"Jangan harap aku melangkah satu jengkal pun ke altar kalau sertifikat itu belum ada di tanganku."
Ziva menatap pantulan dirinya di cermin rias. Gaun pengantin putih yang membalut tubuhnya terasa seperti kain kafan, mencekik dan dingin. Di belakangnya, pria paruh baya dengan setelan jas mahal yang agak kesempitan tampak menggeretakkan gigi. Wajahnya merah padam menahan amarah.
"Kau jangan main gila, Ziva! Tamu undangan sudah datang. Keluarga Drystan sudah menunggu di depan. Kau mau mempermalukan Om Haryo hah?!" bentak pamannya itu dengan suara tertahan, takut terdengar oleh orang di luar ruangan.
Ziva memutar tubuh, menatap lurus ke mata pamannya tanpa rasa takut sedikit pun. "Malu? Om yang mempertaruhkan nyawa Om sendiri dengan menjual keponakan demi melunasi hutang judi. Kalau aku batal menikah, siapa yang akan dicincang oleh orang-orang Drystan itu? Aku atau Om?"
Haryo terdiam. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Dia tahu Ziva tidak sedang menggertak. Keponakannya ini memang terlihat tenang, tapi otaknya bekerja secepat kilat.
"Pengacara Salim!" seru Ziva, mengabaikan napas Haryo yang memburu.
Seorang pria berkacamata yang sejak tadi berdiri kaku di sudut ruangan maju selangkah. Dia membuka tas kerjanya dengan tangan gemetar. "Dokumennya sudah siap, Nona Ziva. Sertifikat rumah atas nama orang tua Anda, surat balik nama, dan surat perjanjian pelepasan hak dari Bapak Haryo."
"Tunggu apa lagi? Serahkan padanya!" Haryo menyambar dokumen itu kasar dari tangan pengacara dan melemparnya ke meja rias di depan Ziva. "Puas kau? Dasar anak tidak tahu diuntung! Sudah diurus sejak kecil, sekarang malah memeras paman sendiri."
Ziva tidak peduli dengan makian itu. Jemarinya yang lentik—jemari seorang ahli bedah yang biasa memegang pisau skapel—kini dengan teliti membalik setiap halaman dokumen. Dia memeriksa stempel, tanda tangan, dan keaslian kertas sertifikat itu. Tidak ada celah. Rumah peninggalan orang tuanya aman.
Ziva mengambil pena, menandatangani bagian penerimaan, lalu memasukkan sertifikat berharga itu ke dalam clutch pengantinnya.
"Urusan kita selesai," gumam Ziva dingin. Dia berdiri, membenahi letak veil di kepalanya. "Ingat, Om. Setelah detik ini, aku bukan lagi urusanmu. Dan jangan pernah berani menginjakkan kaki di rumahku lagi."
Haryo mendengus kasar, lalu memberi isyarat pada pengurus pernikahan untuk membuka pintu. "Cepat jalan. Jangan bikin malu."
Prosesi pernikahan itu berjalan secepat kilat, seolah semua orang ingin segera mengakhirinya.
Tidak ada janji suci yang mengharukan, tidak ada tatapan cinta. Yang ada hanyalah tatapan menilai dari para tamu undangan yang berbisik-bisik, mencemooh nasib Ziva yang harus menikah dengan "monster cacat" dari keluarga Drystan demi harta.
Ziva masa bodoh. Dia hanya berdiri tegak, mengucapkan kata "Sah" dengan nada datar seperti sedang memesan kopi, lalu membiarkan dirinya digiring masuk ke dalam mobil limosin hitam yang akan membawanya ke neraka barunya.
Perjalanan menuju kediaman utama Keluarga Drystan terasa sunyi. Sopir di depan tidak bicara sepatah kata pun.
Ziva menyandarkan kepalanya ke jendela mobil, menatap gedung-gedung tinggi yang berlarian di luar. Dia tidak menangis.
Air matanya sudah kering sejak hari pemakaman orang tuanya. Sekarang, yang tersisa hanya logika.
Mobil berhenti di depan sebuah mansion bergaya Eropa klasik yang suram. Halamannya luas, dipenuhi pepohonan yang dipangkas rapi namun kaku.
"Silakan turun, Nona," ucap sopir itu sambil membukakan pintu.
Seorang pelayan wanita paruh baya dengan wajah kaku sudah menunggu di depan pintu utama. Tanpa senyum, tanpa sambutan hangat. "Mari ikut saya. Pak Elzian tidak suka menunggu."
Ziva mengikuti langkah pelayan itu menyusuri lorong panjang yang lantainya berlapis marmer dingin. Dinding-dindingnya dipenuhi lukisan abstrak yang menambah kesan angker rumah itu.
Tidak ada foto keluarga. Tidak ada vas bunga segar.
Rumah ini mati.
"Ini kamar Pak Elzian. Beliau ada di dalam," kata pelayan itu, berhenti di depan sebuah pintu kayu jati ganda yang besar. Pelayan itu bahkan tidak repot-repot membukakan pintu. Dia langsung berbalik pergi, seolah takut tertular sial jika berlama-lama di sana.
Ziva menarik napas panjang. Ini dia, batinnya. Bagian dari kesepakatan. Dia sudah mendapatkan rumahnya kembali, sekarang dia harus menghadapi 'pembelinya'.
Tangannya terulur memutar gagang pintu yang dingin. Pintu terbuka tanpa suara, engselnya diminyaki dengan sempurna.
Kamar itu luas dan remang-remang. Tirai jendela tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari sore. Udara di dalam terasa lebih dingin beberapa derajat dibanding di luar, berbau antiseptik samar bercampur aroma kayu manis yang maskulin.
Ziva melangkah masuk, suara hak sepatunya teredam oleh karpet tebal. Matanya menyapu ruangan, mencari sosok suaminya.
Di sudut ruangan, dekat jendela yang tertutup, sebuah kursi roda membelakanginya.
Sosok pria duduk di sana, diam tak bergerak seperti patung. Punggungnya tegap, terlalu tegap untuk ukuran orang yang dikabarkan lumpuh total dan sekarat.
"Tutup pintunya," suara itu terdengar rendah, berat, dan sarat akan dominasi. Bukan permintaan, tapi perintah mutlak.
Ziva mendorong pintu hingga tertutup dengan bunyi klik pelan. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang biasa ia rasakan sebelum melakukan operasi sulit.
Kursi roda itu perlahan berputar.
Ziva menahan napas. Pria itu, Elzian Drystan, menatapnya. Wajahnya tampan namun keras, dengan rahang tegas yang seolah dipahat dari batu granit. Namun yang paling mengintimidasi adalah matanya. Mata itu gelap, tajam, dan dingin, menatap Ziva seolah dia adalah kuman yang harus dibasmi, bukan seorang istri.
Tidak ada kelembutan dalam tatapan itu. Hanya ada kebencian yang sangat.
"Keluar kau. Kau pikir aku akan menyentuhmu?" Suara Elzian memecah keheningan, dingin menusuk tulang. "Aku lumpuh."
"Baguslah. Jadi aku bisa tidur nyenyak tanpa perlu melayanimu."
Jawaban Ziva meluncur begitu saja, santai dan tanpa beban. Tidak ada raut kecewa atau ketakutan di wajah cantiknya. Dia justru terlihat... lega?
Elzian Drystan terdiam sejenak. Alis tebalnya bertaut tajam. Reaksi ini bukan yang dia harapkan. Biasanya, wanita yang dikirim ke kamarnya akan menangis histeris, memohon belas kasihan, atau lari terbirit-birit melihat kondisi kakinya. Tapi wanita ini justru melepas veil pengantinnya dengan gerakan kasar, melemparnya ke sembarang kursi, lalu menghempaskan tubuh ke sofa beludru di seberang Elzian.
"Kau tidak dengar? Aku bilang keluar," geram Elzian. Suaranya rendah, seperti gemuruh petir yang tertahan.
Ziva melepas sepatu hak tingginya satu per satu, mendesah nikmat saat kakinya menyentuh karpet empuk. "Keluar ke mana? Ini kamar pengantin kita. Lagipula, aku sudah dapat sertifikat rumahku. Kesepakatannya adalah aku menjadi istrimu, tinggal di sini, dan kau menjamin keamanan asetku. Tidak ada klausul yang bilang aku harus keluar kamar hanya karena suamiku moody."
"Kau punya nyali juga," cemooh Elzian. Tangannya mencengkeram pegangan kursi roda hingga buku-buku jarinya memutih. "Kau pikir karena kau seorang dokter, kau bisa bersikap sombong di sini? Di rumah ini, gelarmu tidak ada harganya. Kau cuma barang jaminan hutang."
Ziva menoleh, tatapannya berubah tajam. Dia bangkit dari sofa, berjalan perlahan mendekati kursi roda Elzian. Langkahnya tenang, terukur, persis seperti predator yang sedang mengamati mangsa.
"Jangan mendekat," desis Elzian.
Ziva mengabaikan peringatan itu. Dia berhenti tepat di depan lutut Elzian. Aroma parfum maskulin pria itu menguar kuat, bercampur dengan aura bahaya yang pekat. Namun bagi Ziva, bahaya adalah teman sehari-hari di meja operasi.
"Kau tahu, Elzian," ucap Ziva pelan, matanya menyapu kaki Elzian yang tertutup celana bahan hitam. "Sebagai ahli bedah saraf, aku sudah melihat ratusan kasus kelumpuhan. Paraplegia, tetraplegia... aku hafal semuanya."
Tanpa peringatan, Ziva berlutut. Tangannya terulur cepat menyentuh betis Elzian.
"Lepaskan!" Elzian menyentak kakinya—sebuah gerakan refleks.
Gerakan itu sangat kecil, nyaris tak terlihat mata awam. Tapi bagi Ziva, itu sudah cukup. Senyum miring terbit di bibir merahnya.
"Wow," gumam Ziva, jarinya kini menekan otot betis Elzian dengan kuat, sengaja mencari titik saraf. "Refleks yang menarik untuk orang yang katanya 'lumpuh total' selama dua tahun."
"Singkirkan tanganmu atau kupatahkan," ancam Elzian, tapi dia tidak segera menepis tangan Ziva. Dia membeku, waspada.
Ziva mendongak, menatap lurus ke manik mata hitam pria itu. "Otot gastrocnemius-mu kencang. Padat. Tidak ada tanda-tanda atrofi atau penyusutan otot sama sekali. Kalau kau benar-benar lumpuh dan duduk di kursi roda ini selama dua tahun, kakimu harusnya sudah mengecil, layu seperti ranting kering. Tapi ini?"
Ziva menepuk pelan lutut Elzian, nada suaranya penuh ejekan. "Ini kaki pelari, bukan kaki orang cacat."
Rahang Elzian mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang mulai meledak.
Ziva berdiri perlahan, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Dia menatap mata Elzian lekat-lekat, menganalisa setiap kedutan mikro di wajah suaminya itu.
"Dan lihat matamu," lanjut Ziva, suaranya turun menjadi bisikan berbahaya. "Pupilmu melebar saat aku menyentuhmu tadi. Itu respon sistem saraf simpatik. Fight or flight. Tubuhmu bersiaga. Kau tegang. Kau tidak lumpuh, Suamiku. Kau cuma penipu ulung dengan akting yang buruk sekali."
Hening.
Suasana kamar itu berubah mencekam dalam hitungan detik. Udara terasa berat, seolah oksigen ditarik paksa dari ruangan.
Elzian menatap Ziva dengan tatapan yang sulit diartikan. Kilatan di matanya bukan lagi sekadar dingin, tapi mematikan. Rahasianya—kartu As yang dia jaga mati-matian dari musuh-musuh bisnisnya, bahkan dari keluarganya sendiri—baru saja ditelanjangi oleh wanita yang baru dikenalnya kurang dari enam jam.
"Kau merasa pintar, Dokter Ziva?" tanya Elzian pelan. Terlalu pelan.
"Aku tidak merasa pintar. Aku memang pintar," balas Ziva angkuh. "Jadi, berhentilah bersandiwara di depanku. Itu menjijik—"
BRAK!
Kalimat Ziva terputus paksa.
Kursi roda itu terdorong ke belakang dengan kasar. Dalam sekejap mata, bayangan tinggi besar menjulang di hadapannya. Elzian Drystan berdiri. Tegak, kokoh, dan menjulang tinggi, jauh lebih tinggi dari Ziva.
Sebelum Ziva sempat mundur, sebuah tangan besar dan kuat sudah mencengkeram lehernya, mendorongnya mundur hingga punggung Ziva menghantam dinding kamar dengan keras.
"Ugh!" Ziva terbatuk, tangannya refleks mencakar lengan kemeja Elzian yang kini mengunci saluran pernapasannya.
Wajah Elzian kini tepat di depan wajahnya. Tidak ada lagi pria lemah di kursi roda. Yang ada di hadapannya adalah monster yang sebenarnya. Otot-otot lengan pria itu menegang sempurna, membuktikan diagnosa Ziva seratus persen akurat. Tenaganya luar biasa besar.
Mata Elzian berkilat buas, menatap Ziva seperti singa yang siap merobek leher mangsanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai kejam yang membuat bulu kuduk meremang.
"Selamat, Istriku," bisik Elzian tepat di telinga Ziva, suaranya serak dan mengerikan. Cengkeramannya di leher Ziva mengerat, membatasi pasokan udara, tapi tidak cukup untuk membunuh—hanya untuk memberi peringatan mutlak. "Analisa medis yang brilian."
Ziva megap-megap mencari udara, tapi matanya tetap menatap nyalang, menolak untuk tunduk.
"Tapi kau lupa satu hal," lanjut Elzian dingin. Dia mendekatkan wajahnya, menatap manik mata Ziva yang mulai berair karena kurang oksigen. "Orang yang tahu terlalu banyak, biasanya umurnya pendek."
"Bunuh saja. Tapi pastikan kau punya dokter lain yang bisa mendeteksi racun di kopimu pagi nanti.”
Ziva mengucapkan kalimat itu dengan sisa napas yang ada. Wajahnya mulai memerah, tapi matanya tidak berkedip sedikit pun menatap manik hitam Elzian. Tidak ada permohonan ampun, hanya tantangan gila.
Cengkeraman Elzian di leher Ziva tidak melonggar, justru semakin kuat. "Apa maksudmu?"
"Napasmu..." Ziva terbatuk kecil, memukul pelan lengan kekar yang mencekiknya. "Bau almond samar. Sianida dosis mikro? Atau arsenik yang dimodifikasi? Kau pura-pura lumpuh bukan cuma untuk mengelabui musuh, tapi karena tubuhmu memang sedang recovery dari racun saraf, kan?"
Kening Elzian berkerut dalam. Kilatan membunuh di matanya perlahan berganti menjadi kewaspadaan tinggi. Dia melepaskan cengkeramannya secara tiba-tiba.
Ziva merosot sedikit, terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang kini berbekas merah. Dia menghirup oksigen rakus-rakus, tapi sedetik kemudian, dia sudah mendongak lagi, tersenyum miring seolah baru saja memenangkan lotre.
"Tebakanku benar, ya?" serang Ziva langsung, suaranya parau tapi tajam. "Dokter pribadimu bodoh kalau dia tidak sadar racun itu masih ada di sistem tubuhmu. Atau jangan-jangan... doktermulah yang meracunimu?"
Elzian mundur selangkah. Dia menatap wanita di depannya dengan pandangan baru. Ziva Magdonia bukan sekadar cantik dan berani, dia berbahaya. Dan Elzian suka bahaya.
"Siapa yang mengirimmu?" tanya Elzian dingin. Dia kembali duduk di kursi rodanya dengan gerakan luwes, menyembunyikan kembali kekuatan fisiknya di balik kedok kelumpuhan.
"Tidak ada. Aku datang sendiri demi rumahku," jawab Ziva sambil merapikan gaun pengantinnya yang kusut. Dia berjalan menuju meja rias, mengambil tisu basah, dan dengan santai membersihkan lehernya, seolah bekas cekikan itu hanya noda lipstik. "Dengar, Tuan CEO. Kita sama-sama terjebak. Keluargamu—siapapun itu—menginginkan kau mati perlahan supaya terlihat seperti kematian alami. Dan pamanku menginginkan hartaku."
Ziva berbalik, bersandar pinggul di meja rias dengan tangan bersedekap. "Aku tawarkan kesepakatan bisnis."
Elzian menaikkan sebelah alisnya. "Kau berani bernegosiasi denganku setelah nyaris mati?"
"Kenapa tidak? Nyawamu ada di ujung tanduk, Elzian. Kau butuh aku," Ziva menunjuk dada bidang Elzian. "Aku ahli bedah saraf terbaik di negara ini. Aku tahu anatomi, farmakologi, dan toksikologi lebih baik dari siapapun yang kau bayar sekarang. Aku bisa jadi filtermu. Memastikan tidak ada satu tetes racun pun yang masuk ke mulutmu. Aku pastikan kau hidup sampai kau bisa membalas dendam pada mereka."
Elzian terdiam, menimbang tawaran itu. Tawaran itu logis. Sangat logis. Selama ini dia kesulitan mencari orang kepercayaan medis karena musuhnya selalu berhasil menyusup. Tapi Ziva... Ziva punya motif yang jelas: uang dan aset. Orang yang serakah biasanya lebih jujur daripada orang yang pura-pura setia.
"Dan apa imbalannya?" tanya Elzian datar.
"Jadilah tamengku," jawab Ziva cepat. "Gunakan kekuasaanmu yang mengerikan itu untuk menjauhkan pamanku dan lintah darat manapun dari hidupku. Lindungi asetku. Dan saat semua ini selesai, kita bercerai baik-baik."
"Kau terlalu percaya diri, Dokter," dengus Elzian. "Tapi aku terima. Jadilah anjing penjaga makananku."
"Mitra medis," koreksi Ziva ketus. "Aku bukan anjing."
"Terserah. Tapi ingat satu hal, Ziva. Sekali kau berkhianat, atau ketahuan bekerja sama dengan kakak tiriku... lehermu benar-benar akan patah. Tanpa peringatan."
"Tenang saja. Aku tidak tertarik bersekutu dengan pembunuh," balas Ziva santai. Dia menguap lebar, tidak peduli dengan etika di depan suaminya. Hari ini melelahkan. Emosinya terkuras habis menghadapi paman gila dan suami psikopat.
Ziva melangkah menuju tempat tidur king size yang tampak sangat empuk di tengah ruangan. Spreinya sutra putih bersih, bantalnya terlihat seperti awan. Dia sudah membayangkan betapa nikmatnya menghempaskan punggungnya di sana setelah seharian berdiri memakai heels.
"Minggir," kata Ziva sambil hendak duduk di tepi ranjang.
"Mau apa kau?" Suara Elzian menghentikan gerakannya.
"Tidur. Kau pikir aku mau begadang menjaga lilin?"
"Siapa bilang kau boleh tidur di situ?"
Ziva menoleh, bingung. "Ini kamar kita, kan? Itu kasur. Manusia tidur di kasur."
Elzian menunjuk sofa panjang berbahan kulit di sudut ruangan dengan dagunya. Tatapannya kembali dingin dan tak terbantahkan. "Itu tempatmu."
Mata Ziva membelalak. Dia menatap sofa itu, lalu kembali menatap kasur luas yang bisa memuat lima orang itu. "Kau bercanda? Kasur ini luasnya dua meter persegi! Kita bisa tidur tanpa bersentuhan sedikit pun. Aku tidak mendengkur dan aku tidak tidur lasak!"
"Aku tidak tidur dengan orang asing. Apalagi yang tahu rahasiaku," jawab Elzian tegas. Dia menggerakkan kursi rodanya mendekati sisi ranjang, lalu dengan mudah memindahkan tubuhnya ke atas kasur, menarik selimut sebatas dada dengan angkuh. "Tidur di sofa, atau tidur di lantai luar kamar. Pilihanmu."
Ziva mengepalkan tangannya. Ingin rasanya dia melempar vas bunga ke kepala pria arogan ini. Dia baru saja menyelamatkan nyawa pria itu dengan diagnosanya, dan ini balasannya?
"Pelit," desis Ziva kesal.
Dengan menghentak-hentakkan kaki, dia menyambar bantal dari sofa, melemparnya kembali dengan kasar, lalu merebahkan dirinya di sana. Sofa itu keras, dingin, dan pendek. Kaki jenjang Ziva menggantung tidak nyaman di ujungnya.
"Matikan lampunya," perintah Elzian tanpa menoleh.
"Matikan sendiri! Katanya kakimu kuat!" sembur Ziva, memunggunginya.
Hening sejenak. Lalu terdengar suara klik saklar dan ruangan menjadi gelap gulita. Ziva mendengus dalam kegelapan. Malam pertama yang luar biasa buruk. Tapi setidaknya dia masih hidup.
Namun, di tengah keheningan itu, suara Elzian kembali terdengar, rendah dan mengancam dalam kegelapan.
"Jangan berpikir untuk merangkak naik ke kasurku saat aku tidur, Ziva. Aku tidur dengan pistol di bawah bantal."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!