Elio Thomas Sebastian adalah seorang bocah laki-laki berusia enam tahun yang tumbuh dengan sebuah keyakinan menyedihkan, bahwa keberadaannya adalah sebuah kesalahan.
Di usianya yang masih sangat belia, Elio memiliki mata bulat yang jernih, namun selalu redup oleh ketakutan. Dia adalah bayangan kecil yang selalu berusaha tidak bersuara, berharap bahwa dengan menjadi tak terlihat, ayahnya tidak akan merasa terganggu.
Hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi Elio. Ya, hari ulang tahunnya yang keenam. Selama berhari-hari, ia telah menabung keberanian di dalam dadanya yang kecil, hanya untuk menanyakan satu hal yang selalu ia simpan rapat-rapat.
Pagi ini, Elio sudah duduk di kursi meja makan. Kakinya yang menggantung berayun pelan, menunggu kehadiran sang ayah.
Sementara di hadapannya, hanya ada sepiring roti lapis yang disiapkan oleh pelayan rumah. Tak ada balon, tak ada kue, bahkan tak ada ucapan selamat.
"Pagi, Dad," sapa Elio.
"Hmm." balas Jeremy dingin tanpa menoleh sedikitpun pada putranya. Ia langsung duduk di kursi ujung, membuka koran digitalnya dan menyesap kopi hitam tanpa gula.
Keheningan di ruangan itu terasa mencekik. Elio meremas ujung bajunya dengan sedikit gemetar.
"Dad..." panggil Elio dengan suara nyaris tak terdengar.
Jeremy tidak menyahut. Jemarinya sibuk menggeser layar tablet, mengabaikan bocah duduk di sampingnya.
"Daddy..." Elio mencoba lagi, kali ini sedikit lebih keras.
Jeremy menghela napas panjang yang terdengar sangat terganggu. Ia menurunkan tabletnya dan menatap Elio dengan mata tajam yang dingin.
"Apa? Jangan membuang waktuku, Elio. Aku ada rapat penting pagi ini."
Elio menelan ludah. Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah kertas yang sudah dilipat rapi. Itu adalah gambar yang ia buat semalaman. Gambar dimana ada seorang pria tinggi, seorang anak kecil dan seorang wanita berambut panjang yang ia imajinasikan sebagai ibunya.
Di bawahnya tertulis dengan huruf-huruf miring khas anak kecil, happy birthday to me and i love you, daddy.
"Hari ini Lio ulang tahun yang keenam, Dad," bisik Elio dengan binar harapan di matanya. "Apa boleh Lio tanya sesuatu?"
Jeremy hanya menatap datar kertas itu tanpa minat untuk menyentuhnya.
"Cepat katakan."
"Mommy orangnya seperti apa, Dad? Apakah dia... apakah dia sayang sama Lio kalau dia masih ada disini?" tanya Lio.
Brak!
Jeremy menggebrak meja makan hingga cangkir kopi di hadapannya berdenting keras. Elio tersentak, bahunya menciut seketika.
"Sudah berapa kali kukatakan padamu, jangan pernah berani menyebut tentang istriku!" bentak Jeremy. Suaranya memenuhi ruang makan yang luas itu.
"Tapi Dad, teman-teman Lio di sekolah bilang, kalau ulang tahun, ibu mereka selalu—"
"Tutup mulutmu!" Jeremy berdiri, bayangannya yang besar menelan tubuh mungil Elio yang kini mulai terisak. "Kau tahu kenapa dia tidak ada di sini? Kau tahu kenapa dia tidak bisa memelukmu?"
Jeremy melangkah mendekat, mencengkeram pinggiran meja dan menunduk tepat di depan wajah Elio yang sudah basah oleh air mata.
"Dia mati karena melahirkan mu, Elio! Dia kehilangan nyawanya demi memberikan napas pada anak pembawa sial sepertimu! Kau adalah alasan aku kehilangan satu-satunya wanita yang kucintai. Jadi, berhenti bertanya tentangnya! Kehadiranmu di rumah ini saja sudah merupakan pengingat yang menyakitkan bagiku!"
Elio terisak hebat. Napasnya tersengal-sengal, dadanya terasa nyeri seolah dihantam benda tumpul.
"M–maaf, Dad... Lio minta maaf..."
"Maafmu tidak akan mengembalikan dia!" bentak Jeremy lagi. Ia melihat kertas gambar yang dibawa Elio, lalu dengan kasar menyambarnya.
Tanpa ragu, Jeremy merobek kertas itu menjadi dua, lalu empat, dan membuangnya ke atas lantai.
"Berhenti bersikap cengeng. Harusnya kau sadar diri, ulang tahunmu adalah hari kematian ibumu. Tidak ada yang perlu dirayakan dari sebuah tragedi!"
Setelah mengucapkan kalimat beracun itu, Jeremy menyambar tasnya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Suara pintu depan yang tertutup dengan gebrakan keras menandakan kepergiannya, meninggalkan Elio sendirian di ruang makan itu.
Elio turun dari kursinya dengan tubuh bergetar. Ia berlutut di lantai, memunguti potongan-potongan kertas gambarnya yang kini sudah menjadi beberapa bagian.
Ia mencoba menyatukan potongan itu kembali, namun robekannya terlalu hancur, sama seperti hatinya.
"Maafkan Lio, mommy," isak bocah itu pecah. Ia memeluk potongan kertas itu di dadanya sembari meringkuk di lantai yang dingin. "Maaf, karena Lio sudah lahir ke dunia ini. Lio janji gak akan tanya soal mommy lagi."
Di hari ulang tahunnya yang keenam, Elio tidak mendapatkan pelukan atau kado. Ia hanya mendapatkan kenyataan pahit bahwa ayahnya sendiri berharap ia tidak pernah dilahirkan.
Elio menangis sendirian , memohon ampun pada dunia atas dosa yang bahkan tidak pernah ia lakukan.
"Sayang, jangan menangis lagi, ya? Nanti mata tuan muda jadi bengkak."
Martha, pelayan tua yang sudah bekerja lama di mansion itu, segera berlari menghampiri Elio.
Hatinya hancur berkeping-keping melihat tubuh mungil itu meringkuk di lantai sambil memeluk potongan kertas yang sudah hancur.
Martha langsung membawa Elio ke dalam pelukannya dan membiarkan air mata bocah itu membasahi celemek nya.
"Martha, daddy benci Lio ya?" isak Elio sesenggukan. "Apa Lio anak nakal karena bikin mommy pergi?"
Martha mengusap punggung Elio dengan lembut, mencoba menyalurkan kekuatan yang ia punya.
"Dengar ucapan bibi, Tuan Muda adalah anugerah terindah yang pernah ditinggalkan nyonya Stella. Nyonya sangat menyayangi tuan muda, itulah sebabnya dia memberikan seluruh hidupnya supaya tuan muda bisa melihat dunia."
Martha merapikan rambut Elio yang berantakan karena keringat dan air mata.
"Tuan Jeremy hanya sedang banyak pikiran. Dia belum sembuh dari lukanya. Tapi itu bukan salah tuan muda," ucap Martha lagi.
"Tapi daddy buang gambar Lio," ucap Lio.
Martha mengambil potongan kertas itu, lalu menciumnya dengan tulus.
"Nanti kita perbaiki bersama di kamar, ya? Sekarang, tuan muda harus kuat. Suatu hari nanti, Tuhan pasti akan mengirimkan seseorang yang bisa mencintai tuan muda dan tuan Jeremy dengan tulus. Seseorang yang akan membawa kembali tawa di rumah ini," ucap Martha sembari mendekap Elio, mencoba menjadi tameng bagi jiwa kecil yang baru saja dihancurkan oleh ayahnya sendiri.
"Sudah aku bilang, jangan kirim uang lagi! Aku di sini mau kuliah. Bukan mau jadi pajangan, yang kalian beri makan supaya kalian nggak merasa bersalah karena nggak pernah pulang!"
Suara lantang itu membelah keramaian di depan Galleria Vittorio Emanuele II. Cahaya, dengan ponsel yang ditempelkan erat ke telinga, berjalan mondar-mandir dengan napas memburu. Ia tidak peduli pada tatapan orang Italia yang lewat. Emosinya sudah di ubun-ubun.
"Kerja saja terus sampai lupa kalau punya anak! Aku bisa cari uang sendiri di sini! Nggak usah sok peduli!"
Cahaya mematikan sambungan telepon dengan kasar. Matanya panas, namun ia menolak untuk menangis di tempat umum. Dengan langkah yang tergesa-gesa dan kepala yang masih menunduk karena sibuk memasukkan ponsel ke dalam tas ranselnya, ia berlari kecil mengejar waktu untuk jadwal wawancara kerja part time nya.
Di saat yang bersamaan, sebuah sosok tinggi tegap baru saja keluar dari butik mewah. Jeremy sedang melangkah menuju mobilnya dengan raut wajah sekaku es, pikirannya masih dipenuhi oleh kekesalan sisa perdebatan dengan Elio pagi tadi.
"Aduh!"
Tubuh mungil Cahaya menghantam dada bidang Jeremy yang sekeras batu. Cahaya terhuyung ke belakang, tasnya merosot, dan beberapa lembar kertas formulir pendaftarannya berhamburan di atas trotoar Milan yang bersih.
Jeremy membeku. Aroma parfum yang tidak asing tiba-tiba merasuki indra penciumannya. Itu adalah aroma mendiang istrinya. Namun, saat ia menunduk, ia melihat seorang gadis yang sedang menatapnya dengan api kemarahan di matanya.
"Heh! Kalau jalan pakai mata, dong!" bentak Cahaya refleks dalam bahasa Indonesia, sebelum sadar ia sedang di Italia. "Eh, maksudku... look at where you're going!"
Jeremy menatap gadis di hadapannya dengan tatapan yang bisa membekukan air terjun.
"Kau yang menabrak ku, Nona. Kau yang harusnya melihat jalan," ketus Jeremy.
Cahaya tertegun sejenak. Pria di depannya ini luar biasa tampan, tapi auranya sangat menyebalkan. Terlalu angkuh. Dan yang paling membuat Cahaya kesal, pria ini hanya berdiri tegak tanpa niat sedikit pun membantunya memunguti kertas-kertasnya.
"Wah, luar biasa ya. Sudah menabrak, bukannya minta maaf malah berdiri kayak patung?" Cahaya berdiri, menepuk-nepuk celana jeansnya, lalu menunjuk dada Jeremy dengan telunjuknya yang mungil.
Jeremy mengernyit. Belum pernah ada orang di Milan, atau siapapun yang berani menunjuk-nunjuk dadanya dengan begitu tidak sopan.
"Turunkan tanganmu!"
"Enggak mau! Lagian, Om ini penampilannya saja yang rapi, jas mahal, jam tangan mewah, tapi etikanya nol! Orang tua Om nggak pernah ngajarin sopan santun, ya?"
Darah Jeremy seolah mendidih mendengar makian itu. "Om?"
"Iya, Om! Habisnya Om sudah kelihatan... ya, sudah berumur sih. Lagian sikap Om kaku banget kayak kanebo kering. Harusnya Om itu minta maaf, bukan malah menatapku kayak mau makan orang!" Cahaya berkacak pinggang, menatap Jeremy tanpa rasa takut sedikit pun.
Jeremy merasa dunianya sedikit jungkir balik. Gadis ini sangat pendek, wajahnya sangat mirip dengan wanita yang ia tangisi setiap malam, tapi mulutnya... mulutnya benar-benar seperti petasan. Berisik dan tajam.
"Dengar, Nona. Aku tidak punya waktu untuk meladeni kegilaanmu. Minggir dari jalanku," suara Jeremy merendah, memberi peringatan.
"Oh, silakan lewat, Om Sombong! Lewat saja!" Cahaya memberi jalan dengan gerakan tangan yang dramatis. "Semoga harimu sial terus!"
Jeremy tidak membalas. Ia melangkah melewati Cahaya dengan hati yang bergemuruh. Ada perasaan aneh yang bergejolak di dadanya, marah karena dihina, namun ada sedikit rasa penasaran karena wajah itu. Wajah yang membuat jantungnya yang sudah mati tiba-tiba berdenyut nyeri lagi.
Cahaya menjulurkan lidahnya ke arah punggung Jeremy yang menjauh. "Idih, ganteng-ganteng kok kayak monster es. Kasihan banget kalau ada yang jadi istrinya, pasti setiap hari sarapannya dibentak doang."
Cahaya segera memunguti kertas-kertasnya yang tersisa. Ia melihat jam di pergelangan tangannya dan memekik.
"Mampus! Aku telat wawancara!" Ia berlari menuju alamat yang diberikan oleh agen tenaga kerja di ponselnya.
Sementara di dalam mobilnya, Jeremy terus memegangi dadanya. Bayangan gadis itu terus berputar di kepalanya. Terutama caranya menunjuk-nunjuk dan memanggilnya dengan sebutan yang sangat menghina itu.
"Siapa gadis kurang ajar itu? Tidak punya sopan santun sama sekali!" gumam Jeremy pada dirinya sendiri.
"Ada apa dengan wajahmu, Jer? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu," tanya Edgar yang sejak tadi duduk di samping Jeremy.
Jeremy tidak langsung menjawab. Matanya menatap tajam ke luar jendela mobil yang menyusuri jalanan Milan.
"Bukan apa-apa, Ed. Hanya saja tadi ada tikus pengganggu," jawab Jeremy dingin.
Edgar mengernyitkan alis, sedikit terkejut dengan nada bicara Jeremy yang lebih lembut dari biasanya.
"Tikus pengganggu? Lalu, kau sudah memusnahkan tikus itu? Biasanya kau tidak akan membiarkan siapa pun mengusik ketenanganmu."
"Tidak!" jawab Jeremy cepat, bahkan sebelum Edgar kembali bertanya.
"Tumben sekali. Seorang Jeremy membiarkan pengganggunya pergi begitu saja? Siapa sebenarnya tikus itu sampai kau mendadak jadi pemaaf?"
Jeremy terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa tikus itu memiliki wajah yang sama dengan alasan di balik seluruh kesedihannya selama enam tahun ini.
"Kau tahu, Jer? Jonas dan Joana baru saja menghancurkan vas bunga antik kiriman dari Rusia kemarin sore. Hanya karena mereka berebut siapa yang paling hebat menembakkan pistol air ke arah pelayan."
Edgar tertawa renyah, tangannya dengan santai mengendalikan kemudi mobil menembus jalanan Milan.
Ya, mereka baru selesai meeting dan akan pergi untuk makan siang bersama. Edgar terpaksa menyetir sendiri, hanya untuk mengenang masa-masa bersama Jeremy dulu.
Sementara Jeremy, duduk dengan santai seolah dia adalah bosnya.
"Lahir hanya terpaut beberapa bulan lebih dulu dari Elio-mu, tapi mereka sudah bertingkah seperti bos mafia kecil. Jean bahkan berani menatapku dengan wajah datar saat aku mencoba menghukumnya. Benar-benar darah pemberontak."
Jeremy tetap diam. Pandangannya lurus ke luar jendela, seolah semua ocehan Edgar tentang anak kembarnya yang unik itu hanyalah angin lalu. Ia tidak menunjukkan ketertarikan, tidak pula tersenyum.
Baginya, pembicaraan tentang anak kecil adalah hal yang paling ingin ia hindari.
"Mereka mulai belajar memegang senjata mainan sekarang. Kau harus melihat bagaimana Jonas membidik sasaran. Sifat keras kepalaku menurun sempurna padanya," lanjut Edgar, masih berusaha mencairkan suasana.
"Hmm." Lagi-lagi, respon Jeremy hanya sebuah gumaman pendek yang dingin.
Edgar menghela napas lalu melirik sahabatnya itu dengan tatapan prihatin. Ia memutuskan untuk mengganti arah pembicaraan ke topik yang lebih personal, meski ia tahu itu berisiko memancing amarah Jeremy.
"Jer, hari ini ulang tahun Elio yang keenam, bukan?" tanya Edgar dengan nada serius. "Apa kau tidak berniat pulang lebih awal? Sekadar memberikan kado atau kue untuknya?"
Suasana di dalam mobil mendadak menjadi sangat aneh. Jeremy memutar kepalanya, menatap Edgar dengan sorot mata yang tajam dan menusuk.
"Aku tidak punya waktu untuk merayakan hari kesialan seperti itu," jawab Jeremy ketus.
Edgar mengerem mobilnya perlahan karena lampu merah, lalu ia menoleh sepenuhnya pada Jeremy.
"Kesialan? Jer, dia anakmu. Dia darah dagingmu sendiri."
"Dia alasan Stella pergi, Ed! Kau tahu itu! Ulang tahunnya adalah hari di mana aku kehilangan segalanya. Untuk apa aku merayakannya? Untuk merayakan kematian istriku?" bentak Jeremy, emosinya meledak seketika.
Edgar menggelengkan kepala, ia tidak setuju dengan cara berpikir sahabatnya yang sudah terlalu jauh menyimpang.
"Berhenti bersikap seperti monster pada anakmu sendiri, Jeremy. Elio tidak tahu apa-apa saat itu. Dia baru saja menghirup napas pertamanya saat Stella mengembuskan napas terakhir. Itu bukan salahnya!"
"Dia pembawa sial!"
"Bukan dia pelakunya!" Edgar membalas dengan nada yang tak kalah tinggi. "Stella meninggal karena peluru musuhmu, Jeremy! Sampai detik ini, kita bahkan belum menemukan siapa pengecut yang menembaknya hari itu. Stella memilih menyelamatkan bayinya karena dia tahu nyawanya sendiri tak bisa diselamatkan akibat pendarahan hebat. Dia mengorbankan diri demi Elio! Jika kau membenci Elio, artinya kau menghina pengorbanan Stella!"
Jeremy terdiam. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya terlihat jelas. Kata-kata Edgar barusan seperti ribuan jarum yang menusuk jantungnya.
Luka enam tahun lalu itu terbuka kembali, basah dan sangat perih. Ia teringat wajah pucat Stella yang tersenyum saat menyerahkan bayi merah itu ke pelukan perawat sebelum matanya terpejam untuk selamanya.
"Cukup, Ed," ucap Jeremy dengan suara yang bergetar karena emosi yang tertahan.
"Tidak, ini belum cukup! Kau menghukum bocah yang tidak berdosa atas dosa orang lain. Elio butuh ayahnya, bukan seorang tuan tanah yang dingin dan kejam," tegas Edgar.
Jeremy memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba meredam badai di dalam kepalanya.
"Maaf, Ed. Aku sedang tidak dalam mood untuk membahas Elio. Diamlah atau aku akan turun dari mobil ini."
Edgar mendengus kasar, ia kembali menginjak gas saat lampu berubah hijau.
"Kau benar-benar keras kepala, Jeremy. Aku hanya takut, suatu saat nanti ketika kau akhirnya sadar, Elio sudah terlalu jauh untuk kau jangkau. Luka yang kau goreskan pada anak itu mungkin tidak akan pernah bisa kau sembuhkan," ucap Edgar menasehati.
Jeremy kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia tidak peduli. Baginya, mencintai Elio berarti mengkhianati rasa sakitnya atas kehilangan Stella. Ia memilih untuk tetap membenci, meski jauh di lubuk hatinya, ada rasa hampa yang perlahan mulai menggerogoti jiwanya.
*
*
"Permisi, selamat siang. Benarkah ini kediaman Tuan Sebastian?"
Martha yang sedang menyapu teras depan segera menoleh. Ia mendapati seorang gadis muda dengan napas terengah-engah dan ransel di punggungnya.
"Iya, benar. Saya Martha, pelayan di sini. Ada perlu apa ya, Nona?" jawab Martha dengan senyum sopan.
Cahaya menyeka keringat di dahinya, lalu tersenyum lebar. "Nama saya Cahaya, Bibi. Saya mahasiswi yang dikirim oleh agen tenaga kerja. Katanya, tuan Sebastian butuh babysitter tambahan untuk menjaga tuan muda Elio secara part-time."
Martha tertegun sejenak melihat wajah Cahaya. Ada sesuatu yang akrab dari raut gadis itu, tapi ia segera menepisnya.
"Oh, jadi anda orangnya? Mari masuk dulu, Nona Cahaya. Tuan muda sedang ada di kamarnya, dia—"
Ciittttt!
Suara decitan ban yang mengerem mendadak di halaman mansion memotong ucapan Martha. Sebuah mobil hitam mengkilap berhenti tepat di depan mereka.
Pintu terbuka, dan sosok tinggi dengan aura mengintimidasi keluar dari sana.
Cahaya refleks menoleh, dan saat matanya bertemu dengan pria yang baru saja keluar dari mobil, jantungnya nyaris melompat keluar. Begitu juga dengan Jeremy, yang seketika mematung di tempatnya.
"Kau?!" seru Jeremy dengan telunjuk terarah pada Cahaya.
Cahaya tidak mau kalah. Ia melotot dan balas menunjuk wajah Jeremy dengan berani.
"Lho, om sombong?!"
Martha yang berdiri di antara mereka hanya bisa melongo kaget.
"Tuan, anda sudah mengenal nona Cahaya?"
"Dia tikus pengganggu yang menabrakku tadi!" geram Jeremy dengan wajah mengeras menahan emosi.
"Enak saja! Om ini yang nggak punya etika!" balas Cahaya tanpa rasa takut sedikit pun.
Jeremy memijat pangkal hidungnya yang mulai berdenyut nyeri. "Martha, jangan bilang gadis kurang ajar ini yang kau terima untuk menjaga Elio?"
"Kalau saya tahu bosnya adalah om-om menyebalkan seperti anda, saya juga ogah melamar ke sini!" balas Cahaya sembari berkacak pinggang dan mendongak menatap sengit Jeremy.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!