Indonesia
NovelToon NovelToon

Senja Dimatamu:Misteri Jembatan Taman Itu

BAB 1: Misteri Yume no Ukihashi

Kelopak sakura berjatuhan, menyentuh tanah yang masih lembap oleh sisa hujan semalam.

Udara pagi di Jepang ternyata lebih menusuk dari yang kubayangkan, memaksa syal putih ini melilit leherku lebih erat.

​Aku melangkah pelan, sampai mataku tertuju pada satu titik di atas jembatan.

Seorang wanita dengan overcoat coklat berdiri di sana, tampak begitu menyatu dengan musim semi yang mulai merekah. Indah.

Baru saja aku ingin melangkah mendekat, sebuah hantaman keras di bahuku merusak segalanya.

​"Hei..Lihat jalanmu, Bodoh!" bentak suara berat itu.

​"Maaf, saya tidak sengaja," ucapku refleks menunduk, mencoba tetap sopan meski suasana hatiku baru saja dihancurkan.

Aku bergegas menghampiri jembatan merah itu, mengedarkan pandangan ke segala arah. Namun, wanita itu lenyap seolah ditelan udara. Kosong.

​Tiba-tiba, rasa pening yang hebat menghantam kepalaku. Pandanganku mengabur, duniaku berputar, dan semuanya menjadi gelap saat tubuhku ambruk di atas kayu jembatan.

​BRUAK!

​Aku tersentak, mendapati diriku sudah tersungkur di lantai kamar yang dingin. Napasku memburu, paru-paruku terasa sesak seolah oksigen di dunia nyata tak cukup untuk menggantikan udara di mimpi tadi.

​"Siapa... siapa wanita itu?" gumamku pada kesunyian kamar.

​Mimpi itu terasa terlalu nyata. Ada pesan tersirat yang tertinggal di dadaku, sebuah rasa rindu yang asing sekaligus menyesakkan. Aku terdiam lama di lantai, merenungi bayangan gaun coklat itu sebelum akhirnya benar-benar beranjak dari tempat tidur.

Cahaya pagi menerobos paksa celah jendela, mengakhiri renunganku dan menuntutku segera bersiap mengais yen.

​Kenalkan, namaku Alexian.

Di negeri matahari terbit ini, aku bekerja sebagai resepsionis Love Hotel.

Ya, kau tidak salah dengar.

Bukan hotel untuk keluarga berlibur, melainkan tempat singgah bagi pasangan yang tengah dimabuk asmara, atau wanita malam yang mencari tempat bernaung setelah menjajakan diri di pinggir jalan.

​Mengerikan?

Mungkin bagi sebagian orang.

Sebagai orang Indonesia yang besar dengan adat istiadat dan nilai kesucian, duniaku sekarang terasa seperti antah berantah. Di sini, kebebasan adalah segalanya.

​Terkadang imanku benar-benar diuji. Melayani pelanggan dengan pakaian seminim mungkin sudah menjadi sarapan harianku.

Di balik meja resepsionis itu, aku bukan hanya menjaga kunci kamar, tapi juga menjaga hatiku sendiri agar tidak ikut tenggelam dalam pusaran ini.

Aku sudah tinggal di Jepang selama dua tahun. Cukup lama buat orang yang belajar hidup mandiri di kota yang keras ini. Apalagi melihat pasangan yang memesan kamar padaku, ...duh rasanya pengen banget banting-banting.

Sudah tiga jam aku berdiri di balik meja marmer ini, menyapa tamu dengan senyum palsu yang mulai membuat rahangku kaku.

Tanganku sibuk menyemprotkan cairan pengharum ruangan setiap kali ada tamu yang lewat, mencoba membuang aroma alkohol dan rokok yang tertinggal agar tamu yang datang tidak merasa terganggu.Dua tahun di Jepang sudah cukup melatihku jadi orang asing yang tangguh di kota sekeras ini.

Tapi tetap saja, melihat pasangan-pasangan yang memesan kamar sambil bermesraan di depanku... jujur saja, rasanya ingin kubanting-banting seluruh kunci kamar ini karena iri.

​Sudah tiga jam aku berdiri mematung di balik meja marmer yang dingin. Menyapa tamu dengan senyum palsu sampai rahangku rasanya nyaris kaku.

Tanganku tak berhenti menyemprotkan pengharum ruangan, berjuang melenyapkan sisa aroma alkohol dan asap rokok yang tertinggal. Aku hanya ingin tamu berikutnya tidak pingsan karena bau yang menyesakkan ini.

Pekerjaan ini tidak hanya menguras fisik, tapi juga mental.

Melihat mereka menukar lembaran yen demi kesenangan sesaat di kamar pengap itu, aku sering membatin:

Apa mereka tidak takut sakit hati saat putus nanti?

Bagaimana bisa berhubungan tanpa perasaan?

Apalagi si wanita... apa dia tidak memikirkan orang tuanya di rumah?

​Untungnya, aku tidak sendirian di sini.

Ada Ken dan Mona, teman asli Jepang yang sudah menemaniku sejak hari pertama.

Ken orangnya blak-blakan—cenderung kasar kalau bicara—tapi sesekali bisa jadi motivator dadakan.

Sedangkan Mona, dia punya ketertarikan aneh pada mitos-mitos urban Jepang.

​"Woi, Lex! Melamun terus! Itu ada pasangan mau check-in!" tegur Ken.

Senggolannya di bahuku hampir membuatku terjungkal.

​Suara cemprengnya sukses membuyarkan bayangan jembatan tadi pagi.

Aku menghela napas, merapikan seragam hotelku yang sedikit kusut.

Di sampingku, Mona yang sedang merapikan catatan administrasi melirik sekilas.

​"Mukamu pucat, Lex. Belum sarapan atau kepikiran mimpi yang kamu ceritain tadi?" bisiknya.

​Aku tersentak.

Sial, apa aku sempat meracau tentang 'wanita di jembatan' saat di loker tadi?

​"Ha? Apaan sih? Wanita? Jembatan?" balasku, mencoba tertawa hambar dengan wajah sebodoh mungkin.

​"Hmm... jujur saja, Lex. Bohong itu nggak ada gunanya. Kamu sudah 'siaran' di loker tadi," ucap Mona dengan senyum penuh arti.

 Jantungku berdegup kencang. Dalam urusan asmara, aku ini tumpul tidak romantis sama sekali. Luka lama dari pengkhianatan di masa lalu membuatku menutup diri rapat-rapat.

Ketahuan memimpikan seorang wanita cantik rasanya seperti tertangkap basah melakukan kejahatan besar.

​"Jadi benar, kamu bermimpi tentang wanita di jembatan sakura?" tanya Ken memastikan.

Wajahnya yang biasa cengar-cengir mendadak serius.

​"Ya... benar," jawabku lirih sambil membuang muka.

​"Lex, mimpi itu bisa jadi koordinat," sahut Ken meyakinkanku.

"Mungkin lokasi itu benar-benar ada di dunia nyata. Persis seperti yang kamu lihat."

​Tenggorokanku mendadak kering. Tepat saat itu, Mona meletakkan pulpennya dan menatapku lekat.

​"Kamu tahu soal 'Yume no Ukihashi', Lex? Jembatan Impian yang Mengambang."

​Aku mengernyitkan kening.

"Maksudnya?"

​"Dalam kepercayaan lama Jepang, jembatan adalah simbol pertemuan dua jiwa yang terpisah jarak, waktu, atau bahkan dimensi. Bisa jadi, jiwamu tadi malam benar-benar menyeberang untuk menemuinya," jelas Mona tenang.

​"Jangan biarkan dia menghilang lagi sebelum kamu sempat melihat wajahnya, Lex. Karena tidak semua orang diberi kesempatan untuk 'menyeberang'."

​Kata-kata Mona terus terngiang di kepalaku bahkan saat jam sudah menunjukkan pukul 22.15. Jadwal shift-ku berakhir. Kami bertiga melangkah keluar, pulang melewati rute yang sama di bawah langit malam Tokyo yang dingin.

"Sudahlah, Lex. Jangan melamun terus. Nanti kita cari bareng-bareng tempat itu!" seru Ken, menepuk pundakku kuat-kuat.

​"Iya, benar. Sudah selayaknya teman saling bantu, kan?" sambung Mona dengan senyum ceria yang sedikit menghangatkan suasana.

​"Terima kasih, ya. Kalian benar-benar baik," kataku tulus.

​Angin malam tiba-tiba berembus lebih kencang, terasa menusuk hingga ke tulang.

Aku mengeratkan syal putih melingkari leherku. Syal pemberian Ibu yang kini mulai kusam dan menguning di beberapa bagian.

Kainnya tidak lagi selembut dulu, tapi setiap kali aku membenamkan wajah di sana, aku seolah bisa mencium aroma doa-doa Ibu yang tertenun di setiap helai benangnya.

Syal ini adalah satu-satunya pelindung yang membentengiku dari kerasnya hidup di negeri orang, pengingat bahwa aku punya alasan untuk tetap bertahan hidup.

Di sampingku, Ken sedang sibuk mencari lokasi keberadaan jembatan seperti dalam mimpiku. Sementara Mona berjalan dengan langkah ringan seolah lelahnya bekerja selama delapan jam tadi hilang menguap begitu saja.

Syal ini adalah satu-satunya benteng yang menjagaku dari kerasnya hidup di negeri orang; sebuah pengingat bahwa aku masih punya alasan untuk terus bertahan.

​Di sampingku, Ken sibuk mengotak-atik ponselnya, berusaha melacak lokasi jembatan yang kuceritakan.

Sementara Mona melangkah ringan di sampingnya, seolah beban kerja delapan jam tadi sudah menguap terbang ke langit Tokyo.

​Entahlah. Bagiku, itu tetaplah sebuah mimpi yang indah. Terlepas dari mitos apa pun yang dipercayai orang-orang di sini, aku hanya berharap mimpi itu bisa menjadi jembatan yang menghubungkanku dengan sedikit kenyataan manis di kemudian hari.

BAB 2: Antara ingatan dan Kenyataan

Mimpi itu ternyata tidak benar-benar pergi. Ia mengendap di sudut mataku seperti debu yang sulit dibersihkan.

Aku terbangun dengan perasaan ganjil, seolah separuh jiwaku masih tertinggal di jembatan merah itu, sementara ragaku dipaksa kembali ke kenyataan; sebuah apartemen sempit di pinggiran Tokyo yang pengap.

​Hari ini adalah hari liburku. Seharusnya aku tenang karena tidak perlu menghadapi bau alkohol di hotel, namun dadaku justru terasa sesak.

Ada rasa rindu yang asing pada seseorang yang bahkan wajahnya pun tidak sanggup kuingat lagi.

Aku terus merenungi mimpi itu. Atmosfer dan suasananya terasa begitu nyata hingga sanggup kurasakan setiap embusan anginnya, meski aku tahu ragaku hanya terbaring di atas kasur tipis.

Entah mengapa, setiap kali mencoba memungut serpihan memori itu, mataku mendadak berkaca-kaca.

​"Siapa dia? Dan kenapa aku menangis hanya karena mengingatnya?" gumamku, menatap kosong cahaya pagi yang merayap di celah jendela.

​Mataku beralih pada syal putih di atas meja. Pemberian Ibu yang semalam terasa begitu hangat. Warna putihnya yang mulai menguning entah kenapa mengingatkanku pada pucatnya kelopak sakura di mimpiku.

​Mona menyebutnya Yume no Ukihashi, jembatan impian. Logikaku ingin menertawakannya sebagai takhayul, tapi bagaimana caraku menyangkal rasa hangat yang masih tertinggal di telapak tanganku setelah menyentuh pagar jembatan dalam tidurku tadi malam?

Tokyo selalu berisik, tapi pagi ini, suara kereta yang melintas di balik jendela terdengar seperti gemericik air sungai di telingaku.

Aku termenung lama di tepi ranjang. Biasanya, hari libur adalah waktu sakral untuk tidur seharian, memulihkan raga yang remuk setelah melayani tamu-tamu hotel.

​Kali ini berbeda. Ada sesuatu yang seolah memanggilku untuk melangkah keluar. Sesuatu yang tersembunyi di balik tikungan jalan yang belum pernah aku jalani sebelumnya.

​Aku bangkit dengan sisa tenaga, membasuh muka di wastafel kecil yang airnya sedingin es yang seketika membekukan wajahku.

Di cermin, aku melihat pantulan pria dengan mata lelah, namun menyimpan binar penasaran yang tak mampu kusembunyikan.

Tanpa banyak berpikir, aku meraih overcoat hitamku dan melilitkan syal putih pemberian ibu erat-erat di leher.

Rasanya seperti sedang memakai pelindung sebelum terjun ke medan perang yang aku sendiri tidak tahu di mana lokasinya.

Aku melangkah keluar dari kamar apartemenku. Udara musim semi Tokyo menyambutku dengan embusan angin yang membawa aroma samar bunga yang mekar. Kakiku membawaku menuju stasiun, membaur dengan lautan manusia yang bergerak seperti mesin.

Di dalam gerbong kereta, aku hanya berdiri bersandar pada pintu kaca, menatap gedung-gedung yang melesat cepat di luar sana. Pikiranku kosong, hingga tiba-tiba sebuah pengumuman stasiun terdengar.

Aku tidak pernah turun di sana sebelumnya, namun entah mengapa, tanganku bergerak sendiri memencet tombol pintu. Aku turun seolah-olah ada seseorang yang membisikkan namaku di peron itu.

Saat kakiku menapak di lantai stasiun yang lebih sepi dari biasanya, bulu kudukku meremang. Aku berjalan keluar menuju area taman yang tidak jauh dari sana.

Setiap langkah terasa begitu berat sekaligus ringan. Aku berbelok di sebuah tikungan jalan kecil yang dipenuhi pohon sakura, dan seketika duniaku seolah berhenti berputar.

"Tidak mungkin..." bisikku lirih.

Pemandangan di depanku pagar kayu merah itu, lengkungan jembatannya, hingga posisi dahan sakura yang menjuntai ke sungai semuanya identik dengan mimpiku semalam. Ini bukan sekadar mirip. Ini adalah tempat itu. Tempat di mana aku menangis tanpa alasan dalam tidurku.

Sungai kecil jernih yang mengalir di bawah sana, serta bunga sakura yang kelopaknya menari-nari jatuh ke permukaan air... semuanya sama persis seperti dalam mimpi itu.

"Ternyata apa yang Mona katakan itu benar. Yume no Ukihashi bukan sekadar mitos," bisikku dalam hati.

Aku sampai mencubit dan menampar ringan pipiku sendiri, memastikan apakah ini masih bagian dari bunga tidur atau sekadar ilusi yang diciptakan otakku yang lelah.

"Aw... sakit!" Aku meringis, tapi sedetik kemudian tawa kecil lolos dari bibirku.

"Hah...Lah....ini nyata!"

Di tengah euforia itu, Hape di saku overcoat-ku bergetar hebat. Aku melihat layarnya.

"Ken?"

Aku segera menggeser tombol hijau, tak sabar ingin menumpahkan segala keajaiban ini padanya.

"Ken! Kau gak mitos mitos Yume no ukihashi yang diceritain Mona?".

"Iya, kenapa rupanya? Kau sudah menemukannya?" suara Ken terdengar heran di seberang sana.

"Haha!, benar. Aku disini ditempat yang sama seperti mimpiku kemarin". teriakku, hampir tak peduli pada beberapa orang yang lewat dan menatapku heran.

"Wih...Beneran?"suara Ken ikut meninggi, penuh semangat.

"Kalau begitu Shareloc sekarang juga. Akan kukabari Mona dan pergi menemuimu kesana ".

"Oke!" jawabku mantap.

Sambil menunggu mereka, aku menyempatkan diri mengambil beberapa foto. Aku berdiri di titik yang persis sama dengan posisiku di dalam mimpi, mencoba merekam bukti bahwa tempat ini benar-benar ada.

Aku pun melangkah perlahan di atas lantai kayu jembatan merah itu, mencoba mencocokkan setiap jengkalnya dengan mimpiku. Rasanya seperti menyatukan kepingan puzzle yang hilang.

Aku berdiri tepat di tengah jembatan, lalu menutup mata. Aku ingin merasakan hangatnya sinar matahari senja dan lembutnya angin yang menyapu kelopak sakura yang jatuh. Duniaku seketika menjadi gelap, hanya ada suara aliran sungai dan desau angin.

"Selamat Datang Alexian". suara wanita terdengar di dekatku.

Jantungku berdegup sangat kencang, seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Darahku terasa berdesir dingin.

Bagaimana mungkin?

Tidak ada orang di dekatku. Dan yang paling membuatku membeku adalah...

bagaimana suara itu bisa tahu namaku?.

Aku baru saja hendak memutar tubuh, mencari dari mana sumber suara misterius itu berasal, ketika sebuah teriakan membuyarkan segalanya.

"Hei, Lex! Di situ rupanya kau!"

Aku tersentak, hampir saja menjatuhkan ponselku ke sungai. Aku menoleh dan melihat Ken serta Mona berjalan ke arahku dari ujung jalan taman.

"Bilang dong kalo Tempatnya sejauh ini!!. Aduh... kakiku rasanya mau patah," ucap Ken terengah-engah, mencoba bercanda seperti biasanya.

Aku masih berdiri terpaku di tengah jembatan, mencoba menenangkan debar jantungku yang masih liar.

"Hahaha... aku pun tidak sadar mengapa aku bisa sampai di sini. Rasanya seperti ada sesuatu yang menuntunku," jawabku pelan

mataku sesekali masih melirik ke sekeliling, mencari sosok yang berbisik tadi.

Mona melangkah maju, ia menatap pagar merah jembatan dengan tatapan kagum.

"Jadi ini tempatnya, Lex? Jembatan di mana wanita itu berdiri dalam mimpimu?"

"Iya," jawabku mantap sambil menatap lurus ke arah dahan sakura yang menjuntai.

"Semuanya... benar-benar sama persis."

Aku terdiam sejenak, membiarkan angin senja meniup syal putih di leherku. Di satu sisi aku lega karena teman-temanku sudah sampai, tapi di sisi lain, bisikan tadi masih terngiang jelas.

Siapa sebenarnya yang baru saja mengucapkan selamat datang?

Aku menatap Mona dan Ken yang sedang sibuk mengagumi pemandangan, tapi pikiranku tetap tertinggal pada bisikan tadi.

Jika tempat ini nyata, maka suara itu juga nyata. Dan jika dia sudah mengucapkan selamat datang, berarti pencarianku... baru saja dimulai.

BAB 3: Jejak yang tertinggal

Udara sore di pinggiran Tokyo itu terasa semakin dingin, namun anehnya, aku tidak merasa menggigil. Ada kehangatan aneh yang menjalar dari telapak kakiku setiap kali bersentuhan dengan lantai kayu jembatan merah ini.

Aku masih mematung, menatap ruang kosong di sampingku. Suara riuh Ken yang mengeluh soal kakinya yang pegal dan tawa kecil Mona terasa sangat jauh, seolah-olah aku sedang berada di dalam sebuah gelembung kaca yang memisahkanku dari kenyataan.

​"Alexian, selamat datang..."

​Kalimat itu terus muter-muter di otakku, gak mau berhenti. Suaranya lembut, tapi bikin merinding di setiap Tulang. Aku mencoba mengatur napas, menenangkan debaran jantungku yang liar.

Aku tersenyum paksa menanggapi candaan Ken yang sedari tadi sibuk memamerkan pose-pose konyolnya di depan kamera ponsel.

Namun, saat aku melangkah hendak mengikuti mereka menjauh dari jembatan, sebuah kilatan cahaya dari sudut mata menghentikan gerakanku.

​Mataku tidak sengaja menangkap sesuatu yang terselip di celah pagar kayu merah itu. Sesuatu yang berwarna jingga pudar, berkibar pelan tertiup angin musim semi.

​Aku berhenti mendadak, membuat Ken hampir menabrak punggungku. Tanpa memedulikan gerutuan sahabatku itu, aku berjalan mendekati pagar kayu. Jariku meraih benda kecil yang terselip di sana dengan sangat hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kaca yang mudah pecah.

Ternyata, itu adalah selembar pita kain berwarna jingga senja yang sangat indah. Kainnya terasa sangat halus, namun yang paling mengejutkan adalah aroma wangi bunga sakura yang masih sangat segar, seolah baru saja dipetik dari pohonnya.

​Saat kulitku bersentuhan dengan pita itu, dunia di sekitarku seolah memudar. Pandanganku mengabur dan digantikan oleh kilas bayangan yang sama persis seperti mimpiku semalam. Aku melihat siluet wanita itu berdiri membelakangiku, rambutnya yang panjang tertiup angin, dan dia sedang mengikatkan sesuatu di pagar ini.

​Lalu, suara bisikan itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas dan tenang:

"Aku tinggalkan pita jinggaku di sini. Kelak, aku akan menemukan siapa pria yang melihatku di sana..."

​Seketika, air mata jatuh tanpa bisa kubendung. Bukan air mata kesedihan, melainkan sebuah kelegaan yang luar biasa. Dadaku sesak oleh rasa syukur yang membuncah. Ternyata, wanita di mimpiku itu bukanlah bayangan biasa yang diciptakan oleh otakku yang kelelahan. Dia benar-benar ada di dunia nyata. Dia sedang menungguku. Dia sedang mencariku. Dia... sama sepertiku.

​"Jadi, ini nyata," ucap batinku sambil mengusap air mata dengan punggung tangan.

"Kamu benar-benar ada."

​"Lex? Apa itu? Eh, Kok nangis?" Mona tiba-tiba sudah berada di sampingku. Wajah yang biasanya tenang kini dipenuhi raut penasaran sekaligus khawatir.

​Aku segera mengerjapkan mata, mencoba menyembunyikan getaran di suaraku. Aku menunjukkan pita itu padanya dengan mata yang masih berbinar, meski kemerahan.

"Gapapa, Mona. Mataku cuma kelilipan tadi. Lihat ini..."

​Aku membentangkan pita jingga itu di telapak tanganku.

"Lihat, Mona. Ini bukan mimpi. Pita ini... warnanya persis seperti sinar senja di mata wanita itu. Aku menemukannya terselip di sini."

​Mona tertegun. Ia mendekat dan menyentuh ujung pita itu dengan ujung jarinya. Ia tampak merenung, seolah sedang memanggil kembali semua memori tentang legenda tua yang pernah ia baca. Kemudian, ia tersenyum tipis sebuah senyum yang penuh arti.

​"Yume no Ukihashi benar-benar memberimu oleh-oleh, Lex," ucap Mona pelan.

"Dalam legenda kuno, jembatan ini bukan hanya tempat pertemuan mimpi, tapi juga tempat pertukaran janji. Kalau kamu menemukan benda milik seseorang dari dunia itu, itu artinya dia juga sedang mencarimu di dunia nyata. Benang merah kalian baru saja mulai terjalin secara fisik."

Mendengar penjelasan Mona, jantungku berdegup kencang karena bahagia. Rasa takut yang sempat menghampiriku tadi lenyap tak berbekas. Aku segera memasukkan pita itu ke saku overcoat-ku dengan sangat hati-hati, memastikannya aman di dalam sana. Rasanya seolah aku baru saja memenangkan harta karun paling berharga di seluruh dunia.

​"Wah..gila sih, karena pita doang kau ampe nangis!" Ken tiba-tiba muncul dan merangkul bahuku dengan semangat, hingga aku hampir terhuyung.

"Gila ya, gara-gara pita doang kau ampe nangis? Udahlah, urusan jodoh nanti dulu, perut gue udah demo nih. Traktir Aku ramen pokoknya!"

​Kami bertiga tertawa bersama, memecah kesunyian taman yang mulai meremang. Aku melangkah meninggalkan jembatan itu dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Beban di pundakku seolah hilang dibawa terbang angin sore.

Lampu-lampu jalanan mulai menyala satu per satu, menggantikan cahaya matahari yang telah sepenuhnya tenggelam. Kami bertiga berjalan beriringan menuju stasiun terdekat. Suasana Tokyo di malam hari selalu terasa berbeda—lebih sibuk, lebih dingin, namun entah mengapa malam ini terasa begitu bersahabat bagiku.

​"Aduh, Lex, kau benar-benar harus traktir aku porsi ekstra!" Ken mengeluh sambil memijat bahunya, meskipun wajahnya tetap terlihat ceria.

"Berjalan dari stasiun ke taman tadi itu setara dengan latihan maraton tahu tidak? Lemak di perutku rasanya sudah terbakar habis!"

​Mona tertawa kecil, ia merapatkan mantelnya.

"Berhenti mengeluh, Ken. Bukankah tadi kau yang paling semangat mengambil foto di sana? Aku yakin galeri ponselmu sekarang penuh dengan foto selfie di depan jembatan merah itu."

​"Hehe, itu kan aset masa depan, Mona. Siapa tahu tempat itu jadi viral karena pencarian jodoh Alexian yang legendaris ini," jawab Ken sambil mengedipkan sebelah mata ke arahku.

​Aku hanya bisa tersenyum mendengar perdebatan kecil mereka. Tanganku masih berada di dalam saku overcoat, jemariku mengusap lembut permukaan kain pita jingga itu. Rasanya sangat halus, seperti sutra.

Setiap kali aku menyentuhnya, ada sensasi listrik kecil yang menenangkan merambat ke dadaku. Aku merasa seolah sedang memegang tangan wanita itu.

​Kami menaiki kereta yang cukup padat.

Di dalam gerbong yang bergoyang pelan, aku berdiri bersandar pada tiang, menatap pantulan diriku di jendela kaca yang gelap. Di sampingku, Mona tampak sibuk dengan ponselnya, mungkin ia sedang mencari artikel lebih dalam tentang penemuan benda dari dunia mimpi.

​"Lex," panggil Mona pelan,

cukup hanya aku yang bisa mendengar di tengah deru mesin kereta.

"Pita itu... jangan sampai hilang. Di Jepang, ada kepercayaan bahwa benda seperti itu adalah 'omamori' atau jimat pelindung. Selama kamu menyimpannya, jalanmu menuju dia tidak akan tertutup."

​Aku menoleh ke arah Mona dan mengangguk mantap.

"Aku tidak akan membiarkannya lepas, Mona. Rasanya seperti... ini satu-satunya peganganku pada kenyataan bahwa aku tidak sedang berhalusinasi."

​Tak lama kemudian, kami sampai di sebuah gang kecil di daerah Shinjuku yang dipenuhi dengan papan nama neon berwarna-warni. Bau kaldu babi yang gurih dan aroma bawang goreng mulai menusuk hidung—sebuah aroma yang sangat menggoda di malam yang dingin ini.

​"Nah! Itu dia! Ramen Ichiraku cabang rahasia!"

seru Ken menunjuk sebuah kedai kecil dengan tirai kain noren merah yang melambai di depan pintu.

​Kami masuk ke dalam kedai yang hangat dan sempit itu. Suara uap air mendidih dan denting mangkuk yang beradu menciptakan simfoni yang menyenangkan. Kami duduk di depan meja counter kayu yang sudah tua.

​"Pesan tiga porsi spesial dengan telur setengah matang dan chashu ekstra!" teriak Ken tanpa melihat menu lagi.

​Sambil menunggu pesanan datang, aku kembali merogoh ponselku di bawah meja. Aku membuka galeri melihat foto jembatan dan bunga sakura yang baru saja aku potret. Cahaya dari layar ponsel menyinari wajahku di kegelapan bawah meja. Di foto itu, Aku melihat betapa indahnya jembatan yang mirip sekali di mimpiku semalam.

​Ken yang menyadari aku sedang asyik sendiri, tiba-tiba melongokkan kepalanya.

"Woi!!!, senyum-senyum sendiri! Lagi liatin foto siapa? Coba lihat!"

​Aku buru-buru mematikan layar ponsel, membuat Ken cemberut.

"Rahasia," jawabku singkat sambil tertawa.

​"Pelit! Pasti ngebayangin wanita misterius itu ya? Wah, Lex, kau benar-benar sudah jatuh cinta pada bayangan!" Ken menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menerima semangkuk besar ramen yang mengepulkan asap wangi.

​Aku hanya tertawa. "Bukan bayangan, Ken," ucapku dalam hati. Dia nyata. Dan dia sedang menungguku di suatu tempat di kota yang luas ini.

​Malam itu, di tengah hiruk-pikuk kedai ramen yang hangat, aku merasa untuk pertama kalinya sejak pindah ke Tokyo, aku tidak lagi merasa sendirian. Aku memiliki pita di sakuku, dua sahabat di sampingku, dan sebuah janji dari dunia mimpi yang menantiku di hari esok.

​Sambil berjalan menuju stasiun, rasa penasaran membuatku merogoh ponsel. Aku ingin melihat kembali foto-foto jembatan yang kuambil tadi. Aku menggeser layar satu per satu, foto Ken yang konyol, foto pemandangan sungai, hingga aku sampai pada sebuah foto yang kuambil saat aku berdiri sendirian di tengah jembatan.

​Jantungku berhenti berdetak sejenak.

​Di salah satu foto itu, di kejauhan di balik dahan sakura yang menjuntai, terlihat siluet samar seorang wanita. Dia mengenakan Overcoat berwarna cokelat, persis seperti dalam mimpiku.

Dia tidak membelakangiku kali ini. Dia sedikit menoleh ke arah kamera, dengan senyum tipis yang sangat lembut terukir di wajahnya.

​Dia nyata. Dia ada di sana saat aku memotretnya, meski mataku tadi tidak melihatnya.

​Aku berhenti berjalan, menatap layar ponselku dengan tangan bergetar. Sebuah senyum lebar terkembang di wajahku.

Kini aku punya bukti. Aku punya pita di sakuku, dan fotonya di ponselku.

​"Tunggu aku," bisikku pelan ke arah layar ponsel.

"Aku akan menemukanmu."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!