Altar pernikahan ini terasa sunyi bagi dia yang berjalan di atas karpet merah yang di gelar untuk mempelai pengantin. Gaun yang dia kenakan, sama sekali tidak membuatnya merasa bahagia. Sudut mata sudah menggenang air yang siap meluncur. Buket kecil di tangan juga tidak bisa memberikan sedikit saja kebahagiaan untuknya.
Pria yang berdiri di ujung sana, terlihat gagah dengan jas yang membalut tubuh tegapnya. Namun, tatapan matanya begitu dingin, tajam dan penuh kebencian.
Jika saja, kecelakaan itu tidak terjadi, dia ... Raina, tidak akan berada disini. Seharusnya hanya sebagai penggiring pengantin, namun takdir seolah mendorongnya untuk berdiri disini, sebagai mempelai wanita.
"Baiklah, calon pengantin kita Rainama Sahila, sudah berada disini. Dua insan yang akan segera mengucapkan ikrar janji pernikahan. Mari tepuk tangan semuanya untuk hari bahagia ini"
Suara pembawa acara memecah lamunan darinya, menatap pria yang sekarang berdiri tepat di depannya. Raina takut ... Raina ingin lari ... tapi, dia bingung harus pergi kemana? Semuanya karena kesalahan dia, kelalaian dia, semua ini terjadi.
Ketika ikrar janji suci pernikahan terucap, menggema di seluruh ruangan. Air mata Raina menetes tanpa bisa di tahan. Bukan ... bukan bentuk air mata kebahagiaan. Tapi, ini adalah air mata dimana hidup barunya akan dimulai.
"Selamat datang dalam Penjara Pernikahanku, Raina"
Bisikan halus itu, penuh dengan penekanan, membuat Raina semakin takut akan pernikahan yang dia jalani. Seperti apa pernikahan ini? Akankah sama dengan sebuah pernikahan yang dia bayangkan?
*
Brak... Suara benturan keras dari sebuah tabrakan diantara mobil pribadi dan sebuah truk besar. Truk menghantam bagian samping mobil dan menyeretnya hingga beberapa kilometer.
Seperti sebuah mimpi, Raina mencoba untuk menyadarkan dirinya sendiri. Darah segar mengalir di wajahnya, dia melirik ke arah kakaknya yang terjepit bagian mobil yang penyok. Beberapa serpirhan kaca menusuk bagian wajah. Bergerak sedikit pun Raina merasa tubuhnya begitu sakit. Kakinya juga terjepit.
"Kak.. bangun Kak" irihnya hampir teredam dengan teriakan orang-orang yang akhirnya menghampiri mobil mereka. "Kak, bangun"
Lirikan mata lemah dari seseorang yang tubuhnya terjepit. Amira, dia melirik adiknya yang juga penuh darah.
"Rain, ji-ka a-aku ti-ti-dak bisa bertahan, to-long gantikan aku di a-ca-ra per-nikahan-ku dengan Marvin"
Raina menggeleng, air mata sudah mengalir membawa darah di pipinya. "Tidak Kak, aku tidak mau. Kak Amira harus selamat, Ayah dan Mama akan semakin membenci aku jika Kak Amira tidak selamat. Tolong Kak ... hiks.. bertahan ya"
Amira bersusah payah melepaskan cincin pertunangan dirinya dan Marvin, lalu menyodorkan pada Raina. "Pa-kai ini, a-ku tidak mau ma-ti dengan masih me-ma-kai cincin dari Mar-vin. Kamu harus men-ja-ga cin-cin ini, dengan baik"
Raina tetap menggeleng, tangisannya semakin pecah. Selain rasa sakit di sekujur tubuhnya, rasa takut lebih besar dia rasakan saat ini.
"Kak, aku tidak bisa menerima cincin ini. Kak Amira, cincin ini milik Kakak, bukan aku"
"Pakailah Rain, ka-mu tidak mau membuat aku marah 'kan?"
Dengan terus terisak, Raina akhirnya mengambil cincin itu dan memakainya di jari manis tangan kirinya. Dan Amira hanya tersenyum sebelum matanya terpejam dan hembusan napas yang berat dan perlahan hilang.
"Kak .... Kak Amira! Kakak!"
Teriakan itu terhenti saat kepalanya begitu sakit, dan Raina pun tidak sadarkan diri. Hanya terdengar orang-orang yang sedang mencoba membantunya keluar dari mobil.
Ketika sadar, Raina sudah berada di rumah sakit. Kakinya terpasang gifs dan tidak bisa di gerakan, tangannya, dahi dan pipinya penuh dengan perban karena luka.
"Kak Amira" lirihnya, dia teringat jelas apa yang terjadi terakhir kali sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri.
"Akhirnya kau sadar juga anak pembawa sial!"
Suara yang tidak asing itu membuat Raina menoleh, itu adalah Mama, istri pertama dari Ayah. Sementara Raina? Dia hanya seorang anak dari perempuan yang tidak sengaja Ayah hamili. Tidak ada status pernikahan atau apapun, Ibunya pergi entah kemana setelah menyerahkan Raina pada keluarga ini. Seperti membuangnya begitu saja.
"Ma-mama, dimana Kak Amira?"
Tatapan Mama begitu penuh kebencian dan amarah, dia mencengkram dagu Raina yang masih terasa begitu sakit. "Kau tanya dimana Amira? Heh, anak sialan, kau yang sudah membunuh Amira! Kenapa kamu yang selamat! Kamu yang harusnya mati! Sejak awal, kamu hanya pembawa sial untuk keluargaku! Kenapa kamu tidak mati saja! Kenapa harus Amira? Kenapa harus anakku, Amira.. Hiks..."
Raina hanya diam dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya. Tidak bisa mengatakan apa-apa ketika tahu jika Amira telah tiada. Raina benar-benar hancur, karena di keluarga ini hanya Amira yang sayang dan peduli panya. Amira selalu berkata jika Raina adalah adik kesayangannya, apapun yang terjadi pada kenyataannya, Amira tetap menerima Raina dengan lapang.
"Maafkan aku, Ma... Hiks.. Maaf"
Mama mencekik leher Raina dengan membabi buta. Tatapannya menyala penuh amarah. "Maafmu tidak akan mengembalikan Amira! Maafmu hanya sia-sia!"
"Ma-maaf"
Wajah Raina sudah memerah hampir kehabisan napas. Mama terus mencekik lehernya dengan kuat, membuat Raina semakin sesak dan sulit bernapas.
"Nyonya, apa yang anda lakukan!"
Seseorang menarik paksa tangan Mama yang mencekik Raina. Setelah itu Mama terjatuh dan menangis sejadi-jadinya. Kehilangan anak satu-satunya yang dia lahirkan, adalah sebuah hal yang paling menyakitkan baginya.
"Nyonya, aku tahu bagaimana perasaanmu. Tapi, ini sudah menjadi kehendak Tuhan" ucap Sonia, Ibu dari Marvin. Dia memeluk Mama dan mencoba untuk mengerti perasaannya. "Amira juga tidak akan tenang jika melihat Ibunya seperti ini. Tolong tetap kendalikan diri"
Setelah Mama mencoba untuk tenang, Sonia membantunya berdiri dan memberinya minum. "Sebenarnya saya datang kesini untuk melihat keadaan Raina, dan ada satu hal yang perlu saya bicarakan"
Sonia menatap lekat pada Raina yang masih mengatur napasnya sendiri setelah hampir kehilangan napas karena Mama.
"Raina, jadilah pengantin pengganti untuk Marvin. Karena pernikahan ini tidak bisa di batalkan"
Seperti sebuah bom yang meledak tepat di depannya. Raina hampir tidak bisa berkata-kata. "Ti-tidak Nyonya, saya tidak pantas jika harus menggantikan Kak Amira"
"Ya, saya juga tidak akan setuju jika anak sialan ini menggantikan anakku!" tekan Mama.
Sonia menghela napas pelan, dia meraih tangan Raina yang terpasang infus. Melihat cincin pertunangan yang terpasang di jari manisnya.
"Lihatlah, Amira bahkan memberikan cincin pertunangannya pada Raina, karena dia ingin Raina yang menggantikannya. Dan keluarga kami tidak menerima pembatalan pernikahan yang hanya menunggu dua minggu lagi. Jadi, sudah dengan keputusan kami jika Raina akan menjadi pengantin wanita untuk Marvin. Setuju atau tidak, ini sudah menjadi keputusan yang tidak akan bisa di ubah!"
*
Epilog..
"Cih, bahkan kau mengambil cincin pertunanganku dan Amira, hanya karena ingin merebut apa yang Amira punya! Dasar wanita tidak tahu diri!"
Raina hanya terdiam, menatap kepergian pria yang datang hanya untuk mengeluarkan kalimat menyakitkan itu baginya.
"Kak Amira, aku tidak akan sanggup menggantikanmu.. Hiks.."
Bersambung
Yuhuu... Akhirnya aku milih kisah Marvin duluan rilis. Karena apa? Karena aku belum siap lihat si Bayu tobat.. wkwk..
Rumah ini seperti akan menjadi penjara baru bagi Raina. Mengikuti langkah pria yang sekarang menjadi suaminya, berjalan dengan sedikit kesulitan karena gaun pengantin yang belum di lepas. Marvin tidak membiarkannya berganti pakaian dulu, dan Mama sudah menyiapkan semua barang-barangnya di dalam koper, seolah sudah ingin Raina pergi dari rumahnya.
"Sini kau!"
Tangan Raina di tarik kasar dan tubuhnya di hempaskan ke atas sofa di ruang tengah ini. Raina menatap penuh takut pada Marvin yang mendekat padanya.
"Kak Marvin mau apa?"
Plak.. Satu tamparan begitu keras mendarat tepat di pipinya hingga terasa panas dan memerah. Mata Raina sudah berkaca-kaca, bukan hanya rasa sakit di pipinya, tapi juga di hatinya.
Marvin mencengkram kuat dagu istrinya, menatapnya dengan penuh kebencian. "Selamat datang di Penjara Pernikahan ini, Raina! Akan aku buat kau tahu, bagaimana sebenarnya dunia pernikahan ini"
"Kak ... sakit"
"Sakit ya?" Marvin tersenyum meremehkan, wajahnya terlihat sangat mengerikan bagi Raina. "Ini tidak seberapa dengan rasa sakitku kehilangan wanitaku!"
Air mata Raina akhirnya lolos juga, melihat tatapan Marvin yang begitu tajam dan penuh kebencian. Raina bisa tahu jika memang Marvin akan membencinya atas apa yang sudah terjadi.
"Maaf" lirih Raina dengan terisak pelan.
Marvin hanya tersenyum sinis, cengkraman di dagu Raina semakin kuat, seolah ingin menghancurkan dagu gadis itu. "Kata maafmu sama sekali tidak berguna. Kau tidak akan bisa mengembalikan Amira. Ternyata benar kata Ibumu, jika kau hanya pembawa sial!"
Tes.. Air mata kembali mengalir, kata 'pembawa sial' sudah sering dia dengar dari keluarganya sendiri. Dan, sekarang dia harus mendengarnya juga dari pria yang menjadi suaminya. Seperti menjadi sebuah sebutan yang pantas untuk Raina.
"Akan aku tunjukan bagaimana malam pertama kita"
Marvin meraih rambut Raina dan menariknya kuat. Membuat Raina menjerit kesakitan saat Marvin menarik rambutnya dan membawanya ke sebuah kamar. Raina hanya terus mencoba melepaskan cengkraman tangan Marvin di rambutnya, tubuhnya benar-benar terseret di atas lantai.
"Sakit Kak.. Sakit... Hiks"
Marvin menariknya paksa untuk berdiri, Raina masih menangis dengan wajah memerah karena rasa sakit di kepalanya. Tangan Marvin masih belum melepaskan cengkramannya di rambut Raina.
Marvin tersenyum miring, benar-benar begitu menakutkan. "Akan aku perlihatkan bagaimana pernikahan ini"
Marvin membanting tubuh Raina ke atas ranjang, lalu dia membuka jas dan kemejanya dengan kasar. Menatap Raina dengan senyum licik.
"Kau ingin jadi istriku 'kan? Bahkan rela merebut cincin milik Amira" Marvin mengukung tubuh Raina, tatapan matanya benar-benar menakutkan. "Dan sekarang aku akan menjadikanmu istriku yang sesungguhnya. Selamat datang di penjara pernikahanku, Raina"
Ketika tangan Marvin menelusuri setiap inchi wajah Raina, dia hanya bisa memejamkan mata dengan penuh rasa takut. Tubuhnya sudah bergetar sebelum Marvin benar-benar melakukannya.
"Kak, tolong jangan ... hiks.. aku minta maaf atas semuanya, jika soal cincin ini, aku akan lepaskan dan berikan pada Kak Marvin.. hiks.. Tolong Kak, jangan lakukan itu"
Marvin tersenyum miring, sama sekali tidak menghiraukan tangisan Raina yang terdengar begitu memilukan. Marvin merobek gaun yang di pakai Raina, melepaskannya dan melemparnya begitu saja.
Tidak ada aba-aba, Marvin langsung melakukannya dengan kasar. Membuat Raina menjerit kesakitan. Ini adalah yang pertama baginya, dan Marvin melakukanya dengan begitu kasar, tentu itu sangat menyakitinya.
"Kak.. sakit... hiks... tolong hentikan" lirihnya yang sama sekali tidak di dengar oleh pria yang sedang menggagahinya saat ini. "Sakit... tolong hentikan... Kak, sakit"
Marvin sama sekali tidak menghiraukan lirih suara Raina yang memilukan itu. Dia terus berlaku kasar padanya. Membalik tubuh Raina dengan kasar, dan mengambil ikat pinggang dan memukul punggung Riana dengan kasar. Bekas memerah dan luka dari cambukan itu membuat Marvin tertawa puas.
"Sakit... Hiks.. Kak sakit.."
"Sakit ya" Bugh... Bugh.. Marvin terus memukul punggung Raina dengan ikat pinggang. "Ini baru permulaan Sayang, kau akan lebih merasakan lebih dari ini"
Darah yang menetes di seprei putih itu sama sekali tidak membuat Marvin sedikit saja iba. Dia malah semakin menjadi dan merasa bahagia melihat penderitaan wanita yang menjadi istrinya ini.
"Aaa... Kak sakit"
Teriakan terakhir sebelum Raina akhirnya tidak sadarkan diri. Tubuhnya jatuh lemas ke atas tempat tidur, membuat Marvin tersenyum sinis melihatnya.
"Kau yang menghancurkan kebahagiaanku dan Amira, sekarang kau yang harus menerima semua kesakitan itu"
*
Marvin keluar kamar dengan hanya memakai celana panjangnya saja. Bagian tubuhnya di biarkan polos begitu saja.
"Jika dia bangun, berikan makan. Jangan sampai dia mati kelaparan dan obati lukanya"
Perintahnya pada seorang pelayan perempuan, sebelum dia berlalu pergi.
"Baik Tuan"
Pintu kamar terbuka, pelayan itu sudah melihat apa yang terjadi. Saat Marvin menarik rambut Raina dan menyeretnya ke dalam kamar. Namun, dia juga tidak berani membantu atau melakukan apapun.
Ketika masuk ke dalam kamar, situasi kamar yang begitu berantakan, gaun pengantin dan jas juga kemeja milik Marvin berserak di lantai. Yang lebih mengenaskan, adalah seorang gadis yang tidur terngkurap dengan punggung penuh luka cambukan. Seprei dan selimut putih itu penuh darah.
"Ya Tuhan, malang sekali nasibnya"
Dia segera pergi ke kamar mandi, mengambil air hangat dan handuk. Membersihkan luka di punggung Raina dengan perlahan.
"Sshhtt"
"Nona, Nona sudah sadar"
Raina tersadar karena rasa perih di punggungnya. Seluruh tubuhnya terasa hancur. "Ka-kamu siapa?"
"Saya Mbak Eni, pelayan disini yang di minta Tuan Marvin untuk membantu Nona bersih-bersih. Nona diam saja, biar saya mengobati luka-lukanya ya"
Raina mengangguk kecil, dia kembali menjatuhkan kepalanya di atas bantal. Rasa perih di seluruh punggungnya, membuat dia meneteskan air mata mengingat tentang apa yang terjadi beberapa saat lalu.
Aku benar-benar masuk dalam penjara pernikahan Kak Marvin.
Raina terisak, bukan hanya karena rasa sakit di punggungnya dan seluruh tubuhnya. Tapi rasa sakit dan perih di hatinya lebih besar.
Dia memperlakukan aku bagaikan seorang hewan tak berguna. Dan aku akan menjalani kehidupan pernikahan ini bersamanya.
"Nona yang kuat ya, saya juga tidak menyangka jika Tuan Marvin akan sekejam ini"
Tatapan mata Raina begitu kosong, merasakan Mbak Eni yang mengoleskan obat di setiap luka.
"Semuanya juga karena kesalahanku, sejak awal kehadiranku di dunia ini sudah salah, Mbak. Jadi, biarkan saja Kak Marvin menyiksaku sampai puas, atau mungkin sampai Tuhan mengambil nyawaku"
"Hiks... Nona, pasti kuat melewatinya" Mbak Eni sampai tidak bisa menahan tangis melihat keadaan Raina.
Bersambung
Langsung Dibaca ya, awas pada nunggu bab banyak dulu.. Hargailah gue nulis sampe kleyengan nih..
"Bersihkan sepatuku, akan aku pakai sekarang"
Sepasang sepatu yang terlempar tepat ke depannya. Dengan tubuh yang terasa remuk redam, namun Raina harus tetap melaksanakan perintah dari Marvin. Dia perlahan mengambil sepasang sepatu dan alat semir.
"Cepat, kau dengar aku akan memakainya sekarang! Atau kau tuli, Hah!"
Raina mengangguk pelan, dia turun dari tempat tidur dengan berjalan perlahan. Rasa sakit masih terasa di sekujur tubuhnya, sampai tidak kuat jika harus berjalan terlalu cepat.
"Siapa suruh duduk disini? Di bawah!"
Raina yang baru saja duduk di sofa samping Marvin, langsung kembali turun dan duduk di atas lantai. Melakukan perintah dari Marvin barusan. Air mata perlahan menetes mengenai sepatu di tangannya.
"Pakaikan" ucap Marvin yang menyodorkan kakinya tepat di depan wajah Raina.
Tidak banyak menjawab, Raina hanya menuruti perintah dari Marvin. Dia takut dengan kemarahan pria ini, karena semalam saja Raina terasa hampir mati jika saja Tuhan tidak memberinya kekuatan lebih besar.
"Nanti malam bersiaplah, aku akan membawamu pergi ke acara Pesta temanku"
Raina mendongak dan menatap Marvin dengan bingung. "Aku ikut?"
"Tentu, kau istriku sekarang" ucap Marvin dengan senyuman.
Raina ikut tersenyum atas ucapan Marvin barusan. Namun Raina seperti lupa apa yang membuat pernikahan ini terjadi, dia salah mengartikan akan senyuman yang diberikan oleh Marvin.
"Baik, aku akan bersiap"
Marvin tidak menjawab, dia berdiri dari duduknya dan pergi keluar dari kamar. Wajah dingin dan datarnya selalu menjadi sosok yang di lihat semua orang. Apalagi setelah kepergian Amira, yang seharusnya menjadi istrinya sekarang. Tapi, Marvin malah harus menikahi Raina.
Raina berdiri dengan susah payah, berpegangan pada meja. Punggung dan kakinya terasa sakit, perih di punggungnya masih belum hilang. Bekas-bekas luka itu cukup membuatnya terasa tidak nyaman.
"Nona, ayo makan dulu. Saya sudah siapkan makanan untuk Nona"
Raina tersenyum pada Mbak Eni yang berdiri di ambang pintu kamar yang memang tidak di tutup lagi oleh Marvin setelah keluar.
"Iya Mbak"
Mbak Eni membantu memapah tubuh Raina untuk berjalan ke dapur. Melihat keadaannya benar-benar sangat mengkhawatirkan.
"Apa sebaiknya ke Rumah Sakit saja, Nona?"
"Tidak perlu, Mbak. Aku minta obat pereda nyeri saja. Oh ya Mbak, tadi Kak Marvin minta aku bersiap untuk pergi ke Pesta temannya. Mbak tahu dimana tempatnya? Dan aku harus memakai baju seperti apa?"
Mbak Eni menggeleng pelan, dia menatap Raina dengan bingung. "Saya tidak tahu, Nona. Atau mungkin Tuan Marvin akan menyiapkan pakaian untuk Nona"
Raina tersenyum tipis mendengar itu, membayangkan jika itu adalah benar. Tapi seharusnya dia tidak berharap lebih.
Dan sore hari dia menerima paket yang di kirim untuk dirinya atas nama Marvin. Raina tersenyum karena membayangkan jika Marvin akan benar menyiapkan baju untuknya juga. Tapi, ketika membuka kotak itu, bukan sebuah baju gaun pesta yang di bayangkan. Tapi, baju pelayan.
Ponselnya tiba-tiba berdering, Raina yang masih menatap baju pelayan itu langsung meraih ponselnya. Menerima telepon dari suaminya itu.
"Pakai baju itu untuk acara nanti malam. Kau harus bekerja dengan baik di depan teman-temanku nanti"
Deg... Air mata mengalir begitu saja, ternyata niat Marvin mengajaknya pergi ke Pesta temannya hanya untuk mempermalukan diri Raina.
"Aku tidak sabar melihatmu memakai baju pelayan itu, kau memang pantas memakainya"
Raina tidak menjawab apapun, dia langsung memutuskan sambungan telepon. Menatap kembali baju dan sepatu lengkap dengan penutup kepala. Benar-benar pakaian pelayan yang lengkap.
"Baiklah, aku akan ikuti cara bermain kamu Kak. Biarkan kamu puas dengan semua yang kamu lakukan padaku"
*
Seperti sebuah lelucon yang dia ciptakan sendiri, tapi Marvin juga tidak menyangka jika Raina akan memakai baju itu dengan senyuman yang lebar padanya.
Baju pelayan berwarna hitam dengan sebuah apron kecil di bagian depannya berwarna putih, lalu penutup kepala berwarna putih juga, dan sebuah stoking hitam di kakinya. Baju pelayan itu hanya sampai di pertengahan pahanya, menunjukan sedikit kontras warna putih kulitnya di balik stoking hitam yang dia pakai.
"Ayo kita berangkat Kak"
Marvin berdehem pelan, memalingkan wajahnya yang kesal karena melihat Raina yang malah terlihat percaya diri dengan pakaian itu. Padahal dia sengaja memberikan pakaian pelayan itu agar dia merasa malu. Tapi, melihat senyumnya yang lebar, membuat Marvin merasa tidak suka.
Sampai di tempat acara, sebuah rumah yang menjadi tempat pesta malam ini. Semua orang berkumpul di halaman belakang dekat kolam renang. Pesta kali ini sepertinya memang sengaja di adakan diluar ruangan.
"Waw... Siapa yang kau bawa ini, Vin?" tanya Bayu, tatapannya sudah menunjukan jika dia tertarik pada Raina dalam hal merendahkan.
"Apa kau lupa? Dia yang menjadi istri pengganti di Pernikahan Marvin, pengganti Amira 'kan?" ucap Davin.
Marvin menanggapi dua temannya ini dengan wajah dingin dan tatapan yang tajam. "Sampai kapan pun dia tidak akan pernah menjadi pengganti Amira. Dia hanya pembawa sial dan yang menghancurkan segala rencana yang aku siapkan bersama Amira"
Raina menatap pria di sampingnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Matanya menunjukan kesedihan, namun dia tetap mencoba tersenyum dan terlihat baik-baik saja di tengah hatinya yang terkoyak begitu hancur.
"Kenapa kau diam saja disini? Cepat layani mereka, aku membawamu kesini untuk menjadikanmu pelayan di acara ini"
Meski senyumannya terlihat sangat di paksakan, tapi Raina tetap menurut saja. Dia sudah bersiap untuk mengikuti cara bermain Marvin malam ini. Berawal dari baju pelayan dan sekarang dia yang harus melayani teman-temannya yang berpesta ini.
Membawa beberapa minuman di atas nampan, Raina melangkah penuh percaya diri pada kumpulan pria yang duduk di sofa. Raina menyodorkan nampan pada mereka satu-persatu untuk mengambil minuman yang dia sodorkan.
"Davin, kau masih saja di awasi oleh pengasuh barumu itu? Haha.." ucap Bayu melihat seorang perempuan yang tetap berdiri tidak jauh dari Davin berada. Wajahnya begitu serius, dan dia benar-benar profesional dengan pekerjaannya.
"Sial, Papaku yang memintanya mengawasiku. Dan dia benar-benar menurut pada Papa, tidak bisa sedikit saja melanggar peraturannya"
"Haha.. Akhirnya seorang Davin terkekang juga oleh seorang pengasuh cantik"
"Diam kau Bay! Dia bukan pengasuh, kau pikir aku bayi yang perlu pakai pengasuh. Dia hanya Asisten pribadiku"
"Asisten pribadi yang mengekangmu dalam hal apapun. Apa bedanya dengan pengasuh yang melarang anak asuhnya makan banyak eskrim. Haha"
Semua orang menertawakan nasib seorang Davin Alveric, yang seorang pria cassanova yang bisa berganti beberapa wanita pemuas dalam satu malam, tapi sekarang kebebasannya mulai terkekang karena seorang perempuan yang di tugaskan Ayahnya untuk mengawasinya.
"Marvin, apa kau tidak kasihan melihat istrimu menjadi pelayan di acara ini?" tanya Andreas, teman Marvin yang cukup bijaksana tapi belum beruntung dalam hal cinta. Tapi setidaknya Andreas tidak seperti Bayu dan Davin yang sukanya berganti pasangan hanya untuk pemuas gairah saja.
"Aku tidak pernah menganggapnya seorang istri. Dia hanya perempuan pembawa sial yang menghancurkan semuanya"
Seseorang yang berdiri tidak jauh dari sana dengan sebuah nampan kosong yang dipeluknya di dada, terdiam dengan air mata menetes begitu saja.
"Kak Amira, kenapa harus Kakak yang pergi. Kenapa bukan aku saja?"
Bersambung
Langsung baca! Awas aja pada nabung bab!
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!