Indonesia
NovelToon NovelToon

Putri Posesif Tuan Gavin & Dokter Bedah Misterius

Bab 1: Ratu Saham Tumbang

​​"Jual! Saya bilang jual di angka dua ribu empat ratus! Kalian tuli atau bodoh?!"

​Suara teriakan Alea Ardiman menggelegar di ruang rapat Triple A Capital yang berdinding kaca kedap suara. Wanita muda berusia dua puluh empat tahun itu berdiri di ujung meja, tangannya menggebrak permukaan meja marmer dengan keras hingga gelas kopi americano-nya bergetar.

​Belasan manajer investasi yang rata-rata usianya jauh di atas Alea menunduk takut. Tidak ada yang berani menatap mata tajam wanita itu—mata yang diwarisi dari ayahnya, Gavin Ardiman, namun dengan kilat kecerdasan ibu tirinya, Kiana.

​"Bu Alea, tapi indikator teknikal menunjukkan akan ada rebound..." salah satu manajer senior mencoba menyela dengan suara gemetar.

​"Indikator teknikal nenek moyangmu!" potong Alea pedas. Dia menyambar pointer laser dan menunjuk grafik merah yang terpampang di layar proyektor raksasa. "Lihat volume penjualannya! Itu whale lagi buang barang! Kalau kita nggak keluar sekarang, portofolio nasabah bakal minus tiga puluh persen dalam satu jam! Cut loss sekarang!"

​Napas Alea memburu. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya yang tertutup anak rambut. Sudah dua malam dia tidak tidur memantau pergerakan pasar saham Amerika yang sedang fluktuatif, dan pagi ini pasar Asia ikut rontok.

​"Kerjakan! Saya mau laporan likuidasi di meja saya dalam sepuluh menit!" perintah Alea mutlak.

​Ruangan itu langsung sibuk. Suara ketikan keyboard dan telepon berdering bersahutan. Alea kembali duduk di kursi kebesarannya, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang.

​Tangannya meraba perut bagian atas. Perih. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas lambungnya kuat-kuat.

​"Sshhh..." desis Alea pelan, menekan perutnya dengan kepalan tangan.

​"Bu Alea? Ibu baik-baik saja?" Zahra, sekretaris pribadinya yang merupakan anak didik dari sekretaris ayahnya dulu, mendekat dengan wajah cemas. "Ibu belum makan dari kemarin siang lho. Mau saya pesankan bubur?"

​"Nggak usah. Saya butuh kopi lagi. Yang ini sudah dingin," tolak Alea keras kepala, menunjuk gelas kopinya yang tinggal setengah.

​"Tapi, Bu..."

​"Kopi, Zahra. Triple shot," Alea menatap sekretarisnya dengan tatapan yang tidak menerima bantahan.

Zahra menghela napas pasrah dan berbalik menuju pantry.

​Alea kembali fokus ke layar laptopnya. Angka-angka berwarna merah dan hijau berkedip cepat, menari-nari di matanya. Tapi lama-kelamaan, angka itu mulai kabur. Garis grafik itu bergelombang aneh.

​Rasa perih di lambungnya mendadak naik ke kerongkongan. Panas. Membakar.

​Alea mencoba menelan ludahnya, tapi rasanya asin dan amis.

​"Uhuk!"

​Alea terbatuk keras. Dia menutup mulutnya dengan tisu yang ada di meja.

​Saat dia menarik tisu itu, warna putihnya sudah berubah menjadi merah pekat. Darah segar.

​Mata Alea membelalak. Dunia di sekelilingnya mendadak berputar. Suara riuh karyawan di ruang rapat terdengar menjauh, seperti suara radio rusak.

​"Bu Alea! Darah!" teriak salah satu staf yang melihat tisu di tangan Alea.

​Kepanikan meledak.

​"Panggil ambulans!"

"Bu Alea muntah darah!"

"Minggir! Kasih jalan!"

​Alea mencoba berdiri, mencoba mempertahankan wibawanya sebagai CEO yang tak terkalahkan. "Saya... saya nggak apa-apa... cuma..."

​Tubuhnya limbung. Kakinya yang jenjang dan terbalut stiletto dua belas senti itu tidak sanggup lagi menopang berat badannya. Kegelapan menyergapnya dengan cepat sebelum tubuhnya menghantam lantai karpet yang dingin.

​Hal terakhir yang Alea ingat adalah jeritan histeris Zahra dan grafik saham yang masih terjun bebas di layar proyektor.

***

​Bunyi bip... bip... bip... yang monoton memaksa Alea membuka matanya.

​Cahaya lampu neon yang terlalu terang menusuk retina, membuatnya mengerjap beberapa kali. Bau alkohol dan antiseptik yang menyengat langsung memberitahunya di mana dia berada.

​Rumah Sakit. Tempat yang paling dia benci di dunia ini.

​"Sial," umpat Alea dengan suara parau.

​Dia mencoba bangun, tapi kepalanya masih pening. Tangannya terasa berat. Saat dia menoleh, dia melihat selang infus menancap di punggung tangan kirinya.

​"Jam berapa ini?" gumam Alea panik.

​Dia meraba saku blazernya. Kosong. Ponselnya tidak ada.

​Alea menoleh ke meja nakas di samping ranjang IGD. Di sana, tas kerjanya tergeletak, dan laptop-nya menyembul sedikit dari dalam tas.

​"Pasar sesi dua..." batin Alea histeris. "Gue harus cek closing market!"

​Alea tidak peduli dengan rasa sakit di perutnya atau jarum infus di tangannya. Otaknya hanya berisi angka, profit, dan reputasi perusahaannya. Kalau dia menghilang saat pasar sedang crash, investor akan panik dan menarik dana mereka. Itu bencana.

​Dengan gerakan kasar, Alea menarik selang infus itu.

​"Aw!" ringis Alea saat plester terlepas paksa. Darah menetes sedikit dari bekas tusukan, tapi dia masa bodoh.

​Dia turun dari ranjang pasien yang tinggi dengan kaki gemetar. Dia tidak memakai sepatu, hanya telanjang kaki di lantai ubin yang dingin.

​Alea menyambar tas kerjanya, mengeluarkan laptopnya dengan tangan gemetar. Dia harus mencari sinyal WiFi. Dia harus login.

​"Ayo nyala... cepetan..." racau Alea sambil menekan tombol power sambil berjalan sempoyongan menuju pintu keluar bilik IGD. Dia harus keluar dari sini. Dia harus kembali ke kantor.

​Namun, baru dua langkah dia mencapai tirai pembatas, sebuah bayangan tinggi besar menghalangi jalannya.

​Alea mendongak. Pandangannya membentur dada bidang yang terbalut kemeja biru tua dan jas putih dokter yang dikancing rapi.

​"Minggir," desis Alea galak, mencoba menerobos. "Saya harus kerja."

​Pria itu tidak bergeming. Dia berdiri kokoh seperti tembok beton.

​"Minggir saya bilang! Kamu tuli?!" bentak Alea lagi, emosinya naik. "Saya bisa tuntut rumah sakit ini kalau menghalangi pasien pul..."

​Belum sempat Alea menyelesaikan kalimat ancamannya, sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangannya. Cengkeramannya kuat, tapi tidak menyakitkan. Hanya tegas. Sangat tegas.

​Detik berikutnya, tangan pria itu merampas laptop dari pelukan Alea.

​"Heh! Balikin!" Alea melotot, mencoba melompat meraih laptopnya. "Itu aset miliaran! Jangan sentuh!"

​Pria itu—dr. Rigel Kalandra—menatap Alea dengan tatapan sedingin es kutub. Wajahnya tampan, dengan rahang tegas dan kacamata minus tipis yang membingkai mata tajamnya, tapi ekspresinya datar tanpa emosi.

​Tanpa bicara sepatah kata pun, Rigel berjalan dua langkah ke arah sofa tunggu di pojok ruangan, lalu melempar laptop mahal itu begitu saja ke atas bantalan sofa.

​BUGH!

​Alea menjerit tertahan. "Laptop gue!"

​Alea hendak lari menyelamatkan "bayi"-nya, tapi Rigel sudah berbalik badan, mengurung tubuh kecil Alea di antara ranjang pasien dan tubuh tingginya.

​Rigel menunduk, menatap manik mata Alea yang menyala karena amarah. Aura dominasi yang keluar dari dokter muda itu begitu kuat hingga membuat nyali Alea—si Ratu Saham yang ditakuti—mendadak menciut.

​"Kamu..." Alea tergagap, napasnya tercekat.

​Rigel mendekatkan wajahnya. Suaranya rendah, berat, dan menusuk langsung ke tulang belakang Alea.

​"Lambung kamu pendarahan hebat. Tensi kamu 80 per 50. Kamu baru saja muntah darah setengah gelas," ucap Rigel datar, menunjuk dada Alea dengan dagunya.

​Alea terdiam, terpaku oleh tatapan mengintimidasi itu.

​"Sekarang pilih," lanjut Rigel dingin. "Masuk ke peti mati atau diam di ranjang?"

​Alea menelan ludah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak punya kalimat balasan.

​"Mati atau diam?" ulang Rigel, kali ini dengan nada yang lebih menekan.

Bab 2: Dokter Kulkas

​​"Lepaskan tangan kotor kamu dari saya!"

​Alea menghempaskan tangan Rigel dengan kasar, meski tenaganya tak seberapa dibandingkan cengkeraman dokter itu. Napasnya memburu, matanya nyalang menatap pria berjas putih yang masih berdiri tenang di hadapannya.

​"Saya tidak menyentuh kamu kalau kamu tidak bertingkah seperti anak kecil yang tantrum di playground," balas Rigel datar. Dia sama sekali tidak terlihat terintimidasi oleh tatapan membunuh Alea. "Duduk kembali. Suster akan pasang ulang infusnya."

​"Nggak mau! Saya mau pulang! Rapat saya belum selesai!" Alea bersikeras, kakinya melangkah maju mencoba menerobos lagi. "Minggir atau saya teriak pelecehan!"

​Rigel menghela napas pendek, seolah kesabaran adalah barang mewah yang sedang dia hemat. Tanpa peringatan, dia maju selangkah, membuat Alea mundur refleks hingga betisnya menabrak tepi ranjang.

​Rigel mencondongkan tubuhnya, mengurung Alea.

​"Silakan teriak. CCTV di sudut sana merekam audio dan visual. Semua orang akan lihat CEO Triple A Capital mengamuk karena takut jarum suntik," bisik Rigel dingin.

​Wajah Alea memerah padam karena marah dan malu. "Siapa bilang saya takut jarum?! Saya cuma butuh laptop saya! Pasar saham nggak nunggu saya sembuh, Dokter bodoh!"

​"Dan nyawa kamu juga nggak nunggu pasar saham tutup," potong Rigel tajam.

​Tangan Rigel bergerak cepat. Bukan untuk menyentuh Alea, tapi menyambar pergelangan tangan kiri wanita itu. Dengan gerakan cekatan, dia melepas smartwatch edisi terbatas yang melingkar di sana.

​"Hei! Itu punya saya!" pekik Alea, mencoba merebut kembali jam pintarnya.

​"Disita," ucap Rigel sambil memasukkan jam itu ke saku jas dokternya yang dalam. "Detak jantung kamu sudah seratus dua puluh per menit cuma gara-gara notifikasi margin call. Benda ini racun buat kamu sekarang."

​"Kamu maling ya?! Balikin! Itu harganya lebih mahal dari gaji kamu setahun!" hina Alea tanpa saringan.

​"Wah, seru banget. Ini tiket nontonnya bayar di mana ya?"

​Sebuah suara tawa renyah memecah ketegangan di antara mereka. Rigel dan Alea menoleh bersamaan ke arah pintu bilik IGD yang tirainya sedikit terbuka.

​Seorang remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun berdiri di sana sambil bersandar santai di tiang infus nganggur. Dia mengenakan hoodie hitam dan celana jins robek-robek, tangannya memegang sebungkus keripik kentang.

​Arka Adijaya Ardiman. Adik kandung Alea yang paling menyebalkan sedunia. Tapi, tetap saling sayang.

​"Arka! Ngapain kamu cengar-cengir di situ?! Bantuin Kakak!" semprot Alea garang. "Usir dokter gila ini! Dia nyuri jam Kakak!"

​Arka justru melangkah masuk dengan santai, mengunyah keripik kentangnya dengan bunyi kriuk yang nyaring. Dia menatap Rigel dari atas ke bawah, lalu tersenyum lebar dan mengulurkan tangan.

​"Halo, Dok. Saya Arka, adiknya pasien yang lagi cosplay jadi monster ini," sapa Arka ramah. "Sori ya, Kakak saya emang gitu. Kalau lagi laper sama rugi bandar, galaknya ngalahin ibu tiri di sinetron."

​Rigel menyambut uluran tangan Arka sekilas. "Dokter Rigel. Tolong kondisikan kakak kamu. Kalau dia lari lagi, saya terpaksa ikat dia di ranjang."

​"Ikat aja, Dok. Ikhlas saya. Kalau perlu mulutnya dilakban sekalian biar kuping saya adem," sahut Arka enteng.

​"Arka Adijaya!" teriak Alea frustasi. "Kamu di pihak siapa sih?! Aku ini kakak kamu! Aku yang bayar uang jajan kamu!"

​"Justru karena Kakak sumber uang jajan, Kakak nggak boleh mati muda," balas Arka logis, lalu mendorong bahu Alea pelan agar duduk kembali di ranjang. "Udah nurut aja napa sih, Kak? Liat tuh muka Kakak pucet kayak mayat hidup. Jelek banget."

​Alea menepis tangan adiknya. Dia menatap Rigel yang kini sedang menulis sesuatu di papan jalan medis dengan wajah tanpa ekspresi, seolah keributan ini hanyalah angin lalu. Sikap acuh tak acuh Rigel itu yang paling membuat darah Alea mendidih. Biasanya, semua laki-laki akan berlutut atau gugup di depannya. Tapi dokter ini? Dia memperlakukan Alea seperti pasien BPJS yang antre sembako.

​"Oke. Kamu mau main keras ya?" Alea mendesis, menatap name tag di dada Rigel. "Dr. Rigel Kalandra. Oke, saya ingat nama kamu."

​Alea menegakkan punggungnya, mengeluarkan aura boss lady-nya yang biasa membuat lawan bisnis gemetar.

​"Dengar baik-baik, Dokter Kulkas. Saya nggak suka cara kamu ngatur-ngatur saya. Saya kasih kamu waktu lima menit buat balikin laptop dan jam saya, terus minta maaf. Kalau nggak..." Alea menggantung kalimatnya dengan senyum sinis. "...saya beli rumah sakit ini sekarang juga, dan nama kamu bakal jadi nama pertama yang saya coret dari daftar karyawan."

​Arka tersedak keripiknya. "Uhuk! Anjir, mainnya beli RS. Sultan mah bebas."

​Suasana hening sejenak. Para perawat yang mengintip di balik tirai menahan napas. Ancaman Alea Adijaya bukan omong kosong. Semua orang tahu kekayaan keluarga Ardiman tidak berseri.

​Rigel berhenti menulis. Dia mengangkat wajahnya, menatap Alea lurus-lurus. Tidak ada rasa takut sedikitpun di mata cokelat gelap itu. Malah, ada kilatan geli yang tersembunyi.

​"Sudah selesai bicaranya?" tanya Rigel tenang.

​"Kamu pikir saya bercanda?" tantang Alea.

​Rigel menutup papan jalannya dengan bunyi klik yang tegas. Dia melangkah mendekat, mencondongkan wajahnya ke arah Alea lagi hingga Alea bisa mencium aroma mint dan musk yang maskulin dari tubuh dokter itu.

​"Silakan dibeli, Nona Alea. Kasirnya ada di lobi depan," ucap Rigel datar, tapi nadanya penuh sarkasme. "Tapi perlu kamu tahu, sertifikat kepemilikan rumah sakit nggak bisa dipakai buat nyogok malaikat maut. Di ruangan ini, hukum saya yang berlaku, bukan hukum uang kamu."

​Rigel menegakkan tubuhnya kembali, lalu menoleh pada perawat yang berdiri ketakutan di pojok.

​"Suster, pasang ulang infusnya. Kasih obat lambung dosis tinggi injeksi. Dan pastikan pasien ini puasa bicara selama satu jam. Kalau dia ngomel lagi, suntik obat tidur."

​"Baik... Baik, Dok," cicit suster itu.

​Rigel berbalik badan, melangkah pergi dengan jas putihnya yang berkibar, meninggalkan Alea yang melongo dengan mulut terbuka lebar karena shock.

​"Dia... dia barusan nyuruh suntik obat tidur ke gue?" tanya Alea tak percaya pada Arka.

​"Keren. Asli keren banget," Arka bertepuk tangan pelan. "Baru kali ini ada cowok yang berani nyeramahin Kak Alea dan masih hidup. Gue ngefans sama tuh dokter."

​Alea mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Harga dirinya serasa diinjak-injak, dilindas, lalu dibuang ke tempat sampah medis. Tidak ada yang boleh memperlakukannya seperti ini. Tidak ada!

​Zahra, asisten Alea, muncul tergopoh-gopoh dari balik tirai dengan wajah pucat. "Bu Alea! Maaf saya baru dari administrasi. Ibu nggak apa-apa? Kok mukanya merah banget?"

​Alea menatap Zahra dengan nyalang. Napasnya masih memburu menahan amarah yang meledak-ledak.

​"Zahra!" panggil Alea dingin.

​"I-iya, Bu?"

​"Kamu lihat dokter sok ganteng yang baru keluar tadi?"

​"Dokter Rigel maksud Ibu?"

​"Iya, si Dokter Kulkas sialan itu!" Alea menunjuk pintu keluar dengan jari telunjuk yang gemetar. "Cari tahu siapa dia. Cari tahu latar belakangnya, lulusan mana, tinggal di mana, dan berapa gajinya. Cari tahu harganya!"

​"Maksud Ibu?" Zahra bingung.

​"Saya mau beli harga dirinya!" desis Alea penuh dendam. "Saya mau bikin dia berlutut minta maaf karena udah lancang sama saya. Cari info busuknya, saya mau pecat dia dari dunia kedokteran!"

Bab 3: Pasien Bandel

​​"Sialan. Sinyal di kamar VVIP macam apa ini? Muternya lebih lama dari komedi putar!"

​Alea menggerutu kesal sambil mengetuk-ngetuk layar ponsel Zahra yang berhasil dia "pinjam paksa" sebelum asistennya itu disuruh pergi membeli makanan. Layar ponsel itu menampilkan lingkaran loading yang tak berujung. Grafik saham yang ingin dia pantau macet total.

​"Ini pasti konspirasi si Dokter Kulkas itu. Dia pasti pasang jammer sinyal di kamar ini biar gue mati bosan," tuduh Alea sembarangan.

​Dia melirik ke arah pintu. Sepi. Suster jaga baru saja keluar lima menit yang lalu. Arka sedang ke kantin cari gorengan. Ini kesempatan emas.

​Alea turun dari ranjang pasien dengan hati-hati. Dia menyambar cardigan panjang miliknya untuk menutupi baju pasien rumah sakit yang kedodoran dan jelek itu. Dengan gerakan pelan tapi pasti, dia menyeret tiang infusnya yang berroda.

​"Oke, Alea. Misi penyelamatan aset dimulai," gumamnya pada diri sendiri.

​Tujuannya jelas: Kafe di lobi rumah sakit. Di sana pasti ada WiFi kencang dan kopi hitam yang dia butuhkan untuk menjernihkan otak. Persetan dengan lambung.

​Alea menyelinap keluar kamar, menunduk menyusuri lorong VIP yang sepi, lalu masuk ke lift barang agar tidak berpapasan dengan dokter. Sesampainya di lobi, aroma biji kopi yang dipanggang langsung menyapa hidungnya. Surga.

​Dia berjalan cepat—secepat orang yang menyeret tiang infus bisa berjalan—menuju konter pemesanan.

​"Mbak, double espresso satu. Sama password WiFi-nya apa?" pesan Alea cepat sambil menoleh ke kanan-kiri, waspada seperti buronan polisi.

​Barista di depannya menatap Alea ragu. Dia melihat wajah pucat Alea, gelang pasien di tangan, dan tiang infus di sebelahnya.

​"Maaf, Kak... yakin mau espresso? Kakak pasien kan?" tanya barista itu sopan.

​"Banyak tanya deh. Saya bayar, bukan minta gratis. Cepetan, saya lagi buru-buru," desak Alea sambil mengeluarkan lembaran uang seratus ribu dari saku cardigan-nya.

​Barista itu menghela napas, akhirnya mulai mengetik pesanan di mesin kasir. Alea tersenyum puas. Kemenangan sudah di depan mata.

​Namun, belum sempat struk keluar, sebuah tangan besar dengan jam tangan chronograph mahal terulur dari belakang bahu Alea, meletakkan kartu akses dokter di atas meja kasir.

​"Batalkan pesanannya," suara bariton yang dingin dan familiar terdengar tepat di telinga Alea. "Ganti dengan air mineral hangat."

​Alea membeku. Bulu kuduknya meremang.

​Dia menoleh patah-patah.

​Rigel Kalandra berdiri menjulang di belakangnya. Wajahnya datar, tapi matanya menyipit tajam di balik kacamata minusnya. Dia tidak memakai jas putih kebesarannya, hanya kemeja biru tua yang lengan bajunya digulung sampai siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang maskulin.

​"Kamu lagi?!" pekik Alea, mundur selangkah hingga punggungnya menabrak etalase kue. "Ngapain kamu di sini? Kamu nguntit saya ya?!"

​"Saya dokter, Alea. Ini rumah sakit tempat saya kerja. Wajar saya ada di sini," jawab Rigel tenang, lalu menatap barista yang bengong. "Mbak, jangan kasih kopi. Lambungnya lagi luka. Kalau dia minum itu, Mbak mau tanggung jawab kalau dia muntah darah di sini?"

​Barista itu langsung pucat dan menggeleng panik. "Ehh... nggak, Dok. Maaf, Kak, nggak jadi ya kopinya."

​"Heh! Nggak bisa gitu dong! Hak asasi saya mau minum apa!" protes Alea tak terima. "Rigel! Minggir! Saya butuh WiFi!"

​"WiFi ada di kamar," sahut Rigel singkat.

​"Lemot! Nggak bisa buat load grafik real time!"

​"Bagus. Biar kamu istirahat."

​"Saya nggak butuh istirahat! Saya butuh koneksi!" Alea mencoba berkelit lewat sisi kiri Rigel, tapi Rigel menggeser tubuhnya menghalangi. Alea coba ke kanan, Rigel menghadang lagi.

​Mereka berdua malah terlihat seperti sedang berdansa aneh di depan kasir. Beberapa pengunjung kafe dan keluarga pasien mulai menoleh dan berbisik-bisik. Ada yang merekam diam-diam.

​"Alea, balik ke kamar. Sekarang," perintah Rigel, nadanya mulai rendah berbahaya.

​"Nggak mau! Kamu siapa ngatur-ngatur? Suami bukan, pacar bukan!" Alea keras kepala, memeluk tiang infusnya erat-erat seolah itu senjata. "Saya mau duduk di sini, pakai WiFi sini. Kamu pergi sana urusin pasien lain!"

​Rigel memijat pelipisnya. Menghadapi Alea ternyata lebih melelahkan daripada operasi bedah saraf selama sepuluh jam. Wanita ini benar-benar definisi batu karang.

​"Oke. Kamu nggak mau jalan sendiri?" tanya Rigel retoris.

​"Nggak!"

​"Baik."

​Tanpa aba-aba, Rigel maju selangkah, menepis tangan Alea dari tiang infus, lalu menunduk.

​"Eh? Eh? Apaan nih?!" Alea panik saat merasakan tubuhnya melayang.

​Dalam satu gerakan cepat, Rigel mengangkat tubuh Alea. Tangan kanannya menopang punggung, tangan kirinya di bawah lutut. Bridal style.

​"RIGEL! TURUNIN!" jerit Alea histeris, kakinya menendang-nendang udara. "Gila ya?! Banyak orang! Malu!"

​"Makanya diam," Rigel tidak peduli. Dia berjalan santai keluar dari kafe sambil menggendong Alea seolah wanita itu seringan kapas. Tiang infusnya dia seret dengan satu jari tangan kanan yang juga menopang punggung Alea. Multitasking level dewa.

​"Lepasin! Saya bisa jalan sendiri!" Alea memukul dada bidang Rigel dengan kepalan tangannya. Keras. Tapi Rigel bergeming, dadanya sekeras besi.

​"Terlambat. Tawaran jalan kaki sudah hangus," jawab Rigel santai, melewati lobi yang ramai.

​Semua mata tertuju pada mereka. Pasien, suster, satpam, semua menonton adegan drama korea live action itu. Alea merasa wajahnya panas luar biasa. Harga dirinya sebagai CEO yang ditakuti hancur lebur. Dia menyembunyikan wajahnya di dada Rigel karena malu.

​"Dokter Rigel... itu Bu Alea?" sapa seorang suster yang lewat di lorong lift.

​"Iya. Pasien bandel. Biasa, mau kabur," jawab Rigel santai tanpa berhenti berjalan.

​Alea mencubit lengan Rigel sekuat tenaga. "Diem! Jangan nyebar gosip!"

​Rigel membawa Alea masuk ke dalam lift khusus staf medis. Pintu lift tertutup, mengurung mereka berdua dalam ruang sempit yang sunyi.

​Napas Alea masih memburu karena emosi dan malu. Dia mendongak, menatap rahang tegas Rigel dari jarak sedekat ini.

​Tiba-tiba, Alea menyadari sesuatu.

​Wangi.

​Tubuh Rigel wangi sekali. Bukan wangi parfum menyengat, tapi wangi citrus segar bercampur aroma antiseptik yang samar dan... sesuatu yang maskulin. Wangi yang menenangkan sekaligus memabukkan.

​Jantung Alea yang tadinya berdetak kencang karena marah, kini berdetak dengan ritme yang berbeda. Lebih cepat, tapi aneh. Dia bisa merasakan detak jantung Rigel yang tenang di balik kemejanya.

​Posisi mereka sangat intim. Wajah Alea sejajar dengan leher Rigel.

​Rigel menunduk sedikit, menatap mata Alea yang mendadak diam.

​"Kenapa diam? Baterai ngomelnya habis?" tanya Rigel.

​"Berisik," gumam Alea, memalingkan wajah. "Turunin. Udah di lift."

​"Nanggung. Sampai kasur," tolak Rigel.

​Pintu lift terbuka di lantai VVIP. Rigel melangkah keluar, masuk ke kamar rawat inap Alea, dan berjalan menuju ranjang.

​Dia menurunkan Alea perlahan. Bukan dilempar, tapi diletakkan dengan cukup hati-hati meski wajahnya tetap datar.

​Alea segera mundur ke kepala ranjang, menarik selimut menutupi kakinya, mencoba membangun benteng pertahanan. Jantungnya masih berdegup kencang tak karuan.

​Rigel tidak langsung menjauh. Dia menumpukan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Alea, mengurung wanita itu lagi di sandaran ranjang. Dia menatap Alea dalam-dalam.

​"Dengar, Nona Alea," bisik Rigel, suaranya serak dan rendah, membuat bulu roma di leher Alea berdiri. "Saya tidak punya banyak kesabaran buat main kucing-kucingan."

​Alea menelan ludah. Jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa senti. Dia bisa merasakan napas hangat Rigel menerpa bibirnya.

​"Ka-kamu mau apa?" tanya Alea gugup, keberaniannya menguap entah ke mana.

​Rigel mendekatkan bibirnya ke telinga Alea.

​"Kalau kamu coba kabur sekali lagi..." bisik Rigel penuh penekanan. "Jangan bikin saya borgol kamu di ranjang ini. Paham?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!