"Jadi gimana keadaan Yuli sekarang?" Tina datang berkunjung ke rumah sang adik karena ingin melihat bagaimana keadaan Yuli.
"Masih seperti itu, Kak." Nando menjawab dengan wajah lesu karena dia juga bingung tidak tahu dengan penyakit sang istri.
"Ya Allah kenapa dia mendadak saja sakit seperti ini dan penyakit dia cukup aneh." Tina berkata dengan hati yang begitu hancur.
"Aku sudah mengunjungi dokter ke sana kemari tapi tetap saja tidak membawa perubahan untuk Yuli." ucap Nando.
"Kamu yang sabar dan ikhlas mengurus istri, jangan pernah berpaling atau meninggalkan dia walau keadaan Yuli semakin bertambah parah." Tina memberi pesan kepada sang adik agar Nando tidak menjauh.
Takut juga di dalam hati Tina bila suatu saat Nando mulai bosan dan meninggalkan Yuli begitu saja karena keadaan Yuli semakin hari justru semakin bertambah parah, sudah melakukan banyak pengobatan tapi ternyata tetap tidak membawa hasil untuk wanita tersebut sehingga sudah pasti rasa lelah ada di dalam diri Nando.
Lelah adalah hal yang wajar bila sedang mengurus orang sakit seperti ini dan terlebih sebagai seorang pria maka sudah pasti di dalam diri Nando ada percikan birahi yang harus di tuntaskan juga, namun disaat seperti ini tentu saja tidak bisa karena Yuli jelas tidak bisa melayani sang suami.
Hal itu juga yang sudah di pikirkan oleh Tina karena dia takut bila Nando malah tergiur dengan wanita lain dan kemudian berselingkuh, sebab usia mereka juga masih muda sehingga sudah pasti hasrat yang ada di dalam diri masih membara dan itu sangat berbahaya bila Nando tidak sanggup menahan hawa nafsu.
Yuli juga tidak tahu sakit karena apa karena mendadak saja dia langsung tumbang seperti itu dan seluruh tubuh penuh dengan koreng serta nanah, dokter mengatakan itu hanya penyakit kulit biasa namun sudah diberi obat serta salep apa saja tetap tidak mempan sehingga Yuli sudah merasa enggan untuk berobat lagi.
Kabar beredar dengan cepat dengan mengatakan bahwa Yuli bisa saja terkena santet karena penyakit itu terlihat begitu aneh, beberapa orang juga mengatakan bahwa rumah yang di huni oleh mereka terlihat tidak bercahaya alias suram sehingga mungkin saja rumah itu membawa penyakit bagi pasangan suami istri yang baru menikah sekitar tujuh tahun itu.
Anak mereka baru satu dan sebenarnya masuk sekolah adalah tahun ini sehingga sudah pasti ada rasa ingin di antar oleh sang Mama juga, namun apa mau di kata karena nasib justru berkata lain sehingga Yuli tidak mungkin bisa mengantar sang anak ke sekolah dengan keadaan yang sangat mengerikan seperti sekarang ini.
"Yuli." Tina duduk di pinggir ranjang sambil sedikit menahan nafas.
"Aku bau, Mbak! jangan terlalu dekat seperti itu." Yuli merasa malu juga.
"Enggak apa apa, nama nya orang sakit maka sudah pasti bau." Tina berusaha untuk menahan tangis yang siap pecah.
"Tolong jaga Deva ya, Mbak." Yuli menitipkan sang anak karena dia memang sama sekali tidak bisa merawat Deva.
"Iya, kamu sudah tidak usah memikirkan itu karena yang perlu kamu pikirkan adalah cepat sembuh." Tina mengangguk dengan hati yang begitu hancur.
"Apa mungkin menurut Mbak aku masih bisa sembuh?" Yuli mulai ragu karena penyakit ini semakin hari justru semakin parah saja.
Tina mengangguk cepat karena dia tidak mungkin mengatakan tidak dengan keadaan Yuli yang seperti itu dia harus tetap memberikan semangat agar Yuli tidak menyerah begitu saja, lagi pula penyakit ini tidak dikatakan sebagai penyakit berbahaya walau sekarang keadaan Yuli bertambah parah namun tetap saja dokter mengatakan ini hanya penyakit kulit biasa.
"Setiap malam tubuh terasa panas seolah terbakar, aku ragu apa mungkin ini bisa sembuh." Yuli berkata dengan mata mulai mengambang.
"Aku yakin pokoknya kamu besok akan sembuh, jadi kamu tidak usah berpikir yang aneh-aneh." Tina meraih tangan sang adik dengan hati-hati.
"Jangan pegang aku, nanti tangan Mbak juga akan berbau." Yuli berusaha menolak karena dia sangat malu dengan keadaan ini.
"Ya Allah apa mungkin dia memang kena santet? bila hanya penyakit kulit biasa tapi kenapa bisa separah ini." Tina berkata di dalam hati.
"Yuli, Kamu tidak usah berpikir yang ruwet seperti itu karena nanti akan menambah masalah untuk kamu!" Nando muncul sambil membawa bubur.
"Tapi keadaan aku semakin hari justru semakin parah, aku tidak yakin kalau ini adalah penyakit kulit." ucap Yuli dengan suara begitu pelan.
"Jadi kamu percaya kalau ini santet!" Nando malah membentak dengan sangat keras sehingga Tina yang sedang duduk saja menjadi begitu kaget.
Mendengar bentakan sang suami maka Yuli jadi terdiam dan tidak berani lagi untuk menangis karena dia merasa mungkin saja Nando sudah lelah mengurus dia sejak dulu hingga sampai saat ini, bukan hanya tenaga saja yang Nando keluarkan tapi juga uang untuk biaya pengobatan ke dokter kulit.
Sudah pasti ada rasa lelah dan juga bosan karena terus mengurus orang sakit seperti ini, sehingga kadangkala Nando memang membentak sang istri dengan nada yang begitu tinggi sehingga membuat Yuli terdiam dan tidak berani lagi untuk membantah ucapan sang suami karena dia memang merasa hanya sebagai beban saja saat ini.
"Nando!" Tina tidak terima walau Yuli adalah seorang adik ipar namun dia tetap saja merasa itu sangat menyakitkan.
"Ya dia itu yang tidak pernah bisa mau diam, aku sudah mengurus seperti ini tapi dia terus saja menambah beban pikiran!" kesal Nando.
"Maafkan aku, Bang." isak Yuli sangat pelan.
"Harus nya kamu sangat berterima kasih karena aku masih mau merawat kamu seperti ini, tapi kamu tidak pernah bisa diam dan terus membuat aku pusing!" bentak Nando dan kemudian dia segera pergi dari dalam kamar untuk menenangkan pikiran.
"Ya Allah Nando!" Tina saja merasa begitu iba dan bingung harus bagaimana saat ini.
"Hiks, Hiks." Yuli menangis pilu dengan keadaan yang begitu buruk.
"Sudah, jangan menangis terus karena nanti akan menambah rumit suasana ya." Tina berusaha membujuk dan dia mengambil bubur yang tadi di buat oleh Nando.
"Bang Nando pasti sangat lelah mengurus aku seperti ini." isak Yuli semakin perih saja.
"Maka nya kalau kamu memang tahu dia sangat lelah jadi sudah jangan berbicara yang macam-macam, terima saja dan nurut apa yang dia katakan ya." Tina berkata lembut.
Yuli mengangguk karena mungkin saja itu adalah keputusan yang tepat dan dia juga tidak mungkin bisa protes, padahal Yuli berkata demikian karena dia merasa tidak enak dan merasa sungkan kepada sang suami yang terus saja mengurus dia seperti itu dengan mengeluarkan tenaga serta uang begitu banyak.
Selamat datang di karya baru Novita Jungkook untuk kesekian kali nya, jangan lupa like dan komen kalian semua, semoga tidak bosan dengan karya othor ini ya besti ku.
Nando menghisap rokok yang ada di tangan dengan sangat nikmat sambil duduk di bawah pohon beringin yang begitu rindang, di sebelah nya ada Ferdian yang selama ini selalu menjadi teman dia dan tidak pernah cekcok dengan Nando karena mereka memang sudah bersama sejak kecil dulu sampai kemudian telah berumah tangga seperti sekarang ini.
Ferdian tahu bahwa sekarang Nando sedang bingung memikirkan apa yang telah terjadi kepada Yuli, sakit yang di alami oleh istri Nando sudah buka rahasia lagi karena para teman juga sering datang untuk melihat keadaan Yuli namun mereka semua tidak ada yang berani melihat secara langsung akibat tidak sanggup menahan bau itu.
Memang penyakit Yuli begitu aneh dan juga tidak masuk akal bila hanya karena penyakit kulit biasa, namun anda tidak putus asa dan terus mengobatkan kepada dokter kulit karena dia beranggapan bahwa sang istri suatu saat pasti bisa sembuh bila memang itu hanya penyakit kulit biasa.
Namun itu sudah berlangsung begitu lama dan sampai sekarang sama sekali tidak ada perubahan walau hanya sedikit saja, mungkin bagi seorang pria sudah ada rasa bosan dan jenuh di dalam hati karena sang istri sudah tidak bisa memberikan pelayanan baik itu di ranjang atau bahkan di dapur sehingga Nando mulai merasa jenuh.
Ferdian tahu bahwa Nando butuh pelampiasan juga namun dia tidak berani untuk menawarkan sesuatu yang di larang oleh agama, tapi bila di lihat dari wajah saja maka Nando terlihat begitu kusam dan berat sekali pemikiran pria satu ini sehingga Ferdian merasa kasihan juga kepada sang teman sehingga ingin membantu walau hanya sedikit saja.
"Yuli apa masih tetap seperti itu?" Ferdian bertanya terlebih dahulu.
Nando mengangguk dan dia merasa sungkan sekali untuk mengatakan apa yang telah terjadi sekarang ini, seolah bila ada di luar maka dia ingin membicarakan hal lain agar tidak terus fokus kepada sang istri yang hanya bisa merintih di atas ranjang karena merasakan sakit dan juga panas di tubuh dia.
"Kau cerita saja bila memang ada yang mengganjal di dalam hati mu itu." Ferdian berkata sambil menghisap rokok.
"Sudah terlalu banyak yang mengganjal di dalam hati ini, aku sampai tidak tahu harus bercerita dari mana." jawab Nando sambil menghembuskan nafas kasar.
"Jangan terlalu di ini'in Bro, apa lah nama nya." Ferdian ingin mengajak Nando bergurau agar dia lupa dengan batin yang begitu berat.
"Apa lah kau ini, tidak jelas pula berbicara apa." Nando membuang muka karena dia tidak ingin bercanda untuk saat ini karena beban sangat berat.
Ferdian bingung harus menghibur dengan cara apa karena sekarang semakin terlihat bahwa Nando begitu sulit sekali untuk menceritakan beban yang ada di dalam hati, mungkin saja memang semua pria akan seperti ini ketika sang istri sedang sakit keras seperti yang sedang di alami oleh Yuli karena dia tidak pernah sakit selama ini.
Ada kemungkinan bila seorang pria bingung ketika melihat sang istri yang sedang sakit keras seperti Yuli, antara dia merasa kasihan karena sang istri tercinta tengah menderita dengan penderitaan begitu besar, atau bisa juga dia merasa sudah muak untuk mengurus sang istri karena menganggap itu semua hanya beban semata.
"Sebenarnya aku sudah mulai curiga bahwa mungkin saja di Yuli itu melakukan kesalahan besar." Nando berkata pelan.
"Kau mulai percaya dengan omongan orang bahwa dia kena santet!" Ferdian agak kaget karena arah pembicaraan Nando justru ke arah sana.
"Bukan yang itu, aku hanya merasa curiga bahwa itu adalah penyakit menular HIV." jelas Nando.
"Gila!" Ferdian sampai tidak bisa untuk berkata apa-apa lagi.
"Kau jangan berburuk sangka kepada aku dulu, bukan aku yang memberi penyakit itu kepada dia tapi mungkin saja selama ini dia telah melakukan hubungan dengan pria lain." jelas Nando.
"Ya ini yang aku bilang gila, kau sendiri tahu bahwa istrimu itu tidak pernah keluar dari rumah dan dia tidak mungkin bersikap seperti itu!" Ferdian langsung menyangkal prasangka yang tumbuh di dalam hati Nando.
"Penampilan luar itu sekarang tidak menjamin karena kita tidak tahu apa yang ada di dalam hati dia." Nando tetap yakin dengan isi pikiran dia saat ini.
"Ini sungguh gila sih, aku sama sekali tidak menyangka kalau kau malah kepikiran ke arah sana." ujar Ferdian sambil berulang kali menggelengkan kepala.
"Sebab penyakit dia aneh dan aku merasa mungkin saja ini ada sangkut paut dengan hal itu, aku akan membawa dia ke dokter spesialis kelamin." tekad Nando.
Sudah tidak bisa lagi Ferdian mau membantah ucapan teman dia ini karena semakin dibantah makanan doakan semakin yakin bahwa bisa saja Yuli memang telah terkena penyakit itu, entah apa yang membuat Dia sangat yakin dengan firasat tersebut karena Ferdian saja merasa tidak percaya bahwa Yuli akan melakukan hal buruk seperti itu.
Tapi ini Nando malah serasa sangat yakin bahwa Yuli memang melakukan hubungan gelap dengan pria lain sehingga sampai tertular penyakit seperti itu, melihat Nando yang sudah sangat yakin begitu maka Ferdian pun mulai goyah karena dia menganggap bahwa firasat suami tidak pernah salah dan kemungkinan besar Yuli memang telah berkhianat.
"Jadi nanti bagaimana pula cara kau bertanya kepada dia?" tanya Ferdian menatap Nando.
"Untuk apa lagi aku bertanya kepada dia, akan langsung aku bawa ke rumah sakit itu saja." putus Nando.
"Tapi bila dia tidak melakukan hal itu dan tidak terbukti bahwa dia terkena penyakit menular maka itu akan menyinggung perasaan Yuli." cemas Ferdian yang masih memikirkan perasaan wanita tersebut.
"Ah tidak usah kau pikirkan soal itu karena aku tidak mungkin salah!" Nando sudah sangat yakin dengan firasat ini.
Jadi Ferdian memang sudah tidak punya hal untuk membantah lagi karena mungkin memang itu adalah hal yang benar, lagi pula dia hanya seorang teman dan memberi arahan tapi bila tidak di terima maka sudah tidak ada hak untuk berbicara panjang lebar karena nanti yang ada Nando akan semakin kesal kepada Ferdian saja.
"Ya aku doakan kalau itu bukan hal yang benar karena nanti kau akan sakit hati." harap Ferdian.
"Entah lah, aku rasa sudah begitu lelah untuk mengurus Yuli terus seperti itu." keluh Nando.
Nando memang sudah mulai masuk di titik lelah dan bosan karena dia terus mengurus istri yang sakit di atas ranjang, mana bau Yuli juga begitu menyengat sehingga sudah pasti Nando kadang tidak sanggup untuk memakan makanan yang ada di dalam rumah tersebut.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komentar kalian semua nya ya.
"Kau sekarang memang tidak akan menikah atau menjalin hubungan lagi?" Reni bertanya kepada Nabila.
"Tidak, aku sudah mati rasa dan tidak ingin memiliki hubungan dengan siapa pun." Nabila menjawab dengan tatapan kosong.
"Kau tidak boleh patah hati hanya karena masalah satu pria seperti itu." Meri menatap Nabila yang selama ini memang selalu memiliki hubungan dengan para pria.
"Kali ini tidak lagi, luka yang aku alami kemarin begitu besar dan aku tidak ingin menjalin hubungan dengan seorang pria lagi." Nabila berkata serius karena dia memang telah mengalami patah hati yang begitu dalam.
"Yah baiklah kalau begitu ketua, tampaknya ketua kita memang sedang mati rasa dan tidak ingin memiliki hubungan." Reni menggoda Nabila yang selama ini memang di kenal selalu saja mencari kekasih kaya.
Mereka bertiga adalah teman sejak dulu dan susah senang selalu di lewati bersama sehingga sudah saling mengenal satu sama lain tentang sifat mereka masing-masing, jadi bagaimana tabiat Reni atau tabiat Nabila dan juga tabiat Meri mereka sama sekali tidak kaget lagi karena sudah terbiasa sejak dulu dan itu terus terbawa sampai saat ini sehingga bila ada masalah akan langsung saling menasehati satu sama lain walau ternyata mereka sama-sama stres dan kadang tidak memiliki tujuan saat sedang ada masalah.
Namun seperti itu adalah yang di beri nama sahabat sejati karena mereka selalu melupakan masalah bersama dan tidak pernah bergunjing saat ada di belakang, tapi memang Nabila ini yang agak lain karena dia dulu adalah gadis yang tinggal di desa dan kemudian merantau ke kota ini sehingga agak sedikit kaget melihat hiruk pikuk kota.
Bahkan bisa di bilang bahwa Nabila adalah yang paling miskin di antara mereka bertiga ini, Meri walau sudah tidak memiliki orang tua namun dia memiliki banyak harta sehingga tidak begitu kaget ketika melihat orang yang banyak uang atau bahkan pria matang memiliki banyak uang untuk menggoda mereka semua.
Bahkan sampai saat ini Meri masih belum pernah pacaran karena dia belum menemukan sosok yang pas untuk di jadikan kekasih, dulu Meri sempat mengenal seseorang dan dia merasa orang tersebut sangat pas bila mau menerima dia tapi ternyata pria itu tidak ingin menikah lagi karena dia ingin setia pada sosok sang istri yang telah meninggal dunia.
Hingga sampai sekarang Meri tidak pernah menjalin hubungan dengan pria mana saja, beda dengan Reni yang masih memiliki beberapa hubungan dan itu juga putus nyambung karena dia adalah tipe wanita yang bucin sehingga susah sekali untuk melupakan mantan kekasih yang satu itu.
"Tama memang sudah tidak ada kabar lagi?" Reni menatap Nabila yang terlihat gundah.
"Tidak usah kau tanya soal pria itu karena aku tidak ingin mendengar tentang dia lagi." sergah Nabila dan terlihat langsung sangat kesal.
"Lah aku yakin kau pasti sudah di buang oleh dia karena dia lebih memilih untuk menjadi suami yang baik kan!" Meri langsung menebak demikian karena mereka tahu tentang kisah percintaan Nabila.
"Ah kalian ini." Nabila menjadi tambah kesal karena kedua teman malah tidak mau diam.
"Kan kami sudah bilang sejak awal bahwa jangan pernah menjalin hubungan dengan pria yang telah memiliki istri, tapi kau sangat keras kepala." Reni memarahi Nabila yang memang tidak pernah bisa di kasih tahu.
"Banyak pria lajang di kota ini jadi tidak perlu kamu mau cari orang yang telah memiliki istri." timpal Meri.
"Ya gimana lagi karena itu memang rasa cinta yang tumbuh di dalam hati." celetuk Nabila.
"Ya sudah makan saja cinta itu!" sengit Reni.
Nabila menarik nafas panjang Karena dia memang begitu berat dan sangat tidak menyangka bahwa nasib cinta dia akan tragis seperti ini, subuh tidak pernah dia bayangkan bahwa pria itu bisa membuang dia begitu saja tanpa berpikir dua kali walau hubungan mereka sudah sangat jauh selama ini.
Kisah cinta dengan suami orang memang tidak mungkin bisa berakhir dengan indah karena masih ada orang lain yang menjadi pembatas di antara mereka berdua, namun Nabila keras kepala dan selama ini sudah di nasehati oleh para teman namun dia tetap menolak dan kemudian sekarang dia harus menderita seperti ini.
"Kau tidak sampai hamil kan?" Reni mendadak saja kepikiran sesuatu setelah melihat Nabila yang begitu gundah selama beberapa waktu ini.
"Hah!" Meri yang mendengar pertanyaan Reni jadi ikut kaget.
"Sembarangan saja kau ini berbicara seperti itu!" Nabila terlihat semakin kesal dan segera menyambar tas.
"Kau ini sembarangan saja, dia pasti merajuk dan tidak akan mau berbicara dengan kau untuk beberapa saat." Meri menatap Reni yang hanya diam saja walau Nabila sekarang sudah pergi dari hadapan mereka.
"Aku rasa yang aku katakan itu adalah hal yang benar!" Reni sudah begitu yakin ketika melihat gelagat Nabila.
"Jangan begitu, nanti kau dan dia semakin bertengkar dan hubungan kita jadi renggang." Meri menepuk pelan tangan Reni karena selama ini dia yang selalu menjadi penengah ketika mereka akan bertengkar.
Reni terdiam tapi otak dia terus mengatakan bahwa pasti ada sesuatu yang telah terjadi kepada Nabila itu, mungkin saja saat ini Nabila tengah mengandung dan Reni sangat yakin dengan firasat yang mendadak saja timbul di dalam hati karena wajah Nabila juga terlihat berbeda seolah dia sedang tidak sehat.
"Dia merokok sebelum di tinggal kekasih nya itu." lirih Reni.
"Iya, tapi belakangan ini tidak." angguk Meri pula.
"Jadi alasan apa lagi? aku sangat yakin kalau dia memang hamil kok!" sengit Reni.
"Astaga, kau lihat tadi perut dia saja rata loh." Meri masih saja ragu.
Hembusan nafas Reni terdengar begitu berat karena dia entah kenapa sangat yakin bahwa Nabila memang telah mengandung dan kemungkinan bila di hitung dengan tepat saat ini sekitar tiga bulan, mungkin bila masih segitu tidak akan terlihat tapi semakin lama akan semakin menonjol, karena bayi yang ada di dalam rahim jelas semakin besar saja setiap hari nanti.
"Kita taruhan sampai beberapa bulan ke depan untuk membuktikan apa dia sedang hamil atau tidak." tantang Meri.
"Ya gimana kalau beberapa hari lagi akan dia aborsi." sahut Reni.
"Hah!"
"Tama sudah tidak dengan dia lagi sehingga dia tidak mungkin bisa membiayai anak yang akan lahir itu, untuk biaya dia sendiri saja begitu kesulitan jadi mana mungkin dia akan mau membesarkan anak tersebut." jelas Reni.
Meri emang agak polos dan dia tidak bisa berpikir seperti Reni barusan sehingga lebih banyak melongo seolah tidak paham, sedangkan Reni memang sangat pintar sehingga dia langsung berpikir ke mana-mana, hati dia juga sudah sangat yakin bahwa Nabila memang telah berbuat yang tidak beres.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!