Indonesia
NovelToon NovelToon

Transmigrasi Menjadi Istri Pertama Mafia Dingin Yang Tidak Di Anggap

Awal Mula Transmigrasi

Freya Oktavia adalah gadis cantik, bekerja di perusahaan sebagai sekuriti wanita, bersama sahabatnya nadya, yang tanpa di ketahui semua orang, nadya adalah seorang penulis terkenal. Mereka sekuriti wanita yang ilmu bela dirinya diacungkan jempol.

Langit malam semakin tampak lebih pekat, rembulan memilih untuk bersembunyi di balik tirai kelabu yang tebal. Langit bagaikan beludru hitam dan sang bintang seakan enggan keluar. Kilatan cahaya putih sesekali membelah langit hitam. Bau aroma khas menjelang turunnya hujan, mulai menusuk di indra penciuman.

Dua sekuriti wanita sedang berjaga malam di temani dua penjaga pria. Tetapi dua orang pria sedang istirahat makan di warteg. Mereka berdua duduk di kursi memandang langit.

"Freya, sepertinya akan hujan besar." Ucap nadya menatap langit yang terlihat sangat pekat. "Oh iya, bagaimana novel terbaruku? besok aku mau rilis loh, jadi aku mau libur kerja dulu." Ucapnya dengan nada berbinar-binar.

Freya tersenyum kecut. "Novelnya kurang bagus buat aku, masa pemeran figuran hidupnya miris bangat, tidak dianggap ada sama suaminya yang seorang mafia, sama keluarganya tidak dianggap juga, dan yang paling aku kesal. Kenapa kamu memakai nama pemeran figuran sama dengan nama ku, freya." Ucapnya dengan bibir yang mengerucut. "Nih, aku bawa novelnya dan aku juga sudah baca sampai habis." Lanjutnya masih dengan wajah masamnya.

Nadya tersenyum kecil. "Hehehe, maaf ya sahabat ku, waktu itu aku lupa mencari nama figurannya, nah pas mau aku tulis aku teringat wajah mu. Jadi aku pakai nama mu." Jawaban dengan nada santainya.

freya menatap malas sahabatnya. "Aturan kalau seperti itu, buat si freya cerai dari suaminya yang kejam, dingin, psikopat gila dan satu lagi--." Ucapnya terhenti menatap wajah nadya. "Tidak pernah menganggapnya ada." Celetuknya kesal. "Nah, setelah cerai, freya dapat uang banyak dan senang-senang. Bukannya tewas karena kesedihannya. Mana di saat dia tewas tidak ada satu orang pun yang berada disisinya." Ucapnya terdengar nada sedih, yang berusaha dia tutupi. Dia menatap langit malam tanpa bintang dan rembulan.

"Nadya, kamu miliki orang tua yang komplit dan sayang sama kamu. Sedangkan aku tidak memiliki siapa-siapa. Aku anak angkat yang tidak di pedulikan keluarga dan aku pergi dari mereka. Hampir sama seperti freya di novel mu, hanya di novel mu, freya sang figuran wanita lemah, tidak berani melawan mereka. Karena mereka adalah orang yang membesarkan mereka." Gumamnya dengan nada menghela napas.

Nadya merasa bersalah. "Maafkan aku ya freya, aku tidak berniat menyinggung mu." Ucapnya dengan nada menyesal.

Freya tersenyum kecil. "Sudahlah, aku juga cuma bercanda. Hanya kesal saja sama si kay itu loh. Dia kan mafia, seharusnya sebelum menikahi freya paksa, dia cari tahu dulu kebenarannya lebih detail." Ucapnya dengan nada marah.

"Hehehe, kan ceritanya kay sedang bersedih. Pulang dari luar negri, di kabarkan kekasihnya sudah tiada dan mendonorkan jantungnya untuk freya, jadi frustasi. Karena itu dia langsung menikahi freya tanpa melihatnya. Karena yang ada dipikirannya itu jantung kekasihnya." Jawabnya dengan nada cekikikan.

Freya menatap tajam nadya. "Itu mah terlalu lebay, karena kesalahannya membuat seorang wanita yang tidak bersalah tewas karena kesedihannya. Dan lebih bodohnya dia istri pertamanya." Gumamnya ngegas.

Tiba-tiba rintik hujan turun dan langsung besar, meraka masuk. "Freya aku mau menutupi motorku dulu." Ucap nadya langsung berlari keluar.

"Nadya, anginnya kencang." Teriak freya kencang. Freya akhirnya mengikuti nadya untuk menolongnya.

Nadya mendorong motornya, tiba-tiba pohon tersambar petir dan akan jatuh ke nadya, freya mendorong tubuh nadya, hingga freya tertimpa pohon besar itu.

"Freya." Teriak nadya.

Nadya mencoba mengangkat pohon itu tetapi tidak bisa. "Nadya, sudah tidak apa-apa. Aku sudah tidak kuat, selamat tinggal." Ucapnya langsung memejamkan matanya.

"Freya." Teriak nadya.

Di sebuah kamar, seorang wanita terjatuh dari tangga. Kini tubuhnya terbaring dengan kepala yang di perban. Di samping kasurnya duduk seorang pelayan setia, seumuran dengannya dengannya, menunggunya terbangun.

Eng.. Kelopak mata wanita itu bergetar hebat, sebelum akhirnya terbuka perlahan, namun pandangannya masih kabur. "Di mana aku." Bisik-nya parau hampir tidak terdengar.

Saat penglihatannya mulai fokus, jantungnya berdegup kencang, hingga terasa memenuhi rongga dadanya. Dia menatap langit-langit kamar tinggi dengan ukiran gypsum berwarna emas dan lampu gantung kristal yang megah.

"Nyonya, anda sudah sadar?" Tanya seorang pelayan yang setia menunggunya.

Deg..

"Aku di mana?" Tanyanya dengan nada bingung. Karena dia masih ingat, dia tewas tertimpa pohon besar.

Tiba-tiba kepala berdenyut keras. Rasa sakit di kepalanya terasa.

Pelayan itu khawatir. "Nyonya anda tidak apa-apa?" Tanyanya dengan nada terdengar panik dan khawatir.

Tiba-tiba bayangan kehidupan seseorang berputar bagaikan kaset rusak. Dan rasa sakitnya mulai mereda. Dia menghela napas.

"Nyonya, aku panggilkan dokter ya?" Tanyanya dengan nada khawatir.

Freya tersenyum tipis. "Tidak perlu, aku sudah mendingan." Jawabnya dengan nada santai dan lembut.

Deg..

"Oh iya nyonya." Jawabnya gugup melihat perubahan nyonya mudanya.

"Jadi, aku menjadi freya gemala, figuran novel, yang tak di anggap suaminya yang bernama kay leroy." Batinnya berbisik bingung.

"Ya sudahlah, terima saja, yang penting aku masih bisa hidup, jika semuanya sesuai novel. Maka aku akan mengubah semuanya, aku minta cerai saja, karena tidak ada cinta antara aku dan kay." Batinnya berbisik kembali.

"Bella, tolong ambilkan aku air." Perintahnya dengan nada santai.

Bella menatap lekat nyonya mudanya yang sangat berbeda, biasanya sangat pendiam, selalu menunduk dan juga tidak pernah memerintahkan. Bella berpikir nyonya mudanya sangat berubah dan dia senang.

Dia menatap kamar yang mewah. "Hmmm, membingungkan, tetapi nikmati." Gumamnya tersenyum tipis.

Freya menatap sekeliling kamarnya. Dia berada di tengah tempat tidur yang ukurannya king size, dengan seprei sutra berwarna biru, yang terasa dingin dan halus di kulitnya.

"Nyonya, ini airnya." Ucap bella menyadarkan lamunannya.

Freya mengambil airnya dan meminumnya, dia merasakan sangat haus. "Ini bella." Ucapnya memberikan gelas yang sudah kosong. Lalu dia turun dari kasurnya. Dia melangkah menuju cermin rias yang besar dan indah. Dia ingin melihat wajah freya gemala.

Deg..

Dia terkejut melihat pantulan dirinya di cermin, wajahnya adalah wajah asli dirinya. Hanya dia menggunakan kacamata minus, dan memiliki rambut sebahu. Dia memegang rambutnya.

Deg..

"Rambut ini palsu." gumamnya menarik rambut palsunya, hingga tergerai dengan warna hitam yang panjang. Dia sangat terkejut, dia membuka kacamatanya dan dia mengelap noda seperti jerawat. "Semuanya palsu." Tiba-tiba Ingatannya pemilik tubuh terlihat kembali. Dia tambah terkejut.

"Keluarga angkat sialan, jadi mereka yang memerintahkan freya menyembunyikan kecantikannya, takut anak perempuannya tersaingi dan itu adalah istri keduanya." Gumamnya dengan nada kesal. "Dasar keluarga doggy." Teriaknya kesal.

Bella terkejut dengan kecantikan nyonya mudanya, selama ini dia tidak tahu kecantikan nyonya mudanya yang disembunyikan. Dia dijadikan pelayan setelah nyonya mudanya menikah lima bulan, dan cara pakaiannya dan dandanannya terlihat tidak merawat diri. terlihat norak, tidak seperti nyonya ivana, sang kakak yang termasuk istri kedua dari tuan muda kay leroy, yang terlihat elegan.

Pertemuan Freya Dengan Kay Leroy

Freya duduk di depan meja riasnya dia menatap dirinya yang menggunakan gaun berwarna oranye yang terlihat sangat norak. Dia menghela napas berat. "Freya, sekarang tubuh mu menjadi milik ku, dan untuk jantung yang sekarang kamu gunakan, jantung ini memang milik orang lain. Tetapi, entah bagaimana kejadiannya, aku merasa jantung ini jantung ku sendiri, yang mengontrol diriku sendiri. Mungkin karena aku bertransmigrasi." Gumamnya sangat pelan.

Freya melupakan kehadiran bella, pelayan muda seumuran dengannya dan sangat setia dengannya. Sering di hukum karena membela nyonya mudanya.

"Nyonya muda." Panggilnya dengan nada rendah.

Freya menoleh ke arah bella. Dia tersenyum tipis. "Aku sampai melupakan kehadirannya." Batinnya sadar dari lamunannya.

Bella menatap khawatir nyonya mudanya. "Anda tidak apa-apa nyonya muda?" Tanyanya dengan nada terdengar sangat khawatir.

Freya tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja bella." Ucapnya dengan nada lembut. "Bella, mulai sekarang aku akan berubah, kita bersenang-senang bella. Menikmati hidup dan aku akan mengajukan perceraian." Ucapnya dengan nada dingin.

Deg..

Bella membelalakkan matanya, karena terkejut. "Maksud nyonya muda, nyonya muda akan meminta cerai?" Tanyanya dengan nada masih ragu.

Freya tersenyum tipis. "Iya bella, inilah aku sebenernya. Aku tidak akan mau ditindas mereka lagi, termasuk suamiku sendiri yang tidak pernah menganggap aku ada. Aku akan pergi, dan memulai hidup yang baru." Jawabnya dengan nada dingin.

Bella tersenyum bahagia, karena pada akhirnya nyonya mudanya mau berubah, Bella berpikir karena sudah lelah tidak di pedulikan sama sekali dengan suaminya.

"Bella, sebelum aku pergi. Aku ingin membalas mereka semuanya. Terutama si pulu-pulu ivana ratu penuh drama." Jawabnya dengan nada penuh keyakinan.

Entah kenapa bella setuju dan merasa yakin, nyonya mudanya yang sekarang bisa melakukannya. Karena pancaran matanya berbeda.

Freya menatap bella lekat. "Bella, ada pakaian yang tidak norak seperti ini tidak? mataku sakit melihatnya, terlalu terang dan mencolok." Ucapnya menatap bella.

Bella cekikikan mendengar freya berbicara seperti itu. "Hihihi, maaf nyonya muda, aku sudah pernah bilang sama nyonya muda. Tetapi nyonya muda, lebih suka bergaya seperti itu." Jawabnya menahan cekikikan. "Untuk pakaian anda, ada kok nyonya pakaian yang bagus-bagus di ruang Walk in Closet." Ucapnya dengan menahan senyumnya.

Freya bangkit dari duduknya. "Kalau begitu aku ganti pakaian dulu." Ucapnya berjalan menuju ruangan Walk In Closet.

Bella menatap punggung nyonya mudanya. "Nyonya anda lebih cantik dan menggemaskan dari kakak anda nyonya. Sangat cantik." Gumamnya, menatap senang nyonya mudanya yang berubah sangat cantik.

Freya menatap barang-barang freya gemala. "Ini banyak pakaian yang bagus, ngapain kamu ikuti pulu-pulu dan keluarganya freya." Gumamnya kecil memegang dagunya. Dia mengambil kaos yang panjangnya di atas paha dan memakai celana pendek di atas paha.

Setelah dia memakai pakaiannya, dia bercermin di cermin rias di ruang Walk in Closet. Dia menatap dirinya yang cantik dan menggemaskan. "Perbedaan di kita cuma mata dan gaya rambut. Jika rambut ku itu lurus, sedangkan kamu kriting gantung, mata kamu berwarna biru, cantik." Gumamnya terpesona dan bangga pada dirinya sendiri.

Freya duduk di depan cermin mengingat alur novelnya.

Judulnya Cinta Sang Mafia Dingin.

Novel yang menceritakan kisah seorang mafia bernama kay leroy yang mencintai kekasihnya bernama ivana gemala. Mereka berpacaran selama dua tahun. Namun keluarga tidak setuju hubungannya dengan ivana. Tetapi kay leroy yang mencintainya begitu buta, mungkin hampir tahap obsesi kepada ivana, tidak pernah mendengarkan kakek neneknya. Kay leroy tidak memiliki kedua orang tua, karena telah tiada di bunuh musuhnya. Cinta mereka diuji bukan dari ketidak kesetujuan dari kakek neneknya saja, tetapi rival kay leroy sesama mafia, bernama Axel mahendra sang mafia dingin yang mencintai ivana karena kebaikan dan kelembutannya.

Mereka selalu bertemu dan kay begitu memanjakan kekasihnya ivana. Hingga suatu hari, kay harus keluar negri, perusahaan di sana menghadapi krisis. Kay leroy pergi hampir setahun, karena kesibukannya kay leroy tidak memberi pesan apa-apa. Rasa bersalah menjalar di hatinya. Terlebih pulang dari luar negri ingin bertemu kekasihnya ivana. Ivana dikatakan telah tiada, karena kecelakaan dan jantungnya di donor kan kepada adiknya yang berpenyakit jantung.

Kay yang frustasi tidak mencari tahu detail semuanya, hingga saat itu juga dalam keadaan marah dan tertekan, dia langsung menikahi adik ivana bernama freya. Setelah menikahi freya, kay tidak pernah menyentuhnya dan menganggapnya ada. Hanya bertemu di ruang makan tanpa bicara dan sapa. Hidup freya bagaikan di penjara meminta cerai pun tidak di berikan.

Kehidupan freya sang figuran tambah tragis, setelah tujuh bulan menikah, ternyata ivana di kabarkan masih hidup, dan yang mendonorkan jantung untuk freya bukanlah ivana. Kay langsung menikahi kekasih nya ivana saat itu juga. Dan pada saat itu juga penderita freya bertambah dengan kay menikahi kakaknya freya ivana. Freya tambah tidak di anggap ada, karena di mata kay ivana segala-galanya. Hingga akhirnya freya tewas karena kesedihannya.

Freya menatap pantulan dirinya di cermin. "Aku akan membalas sakit hatimu freya, tehadap keluarga angkat mu. Begitu juga dengan ivana dan kay leroy. Aku tahu kamu di dorong ivana hingga terjatuh. Setelah itu aku akan menggugat cerai, pasti dapat uang banyak. Jika tidak, besok malam ada balapan. Aku akan ikut." Gumamnya kecil penuh rencana.

Di dalam kamar freya, seorang pria tampan masuk dengan wajah dingin dan aura dinginnya.

"Dimana nyonya mu?" Tanya seorang pria dengan nada dingin.

Freya mendengar suara seorang pria, dia tidak langsung keluar, dia bersandar di pintu belakang ruang Walk In Closet. Dia menguping. Ingin mendengar apa yang akan diucapkan pria itu.

"Nyonya ada di dalam kamar Walk In Closet tuan muda." jawab bella bergetar.

Pria itu menatap tajam bella. "Suruh dia keluar, aku ingin mengetahui keadaannya." Jawabnya dengan nada dingin.

Click...

Freya keluar dari dalam ruang Walk In Closet. "Untuk apa anda ingin melihat keadaan ku?" Tanyanya dengan nada dingin.

Deg..

Pria tampan yang dingin itu diam membeku, terkejut dengan istri pertamanya yang terlihat cantik dan menggemaskan. Selama ini dia sudah menduganya. Istri pertamanya menyimpan rahasia.

"Ternyata ini, si kay yang mencintai pulu-pulu. Sangat tampan, dan terlihat dingin, kejam dan pintar. Tetapi sayangnya kepintarannya turun ke atas lutut, setelah menjadi kekasih dan suami ivana si pulu-pulu."Batinnya berbisik sinis.

"Hmmm, ternyata sudah kuduga, ini wajah asli mu freya." Ucapnya dengan nada dingin.

"Ya, ini wajah asli ku, kenapa? Masalah buat situ, tidak kan? jadi, lebih baik anda keluar dari sini." Ucapnya dengan nada santai mengusir suaminya.

Bella menganga, mendengar ucapan nyonya mudanya yang berani mentang tuan mudanya.

Rahang kay mengeras mendengar ucapan istri pertamanya. "Jaga mulut mu freya, kamu istriku." Ucapnya dengan nada dingin.

"Hmmm, hanya istri di atas surat nikah, bukan istri asli kamu, istri asli kamu ivana yang selalu kamu manja. Jadi, persiapkan perceraian kita." Jawabnya dengan nada menantang.

Deg..

Kay tersenyum menyeringai. "Menceraikan kamu, jangan harap istriku." Jawabnya dengan seringai mematikan.

"Hmmm, oke. Jika kamu tidak ingin menceraikan ku. Maka, aku yang akan menuntut perceraian kita." Ucapnya dengan nada menantang. "Kamu tuh aneh, untuk apa mempertahankan ku, sedang kamu sudah memiliki istri sempurna bukan, jadi. Jangan mempersulit, bisa kan?" Tanyanya dengan tatapan menantang.

Pertemuan Freya Dan Ivana

Langit semakin malam, warna biru dongker yang luas perlahan bertransformasi menjadi jelaga hitam yang pekat. Seolah tinta raksasa hitam tumpah. menenggelamkan riuh rendah dunia kedalam kesunyian yang absolut.

"Tuan kay leroy, lebih baik anda pergi dari sini. sudah malam, kamu mengganggu seorang pasien yang sedang sakit." Ucapnya dengan nada mengusir.

Ruangan kamar itu mendadak terasa sempit saat pandangan mereka beradu. Tak ada kata-kata, hanya hening, kay leroy mengunci tatapan freya dengan intensitas yang nyaris tak tertahankan. Ada damba yang mulai muncul di hatinya, bukan karena kecantikannya. Karena sifat menentang freya.

Sedangkan freya menatapnya dengan tatapan acuh. Freya menyilang-kan kedua tangannya di dada.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah nyaris tidak terdengar, sehalus sapuan malam di atas permadani. Dia muncul dari balik pintu dengan siluet yang anggun. Membawa binar hangat.

Click..

"Sayang." Panggilnya mengalun indah, begitu merdu.

Deg..

Tiba-tiba tatapannya tajam, bagaikan tatapan iblis ingin mengambil nyawa seseorang, menatap ke arah freya yang berubah cantik dan seksi. Kay bisa melihat perubahan istri keduanya.

Freya menatap tajam kembali. "Wow, tenyata di mansion ini tidak ada aturannya ya. Main masuk kamar orang tanpa izin." Ucapnya dengan nada dingin.

"Freya, kenapa kamu berdandan seperti ini?" Tanya dengan nada lembut.

Freya tidak menjawab. Hanya menatapnya tajam.

Dia mendekati freya. "Freya, aku tahu kamu berpenampilan seperti ini karena kamu menyukai suami ku kak kay. Aku juga tahu kamu jatuh dari tangga karena kepikiran cintamu tidak terbalas." Ucapnya dengan nada lembut tetapi menyindir.

Freya langsung tertawa terbahak-bahak. "Hahaha, wow. Kata siapa aku menyukainya." Ucapnya dengan tawa. "CK.. Ivana, bagaimana jika aku bilang yang membuat ku jatuh itu kamu." Ucapnya dengan mata penuh kejujuran.

Deg..

Kay, bella dan ivana terkejut. Kay hanya diam, karena di mata indah freya terlihat tidak ada kebohongan.

Ivana mulai meneteskan air mata-nya. Freya menghela napas malas. "Bella, siapkan baskom, akan ada drama air mata. Oh mungkin gayung saja. Karena kan ada super hero yang akan membelanya, walaupun wanita itu salah." Ucapnya dengan nada dingin.

"Freya, kenapa kamu seperti ini? kakak tau kamu marah sama kakak, karena kakak kay tidak mencintai kamu dan lebih memilih kakak." Ucapnya dengan nada sedih dan air matanya yang mendera.

Kay menatap intens. "Freya, sudah cukup." Ucapnya dengan bariton tegas.

Freya tersenyum sinis. "Hmmm, seperti inilah seorang pangeran menolong putrinya. Tuan kay, kenapa mengatakan cukup. Mau menutupi perbuatannya?" Tanyanya dengan nada santainya.

Deg..

Kay menatap ivana, ivana menggeleng kepalanya bagaikan wanita imut.

"Bella, lihatlah gelengan nya, bagaikan wanita imut. Tetapi jika tahu aslinya akan terlihat amit-amit, mual dan pria yang tidak menyadarinya itu namanya bodoh." Ucapnya menyindir.

"Freya, sekarang kamu benar-benar menjadi istri yang pembangkang hmmm, melawan suami." Ucap kay dengan mata tajamnya.

Freya tersenyum kecil. "Kenapa hari ini anda banyak sekali menyebut nama ku dengan sebutan istri tuan muda kay, oh iya. Pembangkang wajar dong. Karena situ tidak pernah perduli dengan istri pertama, hanya istri kedua." Jawabnya dengan nada dingin.

"Freya, kamu tidak boleh seperti itu, kak kay itu suami kita. Jangan jadi pembangkang kamu." Sambungnya dengan nada lembut sambil terisak.

Freya tersenyum sinis. "Ai, aku masih pembangkang bukan istri yang mengangkang di hadapan pria lain. Tuan kay, sekarang pergilah keluar, bawa istri mu yang baik hati, lemah lembut." Jawabnya santai.

"Freya, berani kamu usir kami?" Tanya ivana kesal.

Kay hanya diam, dia ingin tahu kebenaran apa yang ditutupi, karena dia merasa ada keganjilan dalam diri ivana kekasihnya.

"Tentu aku harus berani, karena untuk melindungi nyawaku. Di tangga aku sudah di bunuh, jadi, aku waspada." Jawabnya di pinggiran kasur.

Kay, menatap lekat freya. "Apa kamu memiliki bukti?" Tanyanya dengan nada dingin.

Deg..

Freya tersenyum tipis. "Untuk sekarang tidak, tetapi besok, aku membuktikannya. Jika ucapan ku benar. Aku ingin kamu menceraikan ku, dan berikan aku uang lima ratus juta." Jawabnya dengan santainya.

Kay terkejut dengan ucapan istrinya yang tiba-tiba berubah, dan terkesan lebih pintar dan cantik.

Ivana mendekati kay, memegang lengannya. "Sayang, jangan percaya dengan freya, aku tidak pernah berbohong. Jika kamu mau bukti, kamu cek saja Cctv." Ucapnya dengan nada manja.

Kay menatap lekat freya ."Bagaimana freya? ivana tidak takut." Jawabnya dengan nada dingin.

Freya memijit pelipisnya. "CK.. Tuan muda kay, kamu itu mafia kan? Seharusnya lihat detail permasalahan, jangan lihat dari ucapan lembut lalu luluh, terlebih di gesek tubuh langsung merem-melek. Padahal yang menggesek sudah jebol." Jawabnya dengan santai.

Deg..

Bella dari tadi menatap kagum freya, namun kali ini dia menahan tawanya.

"Kalau kamu setuju aku akan membuktikan kesalahan istri tersayang mu. Tetapi tidak sekarang, besok setelah sarapan. Sekarang aku ingin istirahat, kedatangan kalian membuat aku lelah." Jawabnya dengan santai.

Kay mendekati freya, lalu menariknya dalam dekapannya. Freya masih tetap santai. "Aku tidak akan pernah menceraikan kamu, istriku." Bisiknya dingin, kay mencium aroma tubuh freya, yang berbau permen karet. Menenangkan dan membuat kay mininya on. "Sialan, si kay mini kenapa bisa bangkit." Batinnya berbisik kesal.

"Tuan muda kay kinsey, jika kamu tidak ingin menceraikan aku, maka aku punya beribu cara, untuk tetap cerai darimu." ucapnya dengan nada tenang. "Kenapa? menyesal? Tuan kay dengarkan baik-baik. Rasa wanita yang sudah jebol enak tidak?" Ucapnya berbisik di telinga kay. Membuat hasrat kay tambah bangkit namun ucapannya membuat dirinya terkejut.

Deg..

Freya sengaja menggoda kay. Agar si pulu-pulu kebakaran jenggot. Dan benar, si ivana mengepalkan tangannya. Freya memeluk balik kay, dengan tangannya bermain di belakang kay. Kay diam membisu berusaha menahan hasratnya yang liar.

Ivana langsung mendekati dan menarik kay. "Sayang, aku bisa membuktikan aku tidak bersalah besok, sekarang kita pergi. Aku lelah." Ucapnya dengan nada lembut.

"Kamu istirahat lah, aku banyak pekerjaan." Ucap kay langsung pergi keluar duluan, meninggalkan ivana.

Ivana menatap tajam freya. "Freya, ini belum berakhir, aku akan membalas mu." Jawabnya dengan mata berkilat tajam.

Freya tersenyum tipis. "Aku tunggu kakakku, ivana." Jawabnya dengan nada santainya. Ivana langsung pergi.

Bela mendekati Freya. "Nyonya muda, anda hebat. Biasanya anda selalu kalah jika berdebat seperti ini, hanya menunduk. Padahal bukan perbuatan anda." Ucap bella tersenyum manis.

Freya menatap bella dengan senyuman hangat. "Bella, jangan panggil aku nyonya muda, panggil aku freya. Aku tahu selama ini kamu selalu menolongku. Jadi, panggil aku freya. Aku sudah menganggap kamu saudaraku." Ucapnya dengan nada lembut.

Deg..

"Terimakasih banyak freya, aku juga sudah menganggap mu saudara. " Jawab bella tersenyum bahagia memeluk freya.

"Bella, kamu pergilah istirahat, sudah malam." Ucapnya dengan nada lembut.

Bella mengangguk kepalanya. Sebelum pergi bella menatap freya. "Freya, kemana pun kamu pergi aku ikut ya, Bawa aku." ucapnya dengan mata penuh mohon.

Freya tersenyum tipis. Karena bella lebih muda darinya. "Iya, aku pasti akan membawamu kemanapun aku pergi, karena kamu saudaraku. besok, aku akan mengajakmu jalan-jalan. Kita belanja." jawabnya dengan nada santainya.

Mata bella mem belalak. "Uang dari mana? Semua kartu kamu di pegang nyonya ivana?" Tanyanya dengan nada bingung.

"Mintalah bella, sama suamiku yang kaya raya, enak saja, dia tidak mau nafkahi aku, aku akan meminta uang sampai dia menceritakan aku. Besok aku akan ambil kartu-kartu ku dari ivana." Jawabnya dengan mata penuh rencana.

Sedangkan kay pergi ke markasnya.

"Tua muda kay, sudah lama anda tidak datang ke markas. Karena selalu memanjakan istri kedua mu." Jawab salah satu sahabatnya.

"Deon, aku ingin kamu menyelidik ivana dan juga aku ingin informasi ivana dan freya." Perintahnya dengan nada dingin.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!