Indonesia
NovelToon NovelToon

Mitsuki Di Dunia MHA (My Hero Academia)

Langit yang beda

Langit di atas sana tidaklah sama.

Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.

Hanya ada bau aspal basah dan asap kendaraan yang menyengat.

"Dimensi lain?" gumamnya pelan. Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi, sebuah kebiasaan yang bahkan perpindahan dimensi pun tak bisa menghapusnya.

Ia bangkit berdiri, membersihkan debu dari pakaian shinobi biru pucatnya. Ia berada di sebuah gang sempit yang diapit oleh dua gedung perkantoran. Mitsuki mencoba memanggil ular komunikasinya, namun hanya seekor ular kecil yang muncul dari balik lengan bajunya, tampak lemas dan bingung.

"Sstt... tidak apa-apa," bisiknya lembut, membelai kepala ular itu sebelum makhluk itu menghilang dalam kepulan asap kecil. "Energi di sini berbeda. Kita harus berhemat."

Mitsuki melangkah keluar dari gang. Detik itu juga, ia berhenti.

Pemandangan di depannya adalah sesuatu yang tidak pernah ia lihat di Konoha, bahkan di era teknologi pahlawan Nanadaime sekalipun. Orang-orang berlalu-lalang dengan penampilan yang... abnormal. Seorang pria berkepala anjing sedang berbicara di telepon genggam. Seorang wanita dengan kulit berwarna merah muda transparan sedang tertawa bersama temannya.

Apakah mereka semua subjek eksperimen seperti aku? pikir Mitsuki. Namun, ekspresi mereka terlalu biasa. Ini bukan laboratorium. Ini adalah keseharian mereka.

Ia terus berjalan, mencoba membaur dalam kerumunan. Keberadaannya yang membawa sebilah pedang pendek di punggung dan pakaian tradisional ninja menarik beberapa pasang mata, namun orang-orang hanya menganggapnya sebagai "anak yang terlalu mendalami hobi".

Langkah Mitsuki terhenti di depan sebuah layar elektronik raksasa yang menempel pada sebuah gedung. Di sana, seorang pria berotot luar biasa dengan senyum lebar yang terlihat dipaksakan sedang menghajar penjahat.

"JANGAN KHAWATIR! KENAPA? KARENA AKU SUDAH DATANG!" teriak pria di layar itu. Kerumunan di sekitar Mitsuki bersorak kecil.

"Pahlawan?" Mitsuki memiringkan kepalanya. "Seperti Hokage, tapi... lebih mencolok."

Mitsuki memutuskan untuk mengikuti instingnya. Ia melompat ke atas atap sebuah gedung—sebuah gerakan yang sangat alami baginya, namun mungkin akan terlihat mengejutkan bagi orang biasa. Dari ketinggian, ia mengamati kota ini.

Matanya yang tajam menangkap sebuah keributan di kejauhan. Ledakan kecil dan kepulan asap.

"Ada konflik," gumamnya. Sebagai seorang ninja, konflik adalah sumber informasi tercepat.

Ia bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata manusia, melompat dari satu langkan jendela ke langkan lainnya tanpa suara. Di bawah sana, ia melihat seorang remaja laki-laki berambut hijau berantakan yang sedang berjalan lesu sambil memandangi buku catatan yang hangus. Remaja itu tampak hancur, seolah dunianya baru saja runtuh.

Mitsuki berhenti di atas tiang listrik tepat di atas remaja itu. Ia merasakan sesuatu dari anak ini. Bukan kekuatan yang besar, tapi kekosongan yang sangat dalam.

"Namamu siapa?" tanya Mitsuki tiba-tiba.

Remaja berambut hijau itu, Izuku Midoriya, tersentak hingga hampir menjatuhkan bukunya. Ia mendongak dan melihat seorang remaja laki-laki berkulit pucat pasi dengan mata kuning yang menatapnya tanpa kedip, berjongkok di atas tiang listrik dengan keseimbangan yang mustahil.

"E-eh? Aku? Aku... Midoriya Izuku," jawabnya terbata-bata. "K-kamu siapa? Apa itu Quirk mutasi fisik? Kenapa kamu ada di atas sana?"

Mitsuki melompat turun, mendarat dengan seringan bulu di depan Izuku. Ia tidak menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya, ia menunjuk buku catatan Izuku.

"Kamu sedang menganalisis mereka, bukan? Orang-orang kuat yang mereka sebut pahlawan itu," ucap Mitsuki.

Izuku menunduk, meremas bukunya. "Iya... tapi itu tidak berguna jika kau tidak punya Quirk. Aku... aku hanya orang biasa yang bermimpi terlalu tinggi."

Mitsuki terdiam sejenak. Ia teringat pada dirinya sendiri di laboratorium Orochimaru, saat ia mencari tahu siapa dirinya sebenarnya. "Di tempat asalku, kekuatan bukan sesuatu yang kau miliki sejak lahir. Itu adalah sesuatu yang kau bentuk melalui penderitaan dan latihan."

Izuku menatap Mitsuki dengan bingung. "Tempat asalmu? Apa maksudmu?"

Sebelum Mitsuki bisa menjawab, sebuah ledakan besar bergema dari pusat perbelanjaan beberapa blok dari sana. Tanah bergetar. Teriakan ketakutan mulai terdengar.

"S-suara itu... Kacchan!" Izuku tiba-tiba berlari menuju sumber ledakan tanpa berpikir panjang.

Mitsuki hanya berdiri di sana, mengamati punggung Izuku yang menjauh. Ia merasakan getaran aneh di udara. Sesuatu yang cair, busuk, dan penuh niat membunuh.

"Matahari biasanya bersinar terang," bisik Mitsuki pada dirinya sendiri, mengingat kata-kata ayahnya tentang mencari 'Matahari'-nya sendiri. "Mari kita lihat, apakah anak itu hanyalah lilin kecil atau sesuatu yang lebih."

Mitsuki menghilang dalam sekejap, menyisakan hanya helai daun yang tertiup angin di trotoar yang sepi.

Langit yang beda bagian 2

Asap hitam membumbung tinggi di antara celah gedung. Bau sampah yang terbakar dan aroma menyengat dari sesuatu yang mirip bahan kimia memenuhi udara. Di pusat kerumunan, para pahlawan profesional tertahan oleh kobaran api yang memblokir jalan.

Mitsuki bertengger di tepi papan reklame, kakinya bergelantungan santai di udara. Matanya yang tajam mengamati sosok besar berbentuk lumpur hijau pekat yang tengah menggeliat di tengah jalan. Di dalam tubuh lumpur itu, seorang remaja berambut pirang Bakugo sedang meronta hebat. Ledakan-ledakan kecil keluar dari telapak tangannya, namun justru ledakan itu yang memicu api di sekitar mereka semakin besar.

"Menarik," bisik Mitsuki. "Dia mencoba melawan dari dalam, tapi justru memperburuk situasinya sendiri. Kurangnya ketenangan adalah kelemahan yang fatal."

Di bawah sana, para Pro-Hero berteriak memberikan instruksi. "Tunggu pahlawan dengan Quirk air!" "Apinya terlalu panas, aku tidak bisa mendekat!"

Mitsuki menyipitkan mata. Di dunianya, membiarkan target menderita sementara menunggu bantuan adalah hal yang tidak efisien. Namun, perhatiannya teralih saat melihat sosok berambut hijau yang tadi ia temui. Izuku Midoriya berdiri di barisan depan penonton, tubuhnya gemetar hebat, namun matanya tidak lepas dari sosok Bakugo yang tercekik.

Lalu, sesuatu yang tidak logis terjadi.

Izuku berlari. Ia menerobos garis polisi, kakinya yang gemetar dipaksa melangkah secepat mungkin menuju monster lumpur itu.

"Bodoh sekali," gumam Mitsuki, namun sudut bibirnya terangkat tipis. "Tapi... sangat berani."

Izuku melempar tas sekolahnya, mencoba melakukan apa saja untuk membebaskan temannya. Namun, monster lumpur itu tertawa remeh dan bersiap menghantam Izuku dengan tangan cairnya yang raksasa.

"Mati kau, bocah sialan!" seru monster itu.

Sret.

Dalam satu kedipan mata, sebelum tangan lumpur itu menyentuh Izuku, sebuah bayangan biru pucat melesat melewati kepala para penonton.

Mitsuki mendarat tepat di antara Izuku dan monster itu. Punggungnya menghadap Izuku, sementara tangannya sudah membentuk segel yang tidak dikenal oleh siapa pun di dunia itu.

"Siapa kau—?!" Monster lumpur itu berteriak, namun kalimatnya terputus.

"Fūton: Toppa (Elemen Angin: Terobosan)," ucap Mitsuki dengan suara yang sangat tenang, nyaris seperti sedang berbisik di perpustakaan.

Bukan sekadar angin biasa. Tekanan udara yang sangat padat terpancar dari mulut Mitsuki, menghantam inti monster lumpur itu dengan kekuatan yang presisi. Ledakan udara itu begitu kuat hingga api yang mengepung mereka seketika padam, dan tubuh cair monster itu terpental, tercerai-berai menjadi tetesan-tetesan kecil yang tak berdaya.

Bakugo terlepas, jatuh berlutut sambil terbatuk-batuk. Izuku membeku, menatap punggung Mitsuki dengan mulut ternganga.

Keheningan menyelimuti tempat kejadian. Para Pro-Hero terpaku. Mereka mengharapkan All Might atau bantuan besar, bukan seorang remaja asing dengan pakaian aneh yang mengalahkan penjahat hanya dengan satu hembusan napas.

Mitsuki menoleh sedikit ke arah Izuku, matanya kuning keemasannya berkilau di balik poni rambutnya. "Kau bergerak sebelum berpikir. Itu insting yang bagus, tapi tubuhmu tidak mendukung niatmu."

"K-kamu... yang tadi di tiang listrik?" Izuku terbata.

"Oi! Siapa kau, hah?!" Bakugo berdiri dengan sisa tenaga, wajahnya merah padam karena malu sekaligus marah. "Aku tidak butuh bantuan bocah sepertimu!"

Mitsuki tidak menanggapi amarah Bakugo. Ia justru menatap tangannya sendiri yang sedikit berasap karena sisa energi Chakra. Di dunia ini, Chakra terasa lebih tajam, lebih sulit dikendalikan karena tidak ada resonansi dari alam sekitarnya.

"Kau..." Seorang pahlawan besar, Death Arms, mendekat dengan wajah gusar. "Apa yang kau lakukan? Kau menggunakan Quirk tanpa izin! Dan teknik itu... kau bisa saja membunuh anak yang disandera itu kalau meleset sedikit saja!"

Mitsuki memiringkan kepalanya, ekspresinya polos namun dingin. "Meleset? Aku tidak pernah meleset dalam menyerang titik vital."

"Itu bukan poinnya!" Death Arms membentak. "Siapa namamu? Di mana lisensi pahlawanmu?"

Mitsuki terdiam. Lisensi? Di dunianya, seorang ninja diakui karena kemampuannya, bukan karena selembar kartu. Ia menyadari bahwa di dunia ini, kekuatan diatur oleh birokrasi yang ketat.

Sebelum situasi semakin memanas, seorang pria kurus dengan rambut pirang kusut yang berdiri di belakang kerumunan All Might dalam bentuk aslinya menatap Mitsuki dengan tajam. Ia melihat sesuatu yang berbeda pada anak itu. Bukan hanya kekuatannya, tapi ketenangan yang tidak alami bagi seorang remaja.

"Aku tidak punya hal seperti itu," jawab Mitsuki santai pada Death Arms.

Tiba-tiba, Mitsuki merasakan kehadiran yang sangat kuat mendekat. Ia menatap ke langit. Jauh di sana, ia bisa merasakan seseorang yang memancarkan energi yang luar biasa besar, meski tidak terasa seperti Chakra.

Ini adalah dunia yang merepotkan, pikir Mitsuki.

Ia melirik ke arah Izuku satu kali lagi. "Midoriya Izuku, kan? Sepertinya aku akan berada di sini untuk waktu yang cukup lama. Aku harap kau segera menemukan 'kekuatan' yang kau cari."

Tanpa menunggu balasan, Mitsuki melemparkan sebuah bom asap kecil ke tanah—sebuah trik ninja dasar. Puff! Asap putih pebal menutupi pandangan semua orang. Saat asap itu menghilang, Mitsuki sudah tidak ada di sana. Ia lenyap, bahkan para pahlawan profesional tidak bisa melacak ke arah mana ia pergi.

Di tengah kebingungan itu, Izuku hanya berdiri mematung, meremas dadanya yang masih berdegup kencang. Untuk pertama kalinya, ia melihat seseorang yang seumuran dengannya, namun memiliki aura yang begitu dominan dan bebas.

"Bukan Quirk..." bisik Izuku pada diri sendiri. "Gerakannya... itu bukan seperti pahlawan. Itu seperti... bayangan."

Di atas atap gedung yang cukup jauh, Mitsuki duduk sambil mengamati tangannya. Ular kecil keluar dari lengannya, berdesis pelan.

"Ayah... tempat ini sangat unik," ucap Mitsuki pada angin, seolah berharap Orochimaru bisa mendengarnya melintasi dimensi. "Mereka memiliki aturan untuk menjadi orang baik. Tapi mereka lupa, bahwa di dalam kegelapan, aturan hanyalah beban."

Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sulit diartikan. Di kejauhan, ia melihat All Might dalam bentuk pahlawannya sedang dikerumuni media.

Sepuluh bulan dalam bayang bayang

Malam di Musutafu terasa lebih cerah daripada malam di Konoha. Lampu-lampu neon tidak pernah padam, menciptakan polusi cahaya yang menyembunyikan bintang-bintang. Bagi Mitsuki, ini adalah lingkungan yang aneh. Di dunia ninja, kegelapan adalah teman; di sini, kegelapan adalah sesuatu yang dianggap sebagai ancaman oleh masyarakat.

Mitsuki tidak butuh hotel. Ia menemukan tempat bernaung di sebuah atap gedung apartemen tua yang terbengkalai. Menggunakan teknik elemen tanah sederhana, ia memodifikasi struktur beton di sudut atap menjadi celah sempit yang nyaman untuk bermeditasi.

Selama beberapa hari pertama, ia melakukan apa yang paling dikuasainya, Infiltrasi.

Ia mencuri pakaian biasa dari jemuran, mengamati cara orang menggunakan kartu elektronik untuk naik kereta, dan mendengarkan percakapan di kafe-kafe. Ia belajar bahwa di dunia ini, anak seusianya seharusnya berada di sekolah. Ia juga belajar bahwa peristiwa di gang tempo hari telah menjadi viral di internet sebagai "Insiden Remaja Misterius".

"Mereka menyebutku anomali," gumam Mitsuki sambil melihat layar ponsel yang ia 'pinjam' dari seorang berandalan pasar gelap. "Sistem yang sangat kaku. Jika kau tidak terdaftar, kau dianggap tidak ada."

Dua minggu kemudian, Mitsuki menemukan apa yang ia cari.

Pantai Dagobah.

Tempat itu dulunya adalah tumpukan sampah raksasa. Namun, setiap pagi, ada suara besi beradu dan teriakan semangat. Dari balik bayangan sebuah pilar jembatan, Mitsuki mengamati Izuku Midoriya yang sedang menarik ban truk raksasa di atas pasir.

Dan di sana, berdiri pria kurus berambut pirang yang tempo hari ia lihat All Might dalam wujud aslinya.

Mitsuki tidak mendekat. Ia hanya memperhatikan. Ia melihat bagaimana All Might melatih Midoriya dengan metode yang sangat... manusiawi. Lari, angkat beban, diet ketat.

Terlalu lambat, pikir Mitsuki. Dia melatih ototnya, tapi dia tidak melatih instingnya untuk membunuh atau bertahan hidup.

Setelah tiga jam pengamatan, Mitsuki memutuskan untuk menampakkan diri. Bukan dengan ledakan, tapi dengan berjalan perlahan keluar dari bayangan pilar, tepat saat Midoriya jatuh tersungkur karena kelelahan.

"Latihanmu tidak efisien, Midoriya Izuku."

Suara itu membuat All Might tersentak. Pria kurus itu segera memasang posisi waspada, matanya yang cekung menatap tajam ke arah remaja berkulit pucat itu.

"Kau... anak dari insiden tempo hari," ucap All Might dengan suara serak. "Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?"

Mitsuki mengabaikan pertanyaan itu. Ia berjalan mendekati Midoriya yang masih terengah-engah di atas pasir. "Kau membangun wadah yang besar, tapi kau tidak belajar cara mengalirkan isinya. Jika kau terus begini, saat kau mendapatkan 'kekuatan' itu, tubuhmu akan hancur dari dalam sebelum kau sempat menggunakannya."

Midoriya mendongak, matanya membelalak. "M-Mitsuki-kun? Bagaimana kau tahu aku akan mendapatkan kekuatan?"

All Might segera melangkah di antara mereka, mencoba melindungi rahasia One For All. "Dengarkan, Nak. Aku tidak tahu siapa kau atau apa tujuanmu, tapi ini adalah latihan privat—"

"Aku tidak tertarik pada rahasia kalian," potong Mitsuki tenang. Ia menatap All Might, dan untuk sesaat, All Might merasakan bulu kuduknya berdiri. Itu bukan tatapan seorang anak kecil; itu adalah tatapan predator yang sudah terbiasa melihat kematian. "Aku tertarik pada dia. Dia memiliki cahaya yang sama dengan seseorang yang aku kenal. Aku ingin melihat sejauh mana cahaya itu bisa bertahan di dunia yang penuh aturan ini."

Mitsuki kemudian menoleh ke arah tumpukan sampah di sebelah kanan. Dengan gerakan tangan yang sangat cepat, ia melemparkan sebuah kunai kecil yang ia buat dari sisa besi tua. Wush! Kunai itu membelah udara dan menancap tepat di seekor tikus yang sedang mengincar sisa makanan Midoriya di kejauhan.

"Pahlawan menyelamatkan orang," ucap Mitsuki. "Tapi ninja memastikan ancaman tidak pernah sampai ke orang tersebut. Jika kalian mengizinkan, aku akan mengawasinya. Sebagai imbalan, aku tidak akan mengganggu 'sistem' kalian."

All Might terdiam. Ia adalah simbol perdamaian, namun ia tahu bahwa dunia tidak selamanya putih. Keberadaan Mitsuki adalah warna abu-abu yang tidak ia pahami.

"Kenapa kau ingin membantunya?" tanya All Might akhirnya.

Mitsuki tersenyum tipis, menatap langit pagi yang mulai membiru. "Karena di dunia ini, aku adalah bulan yang kehilangan orbitnya. Dan anak itu... mungkin bisa menjadi matahari yang memberiku arah."

Bulan keempat pelatihan di Pantai Dagobah membawa perubahan yang tidak terduga bagi Izuku Midoriya. Jika All Might adalah pelatih yang membentuk tubuhnya menjadi "wadah", maka Mitsuki adalah guru bayangan yang mengajarinya cara bernapas di tengah tekanan.

Malam itu, pasir pantai terasa dingin. All Might baru saja pergi setelah sesi latihan angkat beban yang melelahkan. Izuku terduduk lemas, paru-parunya terasa terbakar.

"Kau terlalu banyak membuang gerakan," suara Mitsuki muncul dari kegelapan di bawah jembatan. Ia berjalan mendekat dengan langkah yang tidak meninggalkan jejak di pasir.

"Ah, Mitsuki-kun... kau datang lagi," ucap Izuku sambil berusaha mengatur napas. "Maksudmu... gerakanku tidak efisien?"

Mitsuki berhenti tepat di depan Izuku. Ia memberikan sebuah botol air yang isinya terasa sangat segar—ramuan herbal ringan yang biasa diminum ninja untuk memulihkan stamina. "Di duniamu, pahlawan bertarung untuk dilihat. Kalian berteriak saat menyerang, kalian menggunakan kostum yang mencolok, dan kalian membiarkan lawan tahu apa yang akan kalian lakukan."

Mitsuki melepas jubah birunya, hanya menyisakan pakaian hitam ketat di dalamnya. "Coba serang aku, Izuku. Gunakan apa pun yang kau pelajari dari All Might."

Izuku terkejut. "Tapi... aku belum punya kekuatan! Aku hanya punya otot sekarang."

"Itu cukup," jawab Mitsuki datar. "Serang aku dengan niat untuk menjatuhkanku."

Izuku berdiri, memasang kuda-kuda tinju yang sering ia lihat di televisi. Ia berlari ke arah Mitsuki dan melayangkan pukulan lurus. Namun, sebelum tinjunya mendekat, Mitsuki sedikit memiringkan tubuhnya. Dengan gerakan yang sangat halus, ia menangkap pergelangan tangan Izuku dan menggunakan momentum anak itu untuk menjatuhkannya ke pasir.

Brukh!

"Terlalu lambat," bisik Mitsuki. "Matamu memberitahuku ke mana kau akan memukul. Nafasmu memberitahuku kapan kau akan bergerak."

Izuku bangkit lagi, mencoba lagi. Kali ini ia mencoba menendang. Mitsuki melompat mundur dengan anggun, tubuhnya seolah seringan kapas.

"Seorang pahlawan ingin menghentikan kejahatan dengan adil," ucap Mitsuki sambil menepis pukulan ketiga Izuku. "Tapi seorang ninja hanya peduli pada satu hal: Hasil. Jika kau ingin menyelamatkan orang, kau tidak boleh hanya menjadi kuat. Kau harus menjadi tidak terduga."

Mitsuki tiba-tiba menghilang. Izuku berputar, mencari keberadaan temannya itu.

"Di sini," suara itu terdengar tepat di telinga Izuku.

Izuku tersentak, namun sebelum ia bisa bereaksi, Mitsuki sudah menyentuhkan dua jarinya ke leher Izuku—titik nadi yang fatal. "Jika aku musuhmu, kau sudah mati tiga kali sejak tadi."

Izuku terdiam, keringat dingin mengucur. Ia menyadari sesuatu yang sangat kontras. All Might mengajarinya cara menjadi simbol yang gagah, tapi Mitsuki mengajarinya realitas bertarung yang mengerikan.

"Bagaimana... bagaimana cara melakukannya?" tanya Izuku dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu.

Mitsuki menatap tangannya. "Matikan kehadiranmu. Jangan menjadi matahari yang membakar, jadilah bulan yang memantulkan cahaya. Saat musuhmu mengira mereka melihatmu, sebenarnya mereka hanya melihat bayanganmu."

Selama bulan-bulan berikutnya, rutinitas Izuku berubah drastis. Pagi hari ia menghabiskan waktu bersama All Might, memindahkan sampah dan membangun otot. Namun saat matahari terbenam, ia berlatih bersama Mitsuki.

Mitsuki mengajarinya cara berlari tanpa suara, cara menggunakan indra pendengaran untuk mendeteksi lawan di belakangnya, dan yang paling penting: Taktik Manipulasi.

"Jika kau tidak punya Quirk, gunakan lingkunganmu," kata Mitsuki suatu malam. Ia menunjukkan cara menggunakan pasir pantai untuk membutakan lawan sejenak, atau menggunakan pantulan cahaya pada air untuk menciptakan celah serangan.

All Might, yang sering mengawasi dari kejauhan, merasa cemas sekaligus kagum.

"Anak itu... dia mengajari Young Midoriya hal-hal yang biasanya hanya dipelajari oleh agen intelijen bawah tanah," gumam All Might pada dirinya sendiri. "Metodenya dingin, tapi efektif. Midoriya tidak lagi sekadar berlari lurus dia mulai bergerak seperti... predator."

Hari Ujian Masuk UA

Sepuluh bulan telah berlalu. Pantai Dagobah kini bersih total. Izuku berdiri di atas tumpukan sampah terakhir yang telah ia rapikan, berteriak ke arah laut untuk meluapkan segalanya.

Mitsuki berdiri di dekatnya, mengenakan pakaian baru yang lebih modern sebuah hoodie gelap dan celana kargo, meskipun ia tetap menyimpan kunai tersembunyi di balik lengan bajunya. Ia telah berhasil mendapatkan "identitas" sementara melalui bantuan misterius.

"Kau siap, Izuku?" tanya Mitsuki.

Izuku menoleh. Tubuhnya kini tegap, otot-ototnya kencang, dan yang paling berbeda adalah tatapannya. Ada ketenangan yang ia dapatkan dari Mitsuki yang bercampur dengan semangat dari All Might.

"Ya," jawab Izuku mantap. "Terima kasih, Mitsuki-kun. Tanpa latihan darimu, aku mungkin hanya akan menjadi samsak tinju yang kuat."

"Jangan berterima kasih padaku sampai kau lulus," ucap Mitsuki sambil berjalan mendahuluinya. "Aku juga akan ikut ujian itu. Nezu, kepala sekolah mereka, sepertinya tertarik padaku setelah aku mengirimkan 'pesan' kecil padanya."

Izuku terbelalak. "Hah? Kau ikut ujian juga?!"

"Tentu," Mitsuki menoleh sedikit dan memberikan senyum tipisnya yang misterius. "Aku ingin melihat secara langsung, apakah sekolah yang mereka banggakan ini bisa menangani seorang ninja."

Mereka berdua berjalan menuju gerbang UA High School. Di sana, ratusan peserta didik dengan Quirk yang luar biasa sedang berkumpul. Di tengah kerumunan itu, sosok Mitsuki yang tenang dan Izuku yang kini lebih waspada menjadi pusat perhatian yang sunyi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!