Kiara Valeska Pratama tidak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir atau justru dimulai dengan cara sekejam ini.
Di saat gaun putih seharusnya melekat di tubuhnya, Kiara justru tertawa lepas di atas pasir putih Bali. Kacamata hitam bertengger manja di wajah cantiknya, minuman dingin di tangan kanan, dan suara musik pantai berdentum tanpa peduli pada satu fakta penting, hari ini ia seharusnya menikah.
“Cheers! Liburan terakhir sebelum jadi istri pria kampung,” ucap Kiara sambil mengangkat gelas, disambut tawa sahabat-sahabatnya.
Tak satu pun dari mereka tahu atau peduli bahwa di sebuah desa pelosok, jauh dari gemerlap Jakarta dan Bali, seorang pria tengah duduk kaku di depan penghulu, menahan rasa terhina yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Alvar Pramesa menggenggam kedua tangannya erat di pangkuan. Wajahnya keras, tatapannya kosong menembus lantai rumah sederhana yang hari itu dipenuhi tamu. Dia tidak pernah membayangkan pernikahannya akan berlangsung tanpa mempelai wanita.
“Var…” suara Pak Yono, ayahnya, terdengar pelan namun penuh tekanan. Pria tua itu duduk di kursi roda, tubuhnya belum sepenuhnya pulih sejak kecelakaan mobil saat rapat antar-kades beberapa bulan lalu.
Alvar menoleh. “Aku tidak mau, Pak,” ucapnya tegas.
“Pernikahan itu sakral. Kalau dia tidak datang, berarti dia tidak menghargai ini semua.”
Di hadapannya, Tuan Rahmat Pratama dan Nyonya Melati Valeska duduk dengan wajah penuh rasa bersalah. Mereka datang dari Jakarta, berpakaian rapi dan elegan, bahkan terlalu mencolok di tengah rumah desa yang sederhana.
Melati menunduk. “Kami mohon maaf sebesar-besarnya, Alvar,” ucapnya lirih. “Kiara … sudah membuat janji liburan jauh hari dengan sahabatnya. Dia manja sejak kecil. Kami yang salah mendidiknya.”
Alvar mendengus pelan, dalam hati ia menilai gadis itu bahkan belum ia temui, namun sudah berani meremehkan sebuah ikatan suci.
“Kalau begitu,” ucap Alvar dingin, “kenapa harus dipaksakan?”
Pak Yono mengetukkan tongkatnya ke lantai. “Karena Ayah percaya pada sahabat Ayah,” katanya tegas.
“Dan Ayah percaya pada kamu, Var. Kamu pria yang bertanggung jawab.”
Sulastri, ibu Alvar, menggenggam tangan anaknya dengan mata berkaca-kaca.
“Ibu tahu ini berat. Tapi pernikahan bukan soal hari ini saja. Ini soal masa depan.”
Alvar menutup mata, dalam hidupnya, ia telah menolak banyak hal dan karier gemilang sebagai dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri, tawaran rumah sakit besar, kehidupan mewah kota dan itu semua demi kembali ke desa, mengurus sawah dan ternak orang tuanya. Namun, kali ini harga yang harus ia bayar terasa terlalu mahal.
Akhirnya, ia mengangguk. Ijab kabul pun berlangsung dengan wali nikah adalah ayah Kiara sendiri. Satu tarikan napas, satu kalimat sakral, dan satu ketukan palu penghulu Alvar Pramesa resmi menjadi suami Kiara Valeska Pratama.
Seorang istri yang bahkan belum pernah ia lihat wajahnya.
Selesai acara, Tuan Rahmat menyerahkan selembar kertas kecil berisi nomor ponsel.
“Ini nomor Kiara,” katanya. “Besok siang dia akan berangkat ke desa.”
Pak Yono tersenyum lega. “Ayah titipkan Kiara padamu, Var. Ayah yakin dia akan betah di sini.”
Alvar menatap nomor itu lama. Jika gadis kota itu menganggap pernikahan ini main-main, maka hidup di desa akan mengajarinya arti tanggung jawab yang sebenarnya.
Malam turun perlahan di Pantai Bali, membawa angin asin dan cahaya rembulan yang menggantung pucat di langit. Kiara duduk di atas pasir, lututnya didekap, gaun tipisnya berkibar pelan diterpa angin laut.
Di sampingnya, Yoga menatap Kiara tanpa berkedip, tatapan yang sudah terlalu ia kenal. Tatapan seorang pria yang merasa memiliki.
“Aku tetap akan menikah, mungkin sekarang memang udah sah jadi istrinya.” ucap Kiara akhirnya, suaranya datar seolah membicarakan hal yang sama sekali tak penting.
“Dengan pria desa itu.”
Yoga terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. “Tapi kamu tetap milikku,” katanya pelan, nyaris seperti bisikan yang menyatu dengan debur ombak.
Kiara menoleh. “Aku mencintaimu, Yoga. Pernikahan itu bukan pilihanku. Itu urusan orang tuaku.”
Nada suaranya yakin bahkan keras kepala. Seolah perasaan bisa berdiri sendiri tanpa konsekuensi.
Yoga mendekat, jarak di antara mereka menghilang perlahan. Pria itu mengangkat tangan, mengecup kening Kiara dengan lembut, lalu pipinya. Kiara tak menepis dan matanya terpejam, membiarkan dirinya larut dalam kehangatan yang familiar.
Bibir mereka bertemu dan awal yang manis, singkat, dan penuh rasa rindu. Namun, ketika Yoga mencoba melangkah lebih jauh, tubuh Kiara menegang dan dia mendorong dada Yoga pelan tapi tegas.
“Jangan,” katanya.
“Aku belum siap.”
Yoga mundur, jelas terkejut. “Aku minta maaf,” ucapnya, meski sorot matanya menyimpan sesuatu yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan dan kekecewaan, mungkin juga ego yang terluka.
Gerimis turun tiba-tiba, tipis dan dingin.
“Kiara! Masuk! Hujan!” teriak Delia dari arah hotel.
Lala ikut melambai. “Ayo, nanti kamu sakit!”
Kiara berdiri. “Aku masuk dulu,” katanya pada Yoga. Mereka berpisah di bawah cahaya rembulan yang kini tertutup awan. Delia merangkul bahu Kiara, menyeretnya masuk ke arah kamar.
“Kamu dingin,” gumamnya.
Namun, di tengah jalan, Lala berhenti. “Aku ke lobi sebentar ya, pesan makanan.”
“Titip cokelat panas,” kata Delia tanpa curiga. Kiara pun tak menoleh lagi.
Pantai kembali sepi, hanya sisa-sisa hujan dan bayangan pohon kelapa yang bergoyang.
Yoga masih di sana.
“Kasihan ya,” suara Lala terdengar manja saat ia mendekat.
“Besok lusa dia istri orang.”
Yoga menoleh. “Apa maksudmu?”
Lala tersenyum miring, mendekat tanpa ragu. “Kiara nggak akan pernah bisa jadi apa yang kamu mau. Tapi aku…” ia berhenti tepat di hadapan Yoga, “aku bisa.”
Senyum Yoga mengembang pelan dan ia tak mundur. Di bawah pohon kelapa, dua bayangan menyatu. Ciuman mereka berbeda, hangat, tajam, dan tanpa ragu.
Dan di saat itulah Kiara kembali, dia turun tergesa, menyadari ponselnya tertinggal di meja pantai. Tangannya meraih benda itu lalu tubuhnya membeku.
Di kejauhan, di bawah cahaya lampu taman yang redup, Kiara melihatnya. Dada Kiara terasa sesak. Napasnya tertahan, dunia seakan runtuh dalam satu detik.
“Yoga!” teriaknya, suaranya pecah.
Pria itu menoleh, mata mereka bertemu sekilas saja. Namun, Kiara tak menunggu penjelasan. Ia berbalik dan berlari, meninggalkan pantai, meninggalkan malam, dan meninggalkan cinta yang ia pikir masih ia genggam.
Di belakangnya, ombak terus bergulung seolah menertawakan kebohongan yang baru saja terungkap.
“Kiara, jangan sekarang,” Delia memegangi lengan Kiara yang sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper. “Tolong … pulang besok pagi saja. Kamu masih emosi.”
“Lepasin, Del,” sahut Kiara dingin. Tangannya tak berhenti. Setiap helai pakaian yang dilemparkan ke dalam koper seolah membawa serta sisa perasaannya yang hancur.
“Kita bisa bicara baik-baik. Yoga pasti—”
“Cukup.” Kiara menutup koper dengan keras. “Aku nggak mau dengar nama itu lagi. Pesan tiket sekarang!”
Dia menyeret koper keluar kamar, tak peduli Delia yang terus memohon di belakangnya. Langkah Kiara mantap, wajahnya dingin, namun matanya memerah menahan luka yang belum sempat kering.
Begitu sampai di lobi hotel, langkah Kiara terhenti, Yoga berdiri di sana.
Yoga langsung mendekat. “Kiara, dengar dulu penjelasanku—”
“Penjelasan apa?” potong Kiara tajam. “Aku melihatnya sendiri.”
Lala berdiri kaku, namun Kiara menatapnya dengan pandangan yang membuat dada Lala sesak dan dingin, terluka, dan penuh kekecewaan.
“Untuk kamu,” ucap Kiara pada Yoga, “hubungan kita selesai.”
Ia mengalihkan tatapan pada Lala. “Dan untuk kamu … persahabatan kita juga berakhir.”
Lala membuka mulut, namun tak satu kata pun keluar. Yoga meraih tangan Kiara, tapi Kiara langsung menepis.
“Jangan sentuh aku.”
Delia maju ke depan, menahan napas. “Kiara, Aku nyusul besok setelah urus penginapan.”
Kiara tak menjawab. Dia masuk ke dalam taksi, menutup pintu tanpa menoleh lagi. Mobil melaju menuju bandara, meninggalkan Bali bersama luka, pengkhianatan, dan sisa-sisa cinta yang runtuh dalam satu malam.
Dua jam kemudian, Jakarta menyambut Kiara dengan sunyi yang menusuk. Dia turun dari taksi yang berbeda, menyeret kopernya masuk ke rumah besar yang selama ini selalu terasa dingin meski megah. Baru beberapa langkah, lampu ruang tamu menyala.
Orang tuanya ada di sana.
“Papa?” suara Kiara tercekat.
Tuan Rahmat berdiri. Wajahnya keras, matanya menyala oleh amarah yang ditahan terlalu lama.
Plak!
Tamparan itu mendarat telak di pipi Kiara.
“Kamu sudah mempermalukan Papa!” bentak Rahmat.
“Kabur ke Bali saat hari pernikahanmu sendiri!”
Kiara terhuyung, namun tetap berdiri. “Pa—”
“Untung suamimu mau melanjutkan pernikahan itu!” lanjut Rahmat. “Kalau tidak, nama keluarga kita sudah hancur!”
Kiara menoleh ke arah ibunya. “Mama … aku—”
Melati memalingkan wajah. Suaranya dingin, datar.
“Sudah cukup, Kiara. Kamu anak gadis. Jangan terus buat malu Papa dan Mama. Masalah yang kamu buat sudah terlalu banyak.”
Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada tamparan tadi.
“Besok pagi,” Rahmat melanjutkan, “sopir akan mengantarmu ke desa, ke tempat suamimu tinggal.”
Kiara tertawa kecil dan getir. “Jadi … aku benar-benar dinikahkan?”
Akhirnya, Kiara mengangguk pelan. “Baik,” katanya lirih. “Aku berangkat besok.”
Kiara duduk di tepi ranjang, lampu kamar redup, menyisakan bayangan panjang di dinding. Di jemarinya, secarik kertas kecil terlipat rapi nomor ponsel yang diberikan papanya tadi malam.
Alvar Pramesa, nama itu tertera singkat, tanpa hiasan. Kiara menatap angka-angka itu lama, lalu terkekeh pelan.
“Kita lihat saja,” gumamnya lirih, suara bercampur lelah dan luka, “sampai kapan kamu bisa bertahan jadi suami dari seorang Kiara Valeska.”
Senyum smirk terukir di bibirnya, tipis, dingin, dan penuh tantangan.
Kiara melangkah keluar kamar dengan koper kecil di tangannya. Celana jeans hot pants yang begitu pendek membalut kakinya yang jenjang, dipadukan dengan atasan putih bermotif bunga bertali satu. Rambutnya dikuncir tinggi asal, memberi kesan santai sekaligus menantang. Kacamata hitam melekat di wajahnya seolah dunia tak berhak melihat matanya pagi ini.
Baru beberapa langkah menuju mobil, suara ayahnya menghentikan langkah Kiara.
“Kamu mau ke desa, bukan ke mal,” tegur Rahmat dingin.
“Pakaianmu tidak pantas.”
Kiara berhenti, menoleh perlahan, senyum tipis bukan senyum ramah tetapi menggantung di bibirnya.
“Pa, aku pakai apa yang nyaman buat aku,” jawabnya ringan namun menyengat.
“Papa nggak perlu protes. Sekarang aku kan sudah jadi istri orang.” Cibirannya jelas.
Rahmat menghela napas berat, namun tak berkata apa-apa lagi. Melati menatap putrinya dengan raut yang sulit dibaca, ia tahu Kiara masih marah, masih terluka karena dinikah paksa, tapi kali ini, ia memilih diam.
Melati melangkah mendekat, memeluk Kiara sebentar. Pelukan singkat, canggung, namun penuh harap.
“Hati-hati,” ucapnya lembut. “Kalau sudah sampai perbatasan desa, hubungi Alvar. Dia yang akan menjemput kamu.”
Kiara mengangguk kecil, tanpa melepas kacamata hitamnya. Tak ada janji, tak ada kata manis. Ia masuk ke dalam mobil dan menutup pintu.
Mesin menyala, mobil bergerak meninggalkan halaman rumah besar itu.
Melati berdiri lama, menatap kepergian anak perempuannya hingga bayangan mobil menghilang di tikungan. Dalam diam, ia berdoa, semoga Kiara bisa belajar, dan semoga Alvar cukup sabar mengurus anaknya yang sulit diatur selama ini.
Di kursi belakang, Kiara menyandarkan kepala ke jendela. Jalanan Jakarta perlahan berganti, gedung-gedung tinggi menghilang satu per satu.
Mobil melaju melewati papan kayu bertuliskan Selamat Datang di Desa Tugu Utara, Cisarua, Bogor. Aspal mulai menyempit, berkelok tajam, naik-turun mengikuti kontur perbukitan. Pepohonan pinus berdiri rapat di kiri-kanan jalan, sebagian tertutup kabut tipis yang menggantung rendah.
“Pak,” ujar Kiara, memecah keheningan. “Antar saya langsung ke rumah Pak Kades saja.”
Sopir melirik lewat kaca spion. “Tuan Alvar bilang akan menjemput, Nona.”
“Saya nggak mau dijemput,” jawab Kiara cepat.
“Saya nggak kenal dia.”
Sopir terdiam sejenak, lalu mengangguk. Ia tak punya alasan untuk membantah.
Perjalanan memakan waktu lebih dari tiga jam. Tikungan demi tikungan membuat perut Kiara mual. Dia memejamkan mata sesaat, menahan rasa tak nyaman yang naik hingga tenggorokan. Namun, perlahan, rasa mual itu bercampur dengan sesuatu yang asing.
Udara di luar terasa begitu sejuk, dingin namun menenangkan. Kiara menurunkan kaca mobil. Angin gunung menerpa wajahnya, membawa aroma tanah basah, dedaunan, dan rumput liar. Ia melepas kacamata hitamnya, menatap keluar dengan mata yang kini lebih jujur.
Hamparan sawah terbentang luas, hijau dan berundak seperti lukisan. Kebun teh mengular mengikuti bukit, sementara rumah-rumah kayu sederhana berdiri berjajar, berasap tipis dari dapur-dapur pagi. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, suara tawa mereka berpadu dengan kokok ayam dan gemericik air sungai kecil di kejauhan.
Mobil tiba-tiba melambat, lalu berhenti total.
“Kenapa berhenti, pak?” tanya Kiara ketus dari kursi belakang.
Sopir menoleh sedikit. “Ada orang berdiri di tengah jalan, Non.”
Kiara mendengus, dia membuka kaca jendela dan menyembulkan kepalanya ke luar. Di depan sana, tepat di jalan sempit desa, terlihat seorang pria berpakaian sederhana berdiri di samping motor tua. Ia mengenakan kaus polos yang sudah sedikit pudar, celana panjang gelap, dan topi sawah yang menutupi sebagian wajahnya.
Di sisinya, seorang gadis berambut dikuncir dua, mengenakan gaun panjang bermotif bunga, tampak memeluk lengan pria itu dengan manja. Entah kenapa, pemandangan itu membuat dada Kiara panas.
“Woi!” teriak Kiara lantang, suaranya memecah udara desa yang tenang.
“Kalau mau enak-enakan jangan di tengah jalan! Ganggu orang lewat tahu?! Minggir cepat!”
Sopir terkejut, beberapa warga yang berada tak jauh dari situ langsung menoleh.
Pria itu, Alvar yang terdiam sejenak, lalu dengan rahang mengeras meminggirkan motor butut milik Pak Kades Yono ke tepi jalan. Saat mobil mulai bergerak melewati mereka, angin menerpa wajah Kiara, rambutnya sedikit terangkat, menampilkan wajah cantiknya yang dingin dan penuh kesombongan.
Tatapan Kiara dan Alvar bertemu sesaat. Namun, alih-alih memalingkan wajah, Kiara justru mengangkat tangannya dan mengacungkan jari tengah ke arah pria itu.
Mobil melaju pergi.
“Dasar orang kota sombong!” ketus Siti kesal, masih memeluk lengan Alvar.
Alvar menarik napas panjang.
“Siti, jangan begini. Nanti orang-orang salah paham.”
Siti mendongak. “Salah paham apa? Aku cuma—”
“Kamu tahu aku sudah menikah,” potong Alvar tegas.
“Kemarin.” Ucapan itu membuat pelukan Siti mengendur.
“Aku harus menjemput istriku di perbatasan,” lanjut Alvar.
“Tolong lepaskan.”
Siti tampak ingin membantah, namun ia tahu tatapan itu tatapan Alvar saat ia tidak suka dipaksa. Akhirnya, dengan berat hati, Siti melepaskan lengannya.
Alvar segera mengenakan helm, menyalakan mesin motor tuanya. Debu tipis terangkat saat ia melaju pergi, menuju perbatasan desa.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah berdinding krem dengan halaman luas dan rapi. Pagar kayu terbuka, pot bunga berjajar di teras. Sopir mematikan mesin lalu menoleh ke belakang.
“Ini rumah Pak Kades, Non. Kemarin saya antar orang tua Non ke sini,” ucapnya memastikan.
Kiara mengangguk singkat.
Begitu pintu mobil terbuka, Kiara turun dengan kacamata hitam masih melekat. Sopir segera menurunkan koper miliknya. Beberapa pasang mata warga sekitar mulai melirik bukan tanpa alasan. Celana jeans yang terlalu pendek dan atasan bertali satu itu jelas mencolok di tengah suasana desa yang sederhana.
Dari dalam rumah, Sulastri melangkah keluar. Ia terdiam sesaat melihat gadis muda cantik di depannya. Tak butuh waktu lama baginya untuk menebak.
“Kiara Valeska?” tanyanya hati-hati.
Kiara tersenyum tipis dan mengangguk. “Iya, Bu.”
Wajah Sulastri langsung berbinar. “Masya Allah, cantik sekali. Saya Sulastri. Istri Pak Kades Yono,” katanya ramah.
“Ibu Alvar.”
Sopir berpamitan singkat lalu pergi, meninggalkan Kiara berdiri dengan kopernya dan rasa asing yang makin menekan.
“Masuk, Nak,” ajak Sulastri lembut. “Alvar tadi pergi menjemput kamu. Ibu akan telepon supaya dia pulang.”
Kiara mengangguk dan mengikuti Sulastri masuk.
Ruang tamu rumah itu minimalis, bersih, dan tertata rapi. Tak ada kesan kumuh seperti yang Kiara bayangkan. Sofa sederhana tapi empuk, meja kayu mengilap, lantai bersih tanpa debu. Padahal rumah itu hanya dihuni oleh dua orang tua dan satu anak laki-laki.
Sulastri menyodorkan segelas teh. “Minum dulu. Perjalananmu pasti melelahkan.”
Kiara duduk, melepas kacamata hitamnya, lalu menerima gelas itu.
“Terima kasih, Bu.”
Sulastri duduk di seberangnya. “Kamu tahu kan … kemarin Bapak kamu yang jadi wali nikah?”
Kiara mengangguk. “Saya tahu, Bu.” Suaranya datar.
“Saya dipaksa. Tapi saya nggak bisa menolak. Saya menghargai keputusan orang tua saya.”
Sulastri menatap Kiara lama ada iba, ada harap. Belum sempat ia menjawab, terdengar suara motor berhenti di depan teras. Mesin dimatikan.
“Itu Alvar,” ucap Sulastri sambil berdiri. “Suami kamu sudah pulang.”
Satu kata itu membuat jantung Kiara berdegup kencang.
Pikiran Kiara langsung dipenuhi bayangan pria desa yang kumuh, berkulit gelap, berpenampilan dekil dan menjijikkan. Dia menelan ludah, lalu memalingkan wajah ke arah lain. Ia belum siap, belum sanggup melihatnya.
“Assalamu’alaikum.” Suara itu terdengar lembut dan tenang, entah kenapa, jantung Kiara justru berdegup lebih kencang dari sebelumnya.
Kiara spontan menoleh, seorang pria berdiri tak jauh darinya. Tubuhnya tinggi dan tegap. Kulitnya bersih, bukan hitam seperti yang ia bayangkan. Wajahnya tegas dengan rahang yang kuat, mata teduh, dan sorot yang tajam namun hangat. Kaus sederhana yang dikenakannya justru membuat kesan maskulin semakin jelas.
Topi sawah sudah dilepas, pria itu pria yang tadi ia maki di jalan.
“Kamu?!” Kiara refleks berdiri terlalu cepat.
Gelas teh di tangannya terguling. Cairan hangat tumpah mengenai kakinya.
“Aduh!” Kiara meringis, menahan perih.
“Kiara!” Sulastri panik.
Alvar terkejut dan langsung melangkah mendekat.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Alvar sembari menyentuh kaki Kiara yang tertumpah teh. Bukannya, menjawab Kiara justru terpaku pada tatapan Alvar yang begitu dingin tetapi teduh.
Beberapa menit setelah kejadian itu, Bu Sulastri kembali ke ruang tamu membawa kotak P3K kecil.
“Kiara, naikkan kakimu ke atas sofa,” ucapnya lembut namun tegas.
“Biar Alvar obati dulu. Nanti bisa melepuh kalau dibiarkan.”
Kiara ragu, tatapannya beralih pada Alvar yang duduk di seberangnya. Pria itu tak berkata apa-apa, wajahnya datar, sorot matanya dingin namun penuh kendali tatapan yang membuat Kiara justru tak berani membantah.
Pelan-pelan, Kiara menaikkan kakinya ke atas sofa.
Alvar duduk di hadapannya, membawa kain kompres basah dan salep. Saat pandangannya turun, ia langsung menghela napas pelan dan menelan ludahnya sendiri. Celana pendek Kiara membuat kakinya terlihat jenjang dan putih bersih kontras mencolok dengan suasana desa.
Tangannya bekerja cekatan, profesional. Ia membersihkan area kulit yang memerah, mengompresnya dengan hati-hati. Sentuhannya ringan, nyaris tanpa tekanan. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Keheningan itu justru membuat Kiara gelisah.
Ia mencuri pandang, melihat wajah Alvar dari jarak sedekat itu. Rahangnya tegas, alisnya rapi, ekspresinya terkunci. Tak ada kesan pria kampung dekil seperti yang ia bayangkan. Dan itu entah kenapa membuat dadanya terasa aneh.
“Sudah,” ucap Alvar akhirnya singkat.
“Jangan kena air dulu.”
Kiara mengangguk kecil. “Makasih,” jawabnya pelan, jauh dari nada sinisnya tadi.
Bu Sulastri tersenyum lega. “Bagus, sekarang kamu istirahat saja di kamar. Alvar, antar Kiara, ya. Ibu siapkan makan siang.”
Alvar berdiri. “Ayo.”
Kiara turun dari sofa, berdiri dengan sedikit canggung. Ia mengangkat kopernya, lalu mengikuti Alvar yang berjalan lebih dulu menuju lorong samping rumah.
Langkah mereka berdampingan, namun jaraknya terasa jauh. Tak ada percakapan. Hanya suara langkah kaki dan perasaan asing yang sama-sama mereka pendam.
Di balik ketenangannya, Alvar menahan satu pikiran yang terus mengganggu,
'Wanita kota ini akan menguji kesabaranku.
Alvar berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna cokelat muda. Ia membukanya, memberi jalan bagi Kiara untuk masuk lebih dulu.
“Ini kamar kita,” ucapnya singkat.
Kamar itu sederhana tak besar, tak mewah namun bersih dan tertata rapi. Ranjang kayu berukuran sedang dengan seprai bersih, lemari pakaian kecil, meja rias sederhana, dan satu jendela yang menghadap ke kebun belakang. Udara masuk bebas, membawa aroma tanah dan daun basah.
Kiara menatap sekeliling. Tak seburuk yang ia bayangkan., bahkan cukup nyaman. Namun, satu hal membuat dadanya menegang.
“Terus … kamu tidur di mana?” tanyanya akhirnya, menyilangkan tangan di dada.
Alvar menoleh. “Di sini.”
“Apa?” Kiara membelalak.
“Maksud kamu?”
“Kita satu kamar,” jawab Alvar datar.
“Kamu istriku.”
Nada itu membuat darah Kiara langsung naik ke kepala.
“Enak saja!” Kiara membentak. “Kamu pikir aku mau satu kamar sama orang yang bahkan nggak aku kenal? Ini keterlaluan!”
Sikap bar-bar dan arogannya muncul tanpa saringan. Alvar menghela napas, kali ini lebih dalam. Namun suaranya tetap terkendali. “Suka atau tidak, kita satu kamar. Mau atau tidak, kita tinggal satu kamar.”
Ucapan itu seperti bensin disiram ke api.
“Kamu tukang maksa!” Kiara menunjuk dada Alvar.
“Aku nggak mau tinggal di desa ini! Aku nggak mau hidup kayak gini!”
Alvar menatapnya tajam. “Dan gadis kota seperti kamu memang sulit diatur,” balasnya dingin.
“Manja dan egois.”
Kepala Alvar berdenyut, kesabarannya menipis. Ketukan pintu tiba-tiba terdengar, memotong ketegangan.
“Alvar?” suara Sulastri terdengar dari luar. “Makan siang sudah siap.”
Alvar mengalihkan pandangan dari Kiara. “Keluar, kita makan,” katanya singkat dan dingin, lalu melangkah pergi lebih dulu tanpa menunggu jawaban.
Begitu sampai di ruang makan, Sulastri langsung menyadari wajah anaknya yang kusut.
“Kenapa?” tanyanya pelan.
Alvar menarik kursi, duduk, lalu menghela napas.
“Aku nggak yakin bisa tinggal serumah dengan Kiara, Bu. Dia sulit diatur. Gadis kota … pasti nggak akan betah di desa.”
Sulastri menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Sabar, Var. Sekarang dia istrimu. Bukan tamu.”
Belum sempat Alvar menjawab, Kiara keluar dari kamar. Langkahnya anggun, wajahnya tenang berbeda jauh dari sikapnya tadi.
Alvar dan Sulastri sama-sama terdiam.
Sulastri segera berdiri.
“Ayo, Kiara. Duduk sini, ibu masak sayur asem dan ikan goreng.”
Kiara tersenyum manis. “Terima kasih, Bu.”
Ia duduk, membantu Sulastri menata piring, bahkan bertanya kecil soal masakan. Nada suaranya lembut, sikapnya sopan dan nyaris tak tersisa jejak gadis bar-bar tadi.
Alvar memperhatikan dari kejauhan, diam-diam terkejut. Rumah ini sudah lama sepi. Dan baru setengah hari Kiara ada di sini, ibunya sudah terlihat begitu menyukainya.
Sudut bibir Alvar terangkat tipis.
Kiara menatap piring di depannya. Seekor ikan nila goreng berukuran besar terletak rapi di atas nasi hangat, sambal dan lalapan di sampingnya. Aromanya gurih, menggoda namun justru membuat dada Kiara menegang.
Dadanya terasa tidak nyaman hanya dengan mengingatnya. Sejak kecil, ia alergi ikan tawar, terutama nila. Kulitnya bisa gatal, tenggorokannya terasa sesak jika tak segera minum obat.
“Kenapa, Sayang?” tanya Sulastri lembut, menyadari Kiara hanya diam menatap piringnya.
“Kurang selera?”
Belum sempat Kiara menjawab, Alvar menyandarkan punggungnya ke kursi, suaranya terdengar datar namun menusuk.
“Masakan Ibu pasti nggak cocok di lidahnya,” ucapnya.
“Biasanya makan burger sama pizza. Mana cocok makanan desa.” Ucapan itu seperti tamparan halus.
Kiara menoleh tajam ke arah Alvar. Matanya menyala kesal. Ada banyak hal yang ingin ia bantah namun gengsinya lebih dulu berbicara.
Tanpa berkata apa-apa, Kiara mengambil sendok dan garpu. Ia menyobek sedikit daging ikan nila itu, lalu memasukkannya ke mulut.
'Tidak apa-apa,' gumamnya dalam hati.
'Nanti minum obat saja.'
Ia teringat obat alerginya yang selalu ia bawa di tas.
Sulastri tersenyum lega melihat Kiara mulai makan.
“Enak, kan?”
Kiara mengangguk pelan, memaksakan senyum.
“Enak, Bu.”
Alvar memperhatikannya sekilas sekadar sekilas lalu kembali fokus pada makanannya. Ia tak tahu, dan Kiara tak berniat memberi tahu. Karena bagi Kiara Valeska, mengakui kelemahan di depan pria itu adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!