Medan perang itu akhirnya sunyi. Tanah hitam yang hangus masih mengepul, menyimpan sisa-sisa sihir yang belum sepenuhnya padam. Darah bercampur dengan cahaya, merah pekat milik bangsa vampir dan werewolf, berkilau perak milik bangsa peri. Tubuh-tubuh terbaring tak bergerak, sementara langit yang semula retak oleh petir sihir perlahan kembali kelabu, seolah dunia sendiri lelah menyaksikan kehancuran.
Kemenangan telah diraih. Penyihir hitam beserta pasukannya lenyap, terhisap ke dalam pusaran sihir terakhir yang menghancurkan mereka dari akar keberadaan. Bangsa vampir, werewolf, dan peri berdiri sebagai pemenang perang paling berdarah sepanjang sejarah dunia gaib.
Namun tak ada sorak kemenangan. Di pusat kawah kehancuran itu, berdiri seorang Raja Vampir—Ragnar Rowan Agharon dengan pakaian perang yang berlumur darah, darah musuh, darah sekutu, dan darah yang paling berharga baginya. Ratunya telah menghilang.
Bukan gugur. Bukan mati. Ia lenyap bersama pemimpin penyihir hitam, ketika sang ratu memilih mengorbankan jiwanya untuk memicu sihir terlarang yang hanya bisa diaktifkan dengan darah kerajaan vampir. Ledakan cahaya merah keemasan itu menelan dua sosok sekaligus, menutup celah kegelapan yang hampir menelan seluruh dunia.
Nama Ivory Esmeralda, sang ratunya masih menggantung di udara, tak terucap, namun terasa menyayat dada. Ragnar berlutut perlahan di tanah retak itu. Tangannya menggenggam erat liontin perak berukir lambang kerajaan milik ratunya … yang tersisa utuh, seolah menolak ikut lenyap. Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun hidupnya, bahunya gemetar.
“Ragnar …Berjanji ‘lah untuk tidak melupakan diriku, meski aku sudah tidak ada di sisimu.”
“Tidak, Ivory! Bagaimana bisa aku melupakanmu di saat aku tahu bahwa aku sudah jatuh cinta padamu, bahkan tidak ada tempat lagi untuk orang lain di hatiku.”
Senyuman Ivory terlihat sangat indah kala itu, rupanya ia tidak jatuh cinta sendirian tapi cintanya terbalaskan. Meski pun kematiannya di dunia ini akan menjadi pemisah nyata untuk cinta mereka.
“Aku juga sangat mencintaimu, Ragnar! Maaf, karena waktu kita untuk bersama sangat ‘lah singkat. Namun, aku berharap kita bisa dipertemukan lagi di kehidupan selanjutnya. Dan di kehidupan itu, kita bisa bersama untuk waktu yang sangat lama.”
“Ivory ….”
“Jangan menangis, Ragnar! Karena aku akan menunggumu datang menemuiku di kehidupan selanjutnya. Aku akan menunggumu untuk menjemputku dan menjadikan aku sebagai Ratumu lagi.”
“Kalau begitu ….” Ragnar menahan suara tangisnya, meski air mata yang deras itu tidak bisa dia hentikan sama sekali, “…sampai bertemu di kehidupan selanjutnya, Ivory! Aku pasti akan datang menjemputmu dan menjadikanmu sebagai Ratuku lagi.”
“Ya, sampai bertemu lagi, Ragnar Rowan Agharan! Cintaku … Aku menunggumu.”
Ragnar masih jelas mengingatnya dimana tepat setelah Ivory mengatakan kalimat itu, perlahan tubuhnya mulai menghilang tepat didepan matanya, dalam angan dekapannya. Hanya senyuman indah dan tatapan penuh cinta itu yang masih terlintas di kepala Ragnar ketika tubuh Ivory sepenuhnya menghilang bersamaan dengan menghilang pembatas sihir yang sempat memisahkan mereka.
“Hiks … Ivory! Hiks …”
Kejadiannya terjadi beberapa waktu yang lalu, tetapi rasanya Ragnar sudah kehilangan Ivory selama sisa hidupnya. Hanya tangis, kerinduan serta penyesalan yang kini tersisa bagi Ragnar. Ratunya, cintanya dan bahkan hidupnya kini telah menghilang tepat di depan matanya tanpa bisa ia berbuat apapun.
Malam turun tanpa belas kasihan. Angin berdesir pelan, membawa aroma hutan peri yang terbakar dan serigala yang terluka.
Di tengah kesunyian itu, cahaya lembut kehijauan muncul dari balik kabut. Seorang peri melangkah mendekat, sayap transparannya berkilau redup, matanya bercahaya seperti bintang yang memantulkan masa depan.
Ia adalah Holly, peri langka yang dianugerahi penglihatan melampaui garis nasib. Sang peri masa depan. Ia tidak datang seorang diri, seperti biasa dia akan selalu bersama dengan tiga peri lainnya yaitu Shine, Vael serta Vivian.
Ragnar tidak menoleh sama sekali ketika peri itu berhenti beberapa langkah di belakangnya. Kesedihannya, atas kehilangan Ivory membuat dunianya terasa runtuh saat itu juga.
“Aku tidak datang untuk menghiburmu,” ujar Holly pelan, suaranya bergetar oleh duka yang juga ia rasakan. “Aku datang karena takdir memaksaku.”
Akhirnya, Ragnar perlahan mengangkat wajahnya. Matanya merah gelap, kosong, namun masih menyimpan bara yang belum sepenuhnya padam.
“Jika kau datang untuk mengatakan bahwa dia telah tiada,” ucapnya lirih, “aku sudah mengetahuinya … bahkan aku menyaksikan dia menghilang dengan mata kepalaku sendiri.”
Sang peri menggeleng perlahan. Cahaya di matanya berdenyut, seolah ia sedang melihat ribuan garis waktu sekaligus. “Tidak,” katanya tegas. “Dia tidak berakhir hanya di tempat ini. Dia akan kembali kepadamu.”
Ragnar langsung terdiam. Holly melangkah lebih dekat, berlutut di hadapannya, tindakan yang tak pernah dilakukan peri kepada siapa pun, kecuali pada takdir itu sendiri.
“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya.
“Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
Sontak perkataan peri itu membuat jantung Ragnar berdentum keras. Ada harapan yang sangat besar dalam hatinya, sorot matanya bahkan kembali membangkitkan kehidupan yang hampir sepenuhnya padam.
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
Holly mengangkat tangannya, memperlihatkan bayangan cahaya yang membentuk simbol samar, sebuah tanda kuno atau yang biasa orang sebut dengan tato. “Ratu Ivory akan terlahir dengan tanda khusus ini,” katanya. “Tanda yang hanya akan muncul pada reinkarnasi sang Ratu Vampir. Tanda yang akan menarik takdir dan dirimu… kepadanya.”
Mata Ragnar bergetar. Harapan, perasaan yang telah lama mati dalam dirinya, perlahan merayap kembali, menyakitkan sekaligus menghangatkan.
“Kapan?” tanyanya.
“Tidak sekarang. Tidak segera,” jawab sang peri. “Namun saat dunia telah cukup lupa akan perang ini, ia akan lahir. Dan saat itu tiba, takdir akan memanggilmu sekali lagi. Moon Goddess akan menunjukan arahnya untukmu.”
Ragnar kembali menunduk, menggenggam liontin di tangannya semakin erat. “Jika dia tak mengingatku…” katanya lirih.
Holly tersenyum tipis, penuh makna. “Jiwanya tidak pernah benar-benar lupa. Dia hanya menunggu untuk dikenali.”
“Hanya itu yang bisa aku beritahukan kepadamu. Semoga kali ini cinta kalian bisa bersatu selamanya.”
Cahaya kehijauan itu perlahan memudar. Keempat peri itu perlahan menghilang bersama embun malam, meninggalkan Ragnar kembali sendirian di medan perang yang sunyi.
“Ivory, tunggu aku menemukanmu? Berapa lama… berapa jauh kau berada aku pasti akan menemukanmu. Sampai bertemu kembali, Ratuku—Ivory!” Kini Ragnar sudah kembali menemukan tujuan hidupnya.
Bersambung ….
“Ivory, tunggu aku menemukanmu? Berapa lama… berapa jauh kau berada aku pasti akan menemukanmu. Sampai bertemu kembali, Ratuku—Ivory!”
Namun kini, kesunyian itu tidak sepenuhnya kosong. Di balik duka dan kehancuran, sang Raja Vampir kembali berdiri, bukan sebagai pemenang perang, melainkan sebagai penjaga sebuah janji. Ia akan menunggu. Seperti yang selalu ia lakukan. Hingga sang Ratu kembali ke dunia dalam wujud manusia, dengan takdir yang sama sekali baru.
...****************...
999 Tahun Kemudian ….
Langit dalam mimpinya selalu berwarna senja. Wanita cantik berusia 26 tahun bernama Ivory Asteria itu terbangun dengan napas tersentak, seolah baru saja kembali dari perjalanan yang terlalu jauh untuk diingat. Cahaya putih lampu rumahnya menusuk matanya, bau aroma terapi menggantikan aroma hujan dan tanah basah yang entah dari mana masih tertinggal di dadanya.
“Mimpi itu lagi.” Gumamnya menggema, lalu larut begitu saja dalam keheningan. Kepalanya terasa kosong, seperti sebuah buku yang halaman-halamannya telah dicabik, menyisakan hanya bekas lipatan dan tinta yang luntur.
“Kenapa aku selalu merasa memimpikan kejadian yang sama, orang yang selalu sama tapi aku sama sekali tidak bisa mengingatnya dengan jelas.” Ivory bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Kini sudah satu bulan lebih semenjak dia bangun dari koma setelah jatuh dari tangga. Kecelakaan biasa. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang istimewa. Namun setiap malam sejak dia sadar dari koma, saat ia menutup mata, mimpi itu selalu kembali tapi ia tak bisa mengingatnya dengan jelas. Dadanya seolah terasa nyeri oleh sesuatu yang tak bisa ia sebutkan.
“Rindu? Tapi aku tidak tahu sedang merindukan siapa?”
Dalam benaknya hanya tersisa potongan-potongan tak utuh. Bayangan seorang pria berdiri di bawah langit merah darah, tatapan mata yang terlalu tua untuk sebuah wajah yang sempurna, dan sebuah suara yang memanggil namanya dengan lembut, putus asa, seolah telah melakukannya selama ratusan tahun.
Ketika Ivory berusaha mengingat lebih jauh, kepalanya berdenyut. Dokter menyebutnya efek pasca koma. Otak menyimpan mimpi terlalu panjang, lalu menguburnya demi bertahan. Ivory menerima penjelasan itu. Apa lagi yang bisa ia lakukan?
Namun perasaan itu tidak pernah pergi. Ivory selalu memimpikan kejadian yang sama, orang yang sama … yang selalu dirinya rindukan, meski ia sendiri siapa orang tersebut.
Setiap kali hujan turun, ia merasa kehilangan. Setiap kali malam terlalu sunyi, hatinya bergetar, seolah ada seseorang di luar jendela yang menunggunya pulang. Padahal ia tidak tahu ke mana harus pulang. Tidak, ini adalah rumahnya. Ivory sudah pulang, tetapi ia masih merasa bahwa ada rumah dalam artian lain yang selalu menunggunya kembali. Hingga akhirnya bagi Ivory semua itu hanyalah sekadar mimpi panjang. Kabur. Pudar. Tak utuh, tapi masih meninggalkan perasaan rindu yang tak terkira.
“Siapapun dirimu… aku sangat merindukan, bahkan aku sendiri tidak mengerti alasan akan perasaan rindu ini. Semoga kita bisa cepat dipertemukan untuk saling melepas rasa rindu yang hampir tak tertahankan ini,” ucap Ivory lirih sembari menatap bintang-bintang yang menghiasi langit malam itu.
...****************...
Tidak demikian bagi sang Raja Vampir—Ragnar Rowan Agharon. Dimana ia kini tengah berdiri di balkon kastil miliknya yang telah menyaksikan lahir dan runtuhnya peradaban. Malam menyelimuti dunia dengan tenang, sama seperti malam pertama ketika ia kehilangan ratunya.
Ragnar masih mengingat segalanya.
Darah di tangannya. Jeritan yang terhenti. Janji yang terlambat diucapkan. Ia mengingat bagaimana jiwanya terbelah saat jiwa dan tubuh ratunya menghilang bersama tiupan angin kala itu. Dan bagaimana dunia sejak saat itu menjadi tempat yang terlalu sunyi untuk seorang raja abadi seperti dirinya.
Reinkarnasi bukanlah harapan kosong. Karena Ragnar telah menyaksikannya berulang kali… jiwa-jiwa kembali dalam rupa baru, tanpa ingatan, tanpa beban masa lalu. Namun menemukan satu jiwa di antara miliaran manusia adalah penantian yang kejam, bahkan bagi makhluk yang tidak mengenal kematian sepertinya.
“Sudah hampir seribu tahun, Ivory! Apakah kau benar sudah terlahir kembali atau aku harus menunggu lebih lama lagi untuk kembali bertemu denganmu?” gumamnya menatap langit malam yang penuh bintang.
“Aku sangat merindukanmu, Ratuku!” ucapnya lirih penuh kerinduan.
Malam telah berganti ribuan kali sejak hari ratunya menghilang. Bagi dunia, abad-abad itu adalah sejarah. Namun bagi Ragnar, sang Raja Vampir semuanya adalah satu penantian panjang yang tak pernah benar-benar berakhir.
Ia masih mengingat wajahnya dengan jelas bahkan lebih jelas daripada kenangan akan siapa dirinya sendiri. Cara ratunya tersenyum sebelum cahaya pengorbanan itu menelan segalanya. Cara jiwanya bergetar saat ikatan mereka terputus, namun tidak pernah benar-benar lenyap. Karena semua itu jelas bukan mimpi.
Ragnar sudah sering kali membelah samudra gelap. Angin asin selalu menerpa jubah hitamnya, ombak berkilau di bawah cahaya bulan. Ia telah menyeberangi lautan ini berkali-kali, dari timur ke barat, dari dunia lama ke dunia baru. Tidak ada samudra yang tidak mengenal langkahnya. Tidak ada pelabuhan yang tak pernah ia singgahi.
Jika ratunya terlahir kembali sebagai manusia, maka ia bisa berada di mana saja yang ada dibumi ini. Dan ia akan menemukannya.
Benua demi benua telah ia lalui. Padang pasir yang menelan kerajaan, pegunungan bersalju yang menusuk tulang, kota-kota yang lahir lalu runtuh sebelum ia sempat menghafal namanya. Ia menyaksikan manusia menciptakan peradaban, menghancurkannya, lalu mengulanginya lagi. Sementara dirinya tetap sama, terikat pada satu janji yang tak pernah pudar.
Di setiap tempat, ia mencari tanda itu. Tanda kuno yang disebutkan oleh peri masa depan. Tanda jiwa yang hanya dimiliki oleh ratunya. Ragnar menelusuri desa-desa kecil, berdiri di sudut rumah sakit modern, mengamati bayi-bayi yang baru lahir dengan mata yang telah melihat ribuan kehidupan dimulai dan berakhir. Banyak yang hampir memiliki jiwa-jiwa cerah, kuat, istimewa… namun bukan dia.
Tidak pernah dia, bukan Ratunya!
Keputusasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Maka ia terus berjalan. Beruntungnya, ia tidak sendirian.
Di ruangan mewah yang disebut dengan kantor dari perusahaan yang Ragnar bangun untuk membantu pencarian ratunya, beberapa sosok berlutut dengan satu lutut menyentuh lantai marmer.
Mereka adalah bayangan setia, anak buah kepercayaan yang telah mengabdi lintas generasi, vampir-vampir yang mengerti bahwa pencarian ini bukan sekadar urusan hati, melainkan keseimbangan dunia itu sendiri.
“Yang Mulia!”
“Apakah kalian berhasil menemukannya?” tanya Ragnar pada para pengikut setianya, Dorian, Denzel, Ellias dan juga Theron yang selalu menjadi kepercayaannya.
“Kami tidak yakin, Yang Mulia! Namun, ada informasi mengatakan bahwa seorang wanita yang berasal dari bangsa manusia memiliki ciri-ciri yang sama persis dengan Yang Mulia Ratu Ivory,” ujar Dorian menyampaikan informasi yang didapatkannya dengan susah payah.
Bersambung ….
“Dimana lokasinya?” Meski informasi itu belum pasti, tetapi Ragnar akan selalu berharap bahwa kali ini dia bisa menemukannya.
“Di Negara X, sebuah negara yang berada di benua asia dan—”
“Siapkan perjalanannya. Kali ini aku sendiri yang akan datang untuk memastikannya,” potong Ragnar yang tidak perlu mendengarkan penjelasan lainnya. Sebab dia yang akan datang sendiri untuk memastikannya secara langsung.
“Baik, Yang Mulia!” sahut Dorian segera menjalankan perintah.
Sementara, Denzel segera mengikuti kepergiannya Ragnar untuk menemaninya bermain atau menghiburnya seperti biasa. Sebab setiap kali Ragnar mendapatkan informasi tentang kemungkinan keberadaan Ivory, maka Ragnar akan merasa kacau takut kali ini hasilnya akan sama seperti sebelumnya yang memaksanya menelan kekecewaan untuk kesekian kalinya.
Harapannya begitu besar, tetapi banyaknya kegagalan dia menemukan Ivory membuatnya merasa takut bahwa kali ini juga akan sama. Sehingga Ragnar akan selalu mengalihkan ketakutannya itu pada hal lainnya, seperti berkuda, berlatih pedang atau bahkan menguji coba kekuatannya dengan melawan Denzel dan beberapa anak buahnya yang lainnya. Jika semua itu belum cukup, maka Ragnar akan beralih pada minuman beralkohol yang sebenarnya sama sekali tidak berpengaruh padanya.
Namun, rupanya perkiraan Denzel kali ini salah besar karena malam itu juga Ragnar memutuskan untuk langsung terbang ke Negara X tanpa membuang banyak waktu lagi. Apalagi mengingat jaraknya yang hampir satu hari penuh dengan menggunakan pesawat dari istananya.
“Aku cukup terkejut melihatmu yang memutuskan untuk langsung pergi tidak seperti biasanya,” ujar Denzel menyampaikan rasa penasarannya.
“Karena kali ini aku merasa sangat yakin bisa menemukannya,” balas Ragnar dengan tatapan penuh percaya dirinya.
Denzel seketika menyunggingkan senyumannya dan berkata, “Hmm, bagaimana kau bisa seyakin itu?”
Ragnar lantas terdiam untuk beberapa saat. Lalu pandangannya mengarah pada keluar jendela pesawat yang tengah mereka naiki. Dimana terlihat sang bulan sabit dan beberapa bintang yang berjejer membentuk anak panah pada sang bulan sabit itu. Dan kemudian Ragnar menjawab, “Lihat ‘lah! Karena kali ini Moon Goddess sendiri yang menunjukkan keberadaannya.”
Ya, bintang yang membentuk anak panah itu memang mengarah ke arah bulan sabit. Dan keberadaan bulan sabit itu sendiri mengarah pada Negara X, dimana informasi itu mengatakan bahwa seseorang yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan Ivory berada. Lantas Ragnar tidak akan ragu lagi, bahwa kali ini dia pasti bisa menemukan Ivory atau lebih tepatnya reinkarnasi dari Ratunya.
“Aku telah mencarinya di seluruh dunia,” katanya lirih, lebih kepada dirinya sendiri. “Dan akhirnya… dunia menyerahkannya kembali kepadaku.”
Di kejauhan, takdir mulai bergerak. Dan setelah ribuan tahun berjalan tanpa tujuan selain penantian, Ragnar akhirnya melangkah menuju akhir atau mungkin awal… dari segalanya.
...****************...
Langit sore menggantung kelabu ketika mobil hitam mewah itu berhenti di depan gedung pencakar langit itu. Logo perusahaan IE ROWAN Group berkilau dingin di fasad kaca. Sebuah simbol kekuasaan ekonomi modern yang tak pernah diketahui publik sebagai salah satu cabang kekaisaran malam miliknya.
Ragnar turun dari mobilnya perlahan. Sudah ratusan tahun ia tak menginjakkan kaki di tempat yang dibangun atas namanya sendiri. Namun hari ini berbeda. Nalurinya bergetar sejak fajar, bisikan darah, denyut jiwa yang terlalu dikenalnya. Reinkarnasi ratunya… berada di sini. Atau setidaknya, begitulah ramalan dan jejak yang diberikan Moon Goddess padanya.
Langkahnya menggema di lobi marmer. Lalu tepat di belakangnya Dorian, Ellias dan Denzel setia mengikutinya. Paran karyawan menunduk tanpa sadar, merasakan tekanan tak kasatmata yang membuat napas mereka tertahan. Namun sebelum ia sempat mencari lebih jauh, pandangannya membeku.
Seorang wanita berdiri tak jauh dari resepsionis. Wajah itu… Rambut hitam terurai rapi, senyum tipis yang penuh perhitungan, dan yang paling menusuk… mata itu. Mata yang dulu bersinar di bawah cahaya altar sihir hitam, mata milik penyihir yang membuka gerbang terkutuk, mata yang menjadi penyebab darah ratunya mengalir membasahi lantai istana. Namun, sorot mata itu hanya tersimpan keterkejutan yang sama seperti dirinya.
“Sang pemilik murni sihir hitam,” gumam Ragnar.
Seketika ia menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada Elena Rosalia. Jelas Ragnar tidak akan pernah lupa, siapa yang telah membunuh Ivory dan bahkan sempat melukainya sangat parah berulang kali.
Denzel yang berperan sebagai asisten pribadi Ragnar, serta Dorian dan Ellias yang berperan sebagai pengawal pribadinya spontan langsung menatap ke arah pandangan mata Tuannya saat itu. Ketiga pun juga terkejut melihat sosok wanita yang sama persis dengan pemilik murni sihir hitam—Elena Rosalia. Bahkan hanya dia yang berani mengangkat wajahnya dan bertatapan langsung dengan Ragnar.
Darah Ragnar kembali mendidih. Kuku-kukunya hampir memanjang, taringnya berdenyut ingin muncul. Seluruh ingatan tentang malam kematian ratunya menyeruak… jeritan yang terputus, lingkaran sihir, pengkhianatan yang tak pernah terbalas. Satu langkah lagi, dan wanita itu akan lenyap dari dunia untuk kedua kalinya.
Namun… sesuatu menarik perhatiannya. “Ivory? Benarkah itu kau?”
Di balik kerumunan karyawan dan pelamar kerja yang memenuhi lobi, ia melihatnya.Hanya sekilas. Sebuah siluet di balik pintu kaca lift yang hampir menutup. Postur tubuh yang asing namun… terlalu familiar. Cara kepala itu sedikit miring, cara langkahnya ragu namun anggun.
Dunia seakan berhenti. Dendam dan amarah yang mendidih tadi mereda, tergantikan oleh denyut lembut yang hampir menyakitkan. Ragnar berusaha menahan diri. Penyihir itu atau reinkarnasinya tak lagi penting. Bukan hari ini.
Fokusnya kini satu. Ragnar menoleh pada Denzel selaku asistennya dan berbicara dengan suara tenang, meski badai mengamuk di dadanya.
“Bukankah perusahaan ini sedang membuka lowongan pegawai baru?”
Denzel mengangguk, membenarkan. “Benar, Yang Mulia. Tahap seleksi akhir akan segera dimulai.”
“Terima mereka semua sekaligus. Katakan untuk datang bekerja mulai besok. Lalu satu hal lagi, siapkan pesta yang meriah untuk penyambutan besok,” perintah Ragnar yang ingin mengikuti kata hatinya kali ini, bahwa salah satu dari pelamar kerja itu pasti ada sosok yang tengah dicarinya selama ratusan tahun ini. Perintah itu bukan permintaan.
...****************...
Pagi harinya, aula perusahaan berubah menjadi lautan cahaya dan musik. Para pegawai baru berdatangan, mengenakan pakaian terbaik mereka, tak menyadari bahwa mereka tengah berada dalam pengamatan makhluk tertua di ruangan itu.
Dan kemudian… Ragnar melihatnya lagi. Bukan lagi sekadar siluet. Seorang wanita berdiri di dekat meja minuman. Rambutnya sedikit lebih pendek dari yang ia ingat, warna matanya berbeda, dan pakaiannya jelas milik zaman ini. Namun saat ia tersenyum kecil, saat ia menoleh dengan ekspresi bingung seolah merasakan tatapan yang tak terlihat.
“Ivory, benarkah itu kau… Ratuku! Akhirnya aku benar-benar bisa menemukanmu kali ini. Ratuku! Cintaku! Hidupku…”
Bersambung ….
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!