Indonesia
NovelToon NovelToon

Hot Policeman

Chapter 1 - Penemuan Mayat

Seorang lelaki tua sedang sibuk memulung sampah di tempat sampah. Sejak pagi buta dia sudah berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Karung lusuh yang dibawanya tampak setengah penuh. Di tempat yang bau itu, dia mengambil beberapa barang yang menurutnya masih memiliki nilai jual. Botol plastik, kaleng bekas minuman, kardus yang belum terlalu rusak, hingga beberapa potongan logam dimasukkan ke dalam karungnya.

Udara di sekitar tempat pembuangan sampah itu begitu menyengat. Bau busuk dari sampah yang membusuk bercampur dengan aroma limbah rumah tangga membuat siapa pun enggan berlama-lama berada di sana. Namun lelaki tua itu sudah terbiasa. Baginya, tempat seperti itu adalah sumber penghasilan.

Saat dirinya fokus mencari barang-barang yang masih bisa dijual, sebuah koper besar menarik perhatiannya. Koper itu tidak terlalu mencolok karena berwarna hitam, berbaur dengan tumpukan plastik yang kebanyakan juga berwarna hitam. Jika tidak diperhatikan dengan saksama, mungkin koper itu akan dianggap hanya bagian dari tumpukan sampah biasa.

Lelaki tua itu mengerutkan dahi saat melihat koper besar hitam tersebut. Koper itu tampak masih dalam kondisi bagus. Tidak ada bagian yang rusak parah. Rodanya masih terpasang lengkap. Pegangannya juga terlihat utuh. Dia tiba-tiba memiliki firasat buruk.

Bukan hal yang wajar sebuah koper yang masih bagus berada di tempat sampah. Orang biasanya akan menjualnya atau memberikannya kepada orang lain jika sudah tidak digunakan. Apalagi ketika dia mendekati koper tersebut, bau busuk yang sangat menyengat langsung menyeruak ke hidungnya.

Bau itu berbeda dengan bau sampah biasa. Jauh lebih menusuk. Lelaki tua itu menutup hidungnya menggunakan lengan baju. Matanya menyipit. Dia memperhatikan koper itu lebih lama.

Lalat-lalat terlihat mengerumuni bagian atas koper. Jumlahnya tidak sedikit. Serangga-serangga itu beterbangan di sekitar koper sebelum kembali hinggap di permukaannya.

Jantung lelaki tua itu mulai berdebar. Perasaan tidak enak semakin kuat. Namun rasa penasaran mendorongnya untuk mencari tahu isi koper tersebut. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia memberanikan diri mendekat. Perlahan dia memegang pegangan koper. Bau busuk itu semakin kuat. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

Setelah menarik napas panjang, dia mencoba membuka koper tersebut. Resleting yang menutup koper berhasil dibuka. Sesaat kemudian, lelaki tua itu melihat isi koper.

Betapa terkejutnya dia. Matanya membelalak lebar. Tubuhnya langsung kaku. Di dalam koper terdapat potongan tubuh manusia yang berlumuran darah dan kulitnya pucat.

"Astagfirullah!"

Lelaki tua itu kaget sampai terduduk ke tanah. Karung yang dibawanya terjatuh begitu saja. Dia mundur beberapa langkah dengan kedua tangan menopang tubuhnya. Wajahnya dipenuhi ketakutan.

"Tolong!" pekiknya sambil berdiri. Suara teriakannya menggema di sekitar jalan yang tidak terlalu ramai.

Kebetulan ada seorang pengendara motor yang melintas tidak jauh dari lokasi. Lelaki tua itu segera melambaikan tangan dengan panik.

Pemotor tersebut menghentikan kendaraannya. "Ada apa, Pak?" tanyanya heran.

"Dekat tempat sampah itu... ada mayat!" kata lelaki tua tersebut dengan napas terengah-engah.

Pemotor itu tampak ragu..Namun ketika melihat wajah lelaki tua yang sangat ketakutan, dia memutuskan untuk mendekat.

Tak lama kemudian, dia juga melihat isi koper tersebut. Wajahnya langsung berubah pucat. Tanpa pikir panjang, pemotor itu segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon polisi.

Informasi mengenai ditemukannya mayat dalam koper langsung tersebar. Kabar itu dengan cepat sampai ke polsek terdekat.

Polsek Batu Wangi yang bertugas menangani penyelidikan kasus tersebut. Meskipun begitu, keadaan di polsek tampak tenang.

Kebetulan sekali saat itu sedang jam makan siang. Beberapa anggota polisi tampak duduk santai Sambil menikmati makanan mereka. Ada yang bercanda, ada yang sibuk menonton video di ponsel, dan ada pula yang sedang menyeruput kopi hangat.

Di tengah suasana santai itu, Rangga mendengar laporan mengenai penemuan mayat. Rangga merupakan salah satu polisi yang bertugas sebagai Kanit Reskrim. Tugasnya adalah menyelidiki kasus serta mengumpulkan bukti-bukti yang berkaitan dengan tindak kejahatan.

Begitu mendengar laporan tersebut, dia langsung menghentikan makan siangnya. Raut wajahnya berubah serius. Kasus penemuan mayat dalam koper bukanlah perkara biasa.

Tanpa membuang waktu, Rangga segera berdiri dari kursinya. Dia mengambil jaket lalu bergegas keluar kantor. Buru-buru dia pergi tanpa memikirkan rekan-rekannya yang masih asyik makan. Rangga segera menuju motornya.

"Rangga! Tunggu!"

Suara rekannya memanggil dari belakang. Beben berlari mendekat. Dia merupakan teman dekat Rangga di Polsek Batu Wangi. "Aku ikut kau!" katanya.

Rangga mengangguk. "Naik!"

Tanpa banyak bicara, Beben langsung naik ke motor Rangga. Mesin motor dinyalakan. Beberapa detik kemudian mereka melaju meninggalkan halaman polsek menuju lokasi kejadian. Angin menerpa wajah mereka selama perjalanan.

"Yang lain pada nggak ikut?" tanya Beben.

"Kau nggak lihat? Mereka lagi makan. Biar kita yang duluan ke sana," jawab Rangga.

Beben hanya mengangguk. Dia sudah terbiasa melihat sikap sebagian anggota yang kurang bersemangat menangani kasus.

Sementara itu, di dalam kantor polsek, beberapa rekan mereka melihat kepergian Rangga dan Beben melalui jendela.

"Tuh anak, sok ganteng banget. Sok suci!" cibir Bowo. Ucapan itu langsung disambut tawa kecil.

"Dia pikir polisi kayak di film-film kali ya. Pembela kebenaran terus super keren," sahut Adi sembari terkekeh lalu mengunyah nasi padangnya.

"Iya, makanya. Setiap ada orang yang mau kasih uang, dia selalu nolak. Padahal kan itu nggak salah," keluh Bowo.

"Biarkan saja. Nanti juga semakin tua dia pasti seperti kita. Baru juga lima tahun dia jadi polisi," kata Bakti yang menjabat sebagai wakil kapolsek. Saat tertawa, perut buncitnya ikut bergerak.

"Terus kalau dia nggak berubah?" timpal Adi.

"Ya pasti bakal dapat resikonya. Kau lihat sendiri tahun lalu pangkat Pak Alun diturunkan gara-gara dia mengungkap kasus korupsi. Pimpinan marah besar kan saat itu, karena katanya udah nerima uang suapnya. Eh Pak Alun malah dapat bukti kuat," balas Bakti.

"Iya juga."

"Kita tunggu saja tanggal mainnya. Rangga pasti bakalan kena batunya kalau jadi polisi terlalu jujur begitu," kata Bowo.

Mereka kembali melanjutkan makan siang seolah tidak ada kejadian penting yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, Rangga dan Beben akhirnya sampai di lokasi kejadian. Beberapa warga sudah berkumpul di sekitar area tempat sampah. Mereka saling berbisik sambil mencoba menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.

Rangga segera turun dari motor. "Semua mundur!" serunya.

Beben langsung membantu mengamankan lokasi. Mereka membentangkan garis polisi agar warga tidak masuk ke area yang bisa merusak barang bukti.

Setelah area dianggap aman, barulah mereka mulai melakukan penyelidikan. Koper hitam itu masih berada di tempat semula. Bau busuk yang keluar dari dalamnya masih sangat menyengat.

Rangga mengenakan sarung tangan. Dia memperhatikan kondisi koper dengan saksama.

Tak lama kemudian, Usay yang bertugas di bagian forensik datang membawa perlengkapannya. Dia segera mulai bekerja. Kamera dikeluarkan. Satu per satu bagian penting di lokasi kejadian dipotret.

Dari posisi koper, kondisi tanah, hingga area sekitar tempat sampah. Kilatan kamera beberapa kali terlihat.

"Bagian kepala sama dua tangannya nggak ada," imbuh Beben setelah mengamati isi koper.

Usay mengangguk. "Benar."

"Pelakunya pasti membuangnya ke tempat jauh. Agar identitas mayat ini sulit diidentifikasi," sahut Rangga. Dia menatap isi koper dengan ekspresi serius.

"Tapi dipastikan dia lelaki. Mungkin berusia sekitar empat puluh tahunan," jelas Usay.

"Aneh," komentar Beben.

"Menurutmu kenapa pelaku melakukan ini pada lelaki paruh baya begini?" cetus Usay.

Beben mengangkat bahu.

Namun Rangga sudah lebih dulu menjawab. "Hal paling memungkinkan karena dendam. Itu adalah alasan paling klise dalam pembunuhan seperti ini."

Meski begitu, dia sadar bahwa kesimpulan tersebut masih terlalu awal. Mereka membutuhkan bukti. Bukan dugaan.

Rangga kemudian mulai menyisir area di sekitar tempat sampah. Matanya bergerak dari satu titik ke titik lain. Dia memperhatikan tanah, semak-semak kecil, tumpukan sampah, hingga benda-benda yang tampak tidak biasa.

Langkahnya pelan dan hati-hati. Tidak boleh ada barang bukti yang terlewat.

Beberapa menit berlalu. Kemudian sebuah benda yang tergeletak di tanah menarik perhatiannya. Rangga berhenti melangkah. Dia menatap benda tersebut beberapa saat. Sebuah pulpen hitam. Pulpen itu tampak berbeda dibanding benda-benda lain di sekitar lokasi. Bentuknya elegan. Materialnya terlihat berkualitas. Jelas bukan pulpen murah yang biasa ditemukan di sembarang tempat.

Rangga berjongkok. Matanya menyipit. Dengan hati-hati dia mengamati pulpen hitam mahal tersebut tanpa langsung menyentuhnya. Naluri penyelidiknya mengatakan bahwa benda kecil itu mungkin memiliki kaitan penting dengan kasus pembunuhan yang sedang mereka tangani.

Chapter 2 - Polisi Idola

Rangga menatap pulpen itu beberapa saat. Benda tersebut tampak begitu kontras dibandingkan kondisi tempat sampah di sekitarnya. Di antara plastik kotor, kardus basah, dan sisa-sisa limbah rumah tangga, keberadaan pulpen itu terasa janggal.

Perlahan Rangga berjongkok. Matanya menyipit memperhatikan detail pulpen tersebut. Warna hitam mengkilap masih terlihat jelas meskipun sebagian permukaannya terkena debu. Pada bagian klipnya terdapat ukiran kecil berwarna perak yang menunjukkan bahwa pulpen itu bukan barang murahan.

Rangga merasa ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Dia pernah melihat pulpen seperti itu. Bahkan mungkin pernah memegangnya. Namun semakin keras dia berusaha mengingat, semakin kabur ingatan itu. Entah di kantor pemerintahan, rumah seseorang, atau tempat lain yang pernah ia datangi selama bertugas.

"Kayaknya aku pernah lihat ini..." gumamnya pelan.

Beben yang berada tidak jauh darinya menoleh. "Apa?"

"Entahlah. Rasanya nggak asing."

Rangga kembali memperhatikan pulpen tersebut. Beberapa detik kemudian dia menggeleng pelan. Tidak ada gunanya memaksakan ingatan saat ini. Kasus yang mereka hadapi jauh lebih penting.

Untuk sekarang Rangga menyerahkan pulpen itu pada Usay. "Mungkin ada sidik jari di sini," katanya.

Usay menerima pulpen tersebut dengan hati-hati menggunakan sarung tangan. "Aku periksa nanti."

"Menurutku nggak mungkin pulpen mahal begini dibuang ke tempat sampah. Seseorang pasti menjatuhkannya."

Usay mengangguk setuju. "Kalau memang ada sidik jari yang masih tersisa, mungkin bisa membantu."

Rangga lalu berdiri dan kembali mengamati area sekitar. Namun setelah beberapa jam penyelidikan, tidak banyak barang bukti lain yang ditemukan.

Matahari perlahan bergerak ke barat. Warna langit mulai berubah keemasan. Para petugas akhirnya menyelesaikan pekerjaan awal mereka di lokasi kejadian.

Barang bukti diamankan. Potongan tubuh korban dibawa untuk diperiksa lebih lanjut. Sementara Rangga kembali memikirkan berbagai kemungkinan yang berkaitan dengan kasus tersebut.

Pembunuhan itu jelas bukan kejahatan biasa. Pelaku sengaja memotong tubuh korban. Kepala dan kedua tangan juga hilang. Artinya pelaku benar-benar ingin menyulitkan proses identifikasi. Seseorang yang melakukan hal seperti itu kemungkinan besar memiliki alasan yang kuat. Atau mungkin menyimpan rahasia besar.

Sore hari Rangga pulang ke rumah kontrakannya. Rumah itu sederhana. Bangunannya tidak besar. Hanya terdiri dari ruang tamu kecil, satu kamar tidur, dapur sederhana, dan kamar mandi di bagian belakang.

Meski sederhana, rumah itu cukup nyaman untuk ditinggali seorang diri. Begitu masuk ke dalam rumah, Rangga langsung melepaskan jaketnya. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian berada di lapangan. Namun karena sudah terbiasa hidup sendiri, semua pekerjaan rumah harus dia lakukan sendiri pula. Dia menuju dapur. Membuka lemari es. Mengambil telur.

Tak lama kemudian suara minyak mendesis terdengar dari penggorengan. Rangga baru saja selesai menggoreng telur mata sapi. Itu adalah menu makan malam yang hampir selalu dia santap. Sederhana, murah, dan mengenyangkan. Tambahannya hanya kecap, nasi hangat, serta beberapa kerupuk yang tersimpan di dalam toples.

Selanjutnya, Rangga duduk sendirian di meja makan. Suasana rumah begitu sunyi. Hanya terdengar suara kipas angin yang berputar perlahan.

Rangga mulai makan. Namun seperti biasanya, ketika kesunyian datang, pikirannya mulai melayang pada masa lalu. Satu nama kembali muncul di benaknya.

Dita, kakak iparnya yang dulu selalu menjaganya. Perempuan yang selama bertahun-tahun menjadi sosok paling perhatian dalam hidupnya. Kadang Rangga merasa aneh. Kenapa dulu Dita justru lebih peduli dibanding kakak kandungnya sendiri?

Ketika dia masih berjuang masuk kepolisian, Dita selalu memberinya semangat. Ketika dia gagal dalam sebuah tes, Dita yang menghiburnya. Saat dia kekurangan uang, Dita diam-diam membantunya. Bahkan ketika semua orang meragukan kemampuannya, Dita tetap percaya padanya.

Namun semuanya berubah. Semenjak Rangga lolos menjadi polisi, Dita menghilang entah ke mana. Hal terakhir yang dilakukan perempuan itu hanyalah berbicara dengannya melalui telepon. Percakapan yang sampai sekarang masih diingat Rangga. Setelah itu, tidak ada kabar lagi.

Nomornya tidak aktif. Rumahnya kosong. Keberadaannya seperti lenyap begitu saja. Seolah ditelan bumi.

Rangga sudah mencari ke mana-mana. Bahkan dia pernah beberapa kali pergi ke Desa Sadewa. Kampung halaman Dita. Namun hasilnya nihil. Tidak ada yang mengetahui keberadaan perempuan itu. Teman-temannya tidak tahu. Tetangganya tidak tahu.

Sudah lima tahun berlalu. Lima tahun tanpa kabar. Namun Rangga tidak pernah berhenti mencari.

"Kau di mana, Kak?" gumam Rangga lirih. Matanya menatap kosong ke arah piring makan. Perasaan yang selama ini dia pendam kembali muncul.

Selain sebagai kakak iparnya, Rangga juga mencintai Dita. Perasaan itu tumbuh perlahan selama bertahun-tahun. Meski dia tahu hubungan tersebut tidak seharusnya terjadi, hatinya tetap tidak bisa melupakan perempuan itu.

Mungkin itulah alasan mengapa hingga sekarang dia masih sendiri. Tidak ada wanita yang mampu menggantikan posisi Dita di hatinya.

Tok...

Tok...

Suara ketukan pintu tiba-tiba membuyarkan lamunannya.

Rangga segera berdiri. Dia berjalan menuju pintu depan. Saat pintu dibuka, terlihat seorang perempuan membawa mangkuk.

Perempuan itu adalah Septi. Janda cantik yang tinggal tepat di sebelah rumahnya.

"Pasti lagi makan malam ya, Mas? Kebetulan aku masak rendang. Dimakan ya," ujar Septi sambil tersenyum.

Aroma rendang langsung tercium.

"Oh iya. Pas banget. Makasih ya, Mbak." Rangga menerima mangkuk tersebut.

"Nggak masalah." Septi tampak tersenyum malu-malu. Matanya sesekali mencuri pandang ke wajah Rangga.

"Aku lihat kau baru pulang. Pasti capek."

Rangga tersenyum sopan.

"Mau dipijitin nggak? Biar pun begini, pijitanku enak loh," tawar Septi.

Rangga langsung menggeleng. "Nggak usah, Mbak. Aku nggak terlalu capek kok."

"Oh begitu."

"Ya udah, makasih. Aku harus bersiap mau dinas lagi."

Rangga perlahan menutup pintu. Begitu pintu tertutup rapat, dia mengembuskan napas lega.

Septi memang sering bersikap baik padanya. Terlalu baik bahkan. Rangga tahu apa maksud perhatian itu. Hanya saja dia memilih pura-pura tidak mengerti. Dia kembali menuju meja makan.

Tok...

Tok...

Pintu rumah kembali diketuk. Rangga memijat pelipisnya. Lalu berjalan lagi menuju pintu. Saat dibuka, seorang gadis SMA berdiri di sana. Namanya Cindy. Dia tinggal di rumah seberang jalan.

"Kak Rangga! Aku punya sesuatu buat Kakak. Ini!"

Tanpa memberi kesempatan Rangga berbicara, Cindy langsung menyodorkan sebuah kotak berbentuk hati. Setelah itu dia berlari menuju rumahnya.

"Kok kabur lagi..." gumam Rangga. Dia hanya bisa mematung di depan pintu. Perilaku Cindy memang selalu seperti itu. Kadang mendekat. Kadang mengajak bicara. Namun setelah itu langsung kabur karena malu.

Rangga menggeleng pelan. Kemudian masuk kembali ke rumah. Saat tinggal di kontrakan itu, kejadian seperti ini sebenarnya cukup sering terjadi. Entah kenapa hampir selalu ada wanita yang datang ke rumahnya.

Rangga sendiri tidak pernah menyadari alasan di balik semua itu. Dia tidak merasa dirinya istimewa. Padahal di mata banyak orang, dia adalah sosok yang cukup menarik. Tampan, baik, rajin beribadah, dan memiliki pekerjaan yang dianggap terhormat. Tak heran banyak wanita diam-diam menyukainya. Baik secara terang-terangan maupun diam-diam.

Rangga membuka kotak berbentuk hati pemberian Cindy. Di dalamnya terdapat brownies cokelat yang masih terlihat hangat. Aroma cokelatnya begitu menggoda.

Rangga tersenyum tipis. "Lumayan."

Brownies itu kemudian menjadi makanan penutupnya malam itu. Setelah selesai makan dan menunaikan salat magrib, Rangga bersiap berangkat lagi.

Malam itu dia mendapat jadwal jaga malam. Pasangannya adalah Beben. Jalanan mulai sepi saat dia mengendarai motor menuju kantor.

Lampu-lampu jalan menerangi aspal yang gelap. Udara malam terasa lebih sejuk dibanding siang hari.bTak lama kemudian dia sampai di Polsek Batu Wangi.

Rangga menjadi orang pertama yang datang. Suasana kantor terlihat lengang. Sebagian besar anggota sudah pulang. Lampu di beberapa ruangan bahkan sudah dimatikan.

Rangga masuk ke ruang depan. Dia meletakkan helm di meja. Kemudian memeriksa beberapa berkas. Namun belum lama dia berada di sana. Terdengar suara langkah kaki dari luar.

Seseorang datang. Rangga menoleh. Dia mengira mungkin Beben yang baru tiba. Namun saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu, dia langsung tercengang.

Seorang perempuan berdiri di sana. Wajahnya tampak familiar.

Jantung Rangga mendadak berdegup lebih cepat. Matanya membesar. Perempuan itu juga terlihat terkejut.

"Ada yang bisa dibantu, Mbak..." kata Rangga yang masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya.

Perempuan itu menatapnya beberapa detik. Seakan memastikan sesuatu. Lalu bibirnya bergerak perlahan.

"Rangga?" panggil orang itu.

Chapter 3 - Teman Lama

"Astrid? Ini kau?" ujar Rangga dengan nada tidak percaya.

Sosok perempuan yang berdiri di hadapannya sekarang memang seseorang yang sangat dikenalnya. Bahkan jauh lebih dari sekadar teman lama. Astrid adalah mantan kekasihnya saat SMA. Mereka pernah menghabiskan banyak waktu bersama pada masa remaja, sebelum akhirnya jalan hidup membawa mereka ke arah yang berbeda.

Selama beberapa detik Rangga hanya bisa menatap perempuan itu tanpa berkedip. Rasanya seperti melihat seseorang yang muncul kembali dari masa lalu. Seseorang yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya, tetapi juga tidak pernah lagi hadir dalam kehidupannya selama bertahun-tahun.

Astrid juga tampak tidak kalah terkejut. Perempuan itu kini berambut panjang hingga melewati bahunya. Penampilannya jauh lebih dewasa dibanding terakhir kali Rangga melihatnya. Namun satu hal yang tidak berubah adalah kecantikannya. Sejak dulu Astrid memang dikenal cantik. Bahkan ketika masih mengenakan seragam putih abu-abu, banyak siswa laki-laki diam-diam mengaguminya. Kini kecantikan itu justru terlihat semakin matang.

Sementara itu, Astrid juga tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Rangga. Dalam ingatannya, Rangga masihlah remaja kurus yang sering berlari di lapangan sekolah sambil membawa tas lusuh. Namun lelaki yang berdiri di hadapannya sekarang terlihat berbeda.

Seragam polisi yang dikenakan Rangga membuat sosoknya tampak jauh lebih gagah dan berwibawa. Tubuhnya juga lebih tegap dibanding masa sekolah dulu.

Untuk sesaat waktu seakan berhenti. Mereka hanya saling memandang tanpa berkata apa-apa. Kenangan masa lalu berkelebat di benak masing-masing.

Orang pertama yang berhasil sadar dari keterkejutan itu adalah Rangga. Dia berdeham pelan sebelum berkata, "Ngapain kau ke sini? Nggak ada hal buruk yang terjadi kan?"

Astrid tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia justru berjalan mendekati Rangga. Langkahnya perlahan. Tatapannya tidak lepas dari wajah lelaki itu.

Rangga mengernyit bingung ketika Astrid tiba-tiba berdiri tepat di depannya. Sebelum dia sempat bertanya, kedua tangan Astrid sudah terangkat dan memegang wajahnya.

"Ini benar-benar kau, Ga?" tanya Astrid.

Belum selesai sampai di situ, dia bahkan menarik pipi Rangga dan menekan-nekan wajahnya seperti sedang memastikan sesuatu.

Rangga langsung menghela napas panjang. "Iya ini aku. Perlukah kau melakukan ini pada wajahku?"

Astrid tidak langsung menjawab. Dia masih memperhatikan wajah Rangga dari dekat. Beberapa detik kemudian barulah dia melepaskan pegangannya.

"Jadi ini benar kau?! Astaga... Ini sulit dipercaya. Sudah lama sekali. Makanya aku nggak mau langsung percaya."

Wajah Astrid langsung dipenuhi senyum lebar. Matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru menemukan sesuatu yang selama ini hilang.

Melihat reaksi itu, Rangga malah tertawa kecil. "Emangnya kau sering berhalusinasi tentangku?"

Astrid mengangkat bahu. "Mungkin. Kadang aku mengira orang lain adalah kau. Saat didekati, kebanyakan zonk. Sampai akhirnya sekarang, ini kau beneran."

Rangga tidak bisa menahan senyumnya. Meski sudah bertahun-tahun tidak bertemu, cara bicara Astrid ternyata masih sama. Tetap blak-blakan, spontan, dan sering membuat orang kebingungan.

"Oke. Sebaiknya kau duduk dulu, dan beritahu aku alasan kedatanganmu ke sini. Ada sesuatu yang mau dilaporkan?" tanya Rangga sambil menarik kursi.

Astrid segera duduk di hadapannya. Baru setelah duduk dia terlihat mengusap dahinya.."Gara-gara kau, aku hampir saja melupakan tujuanku datang ke sini."

"Jadi apa yang terjadi?" tukas Rangga

Senyum di wajah Astrid perlahan menghilang. Ekspresinya berubah lebih serius. "Akhir-akhir ini aku merasa tidak aman. Bahkan saat di apartemenku sendiri."

Rangga langsung memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

"Aku merasa ada Yang selalu mengikuti. Awalnya aku mengabaikan semua perasaan itu. Kupikir cuma perasaanku saja. Tapi lama-lama semakin aneh." Astrid melanjutkan.

"Seaneh apa?" tanya Rangga.

Astrid menarik napas panjang. "Kadang saat pulang kerja aku melihat orang yang sama berada di tempat berbeda. Pernah juga aku merasa ada yang memperhatikanku saat naik lift. Tapi ketika aku menoleh, nggak ada siapa-siapa."

Rangga mulai mencatat beberapa poin penting di pikirannya. "Lalu?"

"Sampai saat aku pulang tadi sore ke rumah, keadaan apartemenku berantakan. Jelas ada seseorang yang menerobos masuk ke sana."

Mata Rangga langsung menyipit. Kalimat itu membuat situasi berubah dari dugaan menjadi kemungkinan tindak pidana.

"Apa ada barang yang hilang?"

Astrid menggeleng. "Itu yang membuatku bingung. Hampir nggak ada yang hilang."

"Jadi tujuan orang itu bukan mencuri."

"Sepertinya begitu."

Rangga bersandar di kursinya. Kasus seperti ini cukup rumit. Apalagi jika pelaku memang sengaja masuk tanpa mengambil barang apa pun.

"Apa kau sudah memastikan kalau tak ada orang terdekat yang mampir ke apartemenmu? Misalnya ibumu atau teman gitu?"

Astrid langsung menggeleng. "Nggak ada. Aku nggak punya teman. Kau tahu itu. Sedangkan keluarga... Kau tahu aku tidak dekat dengan keluargaku."

Rangga tidak merasa heran. Astrid memang seperti itu sejak dulu. Dia lebih suka menyendiri. Hubungannya dengan kedua orang tuanya juga tidak pernah harmonis sejak mereka bercerai. Karena itulah Astrid jarang bergantung pada siapa pun.

Justru fakta bahwa dia datang ke kantor polisi untuk mencari bantuan menunjukkan bahwa masalah ini benar-benar membuatnya khawatir.

"Apa kau sudah memeriksa rekaman CCTV?" tanya Rangga.

Astrid mengangguk pelan. "Itulah masalahnya. CCTV di lantai lima rusak baru-baru ini. Jadi aku tidak bisa mengetahui pelakunya."

Rangga menghela napas. Kebetulan yang terlalu sempurna sering kali terasa mencurigakan. Jika memang ada seseorang yang menguntit Astrid, kerusakan CCTV bisa jadi bukan kebetulan.

"Apa kau punya seseorang yang dicurigai?"

"Ada sih."

Rangga langsung fokus. "Berapa orang?"

"Dua. Satu rekan kerjaku dan yang satunya lagi tetangga."

"Kenapa kau mencurigai mereka?"

Alih-alih menjawab, Astrid justru tertawa. Tawa itu muncul begitu saja hingga membuat Rangga mengernyit.

"Kau sekarang tambah keren ya, Ga. Bikin aku nggak bisa move on tahu!"

Rangga langsung memijat pelipisnya. Di tengah pembahasan serius seperti ini, Astrid malah berubah arah. "Kau masih bisa bercanda saat sedang dapat masalah besar seperti ini?"

Astrid menopang dagunya di atas meja. Tatapannya tetap mengarah ke Rangga. "Kan ada kamu. Aku yakin kau bisa membantuku. Aku mengandalkanmu."

"Hei, Astrid! Aku sekarang meragukanmu," balas Rangga.

Astrid malah tersenyum semakin lebar. "Kalau aku mati terbunuh di apartemenku gara-gara penguntit ini, maka kau akan jadi salah satu penyebabnya."

Rangga menghela napas panjang. Benar-benar tidak berubah. Dulu pun Astrid sering menggunakan logika aneh seperti itu ketika mereka masih sekolah.

"Kau benar-benar nggak berubah," komentar Rangga.

"Kau juga."

Untuk sesaat suasana menjadi lebih ringan. Meski mereka sudah lama berpisah, percakapan itu terasa mengalir begitu saja. Seolah jarak bertahun-tahun yang memisahkan mereka tidak pernah ada.

Namun momen tersebut tidak berlangsung lama. Pintu kantor tiba-tiba terbuka. Seseorang masuk dengan langkah santai. Orang itu tidak lain adalah Beben. Awalnya dia hanya berniat datang untuk memulai jadwal jaga malamnya bersama Rangga. Tapi langkahnya langsung terhenti ketika melihat seorang perempuan cantik duduk di ruangan itu. Matanya membelalak. Wajahnya berubah seketika.

Perhatian Beben sepenuhnya tertuju kepada Astrid. Sementara Astrid yang menyadari tatapan itu hanya mengangkat sebelah alis.

Beben segera merapikan rambutnya dengan tangan. Lalu berjalan mendekat seolah-olah baru saja menjadi orang paling profesional di kantor polisi.

"Siapa ya? Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanyanya dengan senyum lebar.

Belum sempat Rangga bereaksi, Beben sudah mendorongnya sedikit menjauh dari kursi. Kemudian dengan santainya dia merebut tempat yang sebelumnya ditempati Rangga.

Astrid terlihat menahan tawa melihat tingkah lelaki itu..Sedangkan Rangga langsung membelalakkan mata.

"Ben!" protes Rangga tak terima.

Namun Beben pura-pura tidak mendengar. Fokusnya sekarang hanya satu. Perempuan cantik yang tiba-tiba muncul di kantor mereka malam itu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!