencengkram di telinga Ghea. "Kehadiranmu justru mengganggunya. Keluar. Sekarang."

Tanpa berani mendongak, Bi Inah bergegas pergi. Ia bahkan tidak berani melirik Ghea untuk terakhir kalinya. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang dingin, meninggalkan Ghea sendirian dengan pria itu.

Adrian duduk di pinggir ranjang, tepat di posisi yang sama seperti sebelumnya. Ia mulai mengupas sebuah apel. Kulit apel itu jatuh melingkar sempurna tanpa putus—sebuah gerakan yang menunjukkan betapa stabil dan mengerikannya kendali tangan pria ini.

"Sayang, apa saja yang pelayan itu bicarakan padamu?" tanya Adrian tanpa melepaskan pandangan dari pisaunya.

Jantung Ghea berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia tahu, salah bicara sedikit saja bisa fatal. Ia harus berakting. Ia harus pura-pura lemah.

"Dia... dia cuma bilang aku harus banyak istirahat. Biar ingatanku cepat balik," jawab Ghea pelan, suaranya sengaja dibuat parau. Ia menatap Adrian dengan sorot mata yang dipaksa terlihat bingung. "Kenapa? Ada yang salah ya?"

Gerakan pisau Adrian terhenti. Ia menatap Ghea cukup lama. Keheningan di antara mereka terasa begitu berat, sampai-sampai Ghea bisa mendengar suara napasnya sendiri yang pendek-pendek.

Tiba-tiba, Adrian tersenyum. "Nggak ada. Hanya saja, Bi Inah sudah pikun. Suka bicara ngawur. Aku nggak mau ceritanya malah bikin proses pemulihanmu kacau."

Adrian memotong sepotong kecil apel, lalu menyodorkannya ke mulut Ghea menggunakan ujung pisau. Logam dingin itu menyentuh bibir Ghea. Sebuah ancaman yang dibungkus dengan perhatian palsu.

"Makanlah. Kamu butuh vitamin," perintahnya lembut, tapi matanya menuntut kepatuhan mutlak.

Ghea terpaksa membuka mulut, mengunyah potongan apel itu meski rasanya seperti menelan duri. Pikirannya berputar cepat. Ia butuh ponsel. Ia butuh kontak dengan dunia luar.

"Adrian," panggil Ghea lirih. "Boleh aku lihat ponselku? Siapa tahu foto-foto di sana bisa bantu aku ingat sesuatu."

Adrian meletakkan pisau dan sisa apelnya ke nampan. Ia mengusap pipi Ghea dengan punggung tangannya—sentuhan yang membuat Ghea ingin menjauh, tapi ia terpaksa diam.

"Ponselmu hancur waktu kecelakaan itu, Ghea. Benar-benar hancur," ucap Adrian dengan nada prihatin yang dibuat-buat. "Tapi tenang saja, aku sudah belikan yang baru. Nanti kalau kamu sudah mendingan, kamu bisa pakai."

Bohong, batin Ghea. Lencana polisi yang ia temukan di bawah bantal adalah buktinya. Jika kecelakaan itu menghancurkan ponsel, kenapa lencana yang hanya berbahan logam tipis itu masih utuh?

"Makasih," bisik Ghea. "Kamu baik sekali."

"Tentu saja. Aku akan lakukan apa pun untukmu," Adrian mendekat, mencium pelipis Ghea dan berbisik tepat di telinganya. "Karena kamu milikku. Satu-satunya yang berharga buatku. Aku nggak akan biarkan siapa pun atau ingatan apa pun merebut mu dariku lagi."

Kata-kata itu bukan janji cinta. Di telinga Ghea, itu adalah vonis penjara seumur hidup.

Ghea buru-buru menarik selimut hingga ke dada, mengatur napasnya yang menderu.

Jantungnya berdentum keras, seolah ingin menjebol tulang rusuknya sendiri. Belum genap semenit ia memejamkan mata, suara gerendel pintu yang berputar membuat bulu kuduknya berdiri.

Adrian masuk. Kali ini tangannya tidak membawa nampan, melainkan sebuah kotak musik perak usang. Ia tidak bicara. Langkah kakinya lambat, sengaja menekan lantai kayu hingga berderit, sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang.

Lelaki itu memutar tuas kotak musik tersebut. Sebuah melodi klasik yang melankolis mulai mengalun, memenuhi kamar yang kedap suara itu dengan nada yang terdengar seperti rintihan.

"Ingat lagu ini?" tanya Adrian tanpa menoleh. Matanya terpaku pada penari plastik kecil yang berputar di dalam kotak. "Kita sering mendengarnya saat di universitas dulu. Kamu bilang, melodi ini terdengar seperti hujan yang jatuh di atas atap seng."

Ghea menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seperti berpasir. "Maaf, Adrian... kepalaku masih sakit. Aku benar-benar tidak ingat."

Adrian terdiam. Keheningan setelah itu terasa lebih menyesakkan daripada musiknya. Perlahan, ia menoleh. Wajahnya yang semula tenang kini nampak kaku, dengan sorot mata yang mengunci pergerakan Ghea.

"Sampai kapan, Ghea?"

"Apa?"

Adrian terkekeh, suara tawa yang pendek dan hambar. Ia mencondongkan tubuh, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Ghea hingga Ghea bisa mencium aroma mint dan besi yang samar.

"Sampai kapan kamu mau terus-terusan memakai topeng rapuh ini di depanku?" Adrian meraih tangan Ghea, mencengkeram pergelangan tangannya dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang. "Apa akting 'amnesia' ini adalah bagian dari pembelajaran saat di sekolah kepolisian, Detektif Ghea Zanna?"

Dunia Ghea mendadak sunyi. Pasokan oksigen di paru-parunya seolah direnggut paksa.

"Wajahmu pucat sekali," Adrian mengusap pipi Ghea dengan ibu jarinya, gerakannya lembut namun penuh ancaman. "Kenapa? Kamu kaget karena aku tahu? Atau kamu kaget karena ternyata lencana polisi di bawah bantalmu itu sudah aku temukan sejak hari pertama?"

Adrian tersenyum lebar. Kali ini senyum itu tidak sampai ke mata. Itu adalah seringai predator yang baru saja selesai mempermainkan mangsanya. "Jangan takut. Aku tidak akan membunuhmu. Setidaknya... belum sekarang. Kita baru saja mulai berdansa, Sayang."

BAB 3 IDENTITAS YANG TERKOYAK

"Detektif Ghea Zanna"

Nama yang keluar dari bibir manis Adrian dengan nada yang begitu tenang, hampir terdengar seperti sebuah pujian. Namun bagi seorang Ghea terdengar seperti bukan pujian melainkan sebuah ancaman kematian.

Ghea mencoba untuk menenangkan diri, mengatur napasnya agar tidak terlihat panik di depan Adrian. Meski mencoba tenang, Ghea tidak bisa membohongi jantung terus berdetak seolah kematian akan menjemputnya. Ia memandangi Adrian, mencoba untuk mencari sisa-sisa kebohongan yang ada di mata pria itu. Namun Ghea justru teka menemukan apapun. Dia mengutuk dirinya yang tidak mengingat apapun yang telah terjadi sebelumnya.

"Apa maksudmu, Adrian?" tanya Ghea mencoba tertawa kecil meski terdengar sumbang oleh telinga sendiri. "Detektif? Aku... aku bahkan nggak mengingat apapun. Bahkan untuk sekedar mengingat cara untuk mengikat tali sepatu saja akupun nggak tahu. Bagaimana mungkin kalau aku ini seorang detektif?"

Pertanyaan itu justru tidak di jawab oleh Adrian. Pria itu sibuk memutar tuas kotak musik perak itu. Alunan musik yang melankolis memenuhi ruangan. Adrian bangkit dari tempat duduknya, berjalan perlahan mengitari ranjang Ghea seperti seekor predator yang tengah mengamati mangsanya yang sedang terbaring lemah.

" Kau selalu bisa menjadi pembohong yang hebat, Ghea Zanna. Itulah mengapa kau membuatku jatuh cinta padamu, aku masih ingat saat pertama kali kita bertemu di markas kepolisian pusat tiga tahun lalu." ujar Adrian santai.

Adrian berhenti tepat di dekat nakas. Bergerak cepat mengambil bantal yang berada di belakang kepala Ghea.

" Adrian! Apa yang kamu...."

Ghea tersentak ketika melihat Adrian mengangkat lencana polisi yang sudah retak tersebut tinggi-tinggi di hadapannya. Lencana yang terbuat dari logam tersebut justru berkilau di depan cahaya lampu di kamar itu.

"Kamu mencari ini, kan sayang?" tanya Adrian sedikit lebih mendekatkan wajahnya. Tatapan tajam yang terlihat begitu menyeramkan.

" Aku sengaja meninggalkannya di atas kasur agar kamu bisa menemukannya. Aku cuma ingin tahu, apakah insting mu sebagai anjing pelacak masih berfungsi meski otak mu itu sudah rusak."

Ghea terdiam, tatapan matanya mengarah kepada lencana tersebut. Namun seketika ia beralih menatap Adrian dengan tatapan penuh kebencian. Ghea seolah lupa akan jantung yang berdetak hebat karena takut jika hidupnya akan mati sebentar lagi.

"Kenapa? Kalau kamu sudah tahu itu adalah aku, kenapa kamu nggak bunuh saja aku!?"

Suara tawa Adrian menggelegar di seluruh ruangan kamar itu. Ia membungkuk, mencengkram kedua bahu Ghea menarik tubuh Ghea yang lemah itu untuk lebih mendekat. Sakit terlalu dekat, Ghea bahkan bisa mencium aroma parfum sandalwood dan sedikit baru besi dari tubuh pria itu.

"Membunuhmu? Itu terlalu bosan kalau dilakukannya dengan cepat, sayang." bisik Adrian tepat didepan bibir Ghea.

"Aku sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk bisa membawa mu ke sini. Menjadikan mu milik ku sepenuhnya, tanpa ada lencana, hukum, dan tanpa ada orang lain yang menyentuhmu."

Tangan Adrian mulai menjalar ke leher Ghea. Bahkan Ghea merasakan bertapa dingin kulit tangan pria itu menyentuh lehernya. Tangan kekar itu justru tidak mencekik leher Ghea melainkan membelainya dengan lembut.

"Kamu perlu tahu, aku begitu senang. Karena kecelakaan ini adalah anugerah. Kamu lupa siapa dirimu dan itu artinya kamu bisa menjadi siapa pun yang aku inginkan."

"Kamu udah gila!!" pekik Ghea mencoba untuk mendorong tubuh kekar Adrian. Entah mengapa tubuhnya yang lemah itu tiba-tiba mendapatkan kekuatan untuk melawan. Padahal sebelumnya dia sudah berpikir untuk menyerahkan dirinya pada kematian yang mungkin saja datang dari tangan Adrian.

"Aku gila karena mencintaimu mu, Ghea. Kamu yang memulainya. Kamu yang terus mengejar ku, menyelidiki ku hingga akhirnya kamu masuk ke dalam sarang ku dengan sukarela." ucap Adrian sedikit menjauh, dengan melemparkan lencana bintang milik Ghea itu ke lantai.

"Mulai hari ini! Nggak ada lagi Detektif Ghea! Hanya ada Ghea, calon istri Adrian Dirgantara. Kalau kamu mencoba untuk berakting atau mencari jalan keluar lagi.." Adrian meraih pisau yang ia gunakan untuk mengupas buah tadi, dengan gerakan cepat ia menyayat punggung tangannya sendiri hingga segar mengucur.

Ghea membelalak. " Adrian! Apa yang kamu lakukan!?" teriak Ghea terkejut melihat aksi nekat Adrian.

Adrian menatap luka di tangannya sambil tersenyum miring. Ia lalu mengusap kemudian darah yang di punggung tangannya itu ke pipi Ghea, ingin meninggalkan jejak merah yang hangat dan amis.

"Rasa sakit ini nggak seberapa dibandingkan rasa sakit jika aku harus kehilanganmu," ucap Adrian dengan nada yang sangat emosional. "Setiap kali kamu mencoba melarikan diri, aku akan menyakiti diriku sendiri. Dan jika kamu berhasil keluar dari pintu itu... aku akan memastikan Bi Inah nggak akan pernah melihat matahari besok pagi."

Ghea membeku. Pria ini bukan hanya psikopat yang cerdas, dia adalah manipulator emosi yang ulung. Dia tahu kelemahan Ghea adalah rasa empati terhadap orang yang tidak bersalah.

"Sekarang, bersihkan wajahmu," ucap Adrian kembali lembut, seolah ledakan amarah tadi tidak pernah terjadi. Ia mengambil tisu dan mengusap darah di pipi Ghea dengan sangat hati-hati. "Kita akan makan malam bersama di bawah. Aku sudah menyiapkan gaun yang indah untukmu. Jangan buat aku menunggu lama, Sayang."

Adrian berjalan keluar, mengunci pintu kembali, meninggalkan Ghea yang terduduk lemas di atas kasur. Tatapan matanya seolah tidak percaya dengan apa yang telah terjadi.

Ghea menatap lencana polisi yang tergeletak di lantai. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Adrian tahu segalanya. Setiap gerakannya, setiap pikirannya, sudah diantisipasi oleh pria itu. Ia sedang berdansa di telapak tangan seorang iblis yang menggunakan cinta sebagai rantai.

Namun, di tengah keputusasaan itu, ingatan singkat kembali menghantam kepala Ghea. Sebuah bayangan tentang sebuah kunci kecil yang ia sembunyikan di dalam jahitan sepatunya sebelum kecelakaan itu terjadi.

Kunci gudang bukti.

Ghea segera merangkak menuju lemari pakaian. Ia harus menemukan sepatu yang ia kenakan saat kecelakaan. Jika kunci itu masih ada, mungkin ia memiliki satu kesempatan terakhir untuk melawan balik.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!