Indonesia
NovelToon NovelToon

Wanita Amnesia Itu Istriku

HARI PERNIKAHAN

Suara musik islami mengiringi pernikahan sederhana Bara dan Aira. Keduanya berdiri di pelaminan dengan pakaian pernikahan yang tidak terlalu mencolok.

Senyum mengembang dari bibir keduanya. Senyuman kebahagiaan pengantin yang saja menyelesaikan akad nikah di ruang tengah rumah milik orang tua Bara.

"Selamat Bu Norma, akhirnya mantu juga, " sapa tetangga bawel yang selalu bertanya kapan Bara menikah.

"Alhamdulillah, Bu Susi. Akhirnya Saya lepas dari pertanyaan itu, nanti jangan tanya yang lain ya Bu, " sindir Norma dengan seringai yang membuat Susi tertawa kikuk.

Satu persatu undangan mengucap selamat pada pengantin dan keluarga.

"Istri Bara ini katanya yatim ya? Memangnya kurang ganteng apa dia? padahal masih bisa dapat yang lain, " celetuk salah satu tamu undangan sambil menikmati potongan buah semangka.

"Namanya jodoh, Bu. Kita nggak tahu, " sahut yang lain membela.

"Cantik sih, kerja apa istrinya? " tanya yang lain masih dalam lingkaran meja yang sama.

"Sebelumnya bantu-bantu di Panti. Jadi pengasuh dan pengajar anak-anak yatim di sana. Di situ juga Bara kenal waktu ngurus acara kantornya, cerita Bu Norma waktu antar undangan ke rumah Saya, " sahut Bu RT yang berpenampilan paling modis di antara yang lain.

Spontan semua di meja itu mengangguk dengan bibir membulat dengan suara "Oooh."

Waktu bergulir cepat, keramaian acara semakin berkurang menunjukkan semakin sedikitnya tamu yang datang.

Beberapa tetangga yang membantu, mengumpulkan sampah dan piring kotor ke belakang rumah.

Hawa tanah basah masih terasa dari hujan panas mendadak siang tadi.

"Bara, kami pamit dulu ya. Selamat sekali lagi, semoga langgeng sampai kakek nenek," ujar salah satu rekan seniornya di kantor.

"Aaamiiin ya Allah. Terima kasih doa dan kedatangannya Mba Pur, teman-teman semua. Maaf ini, istri mendadak pusing jadi minta ijin ke kamar, " sahut Bara sungkan sambil menangkup kedua tangan ke dadanya dengan senyum yang masih merekah ditengah lelahnya.

"Nggak apa-apa Mas Bara, titip salam aja nanti sama Mbak Aira. Kami harus balik kantor, nanti di cariin pak bos, " timpal Sri rekan se ruangannya.

"Siap-siap, nanti di sampaikan salamnya. Terima kasih nggih semua."

Rekan kerjanya bersalaman satu-satu dan berjalan menuju mobil kantor yang mereka bawa.

"MAS BARAA!!"

"Kak Aira pingsan," ujar Puspa adik Bara setengah berlari menghampiri Bara yang berdiri di tempat acara.

Bara terhenyak lalu bergegas ke dalam rumah.

"Ya Allah Aira.. "

Bara spontan menggendong istrinya yang masih berpakaian pengantin lengkap ke dalam kamar.

Ibu-ibu rewang yang berlari dari dapur ke ruang tengah ribut menyuruh Puspa mengambil air, ada yang menyuruh mengambil kipas sampai suara-suara itu terdengar seperti gemuruh di dalam rumah yang kecil.

Norma yang tadi sempat di kamar mandi nampak bingung melihat kepanikan di ruang tengah.

"Kenapa Mba yu? " tanya Norma pada kakak iparnya.

"Itu, mantumu pingsan barusan."

Norma terkejut, lalu buru-buru ke kamar pengantin.

"Pingsan kenapa Bara? " tanyanya.

"Mungkin cuma kecapekan Bu, katanya semalam kurang tidur."

"Lagian, sudah tahu mau nikahan malah nggak istirahat cukup. Ada -ada aja istrimu ini. Ambil minyak angin di kotak obat Puspa, " titah Norma.

Tak lama, Puspa kembali ke kamar menyerahkan sebotol minyak angin.

Norma dengan gesit memakaikan minyak angin ke punggung dan tengkuk Aira yang sudah dilonggarkan baju pengantinnya.

Tangannya memindahkan bantal dari kepala ke atas kaki, supaya ada suplay oksigen masuk ke otak.

"Sudah nggak apa, sebentar lagi paling sadar."

Puspa berlalu ke luar memberi ruang untuk mereka.

Bara duduk cemas di samping istrinya.

"Jaga aja dulu di sini. Tamu sudah habis kan?Ibu mau bantu yang lain berbenah."

Bara mengangguk kecil.

Norma melenggang keluar kamar, tanpa rasa kecemasan atau kepanikan. Hanya terkejut di awal.

Hingga jelang senja, Aira tak kunjung sadar.

"Bu, Apa Bara bawa ke IGD rumah sakit aja ya?" tanya Bara cemas.

"Ya, sudah ini pingsannya sudah nggak wajar sampai 3 jam. Apa tiduran dia? sudah kamu coba bangunin tadi?"

"Sudah, Bu. Nggak ada respon sama sekali."

"Telpon aja dulu taksi online jangan pakai ambulance nanti heboh sekampung."

Norma bergegas mengambil baju santai dan mengganti pakaian Aira. Melepas hiasan di kepala dan membersihkan make up dari wajahnya perlahan dibantu Puspa.

10 menit kemudian Mobil berukuran agak besar parkir di depan rumah Bara.

Bara menggendong perlahan tubuh istrinya dan menaruhnya di jok penumpang. Norma duduk lebih dulu dan memangku kepala Aira.

Ban mobil taksi berputar di aspal, melaju menuju IGD rumah sakit terdekat.

BRAKK!!

Bara menutup pintu mobil dan buru-buru memberitahu perawat jaga untuk membawa brankar.

Dengan wajah cemas, Norma dan Bara duduk di kursi tunggu depan ruang IGD. Dokter dan perawat bergerak cepat memeriksa kondisi Aira yang masih belum sadar.

Detik jam di ruangan itu berdetak keras karena ruangan yang sepi dari pengunjung. Hanya perawat yang sesekali lewat.

CEKLEK

"Keluarga pasien ya Pak? " tanya dokter yang baru saja keluar.

"Oh iya, Dok. Bagaimana? " tanya Bara yang bergegas berdiri dan menghampiri dokter.

"Kita coba cek keseluruhan ya, jadi kita rawat dulu malam ini. Tadi sempat siuman setelah kami tindak, tapi sepertinya ada masalah di otak. Pasien mengeluh sakit kepala hebat jadi kami beri suntikan obat penenang."

Norma yang ikut berdiri di samping Bara menyimak penjelasan dokter tertegun.

Hatinya tiba-tiba gusar.

"Baik, dok. Saya ikut arahan, Terima kasih, " jawab Bara cepat.

Dokter jaga itu kembali ke dalam.

"Bara, kamu sebelumnya pernah tanya nggak riwayat kesehatan istrimu itu?" tanya Norma dengan tatapan kesal.

"Sudah, Bu. Waktu urus berkas ke KUA kan harus buat surat kesehatan juga. Nggak ada masalah apa-apa Aira, " sahut Bara.

"Pak, bisa urus administrasi dulu ya. Kamar rawat inapnya masih di siapkan. "

Perawat menyerahkan selembar surat pengantar dari ruang IGD.

Bara berlalu ke ruang yang di tunjuk.

Norma kembali duduk ke kursi tunggu menghubungi putrinya Puspa untuk menjemputnya dengan sepeda motor ke rumah sakit.

"Bara, kamu ibu tinggal ya. Puspa diperjalanan jemput Ibu. Ibu capek mau istirahat dulu."

"Iya, Bu. Nanti Bara kabari kalau ada apa-apa."

Tak lama, ponsel Norma berdering.

Bara mencium punggung tangan ibunya dan melihat punggung ibunya yang makin menjauh keluar dari gedung rumah sakit.

Pintu IGD terbuka lebar, beberapa perawat menarik dan mendorong brankar tempat Aira berbaring masih tak sadarkan diri.

Bara mengiringi langkah, perawat menuju ruang inap di kelas 2 lantai 1.

Raut kesedihan dan luka terlihat jelas dari tatapan Bara pada istrinya.

'Sakit apa yang membuat Aira jadi begini ya Allah?' batinnya.

Kumandang adzan isya dari masjid rumah sakit menggema, menemani langkah Bara dan roda brankar yang masih berputar di lantai keramik.

Hati Bara sedikit menguat, ia yakin ada Allah yang akan membantunya menghadapi semua ini.

DIAGNOSA

"Hhh... hhh.. hhh.. "

Suara desahan Aira yang hampir tak terdengar membangunkan Bara. Ia berdiri dari tikar tipis tempat ia merebahkan tubuh.

Wajah Aira pucat, keningnya penuh keringat.

Bara meletakkan punggung tangannya pada kening istrinya.

"Ya Allah panas sekali, " gumam Bara lirih.

Ia buru-buru menekan tombol khusus untuk memanggil perawat.

TIIIIIT.. TIIIIIT

Bara menatap jam di dinding kamar rawat inap itu, jam dua dini hari. Tak ada perawat yang menghampiri. Mungkin mereka juga tertidur.

CEKLEK

Bara keluar perlahan khawatir membangunkan pasien lain.

"Suster.. Suster.. " panggilnya setengah berbisik.

"Eh... iya Pak? " sahutan dari nurse station.

"Istri Saya demam tinggi."

"Oh iya, Pak. Tunggu di kamar, sebentar kami ke sana."

Bara bergegas kembali ke kamar.

Tak lama dua perawat datang membawa beberapa peralatan dan suntikan berisi obat penurun panas.

Suara termometer yang selesai mengukur terdengar nyaring mengisi keheningan malam itu.

"40° , Saya suntik obat penurun panasnya ya Pak. "

Bara mengangguk.

Ia makin cemas karena Aira belum sadar sejak tadi tau-tau sudah demam.

Perawat keluar dari kamar inap mereka.

Bara mengeringkan keringat dengan tisu. Terasa hancur hatinya melihat kondisi Aira yang belum sempat merasakan kebahagiaan malam pengantin.

Bara menarik kursi merebahkan kepalanya di atas brankar samping lengan Aira. Memegang tangan yang jari telunjuknya tersemat di sebuah alat.

"Aira.. sembuh lah, aku rindu, " bisik Bara.

Terbayang pertemuannya pertama kali dengan Aira.

Gadis yang tengah mengajar anak-anak di pekarangan panti itu berhasil memikat hatinya saat pandangan pertama.

Senyum tulus dan kepolosan tergambar di wajah yang manis itu sambil sesekali mengeja anak-anak membaca.

"Mas Bara, sudah sampai? " tanya Siska, kepala Panti.

"Oh iya, Bu baru saja."

Kepalanya mengangguk pelan sambil menahan malu karena kedapatan mengamati Aira.

"Itu Aira, anak panti yang bertahan di sini membantu saya mengajar anak-anak. Tak banyak yang mau mengabdi, anak-anak yang sudah masuk usia matang kebanyakan memilih keluar panti, hidup mandiri mencari pekerjaan. Berbeda dengan Aira, dia menawarkan diri bertahan dengan upah seikhlasnya dari kami."

Bara mengangguk merasa terkesan mendengar kisah Aira.

"Nanti saya kenalkan setelah dia selesai mengajar, " ujar Siska tanpa di minta.

"Oh, iya bu terima kasih, " sahut Bara.

 Ia tak sadar tawaran itu hanya pancingan, dan ternyata Bara benar-benar terjerat. Siska tertawa kecil.

Mereka berdua kemudian berbincang di ruang kerja Siska.

"Aira, kalau sudah selesai, temui Bu Siska di ruangan beliau ya. "

"Nggih Bu Darmi. "

Aira merapikan barang setelah mengajar, lalu bergegas ke ruangan Siska. Anak-anak sudah kembali ke kamar mereka masing-masing bersiap untuk makan siang.

TOKTOKTOK

 CEKLEK

"Assalamu'alaikum, Bu Siska panggil Saya? " tanya Aira.

"Iya Aira, masuk sini. Mas Bara dari kantor pemkot mau kenalan. "

Tubuh Aira membeku beberapa detik, matanya tak berani menatap laki-laki yang sedang duduk berhadapan dengan Siska.

"Perkenalkan, Saya Bara, " ujar laki-laki itu menyodorkan tangannya.

"Aira, " panggil Siska.

Aira tersadar, kepala menunduk menyembunyikan rasa malu, tangan terulur menyambut tangan dan bersalaman.

"Aira, " sahutnya.

Siska menyuruh Aira duduk di sampingnya. Percakapan mengalir ringan seputar sejak kapan Aira tinggal di panti, tugasnya dan apa saja keahliannya.

Begitu juga dengan cerita singkat tentang kehidupan Bara. Lulusan sekolah mana, bekerja di bagian apa, seolah sedang membicarakan Curriculum Vitae-nya.

Obrolan berlanjut dengan tukar kontak whatsapp. Siska bersyukur ada orang yang mau mengenal Aira lebih banyak. Bagaimana pun juga, anak panti mengharapkan kehidupan normal layaknya anak-anak yang lainnya.

Punya keluarga, membangun rumah tangga, bekerja dan yang lainnya.

Hingga komunikasi itu terus berlanjut. Dimulai dari perhatian kecil, bertanya kabar dan sudah makan apa belum. Berlanjut dengan jalan-jalan sore saat weekend, sampai akhirnya lamaran Bara tepat setahun sejak awal mereka bertemu.

Norma, Ibu Bara awalnya menolak Aira. Namun, melihat Bara yang begitu cinta mati Norma akhirnya tak berkutik. Dia sendiri hidup bergantung dari gaji anak sulungnya itu, sejak menjadi janda cerai mati. Ia cukup tahu diri untuk tidak terlalu mengatur.

Ia hanya berharap, menantunya yang penurut itu akan membantunya mengurus pekerjaan rumah sambil juga bekerja sampingan.

TOKTOKTOK

CEKLEK

Suara pintu yang dibuka oleh petugas pengantar sarapan membangunkan Bara. Entah kapan ia tertidur.

Perlahan mata Aira mengerjap. Bara spontan berdiri.

"Aira, ini mas Bara, " bisiknya di telinga Aira.

Punggung tangan Bara meraba suhu di kening Aira. "Alhamdulillah demamnya turun."

"Sayang, kamu sudah sadar? " tanyanya.

Mata Aira mengerjap, pelan. Membuka penuh dan melirik ke arah Bara berdiri.

"Mas, " panggilnya serak.

"Iya, Sayang. Mas di sini. Kamu haus? "

Aira mengangguk, bibirnya kering.

Bara mengambil air mineral dan meletakkan sedotan di bibir Aira. Sedotan bergerak, air naik hingga ke tenggorokan.

"Apa yang kamu rasa sekarang Aira? "

"Kepalaku... sakit mas. "

"Sabar ya, hari ini kita periksa semua. Kamu harus bertahan. "

Kepala Aira mengangguk.

Tubuhnya lemas, ia benar-benar tak bisa bergerak.

Bara shalat subuh beralas tikar yang di kirim puspa semalam, bersama kebutuhan lainnya.

Mengisi perutnya dengan roti sekedar terisi sejak semalam.

Ia membantu Aira makan perlahan. Sesuap demi sesuap. Sesekali Aira terdiam, bibir berdzikir, menutup mata menahan sakit yang menyerang kepalanya.

Mata Bara berkaca-kaca, 'Ya Allah seandainya bisa, bagilah rasa sakit itu padaku, ' batinnya.

Tak lama..dokter visit lebih pagi. Dokter yang memeriksa Aira kemarin malam.

Prosedur pemeriksaan berlangsung lebih awal, mumpung belum banyak pasien lain yang datang kata dokter.

Brankar Aira di dorong ke ruangan khusus. Hanya ia, perawat dan dokter, tapi Bara masih bisa melihat dari kaca bening di pintu.

Alat masuk ke tubuh Aira, mengambil sample. CT Scan, ambil darah. Bara hanya mampu melihat dari kejauhan ekspresi kesakitan yang dirasakan istrinya.

Ia akhirnya duduk lunglai di kursi tunggu. Pikiran dan hatinya ikut lelah, padahal ini baru pemeriksaan awal. Belum proses pengobatan yang entah akan seperti apa. Ia hanya berharap ini bukan sakit yang mengkhawatirkan.

***

"Bu, Puspa di minta Mas Bara ke rumah sakit. Mas Bara mau urus sesuatu ke kantor dan Bank, " ujar Puspa menghampiri Norma di dapur.

Norma meletakkan pisau di atas telenan, ekspresi heran, cemas, kesal... jadi satu.

Puspa takut, ekspresi itu terlihat seperti gunung merapi yang siap meletus.

"Ambilkan handphone Ibu di kamar, " titahnya.

Puspa buru-buru, berjalan cepat menjalankan perintah.

Ponsel sudah ditangan, jari gesit menekan layar mencari kontak Bara, putranya.

"Assalamu'alaikum, Bara. "

"Wa'alaikumsalam, iya Bu," jawab Bara di seberang. Nada tegang, sedih-- menahan luka.

"Bagaimana kata dokter?"

"Hhhh.. Aira baru selesai pemeriksaan awal, Bu. Hasilnya baru besok keluar, Bara butuh pegangan uang Bu. Uang hajatan apa masih ada, Bu?"

"Cuma dapat lima juta, Bara. Ibu sudah bayar MUA, dekor, fotografer, sangu buat bulek mu, tinggal sejuta. Buat pegangan ibu di rumah."

"Ya sudah, Bu. Yang disini Bara yang urus."

"Kata Puspa, kamu mau ke Bank? urus apa? "

"Emmm.. itu...Bara rencana mau..'Sekolahkan' SK Bu. Ajukan pinjaman di bank, "

"Pinjaman? kamu mau hutang? Bukannya kamu anti hutang ke bank?"

"Mau bagaimana lagi Bu, mendesak. Pasti butuh dana besar untuk biaya pengobatan Aira."

"Ibu nggak setuju, Bara. Berapa juta lagi gajimu dipotong buat bayar hutang?"

"Bu, nggak mungkin sakitnya Aira dibiarkan saja kan? "

"Istrimu itu menantu nggak berguna, malah jadi beban. "

"Bu, jangan bicara begitu. Aira sudah tanggung jawab Bara. Bara pastikan potongannya nggak besar. Bara usahakan Bu."

"Terserah kamu lah, pokoknya Ibu nggak mau tahu. Keperluan dapur dan kuliah adik mu jangan diganggu gugat."

KLIK

Norma memutus telpon begitu saja.

"Ya sudah, bersiap sana. Nanti ibu yang selesaikan jemurannya."

Puspa mengangguk, berlalu meninggalkan Norma yang masih menggerutu di dapur.

***

TUT-TUT-TUT

Bara menghela nafas, tak menyangka reaksi Ibunya sekeras itu.

"Pak Bara, " panggil dokter.

"Iya dokter, Bagaimana?"

"Diagnosa awal, kemungkinan istri Bapak menderita infeksi Otak. Di lihat dari gejala dan hasil CT Scan. Besok kita pastikan lagi dari hasil sample cairan dan ambil darah."

"Innalillahi.. Ya Allah.. Infeksi Otak, dok? "

Dokter di hadapannya mengangguk kecil, menepuk pundaknya dan berlalu meninggalkan Bara dengan keterkejutannya.

SESAL

DUA MINGGU KEMUDIAN

"Assalamu'alaikum, Bu.. De Puspa.., " panggil Bara sambil merapat Aira masuk ke dalam rumah.

"Wa'alaikumsalam. Loh, Mas. Memangnya sudah boleh pulang Kak Aira? " tanya Puspa sambil menggandeng tangan Aira dengan tatapan iba.

"Alhamdulillah, tinggal perawatan di rumah dan sesekali terapi de. Ibu mana? "

"Ibu arisan di rumah Bu RT, mungkin sebentar lagi pulang. Kak Aira mau di kamar atau di depan TV?"

"Di kamar saja de, Kak Aira mau istirahat dulu ya."

Puspa mengangguk, lalu merapat Aira ke kamar Bara.

Bara sendiri membawa masuk barang-barang dan mengurus pakaian kotor ke dalam mesin cuci.

"Kamu masak ya de? "

"Iya mas, sebentar Puspa goreng kan lagi lauknya. Mas nggak bilang mau pulang jadi Puspa goreng seadanya."

CTEK

Puspa menyalakan kompor gas, api biru menyala.

Bara masuk ke kamarnya mengatur bantal supaya Aira bisa lebih nyaman untuk berbaring.

"Kamu sudah lapar? " tanya BaraBara.

"Belum kok, mas. Malah terasa mual dari tadi."

"Meski mual tetap harus makan ya, pesan dokter begitu tadi."

Aira mengangguk pelan.

"Mas, biaya pengobatan dari mana? Seingatku mas sudah habis banyak untuk acara pernikahan kita kemarin."

"Sudah nggak usah pikirkan soal itu. Yang penting kamu sembuh, sehat bisa aktifitas lagi. Sehat itu memang mahal, tapi hasilnya sepadan."

Aira menunduk, matanya berkaca-kaca tak menyangka begitu di ratukan oleh suaminya.

"Maaf ya, Mas. Aku malah jadi beban buatmu dan keluarga mu."

Airmata Aira akhirnya membuncah, tak sanggup lagi di tahan. Bara memeluknya tanpa komentar.

Sepanjang perjalanan pulang tadi, ia menatap wajah suaminya yang begitu lelah menjaga dan merawat nya di rumah sakit. Beruntung di kantornya bisa mengajukan cuti khusus seperti merawat keluarga di rumah sakit, jadi jatah cuti tahunan tidak terpotong.

Aira benar-benar tak tega membebani suaminya. Bahkan mereka belum sempat merasakan kebahagiaan pengantin baru.

TOKTOKTOK

"Mas, sudah selesai, " teriak Puspa dari balik pintu.

"Iya, de."

"Sebentar aku ambilkan makan ya. "

Bara beranjak meninggalkan Aira yang masih menyeka airmatanya.

CEKLEK

"Assalamu'alaikum."

Norma masuk ke dalam, terkejut melihat sandal Bara dan Aira yang ada di rak.

"Wa'alaikumsalam, Bu."

Bara menghampiri Norma dan mencium tangannya.

"Aira juga sudah pulang? " tanya Norma.

"Alhamdulillah Bu, setelah pengobatan kemarin dokter sudah ijinkan pulang tinggal nanti beberapa kali harus terapi."

"Terapi? Biaya lain lagi?" tanya Norma dengan wajah kesal.

"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.

"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."

Bara memohon dengan mata memelas.

Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.

Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.

Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata menetes satu-satu membasahi kertas itu.

"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.

BRAAK

Pintu kamar di banting. Suara hening di luar. Norma memilih berdiam diri di kamar menahan emosinya.

CEKLEK

Bara masuk membawa dua piring makanan. Wajahnya tertunduk lesu. Meletakkan satu piring miliknya di atas nakas, mengaduk satu piring lagi bersiap menyuapi Aira.

Matanya menahan kesedihan mendalam, kecewa pada sang Ibu. Meski yang dikatakan ibunya benar, tapi ia juga sudah benar-benar siap dengan segala konsekuensi karena dia sudah berjanji pada Allah untuk menjadi suami yang baik bagi Aira.

Pikirannya berkecamuk, begitu juga dengan hatinya.

"Mas, maaf jadi membuatmu bertengkar dengan Ibu."

Bara terdiam, tangan uang memegang sendok menggantung diudara. Ia menatap Aira, berusaha mencari binar harapan di matanya. Namun--tak ada.

Padahal saat hendak pulang ke rumah tadi dia begitu senang. Tawa penuh kesyukuran karena bisa melalui hari-hari dengan penuh alat rumah sakit yang terpasang di tubuhnya.

Sampai di rumah, Aira akhirnya tersadarkan dengan kenyataan baru.

Ya, dia tak diterima di rumah ini. Karena penyakit yang di deritanya.

Bukan...penolakan itu jauh sebelumnya, penyakit ini hanya menambah daftar alasan untuk menolaknya menjadi bagian dari keluarga ini.

Bara mengusap puncak kepala Aira lembut. Memberi kekuatan dan mengirim pesan, 'Tak apa Aira.'

"Mas, aku setuju yang ibu katakan. Mas ceraikan saja Aku, Ya, " mohon Aira.

Gerakan tangan Bara terhenti, wajahnya bertekuk. Sedih, kecewa bertambah.

"Aira, jangan bicara begitu. Aku tak pernah sedikit pun berpikiran menceraikan mu, bahkan sejak aku tahu latar belakang keluargamu. Sakit ini akan sembuh Aira.. percayalah. Yakinlah, Allah bersama kita."

Bara memeluknya.

Air mata Aira makin berderai, ia sesenggukan sampai terasa sesak. Rasa menyesal, rasa bersalah bergemuruh dalam hatinya. Ia tak tega melihat Bara hancur lebur seperti ini.

***

Norma duduk di sisi ranjangnya. Tak pernah ia semarah ini. Ia kesal dengan sikap keras kepala Bara yang Terus-terusan memihak Aira tanpa memikirkan imbasnya untuk dirinya dan adiknya.

Berkali-kali ia mendengus kesal dan sesekali bergumam sendiri.

"Aku harus cari cara supaya bara akhirnya menyerah dan menceraikan Aira," gumam Norma.

Ia mengambil ponselnya di dalam tas jinjingnya tadi. Mencari kontak mba yu kakak iparnya.

"Assalamu'alaikum Mba Yu, mba aku minta masukan. Ini loh Bara sudah pulang sama Aira. Aku pikir pengobatannya sudah selesai, nggak tahunya masih lanjut terapi-terapi lagi. Aku pikir bagus anak ini dipisahkan saja dari istrinya Mba. Mba punya saran nggak aku baiknya bagaimana?"

"Wa'alaikumsalam, Norma. Tarik nafas dulu jangan ngomel terus. Aku sudah bilangkan dari awal, menantumu ini bakal bikin repot. Sudah anak panti, cuma lulusan SMA, nggak ada yang bisa dibanggakan, tambah lagi sakit. Norma, kalau aku carikan perempuan lain buat Bara bagaimana? yang lebih baik dari Aira ini pokoknya."

"Oh, aku coba hubungi mantan pacarnya Bara aja dulu Mba. Aku yakin dia sebenarnya masih mau sama Bara, cuma karena ketahuan jalan sama cowok lain makanya Bara akhirnya putusin dia."

"Ya sudah, coba aja dulu hubungi dia. Siapa tahu Bara bakal berubah pikiran dan mau terima dia lagi. Nanti kamu sambil pengaruhi Aira juga biar minta cerai dari Bara. Aku yakin dia juga pasti nggak tega bikin Bara kerepotan."

"Ide bagus Mba Yu. Ya sudah nanti aku kabari lagi, Assalamu'alaikum."

CEKLEK

"Puspa, " panggil Norma sambil menghampiri putrinya di depan TV.

"Kenapa Bu? "

"Kamu masih punya nomer whatsapp Intan nggak? "

"Buat apa, Bu? " tanya Puspa bingung.

Seingatnya, Ibunya benci sekali dengan wanita bernama intan itu karena sudah berselingkuh saat masih pacaran dengan kakaknya.

"Kasih aja ke Ibu cepat."

Puspa membuka pesan whatsapp dan mengirim kontak 'Kak Intan' ke nomer ibunya.

Norma kembali ke kamarnya.

TUUUT..

TUUUT..

"Halo? " sapa wanita di seberang.

"Halo, Assalamu'alaikum. Ini dengan intan? "

" Wa'alaikumsalam. Iya betul, ini dengan siapa? "

"Ini... ibunya Bara. Kamu masih ingat sama tante Norma? "

"Oh, iya Tante. Intan masih ingat. Apa kabar tante? "

"Kabar Tante baik, kamu bagaimana intan? lama ya nggak ketemu."

"Intan baik, Tante. Ada apa ini tante kok tumben telpon intan? "

"Intan, kamu sudah punya pacar lagi setelah putus sama Bara?"

"Emmmm... belum Tante, Intan masih sendiri. Kenapa Tante? "

"Kamu mau nggak kembali sama Bara? "

"Hah?? Jadi pacar mas Bara lagi Tante? "

"Iya, kalau perlu jadi istrinya. Nanti Tante atur supaya Bara setuju. Bagaimana? "

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!