Berlian berjalan tergesa meninggalkan tempat duduk di ruang kerjanya.
"Eh cin, mau kemana?" tanya Maura rekan kerjanya. Cin adalah panggilan sayang Maura ke sahabatnya itu.
"Sorry beb, aku pulang duluan yaaahh," sahut Berlian.
"Sudah ijin sama bapak yang di sana?" arah mata Maura menyapu pria yang duduk di dalam ruangan.
"Siipppp," tukas Berlian seraya mengacungkan jempol.
"Tumben pria es balok itu ngijinin?" timpal Maura tak percaya. Berlian tertawa menanggapinya.
"Sudahlah, aku cabut duluan," pamit Berlian pada Maura, rekan kerja sekaligus sahabatnya.
Berlian meninggalkan lobi perusahaan dengan senyum merekah.
Taksi online yang sudah dipesan sebelumnya telah menunggu di depan lobi.
"Siang kak, sesuai aplikasi ya," kata Berlian.
"Baik kak,"
Mobil melaju perlahan membelah keramaian ibukota.
Berlian turun di depan toko kue 'Mutia Bakery' langganannya.
"Kak, tunggu bentar. Cuman ambil kue aja," seru Berlian. Sang sopir mengangguk tanda setuju.
Setelah mendapat apa yang menjadi tujuannya, Berlian minta diantar ke salon kecantikan.
"Aku harus tampil paripurna," batin Berlian bermonolog.
.
Berlian berjalan mengendap ke dalam rumah. Dengan penuh semangat dia berjalan menuju kamar utama karena yakin sang suami berada di sana. Setelah tadi pagi memastikan tak berangkat ke perusahaan karena tak enak badan.
Bik Sumi yang berpapasan dengannya, "Nyo...," belum selesai ucapannya tapi sudah dipotong oleh Berlian.
"Hhhuusasssttt.... Tenang Bik," bisik Berlian. Bik Sumi menatap sang nyonya dengan wajah pias.
"Ta.. Tapi nyonya....," gugup Bik Sumi.
"Ayok Bik, kita kasih kejutan ke Mas Arya," balas Berlian, masih dengan berbisik.
Bik Sumi menggenggam tangan Berlian mencoba menahannya.
"Ada apa Bik? Bukanya mas Arya ada di kamar? Tadi pagi dia bilang nggak enak badan loh," tatap aneh Berlian ke asisten rumah tangganya.
"Tuan Arya memang ada di kamar, ta....tapi....," belum selesai ucapan Bik Sumi, Berlian tetap berjalan menuju kamar utama.
"Aneh Bik Sumi nih," batin Berlian.
Berlian menajamkan daya dengar, ada suara-suara aneh yang terdengar dari dalam.
Pintu kamar yang sedikit terbuka menambah lapang pandang semakin nyata.
Dengan rasa penasaran Berlian membuka daun pintu, nampak jelas pemandangan yang tak perlu dipandang.
"Apa yang kalian lakukan?" teriak Berlian.
Dua orang yang sedang berada di sana, nampak terkejut.
"Sayang ... Sayang... Ini tak seperti yang kau lihat," ucapnya sambil menarik sembarang asal bisa menutupi tubuhnya yang polos.
Syok dengan kenyataan di depannya membuat kaki yang biasanya kokoh menopang berat badan, berasa lemas dan goyah.
Pria yang menjadi suaminya itu mendekat, tapi segera ditepis oleh Berlian.
"Jahat kamu mas," ucap Berlian dengan air mata berderai.
Niatnya ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang mendapat kejutan luar biasa.
"Sayang... Ini tak seperti yang kamu lihat," alibi Arya.
Netra Berlian memicing, tak percaya dengan ucapan sang suami.
"Sudah berapa lama Mas?" tanggap Berlian serius.
"Aku bisa jelaskan!" tandas Arya.
"Tak perlu! Apa yang kulihat sudah menjelaskan semua," Berlian berusaha bangkit
Arya ingin membantu, tapi dorongan kuat Berlian membuat dia terjengkang.
Pandangan Berlian beralih ke atas ranjang, di sana duduk wanita yang masih berbalut selimut.
Bekas-bekas percintaan tak luput dari pandangan Berlian.
Berlian menertawakan kebodohannya sendiri.
"Kak, maafkan aku," katanya tanpa rasa bersalah.
"Hah? Maaf? Apa aku tak salah dengar?" sarkas Berlian.
"Dosa apa yang telah kuperbuat Tuhan? Hingga mereka berdua berkhianat," ratap Berlian.
Intan, yang merupakan adik Berlian lain ibu bangkit dari ranjang.
"Dosamu karena tak bisa kasih anak buat mas Arya kak," seru Intan tanpa rasa bersalah.
"Apa kakak tahu kalau mas Arya ingin sekali menimang bayi? Apa kakak sedikit saja bisa mengerti posisi mas Arya?" lanjut Intan.
Arah netra Berlian beralih ke Arya suaminya, menuntut penjelasan. Karena ucapan Intan tak sesuai dengan perkataan Arya sebelumnya.
"Bilang saja mas Arya, kalau orang tuamu menuntut untuk punya penerus. Dan itu tak bisa mas Arya dapatkan dari kak Berlian," potong Intan tak memberi waktu pada Arya untuk menjelaskan sendiri.
"Mas!!!!" Berlian ingin mendapatkan jawaban langsung dari sang suami.
"Maafkan aku sayang," kata Arya lirih
"Cukup mas! Permintaan maaf mu sudah menjelaskan semuanya," seru Berlian.
Hatinya bak ditusuk belati. Orang yang dicintai dan disayangi tega berselingkuh.
"Sudahlah kak, mas Arya berbuat seperti itu juga ada andil kakak di dalamnya,"
"Seandainya kakak bisa kasih anak buat mas Arya, tak mungkin mas Arya menduakanmu kak," ucapan Intan bak mata pisau yang baru diasah.
"Diam!" teriak Berlian.
Berlian menatap tajam keduanya.
"Biar kakak tahu dan tak menyalahkan mas Arya sepenuhnya," imbuh Intan untuk membenarkan perselingkuhan itu.
Pandangan Berlian beralih ke Arya.
"Makasih Mas, sudah membuka kedua mataku," kata Berlian.
"Makasih atas tujuh tahun tak berguna ini,"
"Makasih telah membuat waktuku terbuang sia-sia,"
"Makasih atas perhatian, cinta dan kasih sayang palsumu,"
"Makasih atas semuanya," ucap Berlian seraya beranjak untuk pergi.
"Wah, kebetulan kak. Mas Arya tak perlu repot untuk mengusirmu," Intan terus memprovokasi keduanya.
"Mau kemana kamu sayang?" cegah Arya seraya mencengkeram lengan Berlian.
"Lepas!" suruh Berlian dengan sorot mata tajam.
"Tak akan. Aku mencintaimu sayang,"
"Cih, simpan kata cintamu untuk jalang di sana," decih Berlian. Tak ada lagi kata halus yang keluar dari bibir Berlian. Bahkan untuk adiknya sendiri.
Cekalan Arya, Berlian tepis dengan kasar. Tanpa kata lagi, Berlian menjauh dari keduanya. Tak ada kata pembelaan dari sang suami, cukup menjelaskan semua.
"Pergilah yang jauh kak, tak ada lagi yang akan menerima wanita mandul seperti kakak," teriak Intan.
Ucapan sang adik menahan laju kaki Berlian.
Intan tersenyum sinis.
"Kenapa kak? Ada yang salah?" kata Intan seakan menantang Berlian.
Berlian kembali mendekat dengan tangan terkepal.
Plak...
Sebuah tamparan mendarat manis di pipi Intan.
Saat tangan Berlian hendak menampar untuk kedua kalinya, "Cukup!" tangan kokoh Arya menahannya.
"Mas Arya... Lihat sendiri kan? Istrimu jahat sekali padaku," kata Intan pura-pura bersedih.
Berlian memutar bola matanya malas, bosan dengan sikap manipulatif sang adik.
Pembelaan Arya menambah sakit hati Berlian.
"Aku pergi mas," tandas Berlian berikutnya dan melepas tangan Arya yang masih menahannya.
"Cukup! Tak akan aku biarkan kamu pergi! Kamu tetaplah nyonya Arya, sayang," cegah Arya.
Panggilan sayang yang terucap dari bibir Arya membuat mual Berlian. Jika dulu panggilan itu terasa indah, tapi sekarang tidak lagi.
Berlian tersenyum kecut, "Kita cerai mas!"
Bagi Berlian, tak ada pengampunan untuk perselingkuhan.
Tersungging senyum di sudut bibir Intan.
'Akhirnya...," batinnya merasa lega.
Arya mengejar Berlian yang menjauh.
.
"Surprise awal tahun yang indah," Berlian termenung sendirian di sebuah klub malam.
.
.
.
Setelah lama hiatus, akhirnya memberanikan diri lagi untuk menari di atas keyboard
Mohon dukungannya guyssss
Like, komen, kasih bintang atau apapun itu, author ucapin makasih
Berlian Putri Wiranata, merupakan putri sah dari Adrian Kusuma dan Indah Wijaya.
Setelah sang ibu meninggal, tuan Adrian membawa seorang wanita dan putri perempuannya. Yang akhirnya diakui sebagai ibu sambung Berlian. Adik yang awalnya hanya adik tiri, setelah dewasa baru Berlian sadari bahwa Intan adalah putri kandung dari ayahnya. Ibu sambungnya adalah selingkuhan sang ayah sejak masih terikat pernikahan dengan Indah Wijaya, ibunya.
Sedari awal Intan datang, semua yang Berlian punya beralih perlahan ke tangan Intan. Mulai dari mainan sampai kamar yang ditempati Berlian bergeser menjadi milik Intan.
Seorang kakak harus mengalah kepada adiknya, selalu itu yang menjadi alasan ayahnya untuk membela Intan Kusuma.
Setelah memutuskan menikah dan menetap bersama pria yang dicintainya, Berlian berharap teror dari keluarganya berhenti.
Semua itu hanyalah ekspektasi. Pada kenyataannya suaminya pun direbut oleh sang adik.
Berlian mendesah panjang, dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Dadanya terasa sesak dan sulit bernafas mengingat kejadian di rumahnya tadi.
Rumit sekali cerita hidupnya.
Tujuh tahun hidup membina rumah tangga berasa sia-sia.
Janji manis yang biasa terucap dari bibir sang suami ternyata hanya kepalsuan belaka.
Berlian teringat bagaimana sang suami berucap, "Meski rumah ini tak ada celoteh anak-anak, kita akan menua bersama sayang. Rasa cinta dan sayang ini akan selalu ada untukmu," yang pada akhirnya hanya fatamorgana.
Berlian menenggak wine yang berada di depannya.
Menikmati kesendirian di tengah-tengah hingar bingar musik yang dimainkan oleh Disk Jockey di sana.
.
"Wah... Wah.... Ternyata kakak munafik juga.... Sok bersih, sok suci tapi endingnya main di klub malam," Intan menghampiri sang kakak, setelah memastikan bahwa wanita yang menyendiri itu adalah Berlian.
"Jaga ucapanmu!" bentak Berlian.
"Jangan sok suci kak," balas Intan mengejek.
"Diam, atau kusumpal mulut sampahmu," Berlian bangkit dari duduknya.
Badan Berlian terhuyung.
"Ha...ha... Hanya segitu kak," olok Intan menertawakan Berlian yang setengah mabuk.
"Aduh... Aduh kasihan yang barusan diselingkuhi suami," lanjut Intan memprovokasi.
Intan mendekat, "Tahu nggak kak, Mas Arya puas banget main sama aku," bisik Intan.
"Desahannya.... Wow.... Membayangkannya aja aku sampai nggak tahan," sesungging senyum licik di bibir Intan.
Berlian hendak mengangkat tangan dan bersiap menampar sang adik tak tahu diri itu.
"Tahan kak! Jangan emosi. Kalau mas Arya tahu, dia pasti tak terima," cegah Intan.
"Mas Arya pasti akan membelaku. Karena dia tahu ada benihnya yang tumbuh di rahimku," kata Intan sambil berlalu pergi.
Berlian mengepalkan tangannya erat. Ingin dia meremas mulut Intan sampai keriting.
"Akan kubalas perbuatan kalian berdua," gumam Berlian mengancam.
Berlian berjalan terhuyung saat hendak keluar klub.
Kehadiran Intan di tempat itu membuatnya muak dan ingin segera pergi dari sana.
Berlian berpapasan dengan orang kedua yang ingin sekali dihindarinya, dialah Arya.
"Sayang, ngapain kamu di sini? Kamu mabuk?" tatap Arya tak percaya.
Sebutan 'sayang' yang terucap dari pria bengsek itu membuat Berlian memuntahkan cairan dari mulutnya karena rasa mual yang mendera.
Ya, Berlian muntah tepat di kemeja Arya membuat Arya mendelik ke arah Berlian.
"Sayang," kata Arya sambil mengibaskan baju yang basah dan berbau itu.
Berlian tersenyum sinis dan berlalu pergi.
"Sayang, tunggu!" teriak Arya sambil mengejar Berlian.
"Mas Arya," teriak Intan dari kejauhan memanggil Arya.
Berlian tersenyum kecut.
"Tuh... Gundikmu," seru Berlian.
"Dia adikmu," sanggah Arya.
Intan menghampiri.
"Mas, perutku sakit! Antar aku pulang", rajuk Intan manipulatif.
Reflek Arya mengelus perut datar Intan.
Perbuatan Arya barusan cukup membuktikan bahwa perkataan Intan sebelumnya benar adanya.
Berlian berlalu pergi tanpa memperdulikan Arya yang ingin pulang bersama setelah mengantar Intan tentunya.
"Bullshit kalian," umpat Berlian.
Dengan rasa pusing mendera, Berlian berjalan ke arah mobilnya.
Berlian bersandar di pintu mobil, sambil mengetuk-ngetuk kepalanya. Berharap rasa pusingnya berkurang.
"Hai nona cantik, godain kita dong," segerombolan cowok menghampiri Berlian yang berdiri sempoyongan.
"Pergi kalian!" usir Berlian.
"Wah, cantik-cantik tapi galak," seru lainnya dan hendak menyentuh dada Berlian.
"Stop!" cegah Berlian.
"Akan ku panggil security kalau kalian macam-macam," ancam Berlian.
Tawa mereka semakin pecah mendengarnya.
"Ikut kami aja Nona, dijamin puas deh," salah satu dari mereka mencekal lengan Berlian.
Berlian ditarik paksa oleh mereka. Berlian meronta, tapi kalah tenaga.
Bugh... Bugh ...
Tendangan demi tendangan terdengar samar di telinga Berlian. Konsentrasinya terganggu karena setengah mabuk.
Tak berapa lama, mereka yang mengganggu Berlian tergeletak tak beraturan dengan luka-luka lebam di sekujur tubuh masing-masing.
Berlian semakin terhuyung dan hendak jatuh hingga tiba-tiba tangan kokoh menahan tubuh Berlian.
"Sok kuat," gumam orang itu yang masih terdengar lirih sebelum Berlian benar-benar pingsan.
.
Berlian terbangun dengan rasa sedikit pening. Berlian memukul pelan kepalanya untuk menghilangkan efek minuman semalam.
Lama tak menjamah klub malam, membuat tubuhnya harus beradaptasi kembali dengan minuman beralkohol.
"Di mana ini?' Berlian kaget setelah matanya terbuka sempurna.
Berlian menelisik tubuhnya yang berada di bawah selimut.
Helaan nafas panjang terdengar setelahnya. Lega karena bajunya masih utuh menempel di badan.
Bayangan seperti cerita drakor dan dracin sempat melintas di otak.
Berlian bangkit dan mencari ponsel.
"Hhhmmm di sini ternyata," Berlian menemukan ponsel nya tergeletak di atas nakas.
Saat ponsel menyala, terlihat banyak panggilan dan pesan tak terjawab dari Arya.
Berlian meletakkan kembali ponsel, malas saja.
Berlian terlonjak, setelah sekilas melihat jam di wallpaper ponsel miliknya.
"Sialan, telat kerja nih," gerutu Berlian saat sadar sepenuhnya.
Berlian terburu keluar tanpa tahu saat ini dia berada di mana.
Karena buru-buru, dia berjalan tanpa melihat jalan.
Bruk....
"Aawh," reflek Berlian mengelus dahinya.
Berlian mendongak untuk melihat siapa yang berdiri tegak di depannya.
"Pagi... Pagi.... Apes banget nasibku," gumam Berlian menggerutu.
Berlian terlonjak kaget
"Loh ... Kok anda di sini?" tanya Berlian sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Kok bisa bertemu dengan pria es balok di sini? Batin Berlian.
.
.
.
Ayam berkokok tanda hari telah pagi
Matahari pagi datang menyinari
Karya baru telah datang lagi
Semoga membuat readers berseri
Kopi tanpa gula enak rasanya
Biarpun pahit banyak yang suka
Readers kasih dukungannya
Karya naik popularitasnya
Tahun telah berganti
Banyak suka duka terlewati
Setelah hiatus jarang menggerakkan jari
Smoga karya ini masuk di hati
Kalau suka, lanjut guysss
Tak suka, skip aja
Kasih komen bijak, dan rating baik ya guysss.... Maacih 💖
"Loh ... Kok anda di sini?" tanya Berlian sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Tidak ada jawaban.
Tapi netra tajam yang mengarah ke arahnya membuat Berlian menunduk.
"Aawh ..", Berlian mengelus dahi yang barusan disentil olehnya.
"Sapa suruh semalam mabuk pakai acara pingsan segala?" ujarnya, reflek Berlian menutup mulutnya.
'Kok bos tahu?' batin Berlian bermonolog.
"Apa yang tidak kutahu darimu," tukasnya seolah paham jalan pikiran cewek yang berdiri di depannya ini.
"Sok-sok an pergi ke klub malam. Kalau ada masalah tuh bukan ke sana larinya. Buat repot aja," omel nya ke Berlian.
Berlian menatap netra tajam sang bos, seolah tak terima.
"Hidup... Hidup gue," umpat Berlian dalam benak. Dalam hatinya tak habis pikir, "Iya ya, kenapa gue musti ke klub malam," heran sendiri dengan pelariannya kemarin
"Ikut aku!" ajaknya tak terbantahkan.
"Kemana tuan?" tanya Berlian.
"Rapat dengan kolega bisnis," serunya.
Berlian menelisik badannya sendiri.
"Saya?" tunjuknya pada dirinya sendiri.
"Siapa lagi? Hantu?"
Berlian melihat sekeliling, cuman ada dirinya bersama sang bos.
Tak lama bibirnya cemberut, 'Enak aja disamain hantu,' kesal tanpa bisa mengutarakan.
"Tiga puluh menit lagi tak boleh telat sedetikpun, di kamarmu sudah ada baju ganti," serunya sambil berjalan menjauh.
Arah mata Berlian mengekor kemana sang bos berjalan.
Dilihatnya pria es balok itu masuk kamar tepat di sebelah kamar yang ditempati Berlian.
Berlian menepuk jidat, baru menyadari jika dirinya berada di hotel sekarang.
'Mampus, bisa-bisanya aku satu hotel dengannya. Untung aja tidak satu kamar," Berlian mengelus dada merasa lega.
Berlian kembali masuk untuk melaksanakan perintah tak terbantah.
"Harus buru-buru nih, bisa digantung gue sama bos kaku itu," gumam Berlian sambil prepare.
Berlian menemukan paper bag yang dimaksud sang bos. Bersamaan dengan itu ponsel miliknya bergetar.
"Hai sahabat tak ada akhlak. Posisi? Kamu nggak ngantor? Bisa dirujak kamu sama bos. Tiga puluh menit lagi kita diajak rapat di resto X, buruan!" suara Maura ngegas tujuh tanjakan tujuh turunan.
"Ketemu aja di lokasi. Kalau ke kantor dulu, bakalan telat," tukas Berlian menimpali.
"*Jadi ngiri aku, pilih kasih banget bos. Giliran aku t*elat, mulutnya tak berhenti berdengung. Sumbang banget," omel Maura.
Berlian tersenyum menanggapi. Berlian anggap ocehan Maura bagai kicau burung di pagi hari.
.
Berlian keluar dengan baju yang disiapkan sang bos. Kesan elegan menyatu dengan penampilan Berlian saat ini.
Nampak sang bos berdiri tegak di depan pintu kamar, seolah menunggu Berlian.
Berlian mengamati setelan yang dipakai bos nya.
"Apa dia sengaja? Biar terlihat couple?" batin Berlian mengamati penampilan sang bos dan dirinya bergantian.
"Awhhhh," Berlian cemberut karena sang bos kembali menjitak keningnya
"Hobi sekali anda melakukan KDRT," gerutu Berlian.
"Emang aku suami mu," balas sang bos dengan wajah datar.
Mendengar kata suami, membuat Berlian teringat dengan Arya plus problem-problemnya yang belum sempat terselesaikan.
"Aku harus cari bukti perselingkuhan mereka," tekad Berlian. Tak sengaja tangannya terkepal erat jika mengingat semuanya.
"Kamu mau nonjok siapa?" tanggap sang bos melihat sikap Berlian yang seperti hendak menelan orang.
"Oopppsss... Sorry Tuan," Berlian kembali ke mode awal, bersikap ramah di depan pria balok es.
.
Di lobi, Berlian berjalan beriringan dengan sang bos.
Plok.... Plok.....
Tepuk tangan terdengar di samping mereka.
"Wow.... Wow ... Tangkapan kakak nggak kaleng-kaleng....," decih kagum Intan mengamati penampilan Tuan Dominic Alexander, bos Berlian.
"Luar biasa," lanjutnya memuji.
"Kirain kakak itu istri yang jujur, setia, cinta sama mas Arya. Ternyata ....." Intan menggantung ucapannya dan meneliti tampilan Dominic dari atas ke bawah.
"Tutup mulutmu!" Berlian menatap tajam ke arah adik yang tak tahu diri itu.
"Sok suci.... ternyata najis....," ucap Intan tajam.
"Bilang apa kamu?" Berlian mendekat hendak menampar Intan.
"Nggak usah sok bersih kak. Pake nuduh mas Arya selingkuh, ternyata kakak sama saja.Sekarang aku tanya, sudah berapa laki-laki yang kamu ajak ke ranjang?" ocehan Intan membuat emosi Berlian memuncak.
Plak....
Tamparan keras mendarat di pipi Intan sampai berbekas.
"Jangan samakan aku dengan jalang seperti dirimu," kata kasar keluar dari bibir Berlian.
"Jalang teriak jalang," balas Intan tak terima.
Dominic mengamati tanpa mau ikut campur.
"Pagi-pagi keluar hotel berdua, apa itu namanya kalau bukan jalang? Sengaja tebar pesona ke pria hidung belang," imbuh Intan.
"Kurang ajar," Berlian tak terima akan hinaan Intan.
Berlian mendekat hendak menyumpal mulut sang adik yang terus memprovokasi.
Belum sampai tangannya menyentuh, Intan jatuh terduduk duluan.
"Kau....," Berlian lupa sang adik pintar bersandiwara. Kalau dia aktris, sudah dapat piala kali, sebagai ratu drama terbaik.
Di waktu yang bersamaan datang lah Arya.
"Apa yang kamu lakukan? Tega sekali pada adikmu!" Arya menatap tajam Berlian.
Berlian memutar bola matanya malas. Muak dengan situasi saat ini.
Arya meraih tangan Intan dan menolongnya.
"Sudah selesai drama kalian?" tanggap Berlian.
"Tuan Dom, maaf membuat anda menunggu," Berlian menghampiri sang bos yang berdiri tak jauh darinya.
"Mas Arya, jangan biarkan kakak pergi. Sudah ketangkep basah tuh, dia selingkuh," sela Intan ingin menghambat Berlian pergi.
Arya mengamati penampilan pria yang berdiri di samping Berlian. Auranya seakan tak tersentuh.
"Wajahnya tak asing," monolog Arya dalam benak.
"Kita pulang! Kita selesaikan masalah kita baik-baik. Jangan seperti anak kecil," Arya meraih tangan sang istri
Oleh Berlian ditepisnya tangan Arya.
"Nggak sudi," balas Berlian.
"Pulang saja sama gundikmu yang kegatelan itu," tatap sinis Berlian ke arah Intan sang adik
"Mas Arya, kakak jahat sekali padaku. Sudah ku bilang padanya, kalau kamu melakukan itu karena ada andil dia juga. Salah siapa tak bisa kasih anak," ucap Intan dengan gesture mengusap perut.
"Kita pergi tuan Dom," Berlian bersiap melangkah. Tak ingin melanjutkan drama yang kesekian kalinya.
Belum sampai kaki yang terangkat menyentuh lantai, Arya mencekal lengan Berlian dengan kuat.
"Awh... Sakit," keluh Berlian saat tangan Arya memelintir lengannya.
"Stop!" suara Dominic menggelegar.
"Laki-laki yang hebat tak akan menganiaya wanitanya," seru Dominic. Aura wajah Dominic seakan mengintimidasi Arya.
"Nggak usah ikut campur, ini urusan internal rumah tangga saya," balas Arya.
"Secara tidak langsung anda sudah melibatkan saya tuan," ucapan Dominic membuat Arya mengerutkan kening.
"Berlian adalah staf saya, dan ini jam kantor. Berlian menjadi tanggung jawab saya sekarang. Meski anda adalah suaminya. Tak boleh ada yang menganggu karyawan saya, apalagi di depan mata," tegas Dominic.
Dominic menggandeng Berlian, "Kita berangkat!" ujarnya tegas.
"Mas Arya, tuh lihat. Mana ada bos seromantis itu. Pake gandengan tangan segala," ujaran Intan masih bisa ditangkap oleh Berlian.
Arya mengepalkan erat genggamannya.
.
Hening, dingin, sepi. Berlian tak bisa menjabarkan situasi saat ini.
Berlian duduk diam di samping sang bos.
Mobil melaju perlahan keluar area hotel.
Seolah tak terjadi apapun barusan.
.
.
.
Krik.... Krik ...
😀
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!