Indonesia
NovelToon NovelToon

PELAKOR UNTUK MADU-KU

Bab 1 - Antara Kebahagiaan dan Pengkhianatan

“Hamil…? Aku hamil…?”

Ruangan serba putih itu mendadak terasa sunyi, hanya terdengar detik jarum jam yang begitu nyaring. Desiran halus dari mesin pendingin ruang menghembuskan hawa dingin menusuk tulang. Namun, Almira Abimanyu merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya hingga membuat kedua matanya berkaca-kaca. Aroma desinfektan yang biasanya membuatnya mual, hari ini tercium bagai aroma kebahagiaan. Ia menggenggam erat selembar kertas di tangannya, hasil laboratorium yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Di hadapannya, Dokter Melati tersenyum tulus. "Selamat, Nyonya Almira. Hasilnya positif. Anda hamil. Penantian Anda selama tiga tahun ini, berakhir sudah," ucapnya dengan nada lembut yang membuat hati Almira kian menghangat.

Dunia seakan berhenti berputar. Tiga tahun pernikahan, penantian panjang yang penuh dengan doa dan harapan, akhirnya berbuah manis. Air mata haru menggenang di pelupuk matanya, membentuk kristal-kristal bening yang berkilauan. Ia memejamkan mata, membiarkan emosi meluap dalam diam. Kehadiran seorang anak, buah cinta antara dirinya dan Gilang, adalah impian yang selama ini ia dambakan.

"Ya Allah… Alhamdulillah," bisik Almira lirih, suaranya bergetar karena haru. Ia membuka mata dan menatap Dokter Melati dengan senyum yang mengembang di wajahnya. "Terima kasih, Dokter. Terima kasih banyak."

Dokter Melati mengangguk dengan senyum yang sama lebarnya. "Sama-sama, Nyonya. Jaga diri baik-baik, ya. Usia kehamilan Anda masih sangat muda. Hindari stres dan perbanyak istirahat. Jangan lupa konsumsi vitamin dan makanan bergizi."

Almira mendengarkan setiap nasihat Dokter Melati dengan seksama. Ia berjanji akan melakukan semua yang terbaik untuk menjaga kehamilannya untuk memastikan anaknya lahir sehat dan sempurna. Ia akan menjadi ibu terbaik, sebaik yang bisa ia berikan.

Setelah berpamitan dengan Dokter Melati, Almira keluar dari ruangan dan melangkah menuju parkiran. Matanya berbinar-binar, membayangkan reaksi Gilang saat mendengar kabar bahagia ini. Ia akan menyiapkan kejutan istimewa ini untuk suaminya.

Almira mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan mengetik pesan singkat untuk Gilang: "Sayang, ada kejutan spesial untukmu malam ini. Pulang cepat, ya. Aku tunggu di rumah. Aku akan masak makanan kesukaanmu."

Almira mengirim pesan itu sambil tersenyum. Gilang akan sangat bahagia, itulah keyakinannya. Ia bahkan bisa membayangkan pelukan hangat dan ciuman mesra yang akan diberikan Gilang padanya. Malam ini akan menjadi malam yang tak terlupakan.

Beberapa menit menunggu dan sama sekali tak ada balasan dari Gilang, meskipun berulang kali ia memeriksa layar ponselnya. Padahal centang dua berwarna abu-abu telah berubah menjadi biru.

“Kenapa Mas Gilang tidak membalas pesanku?" Almira bertanya-tanya dalam hati. Pikiran buruk berkelebat, namun segera ia tepis.

“Pasti Mas Gilang sedang sibuk,” gumamnya mengingat sang suami memang sedang berada di luar kota untuk mengurus proyek barunya.

"Tidak apa-apa, Almira. Bukankah suamimu sudah berjanji akan pulang hari ini?” gumamnya lagi menghibur diri sendiri.

Almira menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran negatif yang tiba-tiba berseliweran. Ia percaya pada Gilang. Pria itu sangat mencintainya. Ia harus tetap positif dan mempersiapkan kejutan untuk Gilang.

Wanita itu segera melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit. Malam ini, ia akan merayakan kebahagiaan bersama suaminya.

*

*

*

Sesampainya di rumah, Almira bergegas mempersiapkan kejutan untuk Gilang. Ia ingin menciptakan suasana yang romantis dan berkesan. Ia membersihkan rumah, memasak masakan kesukaan Gilang, menata meja makan dengan lilin dan bunga, dan menyalakan musik romantis. Ia ingin membuat Gilang merasa istimewa dan dicintai.

Selesai membersihkan diri, Almira mengenakan gaun favorit suaminya, gaun berwarna merah marun yang selalu membuat Gilang terpesona. Duduk di depan meja rias, wanita yang memiliki wajah cantik itu merias wajahnya dengan makeup natural, menonjolkan kecantikan alaminya. Ia ingin terlihat sempurna di mata Gilang.

Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam, Gilang belum juga pulang. Almira mulai merasa gelisah. Ia mencoba menghubungi Gilang, tetapi panggilannya tidak dijawab. Ia mengirim pesan singkat, tetapi hanya dibaca tanpa ada balasan.

Kecemasan mulai menggerogoti hatinya. “Kemana Mas Gilang? Mengapa ia tidak mengangkat teleponnya? Apakah terjadi sesuatu padanya?*

Almira mencoba menenangkan dirinya. “Mungkin Mas gailang terjebak macet di jalan. Aku harus tetap sabar dan menunggu.”

Pukul sembilan malam. Suara deru mobil terdengar dari luar. Jantung Almira berdebar kencang. Ia berlari menuju pintu depan, siap menyambut Gilang dengan senyum dan pelukan hangat.

Namun, begitu ia sampai di teras depan dan melihat pintu mobil terbuka, senyum di wajah Almira seketika lenyap. Tubuh wanita itu membeku saat melihat Gilang keluar dari mobil, namun tidak seorang diri. Ada seorang wanita ikut turun bersamanya.

Mata Almira terpaku pada wanita itu yang berjalan sambil memegangi perutnya yang membuncit, berjalan dengan dagu terangkat layaknya seorang ratu.

"Aku pulang," ucap Gilang dengan nada datar, tanpa sedikit pun menunjukkan penyesalan. Ia menggandeng tangan wanita itu dan membawanya mendekat ke arah Almira yang terpaku di ambang pintu.

“Siapa dia, Mas?" tanya Almira. Matanya menatap Gilang dan wanita itu bergantian, dengan tatapan penuh kebingungan. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Namun, ia merasa akan mendengar sesuatu yang buruk.

"Almira, kenalkan… Ini Lila, istri keduaku," ucap Gilang dengan enteng, seolah mengucapkan kalimat biasa saja. Seolah-olah yang baru saja ia ucapkan bukanlah masalah besar. Pria itu menatap Almira dengan tatapan yang sulit dibaca.

Dunia Almira runtuh seketika. Kebahagiaannya hancur berkeping-keping. Air mata yang tadi ia tahan dengan susah payah akhirnya tumpah, membasahi pipinya. Ia merasa seperti disambar petir di siang bolong. Pengkhianatan itu begitu menyakitkan, lebih sakit dari apapun yang pernah ia bayangkan. Rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya sesak napas dan sulit bernapas.

"Istri… kedua?" bisik Almira dengan suara tercekat, nyaris tak terdengar. Air matanya semakin deras mengalir, membentuk sungai kecil di wajahnya.

Ia ingin berteriak, ingin marah, ingin menghancurkan semua yang ada di hadapannya. Tapi ia tidak bisa. Ia merasa seperti kehilangan suaranya, kehilangan kekuatannya, kehilangan dirinya sendiri. Tubuhnya seolah kehilangan tulang-belulang.

Wanita yang bernama Lila itu tersenyum sinis ke arah Almira. Ia mendekat dan mengulurkan tangannya. "Hai, Mbak Almira. Senang bertemu denganmu. Semoga kita bisa akur, ya," ucap Lila dengan suaranya yang begitu manis, namun terdengar begitu palsu di telinga Almira.

Almira menatap tangan Lila dengan tatapan jijik. Ia tidak ingin menyentuh wanita itu. Ia merasa jijik pada wanita yang telah merebut kebahagiaannya.

"Mas Gilang, apa maksud semua ini?" tanya Almira dengan suara bergetar, mengabaikan uluran tangan Lila. "Mengapa kamu melakukan ini padaku? Ini… ini hanya prank, kan? Katakan padaku, Mas! Kamu cuma lagi nge-prank aku, kan?"

Gilang menghela napas panjang. "Maafkan aku, Almira. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi aku mencintai Lila, dan dia sedang mengandung anakku," jawab Gilang dengan nada yang terdengar seperti pembelaan diri.

"Mencintai Lila? Anakmu?" Almira tertawa sinis. "Lalu bagaimana denganku? Apakah kamu tidak mencintaiku lagi? Apakah aku tidak berarti apa-apa bagimu?"

Gilang mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya kembali. "Aku mencintaimu, tapi aku juga mencintai Lila. Sudahlah, jangan terlalu mendramatisir keadaan. Lagi pula ini juga untuk kebahagiaan kita. Kamu harusnya senang, akhirnya impian kita memiliki seorang anak akan terwujud. Anak Lila, akan menjadi anakmu juga."

Di samping Gilang, diam-diam Lila menyeringai licik. "Mas Gilang. Kakiku mulai pegal. Apa Mbak Mira akan terus menahan kita di luar? Kamu ingat kan? Dokter bilang aku tidak boleh kecapekan," ucap Lila sambil menggelayut menyandarkan kepala di lengan Gilang.

"Maaf membiarkan kamu menunggu, Sayang. Kita masuk, ya?” Gilang menggenggam tangan Lila dan melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan Almira yang masih terpaku di ambang pintu dengan air mata yang semakin deras.

02. Topeng Kepatuhan

.

Udara dingin malam itu seolah ikut menusuk-nusuk hatinya yang remuk redam. Almira masih berdiri mematung di ambang pintu, menyaksikan punggung Gilang dan Lila yang semakin menjauh.

Dunia terasa berputar, dan semua berubah menjadi gelap. Dengan sisa tenaga yang ada, Almira menutup pintu dan bersandar di baliknya. Air matanya terus mengalir, membasahi pipinya.

"Mengapa aku harus merasakan sesakit ini? Mengapa kau tega melakukan ini, Mas Gilang?" bisik Almira pilu, suaranya tenggelam dalam isak tangisnya.

Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Dengan cepat, ia menghapus air matanya dan mencoba memasang wajah tegar. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Gilang dan Lila. Ia tidak ingin mereka melihatnya hancur.

Gilang muncul di hadapannya dengan ekspresi bersalah. "Almira, aku tahu ini berat bagimu. Tapi percayalah, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku akan tetap menyayangimu seperti dulu. Aku akan bersikap adil pada kalian berdua," ucap Gilang lembut. Pria itu berusaha meraih tangan Almira.

Namun, Almira menepis tangan Gilang dengan kasar. "Jangan sentuh aku!" bentak Almira dengan suara bergetar. Ia tidak bisa menerima sentuhan Gilang setelah apa yang telah pria itu lakukan. Baginya kini, Gilang tak lebih dari makhluk yang menjijikkan. Tubuh pria itu kotor dengan aroma pengkhianatan.

"Almira, kumohon… Jangan seperti ini. Aku tahu kamu marah dan kecewa. Tapi beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya," pinta Gilang dengan nada memelas.

Almira menatap Gilang dengan tatapan dingin dan sinis. "Menjelaskan apa? Menjelaskan bagaimana kamu telah menghancurkan hidupku? Menjelaskan bagaimana kamu telah mengkhianati cintaku? Aku tidak butuh penjelasanmu!" balas Almira dengan nada sinis yang menusuk.

"Almira…"

Sebelum Gilang sempat melanjutkan perkataannya, Lila muncul di belakangnya dengan senyum manis di bibirnya.

"Sayang, kenapa lama sekali? Mbak Almira pasti lelah setelah memasak makan malam untuk kita. Kenapa kita tidak segera makan? Kita harus menghargai hasil kerja kerasnya, kan? Lagi pula, aku sudah lapar. Anakmu ini butuh asupan."

Suara Lila terdengar mendayu-dayu, sebelah tangannya merangkul lengan Gilang dengan manja. Sebelah tangannya lagi mengusap-usap perutnya seakan ingin berkata pada Almira, ‘Lihatlah, aku bisa menguasai suamimu.”

Almira menatap Lila dengan sorot mata jijik. Ia bisa melihat, Lila adalah tipe wanita manipulatif. Bermuka dua. Di depan Gilang wanita ini berpura-pura baik, sebenarnya hanya untuk menyakitinya.

"Mbak Almira, kamu tidak keberatan jika mulai sekarang aku tinggal di sini, kan? Aku janji, aku tidak akan merebut Mas Gilang darimu. Aku justru akan meringankan tugasmu dalam merawat Mas gilang. Kita bisa hidup bersama, aku akan menjadi adik yang patuh," ucap Lila lembut, namun terdengar begitu pisau yang menusuk jantung.

“Serius kamu ingin dia tinggal di sini bersama kita, Mas?" Almira bertanya dengan menahan gerahamnya yang saling beradu. Kedua tangannya terkepal erat hingga kuku-kukunya yang panjang menusuk telapak tangan. Terasa sakit, tapi tak lebih sakit dari luka hatinya yang menganga.

“Apa salahnya? Rumah ini cukup besar. Kasihan kamu tinggal sendirian. Jika ada Lila, kamu tidak akan kesepian." Begitu enteng Gilang mengucapkan kata-kata itu.

Almira menahan amarahnya. Ia tidak ingin terpancing emosi dan melakukan hal bodoh. Ia tahu, ini bukan saat yang tepat untuk berteriak. Ia harus berpura-pura menerima kehadiran Lila dan mencari cara untuk membuat wanita itu merasa hidup bagai di neraka.

"Baiklah, jika itu maumu, Mas. Aku tidak keberatan menerima dia tinggal di sini. Seperti katamu, rumah ini cukup besar untuk kita bertiga," jawab Almira dengan senyum yang dipaksakan. "Selamat datang di rumahku, adik madu. Aku harap ucapanmu tulus. Meringankan tugasku merawat suami!”

Almira tersenyum lebar. Senyum yang hanya dia dan Tuhan yang tahu artinya.

*

Setelah acara makan malam yang begitu kacau, karena Almira justru dipaksa melihat pertunjukkan drama romantis, wanita yang akhirnya urung memberikan kejutan untuk suaminya itu kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Ia menutup pintu dan bersandar di baliknya, membiarkan air matanya kembali mengalir. Di hadapan dua manusia durhaka, ia terlihat tegar bak batu karang. Sesungguhnya ia merasa begitu hancur, begitu terluka, begitu dikhianati.

Perlahan Almira merebahkan tubuhnya di tempat tidur, memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Kenangan indah bersama Gilang berputar-putar di benaknya, semakin menambah pedih hatinya.

Ia ingat saat pertama kali mereka bertemu, Gilang yang tak putus asa mengejar meski ratusan kali dia menolak, saat pertama kali akhirnya ia jatuh cinta karena kegigihan pria itu, dan saat mereka berjanji untuk hidup bersama selamanya. Janji itu kini hanyalah tinggal kenangan yang menyakitkan.

Di tengah kesedihannya, Almira teringat akan kekecewaan mama dan papanya, saat ia tetap memilih menikah dengan Gilang. Papanya yang pernah mengingatkannya untuk berhati-hati dalam memilih pasangan hidup, sempat menolak tegas saat ia memperkenalkan Gilang.

Papanya juga enggan bertemu dengan Gilang di rumah mereka. Bahkan pernikahan mereka saja dilakukan di rumah Gilang yang saat itu masih ngontrak. Papanya hanya datang untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang ayah yang menikahkan putrinya.

"Maafkan aku, Ma, Pa. Aku terlalu bodoh dan naif. Aku terlalu percaya pada Gilang. Aku pantas mendapatkan hukuman ini," bisik Almira penuh penyesalan.

Almira bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju meja riasnya. Ia membuka laci dan mengeluarkan sebuah album foto. Ia membuka album itu dan terlihat olehnya foto-foto dirinya dan kedua orang tuanya saat ia masih kecil hingga lulus kuliah.

Almira menatap foto itu dengan tatapan penuh tekad. "Pa, aku janji akan membuat mereka menyesal. Aku akan membuat Gilang dan Lila merasakan sakit yang sama seperti yang aku rasakan saat ini. Mereka yang menghancurkan kebahagiaanku, maka aku akan menghempaskan hidup mereka hingga tak mampu bangkit lagi,” ucap Almira dengan suaranya yang dingin.

Ia menutup kotak itu dan menyimpannya kembali ke dalam laci. Ia kemudian berjalan menuju jendela dan menatap langit malam yang gelap. Angin malam membelai wajahnya, membuatnya sedikit lupa akan rasa sakit. Di tengah kegelapan itu, ia melihat bintang-bintang yang bersinar terang.

"Gilang... ternyata semua pengabdianku sama sekali tak ada artinya bagimu. Aku yang menemani kamu dari nol, dan sekarang kamu membiarkan wanita lain untuk ikut menikmatinya. Apa itu pantas? Sudah cukup aku menjadi istri yang patuh selama ini. Mulai sekarang, lihat sisi diriku yang berbeda! Aku, Almira Abimanyu, tak kan membiarkan serangga seperti kalian menginjak ku," gumam Almira dengan tekad yang membara.

Wanita itu menyeringai sinis, membayangkan rencana balas dendam yang sudah mulai terbentuk di benaknya. Ia akan membuat Gilang dan Lila menyesali perbuatan mereka.

Bab. 3. Awal Perlawanan

.

“Dunia ini penuh dengan tipu daya. Juga orang-orang yang hanya menginginkan keuntungan darimu. Jadilah wanita kuat dan mandiri. Jangan biarkan siapapun merendahkanmu."

Air mata menetes dari sudut mata Almira, membasahi bantalnya kala wanita itu teringat dengan nasehat papanya saat ia masih remaja. Ia menyesal terlalu dibutakan oleh cinta hingga begitu saja percaya pada Gilang dan menyerahkan seluruh hatinya pada pria brengsek.

Semua yang diucapkan papanya jadi kenyataan. Dirinya dikhianati, merana, seorang diri. Lalu pada siapa dia akan mengadu? Pada papanya? Setelah dulu begitu angkuh dengan mengagungkan cinta Gilang. Apa pantas?

Tiba-tiba, ponselnya berdering memecah kesunyian malam. Almira meraih dan melihat nama penelepon. Nomor tak dikenal. Awalnya, ia ragu untuk mengangkatnya. Namun, rasa penasaran mengalahkannya. Ia menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinganya.

"Halo?" ucap Almira dengan suara serak.

"Putri Abimanyu, sudah lama kita tidak bertemu," suara seorang pria terdengar di ujung telepon, suaranya berat dan misterius.

Almira terkejut. Siapa orang ini? Bagaimana ia tahu tentang identitasnya yang selama ini ia rahasiakan?

"Siapa ini? Bagaimana Anda tahu nama saya?" tanya Almira dengan nada curiga. Jantungnya berdegup kencang, perasaan was-was mulai menghantuinya.

"Itu tidak penting. Yang penting, saya tahu segalanya tentang kamu, Almira," jawab pria itu datar.

Almira mengerutkan kening, menjauhkan layar ponsel dari telinga. Memeriksa nomor yang masuk dan mencoba mengingat. Namun, gagal. Ia sama sekali tidak tahu siapa pemilik nomor itu.

"Apa yang Anda inginkan?" tanya Almira dengan suara gemetar.

"Tidak ada. Saya hanya menyapa. Tapi, jika kamu membutuhkan sekutu. Saya bisa menjadi sekutumu," jawab pria itu dengan nada yang menggoda.

"Saya tidak tahu apa maksud Anda. Jika tidak penting, tolong jangan ganggu saya,” balas Almira dengan geram.

Almira segera menutup panggilan, tak mau mendengar sesuatu yang ia yakini hanya orang iseng.

Tangan Almira meraba sisi ranjang yang kosong dan dingin. Denyut nyeri itu kembali hadir. Mencoba mengingat, kapan terakhir kali dirinya dan sang suami brengsek memadu kasih. Sudah lama, sekitar dua bulan yang lalu, yang tanpa sengaja justru menjadi benih yang kini tumbuh dalam rahimnya.

Wanita yang tersenyum getir. Pantaslah Gilang tak pernah lagi meminta haknya. Ternyata karena kebutuhan biologisnya sudah ada yang memenuhi. Namun, kini Almira tak lagi peduli. Ia juga merasa jijik untuk bersentuhan dengan Gilang.

Tak mau banyak berpikir, ia memilih segera menutupi tubuhnya dengan selimut. Memejamkan mata dengan senyum tersungging. Senyum menyambut esok pagi yang indah.

*

Dering jam weker membangunkan Almira di pagi buta. Biasanya wanita itu akan segera pergi ke dapur, menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum pria itu pergi bekerja. Namun, kini tidak lagi. Wanita memilih pergi ke kamar mandi, membersihkan diri sekaligus mengambil air wudhu, lalu duduk bersimpuh di atas sajadah. Mengaji sambil menunggu adzan subuh.

Membuat sarapan? Kenapa harus bingung? Sudah ada adik madu yang katanya ingin membantu merawat suami.

*

Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi ketika Almira turun ke lantai bawah. Suasana masih sepi, bahkan gorden juga belum dibuka. Almira hanya mengangkat kedua bahunya acuh.

Melangkahkan kaki menuju dapur, wanita itu ingin membuat sesuatu untuk mengisi perut. Janin dalam kandungannya butuh nutrisi. Gilang memang brengsek, tapi janin dalam rahimnya tidak berdosa.

Hanya membuat nasi goreng dan telur dadar untuk dirinya sendiri. Malas membuat sesuatu yang makan waktu lama. Toh sekarang dia tak perlu lagi menunjukkan bakti pada siapapun. Segelas susu coklat yang selalu nikmat hingga tetes terakhir juga sudah dibuat. Makan dengan tenang sebelum dua durjana yang hanya akan membuat emosi jiwa muncul.

Baru saja selesai mencuci piring bekas makan, suara keributan terdengar dari kamar tamu. Pintu terbuka dan tertutup dengan kasar.

“Kenapa tidak membangunkan aku?! Hari ini ada rapat penting?!"

Suara Gilang menggelegar bergema di seluruh rumah berdinding beton.

“Aku kan gak tahu kalo kamu ada rapat, Mas?"

Suara madu mencari pembelaan diri dengan suaranya yang merdu bak penyanyi seriosa. Tentu saja diiringi air mata kebajikan agar dirinya tak disalahkan.

Tak lagi mau mendengar suara Lila yang biasanya merdu namun tiba-tiba berubah menyebalkan, Gilang berlari ke kamar atas, kamarnya yang selama ini ia tempati bersama Almira.

Masuk ke kamar mandi lalu keluar hanya dalam waktu dua menit kemudian. Astaga… apa pria itu mandi bebek? Atau hanya cuci muka? Jangan-jangan dia juga lupa gosok gigi.

"Mira… Mira…!” Suara teriakan membahana semakin menambah meriah suasana pagi.

Di mana Almira? Wanita itu sedang duduk di ruang tengah seolah tak mendengar apapun.

Suara derap langkah cepat menuruni tangga. Gilang yang sedang berlari turun karena Almira tak datang memenuhi panggilannya.

"Mira, di man baju kerjaku?!” tanya Gilang keras.

"Kok tanya aku, Mas? Aku mana tahu.” Almira seakan tak terusik oleh wajah hilang yang merah membara.

"Lalu tanya siapa? Biasanya juga kamu kan yang menyiapkan? Masa aku tanya tetangga?” Gilang benar-benar kesal hingga tanpa sadar suaranya meninggi.

"Oh… aku lupa, Mas. Aku kira karena sudah ada istri kedua kamu sudah gak butuh aku lagi.”

Jleb!

Gilang seakan tertampar akan kesalahan yang ia buat sendiri. Ia sadar telah menyakiti hati Almira. Tapi, itu hanya sesaat. Sebelum kemudian ia kembali bertanya tentang pakaiannya.

“Masih ada di ruang setrika, Mas,” jawab Almira enteng. Namun, wanita itu juga tak beranjak untuk mengambilkan. “Belum disetrika," lanjutnya.

“Kenapa tidak disetrika? Sekarang aku harus pakai apa?”

Gilang semakin kesal karena Almira sama sekali tak menggubris ucapannya. Mau tak mau pria itu pergi ke ruang setrika untuk mengambil baju. memijit pelipisnya yang terasa pening. Memakai baju yang tidak disetrika, lalu segera pergi ke ruang makan. Di sana sudah ada Lila yang duduk dengan kepala tertunduk.

"Mira, mana sarapannya?” Suara Gilang kembali terdengar.

"Aku gak bikin sarapan, Mas. Aku pikir kalian cukup kenyang makan cinta.”

Gilang menggertakkan giginya. Mira benar-benar sudah keterlaluan. “Mira, sudah cukup marahnya. Sekarang buatkan aku sarapan. Aku harus segera pergi kerja!"

“Untuk aku juga ya, Mbak!" Lila yang semula terdiam, ikut angkat suara. “Anakku sepertinya juga sudah lapar,” lanjutnya sambil membusungkan perutnya. Pamer pada Almira yang kata suaminya hanya wanita mandul.

Almira menatap Gilang sambil menyangga dagu. "Katanya kemarin adik maduku ini ikut tinggal di sini untuk membantu merawatmu. Terus, kalau apa-apa masih aku, fungsi dia sebagai istri kamu apa, dong?"

Rahang Gilang mengeras. Tangan Lila terkepal. Tadinya Lila pikir ia bisa membuat Almira tertekan, ternyata kakak madunya bukan wanita yang mudah ditaklukkan.

“Mbak, aku kan hamil? Dokter bilang aku gak boleh kecapekan?" Air mata kebaikan mengalir perlahan.

Almira tersenyum sinis. “Tidak boleh kecapekan bukan berarti tidak boleh membuat sarapan untuk suami. Banyak kok wanita hamil yang tetap bekerja. Dan mereka baik-baik saja. Kecuali jika kamu malas. Atau mungkin kamu punya niat tertentu untuk masuk ke rumah ini.”

Lila tergagap. "Aku… aku bukan orang seperti itu, Mbak. Aku…"

"Mas...?" Almira beralih pada Gilang. "Cari hiburan itu yang bisa meringankan bebanmu! Kalau cuma sebagai tempat ganti oli sih, mending kamu beli di Madam Loly aja, Mas. Cukup keluar beberapa lembar warna merah, gak harus ngasih biaya hidup."

Lila menatap Gilang dengan cemas. Jangan sampai pria itu terhasut kakak madu. "Mas... Aku..."

“Sudah cukup!" Gilang akhirnya berdiri dari duduknya. Mungkin hari ini ia harus pergi kerja dengan perut kosong. Bahkan roti tawar untuk ganjal perut pun tak ada. Apa Almira membuang semuanya?

“Aku ini sudah terlambat, kalian malah berdebat. Kalian mau aku dipecat?"

Lila menggeleng cepat. Jika Gilang dipecat, dengan apa ia belanja barang mewah?

Almira mengangkat dua bahu. Dipecat atau tidak apa bedanya? Toh selama ini Gilang juga jarang memberi dia uang. Tadinya ia pikir gaji Gilang ditabung untuk masa depan. Tapi setelah kehadiran Lila, ia tak yakin.

"Dan kamu Mira, kenapa tadi tidak membangunkan aku?” Gilang menatap kesal.

Almira melongo. Ini Gilang atau dirinya yang bodoh? "Kamu serius bicara gitu, Mas? Jadi, aku harus masuk kamar kalian saat kalian sedang kelon, gitu?”

Jleb!

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!