"Ini surat cerainya. Ambil, bawa anakmu, dan segera angkat kaki. Jangan pernah muncul lagi di depan saya. Kamu cuma bikin saya malu."
Suryo Wibowo melemparkan selembar kertas ke atas meja. Tatapannya dingin, setajam silet, tak menyisakan sisa kasih sayang yang pernah ada sepuluh tahun lalu. Bagi Suryo, Kinar Hidayat kini hanyalah noda di tengah karier politik dan bisnisnya yang sedang meroket.
"Sekarang saya ini pejabat, Kinar. Teman-teman saya orang terpandang. Sedangkan kamu? Cuma anak guru honorer desa yang nggak tahu cara dandan," lanjut Suryo dengan nada jijik.
"Kalian berdua cuma jadi beban. Sadar diri, pergi sekarang. Jangan kotori rumah ini atau menghalangi jalan saya jadi anggota dewan."
Kinar memungut kertas itu dengan tangan gemetar. Di sana tertulis alasan yang terasa seperti hantaman godam: Istri pembawa sial dan gagal memberikan keturunan laki-laki.
"Bapak jahat! Bapak jahat! Lastri nggak mau sayang Bapak lagi! Lastri nggak mau jagain Bapak lagi!"
Sulastri, bocah kecil di dekapan Kinar, berteriak kencang dengan wajah memerah. Ia menangis sesenggukan sampai napasnya tersengal. Lastri memang lahir dengan fisik yang lemah, namun sorot matanya saat ini berkilat penuh kemarahan yang tidak biasa bagi anak seusianya.
Di sudut ruang tamu, Pak Wibowo hanya diam membisu, terus menghisap rokoknya tanpa berani menatap menantunya.
"Anak pembawa sial! Kalau mau mati, jangan di rumah ini!" Bu Darmi, ibu Suryo, menimpali dengan sinis.
"Dasar perempuan mandul! Lima tahun cuma bisa kasih satu anak perempuan pesakitan. Sudah penyakitan, sering pingsan pula. Paling juga nggak bakal umur panjang. Cepat angkat kaki!"
Bu Darmi merasa keberuntungan keluarganya selama ini adalah murni karena kerja keras Suryo. Ia tak sadar bahwa setiap kali Lastri membisikkan doa kecil atau sekadar memeluk ayahnya, energi kehidupan bocah itu tersedot demi kelancaran proyek-proyek Suryo.
"Jadi... Mas sudah merencanakan ini semua?" tanya Kinar lirih.
"Nggak perlu banyak tanya. Kenyataannya kamu nggak bisa kasih saya anak laki-laki. Saya nggak mau garis keturunan saya putus di kamu."
"Abahmu di desa juga pasti paham kalau istri nggak bisa kasih keturunan itu sudah sepantasnya dikembalikan," jawab Suryo angkuh.
Kinar tak takut miskin, tapi hatinya hancur melihat kondisi Lastri. "Saya akan pergi. Tapi tolong, Mas... biarkan Lastri di sini sementara."
"Dia butuh pengobatan rutin di kota. Kalau ikut saya ke desa, dia bakal menderita."
Suryo sempat ragu, namun Bu Darmi langsung menyambar, "Enak saja! Mau nitip beban di sini? Biar dia jadi penghalang buat cucu laki-lakiku dari calon istri baru Suryo nanti?"
"Tidak! Bawa pergi anak ini. Mau jadi pengemis atau mati kedinginan, bukan urusan kami!"
"Ibu... Lastri mau ikut Ibu. Lastri nggak takut lapar, Lastri mau sama Ibu saja," bisik Lastri lemah, memeluk leher ibunya erat-erat.
Ia membenci aroma rumah ini. Ia bisa merasakan kegelapan yang mulai menyelimuti ayahnya.
"Sudahlah, Mbak Kinar. Terima saja nasibnya. Mas Suryo sudah baik kasih pesangon sepuluh juta."
"Dulu waktu Mas Suryo nikahin Mbak, maharnya nggak seberapa kan? Jangan serakah jadi orang," celetuk Lilis, istri Bagyo, sambil memutar bola mata.
Ambar, istri Darso, ikut memanaskan suasana. "Iya, Mbak. Kalau ribut terus, Mas Suryo bisa berubah pikiran dan nggak kasih uang sepeser pun lho."
Ajeng, adik bungsu Suryo yang selama ini hidup dari uang saku yang sering disisihkan Kinar, malah sibuk bermain ponsel.
"Cepatlah pergi, Kak. Bikin pusing saja lihat orang nangis-nangis. Aku sudah lapar mau makan siang."
Kinar menggendong Lastri yang badannya terasa makin ringan setiap harinya. Ia tahu, uang sepuluh juta itu mungkin hanya cukup untuk bertahan hidup beberapa bulan mengingat mahalnya obat-obat Lastri.
Tapi ia tidak sudi bertahan sedetik pun lagi di rumah yang penuh racun ini.
Suryo memesankan sebuah mobil pick-up tua untuk membawa barang-barang Kinar. "Cuma sampai terminal ya, Bu. Saya nggak mau masuk ke pelosok desa, jalannya rusak," ujar sopir pick-up itu ketus.
Saat Kinar melangkah melewati gerbang, Lastri menyandarkan kepalanya di pundak sang ibu. Matanya yang sayu menatap tanaman hias Anthurium seharga jutaan di halaman rumah Suryo.
Seketika, daun-daun yang hijau royo-royo itu berubah kecokelatan dan layu, seolah nyawanya ditarik paksa.
Tak lama kemudian.
"Neng, sudah sampai. Ini pertigaan Desa Sukamaju," ujar tukang ojek yang membawa mereka dari terminal kota.
Kinar turun dengan sisa tenaga yang ada. Ia berdiri di depan pagar bambu rumah kayu yang sangat ia rindukan, namun sekaligus ia takuti.
Ia pulang sebagai janda yang dibuang. Malu rasanya menginjakkan kaki di tanah kelahiran dengan kegagalan.
Lastri yang sempat tertidur di pangkuan Kinar sepanjang jalan, kini mengerjap-ngerjap. "Ibu jangan sedih... Ibu jangan takut. Semoga Abah sama Pakdhe dapat kejutan hari ini."
Kinar hanya tersenyum getir, menganggap itu hanya hiburan dari anaknya. Namun, dari arah jalan setapak menuju hutan, terdengar suara langkah terburu-buru dan tawa yang pecah.
"Abah! Lihat ini, Bah! Rezeki nomplok!" Kang Jaka berteriak kegirangan sambil memikul jaring yang tampak sangat berat.
Di dalamnya, beberapa ekor ikan gurame raksasa masih menggelepar segar, sisiknya berkilat tertimpa cahaya sore.
Abah Kosasih yang berjalan di belakangnya nampak terengah-engah, namun wajahnya berseri-seri.
"Aneh sekali, Bah. Ikan-ikan ini tiba-tiba saja melompat naik ke tepian sungai, seolah-olah menyerahkan diri tepat di depan kaki kita!" lanjut Kang Jaka dengan nada takjub yang masih tersisa.
"Alhamdulillah... ini kalau dibawa ke pasar kota harganya mahal sekali, Jaka. Bisa buat bayar tunggakan pajak sawah dan beli obat buat Ibumu," sahut Abah Kosasih sambil menyeka keringat di dahinya.
Langkah mereka terhenti tepat di depan pagar rumah.
Langkah mereka terhenti tepat di depan pagar rumah.
Kegembiraan itu mendadak sunyi saat mereka melihat sosok wanita dengan koper-koper di pinggir jalan.
"Kinar? Nduk?" Abah Kosasih mendekat. Ia melihat mata putrinya yang sembab dan wajah cucunya yang pucat pasi.
Hati seorang ayah tak mungkin bisa dibohongi.
"Abah... Jaka..." Kinar langsung jatuh bersimpuh, air matanya tumpah tak terbendung lagi.
"Bapak jahat, Bah. Dia usir Ibu. Dia nggak mau Lastri lagi," adu bocah kecil itu dengan suara serak.
Rahang Kang Jaka mengeras seketika. "Kurang ajar! Jadi itu alasannya dia jarang balas telepon kita?"
"Dia pikir kita sampah? Aku samperin dia ke kota sekarang juga!"
"Sudah, Jaka! Tahan dirimu!" potong Abah Kosasih tegas namun lembut. Ia berlutut di depan Kinar, mengelus rambut putrinya yang mulai nampak kusam.
"Nduk... tidak apa-apa. Kamu sudah pulang. Rumah ini masih milikmu, kamarmu masih seperti dulu."
"Biarkan mereka yang membuangmu merugi. Di sini, kamu tetap permata Abah."
Kang Jaka yang tadinya meledak, langsung luluh melihat keponakannya yang kurus kering. "Sini, Lastri sayang... Pakdhe gendong."
"Jangan takut, ya? Di sini ada Pakdhe, ada Budhe Mira. Kita makan enak malam ini. Pakdhe punya ikan banyak!"
Saat Kang Jaka mengangkat Lastri ke dalam gendongannya, sesuatu yang ajaib terjadi. Rumput-rumput liar di halaman rumah yang tadinya menguning akibat musim kemarau panjang.
Perlahan mulai menampakkan pucuk-pucuk hijau segar di setiap tempat yang dilewati bayangan Lastri. Hanya saja tidak ada yang menyadari hal itu.
Kinar merasa bebannya sedikit terangkat. Meski ia pulang tanpa harta melimpah, ia merasakan hangatnya ketulusan yang tak pernah ia dapatkan di rumah megah Suryo.
"Mbak Kinar!" Mira, istri Jaka, keluar dari pintu rumah dengan wajah cemas yang langsung berubah jadi pelukan hangat.
"Ya Allah, Mbak... sudah, jangan nangis. Yang penting selamat sampai rumah. Ayo masuk, Ibu sudah kangen sekali."
Di ruang tengah rumah panggung yang sederhana itu, Mak Sari menahan pening yang tiba-tiba menyerang kepalanya.
Vertigo lamanya kambuh, tapi melihat putrinya, Kinar Hidayat, bersimpuh di lantai sambil terisak, rasa sakit itu ia telan bulat-bulat. Tangan keriputnya yang hangat mengusap punggung Kinar yang bergetar.
"Mak, Kinar nggak berguna... Maafin Kinar, Mak," suara Kinar parau, timbul tenggelam dalam tangis.
"Begitu Mas Suryo jadi pejabat teras, begitu uangnya jutaan, dia bilang Kinar cuma beban. Dia kasih surat cerai, dia usir kami... bahkan Lastri, darah dagingnya sendiri, nggak dia anggap."
Kinar merasa dadanya sesak. Bertahun-tahun ia mendampingi Suryo Wibowo merintis usaha dari nol, dari jualan di lapak kaki lima sampai jadi Juragan Besar yang disegani di kota.
Tapi apa balasannya? Saat sukses, Kinar dibuang seperti ampas tebu. Ia pulang ke rumah orang tuanya membawa aib janda, merasa gagal membalas budi, malah menambah beban pikiran orang tua.
Mata Mak Sari memerah. Hatinya seperti diiris sembilu. "Nduk, bangun. Jangan ngomong begitu," bisiknya tegas meski suaranya bergetar menahan amarah.
"Bapakmu memang cuma pensiunan guru SD, kita orang kampung, tapi kita bukan orang yang bisa diinjak-injak."
"Bapak, Ibu, Kinar... ayo makan dulu. Nasi sudah matang. Kasihan Lastri sama Kinar pasti lapar dari perjalanan jauh," suara lembut Mira Utami, istri Kang Jaka, memecah ketegangan.
Ia muncul dari dapur membawa nampan berisi nasi hangat yang mengepul.
Abah Kosasih Hidayat, yang sedari tadi duduk diam di kursi rotan tua dengan rahang mengeras, akhirnya berdiri. Ia memandang putri dan cucunya dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kasih sayang mendalam dan kemurkaan yang tertahan.
"Makan dulu," titah Abah singkat. "Perut nggak boleh kosong kalau mau perang. Urusan harga diri, biar Abah yang pikirkan nanti."
Di meja makan kayu jati yang sudah kusam itu, hidangan yang tersaji jauh dari kata mewah. Hanya sayur lodeh terong, ikan asin, dan sambal terasi.
Tapi aromanya, aroma rumah, membuat air mata Kinar kembali menetes, kali ini karena haru.
Sulastri kecil, atau Lastri, duduk tenang di samping Kang Jaka. Matanya yang bulat dan bening mengamati sekeliling.
Rumah kakeknya ini tidak semegah "rumah gedong" milik ayahnya yang lantainya marmer dingin. Di sini lantainya masih ubin jadul, dindingnya batako ekspos, tapi Lastri bisa merasakan sesuatu yang tidak dimiliki rumah ayahnya: Kehidupan.
Tak ada yang tahu bahwa ada sukma Dewi Sri yang berdenyut samar dalam nadi Sulastri, yang membuatnya peka pada apa yang tak kasat mata.
Ia tahu kenapa di rumah gedongan ayahnya, tanaman tak pernah berumur panjang. Sekuat apa pun pupuk ditabur, daun-daun akan tetap layu dan meranggas.
Tanah di sana seolah menjerit kepanasan, 'tak sudi' memberi hidup pada pemilik rumah yang hatinya hangus oleh ambisi duniawi.
Tapi di sini? Meski perabotnya tua, udaranya sejuk. Energinya bersih.
Selama Kakek, Nenek, Pakdhe dan Budhe baik sama Ibu, aku akan pastikan lumbung padi mereka nggak akan pernah kosong, batin Lastri.
Ia menyentuh pinggiran meja makan. Tanpa ada yang menyadari, serat kayu tua di meja itu tampak sedikit lebih mengkilap, seolah baru saja dipoles minyak terbaik.
"Lastri sayang, mau Budhe suapin?" tawar Mira lembut. Ia menatap iba pada keponakannya yang kurus itu. "Kamu pasti capek."
Lastri menggeleng pelan, tersenyum manis hingga matanya menyipit. "Nggak usah, Bi. Lastri sudah besar, bisa makan sendiri."
"Kita makan bareng-bareng ya, biar berkah."
Mira dan Mak Sari saling pandang, terenyuh. Anak sekecil ini bicaranya sudah seperti orang tua, mandiri dan sopan.
Sangat kontras dengan sepupu-sepupunya di keluarga kaya sana, anak-anak Bagyo dan Darso, yang manja, sering melempar makanan, dan tantrum kalau keinginannya tidak dituruti.
Setelah makan malam selesai, piring-piring kotor diangkut ke belakang. Abah Kosasih memanggil Kang Jaka ke ruang tengah. Suasana berubah serius.
"Jaka," suara Abah berat, "Adikmu diinjak-injak. Kita tidak bisa diam saja. Mentang-mentang Suryo sekarang punya kuasa, dia pikir bisa buang anak orang sembarangan."
"Siap, Bah. Nggak usah disuruh, tangan Jaka sudah gatal," jawab Jaka, matanya menyala. "Apa perlu Jaka kumpulin anak-anak karang taruna buat datengin rumahnya malam ini?"
"Jangan malam ini. Besok pagi," potong Abah. Ia menatap tajam ke arah kalender dinding.
"Kita main cantik tapi sakit. Pertama, siapkan mobil pick-up. Bawa speaker masjid atau toa. Kita arak keliling kampung tempat dia tinggal."
"Kita umumkan ke tetangga-tetangga elitnya kalau Juragan Suryo Wibowo itu orang kaya baru yang lupa kulit."
Abah menarik napas panjang. "Kedua, urusan harta. Suryo kaya karena usaha bareng Kinar. Abah akan tuntut harta gono-gini."
"Kalau dia nggak mau bagi adil, kita bawa ke pengadilan. Dia pikir pensiunan guru kayak Abah buta hukum? Tinta pulpen itu lebih tajam dari golok kalau dipakai dengan benar."
Malam semakin larut. Kinar sudah masuk kamar untuk menidurkan Lastri, tapi bocah itu diam-diam menyelinap keluar menuju halaman belakang.
Di dekat sumur, Mira sedang sibuk membersihkan ikan gurame hasil pancingan Jaka di sungai sore tadi. Baunya amis, tapi Mira telaten mengerjakannya.
"Budhe..." panggil Lastri pelan.
Mira menoleh, tersenyum kaget. "Lho, Nduk? Kok belum tidur? Di sini bau amis, sayang. Masuk gih."
Lastri tidak beranjak. Ia malah jongkok di sebelah Mira, menatap wajah Budhenya yang lelah namun tetap cantik itu. "Budhe Mira, apa yang paling Budhe pengen sekarang?"
Mira tertawa kecil, mengusap keringat di dahi dengan lengan bajunya. "Budhe? Budhe cuma pengen punya anak yang pintar, cantik, dan penurut kayak kamu, Lastri."
Lastri memiringkan kepala. "Cuma itu? Budhe nggak mau uang banyak? Bapak aja ninggalin Ibu karena pengen uang banyak lho."
"Uang bisa dicari, Nduk. Rezeki itu sudah ada yang atur. Tapi kehadiran anak... itu anugerah yang nggak bisa dibeli," desah Mira, ada nada getir dalam suaranya.
Sudah lima tahun ia menikah dengan Jaka, tapi rumah mereka masih sepi dari tangis bayi.
Lastri tersenyum misterius. Ia mengulurkan tangan mungilnya, menyentuh tangan Mira seolah sedang membersihkan debu.
"Budhe orang baik. Jangan sedih ya," ucap Lastri. "Sebentar lagi bakal ada dedek bayi di perut Budhe."
Saat jari Lastri menyentuh kulit Mira, tidak ada kilatan cahaya, tidak ada suara guntur. Hanya rasa hangat yang menjalar cepat, membuat rasa lelah di tubuh Mira mendadak sirna.
Dan di bawah kaki Lastri, di sela-sela semen sumur yang retak, tunas rumput liar yang tadinya kering kerontang mendadak tegak, hijau segar, dan berbunga kecil dalam hitungan detik.
Mira tentu saja tidak melihat rumput itu. Ia hanya menganggap ucapan Lastri sebagai doa tulus seorang anak kecil. "Aamiin... Makasih ya, peri kecil Budhe."
"Sekarang Lastri bobo gih, besok bakal jadi hari yang panjang."
Keesokan paginya, matahari belum tinggi ketika halaman rumah Abah Kosasih sudah ramai. Keluarga besar Hidayat berkumpul.
Bukan untuk pesta, tapi untuk menuntut keadilan.
Solidaritas orang kampung itu nyata. Mendengar Kinar dicerai sepihak dan diusir tanpa harta gono-gini yang layak, Pakdhe, Budhe, dan sepupu jauh semua datang.
Mereka tidak terima "Mantan Bunga Desa" mereka diperlakukan bak sampah.
Sebuah mobil pick-up bak terbuka sudah siap. Spanduk kain sederhana dibentangkan di sisi mobil, bertuliskan cat pilox: "ORANG KAYA LUPA DARATAN - KEMBALIKAN HAK ISTRIMU!"
Abah Kosasih mengenakan batik lengan panjang terbaiknya dan peci hitam, memegang tongkat komando imajiner. Wajahnya tenang tapi mematikan.
"Semuanya dengar," Abah memberi arahan. "Kita ke sana bukan untuk anarkis. Kita ke sana untuk memberi pelajaran moral."
"Kalau satpamnya halangi, jangan dipukul, tapi diteriaki saja. Biar tetangga elitnya pada keluar dan nonton."
Kinar menggendong Lastri naik ke kabin depan mobil. Jantungnya berdegup kencang, tapi melihat wajah tegar ayahnya dan sorot mata berani kakaknya, rasa takutnya lenyap.
Rombongan pun bergerak.
Saat mobil keluar dari jalan desa menuju jalan raya kota, Jaka menyalakan toa. Suaranya menggema, memecah keheningan pagi.
"KEPADA YANG TERHORMAT JURAGAN SURYO WIBOWO! YANG RUMAHNYA GEDONG TAPI HATINYA KOSONG! KAMI DATANG MENJEMPUT KEADILAN!"
Lastri melihat keluar jendela kaca mobil. Ia melihat langit cerah di atas mereka, seolah semesta merestui "serangan fajar" ini.
Di pangkuan ibunya, Lastri menggenggam tangan Kinar erat-erat.
Tenang saja, Bu, batin Lastri. Hari ini tanaman keberuntungan Ayah akan mulai layu satu per satu.
Pagi itu, ketenangan komplek elit di bilangan Jakarta Selatan terusik hebat. Bukan oleh sirine polisi, melainkan suara tabuhan rebana yang bertalu-talu di depan gerbang besi setinggi tiga meter milik keluarga Wibowo.
Warga sekitar yang biasanya cuek, mulai mengintip dari balik tirai jendela atau berpura-pura menyiram tanaman. Pasalnya, Suryo Wibowo bukan orang sembarangan.
Dia pengusaha yang sedang naik daun, calon pejabat teras yang sering wara-wiri di televisi.
Namun hari ini, di depan istananya yang megah, berdiri barisan keluarga sederhana dari kampung. Abah Kosasih Hidayat, pensiunan guru SD yang rambutnya sudah memutih semua, berdiri paling depan.
Wajahnya tenang tapi sorot matanya tajam, setajam arit yang biasa dipakainya untuk menyiangi rumput.
Di sebelahnya, Kinar berdiri memeluk putrinya, Sulastri. Bocah lima tahun itu tampak ringkih, kulitnya pucat pasi seolah tak punya darah.
Anehnya, setiap kali Lastri merengek lirih menahan sakit, tanaman monstera mahal yang berjejer di pagar rumah itu mendadak menunduk, daunnya menguning layu dalam hitungan detik.
Seolah-olah nyawa tanaman itu tersedot habis oleh penderitaan si bocah.
"Suryo Wibowo!" suara Abah Kosasih lantang, membelah udara pagi. "Keluar kau! Jangan cuma berani sama anakku!"
Di dalam rumah mewah yang dingin oleh AC sentral itu, kepanikan melanda.
"Bu! Itu si tua Kosasih bawa rombongan sirkus apa gimana sih? Malu-maluin banget!" Lilis, kakak ipar Suryo, mengintip ngeri dari balik gorden sutra.
"Kalau sampai masuk akun gosip Lambe, bisa hancur citra kita sebagai sosialita!"
Bu Darmi, ibunda Suryo, membanting cangkir tehnya ke tatakan. Wajah tuanya merah padam menahan amarah.
Dia merasa harga dirinya sebagai nyonya besar terinjak-injak oleh besan kampungnya itu.
"Dasar orang miskin nggak tahu diuntung! Sudah bagus anakku kasih pesangon, malah mau meras lebih!" Bu Darmi bangkit berdiri, menyibakkan kebaya mahalnya.
"Minggir! Biar Ibu yang usir gembel-gembel itu. Suryo nggak usah turun tangan, nanti wibawanya jatuh kalau meladeni orang rendahan."
Suryo yang duduk di sofa kulit Italia hanya memijat pelipisnya. Pikirannya kalut. Proyek besar sedang menantinya, tapi gangguan domestik ini bisa merusak segalanya.
"Bu, jangan kasar-kasar. Ingat, sekarang zamannya viral," pesan Suryo dingin. Tidak ada kekhawatiran soal anak istrinya di sana, hanya kekhawatiran soal reputasinya.
Bu Darmi mendengus, lalu melangkah lebar keluar diikuti menantu-menantunya yang berwajah jutek. Gerbang otomatis terbuka perlahan.
"Heh! Nggak punya otak ya kalian?!" Bu Darmi langsung menyalak begitu kakinya menginjak aspal. "Pagi buta bikin onar di rumah orang! Satpam mana satpam?!"
Suara rebana berhenti. Abah Kosasih mengangkat tangan, memberi isyarat rombongannya untuk diam.
"Bu Darmi," suara Abah berat dan berwibawa, membuat nyali Bu Darmi sedikit ciut. "Saya tidak butuh satpam. Saya butuh keadilan."
"Halah! Keadilan apa? Bilang saja mau duit!" cibir Bu Darmi. "Anakmu itu mandul! Enam tahun nikah nggak bisa kasih cucu laki-laki buat penerus marga Wibowo."
"Panteslah Suryo cari yang lain!"
Deg.
Hati Kinar mencelos. Ia makin erat memeluk Lastri.
Saat air mata Kinar menetes mengenai pipi Lastri, sebuah kejadian ganjil terjadi lagi. Rumput gajah mini yang diinjak Kinar, yang tadinya agak kering karena kemarau, mendadak menghijau segar.
Tunas-tunas baru menyeruak naik seolah memberi kekuatan pada sang ibu. Tapi tak ada yang sadar, semua mata tertuju pada drama manusia di sana.
"Dengar, Bu Darmi," Abah Kosasih maju selangkah. "Hari ini saya punya Tiga Pertanyaan."
"Kalau keluarga Wibowo bisa menjawabnya dengan hati nurani bersih di hadapan Tuhan, kami akan pulang dan sujud minta maaf."
Warga yang menonton mulai menahan napas. Suasana hening mencekam.
Abah mengacungkan satu jari.
"Pertanyaan Pertama: Selama menjadi istri dan menantu, pernahkah Kinar membantah kalian? Pernahkah dia melalaikan tugasnya mengurus rumah ini saat kalian sibuk pamer harta?"
Bu Darmi terdiam. Mulutnya terkunci. Mau berbohong pun susah, karena faktanya Kinarlah yang merawatnya saat sakit stroke ringan tahun lalu.
Sementara menantu lainnya sibuk liburan ke Singapura.
"Dia... ya, kalau ngelawan sih nggak. Tapi..." gumam Bu Darmi gelagapan.
"Tapi apa?!" potong Abah tegas, lalu mengangkat jari kedua.
"Pertanyaan Kedua: Kalian buang anak saya dengan alasan tidak memberi keturunan laki-laki. Sekarang saya tanya, tiga tahun ini Suryo ada di mana?"
"Dia sibuk keliling proyek, pulang ke rumah setahun paling cuma dua kali kayak Bang Toyib! Kalian menuntut cucu, tapi pernah kalian bawa Kinar ke Dokter Spesialis?"
"Pernah kalian peduli kesehatan rahimnya? Atau kalian cuma peduli untung rugi bisnis?"
Skakmat.
Bisik-bisik tetangga mulai terdengar. "Iya juga ya, Pak Suryo kan jarang pulang." "Jahat banget sih mertuanya."
Bu Darmi wajahnya pucat. Ambar dan Lilis saling sikut, tak berani membela.
Abah Kosasih menarik napas panjang, menatap lurus ke arah balkon lantai dua di mana dia yakin Suryo sedang mengintip.
"Pertanyaan Ketiga: Ada pepatah, Habis manis sepah dibuang. Kinar menemani Suryo dari nol, dari dia cuma kontraktor kecil sampai jadi juragan besar."
"Kenapa saat dia sudah di puncak, balasannya adalah surat talak? Di mana hati nurani kalian sebagai manusia?!"
Suara Abah bergetar menahan emosi. "Kalau pertanyaan ini tidak bisa dijawab, demi Tuhan, saya akan tuntut Suryo ke Pengadilan!"
"Saya akan bongkar kebobrokan moral pejabat ini ke media massa!"
"Lancang kamu!" pekik Bu Darmi histeris, nyaris maju menjambak kalau tidak ditahan satpam. "Anakku itu pejabat terhormat! Berani-beraninya kamu ngancam!"
Tiba-tiba, pintu utama terbuka lagi.
Suryo Wibowo akhirnya keluar. Penampilannya necis dengan batik sutra licin. Ia berjalan angkuh, tapi matanya tak berani menatap Kinar.
"Cukup, Pak Kosasih," ujar Suryo datar. "Nggak usah bawa-bawa media. Kita selesaikan secara kekeluargaan."
"Kekeluargaan?" Abah tertawa getir. "Kamu sebut surat cerai sepihak yang memfitnah anakku pembawa sial itu 'kekeluargaan'?"
Suryo melirik Lastri. Anak itu menatapnya dengan mata bulat yang bening namun kosong. Entah kenapa, Suryo merinding.
Bunga melati di saku batiknya mendadak layu, kelopaknya rontok jatuh ke tanah. Energi di sekitar Suryo terasa berat, seolah keberuntungannya mulai menguap saat dia berniat jahat pada anak itu.
Suryo tahu, Abah Kosasih orangnya keras kepala dan jujur. Kalau skandal penelantaran istri ini meledak, karir politiknya tamat.
"Oke, saya salah," kata Suryo cepat, tanpa nada penyesalan yang tulus. "Saya akan tarik surat talak itu. Kita ganti jadi kesepakatan pisah baik-baik."
"Saya akan ubah statusnya jadi 'Cerai Gugat', biar Kinar yang menggugat saya, bukan saya membuang dia. Puas?"
Abah menatap mantan menantunya itu dengan tatapan jijik. "Camkan ini, Suryo. Harta dan jabatanmu itu titipan."
"Jangan sampai titipan itu diambil paksa karena kamu menzalimi anak istrimu."
Abah Kosasih menyipitkan matanya. Orang tua itu tak menyangka Suryo Wibowo akan berubah sikap secepat ini. Ia pikir mantan menantunya itu masih sama seperti dulu—seorang pemuda kampung yang lugu dan tak tahu apa-apa.
Ternyata, dia bukan tidak tahu, melainkan pura-pura bodoh.
Jika Abah memilih damai, keluarga Wibowo tentu akan tertawa lebar. Namun, jika ia memilih melawan demi harga diri anaknya, keluarga Wibowo hanya perlu menyerahkan apa yang memang menjadi hak Kinar.
Bagi mereka yang kini sudah jadi Orang Kaya Baru (OKB), kerugian itu tak seberapa.
"Karena Juragan Suryo sudah begitu 'bijaksana', keluarga Hidayat tak perlu banyak bicara lagi," Abah Kosasih membuka suara, nadanya tenang namun berwibawa.
"Tapi, putriku yang suci kau nikahi baik-baik, kini kau kembalikan dengan status janda cerai. Sakit hati ini mungkin bisa kutahan, tapi abangnya tidak."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!